"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 16

Senin, 25 Juli 2016

Rain of Autumn Part 16

Part 16


“Seberapa jauh Shinhye-ssi sudah mengenal adikku?” Yoomi bertanya seolah Shinhye dan Yonghwa sedang menjalin suatu hubungan. “Apa dia tampan untuk dijadikan pacar?”
Shinhye hanya bisa tertawa sember. Lebih tepatnya karena dia benar-benar tak mengerti dengan maksud pertanyaan kakak perempuan Yonghwa ini.
Melihat Shinhye yang hanya bisa menjawabnya dengan tawa membuat Yoomi semakin menantikan jawabannya. Dengan tatapan menuntut, Yoomi terus memandang Shinhye menantikan gadis di depannya ini membuka mulutnya dan menjawab pertanyaannya.
Melihat tatapan menuntut Yoomi membuat Shinhye seakan merasakan hawa dingin di ruangan ini berubah menjadi panas. Saat itu juga Shinhye langsung melepas syal yang melingkar di lehernya dan meletakkannya di atas sofa yang sedang dia duduki.
Yonghwa tersenyum melihat tingkah gugup Shinhye. Sepertinya dia mengerti apa yang sedang dirasakan Shinhye saat ini. Untuk menyelamatkan Shinhye dari tatapan menuntut Yoomi, Yonghwa kemudian menjawab, “Justru aku baru ingin meminta ijinmu untuk mengencani gadis ini, noona.”
Sontak Shinhye dan Yoomi menatap Yonghwa kaget.
Shinhye-ssi belum menjadi kekasihmu?” tanya Yoomi yang menjadi malu dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan tadi. “Eoh, Shinhye-ya, aku minta maaf sudah membuatmu seakan tersudut. Mianhaeyo.”
Anieyo, eonnie. Gwaenchanayo.
Babo, kata Yoomi menatap Yonghwa dengan tatapan kesal.
“Park Shin Hye, seperti kataku tadi kalau aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang. Dan seseorang itu adalah noona-ku. Dia adalah orang pertama yang akan kukenalkan pada kekasihku. Karena kau calon kekasihku bicaralah di depan noona­-ku. Katakan dngan jujur semua perasaanmu padaku.” Dengan yakin Yonghwa berkata seakan-akan mengetahui dengan jelas seperti apa perasaan Shinhye.
Shinhye seakan ingin meninju wajah pria di sampingnya ini. Kalau saja sedang tidak berada di rumah noona-nya, mungkin Shinhye sudah mengumpatnya habis-habisan. Pria ini benar-benar kekanakkan. Dia membuat Shinhye benar-benar tersudut dengan perkataan sepihaknya itu. Shinhye diam, karena tidak tahu harus menjawab apa.
Yoomi yang membaca ekspresi wajah Shinhye seakan tahu apa yang sedang dialami gadis ini. Dengan langkah gamang dia menuju Yonghwa dan menendang kaki adiknya itu. “Ya, saekkiya! Apa yang kau lakukan padanya? Kau memaksanya jadi kekasihmu? Ah.. michinnyeon–brengsek. Pergi kau!” Yoomi memukul Yonghwa dengan bantal sofa yang dipegangnya.
Yonghwa menghindar dan berlari mengitari ruang tengah rumah itu. “Noona-ya, kau jangan membuatku malu di depan gadis yang kusukai.”
Mworago? Kau berani membentakku? Pergi kau, nappeun saekkiya!” Yoomi terus mengumpat Yonghwa sambil mengejarnya dan memukulnya dengan bantal sofa itu.
Mereka baru berhenti kejar-mengejar setelah mendengar suara tangisan Jinyoung, anak Yoomi yang terganggu dengan keributan yang dibuat mereka. Yoomi berlari ke arah Jinyoung, menggendongnya dan membujuknya agar tenang lagi.
Mianhata, Shinhye-ssi. Kau pasti merasa terganggu dengan keributan yang kami buat,” kata Yoomi dengan nafas yang tersengal-sengal.
Anieyo, eonnie.”
“Tunggulah di sini untuk makan malam, Shinhye-ya. Dan kau,” kata Yoomi mendelik ke arah Yonghwa. “Jangan pernah menyentuh piring dan sendokku.”
Kalau begitu aku akan makan menggunakan mangkukmu, noona.”
Bujung–busung lapar!” ledek Yoomi dengan panggilan yang biasa dia pakai memanggil Yonghwa kalau-kalau sedang marah.
Noona, Jung adalah margamu juga. Maji–benarkan?” ujar Yonghwa membela diri. “Aku pun bisa memanggilmu bujung.”
Shinhye tersenyum simpul melihat tingkah Yonghwa yang tak biasa. Sikapnya benar-benar berbeda ketika sedang bersama noona-nya. Dia lebih ramah dan lebih sering tertawa dan tersenyum.
“Shinhye-ya, bilang padaku kalau saja si bodoh ini tak memperlakukanmu dengan baik.” Yoomi tidak memedulikan perkataan Yonghwa.
Shinhye mengangguk. Eonnie-ya, apa aku bisa membantumu memasak?” tanya Shinhye ketika Yoomi menyerahkan Jinyoung pada Yonghwa dan hendak berjalan menuju dapur. “Aku lumayan hebat bermain dengan pisau.” Shinhye mencoba akrab.
“Benarkah? Tentu saja kau boleh membantuku. Kajja!”


***
“Lama sekali kalian memasak. Aku dan Jinyoung benar-benar kelaparan menunggu masakan kalian,” keluh Yonghwa. “Benarkan, Jinyoung-ah?” Yonghwa mengangkat Jinyoung tinggi melebihi pundaknya dan kemudian mencium-cium bocah kecil itu sampai dia geli dan tawanya mengisi ruang itu. “Ah.. aku berharap anak kita akan seperti Jinyoung juga, Park Shin Hye.” Yonghwa berhenti menggelitik bayi itu dan mengarahkan pandangannya ke Shinhye.
Shinhye tersenyum sember mendengar kalimat sepihak Yonghwa lagi. Sedang Yoomi malah memelototi adiknya dan membuat Yonghwa berhenti bicara dan memilih keluar dari dapur.


***
“Lain kali, kalian berdua main-main lagi ke sini. Kami benar-benar terhibur dengan kehadiran kalian, kata Soobin ketika mengantar Yonghwa dan Shinhye keluar rumah hendak pulang.
Ne, oppa,” ujar Shinhye malu-malu.
“Huh!” Yonghwa mendengus. “Untung saja, oppa yang satu ini sudah menikah. Kalau tidak dia akan tertarik padamu.” Yonghwa mendelik ke arah Shinhye.
Mereka berempat tertawa mendengar kalimat cemburu Yonghwa.
“Yonghwa-ya, kusarankan kau jangan terlalu agresif. Park Shin Hye jadi takut padamu.” Soobin memberi saran.
Oppa, apa kita bisa foto bersama?” ungkap Shinhye masih malu-malu.
“Tentu saja.”
Shinhye mengeluarkan ponselnya. “Eoonie, maaf karena...”
Yoomi memotong kalimat Shinhye seakan tahu apa yang akan Shinhye ucapkan selanjutnya. “Tidak apa-apa. Aku mengerti. Silahkan, foto bersama!”
Hana, dul, set. Kimchi,” ucap Shinhye diikuti bunyi jepretan foto.
Ige mwoya?” Shinhye berbalik menatap Yonghwa dengan tatapan kesal. “Apa yang kau lakukan di..?” Kalimat Shinhye terpotong karena dia sendiri tak mampu melanjutkan kalimatnya.
“Coba aku lihat.
Shinhye menyerahkan ponselnya pada Soobin. Melihat hasil fotonya, Soobin hanya bisa tertawa karena wajah Yonghwa yang ikut-ikutan ada dalam foto. “Ayo kita foto sekali lagi, ajak Soobin begitu melihat wajah cemberut Shinhye.
Andwae. Kalian tidak boleh melakukannya, karena aku akan terus mengganggu kalian,” kata Yonghwa dengan tangan yang terlipat dan dagu yang terangkat.
Shinhye hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah Yonghwa. “Tidak usah lagi, oppa. Ini sudah malam sebaiknya kami pulang. Eonnie, oppa, Jinyoung-ah, kami pulang dulu. Selamat malam.”
Shinhye dan Yonghwa pamit, masuk ke mobil dan meninggalkan rumah Soobin dan Yoomi.


***
Begitu tiba di depan pagar rumah Shinhye, Yonghwa mematikan mesin mobilnya kemudian berbalik menatap Shinhye. Dengan tatapan serius dia menatapi setiap lekukan yang ada pada wajah Shinhye. Dia kemudian berkata, “Apa kau tidak pernah berpikir untuk terpesona padaku, bahkan hanya semenit saja?”
Semenit saja? Kau tidak perlu khawatir karena aku selalu terpesona padamu setiap waktu. Ah... Seandainya saja aku mampu mengatakan kalimat itu, gumam Shinhye dalam hati. Gadis ini tak mampu berkata apa-apa dan lebih memilih untuk merenggut.
“Apa kau tipe wanita yang senang membuat orang berusaha mengejarmu? Mempermainkan mereka?”
Sikapnya berubah lagi.” Masih dalam hati dia berkata-kata.
“Jawab aku, Park Shin Hye!” Yonghwa mengatupkan bibir dan membiarkan giginya beradu.
“Aku harus masuk.” Shinhye mencoba membuka sabuk pengaman yang terpasang di badannya. Tapi dengan sigap, Yonghwa menarik tangannya dan mencium bibirnya dengan kasar. Shinhye mencoba melepaskan genggaman tangan Yonghwa tapi dia tidak kuat. Dengan kekuatan penuh Yonghwa menahan tangan Shinhye. Bibir Yonghwa kini masih menempel pada bibir Shinhye.  Yonghwa terus menciumnya dan Shinhye tidak bisa berbuat apa-apa, selain membiarkan Yonghwa menikmati ciumannya. Setelah merasa puas melampiaskan kemarahannya, Yonghwa melepaskan tangan Shinhye. Dengan wajah penuh amarah Shinhye menatap Yonghwa, kemudian melepaskan sabuk pengamannya dengan kasar dan berlalu meninggalkan Yonghwa.


***
Shinhye berdiri di depan cermin kamar mandinya, memegang bibirnya dan hendak membersihkan bibirnya dari bekas ciuman Yonghwa yang dirasanya masih menempel di bibirnya. Tapi kemudian dia urung melakukannya. Karena tiba-tiba dia merasakan bahwa ini adalah ciuman pertamanya. Meski ciuman pertamanya ini dinilai sedikit kasar, tapi yang melakukannya adalah orang yang membuat jantungnya selalu berdegup kencang ketika menatap mata orang itu. Setelah menatap lama dirinya di kaca, dia baru menyadari bahwa dia melupakan syal yang dipakainya tadi.
Aigoo, itu kan syal pemberian eomma,” keluh Shinhye melihat syal yang seharusnya melingkar di lehernya kini tak dipakainya lagi. Kenapa aku harus meninggalkannya di rumah Yoomi eonnie? Oeteokkhae, oeteokkhae? Bagaimana aku bisa ke sana? Aku bahkan tak mengingat jalannya lagi. Ah..” Shinhye mendengus sebal dengan kecerobohannya ini. “Apa aku harus meneleponnya dan memintanya mengantarkanku ke sana lagi? Andwae. Maldo andwae. Ah
Tut..tut..tut..
Terdengar nada sambung dari seberang telepon.
Yoebeseyo! Kenapa kau menghubungiku malam-malam?” kata suara di seberang sana.
Igo?” ujar Shinhye ragu-ragu. “Aku harus mengambil kembali...”
“Ciumanmu? Kau harus mengambil kembali ciumanmu?”
Mworagoya? Micheosseo? Ah.. dwaesseo. Kkeunheo–kututup teleponnya!” Shinhye mematikan panggilan teleponnya.
“Mengambil kembali ciumanmu? Hahaha…” Tawa Shinhye yang terdengar sangat terpaksa. “Aku bahkan berakhir dengan meneleponmu karena syal itu. Tapi? Kau? Semua dalam pikiranmu hanya berujung ke arah negatif. Dasar pria bodoh!” umpat Shinhye setelah mematikan ponselnya.
Drrtt.. drrtt.. drrtt..
Bunyi getar ponsel Shinhye membuat Shinhye menatap layar ponselnya. Nama Bos Jung dengan aksara Hangul tertera di sana. Pria itu meneleponnya  balik.
“Huh! Bos Jung? Bahkan namamu tidak kuganti lagi dengan meongcheongi, karena akhirnya aku menghargaimu sebagai bosku. Tapi kau? Kau benar-benar.. Shinhye menyuekkan panggilannya. Dia malah mengganti pakaiannya dan naik ke ranjang tidurnya.
Bunyi nada dering yang dicuekkannya berganti dengan bunyi nada pesan yang membuatnya harus kembali membuka mata dan melihat isi pesan itu.

Kenapa kau meneleponku? Katakan padaku, aku penasaran. Apa yang ingin kau ambil?

“Huh!” Shinhye mendesis sambil memukul-mukul bantal peluknya membayangkan wajah Yonghwa sebagai bantal peluknya. Karena tidak membalas pesan dari Yonghwa, Shinhye  malah dikunjungi beberapa pesan lagi yang datangnya serentak. Satu persatu dibukanya pesan-pesan tersebut. Masih pengirim yang sama. Bos Jung.

Kau tidak mau mengatakan maksudmu?

Kenapa kutelepon kau tidak mau mengangkatnya?

Ya, Park Shin Hye! Apa kau sedang mempermainkanku? Marhaebwa!

Apa kau mau aku ke rumahmu sekarang?

Ya! Balas pesanku!


Shinhye kemudian menekan tombol off pada ponselnya. Dan dengan nyaman, dia meletakkan kepalanya di atas bantal tidurnya dan tidur dengan nyenyak.


JeResto.
Ya! Kau tidak mendengarkanku?” seru Yoojin karena sikap cuek Yonghwa. 
“Yoojin-ah, pelankan suaramu! Karyawan yang lain bisa mendengarnya.”
Je m’en fiche–Aku tak peduli! Biar dia sendiri yang mendengarnya.”
Yonghwa menghirup nafas panjang dan kemudian menghembuskannya lagi. “Mian. Jeongmal mianhae. Aku benar-benar tak bermaksud membuat eomma...”
Geumanhae. Berhenti mengatakan maaf. Kau benar-benar telah membuat bibi kecewa padamu. Hanya karena ingin bersamanya, kau bahkan tidak mengindahkan makan malam yang jarang kau lakukan bersama bibi.
Yonghwa diam membisu. Dalam hal ini dia benar-benar merasa bersalah pada eomma-nya dan juga Yoojin. Oleh karena itu dia memilih untuk tidak membela diri dan lebih baik mendengar semua pernyataan kekesalan Yoojin.
Kau pernah bilang padaku kalau kau sangat sibuk sehingga kau tak pernah bisa kuajak untuk bertemu Yoomi eonnie. Tapi kemarin kau bisa menemui eonnie bersama gadis itu?” Yoojin terus protes. “Ya, Jung Yong Hwa, tatap aku dan jawab pertanyaanku?” seru Yoojin dengan suara yang lantang.
Yonghwa tetap tak menjawab.
“Untuk saat ini aku akan memaafkanmu. Tapi lain kali, kau akan kulaporkan pada paman dan bibi. Aku akan mengatakan semuanya. Semuanya tentang kau dan gadis itu.” Yoojin kemudian memilih berlalu meninggalkan Yonghwa di kantornya.
“Kau puas membuat Ibu Yonghwa menangis?” kata Yoojin dengan tatapan melotot pada Shinhye ketika dia dan Shinhye berpapasan di pintu masuk ruang kerja Yonghwa. Tanpa perlu mendengar respon dari Shinhye, Yoojin pun berlalu meninggalkannya.
Shinhye bingung dengan pertanyaan Yoojin barusan. Namun dengan langkah cepat dia berjalan masuk ke ruangan Yonghwa. Mungkin di sana dia bisa menemukan jawabannya. Apa yang dikatakan Yoojin-ssi itu benar?” kata Shinhye ketika dia sudah berada di dalam ruang kerja Yonghwa “Apa ibumu menangis karena aku?” tanyanya menuntut jawaban dari Yonghwa.
Yonghwa diam tak berkutik.
Karena Yonghwa tidak menjawab, Shinhye kemudian melontarkan beberapa pertanyaan lagi. “Tapi aku dan ibumu bahkan tak saling mengenal. Lalu kenapa Yoojin-ssi bilang ibumu menangis karena aku? Apa maksudnya mengatakan hal itu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataannya. Apa kau bisa menjelaskan semuanya padaku, Jung Yong Hwa-ssi?”
“Jangan dengarkan kata-kata Yoojin. Dia hanya asal bicara karena suasana hatinya sedang tidak baik.” Yonghwa akhirnya buka suara.
Geurae? Kalau begitu ada perlu apa kau memanggilku? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku?” Shinhye bicara dengan nada ketus.
“Aku pikir kau tidak akan mau ke sini. Kemari! Duduk!” Yonghwa menginstrusikan Shinhye untuk duduk di sofanya.
“Aku banyak kerjaan. Persingkat saja kata-katamu,” kata Shinhye tetap berdiri tanpa mengikuti instruksi Yonghwa.
Ya! Apa kau masih marah karena kejadian kemarin? Kalau kau sangat marah, baiklah aku akan minta maaf.”
Shinhye tidak menjawab.
Melihat ekspresi datar pada wajah Shinhye, Yonghwa kemudian mulai mencari kalimat yang lebih sopan dari kalimat-kalimat yang sebelumnya dianggapnya sedikit kasar. “Kupikir kau akan berhenti bekerja. Syukurlah, kau tidak melakukannya.”
Shinhye tetap bergeming di tempatnya.
Melihat Shinhye yang tidak juga meresponnya, membuat Yonghwa bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Shinhye.
“Jangan mendekat!” Shinhye akhirnya bersuara.
“Apa aku terlihat menjijikan sehingga kau tak mau mendekatiku, eoh?Yonghwa tertawa kecil sambil mengusap wajahnya.
“Aku bilang jangan mendekat!” kata Shinhye geram karena Yonghwa yang tidak mendengarkannya.
Huh!” Yonghwa mendengus. “Apa kau pikir aku akan menciummu lagi?” Yonghwa menghentikan langkahnya dan kemudian berkata, “Aku hanya akan menciummu saat...”
“Kau marah?” Shinhye memotong perkataan Yonghwa. “Kau hanya akan menciumku saat kau marah?” jawab Shinhye dengan nada kasar. “Apa kau jenis orang yang melampiaskan perasaan marahmu dengan mencium orang lain?”
Museun soriya?” seru Yonghwa dengan kedua alisnya terangkat ke atas. “Apa kau pikir aku menciummu kemarin karena sedang marah?” geram Yonghwa. Giginya terus beradu ketika dia saling bersahut-sahutan dengan Shinhye. “Aku...” Yonghwa mengatur nafasnya mencoba melanjutkan kalimatnya. “Dwaesseo...” Yonghwa memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya tadi. Pikyeo–minggir!” kata Yonghwa menabrak pundak Shinhye dan berjalan keluar dari ruangannya sendiri, meninggalkan Shinhye yang masih berdiri mematung di ruangan Yonghwa.


***
“Apa yang terjadi padamu dengan bos Jung, sampai-sampai kalian tidak saling bicara? Apa kau membuat kekacauan lagi? Shinhye-ya, jawab aku!”
Shinhye tetap melangkah dan tidak tertarik untuk merespon pertanyaan-pertanyaan Jiwon.
“Ayolah Shinhye, jawab pertanyaanku.” Jiwon terus berusaha membujuk. “Kemarin waktu sidangnya dengan Jonghyun, dia bahkan bertanya tentangmu padaku.”
Shinhye tetap bergeming.
“Shinhye-ya, apa kau tidak penasaran sedikit pun tentang apa yang bos katakan tentangmu?”
Karena Shinhye yang tetap tidak merespon membuat Jiwon harus membeberkannya tanpa diminta. “Dia menanyakan padaku kenapa kau tidak ikut denganku ke sidang kemarin?”
Shinhye berhenti berjalan dan berbalik pada Jiwon yang hanya selangkah di belakangnya. “Geumanhae!” ujarnya lembut. “Berhenti bicara tentang pria itu. Aku tidak tertarik.”
Jiwon  menelan ludahnya karena kaget dengan tingkah Shinhye yang secara tidak langsung membuatnya berhenti bicara.
Eoh!” Sontak air muka Jiwon berubah. Kedua matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar dan seluruh tubuhnya terlihat menegang.  
Shinhye berbalik mencari alasan di balik perubahan wajah sahabatnya itu secara tiba-tiba. Shinhye pucat melihat pria yang sedang berjalan ke arahnya itu. Langkahnya semakin dekat dengan posisi di mana Shinhye berdiri. Begitu keduanya berpapasan, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut kedua orang itu. Bahkan untuk sapaan sederhana pun, tidak. Pria itu lebih memilih berlalu meninggalkan Shinhye dan Jiwon yang masih terpaku di tempat mereka berdiri.


Satu bulan kemudian.
“Makasih karena sudah mendukungku selama bekerja di restaurant ini. Karena kuliahku sudah berakhir, ayahku akan memanggilku untuk bekerja di perusahaannya. Aku tidak akan bisa bersama kalian lagi di sini. Oleh karena itu, sebelum kepergianku aku ingin kita rayakan bersama perpisahan ini,” ucap Yonghwa pada karyawan-karyawan JeResto yang sedang berkumpul di restaurantnya saat ini.
Semua karyawan mengangkat gelas anggur mereka masing-masing dan bersulang untuk perpisahan Yonghwa.
“Aku berharap ke depan kalian jangan pernah jenuh bekerja di restaurant ini. Aku mohon bantuan kalian untuk hal ini,” kata Yonghwa sambil membungkuk pada karyawan-karyawan yang dalam beberapa jam saja akan menjadi mantan karyawannya.
Ne. Kami akan melakukan yang terbaik yang kami bisa.” Serempak semua karyawan menjawab. Hanya Shinhye yang tetap diam tanpa menatap Yonghwa sedikit pun.
Sudah sebulan, Shinhye dan Yonghwa tidak saling bicara karena masalah ciuman yang mereka ungkit ketika di ruang kerja Yonghwa sebulan yang lalu. Bukan hanya tidak bicara, mereka bahkan tidak saling menyapa meski jalan mereka bersisian. Entah itu di kampus, di JeResto atau pun di mana saja mereka bertemu tanpa sengaja.
“Mereka berdua benar-benar keras kepala.” Hyejoon berbisik pada Jiwon ketika melihat Shinhye dan Yonghwa yang masih saling mengacuhkan satu sama lain. “Sebenarnya apa yang menyebabkan mereka seperti ini? Aku benar-benar penasaran karena sebelumnya bos malah terlihat sedang mengejar-ngejar Shinhye.”
“Shinhye bahkan tidak mengungkit masalah ini sedikit pun padaku.” Jiwon ikut berbisik ke telinga Hyejoon. “Apa karena Shinhye menolak cinta bos?” Jiwon terlihat berpikir sejenak. “Aku rasa memang seperti itu. Karena Shinhye pernah berkata kalau ada namja yang mengungkapkan cinta padanya. Tapi sampai sekarang aku tidak tahu siapa namja itu. Dilihat dari tingkah bos hari-hari kemarin, sepertinya dialah namja itu.”
“Kalau memang seperti itu. Mereka berdua sangat kekanakkan. Kenapa mereka berdua harus saling mengacuhkan seperti ini? Mereka kan sudah dewasa. Apa mereka tidak bisa bertingkah seperti pria dan wanita dewasa saat menyelesaikan masalah? Aku benar-benar tidak tahan melihat mereka seperti ini?”

“Siapa pun tidak akan tahan melihat sikap dingin mereka yang seperti ini, eonnie. Kali ini biarlah waktu yang menjawab kapan mereka berdua mau berdamai,” ujar Jiwon sekaligus menutup pembicaraannya dengan Hyejoon.

To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar