"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 5

Kamis, 07 Juli 2016

Rain of Autumn Part 5

Part 5


Shinhye kemudian membungkuk dan keluar dari ruangan presdir. Dengan perasaan senang, dia menuruni tangga menuju ruang depan rumah itu. Saat ini dia sedang membayangkan, bagaimana wajah Yonghwa kalau tahu bahwa dia adalah pembimbing Yonghwa selama berada di JeResto.
“Mampus kau!” kata Shinhye dengan senyuman nakal yang menyeringai di wajahnya.
"Micheosseo?" tanya sebuah suara yang saat itu juga menyadarkan Shinhye dari lamunan nakalnya.
Begitu Shinhye berbalik, dia melihat pemilik suara itu sudah berdiri di depannya.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya Yonghwa sinis.
"Huh!" dengus Shinhye. "Bukan urusanmu."
Shinhye berjalan tanpa memedulikan Yonghwa. Tapi pergelangan tangannya malah disambar Yonghwa dengan kasar.
"Marhaebwa–katakan! Apa yang kau lakukan di rumahku?"
"Lepaskan!" Shinhye mencoba menarik pergelangan tangannya dari genggaman Yonghwa, tapi dia tidak kuat melawan kekuatan pria ini. "Kau, benar-benar sangat kekanakan!" semburnya kesal melihat Yonghwa tak kunjung melepaskan genggamannya.
"Neo–kau, apa kau juga mau mencari perhatianku?" terang Yonghwa percaya diri.
"Jeongmal? Kalau memang seperti itu berarti aku sudah gila." Shinhye menarik tangannya lagi dan berhasil terlepas. Kemudian dia berjalan meninggalkan Yonghwa yang masih mematung di tempatnya berdiri.
"Yonghwa doryeonim–tuan muda, presdir memanggil anda," panggil sekretaris predir.
Sebelumnya Yonghwa bertanya-tanya mengapa Shinhye bisa berada di rumahnya. Tapi semua itu terjawabkan begitu sekretaris ayahnya meminta dia menemui ayahnya. Dia yakin keberadaan Shinhye di rumah ini pasti ada hubungannya dengan ayahnya yang tiba-tiba ingin berbicara dengannya.

JeResto, seminggu kemudian.
Benar saja yang terjadi sekarang adalah Yonghwa diminta ayahnya bekerja di JeResto. Semua itu hanya untuk melihat kinerja kerja Yonghwa sebelum diputuskan untuk memimpin perusahaan. Awalnya Yonghwa menolak karena menurutnya ini belum saat bagi dia untuk belajar hal-hal seperti ini, tapi karena keras kepala ayahnya, Yonghwa malah berakhir tragis berdiri dalam JeResto saat ini sebagai bos sementara di tempat ini.
Saat ini Manager Yoo sedang memperkenalkan Yonghwa pada semua karyawan yang bekerja di JeResto. Saat sesi perkenalan, karyawan dipersilahkan Yonghwa untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing, untuk bisa mengenal satu dengan yang lain. Saat beberapa karyawan yang mendapat giliran sedang sibuk memperkenalkan diri, Shinhye dan Jiwon malah asyik membicarakan Yonghwa di belakang-belakang. Melihat Shinhye dan Jiwon yang tidak serius menghadap ke depan, membuat Yonghwa dengan keras menegur mereka. Sebenarnya teguran Yonghwa hanya sebagai bentuk balas dendamnya saja.
"Apa yang kalian berdua bicarakan di belakang? Apa kalian tidak lihat, bos kalian sedang berdiri di depan?" tegur Yonghwa.
Shinhye dan Jiwon menghadap ke depan dengan muka kecut dan mulut yang komat-kamit.
"Jangan berbincang di belakang lagi, mengerti?"
"Ne, arrasseo!" Keduanya menjawab bersamaan.
Setelah sesi perkenalan melewati beberapa orang, kini tiba giliran Shinhye. Beberapa karyawan yang mengetahui kejadian yang menimpa dia dan Yonghwa terlihat tegang. Tapi dia sendiri malah memamerkan wajah santai. Dia maju ke depan dengan perasaan cuek. Begitu ingin memperkenalkan diri, Yonghwa berjalan ke arahnya dan berkata, "Apa aku memanggilmu ke depan?"
Shinhye mengangkat ke dua alisnya, bingung dengan perkataan Yonghwa. Ini kan waktunya memperkenalkan diri. Tapi kenapa Yonghwa malah bertanya, seakan belum tiba giliran Shinhye.
"Aku tidak memanggilmu ke depan. Kau boleh kembali ke tempatmu."
Shinhye mendelik kesal dan kembali ke tempatnya semula, dengan perasaan keki.
"Yang berikutnya, silahkan perkenalkan dirimu."
Jiwon maju ke depan dan memperkenalkan dirinya. Seterusnya berlanjut sampai karyawan terakhir. Setelah sampai pada karyawan terakhir, Yonghwa seakan tidak memedulikan Shinhye yang belum memperkenalkan diri. Yonghwa menutup sesi perkenalan pagi itu dengan berkata, "Terima kasih semua atas kerjasamanya. Saya harap ke depan kita bisa saling membantu. Kalian boleh kembali bekerja."
Semua karyawan kembali beraktifitas sesuai tugas mereka masing-masing.

***
Setelah seminggu bekerja di restaurantnya menambah banyak pengalaman bagi Yonghwa. Dia jadi mengerti bagaimana rasanya berada di posisi pemimpin. Seminggu diajari manager Yoo, ternyata tidak sulit juga bagi Yonghwa untuk menyesuaikan diri. Dia bahkan bisa mengatasi semua masalah di restaurant, di luar restaurant, masalah dengan klien, semua itu dengan mudah bisa dia atasi. Belum sebulan bekerja saja, dia sudah ditugasi untuk bertemu klien yang akan bekerja sama dengan mereka sehubungan dengan restaurant mereka yang akan dikontrak untuk dipakai setiap kali perusahaan tersebut mengadakan acara makan bersama secara besar-besaran.
Hari ini Yonghwa ditugaskan bertemu langsung dengan klien dari perusahaan tersebut.
Melihat semua karyawannya yang sedang melakukan aktifitasnya masing-masing, dia memanggil Kim Hye Joon untuk menyuruh Shinhye datang ke ruangannya.
Hyejoon berjalan menemui Shinhye. "Shinhye, kau dipanggil bos di ruangannya," panggil Hyejoon yang juga adalah salah satu karyawan di restaurant itu.
"Bos?" Shinhye bertanya kejelasan bos mana yang memanggilnya.
"Maksudku bos kita yang baru, Jung Yong Hwa-ssi. Pergilah ke ruangannya, ppalli!"
"Ah, geurae. Gomapda, eonni."
Shinhye berjalan menuju ruangan Yonghwa dengan hati yang bertanya-tanya, mengapa dia memanggil? Apa dia ingin memecatku? Atau mungkin membentakku lagi?
Seminggu bekerja dengan Yonghwa, Shinhye merasa bahwa dirinya yang ingin membalas dendam malah berakhir sebaliknya. Shinhye berjalan dengan wajah kecut, sambil memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti. Begitu sampai di depan ruangan Yonghwa, Shinhye mengetuk pintu Yonghwa dan Yonghwa mempersilahkan Shinhye masuk. Shinhye masuk dan menemukan Yonghwa sedang duduk berselonjoran di kursi kerjanya sambil menutup mata. Hanya untuk sesaat, Shinhye merasa bahwa Yonghwa terlihat sangat tampan kalau sedang diam.
Melihat Shinhye yang sudah berdiri di depannya, Yonghwa kemudian membuka pembicaraan. Katanya, "Kau dan aku harus menemui presdir di kantornya. Bilang padanya kau tidak mau mendampingiku. Lagian selama seminggu ini kau juga tidak pernah membimbingku. Semua dilakukan manajer Yoo. Oleh karena itu bilang pada ayahku untuk membatalkan kerjasamanya denganmu." Beberapa menit Yonghwa membiarkan jeda kosong dalam pembicaraannya. Kemudian kembali berbicara dia mengatakan, "Aku tidak tahu apa yang kau katakan pada presdir sampai dia sebegitu percayanya padamu?"
Wajah Shinhye menekuk. Saat itu juga dia menyesal telah memuji Yonghwa tadi. “Kenapa aku harus melakukannya?”
“Karena kerjasama kalian itu menggangguku.”
“Maksudmu?”
“Kau. Apa kau tidak mengerti kalau ayahku selalu membelamu meskipun kau berbuat salah?”
Shinhye akhirnya mengerti dengan inti pembicaraan Yonghwa. “Ah.. aku mengerti sekarang. Kau ingin aku membatalkan kerjasama dengan presdir karena setelah itu kau ingin memecatku kan?”
Ya, aku sudah tak sepicik itu. Aku hanya tak ingin kau yang terus menemaniku menemui klien. Kenapa harus kau yang mendampingiku bertemu klien? Apa dia tidak percaya pada anaknya sendiri? Paling tidak dia bisa menyuruh Manager Yoo untuk membantuku. Kenapa harus kau? Benar-benar membuat bingung," kilah Yonghwa. Jelas-jelas tidak ada aturan seperti itu dari Presdir. Presdir memperbolehkan Yonghwa untuk memilih dengan siapa dia ingin bekerja. Yang Presdir inginkan hanya kehadiran Shinhye di JeResto untuk membantu mengubah sikap Yonghwa yang terlalu keras kepala dan egois. Karena Presdir yakin bahwa mungkin Shinhye mampu melakukannya. Bukan untuk menemani Yonghwa ke mana pun Yonghwa suka. Semua yang Yonghwa ucapkan hanya alasan agar dia bisa mengerjai Shinhye.   
"Kalau kau tidak mau, kau bisa menyuruh manager Yoo mendampingimu. Presdir juga tidak akan tahu. Lagian aku juga tidak ingin menemanimu, direktur,” ujar Shinhye dengan dagu terangkat dan wajah kesal.
"Aniyo, lupakan saja. Akan lebih baik kalau kau yang melakukannya."
"Waeyo?" Shinhye merenggut.
"Kalau kau yang melakukannya, aku jadi bisa memerintahmu sesuka hatiku."
"Mwoya?"
"Kalau begitu Park Shin Hye-ssi, sekarang gantilah pakaianmu dan ikut aku menemui klien."
Shinhye menganga melihat tingkah Yonghwa yang seenaknya. Untung saja presdir yang memintanya melakukannya, kalau tidak dia tidak akan mau melakukan apa pun yang Yonghwa minta.

La Vie Café
Yonghwa dan Shinhye masuk menemui klien. Sesuai perjanjian, mereka akan duduk di meja nomor tiga. Mereka ke tempat yang dimaksud dan duduk di situ. Sementara menunggu, Shinhye bosan jadi secara spontan dia melakukan hal yang sering dia lakukan kalau sedang bosan yaitu mengembungkan pipinya.
Seketika Yonghwa tersenyum melihat tingkah lucu Shinhye. Entah kenapa selama beberapa minggu bekerja di restaurant, dia rasa Shinhye dan rekan-rekannya di Jeesto telah banyak mengubah dirinya. Dia mengakui bahwa kejengkelannya pada Shinhye selama ini pelan-pelan sudah mulai memudar. Yang ada malah rasa terimakasih karena bantuan Shinhye selama berada di restaurant. Meski dia tahu, kadang-kadang Shinhye merasa jengkel melihatnya terus memerintah, tapi bagaimana pun Shinhye tetap mau mendengarnya tanpa banyak protes. Bahkan gadis ini banyak memberikan masukan penting padanya. Tapi pengakuannya tidak bisa dia ungkapkan pada Shinhye. Yang ada dia malah berpura-pura masih sering marah pada Shinhye.
Di pihak Shinhye sendiri, dia bingung dengan dirinya yang tidak bisa mengerjai Yonghwa seperti rencananya sebelum memutuskan bekerja kembali di JeResto. Dia malah banyak membantu Yonghwa, meski Yonghwa kadang bersikap menjengkelkan. Tapi, entah kenapa dia masih betah membantu Yonghwa.
"Apa ada pertunjukan sebentar?"
Shinhye menatap Yonghwa sinis karena bingung dengan pertanyaannya.
Yonghwa mendengus lucu. "Dari tadi pipimu terus mengembung seperti badut dalam pertunjukan."
"Mworago?" ucap Shinhye keki.
Yonghwa malah tidak merespon dan tetap duduk diam menunggu klien yang akan datang.
“Aku ke toilet dulu,” kata Shinhye dan berjalan meninggalkan Yonghwa.
Beberapa menit di toilet, Shinhye tidak kunjung datang. Sedikit kekhawatiran muncul dalam benak Yonghwa. Selang beberapa menit, nomor ponsel Shinhye muncul di layar ponselnya. Dijawabnya panggilan Shinhye untuk mengurangi kekhawatirannya, “Yeoboseyo, kau di mana sekarang?”
“Aku di toilet café sekarang, tapi ada yang mengunciku dari luar. Aku tidak tahu bagaimana keluar, aku terkunci dari dalam toilet. Jung Yong Hwa-ssi, kemarilah dan selamatkan aku. Jebal! Ppalli!” Dari suara Shinhye terdengar sekali bahwa dia sedang kalang kabut.
Gwaenchanha? Kau tunggu sebentar aku akan ke sana sekarang.” Yonghwa memutuskan hubungan teleponnya dan segera berlari ke toilet café saat itu juga.

La Vie Café, toilet wanita (Lima menit yang lalu)
“Apa kau tidak lihat bocah tampan di meja nomor 3 tadi?” kata seorang ahjumma pada temannya yang sedang berhadapan dengan cermin sambil memperbaiki riasan wajahnya yang mulai pudar.
“Iya, aku melihatnya. Seandainya salah satu bocah-bocah yang sering menemani kita itu memiliki bentuk rupa sepertinya, mungkin sudah kupersunting dia,” timpal ahjumma yang lainnya lagi sambil mempertebal warna lipstick-nya.
Tiba-tiba geraian tawa dari wanita-wanita berkisar empat puluhan tahun itu memenuhi toilet wanita di café La Vie.
Dari dalam bilik toilet, Shinhye mendengar percakapan mereka dan sepertinya timbul ide cemerlang dalam benaknya. Karena hari ini, Yonghwa banyak menindasnya, dari yang memerintah seenaknya saat di restaurant tadi, sampai mengejeknya dengan sebutan badut. Akhirnya membuat Shinhye yang awalnya tidak lagi tertarik mengerjai Yonghwa, kini malah sebaliknya. Sebuah ide licik muncul di benaknya. Bagaimana membayangkan ide jahilnya ini akan sukses, membuat dia tersenyum evil sendirian dalam bilik toiletny. Dia kemudian mengangkat ponsel di saku jeansnya dan mulai menekan nomor ponsel Yonghwa menghubunginya.

La Vie Café, toilet wanita (Lima menit kemudian)
Yonghwa berdiri di depan pintu toilet tersebut, kemudian dengan gerakan cepat dia membuka kenop pintu tersebut.
“Park Shin Hye, kau baik-baik saja?” tanya Yonghwa dengan tatapan menulusuri seluruh isi ruang toilet. Tatapannya berhenti ketika melihat sekumpulan bibi-bibi sedang menatapnya dengan tatapan kaget. Salah satu bibi dengan tas tangan yang sedang digenggam berlari mendekati Yonghwa, kemudian memukul pelan bahu Yonghwa dan berkata, “Kau kan bocah yang di meja nomor tiga tadi. Apa kau mau mengintip ahjumma-ahjumma seperti kami ini?” Dengan genit bibi yang bicara mencoba menggodanya. Tidak lama kemudian, bibi-bibi yang lain datang mendekati Yonghwa. Ada yang mencubit pipinya, hidung bangirnya, mengelus rambutnya dan yang paling parah adalah salah satu dari bibi-bibi tersebut ada yang berkata, “Berapa pun yang kau minta akan kami bayar, asal kau mau menemani kami karaoke semalam saja.”
Yonghwa hanya bergidik mendengar penuturan dan melihat tingkah laku para bibi genit ini. Dia kemudian mencoba keluar dari kerumunan bibi-bibi tersebut. Saat berhasil keluar, tanpa pamit dia langsung berlari keluar dan sebisa mungkin menjauh dari mereka.         
Shinhye yang hanya bisa mengintip dari balik bilik tertawa terbahak-bahak. Puas tertawa, dia kembali ke meja, di mana dia dan Yonghwa semula tempati. Begitu melihat wajah Yonghwa, dia tidak mampu menahan tawanya karena membayangkan wajah ketakutan Yonghwa di toilet tadi.
“Wajahmu benar-benar lucu tadi. Kau terlihat seperti badut dalam pertunjukan.” Shinhye terus tertawa puas sambil sesekali menengok ke arah Yonghwa. Dia puas karena berhasil membalaskan kekesalannya pada Yonghwa.
“Apa kau sudah puas menertawaiku?” tanya Yonghwa dengan tampang serius. Yang saat itu juga membuat Shinhye seperti tersetrum untuk berhenti dari tawanya.
“Apa kau marah?” Shinhye bertanya dengan takut-takut.
Yonghwa tidak menjawab.
“Jung Yong Hwa-ssi, apa kau benar-benar marah?”
"Dwaesseo–lupakan saja! Jangan bicara lagi, klien kita sudah datang."
Seorang pria berbadan gemuk dan wanita yang tinggi semampai datang menjumpai Yonghwa dan Shinhye.
"Maaf kami terlambat." Dengan setengah membungkuk mereka menyalami Yonghwa dan Shinhye.
Yonghwa kemudian ikut membungkuk bersama Shinhye.
"Shin Dong Hee-imnida, aku ketua tim XXX perusahaan X," kata pria berbadan gemuk itu.
"Sekretaris Choi Soo Young," kata wanita yang tingginya semampai. Dandanannya
khas dan pakaiannya jelas menunjukan profesinya.
"Jung Yong hwa imnida."
Shinhye tidak memperkenalkan diri, dia masih takjub dengan wanita cantik di depannya ini.
Pria bernama Shin Dong Hee dan sekretarisnya Choi Soo Young masih menunggu Shinhye memperkenalkan diri. Tapi orang yang bersangkutan malah diam tanpa kata. Sebenarnya dia bingung juga
mau memperkenalkan diri sebagai apa.
"Dia sekretarisku. Park Shin Hye," kata Yonghwa yang membuat Shinhye terselamatkan dari tatapan ingin tahu dari klien Yonghwa.
Perkataan Yonghwa ini membuat Shinhye seakan menyesal telah mempermainkan Yonghwa tadi. Shinhye memutar kepalanya ke samping melihat Yonghwa yang tidak seperti dirinya yang biasa selau menjengkelkan. Dia yang selalu mengejek Shinhye, kali ini tidak. Dia bahkan membela Shinhye ketika sekretaris Choi menyinggung tentang gaya berbusana Shinhye yang tidak seperti sekretaris pada umumnya. Memang iya, saat ini dia hanya menggunakan kemeja lengan pendek dan celana jeans panjang. Mana bisa dia disebut sekretaris dengan gayanya yang seperti ini.
Beberapa jam setelah pertemuan usai dan kontrak ditandatangani, mereka berpisah dan berjalan ke tempat tujuannya masing-masing. Yonghwa dan Shinhye masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Shinhye masih belum bisa berkata apa-apa. Dia masih terganggu oleh kata-kata Yonghwa tadi.
"Aku yang menyuruhnya menggunakan busana santai. Hanya terlihat membosankan kalau terus melihat dia dengan pakaian resminya. Lagipula sekretarisku ini akan tetap terlihat cantik dengan busana apa pun," kata Yonghwa yang langsung membungkam mulut sekretaris Choi.
"Kenapa kau membelaku tadi? Aku pikir kau akan ikut-ikutan mengejekku," kata Shinhye dengan kepala bersandar di kursi mobil.
"Jadi hal itu yang dari tadi terus mengganggumu?"
Shinhye tidak menjawab.
"Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin terlihat bodoh karena salah memilih sekretaris."
"Aku tidak ingin bertengkar sekarang."
Entah kenapa Shinhye tetap menganggap perkataan Yonghwa tadi itu serius. Lebih tepatnya dia berharap perkataan Yonghwa tadi itu benar-benar serius. Shinhye dilema besar. Sebenarnya apa yang dia pikirkan saat ini? Apa hanya gara-gara pujian kecil itu, dia bisa menghapus rasa kesalnya pada Yonghwa? Shinhye tidak tahu harus menjawab apa, akan lebih baik diam. Dengan begitu, mungkin dia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan dari hatinya.
Ting ting ting.
Bunyi nada dering dari ponsel Shinhye menyadarkannya dari lamunannya.
"Yeoboseyo, Jonghyun-ssi!"
Yonghwa terkejut ketika mendengar Shinhye memanggil nama yang tidak asing di telinganya.
"Ne, aku akan ke sana." Shinhye mengakhiri panggilan dan meminta Yonghwa menurunkannya di halte depan.

Shinhye turun dari mobil, keluar dan cepat-cepat menaiki taksi.


TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar