"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Juli 2016

Kamis, 28 Juli 2016

Rain of Autumn Part 17

Part 17



“Kenapa mobilnya harus diservis saat tugas kita berbelanja,” keluh Shinhye ketika melihat Sooji masih berusaha menstarter mesin motor yang tak kunjung hidup. Karena mobil restaurant yang masih diservis di bengkel menyebabkan Shinhye dan Sooji harus pergi dengan motor Minho.
Apa sebaiknya eonnie naik taksi saja?” timpal Sooji masih mencoba menyalakan mesin motor sunbaenya.
“Dan membiarkanmu di sini? Senior macam apa aku ini,” kata Shinhye pada juniornya yang baru masuk bekerja di JeResto sebulan yang lalu.
“Kenapa juga motor Minho sunbae harus mogok sekarang.” Tidak henti Sooji berusaha menstarter motor Minho sampai keringat terus bercucuran di wajah mungilnya itu.
“Apa kau butuh bantuanku?” tawar Shinhye melihat betapa susahnya usaha juniornya itu.
Dwaesseo, eonnie. Aku takut malah kau dan motor ini akan berujung ke jurang nantinya, ledek Sooji mengingat Shinhye yang tidak bisa mengendarai sepeda motor.
Arasseo. Kalau begitu teruslah berusaha sampai mesin motornya hidup lagi.”
Mereka berdua malah terlihat saling menyalahkan karena motor Minho yang tiba-tiba mogok, dan menyebabkan mereka berdua harus berhenti di jalanan sebelum sampai pada tempat tujuan. Usaha Sooji akhirnya mebuahkan hasil, mesin motor Minho hidup juga. Sooji naik ke atas jok motor diikuti Shinhye di belakangnya. Mereka berdua melaju namun tak juga berhenti saling menyalahkan di atas motor.
“Kau harus berterima kasih padaku eonnie. Karena usahaku menyalakan motor Minho sunbae, kita tidak harus mendorongnya. Kalau aku tidak di sini bersamamu mungkin kau...”
“Kalau kau tidak di sini bersamaku, mungkin aku sudah naik taksi dan tidak kepanasan seperti ini. Geureom, berhentilah berkecoh dan seriuslah mengemudi, Sooji-ya!” Shinhye memotong pembicaraan Sooji.
Heol! Benar-benar sulit bagimu untuk mengucapkan ‘gomaweo dongsaeng-ah’.”
Ya, Bae Soo Ji! Geumanharago!” teriak Shinhye tepat di telinga Sooji, yang membuat Sooji hampir kehilangan keseimbangan mengendarai motor.
“Apa sekarang jadwal menstruasimu, eonnie?” Sooji bersuara lagi, kali ini lebih berupa teriakan karena dia takut tidak kedengaran Shinhye oleh sebab terpaan angin yang lumayan kencang di jalanan sejalur dengan hamparan ilalang di sebelah kiri dan kanan mereka. Shinhye tidak menjawab dan malah menjitak helm Sooji yang menyebabkan gadis mungil itu malah berteriak memarahi sunbaenya.
“Aku yakin pasti kau sedang PMS–pre menstruation syndrome. Itu mengapa kau selalu tersinggung setiap kali aku bicara.” Sooji tetap berkecoh. Mengingat, dia bukan jenis orang yang akan berhenti berkecoh setelah digertak.
Ya, magnae! Kali ini aku serius memintamu untuk berhenti bicara dan lihat ke spionmu! Apa aku tidak salah lihat? Pria berjaket kulit dengan motor di belakang sejak tadi mengikuti kita.
Berdasarkan instruksi Shinhye, Sooji sedikit menelengkan kepalanya melihat ke arah kaca spion motor. Benar seperti kata Shinhye, ada pria berjaket kulit hitam yang terlihat sedang mengikuti mereka. “Eonnie serius? Apa dari tadi pria itu mengikuti kita?”
“Apa yang mau dia lakukan? Coba tancapkan gas motornya Sooji-ya. Paling tidak kita harus keluar dulu dari jalur sepi ini,” ujar Shinhye sedikit ketakutan berhubung jalan yang mereka lalui ini hanya sejalur dan jarang ditemui kendaraan-kendaraan lainnya yang lewat.
Sooji menancapkan gas motornya, tapi yang ada pria itu malah ikut menancapkan gas motornya juga. Selang beberapa menit firasat buruk mereka menjadi kenyataan. Pria berjaket kulit hitam itu dengan kasar merampas tas tangan yang dipegang Shinhye. Tas itu akhirnya terlepas dari tangan Shinhye. Dan pria berjaket kulit itu menancapkan gas motornya, menghilang pergi secepat mungkin dari pandangan Shinhye dan Sooji. Karena serangan tiba-tiba pria berjaket kulit hitam itu menyebabkan Sooji kehilangan keseimbangan mengontrol motor yang dikendarainya, dan akhirnya dia juga Shinhye terjatuh dari atas motor dan terpelosok ke luar jalanan. Tepatnya ke bagian di mana terdapat rumput ilalang yang tumbuh meninggi ke atas. Dengan sempurna kedua orang itu mendarat di atas rumput liar di pinggiran jalanan. Dan untungnya motor yang mereka naiki tidak menindih mereka. Sooji sedikit meringis karena lutut dan sikunya yang berdarah. Di depannya terlihat Shinhye yang mencoba bangkit karena jatuh tertelungkup di atas ilalang. Selang beberapa detik ketika mencoba untuk duduk sempurna, Shinhye merasakan tubuhnya yang tiba-tiba oleng. Dia kemudian rebah ke belakang dan akhirnya pingsan.


***
“Kepala pasien sedikit terbentur ketika kecelakaan. Saya hanya khawatir apabila terjadi sesuatu pada kepalanya akibat benturan tadi. Oleh karena itu dia diharuskan untuk tinggal selama beberapa hari di sini, agar kami bisa terus memantau kondisinya. Kalau kondisinya membaik, dia pasti akan diperbolehkan pulang, kata salah satu dokter UGD yang mendapat tugas memeriksa Shinhye.
Manajer Yoo mengangguk mengerti dengan pembicaraan dokter tersebut. “Dia hanya pingsan kan, dokter?”
Ini bukanlah benturan yang serius sampai menyebabkan pasien tidak akan sadarkan diri dalam waktu yang lama. Berdasarkan laporan medis, pasien belum siuman karena rasa syok yang dia alami akibat kecelakaan tadi. Terpukulnya mental pasien yang membuat dia akhirnya belum sadarkan diri. Anda tidak usah khawatir, ini tidak akan berlangsung lama. Dalam beberapa jam ke depan, pasien pasti akan sadakan diri.
“Ini memang pengalaman pertama kali bagi dia menaiki sepeda motor, dan malah langsung terjadi kecelakaan. Itulah sebabnya rasa syok itu membuat dia masih tidak ingin sadarkan diri.” Manajer Yoo terlihat menambahkan.


***
Siapa walinya?tanya salah seorang perawat wanita yang baru saja memindahkan Shinhye yang belum sadar ke kamar pasien.
“Aku,” jawab manajer Yoo.
Pasien hanya boleh ditemani oleh salah satu wali wanitanya,” kata perawat wanita lainnya karena melihat jumlah penjenguk Shinhye yang lumayan banyak.
Setelah mengecek keadaan Shinhye, kedua perawat wanita yang memindahkan Shinhye tadi beranjak keluar meninggalkan Shinhye dan para penjenguknya. Beberapa jam melihat kondisi Shinhye yang belum juga siuman, akhirnya para penjenguk yang adalah karyawan JeResto, satu persatu mulai beranjak pergi. Berhubung jam besuk yang telah berakhir. Kini tinggal Jiwon serta Yonghwa yang masih berada di ruangan Shinhye.
“Bos pulanglah! Aku yang akan menjaganya, tawar Jiwon melihat Yonghwa yang belum mau pulang.
Arasseo. Kalau dia sadar nanti hubungi aku.” Yonghwa bangkit dari duduknya dan pergi dari ruangan Shinhye.


***
Keesokkan paginya, Jiwon bangun dan kaget melihat Shinhye yang sudah duduk bersandar di kepala tempat tidurnya.
Eoh, kau sudah sadar? Dahaengiya–syukurlah!” kata Jiwon sambil menguap lebar.
Shinhye menghirup dan menghembuskan nafasnya, kemudian berkata. “Aku tidak menyangka pengalaman pertamaku naik motor jadi begini akhirnya.” Shinhye celingak celinguk terlihat mencari sesuatu. “Mana gadis busuk itu? Aku akan menghabisinya kalau aku melihatnya. Aku kan sudah bilang jangan lewat jalur itu karena sepi. Tapi dia malah mengatakan kalau itu jalan pintas dan memaksaku mengikuti kemauannya.”
“Sudahlah. Kau sedang sakit jangan terlalu memaksakan diri untuk bicara.”
“Tidak. Aku sudah baikkan. Aku mau pulang dan berurusan dengan gadis kecil itu.”
Ya, Park Shin Hye! Tidak tahukah kau kalau gadis busuk itu mengkhawatirkanmu setengah mati kemarin? Dia bahkan tidak mau diobati kalau belum melihatmu sadar.”
Mwo? Dia baik-baik saja kan? Manhi appo–dia banyak yang sakit?” Shinhye terlihat marah tapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia benar-benar mengkhawatirkan magnae JeResto itu. “Dia sudah berobat, kan? Tidak ada yang buruk yang menimpanya, kan?
“Sudah. Dia sudah berobat dan dia baik-baik saja.” Jiwon menjawab semua pertanyaan Shinhye. Agar gadis ini tidak banyak bicara lagi melihat dirinya yang baru saja siuman.
“Maafkan aku. Karena keteledoranku yang tidak memegang tasnya erat-erat, akhirnya tasnya malah dibawa kabur pencuri itu,” ujar Shinhye dengan perasaan bersalah.
Gwaenchanha. Manajer Yoo tidak mempermasalahkannya. Dia sama sekali tidak mengkhawatirkan tas berisi uang belanjaan itu. Justru yang dia khawatirkan adalah kau dan Sooji.”
“Biar bagaimana pun, aku harus minta maaf padanya nanti.”
Geurae.” Jiwon mengangguk setuju. “Eoh, Shinhye-ya, karena kau sudah sadar sekarang, aku akan memanggil perawat untuk membawakan sarapan pagimu. Kau harus makan setelah hampir sehari tidak ada pemasukan apa-apa dalam perutmu.”
Shinye mengangguk.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat datang ke kamar Shinhye dan membawakan baki berisikan sarapan pagi untuk Shinhye.
Setelah memastikan Shinhye menghabiskan sarapan paginya, Jiwon kemudian pamit pulang.
“Aku pulang untuk bekerja dulu. Nanti aku akan kembali dan membawa pakaian-pakaianmu.”
“Jiwon-ah, neomu gomawo! Kalau kau tidak ada, aku tidak tahu siapa yang akan merawatku.”
“Itu gunanya sahabat. Kau mau kubawakan apa nanti?”
“Novel yang belum selesai kubaca. Ada di bawah bantal tidur di kamarku. Ah.. jangan lupa suruh Sooji yang membawanya. Aku hanya ingin memastikan dengan mataku sendiri apakah dia benar baik-baik saja.”
Jiwon menganggukan kepala dan beranjak pergi dari ruangan Shinhye.


***
“Aku harus bolos dari pekerjaanku di restaurant karena Jiwon eonnie menyuruhku untuk membawakanmu ini, celoteh Sooji panjang lebar sambil menyerahkan novel yang diminta Shinhye pada Shinhye.
Shinhye mendelik ke arah Sooji dengan sendok makan siangnya yang juga mengarah ke arah Sooji.
Heol! Apa eonnie pikir eonnie adalah dokkaebi[2] sehingga menakutiku dengan sendok makanmu itu?” ujar Sooji mengungkapkan karakter hantu yang paling dia takuti.
“Kau harus bertanggung  jawab dengan keadaanku sekarang ini, kata Shinhye lalu kembali menikmati makan siangnya.
Sooji tahu dia bersalah jadi dia hanya bisa memanyunkan bibirnya tanpa banyak berceletoh lagi.
“Duduk dan bacakan aku novel ini. Sampai hari aku nanti diijinkan untuk keluar dari tempat ini, kau yang harus membacakanku novel ini.”
Sooji mengangkat bibir atasnya. Kemudian tanpa banyak kata dia duduk di kursi di samping tempat tidur Shinhye dan membuka novel tersebut. “Sudah sampai halaman berapa, eonnie?” tanyanya dengan senyuman yang dipaksakan.
“Kau bahkan imut dengan senyuman paksaan itu, dongsaeng-ah.” Shinhye kemudian ikut tersenyum dan memberitahukan batas terakhir halaman novel yang dia baca.
“Aku akan sangat bahagia kalau membacakannya untuk Joong Ki oppa.
Ya! Berhenti menyebut aktor favoritku dan baca novelnya!”
“Cihh..” Sooji mencibir. “Bahkan kau pun mengidolakan orang yang sama denganku. Itulah mengapa kita tidak pernah bisa cocok, eonnie.”
“Baca!” perintah Shinhye dengan mata melotot yang membuat Sooji berhenti mengeluh dan  membacakan kelanjutan novel yang dibaca Shinhye kemarin.
Selang beberapa menit Sooji membacakan novel untuk Shinhye, tiba-tiba terdengar gagang pintu kamar Shinhye yang dibuka secara perlahan. Perlahan tapi pasti, pintu tersebut pun terbuka. Seseorang dengan tampang setengah tersenyum berdiri tepat di depan pintu tersebut.
Shinhye dan Sooji berbalik menatap orang tersebut.
Kau sudah sadar. Dahaengiya–syukurlah!” katanya menatap Shinhye dengan senyuman lebar. “Eoh, kau juga ada di sini?” Kali ini dia bertanya sambil menatap Sooji.
Ne, bos, jawab Sooji singkat.
“Aku bukan bos di JeResto lagi. Kau boleh memanggilku oppa atau apa saja yang menurutmu terdengar baik?”
Geurae, Yonghwa oppa,” kata Sooji masih terdengar kaku, tapi dia tetap mencoba terlihat akrab.
Shinhye menghembuskan nafas kesal. Dalam hati dia merenggut. “Oppa?”
Oppa, kau terlihat capek. Duduklah!” kata Sooji sambil menyodorkan kursi yang didudukinya tadi.
Shinhye melotot pada Sooji. Dia tahu bahwa anak itu mau menghindar dari tugasnya membacakan Shinhye novel. Oleh karena itu dengan girangnya dia menyerahkan kursi itu pada Yonghwa. Melihat Shinhye menatapnya dengan mata melotot membuat gadis itu menjulurkan lidah. Adegan itu mereka lakukan ketika Yonghwa sedang tidak melihat mereka.
Ah.. kalau aku punya namdongsaeng seumuranmu, tentu saja akan kujodohkan denganmu.”
“Kau saja yang berjodoh denganku, oppa,” tawar Sooji masih mencoba akrab.
Aku suka gayamu.” Yonghwa tertawa sembari mengacak-acak rambut Sooji.
Eoh, kau sudah berani mengacaki rambutku.” Tunjuk Sooji pada Yonghwa.
Yonghwa tertawa lagi. “Kau harus kukenalkan pada Lee Hyun Woo, adik sepupuku,” katanya sambil duduk di atas kursi yang disodorkan Sooji.
“Adik sepupumu? Lee Hyun Woo?” tanya Shinhye bingung dengan perkataan Yonghwa. Berhubung yang dia ketahui Lee Hyun Woo itu bukan adik sepupu Yonghwa. Tapi anak dari sekretaris ayah Jonghyun.
Maksudku pada adik yang kukenal. Lee Hyun Woo.” Yonghwa mengelak. Untung saja Shinhye tidak ambil pusing dengan kalimat Yonghwa.
“Apa dia tampan sepertimu? Kalau ya, aku bersedia diperkenalkan dengannya,” kata Sooji dengan mata yang berbinar-binar.
Ya, Bae Soo Ji!” tegur Shinhye pada Sooji.
Eoh, eonnie si pemarah lagi-lagi marah.”
Yonghwa tertawa kemudian berkata, “Apa kau bersedia membiarkan eonnie si pemarah ini bicara berdua dengan oppa, eoh?” Tunjuk Yonghwa secara bergantian pada dirinya dan Shinhye.
Azza! Paling tidak aku bisa melanjutkan pekerjaanku di restaurantmu, oppa. Eoh, oppa kau harus menggantikanku membacakan novel ini untuk eonnie.” Sooji menyerahkan novel yang dia pegang ke arah Yonghwa. Kemudian dengan bahagia melenggang pergi tanpa memedulikan Shinhye yang sedang melotot ke arahnya.
“Dia benar-benar lucu,” kata Yonghwa mencoba mencairkan suasana antara dia dan Shinhye yang terlihat tegang saat ini. Ah, cam, apa aku harus membacanya lanjut?” Yonghwa bertanya dengan tatapan lekat.
Piryeopseo–tidak perlu.” Shinhye menyodorkan tangannya meminta novelnya.
Yonghwa menurutinya dan memberikan novelnya.
Demi menghindari tatapan Yonghwa, Shinhye membuka halaman novelnya sembarangan dan pura-pura sibuk membacanya dalam hati.
“Kau benar-benar sudah baikkan, kan?” tanya Yonghwa hati-hati.
“Hmm...” Shinhye menggumam.
“Setelah keluar dari sini, aku rasa sebaiknya untuk sementara kau tidak usah bekerja di restaurant dulu. Bagaimana?”
“Hmm…” Masih dengan gumaman Shinhye menjawab pertanyaan Yonghwa.
Shinhye yang menunduk sambil membaca tiba-tiba mendongak terkesiap karena Yonghwa yang tiba-tiba menarik buku yang dipegangnya.
“Kau mendengarkanku?” kata Yonghwa sambil mengangkat tinggi-tinggi bukunya dari jangkauan Shinhye. Jaga-jaga kalau saja gadis di depannya ini akan mengambil kembali buku tersebut.
“Kenapa tiba-tiba kau begini?” tanya Shinhye dengan mimik heran.
“Kau salah satu karyawanku. Ah.. maksudku mantan karyawanku. Oleh karena itu aku bertanya tentang keadaanmu, karena aku khawatir padamu.
Shinhye menghembuskan nafasnya, pura-pura kesal dengan kalimat-kalimat Yonghwa meski dalam hatinya sedang bersemi berbagai macam jenis bunga.
“Kau mau es krim?” Spontan Yonghwa bertanya dengan nada yang terdengar tak lazim. Ini salah satu caranya untuk mengalihkan pembicaraan.
Shinhye mendengus. “Apa kau ingin memberikan es krim pada pasien yang baru saja siuman, dan di saat cuaca mendung begini?”
Yonghwa tidak menjawab justru dia malah mengalihkan pembicaraan lagi. “Sementara ini, dokter melarangmu untuk berjalan dengan kakimu. Jadi jangan berjalan dulu.” Yonghwa berkilah. Kemudian dengan sigap dia mengangkat Shinhye dari tempat tidurnya menaruhnya di atas kursi roda dan mendorongnya keluar dari kamar.
Eoh, eodi ka?” Shinhye bertanya melihat tingkah Yonghwa yang benar-benar aneh.
“Jalan-jalan keluar,” jawab Yonghwa singkat.
Ya, aku akan melaporkanmu pada dokter, tuntut Shinhye melihat Yonghwa yang berbuat sesuatu tanpa meminta ijinnya terlebih dahulu.
“Doktermu telah memberikanku ijin untuk membawamu menikmati udara luar. Hanya sebentar saja.
Apa kau tidak lihat di luar sedang mendung, Jung Yong Hwa-ssi?”
“Pakai ini.” Yonghwa menyelimuti Shinhye dengan selimut hangat.
Shinhye mendengus lagi. “Tapi aku baru saja siuman, dan  aku butuh istirahat yang cukup.
“Berhentilah bicara, Park Shin Hye! Atau aku akan menggendongmu agar kau tidak banyak bicara lagi, kata Yonghwa kemudian mulai mendorong kursi roda Shinhye. 
Shinhye memilih untuk diam mengingat Yonghwa bukan jenis orang yang suka main-main dengan perkataannya. Shinhye hanya bisa menatap Yonghwa dengan tatapan kesal tanpa bisa berbuat apa-apa.
Yonghwa tidak membalas tatapan gadis itu. Pandangannya lurus ke depan sambil mendorong kursi roda Shinhye. Yonghwa kemudian membawa gadis itu ke kantin rumah sakit dan membelikannya es krim.
“Kau benar-benar jahat. Berani-beraninya kau membelikanku es krim saat cuaca dingin begini. Apa kau menginginkanku untuk sakit lagi?”
“Tapi kau memakannya.”
“Itu karena tidak baik membuang makanan.” Shinhye marah-marah tapi dengan lahap dia terus memakan es krimnya.
“Apa kau masih marah padaku soal ciuman itu?” Yonghwa tiba-tiba mengungkit kembali kejadian yang membuat mereka berdua berselisih satu dengan yang lain.
Shinhye tidak menjawab pertanyaan Yonghwa tapi malah berkata, “Aku harap kau tidak akan pernah mengulangi hal itu lagi.”
Yonghwa tersenyum bahagia mendengar kalimat yang diucapkan Shinhye. Kalimat itu jelas sekali menyatakan kalau Shinhye tidak lagi marah padanya.
Setelah mereka berdua rukun lagi. Yonghwa kemudian membawa Shinhye berjalan-jalan keluar ke taman rumah sakit. Mereka berdua benar-benar terlihat sangat menikmati angin sore hari itu. Selang beberapa menit berlalu, tetes-tetes air dari langit mulai turun. Yonghwa mendorong kursi roda Shinhye masuk ke dalam bungalo yang ada di taman rumah sakit demi menghindari rintik hujan yang mulai turun. Begitu tiba di dalam bungalo tersebut, rinai hujan kini mulai berganti dengan hujan yang lebat.
Shinhye mencoba menadah kedua tangannya untuk menampung titik-titik hujan yang jatuh dari atap bungalo, tempat mereka berteduh. Tapi karena posisinya yang jauh, dia tidak bisa menggapainya. Dia merenggut melihat dirinya yang lemah ini.
“Kau ingin menyentuh tetes air hujan itu?”
Shinhye menganggukan kepalanya mantap. Dia bahagia karena Yonghwa mengerti perasaannya saat ini.
Yonghwa kemudian menggeser sedikit kursi roda Shinhye ke depan, sampai akhirnya gadis itu mampu menadah tetes-tetes air hujan dari atap bungalo tersebut.
“Kau suka hujan?” tanya Yonghwa sember.
Shinhye mengangguk. “Lebih tepatnya, aku menyukai hujan musim gugur. Karena aku punya cerita tentang itu.”
Cerita?”
Entah kenapa tapi dengan enteng, Shinhye mampu menceritakan alasan mengapa dia menyukai hujan musim gugur pada Yonghwa. “Setiap kali hujan musim gugur datang, aku selalu merasa bahwa semua kesedihanku telah dibawa pergi oleh hujan itu. Itu mengapa aku sangat menyukai musim gugur.”
Aku justru benci melihat pemandangan tumbuhan yang rontok. Kenapa daun-daun bodoh itu harus jatuh meninggalkan tangkai pohon yang tetap setia menggenggam erat mereka hanya karena datangnya musim gugur? Aku benci daun yang rontok karena musim gugur. Aku benci musim gugur, kata Yonghwa dengan tatapan masyuk.
Shinhye memutar kursi rodanya. Kali ini dia berhadapan langsung dengan Yonghwa. Sayangnya Yonghwa memilih untuk tetap memandang lurus ke depan. Tatapan Yonghwa terlihat senduh. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu? Dan mengapa dia membenci musim gugur? Shinhye kemudian menatap Yonghwa. Berharap dia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan tentang Yonghwa yang membenci musim gugur.
“Aku pernah memiliki seorang yeodongsaeng–adik perempuan.” Yonghwa tiba-tiba mulai bercerita kenyataan yang tak pernah diketahui Shinhye sebelumnya. “Dia baru berumur tujuh tahun ketika penyakit itu menggerogoti tubuhnya. Rambutnya gugur bagaikan daun yang rontok. Dia mencoba terlihat sehat dan kuat, agar kami tak khawatir padanya. Tapi penyakit bodoh itu terus menggerogotinya. Dia seperti mesin yang dipaksa hidup padahal telah kehabisan minyak. Dia seperti daun-daun terakhir yang tetap bertahan di rantingnya meski sebenarnya tak bisa lagi bertahan. Dia bagaikan daun yang terpaksa rontok karena musim gugur.” Suara Yonghwa terdengar parau ketika menceritakan kisah kelamnya.
Shinhye akhirnya mengerti alasan di balik kebencian Yonghwa terhadap musim gugur.
“Kau tidak sakit, Jung Yong Hwa-ssi. Lalu kenapa kau memilih untuk terlihat lemah?” Shinhye menyentuh punggung tangan Yonghwa, kemudian berkata, “Lihat adikmu. Dia banyak merasa sakit. Tapi dia memilih untuk terlihat kuat. Itu semua karena dia tidak ingin melihat orang lain khawatir padanya.” Sesekali Shinhye membiarkan nafasnya menguar di udara. “Adikmu saja memilih untuk terlihat kuat. Lalu kenapa malah kau yang terlihat lemah? Apa kau ingin melihat adikmu yang di atas sedih karena kau yang juga sedih?”
Tatapan Yonghwa kini mengarah pada Shinhye. Masih dengan tatapan senduh, dia kemudian berkata pada Shinhye, “Aku berharap kau bisa menjadi alasan bagiku untuk tidak membenci musim gugur lagi.”
Shinhye sontak panik karena Yonghwa yang tiba-tiba menatapnya sangat lekat. Shinhye yang tadinya menatap Yonghwa kini memilih untuk mengubah objek tatapannya pada seorang gadis kecil yang sedang berjalan menggunakan mantel dan payung bersama ibunya.
Yonghwa tiba-tiba menarik kursi roda Shinhye lebih dekat ke arahnya. Dia kemudian berlutut di depan gadis itu.
Mata Shinhye membelalak melihat pemandangan yang sedang terjadi di depannya ini. “Ya!” katanya mencoba tidak terlihat gugup. “Pakaianmu bisa basah karena air hujan. Ireona!” Dia mengguncang tubuh Yonghwa memaksa Yonghwa untuk bangun.
Yonghwa tidak peduli dan tetap berlutut di hadapan Shinhye. Selang beberapa menit menatap Shinhye, Yonghwa kemudian berkata, “Apa kau mau menjadi alasan bagiku untuk tidak membenci musim gugur lagi?Yonghwa yang kodratnya lelaki, paling membenci mengatakan hal-hal klise seperti ini. Entah kenapa karena Park Shin Hye dia mampu  mengatakan hal-hal klise itu.Ah.. kau membuat diriku sendiri merinding, karena untuk pertama kalinya aku mengatakan kalimat-kalimat tidak masuk akal tadi.” Kali ini wajah Yonghwa berubah ceria. Wajahnya lebih terlihat tampan ketika tersenyum.
“Kalau begitu ayo bangun dan kita kembali ke kamar.” Shinhye mencoba mengalihkan pembiaraan.
Yonghwa berdehem. “Bagaimana dengan pertanyaanku tadi? Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”
“Pertanyaan apa?” Shinhye pura-pura lupa dengan pertanyaan Yonghwa tadi. “Ayo kembali ke kamar kebetulan hujannya sudah tidak deras lagi.” Dia lebih memilih untuk menghindari tatapan Yonghwa.
Neo jeongmal.” Yonghwa berdecak.
Shinhye yang tadinya gugup akhirnya tertawa melihat wajah Yonghwa yang tiba-tiba berubah merah. Dan tingkah lucunya ketika dia sedang malu. Shinhye menghembuskan nafas lega. Karena sepertinya Yonghwa tidak terlihat sedih lagi.
Ya, Park Shin Hye! Jangan lama memikirkannya. Jawab aku!” Yonghwa merenggut karena Shinhye yang tak mau menjawab pertanyaannya.
Gadis cantik di depan Yonghwa ini malah terlihat memainkan jemarinya, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan apabila sedang dalam situasi gugup. Shinhye membisu lama sampai akhirnya Yonghwa mendesaknya.
“Park Shin Hye! Apa kau mau aku sakit karena capek berlutut?”
Geurae. Geurae.” Shinhye mendengus sambil tertawa kecil. “Bahkan belum beberapa menit berlutut kau sudah merasa capek?”
“Kau tega menghukumku?” timpal Yonghwa.
Shireo! Aku mau menjawabnya kalau kau mampu membuatku tertawa saat ini, kata Shinhye yang akhirnya memilih untuk tidak lagi menghindar.
Jeongmal?”
Shinhye mengangguk.
Ah.. kau benar-benar.” Tak lama kemudian, Yonghwa akhirnya mendapatkan sebuah ide. Dia berlari keluar dari bungalo, tempat dia dan Shinhye berteduh, berlari mengejar gadis kecil yang tadi berjalan bersama ibunya. Ketika mendapati mereka, Yonghwa terlihat berbicara dengan ibu gadis itu, kemudian tiba-tiba dia menggendong gadis kecil itu dengan payungnya dan membawanya kepada Shinhye.
Begitu gadis kecil itu berdiri di depan Shinhye. Gadis kecil itu berkata, “Eonnie-ya, kau harus menerima ahjussi ini. Karena kalau tidak, dia akan memisahkanku dengan eommaku.” Gadis kecil ini berkata dengan segala kepolosannya.
Ya, gadis kecil! Aku bukan ahjussi-mu. Kau tidak lihat tampangku.” Yonghwa menunjuk wajahnya sendiri. “Aku masih sangat muda. Kau seharusnya memanggilku oppa,” protes Yonghwa.
Geurae–benarkah?” Shinhye menatap gadis kecil di depannya ini sambil tersenyum Kalau begitu, bisakah kau bilang pada ahjussi ini kalau aku benar-benar ingin tertawa dengan tingkahnya saat ini?” Shinhye mengucapkannya dengan tawa yang tak bisa ditahan melihat tingkah Yonghwa yang malah berdebat dengan gadis kecil ini karena panggilan ahjussi yang diberikan gadis kecil ini padanya. “Gadis kecil, bilang juga pada ahjussi ini kalau aku bersedia menjadi alasan baginya untuk tidak lagi membenci musim gugur, mmm?”
Yonghwa berbalik menatap Shinhye dengan senyuman yang benar-benar bermakna bahwa dia bahagia karena Shinhye akhirnya mau menerimanya.


To be continued


[2] Hantu nakal dari Korea sejenis tuyul yang mempunyai satu tanduk di kepalanya dan selalu membawa tongkat ajaib