Part 17
“Kenapa
mobilnya harus diservis saat tugas kita berbelanja,” keluh Shinhye ketika
melihat Sooji masih
berusaha menstarter mesin motor yang tak kunjung hidup. Karena
mobil restaurant yang masih diservis
di bengkel menyebabkan Shinhye dan Sooji
harus pergi dengan motor Minho.
“Apa sebaiknya eonnie naik taksi saja?” timpal Sooji masih mencoba menyalakan mesin motor sunbaenya.
“Dan
membiarkanmu di sini? Senior macam apa aku ini,” kata Shinhye pada juniornya
yang baru masuk bekerja di JeResto sebulan yang lalu.
“Kenapa
juga motor Minho sunbae harus mogok
sekarang.” Tidak
henti Sooji berusaha menstarter motor Minho sampai keringat terus bercucuran
di wajah mungilnya itu.
“Apa kau
butuh bantuanku?” tawar Shinhye melihat betapa susahnya usaha juniornya itu.
“Dwaesseo, eonnie. Aku takut malah
kau dan motor ini akan berujung ke
jurang nantinya,” ledek Sooji mengingat Shinhye yang tidak bisa mengendarai sepeda motor.
“Arasseo. Kalau begitu teruslah berusaha sampai mesin motornya
hidup lagi.”
Mereka
berdua malah terlihat saling menyalahkan karena motor Minho yang tiba-tiba
mogok, dan
menyebabkan mereka berdua harus berhenti di jalanan sebelum sampai pada tempat
tujuan. Usaha
Sooji
akhirnya mebuahkan
hasil, mesin motor Minho hidup juga. Sooji naik ke
atas jok motor diikuti Shinhye di belakangnya. Mereka berdua melaju namun tak juga berhenti saling
menyalahkan di atas motor.
“Kau harus
berterima kasih padaku eonnie. Karena
usahaku menyalakan motor Minho sunbae,
kita tidak harus mendorongnya. Kalau
aku tidak di sini bersamamu mungkin kau...”
“Kalau kau
tidak di sini bersamaku, mungkin aku sudah naik taksi dan tidak kepanasan
seperti ini. Geureom, berhentilah
berkecoh dan seriuslah mengemudi, Sooji-ya!” Shinhye memotong pembicaraan Sooji.
“Heol!
Benar-benar sulit bagimu untuk mengucapkan ‘gomaweo dongsaeng-ah’.”
“Ya, Bae Soo Ji! Geumanharago!”
teriak Shinhye tepat
di telinga Sooji, yang membuat Sooji
hampir kehilangan keseimbangan mengendarai motor.
“Apa
sekarang jadwal menstruasimu,
eonnie?” Sooji bersuara
lagi, kali ini lebih berupa teriakan karena dia takut tidak kedengaran Shinhye
oleh sebab terpaan
angin yang lumayan
kencang di jalanan sejalur dengan hamparan ilalang di sebelah
kiri dan kanan mereka.
Shinhye tidak menjawab dan malah menjitak helm Sooji yang
menyebabkan gadis mungil itu malah berteriak memarahi sunbaenya.
“Aku yakin
pasti kau sedang PMS–pre
menstruation
syndrome. Itu mengapa kau selalu tersinggung setiap kali aku
bicara.” Sooji
tetap berkecoh. Mengingat, dia bukan jenis orang yang akan berhenti berkecoh
setelah digertak.
“Ya, magnae! Kali ini aku
serius memintamu untuk berhenti bicara dan lihat ke spionmu! Apa aku tidak salah lihat? Pria
berjaket kulit dengan
motor di belakang sejak tadi mengikuti kita.”
Berdasarkan
instruksi Shinhye, Sooji sedikit menelengkan
kepalanya melihat ke arah kaca
spion motor. Benar
seperti kata Shinhye,
ada pria berjaket kulit hitam yang terlihat sedang mengikuti mereka. “Eonnie serius? Apa dari tadi
pria itu mengikuti kita?”
“Apa yang
mau dia lakukan? Coba tancapkan gas motornya Sooji-ya. Paling
tidak kita harus keluar dulu dari jalur sepi
ini,”
ujar Shinhye sedikit ketakutan berhubung jalan yang mereka lalui ini hanya
sejalur dan jarang ditemui kendaraan-kendaraan lainnya yang lewat.
Sooji
menancapkan gas motornya,
tapi yang ada pria itu malah ikut menancapkan gas motornya juga. Selang
beberapa menit firasat buruk mereka menjadi kenyataan. Pria berjaket kulit
hitam itu dengan
kasar merampas tas tangan
yang dipegang Shinhye.
Tas itu akhirnya
terlepas dari tangan Shinhye. Dan pria berjaket kulit itu
menancapkan gas motornya, menghilang pergi secepat mungkin dari pandangan
Shinhye dan Sooji. Karena serangan tiba-tiba pria berjaket kulit hitam itu
menyebabkan Sooji
kehilangan keseimbangan mengontrol motor yang dikendarainya, dan akhirnya dia
juga Shinhye terjatuh dari atas motor dan terpelosok ke luar jalanan. Tepatnya ke bagian di mana
terdapat rumput ilalang yang tumbuh meninggi ke atas. Dengan sempurna kedua orang itu
mendarat di atas rumput liar di pinggiran jalanan. Dan untungnya
motor yang mereka
naiki tidak menindih mereka. Sooji sedikit meringis karena lutut dan sikunya yang berdarah.
Di depannya terlihat Shinhye
yang mencoba bangkit karena jatuh tertelungkup di atas
ilalang. Selang beberapa detik ketika mencoba untuk duduk sempurna, Shinhye merasakan tubuhnya yang tiba-tiba oleng.
Dia kemudian rebah
ke belakang dan akhirnya pingsan.
***
“Kepala
pasien sedikit terbentur ketika kecelakaan. Saya hanya
khawatir apabila terjadi sesuatu
pada kepalanya akibat benturan
tadi.
Oleh
karena itu dia diharuskan untuk tinggal selama beberapa hari di sini, agar kami bisa terus memantau kondisinya.
Kalau kondisinya
membaik, dia pasti
akan diperbolehkan
pulang,” kata salah satu dokter UGD yang
mendapat tugas memeriksa Shinhye.
Manajer Yoo
mengangguk mengerti
dengan pembicaraan dokter tersebut. “Dia
hanya pingsan kan, dokter?”
“Ini bukanlah benturan
yang serius
sampai menyebabkan pasien tidak
akan sadarkan diri
dalam waktu yang lama. Berdasarkan
laporan medis, pasien belum siuman karena rasa
syok yang dia
alami akibat kecelakaan tadi.
Terpukulnya mental pasien yang membuat dia akhirnya belum sadarkan diri. Anda
tidak usah khawatir, ini tidak akan berlangsung lama. Dalam beberapa jam ke depan,
pasien pasti akan sadakan diri.”
“Ini memang
pengalaman pertama
kali bagi dia
menaiki sepeda motor, dan malah
langsung terjadi kecelakaan.
Itulah sebabnya rasa syok itu membuat dia masih tidak ingin sadarkan diri.” Manajer Yoo terlihat menambahkan.
***
“Siapa walinya?” tanya salah seorang
perawat wanita yang
baru saja memindahkan Shinhye yang belum sadar ke kamar pasien.
“Aku,” jawab manajer Yoo.
“Pasien hanya boleh ditemani oleh salah
satu wali wanitanya,”
kata perawat wanita lainnya karena melihat jumlah penjenguk
Shinhye yang lumayan banyak.
Setelah mengecek keadaan
Shinhye, kedua perawat wanita yang memindahkan Shinhye tadi beranjak keluar
meninggalkan Shinhye dan para penjenguknya. Beberapa jam melihat kondisi Shinhye
yang belum juga siuman, akhirnya para penjenguk yang adalah karyawan JeResto, satu
persatu mulai beranjak
pergi. Berhubung jam besuk yang telah berakhir. Kini tinggal
Jiwon serta Yonghwa yang masih
berada di ruangan Shinhye.
“Bos
pulanglah! Aku yang akan menjaganya,” tawar Jiwon melihat Yonghwa
yang belum mau pulang.
“Arasseo. Kalau dia sadar nanti hubungi aku.” Yonghwa bangkit dari duduknya
dan pergi dari
ruangan Shinhye.
***
Keesokkan
paginya, Jiwon bangun dan kaget melihat Shinhye yang sudah duduk bersandar di kepala tempat tidurnya.
“Eoh,
kau sudah sadar? Dahaengiya–syukurlah!” kata Jiwon sambil menguap
lebar.
Shinhye
menghirup dan menghembuskan nafasnya,
kemudian berkata. “Aku tidak menyangka pengalaman pertamaku naik motor jadi
begini akhirnya.” Shinhye celingak celinguk terlihat mencari sesuatu. “Mana
gadis busuk itu? Aku akan menghabisinya
kalau aku
melihatnya. Aku kan sudah bilang jangan lewat jalur itu karena sepi. Tapi dia
malah mengatakan kalau itu jalan pintas dan memaksaku mengikuti kemauannya.”
“Sudahlah.
Kau sedang sakit jangan terlalu memaksakan diri untuk bicara.”
“Tidak. Aku
sudah baikkan. Aku mau pulang dan berurusan dengan gadis kecil itu.”
“Ya,
Park Shin Hye! Tidak tahukah kau kalau gadis busuk itu mengkhawatirkanmu
setengah mati kemarin? Dia bahkan tidak mau diobati kalau belum melihatmu
sadar.”
“Mwo?
Dia baik-baik saja kan? Manhi appo–dia
banyak yang sakit?” Shinhye terlihat
marah tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar
mengkhawatirkan magnae JeResto itu.
“Dia sudah berobat,
kan? Tidak ada yang
buruk yang menimpanya, kan?”
“Sudah. Dia
sudah berobat dan
dia baik-baik saja.” Jiwon
menjawab semua pertanyaan Shinhye.
Agar gadis ini tidak banyak bicara lagi melihat dirinya yang baru saja siuman.
“Maafkan aku. Karena
keteledoranku yang tidak memegang tasnya erat-erat, akhirnya tasnya malah
dibawa kabur pencuri itu,” ujar Shinhye dengan perasaan bersalah.
“Gwaenchanha. Manajer Yoo tidak mempermasalahkannya. Dia sama sekali
tidak mengkhawatirkan tas berisi uang belanjaan itu. Justru yang dia
khawatirkan adalah kau dan Sooji.”
“Biar bagaimana pun, aku harus
minta maaf padanya nanti.”
“Geurae.” Jiwon mengangguk setuju. “Eoh, Shinhye-ya, karena kau sudah sadar sekarang, aku akan memanggil perawat untuk
membawakan sarapan pagimu.
Kau harus makan setelah hampir sehari
tidak ada pemasukan apa-apa dalam perutmu.”
Shinye mengangguk.
Beberapa menit kemudian, seorang
perawat datang ke kamar Shinhye dan membawakan baki berisikan sarapan pagi
untuk Shinhye.
Setelah
memastikan Shinhye menghabiskan sarapan paginya, Jiwon kemudian pamit pulang.
“Aku pulang
untuk bekerja dulu. Nanti aku akan kembali dan membawa pakaian-pakaianmu.”
“Jiwon-ah,
neomu
gomawo!
Kalau kau tidak ada, aku tidak tahu siapa
yang akan merawatku.”
“Itu
gunanya sahabat. Kau mau kubawakan apa
nanti?”
“Novel yang
belum selesai kubaca. Ada di bawah bantal tidur di kamarku. Ah.. jangan lupa suruh Sooji
yang membawanya. Aku hanya ingin memastikan dengan mataku sendiri apakah dia
benar baik-baik saja.”
Jiwon
menganggukan kepala dan beranjak pergi dari ruangan Shinhye.
***
“Aku harus
bolos dari pekerjaanku di restaurant karena
Jiwon eonnie menyuruhku untuk
membawakanmu ini,” celoteh Sooji panjang lebar sambil
menyerahkan novel yang diminta Shinhye
pada Shinhye.
Shinhye
mendelik ke arah
Sooji dengan sendok makan siangnya yang juga mengarah ke arah Sooji.
“Heol!
Apa eonnie pikir eonnie adalah dokkaebi[2] sehingga menakutiku dengan sendok makanmu
itu?” ujar Sooji
mengungkapkan karakter hantu yang paling dia takuti.
“Kau harus
bertanggung jawab dengan keadaanku
sekarang ini,” kata Shinhye lalu kembali menikmati
makan siangnya.
Sooji tahu dia
bersalah jadi dia hanya bisa memanyunkan bibirnya tanpa banyak berceletoh lagi.
“Duduk dan
bacakan aku novel ini. Sampai hari aku nanti diijinkan untuk keluar dari tempat
ini, kau yang harus
membacakanku novel ini.”
Sooji mengangkat
bibir atasnya. Kemudian tanpa
banyak kata dia duduk di kursi di samping tempat tidur Shinhye dan membuka
novel tersebut. “Sudah sampai halaman berapa, eonnie?” tanyanya dengan senyuman yang dipaksakan.
“Kau bahkan
imut dengan senyuman paksaan itu, dongsaeng-ah.” Shinhye kemudian ikut tersenyum
dan memberitahukan batas terakhir halaman novel
yang dia baca.
“Aku akan sangat bahagia kalau membacakannya
untuk Joong Ki oppa.”
“Ya!
Berhenti
menyebut aktor favoritku dan baca novelnya!”
“Cihh..” Sooji mencibir. “Bahkan kau pun mengidolakan orang yang
sama denganku. Itulah mengapa kita tidak
pernah bisa cocok, eonnie.”
“Baca!”
perintah Shinhye dengan mata melotot yang membuat Sooji berhenti
mengeluh dan membacakan kelanjutan novel
yang dibaca Shinhye kemarin.
Selang
beberapa menit Sooji
membacakan novel untuk Shinhye, tiba-tiba terdengar gagang pintu
kamar Shinhye yang
dibuka secara perlahan. Perlahan
tapi pasti, pintu tersebut pun
terbuka. Seseorang
dengan tampang setengah
tersenyum berdiri tepat di depan pintu tersebut.
Shinhye dan Sooji berbalik
menatap orang tersebut.
“Kau sudah
sadar. Dahaengiya–syukurlah!” katanya
menatap Shinhye dengan
senyuman lebar. “Eoh, kau juga ada di sini?” Kali ini dia bertanya sambil menatap Sooji.
“Ne,
bos,”
jawab Sooji singkat.
“Aku bukan
bos di JeResto
lagi. Kau boleh memanggilku oppa atau apa saja yang menurutmu terdengar baik?”
“Geurae, Yonghwa oppa,”
kata Sooji masih terdengar kaku, tapi dia tetap mencoba terlihat akrab.
Shinhye
menghembuskan nafas kesal. Dalam hati dia merenggut. “Oppa?”
“Oppa,
kau terlihat capek. Duduklah!” kata Sooji
sambil menyodorkan kursi yang didudukinya tadi.
Shinhye
melotot pada Sooji.
Dia tahu bahwa anak itu mau menghindar dari tugasnya membacakan Shinhye novel.
Oleh karena itu dengan girangnya dia menyerahkan kursi itu pada Yonghwa.
Melihat Shinhye menatapnya dengan mata melotot membuat gadis itu menjulurkan
lidah. Adegan itu mereka lakukan ketika Yonghwa sedang tidak melihat mereka.
“Ah.. kalau aku punya namdongsaeng seumuranmu, tentu saja akan
kujodohkan denganmu.”
“Kau saja
yang berjodoh denganku, oppa,” tawar
Sooji masih mencoba
akrab.
“Aku suka
gayamu.” Yonghwa tertawa sembari mengacak-acak
rambut Sooji.
“Eoh, kau sudah berani mengacaki rambutku.”
Tunjuk Sooji
pada Yonghwa.
Yonghwa
tertawa lagi. “Kau harus kukenalkan pada Lee
Hyun Woo,
adik sepupuku,” katanya sambil duduk di atas kursi yang disodorkan Sooji.
“Adik
sepupumu? Lee Hyun
Woo?” tanya Shinhye bingung dengan perkataan Yonghwa. Berhubung
yang dia ketahui Lee Hyun Woo itu bukan adik sepupu Yonghwa. Tapi anak dari sekretaris ayah
Jonghyun.
“Maksudku
pada adik yang kukenal.
Lee Hyun Woo.” Yonghwa mengelak.
Untung saja Shinhye tidak ambil pusing dengan kalimat Yonghwa.
“Apa dia
tampan sepertimu? Kalau ya, aku bersedia
diperkenalkan dengannya,” kata Sooji
dengan mata yang berbinar-binar.
“Ya, Bae Soo Ji!” tegur Shinhye
pada Sooji.
“Eoh,
eonnie si pemarah lagi-lagi marah.”
Yonghwa
tertawa kemudian berkata, “Apa kau bersedia membiarkan eonnie si pemarah
ini bicara
berdua dengan oppa, eoh?” Tunjuk Yonghwa secara bergantian
pada dirinya dan Shinhye.
“Azza! Paling tidak aku bisa melanjutkan
pekerjaanku di restaurantmu, oppa. Eoh, oppa kau harus
menggantikanku membacakan novel ini
untuk eonnie.”
Sooji
menyerahkan novel yang dia pegang ke arah
Yonghwa. Kemudian
dengan bahagia melenggang pergi tanpa
memedulikan Shinhye
yang sedang melotot ke arahnya.
“Dia
benar-benar lucu,”
kata Yonghwa mencoba mencairkan suasana antara dia dan Shinhye yang terlihat
tegang saat ini. “Ah,
cam, apa aku
harus membacanya lanjut?” Yonghwa bertanya dengan tatapan lekat.
“Piryeopseo–tidak perlu.” Shinhye menyodorkan tangannya meminta
novelnya.
Yonghwa
menurutinya dan memberikan
novelnya.
Demi
menghindari tatapan Yonghwa, Shinhye membuka halaman novelnya sembarangan dan
pura-pura sibuk membacanya dalam hati.
“Kau
benar-benar sudah baikkan, kan?” tanya Yonghwa hati-hati.
“Hmm...” Shinhye
menggumam.
“Setelah
keluar dari sini, aku rasa sebaiknya untuk
sementara kau tidak
usah bekerja di restaurant
dulu. Bagaimana?”
“Hmm…”
Masih dengan gumaman Shinhye menjawab pertanyaan Yonghwa.
Shinhye
yang menunduk sambil
membaca tiba-tiba mendongak terkesiap karena Yonghwa yang tiba-tiba menarik
buku yang dipegangnya.
“Kau
mendengarkanku?” kata Yonghwa sambil mengangkat tinggi-tinggi bukunya dari jangkauan Shinhye. Jaga-jaga
kalau saja gadis
di depannya ini akan mengambil
kembali buku tersebut.
“Kenapa
tiba-tiba kau begini?” tanya Shinhye dengan mimik heran.
“Kau salah
satu karyawanku. Ah.. maksudku mantan karyawanku. Oleh karena
itu aku bertanya tentang
keadaanmu, karena aku
khawatir padamu.”
Shinhye
menghembuskan nafasnya,
pura-pura kesal dengan
kalimat-kalimat Yonghwa meski dalam hatinya sedang bersemi berbagai macam jenis
bunga.
“Kau mau es
krim?” Spontan Yonghwa
bertanya dengan nada yang terdengar tak lazim. Ini salah satu caranya untuk mengalihkan pembicaraan.
Shinhye
mendengus. “Apa kau ingin memberikan es krim pada pasien yang baru saja siuman, dan di saat
cuaca mendung begini?”
Yonghwa
tidak menjawab justru dia malah mengalihkan pembicaraan lagi.
“Sementara ini, dokter melarangmu untuk berjalan dengan kakimu. Jadi jangan
berjalan dulu.”
Yonghwa berkilah. Kemudian dengan sigap dia mengangkat Shinhye dari tempat
tidurnya menaruhnya di atas kursi roda dan mendorongnya keluar dari kamar.
“Eoh,
eodi ka?” Shinhye bertanya melihat tingkah Yonghwa yang benar-benar aneh.
“Jalan-jalan
keluar,” jawab Yonghwa singkat.
“Ya, aku akan melaporkanmu pada dokter,” tuntut Shinhye melihat Yonghwa
yang berbuat sesuatu tanpa meminta ijinnya terlebih dahulu.
“Doktermu telah memberikanku ijin untuk
membawamu menikmati udara luar.
Hanya sebentar saja.”
“Apa kau tidak lihat di luar
sedang mendung, Jung Yong Hwa-ssi?”
“Pakai ini.” Yonghwa menyelimuti
Shinhye dengan selimut hangat.
Shinhye
mendengus lagi. “Tapi
aku baru saja siuman,
dan aku butuh
istirahat yang cukup.”
“Berhentilah
bicara, Park Shin Hye! Atau aku akan menggendongmu
agar kau tidak banyak bicara lagi,”
kata Yonghwa kemudian mulai mendorong kursi roda Shinhye.
Shinhye
memilih untuk diam mengingat Yonghwa bukan jenis orang yang suka main-main
dengan perkataannya. Shinhye hanya bisa menatap Yonghwa dengan tatapan kesal tanpa bisa berbuat apa-apa.
Yonghwa
tidak membalas tatapan gadis itu. Pandangannya lurus ke depan sambil mendorong
kursi roda Shinhye. Yonghwa kemudian membawa
gadis itu ke kantin rumah sakit dan membelikannya es krim.
“Kau
benar-benar jahat. Berani-beraninya kau membelikanku es krim saat cuaca dingin
begini. Apa kau menginginkanku untuk sakit lagi?”
“Tapi kau
memakannya.”
“Itu karena
tidak baik membuang makanan.” Shinhye marah-marah tapi dengan lahap dia terus
memakan es krimnya.
“Apa kau masih marah padaku soal
ciuman itu?” Yonghwa tiba-tiba mengungkit kembali kejadian yang membuat mereka
berdua berselisih satu dengan yang lain.
Shinhye tidak menjawab
pertanyaan Yonghwa tapi malah berkata, “Aku harap kau tidak akan pernah
mengulangi hal itu lagi.”
Yonghwa tersenyum bahagia
mendengar kalimat yang diucapkan Shinhye. Kalimat itu jelas sekali menyatakan
kalau Shinhye tidak lagi marah padanya.
Setelah mereka berdua rukun
lagi. Yonghwa kemudian
membawa Shinhye berjalan-jalan keluar
ke taman rumah sakit. Mereka berdua benar-benar
terlihat sangat menikmati angin sore
hari itu.
Selang beberapa menit
berlalu,
tetes-tetes air dari langit mulai turun. Yonghwa mendorong kursi roda Shinhye masuk ke dalam bungalo yang ada di taman
rumah sakit demi menghindari
rintik hujan
yang mulai
turun. Begitu tiba di dalam
bungalo tersebut, rinai hujan kini
mulai berganti
dengan hujan yang
lebat.
Shinhye mencoba menadah kedua tangannya untuk menampung
titik-titik hujan yang jatuh dari atap bungalo,
tempat mereka berteduh. Tapi karena posisinya
yang jauh, dia tidak bisa menggapainya. Dia merenggut melihat dirinya yang lemah ini.
“Kau ingin
menyentuh tetes
air hujan itu?”
Shinhye
menganggukan kepalanya
mantap.
Dia bahagia karena Yonghwa mengerti perasaannya saat ini.
Yonghwa
kemudian menggeser sedikit
kursi roda Shinhye
ke depan, sampai akhirnya gadis itu mampu menadah tetes-tetes air hujan dari
atap bungalo
tersebut.
“Kau suka
hujan?” tanya
Yonghwa sember.
Shinhye
mengangguk. “Lebih tepatnya, aku menyukai hujan musim gugur. Karena aku punya
cerita tentang itu.”
“Cerita?”
Entah kenapa tapi dengan
enteng, Shinhye
mampu menceritakan
alasan mengapa dia menyukai hujan musim gugur pada Yonghwa. “Setiap
kali hujan musim gugur datang, aku selalu merasa bahwa semua kesedihanku telah
dibawa pergi oleh hujan itu. Itu mengapa aku sangat menyukai musim gugur.”
“Aku justru benci
melihat pemandangan
tumbuhan yang rontok.
Kenapa daun-daun
bodoh itu harus jatuh meninggalkan tangkai pohon yang tetap setia menggenggam
erat mereka hanya karena datangnya musim gugur? Aku benci daun yang rontok
karena musim gugur. Aku benci musim gugur,” kata Yonghwa dengan tatapan
masyuk.
Shinhye memutar kursi rodanya. Kali ini
dia berhadapan langsung dengan Yonghwa. Sayangnya Yonghwa memilih untuk tetap
memandang lurus ke depan. Tatapan Yonghwa terlihat senduh. Entah apa yang
sedang dipikirkan pria itu? Dan mengapa dia membenci musim gugur? Shinhye
kemudian menatap Yonghwa. Berharap dia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan
tentang Yonghwa yang membenci musim gugur.
“Aku pernah memiliki seorang yeodongsaeng–adik perempuan.” Yonghwa
tiba-tiba mulai bercerita kenyataan yang tak pernah diketahui Shinhye
sebelumnya. “Dia baru berumur tujuh tahun ketika penyakit itu menggerogoti
tubuhnya. Rambutnya gugur bagaikan daun yang rontok. Dia mencoba terlihat sehat
dan kuat, agar kami tak khawatir padanya. Tapi penyakit bodoh itu terus
menggerogotinya. Dia seperti mesin yang dipaksa hidup padahal telah kehabisan
minyak. Dia seperti daun-daun terakhir yang tetap bertahan di rantingnya meski
sebenarnya tak bisa lagi bertahan. Dia bagaikan daun yang terpaksa rontok
karena musim gugur.” Suara Yonghwa terdengar parau ketika menceritakan kisah
kelamnya.
Shinhye akhirnya mengerti alasan
di balik kebencian Yonghwa terhadap musim gugur.
“Kau tidak sakit, Jung Yong Hwa-ssi. Lalu kenapa kau memilih untuk
terlihat lemah?” Shinhye menyentuh punggung tangan Yonghwa, kemudian berkata,
“Lihat adikmu. Dia banyak merasa sakit. Tapi dia memilih untuk terlihat kuat.
Itu semua karena dia tidak ingin melihat orang lain khawatir padanya.” Sesekali
Shinhye membiarkan nafasnya menguar di udara. “Adikmu saja memilih untuk
terlihat kuat. Lalu kenapa malah kau yang terlihat lemah? Apa kau ingin melihat
adikmu yang di atas sedih karena kau yang juga sedih?”
Tatapan Yonghwa kini mengarah pada Shinhye. Masih dengan tatapan senduh,
dia kemudian berkata pada Shinhye, “Aku berharap kau bisa menjadi alasan bagiku
untuk tidak membenci musim gugur lagi.”
Shinhye sontak panik
karena Yonghwa yang
tiba-tiba menatapnya sangat lekat. Shinhye
yang tadinya menatap Yonghwa kini memilih untuk mengubah
objek tatapannya
pada seorang gadis
kecil yang sedang berjalan menggunakan mantel dan payung bersama ibunya.
Yonghwa
tiba-tiba menarik
kursi roda Shinhye lebih
dekat ke arahnya. Dia kemudian berlutut di depan gadis itu.
Mata
Shinhye membelalak melihat pemandangan yang sedang terjadi di depannya ini. “Ya!”
katanya mencoba tidak terlihat gugup. “Pakaianmu bisa basah karena
air hujan. Ireona!” Dia mengguncang
tubuh Yonghwa memaksa Yonghwa untuk bangun.
Yonghwa
tidak peduli dan tetap berlutut di hadapan Shinhye. Selang beberapa menit
menatap Shinhye, Yonghwa kemudian
berkata, “Apa kau mau menjadi
alasan bagiku untuk tidak membenci musim gugur lagi?” Yonghwa
yang kodratnya lelaki,
paling membenci mengatakan
hal-hal klise seperti ini.
Entah kenapa karena Park Shin Hye dia mampu
mengatakan hal-hal klise itu. “Ah.. kau membuat diriku sendiri merinding, karena untuk pertama
kalinya aku mengatakan kalimat-kalimat tidak masuk akal tadi.” Kali ini wajah
Yonghwa berubah ceria. Wajahnya lebih terlihat tampan ketika tersenyum.
“Kalau begitu ayo bangun dan
kita kembali ke kamar.” Shinhye mencoba mengalihkan pembiaraan.
Yonghwa berdehem. “Bagaimana
dengan pertanyaanku tadi? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”
“Pertanyaan apa?” Shinhye
pura-pura lupa dengan pertanyaan Yonghwa tadi. “Ayo kembali ke kamar kebetulan
hujannya sudah tidak deras lagi.” Dia lebih memilih untuk menghindari tatapan
Yonghwa.
“Neo jeongmal.” Yonghwa berdecak.
Shinhye yang tadinya gugup
akhirnya tertawa melihat wajah Yonghwa yang tiba-tiba berubah merah. Dan tingkah
lucunya ketika dia sedang malu. Shinhye menghembuskan nafas lega. Karena
sepertinya Yonghwa tidak terlihat sedih lagi.
“Ya, Park Shin Hye! Jangan lama memikirkannya. Jawab aku!” Yonghwa
merenggut karena Shinhye yang tak mau menjawab pertanyaannya.
Gadis
cantik di depan Yonghwa ini malah terlihat memainkan jemarinya, sebuah
kebiasaan yang selalu ia lakukan apabila sedang dalam situasi gugup. Shinhye
membisu lama sampai akhirnya
Yonghwa mendesaknya.
“Park Shin
Hye! Apa
kau mau aku sakit karena capek berlutut?”
“Geurae. Geurae.” Shinhye
mendengus sambil tertawa kecil. “Bahkan belum beberapa menit berlutut kau sudah merasa capek?”
“Kau tega
menghukumku?” timpal Yonghwa.
“Shireo! Aku mau menjawabnya kalau kau mampu membuatku tertawa saat ini,” kata Shinhye yang akhirnya
memilih untuk tidak lagi menghindar.
“Jeongmal?”
Shinhye mengangguk.
Shinhye mengangguk.
“Ah.. kau benar-benar.” Tak lama kemudian, Yonghwa akhirnya mendapatkan sebuah ide. Dia
berlari keluar dari bungalo, tempat dia dan Shinhye
berteduh, berlari mengejar gadis kecil yang tadi berjalan bersama ibunya. Ketika mendapati mereka, Yonghwa
terlihat berbicara dengan ibu gadis itu,
kemudian tiba-tiba dia menggendong gadis kecil itu dengan payungnya dan
membawanya kepada Shinhye.
Begitu
gadis kecil itu
berdiri di depan Shinhye. Gadis kecil itu berkata, “Eonnie-ya, kau harus menerima ahjussi ini. Karena kalau tidak, dia akan memisahkanku dengan eommaku.” Gadis kecil ini berkata dengan
segala kepolosannya.
“Ya, gadis kecil! Aku bukan ahjussi-mu.
Kau tidak lihat tampangku.” Yonghwa menunjuk wajahnya sendiri. “Aku
masih sangat muda. Kau seharusnya memanggilku oppa,” protes
Yonghwa.
“Geurae–benarkah?” Shinhye menatap gadis kecil di depannya
ini sambil tersenyum “Kalau
begitu,
bisakah kau bilang pada ahjussi ini
kalau aku benar-benar ingin tertawa dengan
tingkahnya saat ini?” Shinhye mengucapkannya dengan tawa yang tak
bisa ditahan melihat tingkah Yonghwa yang malah berdebat dengan gadis kecil ini
karena panggilan ahjussi yang
diberikan gadis kecil ini padanya. “Gadis kecil, bilang juga pada ahjussi ini kalau aku bersedia menjadi alasan baginya untuk tidak lagi membenci
musim gugur, mmm?”
Yonghwa
berbalik menatap Shinhye dengan senyuman yang benar-benar bermakna bahwa dia
bahagia karena Shinhye akhirnya
mau menerimanya.
To be continued
[2]
Hantu nakal
dari Korea sejenis tuyul yang mempunyai satu tanduk di kepalanya dan selalu
membawa tongkat ajaib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar