"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 12

Minggu, 17 Juli 2016

Rain of Autumn Part 12

Part 12



JeResto
Shinhye datang ke restaurant dengan keterpaksaan. Begitu tiba, manager Yoo langsung menyuruhnya masuk ke ruangan Yonghwa. Seperti instruksi yang diberikan, dia mengikutinya. Dengan tampang kusut, dia membuka kenop pintu ruangan Yonghwa. Dan mendapati Yonghwa juga Jonghyun sedang duduk mengobrol di dalamnya. Shinhye masuk dan menyapa keduanya.
"Kau sudah datang?" tanya Yonghwa retoris. "Masuklah, jangan berdiri di depan pintu saja!" pintanya yang juga masih retoris, karena Shinhye sudah melaksanakannya duluan.
“Hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Shinhye yang tentu saja pertanyaan itu ditujukan untuk Yonghwa. Karena Yonghwa yang meneneleponnya tadi.
"Aku keluar sebentar." Yonghwa tidak menjawab tapi malah pamit pada Jonghyun dan Shinhye.
Eoh.” Shinhye gelagapan melihat Yonghwa yang malah berjalan meninggalkannya. Bukankah Yonghwa yang meneleponnya karena ingin membicarakan hal penting dengannya. Lantas kenapa Yonghwa malah ingin meninggalkannya bersama Jonghyun.
“Jangan menghindar dari masalahmu,” ujar Yonghwa sedikit memberi saran pada Shinhye.
Begitu Yonghwa hendak keluar, Shinhye sempat menatapnya seperti meminta diselamatkan dari pertemuan dengan Jonghyun saat ini. Tapi Yonghwa malah mengacuhkannya dan tetap pergi meninggalkannya. Shinhye tahu betul, apa maksud Jonghyun ingin bicara dengannya. Setelah Yonghwa keluar, pelan-pelan Shinhye maju dan duduk di atas sofa yang sama dengan yang diduduki Jonghyun. Kini hanya beberapa jengkal tangan yang memisahkan jarak mereka. Dilihatnya, Jonghyun hanya diam dan menatap ke luar jendela dengan ekspresi datar. Shinhye ingin sekali memecahkan keheningan ini, tapi entah kenapa mulutnya sepertinya tak mau terbuka. Tak berani memulai percakapan, Shinhye malah memilih untuk memainkan jemarinya.
Selang menit berganti, wajah dengan ekspresi datar itu akhirnya membuka pembicaraan. "Oraemanieyo," sapanya yang benar-benar menusuk di kulit lapisan terakhir Shinhye. Sapaan yang seakan menyatakan bahwa lebih dari seminggu tak bertemu Shinhye rasanya seperti bertahun-tahun. "Eottokhae Jhinaeseo–bagaimana kabarmu?"
"Jhal Jhinaeseo–baik-baik saja," jawab Shinhye singkat. Dia menunduk berusaha menghindari kontak mata  sambil memasang telinga baik-baik.
"Bab meogeosseo–sudah makan?"
Shinhye hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
Untuk saat ini, sepertinya Jonghyun belum siap untuk bertanya pada intinya. Sehingga pertanyaan-pertanyaan kecil saja yang bisa dia utarakan dari tadi. Jonghyun menghela nafas dan menghembuskannya. Sesekali dia melongok ke luar jendela. Beberapa menit dia melakukan kegiatan yang sama, sampai akhirnya dia terlihat siap untuk menanyakan pertanyaan yang dari tadi tersimpan di pikirannya.
"Apa kau sangat sibuk? Beberapa hari ini kita tak pernah bertemu lagi. Aku terus menghubungimu tapi kau tak pernah menjawab panggilanku. Apa aku membuat kesalahan besar padamu?"
Apa kau baru menyadarinya? Kesalahanmu sangat besar padaku. Kau berulang kali mengabaikanku dan tak pernah menyadarinya. Maaf. Minta maaflah padaku. Katakan bahwa kau bersalah dan tak akan mengulanginya. Setelah itu, aku dengan senang hati akan menganggap bahwa kita tidak pernah ada masalah. Kau tahu, sampai detik ini aku telah berusaha melupakanmu. Dan kurasa usahaku hampir berhasil. Setelah kau minta maaf, aku akan menganggap seakan-akan perasaanku padamu tak pernah ada sebelumnya,” ujar Shinhye dalam hati. Mengingat setiap kisah pahit yang dialaminya karena pengabaian Jonghyun membuat Shinhye merasakan sesak di dadanya. Gadis itu menelan ludah, menolak mempelihatkan dirinya yang lemah.
“Aku benar-benar tidak tahu apa kesalahanku padamu. Tapi aku tetap ingin mengatakan, sungguh aku minta maaf padamu, Park Shin Hye-ssi.” Jonghyun menatap mata Shinhye dengan tatapan yang seakan membuat Shinhye ingin meruntuhkan tembok pertahanannya.
"Maaf, aku benar-benar sibuk mengurus kuliahku jadi tak bisa melaksanakan tugasku sebagai asistenmu." Shinhye berdalih.
"Apa kau benar-benar tidak punya waktu luang untuk sehari saja menemuiku? Ada begitu banyak hal yang ingin kubagikan padamu? Kuharap kau mau menyisakan waktumu untuk beberapa jam saja bertemu denganku." Kalimat-kalimat Jonghyun lebih terdengar membujuk.
Aku tahu, semua hal yang ingin kau bagikan denganku itu adalah kisah-kisahmu dengan Jiwon, kan? Kisah bahagiamu dengannya. Aku tahu semuanya, Lee Jong Hyun-ssi. Apa kau bisa tidak melibatkanku dalam hubunganmu? Aku lelah harus menjadi orang ketiga. Oleh karena itu, aku berupaya melupakanmu. Dan aku tak mau usahaku ini sia-sia karena kau. Aku benar-benar ingin menghapusmu dari hatiku. Jadi aku mohon, tolong jangan libatkan aku dalam hubunganmu lagi.” Bibir Shinhye tak menjawab tapi malah hatinya yang menjawab.
“Kau mau kan menyisakan waktumu untukku?" Jonghyun mengulangi kalimatnya.
Pertanyaan Jonghyun akhirnya membuat Shinhye memilih untuk lebih baik bicara sebenarnya daripada hanya menyimpannya dalam hati, dan akhirnya malah membuat Jonghyun tetap berharap. "Jonghyun-ssi, aku benar-benar minta maaf. Tapi aku rasa sebaiknya kita tidak perlu lagi meneruskan kerjasama kita. Aku perlu fokus pada mata kuliahku. Oleh karena itu, aku..."
"Kau serius ingin berhenti bekerja?" potong Jonghyun berusaha mencari kebenaran di balik mata Shinhye.
Shinhye mengangguk meyakinkan.
“Tapi…” Jonghyun terlihat berat melepaskan Shinhye. Shinhye adalah satu-satunya teman yang saat ini sangat ia percaya. Dan tidak mudah baginya mendengar kalimat perpisahan gadis itu.
Jeongmal jeosonghamnida, Lee Jong Hyun-ssi. Aku hanya tidak bisa fokus pada kuliahku karena harus bekerja di dua tempat yang berbeda. Oleh karena itu akan lebih baik kalau aku melepaskan salah satu pekerjaanku,” kilah Shinhye. “Jeosonghamnida.” Sebenarnya melakukan dua pekerjaan ini tidak dirasanya terlalu sulit. Dia hanya tidak ingin terus berlarut menyukai Jonghyun dan akhirnya malah tidak bisa melupakan Jonghyun.
"Aku akan merasa sangat kehilanganmu, Park Shin Hye-ssi. Aku sungguh telah mempercayaimu. Tapi, aku rasa kau benar. Kuliahmu memang lebih penting. Namun suatu saat kalau kau ingin bekerja kembali denganku. Jangan pernah sungkan untuk melakukannya. Dengan bahagia aku akan menerimamu kembali." Jonghyun berkata dengan kesungguhan yang mampu menyita seluruh perhatian Shinhye.
Saat itu hati Shinhye terusik karena perkataan manis Jonghyun. Shinhye seakan menyesal dengan keputusannya tadi. Tapi apa boleh dikata, keputusannya sudah bulat. Dia tidak boleh terlena oleh tatapan dan kalimat-kalimat manis Jonghyun. Semua itu hanya akan merombak keputusan yang telah diambilnya.
Jonghyun kemudian membisu lama. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi selain menerima keputusan Shinhye.
"Apa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi?" Shinhye ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan ini. Karena dia takut nantinya dia malah akan berubah pikiran kalau terus melihat rautan kekecewaan dari wajah Jonghyun.
Jonghyun yang tadinya membisu, kini menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"Kau boleh keluar." Jonghyun berusaha menampilkan wajah setengah sumringah. Tapi perubahan air mukanya jelas sekali menampakan kekecewaan.
Keureom–permisi.” Shinhye pamit dan berjalan keluar meninggalkan Jonghyun.
Jonghyun masih duduk terdiam sambil menatap ke arah Shinhye yang telah pergi meninggalkannya.
Shinhye berlalu dari ruang kerja Yonghwa. Dalam hatinya dia sungguh merasakan suatu kelegaan yang membuatnya terus tersenyum lebar. Keputusannya melupakan Jonghyun sungguh adalah keputusan terbaik yang telah diambilnya. Dan dia tidak akan pernah menyesalinya. Mulai hari ini semua urusannya dengan Jonghyun telah diselesaikan.


***
Semenjak Shinhye memutuskan untuk berhenti bekerja pada Jonghyun, setiap kali dia dan Jonghyun berpapasan wajah, tidak ada kalimat yang mereka ucapkan selain membungkuk dan tersenyum. Di pihak Shinhye, dia merasa malu untuk mengajak Jonghyun bicara sejak dia merasa bahwa Jonghyun benar-benar merasa kecewa dan belum menemukan penggantinya semenjak ia memutuskan berhenti bekerja. Sedang Jonghyun sendiri, setiap kali ingin mengajak Shinhye bicara, Shinhye malah terlihat menghindarinya. Jadi dia sendiri bingung harus bicara atau tidak?
"Kudengar kau tidak lagi bekerja pada Jonghyun oppa?" sambut Jiwon ketika tiba di kamar ganti karyawan wanita pada Shinhye yang terlihat sibuk merapikan seragam restaurant-nya.
"Jonghyun yang memberitahumu?" tanya Shinhye retoris.
"Wae?" Jiwon balik bertanya untuk mendapat jawaban dari pertanyaan pertamanya.
Shinhye akhirnya memilih mengalah dan menjawab pertanyaan Jiwon. "Kau lihat sendiri kan jadwal kuliah kita semakin padat. Dan aku rasa untuk sementara, aku harus resign dulu dari salah satu pekerjaanku," ucap gadis yang hebat berdalih ini.
"Kau tidak berpikiran bahwa aku yang keberatan kalau kau bekerja pada Jonghyun, kan?"
Shinhye hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Shinhye, aku berani bersumpah kalau aku tidak keberatan kau bekerja dengan..."
"Dwaesseo–sudahlah. Bukan itu alasannya. Jinsimiya–sungguh," sambar Shinhye. "Aku benar-benar hanya ingin fokus pada kuliah dan satu pekerjaan. Itu saja."
Jiwon tidak merespon dan masih terdiam.
"Aku serius, Kim-ssi." Shinhye mencoba meyakinkan Jiwon.
"Benarkah, bukan karena aku penyebabnya?" Tanya Jiwon dengan raut wajah menyelidik.
"BENAR," teriak Shinhye di telinga Jiwon yang membuat gadis manis itu terlihat mengeluh karena telinganya yang mendengung. "Sekarang berhentilah berpikiran masokis dan kembalilah bekerja. Ka!"
Shinhye dan Jiwon kembali bekerja. Dan ketika semua karyawan sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Yoojin masuk ke restaurant. Saat itu, dengan sikap cueknya dia mengacuhkan semua karyawan yang menyapanya dan malah dengan lenggangnya menapaki tangga menuju ruangan Yonghwa. Di sela-sela tapak kakinya, Shinhye dengan cermat memerhatikan gaya berpakaian wanita itu. Bajunya adalah sejenis capes yaitu baju yang memperlihatkan seluruh bahunya. Sedangkan roknya adalah rok mini ketat untuk memperlihatkan tubuhnya yang ramping. Sangat jelas terlihat bahwa gadis itu ingin menimbulkan kesan seksi pada dirinya. Kadang-kadang Shinhye merasa iri dengan tubuh gadis ini. Berharap suatu saat dia juga bisa memiliki tubuh seperti itu. Mengingat perkataan Hyunwoo dulu, bahwa pria cenderung menyukai wanita dengan tampilan seksi.
"Ah.. micheosseo, micheosseo." Shinhye menampis khayalan bodohnya. “Kau sangat jauh dari kesan seksi, Park Shin Hye,” katanya yang kemudian memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.   

Ruang kerja Yonghwa.
Annyeong!” sapa Yoojin yang kemudian masuk ke ruang kerja Yonghwa dan duduk di atas sofa mini yang letaknya di samping meja kerja Yonghwa.
"Kau sibuk?" tanyanya membuka pembicaraan.
"Seperti yang kau lihat. Aku harus menyelesaikan tesisku dalam beberapa bulan terakhir ini. Kenapa kau bertanya hal itu?" ujar Yonghwa yang masih fokus pada laptopnya.
"Aku hanya ingin jalan-jalan denganmu, dan memilih kostum untuk timku di malam peresmian butik baruku."
“Kapan peresmian butikmu?” tanya Yonghwa tanpa mengalihkan pandangan dari laptop-nya.
“Seminggu lagi. Ayolah temani aku berbelanja sebentar.” Yoojin menggelendot manja pada Yonghwa.
"Saat ini aku benar-benar tidak bisa menemanimu. Kau pergilah sendiri, Yoojin-ah. Aku yakin kau bisa memilihnya sendiri."
"Yonghwa-ya, apa kau setega itu membiarkanku berbelanja di kota yang sudah banyak perubahan ini?” Yoojin terus memaksa dengan kata-kata rayuannya.
“Yoojin-ah, aku benar-benar harus menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin.” Yonghwa tetap bersikukuh untuk menyelesaikan pekerjaannya dan tidak berniat menemani Yoojin. Bukan karena dia ingin mengacuhkan Yoojin, hanya dia benar-benar tidak ingin konsentrasinya terganggu.
“Apa kau tidak takut aku akan tersesat nanti?"
Yonghwa diam dan terlihat memikirkan sesuatu. Beberapa menit kemudian dia keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Yoojin yang bingung karena tiba-tiba diacuhkan.
Begitu tiba di lantai satu restaurant, Yonghwa terlihat celingak-celinguk mencari seseorang. Begitu didapatinya orang tersebut, Yonghwa berjalan mendekatinya dan berkata, "Kau ikut aku ke atas," ujarnya skeptis.
Orang yang diperintah, tanpa banyak protes kemudian mengikuti langkah Yonghwa ke ruang kerja Yonghwa. Begitu Yonghwa dan dia masuk, dengan jelas dia dan Yoojin langsung saling menatap. Yoojin mulai menatapnya dari atas ke bawah, merasa bahwa kedatangannya di tempat ini sangat mengganggu.
"Apa jadwalmu padat hari ini?" Yonghwa bertanya pada sosok yang dipangilnya tadi.
Orang yang ditanya hanya menggeleng.
"Yoojin-ah, kau tidak akan tersesat dengannya," kata Yonghwa dengan tangannya menyentuh pundak orang yang dipanggilnya itu.
"Mworagoya?" kata Yoojin dan orang itu bersamaan dengan mata yang membelalak.
"Jung Yong Hwa, apa kau sudah gila? Aku tidak mau pergi kalau harus dengannya," bantah Yoojin.
"Kudengar kau hobi berbelanja." Yonghwa tidak peduli dengan bantahan Yoojin. "Aku rasa kau dan Yoojin bisa bekerja sama dalam hal ini. Iya kan, Kim Ji Won-ssi?"
Jiwon tidak menjawab. Lebih tepatnya dia bingung apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Yoojin-ah, aku rasa kau bisa pergi bersama dengannya," tawar Yonghwa yang lebih berupa suruhan.
"Micheosseo?" sela Yoojin. "Kenapa aku harus pergi dengan seseorang seperti dia?"
Seseorang seperti dia? Apa maksudnya?” gerutu Jiwon dalam hati.
“Kau bisa pergi dengannya. Aku yakin dia tahu betul tempat berbelanja di Seoul,” ujar Yonghwa sedikit membela Jiwon.
“Tapi, tempat berbelanjanya pasti berbeda denganku,” kata Yoojin dengan nada tak senang.
Jiwon mendengus dalam hati karena mendengar kalimat Yoojin yang sadis. Mulut Jiwon terkatup. Di dalamnya gigi-giginya sedang beradu, sehingga menimbulkan bunyi yang berdecit. Itu berarti dia benar-benar dalam puncak kemarahannya, karena untuk pertama kalinya dia diremehkan oleh orang yang tidak begitu mengenalnya.
“Terserah anda mau pergi denganku atau tidak. Aku yakin meski tanpa kehadiranku pun, anda bisa,” balas Jiwon enteng. Setelah hanya bisa menggertakan gerahamnya tadi, akhirnya Jiwon mampu berbicara membalas perkataan Yoojin. "Anda bukan anak kecil lagi yang harus bergantung pada orang yang lebih tua kan, Kim Yoo Jin-ssi?" Jiwon terlihat puas saat mengatakan hal ini.
"Mwo? Mworagoya?" Yoojin mendengus kesal mendengar kelancangan pelayan Yonghwa terhadap dirinya. Dia terlihat mengambil napas sebelum melancarkan aksi serangan balik. "Jangan pernah membawaku ke pasar loakkan,” kata Yoojin melontarkan kalimat remehan. “Karena itu bukan levelku."
“Kalau kalian setuju untuk pergi bersama, kalian boleh pergi meninggalkan ruangan ini.” Yonghwa memotong pembicaraan mereka sebelum meledak menjadi pertengkaran yang tak berujung pangkal.
"Tentu saja. Kajja!" seruduk Jiwon belum mau mengalah. "Aku tertarik ingin melihat level berbelanjamu, desainer Kim Yoo Jin-ssi."


***
"Aku akan menginap di sini," seruduk Jiwon begitu Shinhye membuka pintu pagarnya.
"Eolgeuri wae keurae–ada apa dengan wajahmu?" Shinhye bertanya karena melihat wajah Jiwon yang tertekuk. “Apa ada sesuatu yang salah?”
Jiwon tidak menjawab malah berjalan masuk ke rumah Shinhye, menuju kulkas dan mengambil air di dalamnya untuk dituangkan ke dalam gelas putih yang dipegangnya. "Omo, penyihir itu benar-benar jahat." Jiwon mengipas-ngipas wajahnya dengan kedua tangannya.
Shinhye mengangguk-angguk seakan mengerti, kemudian berkata, "Dongeng apa yang kau tonton? Putri Tidur? Rapunzel? Ah.. pasti Putri Salju."
"Geumanhae–hentikan!” sergah Jiwon “Yang kubicarakan sekarang adalah penyihir dalam kehidupan nyata."
"Omo, benarkah ada penyihir di kehidupan nyata? Seperti apa rupanya? Apa dia menggunakan tongkat? Wajahnya keriput? Giginya ompong? Atau? Ah.. aku benar-benar penasaran?" tanya Shinhye pura-pura polos. Meski sebenarnya dia hanya ingin menggoda sahabatnya ini.
"Utjima–jangan tertawa!” keluh Jiwon melihat sahabatnya yang malah menertawakannya.  “Penyihir jaman sekarang rupanya benar-benar mirip seperti peri. Wajahnya saja yang terlihat seperti peri. Tapi hatinya. Cis! KIM YOO JIN, napeun gijibeya!" seru Jiwon kesal.
“Kim Yoo Jin? Apa maksudmu Kim Yoo Jin teman bos kita ini?” ujar seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Jiwon berbalik mencari asal suara itu. “Hyejoon eonnie? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku hanya ingin mengunjungi Shinhye. Sudah lama tidak ke rumah ini,” balas Hyejoon sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Apa kau baru saja mengatakan kalau kau tidak menyukai Kim Yoo Jin? Ah.. kita punya satu orang lagi yang membenci dia.”
Eonnie, apa kau juga tidak menyukai Kim Yoo Jin?” ujar Jiwon penasaran.
“Bukan hanya aku. Shinhye bahkan kau pun tidak menyukainya.”
“Shinhye?” tanya Jiwon kaget dengan kenyataan bahwa Shinhye juga tidak menyukai Yoojin. “Kau juga tidak menyukainya?” Jiwon berbalik menatap Shinhye.
Shinhye mengangguk. “Aku tidak suka kalau dia mulai meremehkan orang.”
“Meremehkan? Bukan hanya aku saja yang diremehkan? Kalian juga?” Jiwon tertawa lega mendengar kenyataan pahit yang ternyata bukan hanya dia saja yang mengalaminya. Tapi sahabat dan eonnie kenalannya ini pun mengalami hal yang sama-sama dengannya.


JeResto.
Pagi ini, Shinhye, Jiwon dan Hyejoon duduk menikmati sarapan pagi mereka di ruang karyawan wanita. Seperti kebiasaan wanita pada umumnya, kalau sedang duduk makan pasti ada saja nama seseorang yang dijadikan bahan gosipan.
Eoh, kalian ingat pertama kali dia datang ke JeResto?” tanya Hyejoon dengan sandwich yang memenuhi isi mulutnya.
Jiwon mengangguk.
“Saat itu dia benar-benar seperti seorang peri. Aku bahkan sempat mengagumi kecantikan dan perangainya.” Masih Hyejoon yang bicara.
Nado,” timpal Jiwon. “Dia melenggak-lenggok ke sana kemari menyapa semua karyawan dengan senyuman manisnya. Tapi ternyata semua itu palsu.”
“Aku baru menyadari bahwa perangainya tidak sebaik yang dia tunjukkan di depan Bos. Ketika, kalian ingat saat pertama kali dia datang dan saat itu bos meninggalkanmu di Incheon?” Tunjuk Hyejoon pada Shinhye.
Bayangan dirinya yang ditinggalkan Yonghwa di halte bis kota Incheon kembali berkelabat di pikiran Shinhye. “Aku akan mengingat kejadian itu sampai mati. Bahkan saat aku direinkarnasi kembali pun aku akan tetap mengingatnya.” Shinhye terlihat keki saat mengingat kembali kejadian itu.
“Saat bos meninggalkan restaurant, penyihir itu mendatangiku dan berkata, ke mana Yonghwa?” Hyejoon mulai mempraktikkan cara bicara Yoojin yang terkesan manja itu. “Aku bilang kalau bos sedang ke Incheon menjemput Shinhye karena dompet dan ponsel Shinhye tertinggal di sini. Dia kemudian berkata, ah.. membuat repot saja. Saat itu juga aku ingin mencakarnya, karena dia tidak bisa peka dengan penderitaan orang.” Hyejoon terlihat mengehembuskan nafas saking berapi-apinya dia dalam bercerita. “Apalagi dia selalu sibuk mengomentari gaya berpakaianku. Kata-katanya itu seperti belati menikam jantungku. Katanya aku terlihat seperti ahjumma kalau menggunakan busana itu. Atau aku tidak tahu cara berpenampilan.” Hyejoon sesekali mendengus kesal kemudian berkata, “Dapdapae.”
“Dia sangat membanggakan dirinya yang kuliah fashion itu, sehingga selalu meremehkan orang lain.” Jiwon ikut setuju karena nasib yang sama dialami dia dan Hyejoon. “Kalian tahu apa yang dia lakukan padaku kemarin siang?”
Hyejoon dan Shinhye menggeleng. Jiwon kemudian mulai bercerita setiap detail perbuatan Yoojin padanya kemarin siang.

  

To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar