"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 11

Jumat, 15 Juli 2016

Rain of Autumn Part 11

Part 11



“Kau berani bertaruh berapa bahwa Yoo Jin itu kekasihnya?" Shinhye berkoar-koar dengan semangat.
Jiwon tidak merespon, tapi malah melotot-lotot tidak jelas ke arah Shinhye.
"Wae?"
"Aku bertaruh sejuta Won bahwa Yoojin itu bukan kekasihku."
Suara dari balik punggung Shinhye, mengagetkannya.
Shinhye berbalik dan kaget  mendapati Yonghwa sudah di depannya. "Eoh, bos? Kau di sini?" Wajah Shinhye mengerut saat mengucapkan kalimat-kalimat itu.
Yonghwa menggerakan kepalanya sebagai gesture untuk menyuruh Jiwon keluar. Jiwon pun menurutinya.
"PARK-SHIN-HYE!" Yonghwa menekankan setiap kata pada nama Shinhye. "Berapa banyak uang yang sudah kau dapatkan dari taruhan ini?"
Shinhye menggeleng.
Yonghwa mendengus. "Kau benar-benar tidak peka. Apa kau tidak menyesal menjadikan orang lain objek taruhanmu, eoh?" kata Yonghwa sedikit mengencangkan volume suaranya.
Shinhye meringis. Sedetik kemudian dia merasa bersalah dan mengatakan, "Mianhamnida."
Yonghwa mendengus lagi. "Semua penjahat juga mengatakan kata itu. Tapi mereka tetap saja dihukum," kata Yonghwa menohok.
Shinhye memilih untuk diam karena merasa dalam hal ini, dia memang bersalah.
"Park Shin Hye, apa kau benar-benar menyesal?"
Shinhye mengangguk.
"Kalau begitu sebagai hukumanmu, sekarang ganti bajumu dan ikut aku! Ppalli!"
"Untuk?"
"Jangan banyak tanya! Aku tunggu di mobil." Yonghwa berjalan duluan meninggalkan Shinhye.

***
Dalam perjalan menuju tempat yang sampai sekarang pun Shinhye tidak tahu, Shinhye dan Yonghwa memilih untuk tetap bungkam atau tidak bersuara. Hanya suara bising kendaraan dari luar yang menemani perjalanan mereka. Sampai akhirnya, Shinhye menyerah dan bertanya pada Yonghwa. "Kita akan ke mana?" tanyanya memecah keheningan
"Bandara," jawab Yonghwa singkat.
"Menjemput sahabatmu itu?"
Yonghwa hanya mengangguk dan tetap fokus menyetir.
Tiga puluh menit berlalu mereka tiba di Bandara Internasional Incheon.
Setelah memarkir mobil, Yonghwa dan Shinhye membuka pintu mobil dan turun, kemudian dengan langkah cepat mereka masuk ke dalam gedung besar di bandara itu.
"Kau tetaplah di sini," kata Yonghwa pada Shinhye yang memilih menunggu di hall kedatangan bandara tersebut. "Aku akan menunggu Yoojin di sana," kata Yonghwa dengan langkah yang perlahan mulai menjauh dari Shinhye dan kemudian berbaur dengan beberapa orang di terminal kedatangan yang juga sedang menunggu kenalan mereka. Beberapa menit menunggu, Yonghwa tak kunjung datang. Shinhye mulai jenuh dan kemudian memilih untuk berjalan-jalan menikmati keindahan taman indoor di bandara tersebut. Belum lama menikmati keindahan taman kaktus, Shinhye akhirnya sadar kalau dia lupa membawa ponsel dan sepertinya dia harus segera kembali ke tempat menunggu sebelumnya agar tidak kehilangan Yonghwa. Begitu kembali ke tempat sebelumnya, tidak lama kemudian Shinhye melihat Yonghwa datang dengan seorang gadis yang ramping dan tinggi semampai. Dari penampilan gadis itu saja membuat Shinhye merasa sangat terbelakang. Gadis itu sangat pantas berjalan di samping Yonghwa. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang fashionable. Penampilan luar gadis itu tampak sekali kalau dia itu wanita Parisian Style. Mata Shinhye naik turun menyapu keseluruhan penampilan gadis yang perlahan sedang menuju ke arahnya ini. Gadis itu menggunakan atasan Breton stripped shirt dan bawahannya skinny jeans bermerk yang sepadan dengan kaki jenjangnya. Meski saat ini dia hanya menggunakan flat shoes, tapi sepatu itu terlihat sangat cantik di kakinya. Tidak kalah tas bermerk Louis Vuitton yang menggantung manis di lengannya. Dia benar-benar memiliki penampilan wanita Paris. Ketika dilihatnya langkah Yonghwa dan gadis itu yang semakin mendekat, Shinhye pura-pura membalikkan wajahnya ke arah lain agar tidak kelihatan bahwa dia baru saja memerhatikan mereka.
"Park Shin Hye," panggil Yonghwa.
Shinhye berbalik. "Eoh, kau sudah di sini?" katanya berpura-pura.
"Siapa dia?" tanya wanita yang jelas sekali namanya adalah Yoojin ini. Wajahnya tampak tidak senang dengan kehadiran Shinhye.
"Dia karyawan di JeResto," kata Yonghwa dan kemudian mulai memperkenalkan mereka satu per satu. "Yoojin ini Shinhye. Shinhye ini Yoojin."
Saat Shinhye membungkuk dan mengucapkan salam perkenalan, Yoojin malah mengacuhkannya.
"Eoh, mana LEE-HYUN[1] bersaudara?” tanya Yoojin celingak-celinguk mencari keberadaan Lee-Hyun bersaudara saat itu.
Tidak ada jawaban dari Yonghwa.
"Sesibuk apa sih mereka, sampai tidak bisa menjemputku?" dumel Yoojin. Bibirnya yang manyun saat itu membuat pipi chubby-nya ikut mengembung. Namun dia tetap saja terlihat cantik.
Kajja!” ajak Yonghwa agar tidak terlalu membuang waktu di bandara.

***
Setelah memastikan Yoojin dan Shinhye sudah masuk ke dalam mobilnya. Yonghwa mengendalikan stir mobilnya dan keluar dari Bandara Internasional Korea Selatan itu. Di sepanjang perjalanan mereka terisi oleh suasana yang khidmat. Sampai akhirnya Yoojin membuka kaca jendela mobil Yonghwa dan berusaha menghirup udara kota Incheon sore itu. Dari situlah suasana khidmat itu berubah menjadi suasana ketika kau sedang berada di padang pasir. Panas!
“Wah.. sudah lama aku tidak menghirup udara Korea Selatan,” kata Yoojin membuka pembicaraan.
“Tidak sebaik kotamu kan?” Yonghwa ikut nimbrung dalam pembicaraan.
Yoojin tidak membalas, tapi kemudian berkata, "Chammkaman!" kata Yoojin teringat sesuatu. "Apa kita akan singgah di SMA kita dulu?" tanyanya yang tentunya pertanyaan itu ditujukan pada mantan teman SMAnya, Yonghwa.
Yonghwa menjawab dengan mengangguk.
"Kalau begitu, agasshi–nona,” seruduk Yoojin. Dia berbalik menatap Shinhye yang sedang duduk di kursi belakang kemudi. “Kau sepertinya tidak bisa ikut," katanya menohok.
Kali ini Yonghwa tidak ikut nimbrung dalam percakapan. Dia lebih memilih diam.
"Yonghwa-ya." Kali ini Yoojin berbalik menatap Yonghwa dengan tatapan masyuk. "Kau sudah berjanji padaku saat aku tiba nanti di Seoul, kau akan membawaku mengunjungi SMA kita dulu. Kau tidak lupa kan?"
Yonghwa yang sudah di dalam mobil hanya mengangguk.
"Kalau begitu, ayo kita pergi mengunjungi SMA kita."
“Masih ada Shinhye di sini,” timpal Yonghwa. Sepertinya Yonghwa terlihat berat hati untuk meninggalkan Shinhye.
"Kau tidak keberatan naik bis kan, agasshi?" tanya Yoojin meminta persetujuan Shinhye.
Tidak ada kata-kata yang bisa Shinhye ucapkan selain anggukan kecilnya. Tandanya dia setuju, meski karena terpaksa. Akan lebih baik kalau dia turun daripada harus menjadi nyamuk dalam pembicaraan kedua sahabat yang lama tidak bertemu itu.
Eoh, Yonghwa, agasshi ini menyetujuinya. Ayo kita turunkan dia di halte bis terdekat.” Yoojin terdengar antusias mengucapkan kalimat ini. "Kajja!" katanya menggelendot manja di lengan Yonghwa.
Geurae, Shinhye?” Yonghwa meminta persetujuan Shinhye.
Ne. aku baru ingat kalau ada sesuatu yang harus aku urus.”
Yonghwa mengangguk mengerti. Kemudian melajukan mobilnya menuju halte bis terdekat. Shinhye hendak turun dari dalam mobil Yonghwa, tapi samar-samar dari kaca spion depan mobil Yonghwa dia melihat Yoojin sedang menatap tajam ke arahnya. Shinhye kemudian menghembuskan nafasnya dan membuka pintu mobil tersebut.
“Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku.” Yonghwa terlihat khawatir karena harus meninggalkan Shinhye sendiri.
Mendengar kalimat perhatian Yonghwa, Shinhye baru sadar kalau dia merasakan sesuatu dalam hatinya. Dia juga ingin bersama Yonghwa. Dia tidak mau ditinggal sendiri di sini. Dengan sigap tangannya hendak memegang engkol pintu mobil Yonghwa. Belum sempat menyentuh engkolnya, mobil Yonghwa sudah melaju meninggalkan Shinhye sendiri.
"Cham..," kalimat Shinhye terpotong ketika melihat mobil Yonghwa yang menghilang dari peredarannya. "Chammkaman! Jung Yong Hwa-ssi, apa kita bisa kembali ke restaurant bersama?" lanjut Shinhye dengan hati yang tertohok. Merasakan hatinya yang bagai ditikam belati, melihat Yonghwa telah pergi meninggalkannya. Shinhye baru tahu bahwa dia sepertinya telah jatuh hati pada Yonghwa. Meski selama ini dia selalu menyangkal bahwa dia telah terpesona oleh Yonghwa. Karena dia tidak ingin menyatakan bahwa dirinya memang telah menyukai Yonghwa. Tapi kali ini dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya, dia berkata, "Jung Yong Hwa-ssi, bisakah kau tidak pergi dengan wanita itu dan bawa aku bersamamu?" Air mata yang mengalir di pipinya disekanya karena dia tidak mau dilihat orang banyak sedang menangis tanpa alasan.

***
Di tempat lain, Yoojin malah sedang bersenang-senang menceritakan kisah-kisahnya sewaktu di Paris tentang kerja kerasnya waktu harus kursus dan sekolah mode sampai ajang peragaan busana yang sering diikutinya untuk menguji karyanya. Semua diceritakannya pada Yonghwa. Tak lama kemudian tiba-tiba perlahan Yoojin mulai mengungkit tentang Shinhye, gadis yang bahkan belum dikenalinya itu.
"Aku kembali karena tertarik ingin berbisnis di Seoul. Aku ingin menyewa gedung untuk butikku di sini. Dan kemudian memamerkan karya-karyaku sewaktu di Paris."
"Kau serius ingin berbisnis di sini?"
"Apa aku kelihatan main-main? Aku ingin tinggal di Seoul selamanya."
"Bagaimana dengan Paris?"
Kedua alis Yoojin bertaut. Dia heran dengan pertanyaan Yonghwa yang seakan tidak senang dengan kehadirannya di Seoul. "Apa kau keberatan aku kembali ke sini? Atau kau tidak mau aku mengganggu hubunganmu dengan gadis itu?"
"Gadis itu? Maksudmu?"
"Karyawanmu tadi,” ucap Yoojin blak-blakan.
“Park Shin Hye, namanya.” Yonghwa mencoba meluruskan ketidaktahuan Yoojin.
“Entahlah, Shinhye, Shinhyo atau apa pun itu. Untuk apa coba dia ikut-ikutan menjemputku?" tanya Yoojin bersungut-sungut.
"Kau pikir Shinhye itu kekasihku?" timpal Yonghwa mendengar Yoojin yang sepertinya sedang salah paham.
"Lantas, untuk apa kau membawa dia menjemputku?" ulang Yoojin manja.
Kali ini Yonghwa tertawa dengan spekulasi Yoojin. "Kau salah besar Kim Yoo Jin-ssi. Park Shin Hye itu kuajak sebagai jaga-jaga kalau saja barang bawaanmu itu terlalu banyak, aku bisa minta tolong padanya untuk membawakan barang yang lain. Tapi ternyata kau hanya membawa satu koper. Oleh karena itu, aku bisa mengatasinya sendiri tanpa bantuannya."
"Semua barang-barangku akan menyusul belakangan. Dan lagi, apa kau tidak punya karyawan pria, sehingga menyuruh dia untuk mengangkut barang-barangku?" lanjut Yoojin masih bersungut-sungut.
"Ya, Kim Yoo Jin, semua karyawan priaku sedang sibuk menyiapkan pesta kedatanganmu. Bagaimana bisa kuajak mereka? Karena kebetulan Park Shin Hye tidak punya pekerjaan untuk dikerjakan, maka kuajak dia."
"Jeongmalyo?"
"Ne. Kau puas sekarang?"
Yoojin terlihat lega mendengar jawaban Yonghwa.


***
Tidak lama berkendara, Yonghwa dan Yoojin tiba di SMA mereka dahulu. Yoojin mengajak Yonghwa melihat-lihat SMA mereka yang telah berubah seratus delapan puluh derajat. Yonghwa dan Yoojin berjalan santai ke taman sekolah di mana mereka berdua ditambah Jonghyun, biasa menghabiskan waktu kosong di sana.
"Ya, Jung Yong Hwa!” panggil Yoojin pada Yonghwa yang sedang sibuk menebarkan pandangannya pada setiap gedung sekolah mereka yang sudah mengalami perubahaan. “Apa kau masih ingat tempat itu?" Yoojin menunjuk bangku kayu yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Yoojin berjalan ke arah di mana terdapat bangku kayu itu, dengan Yonghwa yang merendengi langkahnya.
Yonghwa duduk di atas bangku kayu yang ditunjuk Yoojin. Sedang Yoojin sendiri masih berdiri mengamati bangku kayu tersebut, hanya untuk memastikan bahwa bangku kayu tersebut masih sama dengan bangku kayunya ketika SMA dulu. Dan benar, bangku kayu itu adalah bangku kayunya dulu.
"Yonghwa-ya, apa kau tahu, di bangku ini..” Yoojin menyentuh bangku kayu yang kini tepat berada di depannya. “Jonghyun pernah menyatakan cintanya padaku?" timpalnya lagi.
"Kau pernah bilang padaku."
"Kau tahu kenapa Jonghyun memilih tempat ini?"
Yonghwa hanya menggeleng.
"Dia memilih tempat ini karena dia tahu aku sangat menyukai tempat ini." Yoojin kemudian duduk di atas bangku kayu itu dan menyentuh setiap sisi dari bangku tersebut.
"Jonghyun benar-benar hebat dalam hal memahami perasaan wanita," puji Yonghwa pada Jonghyun.
"Sebaliknya denganmu," celetuk Yoojin.
Yonghwa tidak berani menentang, karena memang begitu kenyataannya. Dia sendiri menyadari bahwa dia adalah salah satu pria yang paling lamban dalam memahami perasaan wanita.
"Jung Yong Hwa, kau tahu betul di tempat ini aku juga pernah menyatakan hal yang sama padamu," jelas Yoojin. Dia kemudian menghela nafas panjang dan kembali menghembuskannya. "Tapi sampai saat ini aku belum mendapatkan respon darimu. Jung Yong Hwa-ssi, kenapa kau terus menggantungku seperti ini?" Yoojin tengah memanyunkan bibirnya yang membuat pipi chubby-nya ikut mengembung.
"Kenapa kau menolak Jonghyun?" tanya Yonghwa yang membuat bingung Yoojin.
"Selalu saja kau membalik pertanyaan orang menjadi pertanyaanmu."
"Kau cukup jawab saja. Jawabanku tergantung dari jawabanmu," ujar Yonghwa.
"Molla," jawab Yoojin pura-pura tak tahu.
"Yoojin-ah, kau menolak Jonghyun saat itu karena kau menyayanginya hanya sebagai sahabat kan?"
Yoojin tidak mau menjawab. Dia takut kalau ternyata Yonghwa juga hanya menyayanginya sebagai seorang sahabat. Sehingga Yonghwa menggantung perasaannya sampai saat ini.
"Kau tahu, aku sangat menyayangimu. Tapi bisakah rasa sayang itu hanya sebatas sahabat?"
Benar sekali. Sesuai perkiraan Yoojin, ternyata Yonghwa hanya menganggapnya sebagai sahabat tidak lebih dari itu. Namun dari lubuk hati Yoojin yang paling dalam, dia telah memutuskan apa pun yang terjadi, Yonghwa harus jadi miliknya.

Halte Bis, Kota Incheon.
Karena terburu-buru datang ke bandara tadi, Shinhye lupa membawa dompet dan ponselnya. Ingin naik taksi untuk pulang, tapi tidak ada sepeser uang pun di kantungnya. Ingin menelepon seseorang untuk menjemputnya, tapi ponsel lupa dibawanya. Akhirnya sekarang di halte bis, di mana Yonghwa menurunkannya tadi, Shinhye tengah berdiri sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya dan sesekali menghembuskan kabut dingin dari dalam mulutnya. Sudah beberapa jam dia menunggu di halte bis itu sambil berharap Yonghwa kembali dan menjemputnya. Ada beberapa taksi yang menawarinya naik, tapi semuanya diacuhkannya, dan tetap berharap Yonghwa akan kembali. Hawa kota Incheon menjelang malam yang semakin dingin membuatnya merapatkan cardigan hitam yang dia pakai ke tubuhnya. Dan sesekali kembali berharap Yonghwa akan kembali menjemputnya.

***
Yonghwa dan Yoojin tiba di JeResto disambut oleh Jonghyun, manajer Yoo, Jiwon, Minhyuk, Jungshin (kedua pria yang ikut-ikutan, meskipun tidak mengenal Yoojin. Yang terpenting bagi mereka berdua adalah makanan yang saat itu dihidangkan. Itulah Minhyuk dan Jungshin.), Hyejoon, Minho, Donghyun dan dua koki lainnya di JeResto. Balon-balon, topi kerucut, kembang api dan sampanye membuat meriah pesta kecil untuk menyambut Yoojin. Di teras luar JeResto telah tersedia beberapa penganan dan botol-botol sampanye beserta gelas-gelas kosong. Begitu melihat pesta sambutan kecil itu, membuat Yoojin terharu dan dengan wajah gembira dia bersalaman dengan semua orang yang mempersiapkan pesta sambutan tersebut sebagai ungkapan terima kasih. Setelah bersalaman dengan semua, dia beranjak menuju Jonghyun yang berdiri paling belakang dari barisan orang-orang yang bersalaman dengannya. Jonghyun tersenyum saat melihat Yoojin menghampirinya.
"Ya, kau Lee Jong Hyun, bagaimana bisa kau mengabaikanku, eoh? Apa kau sangat sibuk sampai tidak bisa menjemputku?” kata Yoojin merenggut sambil menepuk pelan dada Jonghyun.
"Apa kau tidak lihat, pesta ini sukses karena kehadiranku? Aku tadi menyiapkan pesta ini untukmu. Jadi kuutus Yonghwa untuk menjemputmu," jawab Jonghyun dengan senyuman yang memperlihatkan gigi-giginya yang putih mengkilat.
"Geurae? Kalau begitu di mana Lee Hyun Woo? Dia juga.." tanya Yoojin yang membuat Jonghyun langsung mengajak Yoojin mencari tempat yang aman untuk bercerita tentang Hyunwoo dan jauh dari hadapan Jiwon.
Karyawan yang lain sedang minum, makan dan bercerita. Sedang Jonghyun dan Yoojin duduk bercerita berdua. Pemandangan itu membuat Jiwon sedikit cemburu. Tapi semuanya dianggap positif baginya. Karena dia yakin, Jonghyun tidak mungkin mengkhianatinya.  Sedang Yonghwa sendiri ingin nimbrung bersama Jonghyun dan Yoojin, tapi batal karena sepertinya mereka berdua benar-benar tidak membutuhkan kehadirannya. Akhirnya, Yonghwa memilih untuk bergabung bersama manajer Yoo, Jiwon dan Hyejoon yang juga sedang bercerita bersama. Baru saja melesakkan pantatnya di kursi, dia sudah dihamburi beberapa pertanyaan dari Jiwon.
"Chogi, apa kau tidak pulang bersama dengan Shinhye? Minhamnida, tapi tadi Shinhye pergi bersamamu. Kenapa sekarang kau hanya sendiri dengan Yoojin-ssi?" tanya Jiwon yang terukir jelas di wajahnya bahwa dia khawatir dengan keadaan Shinhye sekarang.
"Memang dia belum kembali ke sini?" Yonghwa balik bertanya.
Jiwon mengangguk mengiyakan.
“Tapi tadi di Incheon dia memutuskan untuk naik bis,” ujar Yonghwa sember.
“Naik bis? Tapi ponsel dan dompetnya tertinggal di sini," lanjut Jiwon masih dengan tampang khawatir.
"Mworago? Jadi dia ke sana tanpa membawa apa-apa?" Yonghwa jadi ikut-ikutan khawatir.
"Bos kan tiba-tiba memanggilnya. Jadi dia terburu-buru dan akhirnya lupa membawa tasnya." "Jadi di mana dia sekarang?" timpal manajer Yoo ikut khawatir juga.
"Bagaimana menghubunginya kalau ponselnya tertinggal?" Kali ini Hyejoon yang bersuara.
"Kalian tidak usah khawatir. Aku yang akan mencarinya." Yonghwa jadi merasa bersalah karena telah meninggalkan Shinhye. Dia kemudian terlihat buru-buru meninggalkan restaurant.
Dari kejauhan Yoojin memerhatikan Yonghwa yang sepertinya khawatir dan buru-buru meningalkan restaurant tanpa pamit padanya dan Jonghyun terlebih dahulu.

Halte Bis, Kota Incheon.
Shinhye menunggu Yonghwa mengharapkan Yonghwa yang tak kunjung datang. Karena lelah menunggu, akhirnya Shinhye memilih untuk perlahan berjalan mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya. Begitu melihat seorang gadis remaja yang sedang berdiri sambil menyesap kopi hangat di depannya. Shinhye berlari menghampiri gadis itu. Shinhye mengatakan kejadian memprihatinkan yang sedang menimpanya saat ini. Dia berharap gadis ini mau membantunya. Awalnya gadis ini terlihat curiga dengan tingkah Shinhye. Dia takut Shinhye adalah seorang pencopet yang sedang berakting. Karena Shinhye yang terus berusaha meyakinkannya, gadis itu pun akhirnya terenyuh mendengar keadaan memprihatinkan Shinhye. Dia akhirnya membolehkan Shinhye menahan bis tujuan Shinye dan membayar ongkos bis dengan kartu penumpangnya sendiri. Selang beberapa menit bis Shinhye berlalu, Yonghwa tiba di halte bis yang sama. Dengan tergesa-gesa, dia keluar dari dalam mobil dan mencari-cari keberadaan Shinhye. Hampir semua pelosok ditelusurinya, tapi Shinhye tidak juga dia temui. Dengan rasa khawatir, dia memencet nomor Shinhye, tapi yang menjawab malah Jiwon, dengan kabar berita Shinhye belum pulang. Yonghwa benar-benar bingung apa yang harus dia perbuat. Dia terus mencari Shinhye di jalanan, tapi bayangan gadis itu pun tidak dilihatnya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah Shinhye, siapa tahu gadis itu sudah pulang. Begitu tiba di depan pagar rumah Shinhye, ternyata pagarnya masih terkunci dari luar. Yang menandakan bahwa pemilik rumahnya belum pulang. Akhirnya Yonghwa memutuskan untuk menunggu Shinhye di depan pagar rumah Shinhye. Kadang-kadang dia duduk berjongkok, lalu kemudian bangkit berdiri dan melongok ke arah jalanan mencari sosok Shinhye.
Di balik pagar rumah tetangga, seorang gadis sedang berdiri mengintip Yonghwa dengan perasaan yang bercampur aduk antara marah, sedih dan kasihan. Marah karena dia harus membungkuk meminta belas kasihan pada orang yang tidak dikenalnya. Sedih karena dia ditinggal sendiri di halte bis kota Incheon. Tapi ada juga rasa kasihan karena melihat Yonghwa yang sedang berjongkok di depan pagar rumahnya menanti kepulangannya. Gadis pengintip itu yang adalah Shinhye, akhirnya memutuskan untuk mengabari Yonghwa tentang keadaannya. Dia mengambil ponsel yang telah diambilnya dari Jiwon tadi dan mengirimkan pesan yang berisi: aku baik-baik saja. Dan sekarang sedang menginap di rumah Jiwon. Terima kasih karena sudah mencariku.
Setelah memastikan pesannya telah terkirim, secepat mungkin dia menonaktifkan ponselnya. Berjaga-jaga agar saat ditelepon Yonghwa, dia tidak perlu mengangkatnya. Ternyata prasangka Shinhye benar. Begitu membaca isi pesan Shinhye, Yonghwa terlihat menempelkan ponselnya di telinga, terlihat sedang menghubungi seseorang. Tapi karena nomor yang dia tuju sedang tidak aktif, maka dia kembali mematikan sambungan teleponnya. Yonghwa dengan wajah kusut masuk ke dalam mobilnya dan berjalan meninggalkan rumah Shinhye. Melihat Yonghwa yang sudah jauh dari peredaran, Shinhye kemudian berjalan ke rumahnya, membuka pagar dan masuk ke dalam rumahnya.

***
Keesokkan paginya, Shinhye masih marah atas kejadian kemarin. Dia memilih untuk mogok kerja sehari tanpa meminta ijin sebelumnya. Bahkan bila manajer akan memecatnya sekalipun, dia tidak peduli. Karena rasanya darahnya akan berdesir lebih cepat kalau melihat wajah Yonghwa juga sahabat manjanya itu, siapa lagi kalau bukan KIM YOO JIN. Dengan malas-malasan dia bangun mencuci muka, menyikat gigi, kemudian duduk di depan televisi dan menyalakan benda elektronik tersebut. Belum lama menikmati siaran TV, dia dikejutkan dengan bunyi nada dering ponselnya. Ditatapnya layar ponselnya, yang tertera di situ adalah nama Bos Jung. Yonghwa meneleponnya. Dia menggeser garis hijau pada layar dan menjawab panggilan tersebut. "Yeoboseyo.” Suaranya dibuat sepelan mungkin. “Aku sedang di perpustakaan kampus, jadi tidak bisa lama berbincang. Kututup teleponmu, ne?" Shinhye menutup panggilan dan kembali menikmati acara TV.
Sepuluh menit berlalu, masih nomor yang sama menghubunginya. Dengan kasar dia menggeser garis hijau pada layar ponselnya lagi. Tapi tetap saja dijawabnya panggilan tersebut dengan suara yang masih dibuat pelan. "Yeoboseyo. Aku tidak bisa..," ucapnya sok lembut.
"Gotjimal!" potong Yonghwa "Aku sedang di perpustakaan kampus. Kau ada di mana sekarang?"
"Eoh?" Shinhye tersentak karena ternyata Yonghwa ada di kampus. Dikiranya Yonghwa sedang di restaurant, oleh karena itu dia membohongi Yonghwa kalau dia di kampus sekarang. "Kau sudah di perpustakaan? Eoh, sepertinya kita berselisihan jalan. Sekarang aku sudah naik bus hendak pulang."
"Hari ini datanglah ke restaurant, karena ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."
"Apa itu?" tanya Shinhye sekenanya. Bahkan tidak penasaran sekalipun. Dia hanya sudah terbiasa mendengar Yonghwa mengatakan ‘hal penting’ yang setelah didengarkan, hal itu malah terdengar sangat biasa di telinganya.
"Kututup teleponmu yah, karena aku sedang di perpustakaan sekarang?" Yonghwa membalas Shinhye dengan menyalin kalimat Shinhye tadi. Dia kemudian mengakhiri panggilannya. Dengan tersenyum dia menyakukan ponselnya di saku celananya, menginjak pedal gas dan meninggalkan kampusnya.

Keduanya berbohong tentang keberadaan mereka.

TO BE CONTINUED




[1] Panggilan akrab untuk kedua bersaudara Jonghyun dan Hyunwoo (LEE Jong HYUN dan LEE HYUN Woo).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar