"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 9

Rabu, 13 Juli 2016

Rain of Autumn Part 9

Part 9


***
Shinhye bangun dengan mata sembab, karena semalaman dia menangisi dirinya yang lemah. Lemah setiap kali melihat Jonghyun bersama dengan Jiwon. Tapi apa yang bisa dia buat, selain mengalah dan terus mengalah. Dari awal dia sudah memilih jalan ini. Berarti seterusnya dia harus melanjutkan jalan ini. MENGALAH!
"Shinhye babbo, Shinhye babbo, Shinhye babbo." Dia terus mengucapkan kata-kata ini, karena sadar dengan kebodohannya yang tidak berani berterus terang. Akhirnya sekarang dia malah menyimpan semuanya sendirian. Dan malah dia sendiri juga yang menderita sakit hati. Bosan memaki dirinya, Shinhye menyalakan TV dan melihat siaran berita saat itu.
"Perkiraan cuaca untuk hari ini…." Si pembawa acara terus berbicara tentang siklus cuaca hari ini. "Dengan begitu, maka hujan untuk pertama kali di musim gugur ini akan turun di distrik Gangdong," kata si pembawa berita mengakhiri ramalan cuacanya.
"Gangdong?" kutip Shinhye.
Tiba-tiba muncul sebuah inisiatif dalam pikirannya. Dia mengangkat ponselnya dan jari-jari tangannya menari di atas layar ponselnya. Setelah membaca laporan terkirimnya sukses. Shinhye menepuk-nepuk dadanya berharap pesannya akan mendapat respon positif.
"Kali ini aku harus bisa. Dia pasti datang." Shinhye menguatkan hatinya.
Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi. Dan nada pesannya langsung berhenti berbunyi saat dia membuka pesan tersebut. Sekilas ia tersenyum, karena benar yang dia harapkan, pesannya mendapat respon positif dari si penerima.

Distrik Gangdong.
Shinhye duduk di bangku salah satu taman yang ada di Gangdong district. Tepat jam lima sore, sesuai dengan perjanjiannya dia akan bertemu Jonghyun di taman ini. Setelah tiga puluh menit menit berlalu, Jonghyun tak kunjung datang. Jadi Shinhye kembali membaca isi pesan dalam ponselnya, takut malah dia yang salah membaca jam pertemuannya.
Lee Jong Hyun-ssi, apa kau sibuk hari ini? Bisakah kita bertemu di taman A di Gangdong distrik, tepat jam 5? Ada yang ingin kubicarakan denganmu, aku harap kau akan datang.
PS
: Aku akan terus menunggu sampai kau datang. Kau harus datang
. A
ra?
Terkirim ke:
Lee Jong Hyun

Arayo. Aku akan ke sana.
Begitulah balasan singkat dari Jonghyun.

Setelah membaca kembali pesannya, Shinhye yakin kalau dia tidak salah mengetik atau membaca angka lima pada ponselnya. Lalu kenapa sampai setengah jam berlalu, Jonghyun belum juga tiba? Shinhye kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan mendekati sebuah pohon besar yang daunnya telah gugur semua. Dia kemudian menjongkok dan mulai menghitung jumlah batu-batu kerikil ceper yang ada di bawah pohon ini.
"Onda–datang?" katanya sambil menghitung satu batu ceper yang ada. "Anonda–tidak datang?"
Dia kembali menghitung lagi. "Onda? Anonda?" Dia selalu melakukan pengandaian ini, kalau sedang menunggu seseorang. Dan juga Salah satu caranya membunuh waktu.
“Apa kau sibuk? Kenapa tidak memberitahuku? Atau kau bahagia membuatku terus menunggu? Jonghyun-ssi, kau harus datang sebelum hujan musim gugur itu turun?”
Shinhye mulai ragu dengan penantiannya. Tapi dia memaksakan diri tetap menunggu, karena ada sedikit keyakinan dalam hatinya bahwa Jonghyun akan datang. Sejam, dua jam berlalu. Tapi Jonghyun tidak kunjung datang. Shinhye terus menunggu, meski hari sudah gelap. Dia tidak jera melakukan penantian ini.
Shinhye kemudian melihat ke arah jam tangannya. "Jam tujuh? Aku mohon Jonghyun-ssi, sedikit lagi hujannya akan segera turun. Kau harus ada sebelum hujannya turun," kata Shinhye sambil menggigit bibir bawahnya.
Dia kemudian mendongak ke atas langit, bintang dan bulan yang seharusnya terlihat tidak kelihatan sama sekali karena tertutup awan hitam. Langit benar-benar gelap. Dan saat ini Shinhye hanya ditemani oleh cahaya temaram yang datang dari lampu taman dan lampu jalanan. Meski begitu, dia tetap memaksa untuk menunggu.
"Hari ini semua harus terselesaikan. Harus." Shinhye terus menguatkan dirinya. "Jonghyun-ssi, aku mohon datanglah. Kau harus datang."
Shinhye kembali memandang jamnya. Satu jam telah berlalu lagi, tapi mana Jonghyun? Bayangannya saja tidak kelihatan. Shinhye mulai jera. Dia ingin pulang, tapi tidak ada pemberitahuan akan datang atau tidak datang dari Jonghyun. Jadi dia mencoba menguatkan hatinya untuk tetap menunggu. Tidak terasa, titik-titik air mulai turun dari langit. Rintik yang ada pelan-pelan mulai berubah menjadi hujan deras. Tapi Shinhye bersikukuh tidak ingin bangun dari duduknya. Melihat hujan telah turun, Shinhye benar-benar sedih dan kecewa dengan penantiannya. Dia sebenarnya berharap bahwa hujan musim gugur yang pertama di tahun ini bisa melepas semua masalah yang ada di hatinya. Dia berharap semua perasaannya pada Jonghyun bisa dia ungkapkan malam ini. Agar dia tidak lagi memendam semuanya sendiri. Tidak peduli sekalipun dia akan ditolak. Yang penting dia tidak lagi memendamnya, dan malam ini semuanya bisa terlepas bersama hujan musim gugur. Tapi ternyata semuanya tidak sesuai harapan. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya ini membuat dia menjadi marah, kecewa dan sakit hati. Semua perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Dia hanya bisa menangisi dirinya, lagi dan lagi. Air mata dan air hujan, membasahi wajahnya.
"Ya, apa kau pikir aku bahagia memendam perasaan ini? Apa kau pikir aku hanya bisa memikirkan-mu? Apa kau pikir aku tidak bisa melepaskan-mu? Ya, Lee Jong Hyun, apa kau pikir aku orang bodoh? Napeun saramiya–kau jahat," teriak Shinhye.
Tangis dan teriakannya pecah di tengah hujan deras. "Neokau, mulai saat ini kau sudah berlalu dari hatiku. Kau sudah pergi bersama dengan hujan ini. Ara?" teriak Shinhye lagi sembari memukul dadanya yang sakit.

***
Shinhye masuk ke dalam rumahnya, langsung menuju kamar mandinya. Setelah selesai mandi dan mencuci rambutnya dengan air hangat, dia masuk ke kamar tidurnya dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Sambil mengeringkan rambut, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam plastik kecil yang dia simpan dalam tasnya yang dipakai tadi.
Lima belas missed calls dari Jiwon.Shinhye menekan tombol hijau dan menghubungi Jiwon.
"Eoh, Shinhye-ya, kenapa tidak mengangkat teleponku tadi?" kata Jiwon dari seberang sana.
"Mianhae. Aku tadi di dapur dan tidak mendengar panggilanmu." Shinhye bersin-bersin.
"Gwaenchanha?" tanya Jiwon khawatir karena mendengar Shinhye bersin-bersin.
"Hmm," gumam Shinhye.
"Kau terdengar tidak baik-baik saja. Apa kau sakit? Haruskah aku ke rumahmu sekarang?" Jiwon menghamburkan berbagai pertanyaan kekhawatiran.
"Tidak. Tidak usah. Aku baik-baik saja. Setelah minum obat, pasti akan sembuh."
"Oh, baiklah. Jaga kondisimu. Dan jangan lupa minum obat. Aku tutup teleponmu ya?"
"Chamkkaman!" tahan Shinhye. "Tadi kenapa kau meneleponku? Apa ada sesuatu yang penting ingin kau katakan?"
"Ani. Aku hanya ingin kau bantu memilih restaurant paling bagus untuk dinner. Tapi lupakan saja, karena aku dan Jonghyun sudah menemukan tempatnya."
"Ne?" kata Shinhye, suaranya tercekat di kerongkongan, "Apa kau sekarang sedang bersama Jonghyun-ssi?"
"Ne. Aku yang mengajaknya makan malam dan dia langsung menyetujuinya. Ya, kenapa kau bertanya?"
Tidak ada respon dari Shinhye.
"Shinhye, apa kau masih di sana? Kalau tidak ada yang mau kau bicarakan, kututup teleponmu ya?"
"Oh, ne." Shinhye meletakkan ponselnya di atas meja riasnya. Hari ini lengkap sudah penderitaannya. Ternyata Jonghyun tidak memenuhi janji bertemu dengannya, karena Jonghyun lebih memilih bertemu dengan Jiwon. Hatinya sakit, tapi dia lebih memilih untuk tegar. Dia tidak boleh menangis lagi. Dia sendiri yang tadi sudah memutuskan untuk tidak lagi memikirkan apa pun tentang Jonghyun. Dia harus bisa melupakan Jonghyun.

***
Universitas Kyunghee.
Sehari belum cukup bagi Shinhye untuk istirahat. Pagi ini dia memutuskan setelah jadwal kuliahnya selesai, dia akan pulang kembali ke rumah karena sepertinya dia belum siap untuk bekerja di JeResto dengan fisiknya yang lemah seperti ini. Shinhye berjalan menunduk menuju halte bus dekat kampusnya. Begitu tiba di sana, dia duduk menunggu bus yang akan menuju rumahnya. Pikirannya melayang-layang tak tentu. Beberapa kali ia mendesah, kemudian berkata, "Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak mau bekerja denganmu lagi." katanya mencoba berlatih berbicara pada Jonghyun nanti bahwa dia akan berhenti bekerja dengan Jonghyun. "Ani, ani. Terlalu kasar." Dia kemudian berdehem dan memikirkan kalimat yang lain untuk diucapkan. "Direktur, maafkan aku karena tidak bisa bekerja denganmu lagi."
Sepertinya kalimat ini paling baik untuk diucapkan, pikirnya.
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa melanjutkan bekerja denganku lagi?"
Shinhye kaget setengah mati karena sebuah suara yang tiba-tiba ikut merespon perkataannya barusan. Shinhye berputar beberapa derajat mencari asal suara itu. Begitu menoleh Shinhye terkesiap ketika melihat siapa pemilik suara yang meresponnya barusan. Shinhye melotot namun pria di sampingnya malah menatapnya dengan tatapan menuntut jawaban darinya.
"Wae?" tanya pria itu lagi.
"Sejak kapan kau mengikutiku?" Kedua alis Shinhye bertaut. Sepertinya heran melihat kehadiran pria itu yang tiba-tiba. 
"Sejak kau keluar dari gerbang kampus tadi,” timpal pria itu. “Aku tanya sekali lagi, kenapa kau tidak bisa bekerja denganku? Apa Jonghyun yang memintamu melakukannya? Apa kemarin dia menyuruhmu berlatih mengucapkan kalimat kekanakan itu?"
Shinhye tidak menjawab. Pria yang adalah Yonghwa yang sedang berdiri di depannya ini sukses membuatnya kesal.
"Kenapa kau diam?"
Shinhye membisu lama, sampai Yonghwa mendesaknya.
Ya, jawab aku!” Yonghwa kemudian berdecak-decak dan berkata, "Kau tidak bisa menjawabnya karena semua yang kukatakan itu benar adanya? Berarti kemarin waktumu kau habiskan bersama Jonghyun, sampai kau terserang flu?"
"Kau sudah selesai bicara? Aku mau pulang." Shinhye terlihat marah. Dia bangkit berdiri ingin menaiki bis yang berhenti tepat di depan halte tempatnya menunggu.
"Ya, jawab aku!" kata Yonghwa dengan gigi yang beradu. Dia penasaran, apa benar Shinhye ingin berhenti bekerja dengannya? Karena Shinhye tidak peduli, Yonghwa malah menarik tangan Shinhye dan membiarkan bis yang ingin ditumpangi Shinhye berlalu begitu saja.
Shinhye menutup mata dan mendesah dengan keras. Kemudian dia membuka mata kembali dan berteriak, "Wae, wae, wae, wae, wae, wa….e? Apa urusannya denganmu kalau aku mau berhenti bekerja?" Teriakan Shinhye benar-benar membuat Yonghwa kaget dan melepaskan genggamannya pada Shinhye.
"Apa kita bisa membicarakan semuanya dengan baik-baik?" ujar Yonghwa pelan, mencoba mencairkan suasana.
"Aku tidak bisa. Maafkan aku." Shinhye beringsut menjauhi Yonghwa dan menahan taksi yang berjarak lima meter di depannya. Saat taksi tiba di depannya, dia langsung masuk dan pergi meninggalkan Yonghwa.

***
Shinhye akan masuk ke dalam rumahnya, tapi dia melihat Hyunwoo sedang duduk menunggu di depan pagar rumahnya. Shinhye berjalan mendekat.
Melihat orang yang ditunggu-tunggu akhirnya pulang, wajah riang Hyunwoo langsung terpancar. "Noona, anyeong!" sapa Hyunwoo.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Shinhye dengan ekspresi hambar.
"Noona, sigani isseoyo–apa kau ada waktu?"
"Wae? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku? Kalau ada, katakan saja," kata Shinhye dengan nada tak senang. Hari ini dia hanya tidak ingin berbicara pada siapa pun. Oleh karena itu kehadiran Hyunwoo saat ini dianggapnya adalah hal yang sangat mengganggu.
"Apa kau tidak bisa mengundangku masuk ke rumahmu dulu? Ayo kita bicara di dalam." Hyunwoo menarik lengan Shinhye ingin masuk ke rumahnya.
"Andwaeyo. Pria dilarang masuk ke rumah wanita, kalau wanita itu tinggal sendirian. Kita bicara di sini saja."
"Baiklah," kata Hyunwoo sedikit kecewa. "Noona, sebenarnya ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu sebelum aku berangkat ke Amerika."
"Amerika? Untuk apa kau ke sana?"
"Ayahku memanggilku ke sana."
"Ayahmu? Ah ye, arasseo. Ayahmu ingin bertemu denganmu di sana. Benar kan?"
"Sebenarnya
ada hal yang sangat penting yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi aku takut kalau mendengarnya kau akan marah." Hyunwoo ingin mengatakan semua kebenaran tentang dirinya. Semua kebohongan yang dia buat selama ini. Dia ingin mengatakan semuanya saat ini sekaligus minta maaf sebesar-besarnya pada Shinhye, sebelum dia berangkat ke Amerika.
"Apa itu? Kenapa kau malah membuatku jadi khawatir?" Nada bicara Shinhye yang acuh tadi malah berubah menjadi nada penasaran.
"Sebenarnya.. sebenarnya.. selama ini..." Kalimat Hyunwoo terpotong karena seseorang memanggilnya.
"Ya, Lee Hyun Woo, apa yang kau lakukan di sini?"
teriak Jonghyun.
Mata Hyunwoo membelalak begitu melihat Jonghyun dan Yonghwa sedang berjalan ke arahnya. Andwae, hyeongdeul. Kalian tidak bisa melakukan itu padaku.” Hyunwoo berteriak berharap kedua hyeong-nya bisa mengerti. Tapi kedua pria itu tetap mendekatinya dan sekarang malah merangkulnya erat.
"Kami mencarimu ke mana-mana, ternyata kau ada di sini," kata Jonghyun mempererat rangkulannya.
"Andwae, hyeong. Aku harus bilang semua pada Shinhye-nui. Aku tidak mau terus….hufft…"
Yonghwa membekap mulut Hyunwoo.
"Ada apa ini?" tanya Shinhye bingung dengan tingkah ketiga pria di depannya ini.
"Kau masuklah ke dalam. Hyunwoo sedang mabuk berat, jadi biar kami yang mengurusnya," ujar Jonghyun.
Hyunwoo meronta-ronta dan berusaha berbicara, tapi karena mulutnya dibekap Yonghwa dan badannya dirangkul Jonghyun dari belakang, jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Shinhye mengikuti perintah, dia masuk ke dalam rumahnya dengan penasaran.
Melihat Shinhye yang sudah masuk, Yonghwa dan Jonghyun melepaskan bekapan dan rangkulan mereka.
"Ya, hyeongdeul, kalian berdua benar-benar di luar batas."
"Yonghwa, sebaiknya kau masuk dan memastikan Shinhye tidak mendengarkan pembicaraan kita. Aku akan bicara dengan Hyunwoo," kata Jonghyun.
"Aisshi, apa kau tidak mencuci mulutmu tadi pagi?" kata Yonghwa pada Hyunwoo, begitu dia mencium bau di telapak tangannya akibat membekap mulut Hyunwoo tadi. Dia kemudian mengibas-ngibas tangannya dan mengelap tangannya yang lembab di kemeja Hyunwoo. "Kalau begitu kalian berdua bicaralah. Aku masuk dulu," kata Yonghwa sambil memegang pegangan pintu pagar Shinhye hendak membuka pagar itu.
"Andwae, hyeong. Kau tidak boleh masuk ke rumah itu. Seorang pria dilarang masuk ke rumah seorang wanita yang tinggal sendirian." Hyunwoo mengutip kalimat Shinhye tadi.
"Namja saram–seorang pria? Tapi aku pernah sekali masuk ke rumah ini. Dia sendiri yang mengijinkan. Sudahlah, aku masuk dulu."
"Hyeong, andwae," teriak Hyunwoo khawatir.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Park Shin Hye tidak kuanggap sebagai seorang wanita, jadi kau tenang-tenang saja," kilah Yonghwa menutup pembicaraannya dengan Hyunwoo.
Hyunwoo beranjak ingin menahan Yonghwa, tapi malah ditahan oleh Jonghyun.
Yonghwa membuka pintu pagar Shinhye
. Begitu hendak masuk, dia kaget melihat Shinhye sedang merapatkan telinganya di depan pintu pagarnya sendiri.
Yonghwa dan Shinhye sama-sama berlonjak kaget.
"Apa yang kau lakukan?" Yonghwa masuk kemudian menutup pintu pagar rumah Shinhye.
Shinhye terlihat gugup menjawab pertanyaan Yonghwa. "Eoh?" Shinhye berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk meyakinkan Yonghwa bahwa dia tidak sedang menguping. "Aku hanya ingin bilang pada kalian bahwa ini sudah larut malam. Sebaiknya kalian pulang saja."
"Beri aku air. Aku haus." Yonghwa tidak merespon dan malah berjalan hendak masuk ke rumah Shinhye.
"Ya, ini sudah larut. Tidak baik bertamu di rumah orang. Meskipun kau tidak menganggapku sebagai seorang wanita, tapi kenyataannya aku ini wanita.
“Ah.. kau mendengar pembicaraan kami tadi yah?” seruduk Yonghwa.
“Itu..” Shinhye gelagapan karena langkah Yonghwa yang terus menuju rumahnya. “Jadi, kau dilarang masuk…."
Shinhye berhenti bicara begitu melihat Yonghwa sudah membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalamnya. Akhirnya Shinhye masuk juga ke dalam rumahnya dan melihat Yonghwa yang sudah duduk meluruskan kaki di lantai rumahnya.
"Beri aku segelas air. Aku haus," kata Yonghwa lagi dengan mata terpejam.
"Ya, sekalipun kau tidak menganggapku sebagai seorang wanita. Tapi kenyataannya, aku ini wanita dan kau seorang pria. Kau tetap tidak bisa seenaknya bertamu di rumah seorang wanita."
"Aku pernah sekali ke sini kan? Kenapa waktu itu kau tidak melarangnya?" timpal Yonghwa.
"Itu karena….." Shinhye hilang kata-kata, tidak tahu harus bicara apa lagi. Sesekali dia menyesali kebodohannya, karena pernah membiarkan Yonghwa masuk ke rumahnya dulu. Akhirnya sekarang, dia tidak tahu harus pakai alasan apa untuk menyuruh Yonghwa pergi dari rumahnya.
"Kau sudah selesai bicara?" Yonghwa membuka mata dan menatap Shinhye. "Kalau sudah selesai, tolong beri aku segelas air karena sepertinya mereka butuh waku yang lama untuk bicara." Yonghwa kembali menutup matanya.
"Apa kalian bisa bicara di tempat lain?”
“Tidak,” ucap Yonghwa retoris.
Shinhye hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban Yonghwa. “Apa yang mereka berdua bicarakan di luar? Apa ini ada hubungannya denganku, sehingga kalian bertingkah aneh di depanku? Apa yang sedang kalian rahasiakan?"
"Kami tidak merahasiakan apa-apa. Kau tenang saja, ini tidak ada hubungannya denganmu. Ini masalah antara Jonghyun dan Hyunwoo. Biar mereka berdua selesaikan. Dan, ehm..." Yonghwa berdehem. "Soal tadi siang, anggaplah tidak pernah terjadi. Besok, kau harus masuk bekerja. Jangan mangkir!" Yonghwa mengungkit kembali masalah tadi siang di halte bus.
Melihat Yonghwa yang sulit sekali untuk mengucapkan kata maaf, karena siang tadi telah membuat kesalahan, membuat Shinhye ingin sekali meninjunya. Karena kesempatan, Yonghwa sedang menutup mata, Shinhye mulai melakukan aksinya dengan mengolok-olok Yonghwa. Dia memutar-mutar bola matanya, menjulurkan lidahnya dan mengepalkan tangannya ingin memukul Yonghwa. Begitu Yonghwa membuka matanya secara tiba-tiba, Shinhye kemudian menyelip-nyelipkan anak rambutnya ke telinganya, berpura-pura tidak melakukan apa-apa.
"Park Shin Hye, berapa kali lagi aku harus bilang kalau aku haus? Bisakah kau mengambilkan segelas air untukku?" kata Yonghwa menekankan pada kalimat terakhir.
Shinhye mencibir dan berjalan ke dapur mengambil segelas air sesuai yang diminta Yonghwa.
Tiga puluh menit berlalu.
Tit..tit.. Bunyi nada pesan dari ponsel Yonghwa.
Dari: Jonghyun.
Yonghwa, kami sudah selesai bicara. Aku lega sekali, dia mau mendengarkanku. Kami sudah pulang. Kau juga pulanglah. Hati-hati di jalan.
"Chogi, apa mereka sudah selesai bicara?" tanya Shinhye hati-hati, melihat Yonghwa yang sedang menyentuh layar ponselnya membaca isi pesan masuknya.
"Jonghyun bilang, dia dan Hyunwoo masih mengurus masalah di luar. Jadi aku harus tetap menunggu di dalam."
"Mwo? Ini sudah jam sebelas malam. Kau sebaiknya pulang. Bilang pada mereka, carilah tempat lain untuk berbicara. Dan lagi.."
"Andwae," sambar Yonghwa. "Mereka tidak akan suka diganggu kalau sedang bicara. Jadi aku akan tinggal di dalam sampai mereka selesai bicara."
Shinhye hanya bisa menggerutu melihat tingkah Yonghwa. "Geurae. Aku mau tidur dulu. Kalau kau ingin pulang panggil saja aku. Selamat malam."
"Hajjima!" kata Yonghwa menahan langkah Shinhye.
Shinhye berhenti dan berbalik pada Yonghwa.

TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar