Part
9
***
Shinhye bangun dengan mata sembab, karena
semalaman dia menangisi dirinya yang lemah. Lemah setiap kali melihat Jonghyun
bersama dengan Jiwon. Tapi apa yang bisa dia buat, selain mengalah dan terus
mengalah. Dari awal dia sudah memilih jalan ini. Berarti seterusnya dia
harus melanjutkan jalan ini. MENGALAH!
"Shinhye babbo, Shinhye babbo, Shinhye babbo." Dia terus mengucapkan kata-kata ini, karena sadar dengan
kebodohannya yang tidak berani berterus terang. Akhirnya sekarang dia malah menyimpan semuanya sendirian.
Dan malah dia sendiri juga yang
menderita sakit hati. Bosan
memaki dirinya, Shinhye menyalakan TV dan melihat siaran berita saat itu.
"Perkiraan cuaca untuk hari ini…." Si
pembawa acara terus berbicara tentang siklus cuaca hari ini. "Dengan
begitu, maka hujan untuk pertama kali di musim gugur ini akan turun di distrik
Gangdong," kata si
pembawa berita mengakhiri ramalan cuacanya.
"Gangdong?" kutip Shinhye.
Tiba-tiba muncul sebuah inisiatif dalam
pikirannya. Dia mengangkat ponselnya dan jari-jari tangannya menari di atas
layar ponselnya. Setelah membaca laporan terkirimnya sukses. Shinhye menepuk-nepuk dadanya
berharap pesannya akan mendapat respon positif.
"Kali ini aku harus bisa. Dia pasti
datang." Shinhye menguatkan hatinya.
Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi. Dan
nada pesannya langsung berhenti berbunyi saat dia membuka pesan tersebut. Sekilas ia
tersenyum, karena benar yang dia harapkan, pesannya mendapat respon positif
dari si penerima.
Distrik Gangdong.
Shinhye duduk di bangku salah satu taman yang ada
di Gangdong district. Tepat jam lima
sore, sesuai dengan perjanjiannya
dia akan bertemu Jonghyun di taman ini. Setelah tiga puluh menit menit berlalu, Jonghyun tak kunjung
datang. Jadi Shinhye kembali membaca isi pesan dalam ponselnya,
takut malah dia yang salah membaca jam pertemuannya.
Lee Jong Hyun-ssi,
apa kau sibuk hari ini? Bisakah kita bertemu di taman A di Gangdong distrik, tepat jam 5? Ada yang ingin kubicarakan denganmu, aku harap kau akan datang.
PS: Aku akan terus menunggu sampai kau datang. Kau harus datang. Ara?
PS: Aku akan terus menunggu sampai kau datang. Kau harus datang. Ara?
Terkirim ke:
Lee Jong Hyun
Arayo.
Aku akan ke sana.
Begitulah balasan singkat dari Jonghyun.
Setelah membaca kembali pesannya, Shinhye yakin
kalau dia tidak salah mengetik atau membaca angka lima pada ponselnya. Lalu kenapa sampai setengah jam
berlalu, Jonghyun belum juga tiba? Shinhye
kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan mendekati sebuah pohon
besar yang daunnya telah gugur semua. Dia kemudian menjongkok dan mulai menghitung jumlah
batu-batu kerikil ceper yang ada di bawah pohon ini.
"Onda–datang?"
katanya sambil menghitung satu batu ceper yang ada. "Anonda–tidak datang?"
Dia kembali menghitung lagi. "Onda? Anonda?" Dia selalu melakukan pengandaian ini,
kalau sedang menunggu seseorang. Dan juga Salah satu caranya membunuh waktu.
“Apa kau sibuk? Kenapa tidak memberitahuku? Atau
kau bahagia membuatku terus menunggu? Jonghyun-ssi, kau harus datang sebelum hujan musim gugur itu turun?”
Shinhye mulai ragu dengan penantiannya. Tapi dia
memaksakan diri tetap menunggu, karena ada sedikit keyakinan dalam hatinya
bahwa Jonghyun akan datang. Sejam, dua jam berlalu. Tapi Jonghyun tidak
kunjung datang. Shinhye terus menunggu, meski hari sudah gelap. Dia tidak jera
melakukan penantian ini.
Shinhye kemudian melihat ke arah jam tangannya. "Jam tujuh? Aku mohon Jonghyun-ssi, sedikit lagi hujannya akan segera turun. Kau harus ada sebelum
hujannya turun," kata Shinhye sambil menggigit bibir bawahnya.
Dia kemudian mendongak ke atas langit, bintang dan
bulan yang seharusnya terlihat tidak kelihatan sama sekali karena tertutup awan
hitam. Langit benar-benar
gelap. Dan saat ini Shinhye hanya ditemani oleh cahaya temaram yang datang dari
lampu taman dan lampu jalanan. Meski begitu, dia tetap memaksa untuk menunggu.
"Hari ini semua harus terselesaikan.
Harus." Shinhye terus menguatkan dirinya. "Jonghyun-ssi, aku mohon datanglah. Kau harus datang."
Shinhye kembali memandang jamnya. Satu jam telah
berlalu lagi, tapi mana Jonghyun? Bayangannya saja tidak kelihatan. Shinhye
mulai jera. Dia ingin pulang, tapi tidak ada pemberitahuan akan datang atau
tidak datang dari Jonghyun.
Jadi dia mencoba menguatkan hatinya untuk tetap menunggu. Tidak terasa, titik-titik air mulai turun
dari langit. Rintik yang ada pelan-pelan mulai berubah menjadi hujan deras.
Tapi Shinhye
bersikukuh tidak ingin bangun dari duduknya. Melihat hujan telah turun, Shinhye
benar-benar sedih dan kecewa dengan penantiannya. Dia sebenarnya berharap bahwa hujan musim gugur yang pertama di
tahun ini bisa melepas semua masalah yang ada di hatinya. Dia
berharap semua perasaannya pada Jonghyun bisa dia ungkapkan malam ini. Agar dia
tidak lagi memendam semuanya sendiri. Tidak peduli sekalipun dia akan ditolak.
Yang penting dia tidak lagi memendamnya, dan malam ini semuanya bisa terlepas
bersama hujan musim gugur. Tapi ternyata semuanya tidak sesuai harapan. Kenyataan
yang tidak sesuai dengan harapannya ini membuat dia menjadi marah, kecewa dan sakit hati. Semua perasaannya bercampur aduk menjadi
satu. Dia hanya bisa menangisi dirinya, lagi dan lagi. Air mata dan air hujan,
membasahi wajahnya.
"Ya,
apa kau pikir aku bahagia memendam perasaan ini? Apa kau pikir aku hanya bisa
memikirkan-mu? Apa kau pikir
aku tidak bisa melepaskan-mu?
Ya, Lee Jong Hyun, apa kau pikir aku
orang bodoh? Napeun saramiya–kau
jahat," teriak Shinhye.
Tangis dan teriakannya pecah di tengah hujan
deras. "Neo–kau, mulai saat ini kau sudah berlalu dari hatiku. Kau sudah pergi bersama
dengan hujan ini. Ara?" teriak
Shinhye lagi sembari memukul dadanya yang sakit.
***
Shinhye masuk ke dalam rumahnya, langsung menuju
kamar mandinya. Setelah selesai mandi dan mencuci rambutnya dengan air
hangat, dia masuk ke kamar tidurnya
dan mengeringkan rambutnya dengan hair
dryer. Sambil mengeringkan rambut, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam
plastik kecil yang dia simpan dalam tasnya yang dipakai tadi.
Lima belas missed calls dari Jiwon.Shinhye menekan tombol
hijau dan menghubungi Jiwon.
"Eoh,
Shinhye-ya, kenapa tidak mengangkat
teleponku tadi?" kata Jiwon dari seberang sana.
"Mianhae.
Aku tadi di dapur dan tidak mendengar panggilanmu." Shinhye bersin-bersin.
"Gwaenchanha?"
tanya Jiwon khawatir karena mendengar Shinhye bersin-bersin.
"Hmm," gumam Shinhye.
"Kau terdengar tidak baik-baik saja. Apa kau
sakit? Haruskah aku ke rumahmu sekarang?" Jiwon
menghamburkan berbagai pertanyaan kekhawatiran.
"Tidak. Tidak usah. Aku baik-baik saja.
Setelah minum obat, pasti akan sembuh."
"Oh, baiklah. Jaga kondisimu. Dan jangan lupa minum
obat. Aku tutup teleponmu ya?"
"Chamkkaman!"
tahan Shinhye. "Tadi kenapa kau meneleponku? Apa ada sesuatu yang penting ingin kau katakan?"
"Ani.
Aku hanya ingin kau bantu memilih restaurant
paling bagus untuk dinner. Tapi
lupakan saja, karena aku dan Jonghyun sudah menemukan tempatnya."
"Ne?" kata Shinhye, suaranya tercekat di
kerongkongan, "Apa kau sekarang sedang bersama Jonghyun-ssi?"
"Ne. Aku yang mengajaknya makan malam dan dia langsung menyetujuinya. Ya, kenapa kau bertanya?"
"Ne. Aku yang mengajaknya makan malam dan dia langsung menyetujuinya. Ya, kenapa kau bertanya?"
Tidak ada respon dari Shinhye.
"Shinhye, apa kau masih di sana? Kalau tidak
ada yang mau kau bicarakan, kututup teleponmu ya?"
"Oh, ne." Shinhye meletakkan ponselnya di atas meja riasnya.
Hari ini lengkap sudah penderitaannya. Ternyata Jonghyun tidak memenuhi janji
bertemu dengannya, karena Jonghyun lebih memilih bertemu dengan Jiwon. Hatinya sakit, tapi dia lebih memilih
untuk tegar. Dia tidak boleh menangis lagi. Dia sendiri yang tadi sudah memutuskan untuk tidak lagi
memikirkan apa pun tentang Jonghyun. Dia harus bisa melupakan Jonghyun.
***
Universitas Kyunghee.
Sehari belum cukup bagi Shinhye untuk istirahat.
Pagi ini dia memutuskan setelah jadwal kuliahnya selesai, dia akan pulang
kembali ke rumah karena sepertinya dia belum siap untuk bekerja di JeResto
dengan fisiknya yang lemah seperti ini. Shinhye berjalan menunduk menuju halte bus dekat kampusnya. Begitu tiba di sana, dia duduk
menunggu bus yang akan menuju rumahnya. Pikirannya melayang-layang tak tentu. Beberapa kali ia
mendesah, kemudian berkata, "Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak mau bekerja denganmu lagi." katanya mencoba berlatih berbicara
pada Jonghyun nanti bahwa dia akan berhenti bekerja dengan Jonghyun. "Ani, ani.
Terlalu kasar." Dia kemudian berdehem dan memikirkan kalimat yang
lain untuk diucapkan. "Direktur, maafkan aku karena tidak bisa bekerja denganmu lagi."
Sepertinya kalimat ini
paling baik untuk diucapkan, pikirnya.
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa melanjutkan
bekerja denganku lagi?"
Shinhye kaget setengah mati karena sebuah suara
yang tiba-tiba ikut merespon perkataannya barusan. Shinhye berputar beberapa derajat mencari
asal suara itu. Begitu menoleh Shinhye terkesiap ketika melihat siapa pemilik
suara yang meresponnya barusan. Shinhye melotot namun pria di sampingnya malah menatapnya dengan tatapan menuntut
jawaban darinya.
"Wae?"
tanya pria itu lagi.
"Sejak kapan kau mengikutiku?"
Kedua alis Shinhye bertaut. Sepertinya heran melihat kehadiran pria itu yang
tiba-tiba.
"Sejak kau keluar dari gerbang kampus tadi,”
timpal pria itu. “Aku tanya sekali lagi, kenapa kau tidak bisa
bekerja denganku? Apa Jonghyun yang memintamu
melakukannya? Apa kemarin dia menyuruhmu berlatih mengucapkan kalimat kekanakan
itu?"
Shinhye tidak menjawab. Pria yang adalah
Yonghwa yang sedang berdiri di depannya ini sukses membuatnya kesal.
"Kenapa kau diam?"
Shinhye membisu lama, sampai Yonghwa
mendesaknya.
“Ya, jawab aku!” Yonghwa kemudian berdecak-decak dan berkata,
"Kau tidak bisa menjawabnya karena semua yang kukatakan itu benar adanya?
Berarti kemarin waktumu kau habiskan bersama Jonghyun, sampai kau terserang
flu?"
"Kau sudah selesai bicara? Aku mau
pulang." Shinhye terlihat marah. Dia bangkit berdiri ingin menaiki bis
yang berhenti tepat di depan halte tempatnya menunggu.
"Ya,
jawab aku!" kata Yonghwa dengan gigi yang beradu. Dia penasaran, apa benar
Shinhye ingin berhenti bekerja dengannya? Karena Shinhye tidak peduli, Yonghwa malah
menarik tangan Shinhye dan
membiarkan bis yang ingin ditumpangi Shinhye berlalu begitu saja.
Shinhye menutup mata dan mendesah dengan keras.
Kemudian dia membuka mata kembali dan berteriak, "Wae, wae, wae,
wae, wae, wa….e? Apa urusannya denganmu kalau aku mau berhenti
bekerja?" Teriakan Shinhye benar-benar membuat Yonghwa kaget dan melepaskan
genggamannya pada Shinhye.
"Apa kita bisa membicarakan semuanya dengan
baik-baik?" ujar Yonghwa
pelan, mencoba mencairkan suasana.
"Aku tidak bisa. Maafkan aku." Shinhye beringsut
menjauhi Yonghwa dan menahan taksi yang berjarak lima meter di depannya. Saat taksi tiba di depannya, dia langsung masuk dan pergi
meninggalkan Yonghwa.
***
Shinhye akan masuk ke dalam rumahnya, tapi dia
melihat Hyunwoo sedang duduk menunggu di depan pagar rumahnya. Shinhye berjalan
mendekat.
Melihat orang yang ditunggu-tunggu akhirnya
pulang, wajah riang Hyunwoo langsung terpancar. "Noona, anyeong!" sapa Hyunwoo.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Tanya Shinhye dengan ekspresi hambar.
"Noona,
sigani isseoyo–apa kau ada
waktu?"
"Wae?
Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku? Kalau ada, katakan saja," kata Shinhye dengan nada tak
senang. Hari ini dia hanya tidak ingin berbicara pada siapa pun. Oleh karena
itu kehadiran Hyunwoo saat ini dianggapnya adalah hal yang sangat mengganggu.
"Apa kau tidak bisa mengundangku masuk ke
rumahmu dulu? Ayo kita bicara di dalam." Hyunwoo menarik lengan Shinhye
ingin masuk ke rumahnya.
"Andwaeyo.
Pria dilarang masuk ke rumah wanita, kalau wanita itu tinggal sendirian. Kita
bicara di sini saja."
"Baiklah," kata Hyunwoo sedikit kecewa.
"Noona, sebenarnya ada hal
penting yang ingin kusampaikan padamu sebelum aku berangkat ke Amerika."
"Amerika? Untuk apa kau ke sana?"
"Ayahku memanggilku ke sana."
"Ayahmu? Ah
ye, arasseo. Ayahmu ingin bertemu denganmu di sana. Benar kan?"
"Sebenarnya ada hal yang sangat penting yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi aku takut kalau mendengarnya kau akan marah." Hyunwoo ingin mengatakan semua kebenaran tentang dirinya. Semua kebohongan yang dia buat selama ini. Dia ingin mengatakan semuanya saat ini sekaligus minta maaf sebesar-besarnya pada Shinhye, sebelum dia berangkat ke Amerika.
"Sebenarnya ada hal yang sangat penting yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi aku takut kalau mendengarnya kau akan marah." Hyunwoo ingin mengatakan semua kebenaran tentang dirinya. Semua kebohongan yang dia buat selama ini. Dia ingin mengatakan semuanya saat ini sekaligus minta maaf sebesar-besarnya pada Shinhye, sebelum dia berangkat ke Amerika.
"Apa itu? Kenapa kau malah membuatku jadi
khawatir?" Nada bicara Shinhye yang acuh tadi malah berubah menjadi
nada penasaran.
"Sebenarnya.. sebenarnya.. selama ini..." Kalimat Hyunwoo terpotong
karena seseorang memanggilnya.
"Ya, Lee Hyun Woo, apa yang kau lakukan di sini?" teriak Jonghyun.
"Ya, Lee Hyun Woo, apa yang kau lakukan di sini?" teriak Jonghyun.
Mata Hyunwoo membelalak begitu melihat Jonghyun
dan Yonghwa sedang berjalan ke arahnya. “Andwae, hyeongdeul.
Kalian tidak bisa melakukan itu padaku.” Hyunwoo berteriak berharap kedua hyeong-nya bisa mengerti. Tapi kedua pria itu tetap mendekatinya dan sekarang malah merangkulnya erat.
"Kami mencarimu ke mana-mana, ternyata kau
ada di sini," kata Jonghyun mempererat rangkulannya.
"Andwae, hyeong. Aku harus bilang semua
pada Shinhye-nui. Aku tidak mau
terus….hufft…"
Yonghwa membekap mulut Hyunwoo.
Yonghwa membekap mulut Hyunwoo.
"Ada apa ini?" tanya Shinhye bingung
dengan tingkah ketiga pria di depannya ini.
"Kau masuklah ke dalam. Hyunwoo sedang mabuk
berat, jadi biar kami yang
mengurusnya," ujar Jonghyun.
Hyunwoo meronta-ronta dan berusaha berbicara, tapi
karena mulutnya dibekap Yonghwa dan badannya dirangkul Jonghyun dari belakang,
jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Shinhye mengikuti perintah, dia masuk ke dalam
rumahnya dengan penasaran.
Melihat Shinhye yang sudah masuk, Yonghwa dan
Jonghyun melepaskan bekapan dan rangkulan mereka.
"Ya, hyeongdeul, kalian berdua
benar-benar di luar batas."
"Yonghwa, sebaiknya kau masuk dan memastikan
Shinhye tidak mendengarkan pembicaraan kita. Aku akan bicara dengan
Hyunwoo," kata Jonghyun.
"Aisshi,
apa kau tidak mencuci mulutmu tadi pagi?" kata Yonghwa pada Hyunwoo,
begitu dia mencium bau di telapak tangannya akibat membekap mulut Hyunwoo tadi.
Dia kemudian mengibas-ngibas tangannya dan mengelap tangannya yang
lembab di kemeja Hyunwoo. "Kalau begitu
kalian berdua bicaralah. Aku
masuk dulu," kata Yonghwa sambil memegang pegangan pintu pagar Shinhye
hendak membuka pagar itu.
"Andwae,
hyeong. Kau tidak boleh masuk ke rumah itu. Seorang pria dilarang masuk ke
rumah seorang wanita yang tinggal sendirian." Hyunwoo mengutip kalimat
Shinhye tadi.
"Namja
saram–seorang pria? Tapi aku pernah sekali masuk ke rumah ini. Dia sendiri
yang mengijinkan. Sudahlah, aku masuk dulu."
"Hyeong,
andwae,"
teriak Hyunwoo khawatir.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Park Shin
Hye tidak kuanggap sebagai seorang wanita, jadi kau tenang-tenang saja," kilah Yonghwa menutup pembicaraannya dengan Hyunwoo.
Hyunwoo beranjak ingin menahan Yonghwa, tapi malah
ditahan oleh Jonghyun.
Yonghwa membuka pintu pagar Shinhye. Begitu hendak masuk, dia kaget melihat Shinhye sedang merapatkan telinganya di depan pintu pagarnya sendiri.
Yonghwa membuka pintu pagar Shinhye. Begitu hendak masuk, dia kaget melihat Shinhye sedang merapatkan telinganya di depan pintu pagarnya sendiri.
Yonghwa dan Shinhye sama-sama berlonjak kaget.
"Apa yang kau lakukan?" Yonghwa masuk
kemudian menutup pintu pagar rumah
Shinhye.
Shinhye terlihat gugup menjawab pertanyaan
Yonghwa. "Eoh?" Shinhye berusaha mencari kata-kata
yang tepat untuk meyakinkan Yonghwa bahwa dia tidak sedang menguping. "Aku hanya ingin bilang pada kalian bahwa
ini sudah larut malam. Sebaiknya
kalian pulang saja."
"Beri aku air. Aku haus." Yonghwa tidak
merespon dan malah berjalan hendak masuk ke rumah Shinhye.
"Ya,
ini sudah larut. Tidak baik
bertamu di rumah orang. Meskipun kau tidak menganggapku sebagai seorang wanita,
tapi kenyataannya aku ini wanita.”
“Ah.. kau mendengar
pembicaraan kami tadi yah?” seruduk Yonghwa.
“Itu..” Shinhye
gelagapan karena langkah Yonghwa yang terus menuju rumahnya. “Jadi, kau dilarang masuk…."
Shinhye berhenti bicara begitu melihat Yonghwa
sudah membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalamnya. Akhirnya Shinhye masuk juga ke dalam rumahnya dan melihat Yonghwa yang
sudah duduk meluruskan kaki di
lantai rumahnya.
"Beri aku segelas air. Aku haus," kata
Yonghwa lagi dengan mata terpejam.
"Ya,
sekalipun kau tidak menganggapku sebagai seorang wanita. Tapi kenyataannya, aku
ini wanita dan kau seorang pria. Kau tetap tidak bisa seenaknya bertamu di
rumah seorang wanita."
"Aku pernah sekali ke sini kan? Kenapa
waktu itu kau tidak melarangnya?"
timpal Yonghwa.
"Itu karena….." Shinhye hilang kata-kata, tidak tahu
harus bicara apa lagi. Sesekali dia menyesali kebodohannya, karena pernah
membiarkan Yonghwa masuk ke rumahnya dulu. Akhirnya sekarang, dia tidak tahu harus
pakai alasan apa untuk menyuruh Yonghwa pergi dari rumahnya.
"Kau sudah selesai bicara?"
Yonghwa membuka mata dan menatap Shinhye. "Kalau sudah selesai, tolong
beri aku segelas air karena sepertinya mereka butuh waku yang lama untuk
bicara." Yonghwa kembali menutup matanya.
"Apa kalian bisa bicara di tempat
lain?”
“Tidak,” ucap
Yonghwa retoris.
Shinhye hanya bisa
mendengus kesal mendengar jawaban Yonghwa. “Apa yang mereka berdua bicarakan di luar? Apa ini ada hubungannya denganku,
sehingga kalian bertingkah aneh di depanku? Apa yang sedang kalian
rahasiakan?"
"Kami tidak merahasiakan apa-apa. Kau tenang
saja, ini tidak ada hubungannya denganmu. Ini masalah antara Jonghyun dan
Hyunwoo. Biar mereka berdua selesaikan. Dan, ehm..." Yonghwa berdehem. "Soal tadi siang,
anggaplah tidak pernah terjadi. Besok, kau harus masuk bekerja. Jangan mangkir!" Yonghwa mengungkit kembali
masalah tadi siang di halte bus.
Melihat Yonghwa yang sulit sekali untuk mengucapkan kata maaf, karena siang
tadi telah membuat kesalahan, membuat Shinhye ingin sekali meninjunya. Karena
kesempatan, Yonghwa sedang menutup mata, Shinhye mulai melakukan aksinya dengan
mengolok-olok Yonghwa. Dia memutar-mutar bola matanya, menjulurkan lidahnya dan
mengepalkan tangannya ingin memukul Yonghwa. Begitu Yonghwa membuka matanya secara
tiba-tiba, Shinhye kemudian menyelip-nyelipkan anak rambutnya ke telinganya,
berpura-pura tidak melakukan apa-apa.
"Park Shin Hye, berapa kali lagi aku harus
bilang kalau aku haus? Bisakah kau mengambilkan segelas air untukku?" kata
Yonghwa menekankan pada kalimat terakhir.
Shinhye mencibir dan berjalan ke dapur mengambil
segelas air sesuai yang diminta Yonghwa.
Tiga puluh menit
berlalu.
Tit..tit.. Bunyi
nada pesan dari ponsel Yonghwa.
Dari: Jonghyun.
Yonghwa, kami sudah selesai
bicara. Aku lega sekali, dia mau mendengarkanku. Kami sudah pulang. Kau juga
pulanglah. Hati-hati di jalan.
"Chogi, apa mereka sudah selesai
bicara?" tanya Shinhye hati-hati, melihat Yonghwa yang sedang menyentuh
layar ponselnya membaca isi pesan masuknya.
"Jonghyun
bilang, dia dan Hyunwoo masih mengurus masalah di luar. Jadi aku harus tetap
menunggu di dalam."
"Mwo? Ini sudah jam sebelas malam. Kau
sebaiknya pulang. Bilang pada mereka, carilah tempat lain untuk berbicara. Dan
lagi.."
"Andwae," sambar Yonghwa.
"Mereka tidak akan suka diganggu kalau sedang bicara. Jadi aku akan
tinggal di dalam sampai mereka selesai bicara."
Shinhye hanya bisa
menggerutu melihat tingkah Yonghwa. "Geurae.
Aku mau tidur dulu. Kalau kau ingin pulang panggil saja aku. Selamat
malam."
"Hajjima!" kata Yonghwa menahan
langkah Shinhye.
Shinhye berhenti dan
berbalik pada Yonghwa.
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:
Posting Komentar