Part 12
JeResto
Shinhye
datang ke restaurant dengan
keterpaksaan. Begitu tiba, manager
Yoo langsung menyuruhnya masuk ke ruangan Yonghwa. Seperti instruksi yang
diberikan, dia mengikutinya. Dengan tampang kusut, dia membuka kenop pintu
ruangan Yonghwa. Dan mendapati Yonghwa juga Jonghyun sedang duduk mengobrol di
dalamnya. Shinhye masuk dan menyapa keduanya.
"Kau
sudah datang?" tanya Yonghwa retoris. "Masuklah, jangan berdiri di
depan pintu saja!" pintanya yang juga masih retoris, karena Shinhye sudah
melaksanakannya duluan.
“Hal
penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Shinhye yang tentu saja
pertanyaan itu ditujukan untuk Yonghwa. Karena Yonghwa yang meneneleponnya
tadi.
"Aku
keluar sebentar." Yonghwa tidak menjawab tapi malah pamit pada Jonghyun
dan Shinhye.
“Eoh.” Shinhye gelagapan melihat Yonghwa
yang malah berjalan meninggalkannya. Bukankah Yonghwa yang meneleponnya karena
ingin membicarakan hal penting dengannya. Lantas kenapa Yonghwa malah ingin meninggalkannya
bersama Jonghyun.
“Jangan
menghindar dari masalahmu,” ujar Yonghwa sedikit memberi saran pada Shinhye.
Begitu
Yonghwa hendak keluar, Shinhye sempat menatapnya seperti meminta diselamatkan
dari pertemuan dengan Jonghyun saat ini. Tapi Yonghwa malah mengacuhkannya dan
tetap pergi meninggalkannya. Shinhye tahu betul, apa maksud Jonghyun ingin
bicara dengannya. Setelah Yonghwa keluar, pelan-pelan Shinhye maju dan duduk di
atas sofa yang sama dengan yang diduduki Jonghyun. Kini hanya beberapa jengkal
tangan yang memisahkan jarak mereka. Dilihatnya, Jonghyun hanya diam dan
menatap ke luar jendela dengan ekspresi datar. Shinhye ingin sekali memecahkan
keheningan ini, tapi entah kenapa mulutnya sepertinya tak mau terbuka. Tak
berani memulai percakapan, Shinhye malah memilih untuk memainkan jemarinya.
Selang
menit berganti, wajah dengan ekspresi datar itu akhirnya membuka pembicaraan. "Oraemanieyo," sapanya yang
benar-benar menusuk di kulit lapisan terakhir Shinhye. Sapaan yang seakan
menyatakan bahwa lebih dari seminggu tak bertemu Shinhye rasanya seperti bertahun-tahun.
"Eottokhae Jhinaeseo–bagaimana
kabarmu?"
"Jhal
Jhinaeseo–baik-baik saja," jawab Shinhye singkat. Dia
menunduk berusaha menghindari kontak mata sambil memasang telinga baik-baik.
"Bab
meogeosseo–sudah makan?"
Shinhye
hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
Untuk
saat ini, sepertinya Jonghyun belum siap untuk bertanya pada intinya. Sehingga
pertanyaan-pertanyaan kecil saja yang bisa dia utarakan dari tadi. Jonghyun
menghela nafas dan menghembuskannya. Sesekali dia melongok ke luar jendela.
Beberapa menit dia melakukan kegiatan yang sama, sampai akhirnya dia terlihat
siap untuk menanyakan pertanyaan yang dari tadi tersimpan di pikirannya.
"Apa
kau sangat sibuk? Beberapa hari ini kita tak pernah bertemu lagi. Aku terus
menghubungimu tapi kau tak pernah menjawab panggilanku. Apa aku membuat
kesalahan besar padamu?"
“Apa kau baru menyadarinya? Kesalahanmu sangat besar padaku. Kau
berulang kali mengabaikanku dan tak pernah menyadarinya. Maaf. Minta maaflah padaku. Katakan bahwa
kau bersalah dan tak akan mengulanginya. Setelah itu, aku dengan senang hati akan menganggap bahwa kita tidak pernah
ada masalah. Kau tahu, sampai detik ini aku telah berusaha melupakanmu. Dan
kurasa usahaku hampir berhasil. Setelah kau minta maaf, aku akan menganggap
seakan-akan perasaanku padamu tak pernah ada sebelumnya,” ujar Shinhye
dalam hati. Mengingat setiap kisah pahit yang dialaminya karena pengabaian
Jonghyun membuat Shinhye merasakan sesak di dadanya. Gadis itu menelan ludah,
menolak mempelihatkan dirinya yang lemah.
“Aku
benar-benar tidak tahu apa kesalahanku padamu. Tapi aku tetap ingin mengatakan,
sungguh aku minta maaf padamu, Park Shin Hye-ssi.” Jonghyun menatap mata Shinhye dengan tatapan yang seakan
membuat Shinhye ingin meruntuhkan tembok pertahanannya.
"Maaf,
aku benar-benar sibuk mengurus kuliahku jadi tak bisa melaksanakan tugasku
sebagai asistenmu." Shinhye berdalih.
"Apa
kau benar-benar tidak punya waktu luang untuk sehari saja menemuiku? Ada begitu
banyak hal yang ingin kubagikan padamu? Kuharap kau mau menyisakan waktumu
untuk beberapa jam saja bertemu denganku." Kalimat-kalimat Jonghyun lebih
terdengar membujuk.
“Aku tahu, semua hal yang ingin kau bagikan
denganku itu adalah kisah-kisahmu dengan Jiwon, kan? Kisah bahagiamu
dengannya. Aku tahu semuanya, Lee
Jong Hyun-ssi. Apa kau bisa tidak
melibatkanku dalam hubunganmu? Aku
lelah harus menjadi orang ketiga. Oleh karena itu, aku berupaya melupakanmu.
Dan aku tak mau usahaku ini sia-sia karena kau. Aku benar-benar ingin menghapusmu
dari hatiku. Jadi aku mohon, tolong jangan libatkan aku dalam hubunganmu lagi.”
Bibir Shinhye tak menjawab tapi malah hatinya yang menjawab.
“Kau
mau kan menyisakan waktumu untukku?" Jonghyun mengulangi kalimatnya.
Pertanyaan
Jonghyun akhirnya membuat Shinhye memilih untuk lebih baik bicara sebenarnya
daripada hanya menyimpannya dalam hati, dan akhirnya malah membuat Jonghyun
tetap berharap. "Jonghyun-ssi,
aku benar-benar minta maaf. Tapi aku rasa sebaiknya kita tidak perlu lagi meneruskan
kerjasama kita. Aku perlu fokus pada mata kuliahku. Oleh karena itu,
aku..."
"Kau
serius ingin berhenti bekerja?" potong Jonghyun berusaha mencari kebenaran
di balik mata Shinhye.
Shinhye
mengangguk meyakinkan.
“Tapi…”
Jonghyun terlihat berat melepaskan Shinhye. Shinhye adalah satu-satunya teman
yang saat ini sangat ia percaya. Dan tidak mudah baginya mendengar kalimat
perpisahan gadis itu.
“Jeongmal jeosonghamnida, Lee Jong Hyun-ssi. Aku hanya tidak bisa fokus pada
kuliahku karena harus bekerja di dua tempat yang berbeda. Oleh karena itu akan
lebih baik kalau aku melepaskan salah satu pekerjaanku,” kilah Shinhye. “Jeosonghamnida.” Sebenarnya melakukan
dua pekerjaan ini tidak dirasanya terlalu sulit. Dia hanya tidak ingin terus
berlarut menyukai Jonghyun dan akhirnya malah tidak bisa melupakan Jonghyun.
"Aku
akan merasa sangat kehilanganmu, Park Shin Hye-ssi. Aku sungguh telah mempercayaimu. Tapi, aku rasa kau benar.
Kuliahmu memang lebih penting. Namun suatu saat kalau kau ingin bekerja kembali
denganku. Jangan pernah sungkan untuk melakukannya. Dengan bahagia aku akan
menerimamu kembali." Jonghyun berkata dengan kesungguhan yang mampu
menyita seluruh perhatian Shinhye.
Saat
itu hati Shinhye terusik karena perkataan manis Jonghyun. Shinhye seakan menyesal
dengan keputusannya tadi. Tapi apa boleh dikata, keputusannya sudah bulat. Dia
tidak boleh terlena oleh tatapan dan kalimat-kalimat manis Jonghyun. Semua itu
hanya akan merombak keputusan yang telah diambilnya.
Jonghyun
kemudian membisu lama. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi selain menerima
keputusan Shinhye.
"Apa
tidak ada yang perlu dibicarakan lagi?" Shinhye ingin cepat-cepat
mengakhiri percakapan ini. Karena dia takut nantinya dia malah akan berubah
pikiran kalau terus melihat rautan kekecewaan dari wajah Jonghyun.
Jonghyun
yang tadinya membisu, kini menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"Kau
boleh keluar." Jonghyun berusaha menampilkan wajah setengah sumringah.
Tapi perubahan air mukanya jelas sekali menampakan kekecewaan.
“Keureom–permisi.” Shinhye pamit dan
berjalan keluar meninggalkan Jonghyun.
Jonghyun
masih duduk terdiam sambil menatap ke arah Shinhye yang telah pergi
meninggalkannya.
Shinhye
berlalu dari ruang kerja Yonghwa. Dalam hatinya dia sungguh merasakan suatu kelegaan
yang membuatnya terus tersenyum lebar. Keputusannya melupakan Jonghyun sungguh
adalah keputusan terbaik yang telah diambilnya. Dan dia tidak akan pernah
menyesalinya. Mulai hari ini semua urusannya dengan Jonghyun telah
diselesaikan.
***
Semenjak
Shinhye memutuskan untuk berhenti bekerja pada Jonghyun, setiap kali dia dan
Jonghyun berpapasan wajah, tidak ada kalimat yang mereka ucapkan selain
membungkuk dan tersenyum. Di pihak Shinhye, dia merasa malu untuk mengajak
Jonghyun bicara sejak dia merasa bahwa Jonghyun benar-benar merasa kecewa dan
belum menemukan penggantinya semenjak ia memutuskan berhenti bekerja. Sedang
Jonghyun sendiri, setiap kali ingin mengajak Shinhye bicara, Shinhye malah terlihat
menghindarinya. Jadi dia sendiri bingung harus bicara atau tidak?
"Kudengar
kau tidak lagi bekerja pada Jonghyun oppa?"
sambut Jiwon ketika tiba di kamar ganti karyawan wanita pada Shinhye yang
terlihat sibuk merapikan seragam restaurant-nya.
"Jonghyun
yang memberitahumu?" tanya Shinhye retoris.
"Wae?" Jiwon balik bertanya untuk
mendapat jawaban dari pertanyaan pertamanya.
Shinhye
akhirnya memilih mengalah dan menjawab pertanyaan Jiwon. "Kau lihat
sendiri kan jadwal kuliah kita semakin padat. Dan aku rasa untuk sementara, aku
harus resign dulu dari salah satu pekerjaanku,"
ucap gadis yang hebat berdalih ini.
"Kau
tidak berpikiran bahwa aku yang keberatan kalau kau bekerja pada Jonghyun, kan?"
Shinhye
hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Shinhye,
aku berani bersumpah kalau aku tidak keberatan kau bekerja dengan..."
"Dwaesseo–sudahlah. Bukan itu alasannya. Jinsimiya–sungguh," sambar Shinhye.
"Aku benar-benar hanya ingin fokus pada kuliah dan satu pekerjaan. Itu
saja."
Jiwon
tidak merespon dan masih terdiam.
"Aku
serius, Kim-ssi." Shinhye
mencoba meyakinkan Jiwon.
"Benarkah,
bukan karena aku penyebabnya?" Tanya Jiwon dengan raut wajah menyelidik.
"BENAR,"
teriak Shinhye di telinga Jiwon yang membuat gadis manis itu terlihat mengeluh
karena telinganya yang mendengung. "Sekarang berhentilah berpikiran masokis
dan kembalilah bekerja. Ka!"
Shinhye
dan Jiwon kembali bekerja. Dan ketika semua karyawan sedang sibuk dengan
pekerjaan masing-masing, Yoojin masuk ke restaurant.
Saat itu, dengan sikap cueknya dia mengacuhkan semua karyawan yang menyapanya
dan malah dengan lenggangnya menapaki tangga menuju ruangan Yonghwa. Di
sela-sela tapak kakinya, Shinhye dengan cermat memerhatikan gaya berpakaian
wanita itu. Bajunya adalah sejenis capes yaitu baju yang memperlihatkan seluruh
bahunya. Sedangkan roknya adalah rok mini ketat untuk memperlihatkan tubuhnya
yang ramping. Sangat jelas terlihat bahwa gadis itu ingin menimbulkan kesan
seksi pada dirinya. Kadang-kadang Shinhye merasa iri dengan tubuh gadis ini.
Berharap suatu saat dia juga bisa memiliki tubuh seperti itu. Mengingat perkataan
Hyunwoo dulu, bahwa pria cenderung menyukai wanita dengan tampilan seksi.
"Ah.. micheosseo,
micheosseo." Shinhye menampis khayalan bodohnya. “Kau sangat jauh dari
kesan seksi, Park Shin Hye,” katanya yang kemudian memilih untuk melanjutkan
pekerjaannya.
Ruang
kerja Yonghwa.
“Annyeong!” sapa Yoojin yang kemudian masuk ke ruang kerja Yonghwa dan duduk
di atas sofa mini yang letaknya di samping meja kerja Yonghwa.
"Kau
sibuk?" tanyanya membuka pembicaraan.
"Seperti
yang kau lihat. Aku harus menyelesaikan tesisku dalam beberapa bulan terakhir
ini. Kenapa kau bertanya hal itu?" ujar Yonghwa yang masih fokus pada
laptopnya.
"Aku
hanya ingin jalan-jalan denganmu, dan memilih kostum untuk timku di malam
peresmian butik baruku."
“Kapan
peresmian butikmu?” tanya Yonghwa tanpa mengalihkan pandangan dari laptop-nya.
“Seminggu
lagi. Ayolah temani aku berbelanja sebentar.” Yoojin menggelendot manja pada
Yonghwa.
"Saat
ini aku benar-benar tidak bisa menemanimu. Kau pergilah sendiri, Yoojin-ah. Aku yakin kau bisa memilihnya
sendiri."
"Yonghwa-ya, apa kau setega itu membiarkanku
berbelanja di kota yang sudah banyak perubahan ini?” Yoojin terus memaksa
dengan kata-kata rayuannya.
“Yoojin-ah,
aku benar-benar harus menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin.” Yonghwa
tetap bersikukuh untuk menyelesaikan pekerjaannya dan tidak berniat menemani
Yoojin. Bukan karena dia ingin mengacuhkan Yoojin, hanya dia benar-benar tidak
ingin konsentrasinya terganggu.
“Apa
kau tidak takut aku akan tersesat nanti?"
Yonghwa
diam dan terlihat memikirkan sesuatu. Beberapa menit kemudian dia keluar dari
ruang kerjanya meninggalkan Yoojin yang bingung karena tiba-tiba diacuhkan.
Begitu
tiba di lantai satu restaurant,
Yonghwa terlihat celingak-celinguk mencari seseorang. Begitu didapatinya orang
tersebut, Yonghwa berjalan mendekatinya dan berkata, "Kau ikut aku ke
atas," ujarnya skeptis.
Orang
yang diperintah, tanpa banyak protes kemudian mengikuti langkah Yonghwa ke
ruang kerja Yonghwa. Begitu Yonghwa dan dia masuk, dengan jelas dia dan Yoojin
langsung saling menatap. Yoojin mulai menatapnya dari atas ke bawah, merasa
bahwa kedatangannya di tempat ini sangat mengganggu.
"Apa
jadwalmu padat hari ini?" Yonghwa bertanya pada sosok yang dipangilnya
tadi.
Orang
yang ditanya hanya menggeleng.
"Yoojin-ah, kau tidak akan tersesat dengannya,"
kata Yonghwa dengan tangannya menyentuh pundak orang yang dipanggilnya itu.
"Mworagoya?" kata Yoojin dan orang itu
bersamaan dengan mata yang membelalak.
"Jung
Yong Hwa, apa kau sudah gila? Aku tidak mau pergi kalau harus dengannya,"
bantah Yoojin.
"Kudengar
kau hobi berbelanja." Yonghwa tidak peduli dengan bantahan Yoojin.
"Aku rasa kau dan Yoojin bisa bekerja sama dalam hal ini. Iya kan, Kim Ji
Won-ssi?"
Jiwon
tidak menjawab. Lebih tepatnya dia bingung apa yang sebenarnya terjadi saat
ini.
"Yoojin-ah, aku rasa kau bisa pergi bersama
dengannya," tawar Yonghwa yang lebih berupa suruhan.
"Micheosseo?" sela Yoojin. "Kenapa
aku harus pergi dengan seseorang seperti dia?"
“Seseorang seperti dia? Apa maksudnya?” gerutu Jiwon dalam hati.
“Kau
bisa pergi dengannya. Aku yakin dia tahu betul tempat berbelanja di Seoul,”
ujar Yonghwa sedikit membela Jiwon.
“Tapi,
tempat berbelanjanya pasti berbeda denganku,” kata Yoojin dengan nada tak
senang.
Jiwon
mendengus dalam hati karena mendengar kalimat Yoojin yang sadis. Mulut Jiwon
terkatup. Di dalamnya gigi-giginya sedang beradu, sehingga menimbulkan bunyi
yang berdecit. Itu berarti dia benar-benar dalam puncak kemarahannya, karena
untuk pertama kalinya dia diremehkan oleh orang yang tidak begitu mengenalnya.
“Terserah
anda mau pergi denganku atau tidak. Aku yakin meski tanpa kehadiranku pun, anda
bisa,” balas Jiwon enteng. Setelah hanya bisa menggertakan gerahamnya tadi,
akhirnya Jiwon mampu berbicara membalas perkataan Yoojin. "Anda bukan anak
kecil lagi yang harus bergantung pada orang yang lebih tua kan, Kim Yoo Jin-ssi?" Jiwon terlihat puas saat
mengatakan hal ini.
"Mwo?
Mworagoya?" Yoojin mendengus
kesal mendengar kelancangan pelayan Yonghwa terhadap dirinya. Dia terlihat
mengambil napas sebelum melancarkan aksi serangan balik. "Jangan pernah
membawaku ke pasar loakkan,” kata Yoojin melontarkan kalimat remehan. “Karena
itu bukan levelku."
“Kalau
kalian setuju untuk pergi bersama, kalian boleh pergi meninggalkan ruangan
ini.” Yonghwa memotong pembicaraan mereka sebelum meledak menjadi pertengkaran
yang tak berujung pangkal.
"Tentu
saja. Kajja!" seruduk Jiwon
belum mau mengalah. "Aku tertarik ingin melihat level berbelanjamu,
desainer Kim Yoo Jin-ssi."
***
"Aku
akan menginap di sini," seruduk Jiwon begitu Shinhye membuka pintu
pagarnya.
"Eolgeuri wae keurae–ada apa dengan wajahmu?" Shinhye bertanya karena
melihat wajah Jiwon yang tertekuk. “Apa ada sesuatu yang salah?”
Jiwon
tidak menjawab malah berjalan masuk ke rumah Shinhye, menuju kulkas dan
mengambil air di dalamnya untuk dituangkan ke dalam gelas putih yang
dipegangnya. "Omo, penyihir itu
benar-benar jahat." Jiwon mengipas-ngipas wajahnya dengan kedua tangannya.
Shinhye
mengangguk-angguk seakan mengerti, kemudian berkata, "Dongeng apa yang kau
tonton? Putri Tidur? Rapunzel? Ah.. pasti Putri Salju."
"Geumanhae–hentikan!” sergah Jiwon “Yang
kubicarakan sekarang adalah penyihir dalam kehidupan nyata."
"Omo, benarkah ada penyihir di kehidupan
nyata? Seperti apa rupanya? Apa dia menggunakan tongkat? Wajahnya keriput? Giginya
ompong? Atau? Ah.. aku benar-benar penasaran?" tanya Shinhye pura-pura
polos. Meski sebenarnya dia hanya ingin menggoda sahabatnya ini.
"Utjima–jangan tertawa!” keluh Jiwon
melihat sahabatnya yang malah menertawakannya. “Penyihir jaman sekarang rupanya benar-benar mirip
seperti peri. Wajahnya saja yang terlihat seperti peri. Tapi hatinya. Cis! KIM
YOO JIN, napeun gijibeya!" seru
Jiwon kesal.
“Kim
Yoo Jin? Apa maksudmu Kim Yoo Jin teman bos kita ini?” ujar seseorang yang baru
saja keluar dari dalam kamar mandi.
Jiwon
berbalik mencari asal suara itu. “Hyejoon eonnie?
Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku
hanya ingin mengunjungi Shinhye. Sudah lama tidak ke rumah ini,” balas Hyejoon
sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Apa kau baru saja mengatakan
kalau kau tidak menyukai Kim Yoo Jin? Ah.. kita punya satu orang lagi yang
membenci dia.”
“Eonnie, apa kau juga tidak menyukai Kim
Yoo Jin?” ujar Jiwon penasaran.
“Bukan
hanya aku. Shinhye bahkan kau pun tidak menyukainya.”
“Shinhye?”
tanya Jiwon kaget dengan kenyataan bahwa Shinhye juga tidak menyukai Yoojin.
“Kau juga tidak menyukainya?” Jiwon berbalik menatap Shinhye.
Shinhye
mengangguk. “Aku tidak suka kalau dia mulai meremehkan orang.”
“Meremehkan?
Bukan hanya aku saja yang diremehkan? Kalian juga?” Jiwon tertawa lega
mendengar kenyataan pahit yang ternyata bukan hanya dia saja yang mengalaminya.
Tapi sahabat dan eonnie kenalannya
ini pun mengalami hal yang sama-sama dengannya.
JeResto.
Pagi
ini, Shinhye, Jiwon dan Hyejoon duduk menikmati sarapan pagi mereka di ruang
karyawan wanita. Seperti kebiasaan wanita pada umumnya, kalau sedang duduk makan
pasti ada saja nama seseorang yang dijadikan bahan gosipan.
“Eoh, kalian ingat pertama kali dia
datang ke JeResto?” tanya Hyejoon dengan sandwich
yang memenuhi isi mulutnya.
Jiwon
mengangguk.
“Saat
itu dia benar-benar seperti seorang peri. Aku bahkan sempat mengagumi
kecantikan dan perangainya.” Masih Hyejoon yang bicara.
“Nado,” timpal Jiwon. “Dia melenggak-lenggok ke sana kemari menyapa semua
karyawan dengan senyuman manisnya. Tapi ternyata semua itu palsu.”
“Aku
baru menyadari bahwa perangainya tidak sebaik yang dia tunjukkan di depan Bos. Ketika,
kalian ingat saat pertama kali dia datang dan saat itu bos meninggalkanmu di
Incheon?” Tunjuk Hyejoon pada Shinhye.
Bayangan
dirinya yang ditinggalkan Yonghwa di halte bis kota Incheon kembali berkelabat
di pikiran Shinhye. “Aku akan mengingat kejadian itu sampai mati. Bahkan saat
aku direinkarnasi kembali pun aku akan tetap mengingatnya.” Shinhye terlihat
keki saat mengingat kembali kejadian itu.
“Saat
bos meninggalkan restaurant, penyihir
itu mendatangiku dan berkata, ke mana Yonghwa?” Hyejoon mulai mempraktikkan
cara bicara Yoojin yang terkesan manja itu. “Aku bilang kalau bos sedang ke Incheon menjemput Shinhye karena dompet dan ponsel Shinhye tertinggal di
sini. Dia kemudian berkata, ah.. membuat repot saja. Saat itu juga aku ingin
mencakarnya, karena dia tidak bisa peka dengan penderitaan orang.” Hyejoon
terlihat mengehembuskan nafas saking berapi-apinya dia dalam bercerita.
“Apalagi dia selalu sibuk mengomentari gaya berpakaianku. Kata-katanya itu
seperti belati menikam jantungku. Katanya aku terlihat seperti ahjumma kalau menggunakan busana itu. Atau
aku tidak tahu cara berpenampilan.” Hyejoon sesekali mendengus kesal kemudian
berkata, “Dapdapae.”
“Dia
sangat membanggakan dirinya yang kuliah fashion
itu, sehingga selalu meremehkan orang lain.” Jiwon ikut setuju karena nasib
yang sama dialami dia dan Hyejoon. “Kalian tahu apa yang dia lakukan padaku kemarin
siang?”
Hyejoon
dan Shinhye menggeleng. Jiwon kemudian mulai bercerita setiap detail perbuatan
Yoojin padanya kemarin siang.
To
be continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar