"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 10

Kamis, 14 Juli 2016

Rain of Autumn Part 10

Part 10



Tiga puluh menit berlalu.
Tit..tit.. Bunyi nada pesan dari ponsel Yonghwa.
Dari: Jonghyun.
Yonghwa, kami sudah selesai bicara. Aku lega sekali, dia mau mendengarkanku. Kami sudah pulang. Kau juga pulanglah. Hati-hati di jalan.
"Chogi, apa mereka sudah selesai bicara?" tanya Shinhye hati-hati, melihat Yonghwa yang sedang menyentuh layar ponselnya membaca isi pesan masuknya.
"Jonghyun bilang, dia dan Hyunwoo masih mengurus masalah di luar. Jadi aku harus tetap menunggu di dalam."
"Mwo? Ini sudah jam sebelas malam. Kau sebaiknya pulang. Bilang pada mereka, carilah tempat lain untuk berbicara. Dan lagi.."
"Andwae," sambar Yonghwa. "Mereka tidak akan suka diganggu kalau sedang bicara. Jadi aku akan tinggal di dalam sampai mereka selesai bicara."
Shinhye hanya bisa menggerutu melihat tingkah Yonghwa. "Geurae. Aku mau tidur dulu. Kalau kau ingin pulang panggil saja aku. Selamat malam."
"Hajjima!" kata Yonghwa menahan langkah Shinhye.
Shinhye berhenti dan berbalik pada Yonghwa.
"Kau, duduk dan temani aku." Gerakan tangan Yonghwa mengisyaratkan agar Shinhye duduk di sampingnya.
"Mwo? Huh!" Shinhye mendengus kesal dengan tingkah Yonghwa yang suka memerintah. "Shireo," timpalnya.
"Ya, aku tidak mungkin duduk sendiri di rumahmu. Sedang kau sendiri malah mau tidur." Tampang nelangsa Yonghwa membuat Shinhye terenyuh dan akhirnya malah berakhir duduk di samping Yonghwa. Beberapa menit diisi jedah antara mereka berdua. Karena tidak ada percakapan yang terjadi, maka Shinhye mulai mengantuk. Matanya kelihatan sayup-sayup, tandanya waktunya untuk tidur. Tapi orang yang duduk di sampingnya ini belum juga membuka suara menyatakan akan pulang. Karena Yonghwa belum juga mau pulang. Sedang Shinhye benar-benar sudah mengantuk. Akhirnya Shinhye memilih untuk melepas lelah dengan menyandarkan kepalanya di tembok dan menutup mata.
"Apa kau masih akan bekerja sebagai asisten Jonghyun?" tanya Yonghwa memecah jeda, sekaligus mengagetkan Shinhye yang baru saja ingin tidur.
"Hmmm." Shinhye hanya menggumam karena dia benar-benar sudah mengantuk.
"Apa kau tidak berpikir untuk fokus hanya pada satu pekerjaan?"
"Hmmm."
“Kalau begitu kau akan berhenti bekerja pada siapa?” tanya Yonghwa masih penasaran dengan kalimat-kalimat Shinhye tentang berhenti bekerja tadi siang di halte bus.
“Hmmm.” Jawaban yang Shinhye berikan sama sekali tidak sinkron dengan pertanyaan Yonghwa. Ini semua disebabkan karena rasa kantuk yang menyerang konsentrasinya.
"Ya, apa kau mendengarkanku?" tanya Yonghwa dengan gigi-giginya yang bergemelatuk. Kebiasaannya kalau sedang marah.
"Ne." Shinhye balas berteriak. Dia kemudian duduk tegap dan ikut-ikutan menatap marah pada Yonghwa. "Apa salah kalau aku menjawabnya dengan menggumam? Aku mengantuk dan benar-benar ingin tidur. Kau tahu?" jawab Shinhye lemas. Dia pun kembali menyandarkan kepalanya di tembok dan menutup matanya.
"Arasseo.” Yonghwa menurunkan nada bicaranya melihat Shinhye yang marah dan terlihat sangat menakutkan saat ini. “Tapi, apa benar kau hanya akan fokus pada satu pekerjaan? Memang melakukan satu pekerjaan saja sudah cukup. Dengan beasiswa yang kau terima dari kampus, kau tidak harus memaksakan diri bekerja di dua tempat yang berbeda. Kau harus menjaga kesehatanmu. Akan lebih baik kalau kau berhenti pada salah satu pekerjaanmu, seperti keputusanmu tadi siang. Apa kau bisa memberitahuku pada siapa kau akan berhenti bekerja? Kau akan berhenti bekerja padaku atau pada Jonghyun? ucap Yonghwa panjang lebar. Tapi tidak ada respon juga dari Shinhye. “Kau mendengarku?" Ketika Yonghwa berbalik, dia mendadak terkesiap mendapati Shinhye yang sudah tertidur dan sepertinya sudah lelap. Sedikit kesal juga melihat Shinhye tidak meresponnya. Tapi wajah Shinhye yang tertidur lelap saat itu, seketika membuat Yonghwa tersenyum tipis.
“Dia benar-benar manis kalau sedang diam,” ujar Yonghwa dalam hati.
"Babbo! Di lantai pun kau bisa tidur," kata Yonghwa menggeleng sambil tersenyum lebar. Dia mengangkat Shinhye dan membopongnya masuk ke kamar Shinhye. Pelan-pelan dia meletakan Shinhye di atas tempat tidur Shinhye. Yonghwa tersenyum melihat Shinhye yang terlelap. Dia menarik selimut dan menutup seluruh badan Shinhye. Setelah itu, dia keluar dari kamar Shinhye menuju pintu keluar dan pergi dari rumah Shinhye.
Mendengar pintu pagar yang telah ditutup dari luar. Shinhye kemudian menyingkapkan selimutnya dan bangun dari tidurnya. "Omo, ada apa dengan dada ini?" kata Shinhye menepuk-nepuk dadanya. Ternyata dia hanya pura-pura tertidur tadi. "Wae? Waeyo?" Matanya membelalak saat menyimpulkan sesuatu. "Andwae. Andwae," katanya sambil menggeleng-geleng. "Aku tidak mungkin terpesona olehnya. Andwae. Andwae. Arrgh.." Dia menutup mata dan telinganya tidak mau menerima kenyataan bahwa dia memang baru saja terpesona oleh perbuatan Yonghwa.

***
Pagi-pagi sebelum Shinhye datang bekerja, Hyunwoo sudah menunggunya di ruang kerja Yonghwa. Sambil menunggu Shinhye, dia dan Yonghwa bercakap-cakap.
"Aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada Shinhye noona. Jonghyun hyeong bilang, dia dan hyeong akan membereskan semuanya selama aku di Amerika. Meski aku rasa, noona pasti akan mengatakan bahwa aku pengecut dan lari dari tanggung jawab. Karena sebenarnya itu tugasku mengatakan kebenaran padanya. Karena semua kebohongan ini berawal dariku. Tapi, karena hyeong berdua keberatan aku mengakhirinya, maka aku percayakan masalah ini pada kalian. Dan aku yakin kalian pasti bisa mengurusnya sesuai rencana kalian."
"Kalau kau tidak setuju, kita batalkan saja rencana itu," ujar Yonghwa melihat wajah Hyunwoo yang sepertinya keberatan dengan rencana yang dia dan Jonghyun buat.
Hyunwoo belum sempat menjawab kata-kata Yonghwa, karena kedatangan manajer Yoo di ruangan Yonghwa.
"Shinhye sudah di bawah," kata pria berkepala empat itu melongok di balik pintu yang sedikit terbuka.
"Eoh, geurae. Aku akan ke bawah. Khamsahamnida, manajer," timpal Hyunwoo.
Manajer Yoo mengangguk dan berjalan meninggalkan Yonghwa dan Hyunwoo.
"Gwaencanha, hyeong." Hyunwoo bangkit dari duduknya. "Aku ke bawah dulu."
"Chamkaman! Bagaimana kabar samchon? Apa dia sudah lebih baik?"
"Ne. Abeoji sudah lebih baik. Kemarin dia bahkan sempat bicara denganku via-phone."
Yonghwa tersenyum mendengar kabar baik yang datang dari pamannya yang katanya sudah lumayan pulih dari struk ringannya.
"Eomma benar-benar membutuhkanku. Dia sendiri harus mengurus ayah. Dari suaranya, aku yakin dia pasti membutuhkan salah satu anak prianya untuk menemaninya di sana. Jonghyun hyeong sendiri harus mengurus semuanya di Korea. Oleh karena itu, aku akan ke sana sendiri dan membantu eomma merawat abeoji."
"Kapan kau berangkat?"
"Dua hari lagi."
"Kau baik-baik di sana ya. Sampaikan salamku untuk samchon dan imo. Dan jangan khawatir semua di sini kami yang akan mengurusnya," kata Yonghwa lagi.
"Ne. Aku percayakan semuanya pada kalian. Kalau begitu hyeong, aku ke bawah dulu. Aku harus pamit pada Shinhye noona. Geureom."
Yonghwa hanya meresponnya dengan anggukan.
Hyunwoo membelakangi Yonghwa dan berjalan keluar dari ruangan Yonghwa.
Hyunwoo menuruni tangga dan melihat Shinhye sudah menunggunya di bawah. Ia tersenyum meski senyumnya saat menuruni tangga terlihat sangat dipaksakan.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau seperti ingin pergi selamanya," sambut Shinhye.
Hyunwoo tersenyum lagi, meski masih terlihat dipaksakan.
"Kapan kau akan berangkat?"
"Dua hari lagi. Apa kau tidak merasa kehilanganku?" tanya Hyunwoo penuh harap.
"Kau kan tidak selamanya pergi. Jadi aku tidak perlu merasa kehilangan."
"Tapi aku akan merasa sangat kehilanganmu," tutur Hyunwoo.
Shinhye tertawa, "Kalau kau merasa kehilangan, kau bisa menghubungiku kapan saja," katanya sambil menepuk-nepuk pundak Hyunwoo.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi tidak di tempat ini," kata Hyunwoo terbata-bata. "Kau ada waktu kan?"
"Ne. Wae? Kau ingin mengajakku keluar?”
Hyunwoo mengangguk.
“Kebetulan jadwalku sudah selesai. Kau ingin pergi sekarang?”
Ne,” jawab Hyunwoo singkat. "Tumben kau tidak menolaknya. Biasanya kau selalu bilang sibuk."
Eoh, hari ini mari kita habiskan bersama sebagai hari-hari terakhir kita bersama. Kajja!" ujar Shinhye tidak merespon pertanyaan Hyunwoo.
“Tapi, tunggu sebentar! Noona, kalimatmu tadi sangat menggangguku. Apa kau pikir kita akan berpisah selamanya sehingga kau berkata sepertinya aku akan pergi selamanya?"
Shinhye meresponnya hanya dengan tawa kecilnya.
Hyunwoo memajukan bibirnya lima centi. Karena sekali lagi Shinhye tidak merespon pertanyaannya sesuai harapannya.
"Ara, ara. Akan kuganti kalimat perpisahanku yang mengganggumu dengan Lee Hyun Woo, hari ini mari kita habiskan dua hari terakhir kita bersama sebelum nanti bertemu lagi. Kajja!" Shinhye memperbesar volume suaranya pada kata kajja. Mereka berdua keluar dari restaurant dan menuju tempat yang akan dipilih untuk menghabiskan waktu bersama.


Lotte World.

"Kenapa kau menolak kuajak ke restaurant dan lebih memilih tempat ini?"
"Dari pada uangmu kau habiskan membeli sepiring makanan yang harganya sama seperti karcis untuk puluhan orang masuk ke dalam Lotte World akan lebih baik kita ke sini dan bermain semua wahana sepuas hati."
Hyunwoo sebenarnya sedikit kecewa, karena sebelumnya yang dia inginkan adalah kencan yang romantis dalam sebuah restaurant ternama di Seoul. Tapi akhirnya tidak terwujud, karena keras kepala Shinhye yang tidak ingin menghambur-hambur uang. Oh ya, perlu digaris-bawahi bahwa Hyunwoo menganggap saat ini dia dan Shinhye sedang kencan. Sedangkan Shinhye malah sebaliknya.
Habis mengunjungi Lotte World dan makan di kedai sederhana, sekarang waktunya pulang. Hyunwoo mengantar Shinhye ke rumah, meski awalnya Shinhye menolak tapi karena Hyunwoo memaksa akhirnya Shinhye mengiyakan.
"Ada yang ingin kubicarakan." Hyunwoo menghentikan langkahnya yang akhirnya diikuti juga oleh Shinhye.
Shinhye berbalik dan menatap Hyunwoo. "Ada apa?"
"Ini sangat berat bagiku. Tapi akan lebih berat lagi kalau tidak diungkapkan. Aku akan sangat menyesal, kalau kau tidak akan pernah tahu. Sebenarnya.." kata Hyunwoo ragu-ragu. "Sebenarnya..," lanjut Hyunwoo. Dia kemudian menggamit tangan Shinhye sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. "Jo, maeil..." Ada jeda sebelum melanjutkannya lagi. "Jo, maeil saenggaknayo,” ujarnya meski pelan tapi mulai lancar. “Keurinikha.." Hyunwoo melepaskan genggamannya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Manhi saranghandago."
Shinhye tersentak mendengar pernyataan Hyunwoo. Dia mengamati wajah Hyunwoo mencoba mencari kebenaran dari ucapan Hyunwoo barusan. "Hahaha.." Sontak Shinhye tertawa. "Kau mau mencoba mengerjaiku? Ya, Lee Hyun Woo, leluconmu itu tidak akan berhasil padaku."
Hyunwoo menyeringai. "Eung, mengerjaimu? Ah.. berarti kau tidak mudah kukerjai? Hahaha.." Hyunwoo ikut tertawa meski dia kecewa karena ternyata Shinhye menganggapnya sedang membanyol. Apa keseriusannya itu tidak pernah dianggap oleh Shinhye, sehingga Shinhye menganggap seakan dia sedang main-main? Namun karena Shinhye tidak menanggapinya, Hyunwoo jadi berpikiran untuk tidak melanjutkan meminta jawaban Shinhye. Dia pun ikut-ikutan mengatakan bahwa dirinya memang sedang bercanda.
"Ah, ireon–dasar! Kalau begitu Lee Hyun Woo, kita berpisah di sini. Rumahku tidak jauh lagi dari sini. Kau pulanglah, tidak perlu mengantarku. Jaljja–selamat malam!" Shinhye meninggalkan Hyunwoo yang masih menatapnya hingga bayangannya lenyap di ujung jalan.
"Mianhae. Aku jadi membuatmu terlihat bodoh. Jeongmal mianhae. Aku hanya belum bisa mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu. Jeongmal, jeongmal mianhae, Lee Hyun Woo," ucap Shinhye di sepanjang perjalanan pulangnya.

Dua hari setelah kejadian itu.
Hyunwoo berangkat ke Amerika diantar Yonghwa dan Jonghyun ke bandara tanpa kehadiran Shinhye. Seminggu setelah keberangkatan Hyunwoo ke Amerika, dia masih sering menghubungi Shinhye. Dan Shinhye pun selalu menanggapi obrolan Hyunwoo, seakan-akan dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang perasaan Hyunwoo.

JeResto
Tanpa pengumuman sebelumnya, tiba-tiba hari ini JeResto menutup pelayanannya. Karena ada sesuatu yang ingin diumumkan Yonghwa. Yonghwa kemudian mengumpulkan semua karyawannya. Setelah seluruh karyawannya sudah lengkap, Yonghwa mulai mengungkapkan apa penyebab hari ini JeResto tidak membuka pelayanannya.
"Hari ini sahabat baikku dari Paris akan datang ke sini," ujar Yonghwa dengan senyum yang membersit di wajahnya.
"Benar dia sahabatmu?" goda Manajer Yoo melihat Yonghwa yang senyumnya terus terpancar di wajahnya.
"Kim Yoo Jin namanya. Dan dia benar sahabat baikku," timpal Yonghwa masih dengan senyuman.
“Tidak. Aku hanya merasa kau selalu tersenyum setiap mengucapkan nama sahabatmu itu.”
“Kalau begitu, kau salah besar ahjussi,” timpal Yonghwa.
Manajer Yoo hanya mengangguk-angguk karena tidak berhasil menggoda Yonghwa.
"Oleh sebab itu untuk hari ini aku menutup JeResto. Karena aku ingin membuat perayaan kecil-kecilan baginya. Aku harap kita semua akan ambil bagian dalam perayaan ini. Masing-masing tugas untuk dikerjakan akan dibagi oleh manajer Yoo. Cukup sekian. Harap kerjasamanya." Yonghwa setengah membungkuk. Dan barisan karyawan kemudian dibubarkan.
Shinhye dan Jiwon berjalan duluan ke arah pantri.
"Kim Yoo Jin namanya. Dia benar sahabat baikku. Huh! Kau lihat wajahnya saat mengucapkan kalimat-kalimat itu?" kata Shinhye sedikit cemburu.
Jiwon menggeleng. "Ani. Aku tidak memperhatikannya."
"Dia berbohong. Jelas tergambar di wajahnya."
"Maksudmu?” tanya Jiwon tak mengerti.
“Kim Yoo Jin itu pasti kekasihnya.”
“Kau mengada-ngada, Shinhye-ya. Dia jelas mengatakan Kim Yoo Jin itu sahabatnya.”
“Kau berani bertaruh berapa bahwa Yoo Jin itu kekasihnya?" Shinhye berkoar-koar dengan semangat.
Jiwon tidak merespon, tapi malah melotot-lotot tidak jelas ke arah Shinhye.
"Wae?"
"Aku bertaruh sejuta Won bahwa Yoojin itu bukan kekasihku."
Suara dari balik punggung Shinhye, mengagetkannya.


TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar