Part 10
Tiga puluh menit berlalu.
Tit..tit.. Bunyi nada pesan dari
ponsel Yonghwa.
Dari: Jonghyun.
Yonghwa,
kami sudah selesai bicara. Aku lega sekali, dia mau mendengarkanku. Kami sudah
pulang. Kau juga pulanglah. Hati-hati di jalan.
"Chogi, apa mereka sudah selesai bicara?" tanya Shinhye
hati-hati, melihat Yonghwa yang sedang menyentuh layar ponselnya membaca isi
pesan masuknya.
"Jonghyun bilang, dia
dan Hyunwoo masih mengurus masalah di luar. Jadi aku harus tetap menunggu di
dalam."
"Mwo? Ini sudah jam sebelas malam. Kau sebaiknya pulang. Bilang pada
mereka, carilah tempat lain untuk berbicara. Dan lagi.."
"Andwae," sambar Yonghwa. "Mereka tidak akan suka diganggu
kalau sedang bicara. Jadi aku akan tinggal di dalam sampai mereka selesai
bicara."
Shinhye hanya bisa menggerutu
melihat tingkah Yonghwa. "Geurae.
Aku mau tidur dulu. Kalau kau ingin pulang panggil saja aku. Selamat
malam."
"Hajjima!" kata Yonghwa menahan langkah Shinhye.
Shinhye berhenti dan berbalik
pada Yonghwa.
"Kau, duduk dan temani
aku." Gerakan tangan Yonghwa mengisyaratkan agar Shinhye duduk di
sampingnya.
"Mwo? Huh!" Shinhye mendengus kesal dengan tingkah Yonghwa yang
suka memerintah. "Shireo,"
timpalnya.
"Ya, aku tidak mungkin duduk sendiri di rumahmu. Sedang kau sendiri
malah mau tidur." Tampang nelangsa Yonghwa membuat Shinhye terenyuh dan
akhirnya malah berakhir duduk di samping Yonghwa. Beberapa menit diisi jedah
antara mereka berdua. Karena tidak ada percakapan yang terjadi, maka Shinhye
mulai mengantuk. Matanya kelihatan sayup-sayup, tandanya waktunya untuk tidur.
Tapi orang yang duduk di sampingnya ini belum juga membuka suara menyatakan
akan pulang. Karena Yonghwa belum juga mau pulang. Sedang Shinhye benar-benar
sudah mengantuk. Akhirnya Shinhye memilih untuk melepas lelah dengan
menyandarkan kepalanya di tembok dan menutup mata.
"Apa kau masih akan bekerja
sebagai asisten Jonghyun?" tanya Yonghwa memecah jeda, sekaligus
mengagetkan Shinhye yang baru saja ingin tidur.
"Hmmm." Shinhye
hanya menggumam karena dia benar-benar sudah mengantuk.
"Apa kau tidak berpikir
untuk fokus hanya pada satu pekerjaan?"
"Hmmm."
“Kalau begitu kau akan
berhenti bekerja pada siapa?” tanya Yonghwa masih penasaran dengan
kalimat-kalimat Shinhye tentang berhenti bekerja tadi siang di halte bus.
“Hmmm.” Jawaban yang Shinhye
berikan sama sekali tidak sinkron dengan pertanyaan Yonghwa. Ini semua
disebabkan karena rasa kantuk yang menyerang konsentrasinya.
"Ya, apa kau mendengarkanku?" tanya Yonghwa dengan gigi-giginya
yang bergemelatuk. Kebiasaannya kalau sedang marah.
"Ne." Shinhye balas berteriak. Dia kemudian duduk tegap dan ikut-ikutan
menatap marah pada Yonghwa. "Apa salah kalau aku menjawabnya dengan menggumam?
Aku mengantuk dan benar-benar ingin tidur. Kau tahu?" jawab Shinhye lemas.
Dia pun kembali menyandarkan kepalanya di tembok dan menutup matanya.
"Arasseo.” Yonghwa menurunkan nada bicaranya melihat Shinhye yang
marah dan terlihat sangat menakutkan saat ini. “Tapi, apa benar kau hanya akan
fokus pada satu pekerjaan? Memang melakukan satu pekerjaan saja sudah cukup. Dengan
beasiswa yang kau terima dari kampus, kau tidak harus memaksakan diri bekerja
di dua tempat yang berbeda. Kau harus menjaga kesehatanmu. Akan lebih baik
kalau kau berhenti pada salah satu pekerjaanmu, seperti keputusanmu tadi siang.
Apa kau bisa memberitahuku pada siapa kau akan berhenti bekerja? Kau akan
berhenti bekerja padaku atau pada Jonghyun? ucap Yonghwa panjang lebar. Tapi
tidak ada respon juga dari Shinhye. “Kau mendengarku?" Ketika Yonghwa
berbalik, dia mendadak terkesiap mendapati Shinhye yang sudah tertidur dan
sepertinya sudah lelap. Sedikit kesal juga melihat Shinhye tidak meresponnya.
Tapi wajah Shinhye yang tertidur lelap saat itu, seketika membuat Yonghwa
tersenyum tipis.
“Dia
benar-benar manis kalau sedang diam,” ujar
Yonghwa dalam hati.
"Babbo! Di lantai pun kau bisa tidur," kata Yonghwa menggeleng
sambil tersenyum lebar. Dia mengangkat Shinhye dan membopongnya masuk ke kamar
Shinhye. Pelan-pelan dia meletakan Shinhye di atas tempat tidur Shinhye.
Yonghwa tersenyum melihat Shinhye yang terlelap. Dia menarik selimut dan
menutup seluruh badan Shinhye. Setelah itu, dia keluar dari kamar Shinhye
menuju pintu keluar dan pergi dari rumah Shinhye.
Mendengar pintu pagar yang
telah ditutup dari luar. Shinhye kemudian menyingkapkan selimutnya dan bangun
dari tidurnya. "Omo, ada apa
dengan dada ini?" kata Shinhye menepuk-nepuk dadanya. Ternyata dia hanya
pura-pura tertidur tadi. "Wae? Waeyo?" Matanya membelalak saat
menyimpulkan sesuatu. "Andwae. Andwae," katanya sambil
menggeleng-geleng. "Aku tidak mungkin terpesona olehnya. Andwae. Andwae. Arrgh.." Dia menutup mata dan telinganya tidak mau
menerima kenyataan bahwa dia memang baru saja terpesona oleh perbuatan Yonghwa.
***
Pagi-pagi sebelum Shinhye
datang bekerja, Hyunwoo sudah menunggunya di ruang kerja Yonghwa. Sambil
menunggu Shinhye, dia dan Yonghwa bercakap-cakap.
"Aku tidak akan
mengatakan yang sebenarnya pada Shinhye noona.
Jonghyun hyeong bilang, dia dan hyeong akan membereskan semuanya selama
aku di Amerika. Meski aku rasa, noona
pasti akan mengatakan bahwa aku pengecut dan lari dari tanggung jawab. Karena
sebenarnya itu tugasku mengatakan kebenaran padanya. Karena semua kebohongan
ini berawal dariku. Tapi, karena hyeong
berdua keberatan aku mengakhirinya, maka aku percayakan masalah ini pada
kalian. Dan aku yakin kalian pasti bisa mengurusnya sesuai rencana
kalian."
"Kalau kau tidak setuju,
kita batalkan saja rencana itu," ujar Yonghwa melihat wajah Hyunwoo yang
sepertinya keberatan dengan rencana yang dia dan Jonghyun buat.
Hyunwoo belum sempat menjawab
kata-kata Yonghwa, karena kedatangan manajer Yoo di ruangan Yonghwa.
"Shinhye sudah di
bawah," kata pria berkepala empat itu melongok di balik pintu yang sedikit
terbuka.
"Eoh, geurae. Aku akan ke
bawah. Khamsahamnida, manajer,"
timpal Hyunwoo.
Manajer Yoo mengangguk dan
berjalan meninggalkan Yonghwa dan Hyunwoo.
"Gwaencanha, hyeong."
Hyunwoo bangkit dari duduknya. "Aku ke bawah dulu."
"Chamkaman! Bagaimana kabar samchon?
Apa dia sudah lebih baik?"
"Ne. Abeoji sudah lebih
baik. Kemarin dia bahkan sempat bicara denganku via-phone."
Yonghwa tersenyum mendengar
kabar baik yang datang dari pamannya yang katanya sudah lumayan pulih dari
struk ringannya.
"Eomma benar-benar membutuhkanku. Dia sendiri harus mengurus ayah.
Dari suaranya, aku yakin dia pasti membutuhkan salah satu anak prianya untuk
menemaninya di sana. Jonghyun hyeong
sendiri harus mengurus semuanya di Korea. Oleh karena itu, aku akan ke sana
sendiri dan membantu eomma merawat abeoji."
"Kapan kau
berangkat?"
"Dua hari lagi."
"Kau baik-baik di sana
ya. Sampaikan salamku untuk samchon
dan imo. Dan jangan khawatir semua di
sini kami yang akan mengurusnya," kata Yonghwa lagi.
"Ne. Aku percayakan semuanya pada kalian. Kalau begitu hyeong, aku ke bawah dulu. Aku harus
pamit pada Shinhye noona. Geureom."
Yonghwa hanya meresponnya
dengan anggukan.
Hyunwoo membelakangi Yonghwa
dan berjalan keluar dari ruangan Yonghwa.
Hyunwoo menuruni tangga dan
melihat Shinhye sudah menunggunya di bawah. Ia tersenyum meski senyumnya saat
menuruni tangga terlihat sangat dipaksakan.
"Ada apa dengan wajahmu?
Kau seperti ingin pergi selamanya," sambut Shinhye.
Hyunwoo tersenyum lagi, meski
masih terlihat dipaksakan.
"Kapan kau akan
berangkat?"
"Dua hari lagi. Apa kau
tidak merasa kehilanganku?" tanya Hyunwoo penuh harap.
"Kau kan tidak selamanya
pergi. Jadi aku tidak perlu merasa kehilangan."
"Tapi aku akan merasa
sangat kehilanganmu," tutur Hyunwoo.
Shinhye tertawa, "Kalau
kau merasa kehilangan, kau bisa menghubungiku kapan saja," katanya sambil
menepuk-nepuk pundak Hyunwoo.
"Ada sesuatu yang ingin
kubicarakan denganmu. Tapi tidak di tempat ini," kata Hyunwoo
terbata-bata. "Kau ada waktu kan?"
"Ne. Wae? Kau ingin
mengajakku keluar?”
Hyunwoo mengangguk.
“Kebetulan jadwalku sudah
selesai. Kau ingin pergi sekarang?”
“Ne,” jawab Hyunwoo singkat. "Tumben kau tidak menolaknya.
Biasanya kau selalu bilang sibuk."
“Eoh, hari ini mari kita habiskan bersama sebagai hari-hari terakhir
kita bersama. Kajja!" ujar
Shinhye tidak merespon pertanyaan Hyunwoo.
“Tapi, tunggu sebentar! Noona, kalimatmu tadi sangat
menggangguku. Apa kau pikir kita akan berpisah selamanya sehingga kau berkata
sepertinya aku akan pergi selamanya?"
Shinhye meresponnya hanya
dengan tawa kecilnya.
Hyunwoo memajukan bibirnya
lima centi. Karena sekali lagi Shinhye tidak merespon pertanyaannya sesuai
harapannya.
"Ara, ara. Akan kuganti
kalimat perpisahanku yang mengganggumu dengan Lee Hyun Woo, hari ini mari kita
habiskan dua hari terakhir kita bersama sebelum nanti bertemu lagi. Kajja!" Shinhye memperbesar volume suaranya pada kata kajja. Mereka berdua keluar dari restaurant dan menuju tempat yang akan
dipilih untuk menghabiskan waktu bersama.
Lotte World.
"Kenapa kau menolak
kuajak ke restaurant dan lebih
memilih tempat ini?"
"Dari pada uangmu kau
habiskan membeli sepiring makanan yang harganya sama seperti karcis untuk
puluhan orang masuk ke dalam Lotte World
akan lebih baik kita ke sini dan bermain semua wahana sepuas hati."
Hyunwoo sebenarnya sedikit
kecewa, karena sebelumnya yang dia inginkan adalah kencan yang romantis dalam
sebuah restaurant ternama di Seoul.
Tapi akhirnya tidak terwujud, karena keras kepala Shinhye yang tidak ingin
menghambur-hambur uang. Oh ya, perlu digaris-bawahi bahwa Hyunwoo menganggap
saat ini dia dan Shinhye sedang kencan. Sedangkan Shinhye malah sebaliknya.
Habis mengunjungi Lotte World
dan makan di kedai sederhana, sekarang waktunya pulang. Hyunwoo mengantar
Shinhye ke rumah, meski awalnya Shinhye menolak tapi karena Hyunwoo memaksa
akhirnya Shinhye mengiyakan.
"Ada yang ingin
kubicarakan." Hyunwoo menghentikan langkahnya yang akhirnya diikuti juga
oleh Shinhye.
Shinhye berbalik dan menatap
Hyunwoo. "Ada apa?"
"Ini sangat berat
bagiku. Tapi akan lebih berat lagi kalau tidak diungkapkan. Aku akan sangat
menyesal, kalau kau tidak akan pernah tahu. Sebenarnya.." kata Hyunwoo
ragu-ragu. "Sebenarnya..," lanjut Hyunwoo. Dia kemudian menggamit
tangan Shinhye sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. "Jo,
maeil..." Ada jeda sebelum melanjutkannya lagi. "Jo,
maeil saenggaknayo,” ujarnya meski pelan tapi mulai lancar. “Keurinikha.." Hyunwoo melepaskan
genggamannya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Manhi saranghandago."
Shinhye tersentak mendengar
pernyataan Hyunwoo. Dia mengamati wajah Hyunwoo mencoba mencari kebenaran dari
ucapan Hyunwoo barusan. "Hahaha.." Sontak Shinhye tertawa. "Kau
mau mencoba mengerjaiku? Ya, Lee Hyun
Woo, leluconmu itu tidak akan berhasil padaku."
Hyunwoo menyeringai. "Eung, mengerjaimu? Ah.. berarti kau
tidak mudah kukerjai? Hahaha.." Hyunwoo ikut tertawa meski dia kecewa karena
ternyata Shinhye menganggapnya sedang membanyol. Apa keseriusannya itu tidak
pernah dianggap oleh Shinhye, sehingga Shinhye menganggap seakan dia sedang
main-main? Namun karena Shinhye tidak menanggapinya, Hyunwoo jadi berpikiran
untuk tidak melanjutkan meminta jawaban Shinhye. Dia pun ikut-ikutan mengatakan
bahwa dirinya memang sedang bercanda.
"Ah, ireon–dasar! Kalau begitu Lee Hyun Woo,
kita berpisah di sini. Rumahku tidak jauh lagi dari sini. Kau pulanglah, tidak
perlu mengantarku. Jaljja–selamat malam!"
Shinhye meninggalkan Hyunwoo yang masih menatapnya hingga bayangannya lenyap di
ujung jalan.
"Mianhae. Aku jadi membuatmu terlihat bodoh. Jeongmal mianhae. Aku hanya belum bisa mendengar kata-kata itu
keluar dari mulutmu. Jeongmal, jeongmal mianhae, Lee Hyun Woo,"
ucap Shinhye di sepanjang perjalanan pulangnya.
Dua hari
setelah kejadian itu.
Hyunwoo berangkat ke Amerika
diantar Yonghwa dan Jonghyun ke bandara tanpa kehadiran Shinhye. Seminggu
setelah keberangkatan Hyunwoo ke Amerika, dia masih sering menghubungi Shinhye.
Dan Shinhye pun selalu menanggapi obrolan Hyunwoo, seakan-akan dia benar-benar
tidak tahu apa-apa tentang perasaan Hyunwoo.
JeResto
Tanpa pengumuman sebelumnya,
tiba-tiba hari ini JeResto menutup pelayanannya. Karena ada sesuatu yang ingin
diumumkan Yonghwa. Yonghwa kemudian mengumpulkan semua karyawannya. Setelah
seluruh karyawannya sudah lengkap, Yonghwa mulai mengungkapkan apa penyebab
hari ini JeResto tidak membuka pelayanannya.
"Hari ini sahabat baikku
dari Paris akan datang ke sini," ujar Yonghwa dengan senyum yang
membersit di wajahnya.
"Benar dia
sahabatmu?" goda Manajer Yoo melihat Yonghwa yang senyumnya terus
terpancar di wajahnya.
"Kim Yoo Jin namanya.
Dan dia benar sahabat baikku," timpal Yonghwa masih dengan senyuman.
“Tidak. Aku hanya merasa kau
selalu tersenyum setiap mengucapkan nama sahabatmu itu.”
“Kalau begitu, kau salah
besar ahjussi,” timpal Yonghwa.
Manajer Yoo hanya
mengangguk-angguk karena tidak berhasil menggoda Yonghwa.
"Oleh sebab itu untuk
hari ini aku menutup JeResto. Karena aku ingin membuat perayaan kecil-kecilan
baginya. Aku harap kita semua akan ambil bagian dalam perayaan ini.
Masing-masing tugas untuk dikerjakan akan dibagi oleh manajer Yoo. Cukup
sekian. Harap kerjasamanya." Yonghwa setengah membungkuk. Dan barisan
karyawan kemudian dibubarkan.
Shinhye dan Jiwon berjalan
duluan ke arah pantri.
"Kim Yoo Jin namanya.
Dia benar sahabat baikku. Huh! Kau lihat wajahnya saat mengucapkan
kalimat-kalimat itu?" kata Shinhye sedikit cemburu.
Jiwon menggeleng. "Ani.
Aku tidak memperhatikannya."
"Dia berbohong. Jelas
tergambar di wajahnya."
"Maksudmu?” tanya Jiwon
tak mengerti.
“Kim Yoo Jin itu pasti
kekasihnya.”
“Kau mengada-ngada, Shinhye-ya. Dia jelas mengatakan Kim Yoo Jin itu
sahabatnya.”
“Kau berani bertaruh berapa
bahwa Yoo Jin itu kekasihnya?" Shinhye berkoar-koar dengan semangat.
Jiwon tidak merespon, tapi
malah melotot-lotot tidak jelas ke arah Shinhye.
"Wae?"
"Aku bertaruh sejuta Won
bahwa Yoojin itu bukan kekasihku."
Suara dari balik punggung
Shinhye, mengagetkannya.
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:
Posting Komentar