"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 7

Sabtu, 09 Juli 2016

Rain of Autumn Part 7

Part 7



***
"Shinhye-ya," panggil Jiwon begitu melihat Shinhye keluar dari gerbang kampus.
Shinhye menoleh dan mendapati Jiwon sudah berjalan di sampingnya.
"Kemarin Lee Jong Hyun-ssi mengajakku makan malam."
Shinhye mengangguk, "Dia sudah menceritakan padaku kemarin."
"Kau tidak marah kan?"
"Marah untuk apa? Itu haknya mengajak siapa pun makan siang."
"Aku bingung, kenapa dia tiba-tiba mengajakku? Kami kan baru saja kenal.” Jiwon terlihat sedang mencari jawabannya sendiri. “Tapi tidak apa-apa, Lee Jong Hyun-ssi orang yang sangat menyenangkan. Aku sangat terhibur dengan candaannya."
Jiwon-ah, apa kau tahu, aku juga mengalami hal yang sama? Aku sangat terhibur dengan candaan, senyum, tawa bahkan semua hal tentang dirinya. Semua dalam dirinya membuatku semangat menghadapi hari. Lalu kenapa sekarang kau juga mengalami hal yang sama? Jiwon-ah, aku tidak ingin suatu saat nanti kita mungkin harus berkompetisi mendapatkan dia.
"Eoh, Park Shin Hye, akhir-akhir ini kau sering melamun. Apa yang kau pikirkan? Apa ada masalah?" kata-kata Jiwon membuat Shinhye terenyak dari lamunannya.
Shinhye menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya lelah. Dan sepertinya hari ini aku tidak bisa bekerja. Kau tolong minta ijinlah untukku."

At JeResto
Yonghwa masuk ke restaurant dengan wajah gembira. Sudah beberapa minggu entah setan apa yang merasukinya hingga akhir-akhir ini dia lebih rajin masuk kerja. Tidak seperti dulu, dia sering datang sesuka hatinya.
"Selamat pagi, bos!" sapa beberapa karyawan yang melihatnya masuk.
Yonghwa menyapa balik. Sesudah itu dia celingak-celinguk mencari seseorang, tapi seseorang itu tidak dia temui.
"Di mana manajer Yoo?" tanya Yonghwa pada Hyejoon yang kebetulan lewat di depannya.
"Di ruangannya."
Yonghwa berjalan menuju ruangan manajer Yoo. Begitu masuk, tanpa berbasa-basi Yonghwa langsung mengutarakan pertanyaannya.
"Ahjussi, di mana Park Shin Hye? Apa dia belum masuk? Atau hari ini dia tidak masuk?"
"Jiwon bilang Shinhye sedang sakit. Jadi kubiarkan dia beristirahat dulu."
Tanpa mendengar penjelasan selanjutnya, Yonghwa pamit pada manajer Yoo dan pergi dari restaurant. Dia menuju tempat mobilnya diparkir, menyalakan mesin dan pergi ke suatu tempat.

***
Shinhye kaget begitu membuka pintu pagar rumahnya dan melihat Yonghwa sedang berdiri di depannya.
"Ya, apa yang kau lakukan di sini?"
"Bertemu klien di daerah sini. Kebetulan dekat rumahmu, jadi aku mampir saja. Kau sendiri, kenapa tidak masuk kerja? Sakit? Wajahmu tidak pucat. Kau terlihat baik-baik saja."
"Aku hanya sedikit lelah, jadi perlu istirahat dulu."
"Kau tidak mengundangku masuk dulu?"
Shinhye membuka pagarnya dan membiarkan Yonghwa masuk ke rumahnya.
"Kau mau minum apa?"
"Air putih cukup."
Shinhye ke dapur dan kembali dengan segelas air putih di tangannya kemudian meletakkannya di atas meja.
"Apa ini?" kata Yonghwa dan mengambil sebuah diary dengan cover hijau clover yang terletak di atas meja.
Begitu melihat Yonghwa akan membuka diary itu, Shinhye berlari dan ingin merampas balik diary itu. Tapi karena terantuk oleh kaki meja, dia malah menabrak kaki Yonghwa, terantuk dan malah menindih Yonghwa yang tadinya duduk bersila. Posisi Yonghwa sekarang ada di bawah dengan Shinhye yang menindihnya dari atas. Wajah keduanya saling menatap. Dan sangat jelas wajah kedua orang itu merah padam. Shinhye yang malu langsung bangkit berdiri. Begitu juga dengan Yonghwa.
"Sepertinya kau butuh istirahat. Aku pulang dulu," kata Yonghwa dengan tingkah yang kelihatan jelas, dia sangat gugup. Oleh karena itu, dia memilih untuk pergi dari rumah Shinhye.

***
"Ppalli!" perintah Yonghwa.
"Ya, bagaimana bisa kau menyuruhku cepat kalau barang-barang yang kubawa banyak sekali?" omel Shinhye sambil berusaha menjinjing beberapa kantung plastik belanjaan di tangannya.
"Karena tiba-tiba
dosenku memanggilku, oleh karena itu aku tadi tidak sempat mengantar belanjaan itu langsung ke restaurant dan membawa semua itu ke kampus. Kau jangan curiga aku sembarang memerintahmu. Itu semua keperluan restaurant kita. Di restaurant stoknya sudah abis. Aku sendiri yang membelinya. Jadi sekarang giliranmu membawanya."
Yonghwa berjalan di depan dengan tangan kosong tanpa menjinjing satu kantung pun.
"Cepatlah!" timpal Yonghwa.
Shinhye hanya bisa menatap Yonghwa dengan tatapan kesal. Dia benar-benar ingin menutup mulut pria di depannya ini dengan selotip. Agar Yongwa tidak lagi memerintah bak seorang bos, tanpa memedulikan dia yang lelah selama perjalanan karena terus menjinjing beberapa kantung belanjaan ini.
Ya, kau harus mengurangi berat badanmu agar kau berjalan lebih cepat.” Tanpa membantu Yonghwa malah terus mengomeli Shinhye.
"Aniyo. Jangan terus memerintahku. Aku capek." Shinhye tiba-tiba membanting belanjaan di depan Yonghwa. Dia berjongkok di depan belanjaan-belanjaan itu dan menatap Yonghwa dengan tatapan kesal.
"Ya, apa kau tidak lihat banyak orang sedang lalu lalang? Jangan bertingkah memalukan. Bangun dan angkat belanjaan itu," kata Yonghwa dengan mulut yang sedikit terkatup.
"Aku seperti ini karena lelah, kau tahu?"
"Nado. Aku juga lelah waktu di supermarket karena harus menjinjing benda-benda itu sendiri."
"Kenapa hanya aku yang kau panggil untuk menjinjing benda-benda ini?"
"Kalau begitu siapa lagi?" Yonghwa tidak menjawab tapi malah balik bertanya.
“Masih ada karyawan lain di JeResto selain aku. Lalu kenapa harus aku seorang?"
"Huh!” Yonghwa mendengus. "Karena lebih baik kau yang melakukannya," jelas Yonghwa.
"Apa kau sedang mengerjaiku?"
"Museun soriya?"
"Aku berpikir kau benar-benar sedang mengerjaiku. Kenapa mobilmu tiba-tiba macet?" Shinhye mengeluh karena mobil Yonghwa yang macet tiba-tiba dan macetnya lagi tidak jauh dari restaurant mereka. "Apa kau yang mengaturnya agar kau bisa puas menyiksaku? Kau benar-benar menjengkelkan." Shinhye kemudian berdiri dengan tampang cemberut. "Ada banyak taksi yang lewat tadi, kenapa tidak kau tahan dan kau bawa barang-barang ini?"
"Kau benar-benar orang yang tidak tahu bersyukur. Sudah untung kau ke sini tadi dengan mobilku. Tapi masih saja mengeluh."
"Jarak mobilmu macet sampai ke restaurant itu cukup jauh. Tapi kenapa hanya aku yang menjinjing semua benda-benda ini? Kau? Apa yang kau lakukan? Berjalan dengan tangan kosong dan terus berkoar-koar di depan bagai seorang bos besar, huh? Benar-benar egois."
Ya, apa yang kau katakan tadi?” Yonghwa mendengus kesal. "Ah, michigetda. Ya," teriak Yonghwa.
Shinhye tersentak kaget.
"Kalau kau tidak mau membawanya, biar aku saja yang melakukannya. Tapi bisakah kau berhenti menuduhku sedang mengerjaimu?" bentak Yonghwa. Kemudian dia mengangkat kantung-kantung belanjaan tadi dan berjalan meninggalkan Shinhye yang masih melongo karena sentakan Yonghwa barusan.
"Meongcheongi–bodoh." Yonghwa memaki hatinya karena kemauan hatinya yang tiba-tiba ingin bertemu Shinhye membuat dia melakukan hal yang dia sendiri bingung kenapa dia harus melakukannya.
Di sepanjang perjalanan Shinhye hanya mengekori Yonghwa dari belakang sampai mereka tiba di JeResto.
"Eoh, bos? Apa yang kau bawa?" tanya Donghyun salah satu pelayan pria di restaurant. Dia mengangkat semua belanjaan dari tangan Yonghwa. "Ahh, berat sekali bos." Donghyun lalu mengintip isi belanjaannya. "Apa ini? Daging sapi, mie kering." Donghyun mulai menyebutkan semua isi belanjaan satu persatu. "Semua ini masih penuh di kulkas bos."
Shinhye membelalak mendengar pernyataan Donghyun.Semua belanjaan tadi masih penuh di kulkas? Dia bilang stoknya habis? Apa dia baru saja mengerjaiku?
"Jeongmal? Aku pikir stoknya sudah habis. Baguslah, kalau masih penuh. Aku ke ruanganku dulu." Yonghwa kabur dari tatapan marah Shinhye.
Beberapa menit baru berada di ruangannya tanpa permisi seseorang masuk ke ruangannya. Dan seperti yang dikiranya, Shinhye pasti datang membuat perhitungan dengannya.
"Jung Yong Hwa-ssi, apa kau puas mengerjaiku?" tanya Shinhye retoris.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Yonghwa pura-pura bodoh.
"Kau benar-benar pandai berakting, Jung Yong Hwa-ssi. Aku benar-benar tidak percaya kau masih membenciku. Kalau bukan karena presdir yang memintaku bertahan di sini, aku mungkin sudah pergi menjauh darimu, eoh. Lain kali jangan pernah memanfaatkanku lagi. Karena aku tidak akan pernah menuruti maumu. Ara?" Shinhye pergi tanpa memberikan celah untuk Yonghwa membela diri. Meski begitu tapi entah kenapa Yonghwa malah menikmati wajah Shinhye yang sedang marah. Saat itu juga Yonghwa menyunggingkan senyuman yang jelas terpancar di wajahnya. Dia merasakan sesuatu..
***
2 weeks later
Seperti biasa, sudah menjadi rutinitas bagi Jonghyun untuk ke restaurant milik pamannya ini. Jonghyun ke tempat ini sudah pasti karena ingin menghabiskan makan siangnya dengan Shinhye, meski ada sedikit motif terselebung yaitu ingin bertemu Jiwon juga. Makan malam waktu itu meninggalkan kesan yang dalam baginya. Dia harus terus bertemu Jiwon agar memungkinkan dia untuk lebih mengenal Jiwon lebih dalam.
Begitu tiba di halaman luar restaurant, Yonghwa sedang berdiri dengan wajah muram dan merenungi sesuatu, entah apa. Jonghyun mendekat dan menyapanya. Yonghwa tersentak, begitu melihat siapa yang menyapanya, wajahnya kembali muram dan hatinya berdetak tak karuan. Sepertinya dia mengkhawatirkan sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan Jonghyun. Sesuatu yang mungkin sulit baginya untuk diraih, tapi tidak bagi Jonghyun.
"Shinhye ada di dalam?"
Benar. Dia mencari si bodoh itu lagi.
Yonghwa hanya bisa menjawabnya dengan anggukan. Jonghyun menepuk bahu Yonghwa dan melenggang masuk ke dalam restaurant meninggalkan Yonghwa yang masih berdiri tegap memandang ke arah jalan raya.
Begitu Jonghyun masuk ke dalam restaurant, Shinhye langsung menyapanya, tidak kalah Jiwon juga datang menyapanya. Jonghyun tersenyum malu melihat Jiwon menyapa dirinya. Setelah menyapa Jonghyun, Jiwon kembali ke belakang.
"Shinhye-ssi, kau tidak lupa menu makan siangku, kan?"
"Seperti biasa?"
"Ne."
"Kau duduk dulu
. Akan kuambilkan makan siangmu." Shinhye beranjak ke belakang mengambil makan siang Jonghyun.
Begitu Shinhye akan keluar dari pantry dengan membawa baki makanan, Jiwon menahan langkahnya dan bertanya hal yang membuat Shinhye sedikit jengkel.
"Shinhye-ya, apa Jonghyun-ssi menanyakanku? Maksudku mungkin dia lupa memanggilku untuk menemaninya makan siang juga?" tanya Jiwon polos, tidak peka dengan perasaan Shinhye.
"Ani. Tapi kalau kau mau makan siang dengannya, silahkan." Shinhye menyerahkan baki makan siang Jonghyun ke tangan Jiwon. Tapi ditolak Jiwon.
"Dwaesseo," ujar Jiwon cemberut dan berjalan meninggalkan Shinhye.
Dari raut wajah Jiwon, Shinhye bisa melihat Jiwon sedang kecewa karena khusus hari ini Jonghyun tidak memanggilnya untuk makan siang bersama.
Apa ini yang kau maksud bersaing?” Shinhye berbicara dalam hatinya. “Kau bahkan tidak rela melihat sahabatmu seperti ini.” Shinhye kemudian mengejar Jiwon karena merasa bersalah telah membuat Jiwon bersedih.
"Jiwon-ah,” panggilnya sambil berusaha merendengi langkah Jiwon. “Mungkin Jonghyun-ssi hanya lupa. Kau jangan cemberut begitu. Aku akan mengingatkannya lagi, jadi tersenyumlah. Arasseo?"
"Hajjimajangan lakukan itu! Naneun gwaenchanha." Jiwon menepuk dadanya. "Aku ini wanita yang tegar. Jadi kau tenang saja, aku tidak akan bersedih hanya karena hal kecil ini," kilahnya. “Kau pergilah menemui Jonghyun-ssi.” Jiwon kemudian mendorong pelan tubuh Shinhye untuk pergi meninggalkannya.
Jiwon-ah, kau tidak bisa membohongiku. Kau menyukai Jonghyun-ssi, kan?
Shinhye kembali ke tempat duduk Jonghyun.
"Di mana Jiwon? Dia tidak ke sini juga?" tanya Jonghyun yang langsung membuat Shinhye cemberut.
"Akan aku panggil dia?"
"Piryeopseo. Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu empat mata tanpanya."
Shinhye mengangkat alis terlihat dia sedang serius berpikir.
Apa yang mau dia bicarakan denganku secara empat mata? Jangan bilang, dia ingin mengatakan sesuatu yang belum bisa kusiapkan jawabannya sekarang. Oh, Tuhan tolong aku.
"Shinhye, apa kau pernah ditolak atau menolak cinta seseorang?" tanya Jonghyun. Mulutnya terus mengunyah menghabiskan makan siangnya.
Shinhye gugup luar biasa. Kedua bola matanya terbuka lebar. Benar seperti apa yang dipikirkannya. Jangan-jangan Jonghyun mau mengungkapkan perasaan padanya.
"Shinhye-ssi?"
"Eoh, belum pernah." Shinhye menjawab sontak.
"Ditolak atau menolak?"
"Kedua-duanya."
"Jeongmalyo? Apa pria-pria di luar itu bodoh? Kau kan cantik. Tapi tidak ada yang mengerti itu?"
"Gomawo."
Shinhye tersenyum bahagia karena pujian Jonghyun.
"Kau tahu, waktu SMA dulu aku pernah mengungkapkan perasaan pada seorang gadis yang adalah sahabatku. Dan kau tahu apa jawabannya, aku ditolak olehnya. Itu pertama kali aku merasakan perasaan ditolak. Kau tahu, selama ini aku hanya merasakan bagaimana menolak seseorang. Tapi yeoja itu adalah yang pertama membuatku merasakan ditolak itu seperti apa. Dan itu sangat membuatku terpukul, aku bahkan tidak pernah lagi mengungkapkan perasaan pada seorang gadis."
"Takut ditolak lagi?" Shinhye mencoba menebak.
"Ya, seperti itulah."
"Kau seperti pengecut saja."
"Ini semua karena bosmu." Jonghyun tertawa kecil.
“Bosku? Apa maksudmu Jung Yong Hwa-ssi?"
"Ya. Apa kau mau tahu kenapa?"
Shinhye mengangguk sepertinya benar-benar tertarik mendengarkan cerita Jonghyun.
Jonghyun mulai bercerita tentang masa-masa SMA-nya bersama Yonghwa. Saat di mana dia ketika SMA mengatakan cinta pada seorang gadis yang adalah sahabat masa kecilnya bersama Yonghwa, dan gadis itu ternyata lebih menyukai Yonghwa. Yang akhirnya mematahkan hati dan semangatnya. Akhirnya karena hal itu, dia tidak lagi berani mengatakan cintanya pada gadis lain karena tidak ingin merasakan persaan ditolak lagi.
"Dari dulu sampai sekarang Jung Yong Hwa-ssi tetap saja dikagumi," tambah Shinhye.
"Nado," timpal Jonghyun tidak mau kalah.
Ne. Aku pun mengagumimu,” ungkap Shinhye dalam hati.
Jonghyun kemudian menceritakan masa-masa di mana dia dan Yonghwa begitu dikagumi gadis-gadis. Saat di mana dia dan Yonghwa harus bersembunyi karena dibuntuti oleh gadis-gadis yang mengagumi mereka.
“Kalian seperti selebriti saja.”
“Ya, memang. Karena kami tampan maka para gadis itu sering membuntuti kami. Kau tahu, waktu itu aku dan Yonghwa pernah bersembunyi dalam tempat sampah karena terus dibuntuti. Dan saat pulang ke rumah, aku dijauhi keluargaku karena bau tidak sedap yang kubawa. Aku bahkan harus mencuci seragamku sendiri. Dan ternyata Yonghwa juga mengalami hal yang sama."
Shinhye tertawa mendengar cerita Jonghyun. Melihat tawa Shinhye dari kejauhan, hati Yonghwa tiba-tiba berdetak tak karuan. Saat itu Shinhye terlihat sangat manis, dan hati Yonghwa tidak mau berhenti berdetak.
"Apa yang terjadi? Aku tidak mungkin menyukainya. Maldo andwae." Yonghwa menggeleng, tidak mau mengakui perasaan yang timbul dari dalam hatinya. Hari ini hatinya menjawab semua pertanyaan yang selama ini tersimpan di benaknya tentang dia yang selalu merasa marah ketika melihat Shinhye dengan pria lain. Dia yang tiba-tiba mulai rajin ke restaurant hanya untuk bertemu Shinhye. Dia yang selalu merasa khawatir kalau Shinhye tidak masuk kerja. Dan dia yang selalu bahagia menikmati wajah marah Shinhye kalau sedang diisengi. Namun meski hatinya telah menjawab semua pertanyaan itu, tapi Yonghwa tetap keras kepala tidak mau mengakuinya. Dia beranjak dari tempatnya berdiri menuju ruangan kerjanya. Isi kepalanya masih dipenuhi oleh Shinhye, meski dia sudah berusaha menampisnya. Dia menyadari, dia telah jatuh cinta pada Shinhye. Meski pikirannya bersikeras menolak kenyataan ini, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya membuncah hangat. Dia tidak bisa melawan hatinya. Otaknya memerintah dia untuk menampilkan wajah tersenyum mengingat setiap detik kebersamaannya bersama Shinhye. Namun perasaan yang Yonghwa rasakan saat ini berbanding terbalik dengan apa yang Shinhye rasakan. Shinhye yang masih duduk di tempat duduknya menampilkan semburat wajah kekecewaan. Jonghyun sudah pulang, tapi Shinhye masih merenung mengingat kata-kata Jonghyun tadi.

Flashback
"Park Shin Hye-ssi, aku sedang menyukai seseorang. Belum tahu pasti apa aku akan ditolak atau tidak? Tapi aku akan berjuang untuk mendapatkannya. Dan aku yakin kau bisa membantuku. Karena kau mungkin tahu jawabannya."
"Maksudmu? Apa kau…." Shinhye mulai menebak bahwa jawaban dari perjumpaan ini adalah karena mungkin Jonghyun ingin mengatakan persaannya pada Shinhye.
"Kim Ji Won. Aku menyukainya."
Dada Shinhye berdetak tak tentu. Hatinya terasa sakit mendengar pengakuan Jonghyun. Perkiraannya jauh dari kenyataannya. Bukan dirinya yang disukai Jonghyun. Tapi Jiwon. Sahabatnya.
"Kau dan dia sudah berteman lama, kan? Aku tahu bahwa kau yang paling mengenal seperti apa Jiwon-ssi itu. Jadi aku butuh jawabanmu. Menurutmu, apa dia mau menerimaku atau sebaliknya?" Jonghyun kemudian meringis. "Ah, ini bisa membuatku gila." Jonghyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak yakin kalau Jiwon-ssi juga menyukaiku."
Ada jeda sebelum Shinhye memberikan jawaban. Sulit baginya menerima kenyataan ini. Tapi apa yang bisa dia lakukan lagi selain mendukung hubungan mereka. Dia tidak mungkin mengkhianati Jiwon. Meski sebelumnya, sebelum dia mengetahui perasaan Jonghyun yang sebenarnya pada Jiwon, dia sendiri tidak rela Jonghyun bersama Jiwon. Tapi setelah mengetahui pilihan Jonghyun sekarang adalah Jiwon, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mendukung.
"Kau orang yang baik, tidak ada alasan bagi Jiwon untuk menolakmu. Kau jangan takut sebelum memulai. Aku yakin jawaban Jiwon tidak akan mengecewakanmu."
Karena aku tahu dia juga menyukaimu, Jonghyun-ssi.” Shinhye berbisik dalam hati.
"Gomawo, Shinhye. Aku jadi merasa dikuatkan. Oh yah, kau jangan bilang padanya. Biar ini sementara menjadi rahasia kita berdua."
Shinhye mengangguk meski hatinya sedang menangis saat itu juga.
"Hwaiting, Jonghyun-ssi! Kau pasti bisa."
"Aigoo, aku benar-benar tidak menyesal telah menerimamu sebagai asistenku."
"Itu semua berkat Lee Hyun Woo. Jadi lain kali kau harus mentraktir kami berdua makan siang."
"Tentu saja."
Flashback End

***
Sehari setelah kejadian itu, Shinhye memilih untuk mangkir kerja, baik di restaurant atau sebagai asisten pribadi Jonghyun, khusus untuk hari ini. Kebetulan hari ini jadwal kuliahnya kosong, jadi dia memilih untuk jalan-jalan ke tempat yang mampu menghilangkan kepenatannya. Taman hiburan adalah pilihan pertamanya. Beberapa jam naik bus, dia sudah tiba di tempat yang dia tuju. Shinhye turun dari bus dan masuk ke taman hiburan. Setelah membeli karcis, Shinhye langsung menuju kursi roller coaster. Wahana pertama yang dipilihnya. Shinhye duduk di kursi tersebut, di sampingnya ada seorang wanita gendut berambut poni. Setelah memasang sabuk pengaman, mesin raksasa itu mulai berputar. Begitu tiba di puncak, angin kencang menerpa wajah Shinhye. Saat itu juga, dia ingat semua tentang Jonghyun. Tentang Jonghyun dan angin kencangnya. Air mata Shinhye jatuh membasahi pipinya. Dan saat itu juga dia sontak berteriak, "Angin, aku mohon bawa semua kepedihan ini karena aku lelah menanggungnya sendiri. Ara? Ppalli!"
Setelah roller coaster-nya berhenti berputar, wanita gendut berponi itu bertanya pada Shinhye, katanya, “Apa kau takut, sehingga kau menangis? Kenapa kau memaksa untuk naik.” Sepertinya dia menyangka kalau Shinhye tadi takut karena dia melihat ada bekas air mata di bawah kelopak mata Shinhye.
Shinhye hanya tersenyum. Dan sebagai bentuk kesopanan, dia membungkuk pada wanita itu dan berjalan meninggalkannya.
Beberapa jam setelah puas bermain dengan beberapa wahana di taman hiburan. Shinhye bergegas pergi ke tempat tujuannya yang ke dua. Apalagi kalau bukan Sungai Han, tempat menyendiri terbaik. Begitu tiba di tepi sungai Han, ritual pertama yang dilakukan Shinhye adalah berdiri memandang sungai tersebut. Kemudian beberapa kali dia menarik dan menghembuskan nafasnya. Setelah itu, dia memilih duduk dan memandang luas sungai tersebut.
"Jonghyun-ssi, kau tahu, aku benar-benar bodoh karena telah menyukaimu. Tapi kau lebih bodoh lagi karena telah menyia-nyiakanku. Kau sendiri yang bilang, kan?"
Jeongmalyo? Apa pria-pria di luar itu bodoh? Kau kan cantik. Tapi tidak ada yang mengerti itu?"
Shinhye kembali mengingat kalimat-kalimat yang Jonghyun ucapkan kemarin. Shinhye kemudian memukul dadanya yang terasa sakit dari dalam. "Namun, karena Jiwon juga menyukaimu. Maka mulai sekarang aku akan belajar melupakanmu. Tidak sulit, kan?" Air matanya mengalir deras.
Tiga jam dia habiskan di tepi sungai Han. Karena sudah sore, Shinhye memilih untuk mengunjungi tempat terakhirnya hari ini. Warung tenda di pinggir jalan, tempat kunjungan terakhirnya sebelum kembali ke rumah. Warung ini adalah tempat minum soju terbaik versinya. Setelah duduk, dan kemudian pesanan soju beserta daging babi panggangnya diantar, dia mulai menghabiskannya. Sebotol soju selesai diminum, Shinhye langsung mabuk. Kadang-kadang dia bersendawa, setelah itu menertawai dirinya kembali. Dan akhirnya, kepalanya jatuh terkulai di atas meja.

TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar