Hyejoon
yang akan pindah ke Masan, bersama kekasihnya mereka terlihat sibuk mengangkut
barang dari rumah kontrakan Hyejoon ke atas mobil pengangkut barang. Beberapa
karyawan dari JeResto datang membantu, hanya Jiwon memilih pulang lebih awal
ketika melihat Shinhye yang baru datang dan hendak membantu juga. Tanpa aba-aba,
Shinhye langsung merapikan barang-barang muatan di atas mobil pengangkut barang.
Biar ada ruang tersisa untuk barang-barang berikutnya.
“Apa
kau dan dia masih akan terus seperti ini?” tanya Hyejoon berdiri sambil menatap
ke arah Shinhye.
“Eonnie, sudah sebulan kalian seperti ini. Kurasa sudah waktunya kalian saling
memaafkan,” ucap Sooji sambil lalu. Dia kemudian kembali masuk ke rumah Hyejoon
dan mengangkut beberapa kardus kecil yang masih tertinggal di dalam rumah
Hyejoon.
“Akan
ada saatnya, eonnie. Hanya belum
waktunya saja,” jawab Shinhye terhadap pertanyaan Hyejoon sebelumnya. Shinhye
mencoba tersenyum sebisa mungkin agar tidak terlihat wajah rapunya.
“Kau
dan dia benar-benar seperti anak remaja yang sedang bertengkar. Berbaikanlah!
Seperti apa yang dikatakan Sooji,” timpal manajer Yoo. “Melihat kalian seperti
ini, aku merasa seperti sedang menonton drama remaja di rumahku.”
Shinhye
tertawa simpul. “Apa masih banyak barang di dalam, eonnie? Biar aku bantu mengambilnya.” Shinhye berdalih meski sebenarnya
dia hanya ingin menghindar dari ceramah manajer Yoo dan Hyejoon saja.
Setelah
semua barang diangkut ke atas mobil. Hyejoon dan kekasihnya pamit pada semua
orang yang turut hadir membantu mereka. Setelah berpelukan dengan para karyawan
JeResto, Hyejoon dan kekasihnya naik ke mobil dan perlahan mobil itu menjauh
dari pandangan Shinhye serta beberapa karyawan JeResto yang masih tinggal di
situ.
“Ah….”
Manajer Yoo mendesah. “Perlahan-lahan semua karyawanku mulai meninggalkanku.
Apa setelah Shinhye dan Hyejoon, kau juga ingin mengundurkan diri Minho?”
“Tidak,
manajer. Hanya belum saatnya saja,” jawab Minho sambil menggaruk kepalanya yang
tidak gatal.
“Hanya
belum saatnya? Ya, neo!” Manajer Yoo mengarahkan
telunjuknya ke arah Minho, salah satu karyawan di JeResto. “Jangan pernah
berpikir untuk mengundurkan diri sebelum aku yang melakukannya dahulu.” Manajer
Yoo mengepalkan tangannya dan mengetuk pelan kepala Minho.
“Eyy,
manajer,” keluh Minho karena sakit yang dia rasakan.
Shinhye
dan beberapa karyawan lainnya tertawa melihat aksi Minho yang meringis
kesakitan.
Setelah
Minho dan beberapa karyawan beranjak menjauh dari manajer Yoo, pelan-pelan ia beranjak
mendekati Shinhye sambil berkata, “aku yakin kau pasti bisa melaluinya,
Shinhye-ya. Kapan pun kau butuh bantuanku,
aku siap membantumu,” kata Manajer Yoo menepuk pundak Shinhye, seakan dia ikut
serta merasakan apa yang sedang dirasakan Shinhye saat ini. “Yeodeul-ah, kajja!”
***
Shinhye tersadar dari lamunannya. Kejadian beberapa
bulan lalu, kembali berkelabat di benaknya. JANJI. Janjinya dengan ayah Yonghwa
sampai saat ini belum juga bisa ditepatinya. Memang berjanji itu mudah. Tapi untuk
menepatinya sepertinya terlalu sulit. Shinhye mendesah memikirkan hal ini.
Bagaimanapun juga, dia harus siap membuat Yonghwa menjauhinya, dengan cara apa pun.
“Aku harus bisa
melepas dan merelakannya. Memang tak
seharusnya aku seperti ini,
menjauhinya tanpa memberitahunya alasan yang sebenarnya. Tapi hanya ini jalan, agar dia mau melepaskanku. Cinta tak harus memiliki kan?”
“Ya! Kau
melamun lagi?” Tiba-tiba Yonghwa sudah ada di samping Shinhye sambil membawakan
segelas kopi dan menyerahkannya pada Shinhye.
Shinhye tersenyum sambil menerima gelas kopi yang
disodorkan Yonghwa. “Aku hanya sedang memikirkanmu,” ujar Shinhye sedikit
menggodanya.
Yonghwa tersenyum manis mendengar kalimat godaan
Shinhye. Pria ini terus tersenyum tanpa henti. Ini pertama kalinya bagi dia
mendengar gadis itu mengatakan bahwa dia sedang memikirkannya.
“Apa yang kau pikirkan tentang aku? Katakan padaku!”
kata Yonghwa sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Ani.”
Shinhye tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mau menceritakan
apa yang dipikirkannya tadi.
“Biar kutebak.”
Shinhye mengangguk-angguk pelan. Menyetujui akan
mendengar tebakan Yonghwa.
“Apa kau memikirkan kapan kita berdua akan menikah?
Atau berapa jumlah anak yang akan kita miliki?”
“Ya!” teriak
Shinhye sedikit salah tingkah. Pipi gadis itu kemudian bersemu merah. Dia malu.
Tapi secepatnya dia menutupi tingkah malunya itu dan berkata, “Kenapa juga aku
harus memikirkan hal itu, Jung Yong Hwa-ssi?”
“Apa sulit bagimu untuk memanggilku Yonghwa-ya?” kata Yonghwa sambil menggigit bibir
bawahnya.
“Sirheo–tidak
mau. Siltagoyo–kubilang tidak mau.”
Shinhye menekankan pada kalimat terakhirnya.
“Wae?”
“Karena aku takut kau akan berkata ‘jangan pernah memanggilku Yonghwa-ya, karena kau tidak pantas melakukan itu.’”
“Karena aku takut kau akan berkata ‘jangan pernah memanggilku Yonghwa-ya, karena kau tidak pantas melakukan itu.’”
Yonghwa
mendesah. “Aku tak akan mungkin mengeluarkan kalimat bodoh seperti itu?”
“Jeongmal?” Shinhye membelalak lucu. “Tapi
kau melakukannya pada gadis yang kau temui di JeResto waktu itu. Apa kau lupa
kalau kau pernah mengelurkan kalimat bodoh seperti itu, Jung Yong Hwa-ssi?”
“Ya, apa kau
benar-benar mengutip kalimatku?” tanya Yonghwa yang baru menyadari bahwa
Shinhye telah mengutip kalimatnya. Kalimatnya pada seorang gadis bernama Seo
Joo Hyun, ketika gadis itu mengajaknya bertemu di JeResto beberapa bulan yang
lalu.
“Hmm…” Shinhye mengerling polos ke arah Yonghwa.
Yonghwa tak tahan untuk tidak mencubiti pipi Shinhye
yang sekarang sedang bersemu merah itu. “Jangan pernah berpikir untuk lari
dariku, Park Shin Hye,” katanya sambil menyentuh cuping hidung Shinhye.
Ucapan Yonghwa saat itu benar-benar membuat jantung
Shinhye seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Kalimat Yonghwa seakan
menyatakan bahwa dia tahu kalau suatu saat nanti, Shinhye pasti akan melakukan
hal itu.
***
Sinar matahari yang menembus tirai jendela kamarnya,
memaksanya untuk segera keluar dari dunia mimpinya. Shinhye membuka matanya
secara perlahan, tapi dengan refleks ia menutup kedua matanya dengan tangan
karena silau matahari. Gadis itu kemudian berguling di atas ranjangnya beberapa
kali, menutup matanya, membukanya lagi, berguling lagi, dan akhirnya memilih
untuk merangkak, lalu berakhir dengan duduk bersila di atas ranjangnya. Dengan
keadaan setengah sadar, dia menggaruk-garuk pelan wajahnya dan kemudian melirik
ke kiri dan ke kanan. Dia menguap lebar dan sejurus kemudian mengutuki dirinya
dengan beberapa kata kutukan. “Apa itu sulit bagimu, gadis bodoh?” Dia kemudian
meninju-ninju bantal peluknya. “Apa sulit bagimu mengatakan kata putus? Aisshi.” Kali ini dia menimpuk wajahnya
dengan bantal peluknya. Beberapa menit berada di atas ranjang sambil merenung,
Shinhye akhirnya memilih bangun dan menghadapi kenyataan hidupnya. Ia melompat
dari ranjangnya, beranjak ke arah kamar mandi dan mempersiapkan dirinya ke
kampus.
Kini Shinhye telah berada di dalam bis yang akan membawanya ke kampus.
Gadis itu meraba-raba tasnya, mencari ponselnya yang terus berdering. Setelah
tangannya menyentuh ponselnya, Shinhye malah mengernyit ketika membaca nama
kontak yang tertera di layar ponselnya. “Kim Yoo Jin?” Dia bertanya pada
dirinya sendiri. Sejurus kemudian, ia mengusap layar ponselnya, menempelkannya
pada telinganya dan berkata, “Yeoboseyo.”
Beberapa detik dia terdiam mendengar perkataan lawan bicaranya. “Ne. Arasseo.”
Begitulah kata-kata terakhirnya, yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
***
“Apa
yang membuatmu tiba-tiba ingin bertemu denganku?” tanya Shinhye begitu
melesakkan pantatnya di atas sebuah kursi restaurant
mewah di daerah Gangnam. “Hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
“Aku
sudah memesan makan malam kita.” Yoojin tak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan
Shinhye. “Kau tidak berkerja lagi di JeResto kan, karena aku akan merasa sangat
bersalah pada manajer Yoo karena harus menahanmu cukup lama di sini.”
“Ne. Aku tidak bekerja lagi di JeResto.
Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Kim Yoo Jin-ssi?”
“Aku
rasa kita bisa membicarakannya setelah selesai makan. Aku lapar.” Yoojin
mengelus-elus perutnya.
Makan
malam yang telah dipesan Yoojin akhirnya datang. Mereka menikmati jamuan itu
dalam suasana diam. Tak ada satu pun dari mereka yang ingin bicara sepatah kata
pun. Setelah menghabiskan makan malam mereka, Shinhye kemudian mulai membuka
pembicaraan lagi.
“Apa
kita boleh bicara sekarang?”
Yoojin
mengangguk sambil meletakkan peralatan makannya di atas meja. Dia kemudian
mulai membicarakan alasan dirinya memanggil Shinhye ke tempat itu. “Apa
hubunganmu dengan Yonghwa berjalan lancar?” Sebuah awal percakapan yang buruk.
Shinhye
tersenyum sinis. Sepertinya dia bisa merasakan ada aura tidak menyenangkan dari
awal percakapan ini. “Aku rasa baik-baik saja. Waeyo?”
“Tidak.
Aku hanya bertanya karena penasaran,” jawab Yoojin datar. Untuk beberapa saat Yoojin
meninggalkan jeda pada percakapannya dengan Shinhye. Gadis itu kemudian meletakkan
sikunya di atas meja dan menopang dagunya dengan kedua tangannya. Dia mulai menatap
Shinhye bergantian dari kepala sampai ke batas perut Shinhye. Setelah puas
menatap gadis di depannya ini, Yoojin akhirnya kembali membuka percakapan. “Aku
benar-benar tidak menyangka kalau Yonghwa akan jatuh pada tangan gadis
sepertimu?” Kali ini bibir sinis Yoojin seakan mengundang Shinhye untuk
memukulnya dengan satu pukulan telak.
“Kau
mencintainya?” tanya Yoojin.
“Apa
itu pertanyaan yang wajar untuk dijawab, Kim Yoo Jin-ssi? Melihat hubungan kami yang baik-baik saja sampai detik ini,
aku rasa kau sendiri bisa menjawab pertanyaanmu barusan.” Kali ini Shinhye yang
menyunggingkan senyuman sinisnya.
“Karena
kau mencintainya, apa kau rasa kau sudah mengenal dia dengan pasti, Park Shin
Hye-ssi?”
“Iya.
Aku rasa aku sudah mengenalnya dengan pasti.”
Yoojin
mendesah. “Kau benar-benar polos, Park Shin Hye-ssi. Kau mengatakan bahwa kau mengenalnya dengan pasti, tapi kurasa
kau tidak begitu mengenal dia dengan pasti nona Park.”
“Apa
maksudmu mengatakan hal-hal ini? Tolong jangan membuang waktuku.” Shinhye mulai
muak dengan basa-basi ini.
“Apa
kau benar-benar naif atau terlalu bodoh, sampai kau tidak menyadari bahwa
selama ini kau telah dibohongi oleh pria yang kau cintai itu?”
“Apa
maksudmu?” Shinhye terpancing amarahnya mendengar kata-kata Yoojin yang kasar.
Yoojin
tertawa melihat wajah Shinhye yang memerah karena terpancing amarah. “Apa kau
tahu bahwa kekasih yang kau kenal dengan pasti itu telah menipumu selama ini?”
“Arayo,” tegas Shinhye. “Aku tahu kalau
dia telah menipuku selama ini.”
“Sebanyak
apa kau mengetahuinya?” Yoojin terdengar menantang.
“Sebanyak
yang kau ketahui, Kim Yoo Jin-ssi.”
Yoojin
menatap Shinhye dengan mata membelalak. Kali ini wajahnya yang bersemu merah
karena termakan amarahnnya sendiri.
“Apa
kau tahu bahwa Yonghwa dan Jonghyun itu adalah…,”
“Sepupu.”
Shinhye menjawab sebelum Yoojin sempat menyelesaikan kalimatnya. “Mereka berdua
adalah saudara sepupu. Aku tahu. Aku tahu semuanya, Kim Yoo Jin-ssi. Aku bahkan tahu kalau mereka
bertiga, Yonghwa-ssi, Jonghyun-ssi, Hyunwoo-ssi, telah menipuku selama ini.”
“Bagaimana
kau mengetahuinya?” Yoojin terlihat kaget sampai-sampai dia menggeser makanan
penutup yang ada di atas meja ke pinggiran sudut meja dengan tak sengaja. Dia
berpikir bahwa hanya dia satu-satunya orang selain Yonghwa, Jonghyun dan
Hyunwoo, yang mengetahui kebenaran ini. Tapi ternyata dugaannya salah besar.
Shinhye juga telah mengetahuinya.
“Apa
kau benar-benar naif atau terlalu bodoh sampai memanggilku ke sini hanya untuk mengatakan
sesuatu hal yang telah kuketahui sebelumnya?” Shinhye mengutip kalimat Yoojin
sebelumnya.
“Tapi,
tapi kemarin, Yonghwa, Jonghyun dan Hyunwoo membicarakan hal ini secara
rahasia. Mereka bahkan yakin kau belum mengetahuinya.”
“Seharusnya
kau tidak boleh hanya mengintip pembicaraan mereka bertiga saja. Kau perlu
melakukannya padaku dan Ibu Yonghwa juga. Jadi kau tidak perlu terlihat
memalukan seperti saat ini, Kim Yoo Jin-ssi.”
Yoojin
tidak menyanggah. Wajahnya kini sepenuhnya telah berubah kemerahan. Sepertinya
dia benar-benar malu saat ini.
Shinhye
tersenyum melihat wajah Yoojin yang telah berubah drastis saat ini.
“Kau
mengetahuinya dari Ibu Yonghwa?” kata Yoojin terbata-bata. “Sejak kapan kau
bertemu dengannya?”
Shinhye
mengangguk. “Aku mengetahuinya dari Ibu Yonghwa. Sejak kapan? Sepertinya ‘sejak
kapan itu’ silahkan bertanya langsung pada Ibu Yonghwa saja. Cerita beliau akan
lebih menarik untuk didengarkan.” Shinhye bangkit dari duduknya dengan wajah bangga
akan sikapnya siang ini.
“Chamkanman! Kenapa kau tidak pernah
mengatakan semuanya pada Yonghwa?” Yoojin berbicara tanpa menoleh sedikit pun
ke arah Shinhye.
“Aku
hanya menunggu Yonghwa sendiri yang akan melakukannya.” Shinhye berjalan
selangkah hendak meninggalkan Yoojin, tapi kemudian dia berbalik dan berkata, “Ah…,
lain kali kalau ingin bertemu lagi denganku, biarlah aku yang menentukan
tempatnya. Akan kupastikan kau akan kutraktir juga saat itu. Hanya saja tidak
di tempat semewah ini. Keureom.”
Shinhye berjalan meninggalkan Yoojin yang terlihat masih syok dengan
kalimat-kalimat Shinhye.
***
Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya dari
Amerika, Hyunwoo akhirnya memutuskan untuk mengunjungi JeResto. Sudah hampir tiga
bulan ketika Hyunwoo memutuskan untuk tidak mengunjungi Shinhye. Entah mengapa,
tapi bocah yang selalu dianggap Shinhye seorang pengganggu itu memutuskan untuk
tidak mengunjungi Shinhye beberapa bulan kemarin karena alasan ‘dia tidak ingin
mengganggu’. Sungguh sebuah alasan yang tidak masuk akal didengar, berhubung
dirinya adalah seseorang yang telah dicap sebagai pengganggu malah memilih menggunakan
alasan itu untuk tidak mengunjungi Shinhye. Tapi dia akhirnya memutuskan
menggunakan alasan itu karena sebenarnya dia hanya ingin melupakan
Shinhye—benar-benar ingin melupakan noona
itu. Dia harus melupakan Shinhye, karena sepertinya dia tidak lagi bisa menggunakan
pundaknya sebagai sandaran hidup Shinhye. Yonghwa, hyeongnya telah mengambil alih tugas itu. Setelah hampir tiga bulan
lebih, usaha melupakan Shinhye dirasakannya lumayan berhasil, dia akhirnya
berani mengunjungi noona itu. Hanya
untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa noona yang pernah mengisi ruang hatinya—bahkan belum sepenuhnya
pergi dari ruang hatinya itu dalam kondisi yang baik-baik saja.
Hyunwoo melangkahkan sepasang sneakers-nya
pelan, menapakai setiap anak tangga restaurant
tempat Shinhye bekerja. Dengan wajah yang diatur setenang mungkin, Hyunwoo
membuka pintu restaurant. Yang
dilihatnya pertama kali ketika ia masuk ke dalam restaurant itu adalah seorang gadis muda yang dikenalnya cukup baik
lewat cerita-cerita hyeongnya, ketika
ia masih di Amerika. Kim Ji Won nama gadis itu. Gadis itu sekarang sedang
berdiri di depan meja kasir.
“Eosseo osseyo–selamat datang, ” sapa Jiwon pada Hyunwoo dengan senyuman
hangat.
Hyunwoo
ikut tersenyum hangat. “Annyeonghaseyo,—noona,” sapanya, yang sebelumnya sempat
mempertimbangkan panggilan apa yang akan dia gunakan untuk memanggil gadis muda
kekasih hyeongnya ini.
“Lama tidak berjumpa, pelanggan. Silahkan masuk,” kata
Jiwon bersikap profesional.
“Terima kasih karena tidak menceritakan semuanya pada
Shinhye noona,” kata Hyunwoo
tersenyum sambil berjalan meninggalkan Jiwon.
Jiwon tidak menjawab tapi hanya tersenyum sebagai
respon positif terhadap perkataan Hyunwoo. Jiwon memang telah mengetahui kenyataan
bahwa Lee Jong Hyun dan Lee Hyun Woo adalah saudara sedarah. Dia hanya tidak
memberitahukannya pada Shinhye, karena Yonghwa sendiri yang memintanya untuk
merahasiakannya sampai nanti Yonghwa siap untuk mengatakannya sendiri.
Hyunwoo kemudian berjalan menuju ruangan manajer Yoo,
ruangan yang selalu dikunjunginya kalau dia hanya ingin mengunjungi Shinhye dan
tidak berniat untuk makan di restaurant
itu.
“Eoh,
Hyunwoo-ya, lama tak berjumpa,” sapa
manajer Yoo begitu melihat Hyunwoo tak begitu jauh berada di depannya.
“Lama tak berjumpa, manajer.” Hyunwoo menyapa sambil
membungkuk.
“Aku penasaran mengapa bocah Amerika ini datang mengunjungiku?
Ayo masuk,” ajak manajer Yoo pada Hyunwoo sambil membuka pintu ruangannya.
“Silahkan duduk,” tawarnya.
Mereka berdua sama-sama melesakkan pantat di atas sofa
ruang kerja manajer Yoo.
“Wah, sudah lama kau tidak ke sini. Bagaimana ceritamu
ketika berada di Amerika kemarin? Ah…, kudengar kau kembali ke Seoul, Desember
kemarin. Tapi kenapa sekarang kau baru mengunjungiku?”
Hyunwoo tertawa simpul. “Seperti biasanya manajer. Kalau
kau pergi ke sebuah Negara besar hanya untuk menjaga dan merawat ayahmu, kau
pastinya akan terus memeriksa kondisinya hari demi hari. Kau sendiri ingin memastikan
apakah ayahmu sudah normal seperti biasanya atau belum. Paling tidak kau harus
berjaga-jaga agar tidak secara tiba-tiba kau harus mengantarkan ayahmu lagi ke tempat
yang sama untuk berobat. Maafkan aku karena baru mengunjungimu hari ini,” kata
Hyunwoo sambil membungkukkan badannya ke arah manajer Yoo. “Dan terima kasih manajer,
karena mau menyimpan rahasia ini.”
Manajer Yoo tersenyum bijak sambil mengangguk.
Memang hampir semua orang di JeResto telah mengetahui tentang
kebohongan yang selama ini dibuat oleh Jung Yong Hwa, Lee Jong Hyun dan Lee
Hyun Woo. Mereka semua telah mengetahuinya dari mulut Yonghwa sendiri. Mereka
hanya tidak menceritakannya pada Shinhye karena bukan hak mereka untuk
membeberkan rahasia itu.
“Apa kau sudah bertemu Shinhye?” tanya manajer Yoo.
“Aku ke sini untuk bertemu dengannya, manajer,” jawab
Hyunwoo memastikan.
Manajer Yoo menatap Hyunwoo dengan tampang bingung.
“Apa kau tidak tahu kalau dia sudah menugundurkan diri dari JeResto beberapa
bulan yang lalu?”
***
“Noona,”
sapa Hyunwoo canggung begitu melihat Shinhye berdiri di depannya. “Oraenmanieyo.”
Shinhye melipat tangan di dada dan menatap Hyunwoo
lekat.
Hyunwoo tak tahu harus berkata apa lagi dan hanya bisa
menyentuh belakang lehernya. Sambil sesekali membuka lebar jajaran giginya.
“Ya, setelah
kembali dari Amerika apa kau memilih untuk tidak memedulikan aku lagi?” ujar
Shinhye dengan nada sinis.
Hyunwoo tak membalas meski dalam hati dia ingin
mengatakan kalau dia lebih pantas mengucapkan kalimat Shinhye barusan. Ya,
memang benar dia yang lebih pantas mengucapkan kalimat itu. Karena selama
keberadaannya di Amerika, dia telah mencoba menghubungi Shinhye berulang-ulang
kali, tapi gadis itu tak pernah menjawab panggilan teleponnya. Gadis itu yang
pertama kali memilih untuk mencuekinya dan bukan dia yang pertama melakukannya.
“Ya, jawab
aku! Kenapa kau malah tersenyum?”
“Kemarin aku benar-benar sibuk sampai-sampai aku hampir
melupakanmu. Tapi kau harus bersyukur karena dalam kesibukanku, aku masih bisa
datang mengunjungimu, noona.”
“Ya, bocah!”
teriak Shinhye kemudian menendang kaki Hyunwoo. “Apa kau secara tiba-tiba
menggantikan ayahmu menjadi sekretaris presdir sehingga kau mengatakan kalau
kau benar-benar sibuk? Sshi…” Shihnye
mengumpat dan seakan-akan hendak memukul Hyunwoo dengan kepalan tangannya.
Hyunwoo tertawa melihat tingkah Shinhye. “Maafkan aku karena telah memulai semua
kebohongan ini, noona,” ujar
Hyunwoo dalam hati sambil menatap Shinhye dengan perasaan penuh
penyesalan.
“Kenapa kalian
melakukan ini padaku? Apa kau juga akan
terus membohongiku? Kenapa hanya
kepadaku kalian menyembunyikan kebenarannya?” Shinhye ikut berujar dalam
hati melihat tampang penyesalan Hyunwoo.
“Mianhae, noona. Jeongmal mianhae,” kata Hyunwoo dengan tampang penuh penyesalan.
“Wae? Kenapa
kau meminta maaf, Hyunwoo-ya?” tanya
Shinhye dengan harapan Hyunwoo mau menceritakan semuanya.
“Maaf karena tak
bisa menceritakannya padamu, noona,”
kata Hyunwoo dalam hati. Dia tersenyum berharap seandainya dia bisa menjadi orang
pertama yang akan menceritakan kebenarannya pada Shinhye. “Maaf karena tak
pernah mengunjungimu selama ini.” Namun semua itu tak mampu dia lakukan karena
bukan dia orang yang tepat untuk mengatakannya. Akan lebih pantas kalau
Yonghwa, hyeongnya itu yang
melakukannya.
“Arasseo,
Hyunwoo-ya. Kau sama saja seperti mereka.
Tak mampu mengatakannya. Aku akan
tetap menunggu sampai kalian sendiri yang mengatakannya padaku.” Shinhye
tersenyum kemudian membalas kalimat Hyunwoo, “Arasseo. Aku memakluminya Hyunwoo-ya. Masuk!” Shinhye mengajak Hyunwoo masuk ke dalam rumahnya.
“Eoh, apa
peraturan tentang lelaki yang tak boleh masuk ke rumahmu itu telah kau ubah, noona?”
“Eyy…” Shinhye melipat tangannya di dada lagi. “Kau
bukan seorang lelaki bagiku. Dongsaeng.
Kau adalah seorang adik bagiku, eong.”
Hyunwoo tertawa kemudian ikut masuk bersama Shinhye ke
rumah yang selama ini hanya bisa dilihat pintu pagarnya saja itu.
***
Sepertinya
awan sedang berbaik hati hari ini, karena dengan riangnya mereka terus berarak
mengikuti ke mana arah langkah kaki Shinhye. Siang itu seakan mereka paham
betul apa yang sedang dirasakan gadis itu, sehingga mereka begitu ingin
melindunginya dari terik dan panas matahari yang begitu menyengat. Shinhye
menghembuskan nafas mengikuti semilir angin yang meniup beberapa helai rambutnya
menyentuh wajahnya. Gadis itu terus melangkahkan kakinya sampai dia menemukan
sebuah kursi taman yang terlihat seakan sedang memanggilnya dan menawarkannya
untuk sejenak melepaskan kepenatannya siang itu dengan duduk bersandar padanya.
Shinhye kemudian memutuskan untuk menerima tawaran kursi kayu yang ada di taman
itu. Dia duduk di atas kursi itu terlindung
oleh bayangan pohon rindang besar yang berada tepat di belakang kursi tempat ia
duduki sembari memerhatikan dedaunan pohon yang sedang melambai-lambai
karena terpaan angin siang itu. Suasana saat itu benar-benar menggambarkan
betapa sejuknya siang di musim semi tahun ini.
Namun, situasi berlainan terjadi dalam benak Shinhye. Ketika dia kembali memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa jam sebelumnya ketika dia bertemu dengan ayah Yonghwa.
Namun, situasi berlainan terjadi dalam benak Shinhye. Ketika dia kembali memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa jam sebelumnya ketika dia bertemu dengan ayah Yonghwa.
“Maaf karena sekali lagi membuatmu menunggu,
Park Shin Hye-ssi.”
Shinhye bangun dari duduknya, membungkuk dan menyapa ketua Jung yang sedang bediri di hadapannya.
“Silahkan duduk,”
tawar ketua Jung yang telah lebih dulu duduk di kursi.
Shinhye mengikutinya.
Keduanya duduk
berhadapan, tapi belum ada yang memulai percakapan. Shinhye meremas tangannya dan sesekali menghembuskan
nafas karena gugup dengan tatapan ketua Jung yang tak luput darinya. Sedangkan ketua Jung sendiri terus menatap
Shinhye lama, yang kemudian sesekali pandangannya beralih pada beberapa
orang yang sedang lewat di samping café di
pinggir jalan itu.
“Tak terasa
sekarang sudah musim semi. Aku ingat
pertemuan kita yang terakhir kali itu, aku
duduk di tempat yang sama dan melihat warga kota Seoul terus berjalan meski di tengah musim dingin tapi mereka tak lelah
bekerja hanya untuk mencari kehidupan yang layak. Benarkan, Park Shin Hye-ssi?”
“Ne, hoejangnim.” Shinhye
terus meremas tangannya bahkan kali ini dia bisa merasakan kalau kukunya telah menembus
tulang telapak tangannya.
“Silahkan
diminum,” tawar ketua Jung melihat dua cangkir teh yang telah diletakkan
oleh seorang pelayan café di atas
meja mereka. “Jeosonghamnida, Park Shin Hye-ssi, aku tak biasa menikmati minuman dingin seperti layaknya anak muda jaman
sekarang.”
“Gwaenchanseumnida, hoejangnim. Shinhye tersenyum meskipun dia tetap terlihat sedang
menutupi wajah gugupnya.
Ketua Jung menyesap
tehnya. Sekali lagi dia menawarkan
Park Shin Hye untuk minum, meskipun kali ini hanya dengan gerakan
tubuhnya.
Shinhye dengan
tangan yang gemetaran mengangkat dua balok gula dan menuangkannya ke dalam
cangkirnya. Dia hendak meminum tehnya
namun secara tiba-tiba dia menghentikan niat menyesap tehnya, karena ketua Jung yang memulai percakapan lagi. Secara
perlahan dia kemudian meletakkan kembali cangkir tehnya di atas meja.
“Apa kau sudah
dengar kalau performance Yonghwa di
perusahaan kurang begitu bagus?” Ketua
Jung menghembuskan nafas yang
terdengar seperti hembusan kekesalan. “Aku
tak tahu apa yang begitu mengganggu pikirannya sampai-sampai dia tak bisa
berkompetisi dengan direktur-direktur lainnya.”
Shinhye tak
berani menanggapi setiap kalimat ketua Jung. Dia hanya mampu melihat ke arah cangkirnya yang ada di atas meja.
“Eoh, mianhae. Tehmu
hampir dingin, silahkan dinikmati,”
kata ketua Jung sambil menyesap tehnya lagi.
Shinhye mengambil
sebalok gula dan menuangkannya lagi ke dalam cangkirnya. Dia mengaduknya lagi dan lagi. Tapi tak berani meminumnya.
“Aku berpikir
untuk menyekolahkannya lagi ke tingkat yang lebih tinggi. Paling tidak sampai dia menyadari bahwa dia
mampu berkompetisi melawan direktur-direktur di perusahaan-perusahaan kami.
Semuanya hanya untuk membuat dia
menyadari bahwa hanya dia yang berhak menggantikan posisiku, bukan direktur-direktur itu. Apa aku harus mengirimnya ke luar negeri?
Inggris? Amerika Serikat? Rusia? Menurutmu
kira-kira Negara mana yang cocok untuk
Yonghwa?”
“Jeosonghamnida, hoejangnim. Jeongmal jeosonghamnida.”
Kali ini Shinhye tak lagi menatap cangkir tehnya, tapi dia memberanikan diri menatap wajah ketua Jung. “Ketua tak perlu mengirimnya ke tempat yang jauh.
Aku yang akan pergi menjauh
darinya. Hubungan kami
akan kupastikan benar-benar berakhir. Aku
mohon padamu.” Shinhye membungkuk.
“Geurae?”
Shinhye mengangguk pasti.
Shinhye mengangguk pasti.
“Ini yang kedua kalinya aku mendengarmu
mengucapkan kalimat ini. Aku berharap
untuk tak ada yang ketiga kalinya nanti.” Ketua Jung tersenyum.
Shinhye
membalas senyuman ketua meski terasa
hambar.
Ketua bangun
dari duduknya hendak meninggalkan
Shinhye, tapi dia berhenti tepat di
samping Shinhye kemudian menepuk
pundak gadis itu dan berkata, “jangan
minum tehnya! Kau sudah mencampur gulanya
lebih dari dua kali. Itu akan terasa
sangat manis. Kau bisa sakit nantinya.
Chogiyo!” panggil ketua Jung pada salah
seorang pelayan café. “Bisakah kau
memberi secangkir teh hangat yang baru pada nona ini?”
Pelayan café mengangguk,
melaksanakan pesanan ketua Jung.
“Ah…, Park Shin Hye-ssi, kau boleh menikmati minuman yang baru saja kupesan. Maafkan aku karena aku harus pergi sekarang.”
KLING KLING
Lonceng di sudut pintu berbunyi, tanda kalau
ketua Jung telah meninggalkan café itu.
Shinhye menghembuskan nafas ketika mengakhiri
lamunannya. Kini bukan lagi wajah ketua Jung yang dilihatnya, dan kursi yang
dia duduki bukan lagi kursi café yang didatanginya tadi. Dia telah kembali
sadar dari lamunannya. Shinhye kemudian tertawa kecil begitu melihat matahari
telah berpindah posisinya. “Sudah sore rupanya,” katanya sambil menengadah ke
atas mencoba mencari keberadaan matahari yang terpalang oleh lebatnya dedaunan
pohon tempat dia berteduh. “Eoh, kau
di sana rupanya.” Shinhye menunjuk ke arah timur. Tepat di mana matahari
berada. “Apa kau tahu apa yang sedang kurasakan sekarang?” tanyanya pada
matahari sore itu. Sepertinya dia sedang mencoba bercakap-cakap dengan salah
satu benda langit tersebut. “Aku merasa kau sangat jahat. Wae? Kau tahu kenapa? Itu karena kau tak pernah setia. Kau
seharusnya tetap setia meskipun itu malam. Kau tak boleh pergi, eong?” Shinhye mencibir ke arah
matahari. “Kau jahat.” Shinhye menghembuskan nafasnya lagi, kemudian berkata, “Aniya. Kau tidak jahat,” katanya berubah
pikiran. Tangannya melambai-lambai ke arah matahari. “Aku hanya bercanda.
Teng!” Dia kemudian tertawa sendiri melihat tingkah lakunya. “Babbo cheorom.” Shinhye tertawa lagi dan
kemudian mengakhiri tingkah konyolnya dengan menempelkan ponselnya di
telinganya dan menghubungi seseorang.
“Ini aku Park Shin Hye. Apa kau ada waktu untuk makan
malam bersama?”
Terdengar suara balasan dari seberang teleponnya.
“Aku tahu tempat makan malam yang lumayan baik bagi
kita untuk malam ini.” Shinhye menyentuh dagunya dengan telunjuknya. “Meski tak
semahal dan tak selezat makanan dari restaurant-restaurant yang sering kau datangi, tapi
tempat makan malamku kali ini tak kalah lezatnya dengan restaurantmu. Juga mahal,” katanya ragu. “Bagiku,” katanya mencoba
melanjutkan kalimatnya sebelumnya. “Karena makan malam kali ini aku yang
membayarnya, aku juga yang harus menentukan tempatnya. Setuju?”
Terdengar balasan dari lawan bicara Shinhye di
seberang teleponnya.
“Baiklah. Aku akan mengirimkanmu alamatnya. Sampai
bertemu di sana.” Shinhye mengakhiri panggilan teleponnya, kemudian berjalan
pergi meninggalkan taman itu.
To be continued
