Part 4
"Kalau begitu, jika anda ingin memesan nanti,
panggil saja saya. Sillyehamnida."
Pelayan itu berjalan meninggalkan Jonghyun. Tapi, belum sampai tiga langkah, dia
mendadak berhenti karena
dipanggil
Jonghyun. Dia berbalik mendapati Jonghyun.
"Chogiyo,
kalau boleh tahu siapa nama anda?" Jonghyun bertanya tanpa malu-malu.
Pelayan yang dimaksud kaget dengan pertanyaan Jonghyun
yang tidak biasa diucapkan oleh para pelanggan yang datang. Tapi sebagai bentuk
kesopanan dia menjawab,
katanya, "Kim Ji Won imnida."
"Gomapseumnida,
Kim Ji Won-ssi. Lee Jong Hyun imnida,” timpal Jonghyun memperkenalkan
dirinya, yang rasanya tidak perlu bagi gadis ini untuk mengetahui siapa dia. “Senang berkenalan dengan anda," kata Jonghyun dengan
senyuman tersungging di wajahnya.
“Senang
berkenalan dengan anda juga. Lee Jong Hyun-ssi, saya ke belakang dulu.” Gadis itu berjalan meninggalkan
Jonghyun yang masih menyibukkan diri memberikan berbagai jenis pujian untuknya
di hati Jonghyun.
Ada apa dengan
gadis itu? Kenapa dia begitu hebat membuatku terus terpesona olehnya?
"Jonghyun-ssi. Lee Jong Hyun-ssi. Direktur Lee," sapa Shinhye sambil melambai-lambaikan tangannya di depan
wajah Jonghyun.
Jonghyun tersadar dari lamunannya, dan mendapati Shinhye
sudah duduk di depannya.
"Eoh, Shinhye-ssi. Sudah lama sampai?"
"Eoh, Shinhye-ssi. Sudah lama sampai?"
"Tidak. Baru saja sampai. Apa yang sedang kau pikirkan
sampai-sampai kau tidak merespon saat kutegur?"
"Eoh, itu. Aku… aku sedang memikirkan
tentang pekerjaan. Hanya pekerjaan tidak ada yang lain,” jelas Jonghyun. “Shinhye-ssi, dari mana kau tahu tempat
ini?"
Shinhye mengerutkan kening. "Tempat ini?"
"Ye."
"Ini tempat saya bekerja dulu."
"Ini tempat saya bekerja dulu."
"Kenapa kau tidak lagi bekerja di tempat ini? Maaf,
saya hanya ingin tahu."
"Dipecat karena alasan yang tidak masuk akal,"
jujur Shinhye.
"Kau dipecat manager-mu
atau pemilik restaurant ini? Sekali
lagi maaf, kalau rasa ingin tahu saya mengganggumu."
"Apa anda akan memecat saya juga, setelah
mengetahui alasan
saya dipecat?"
"Animnida,” tegas Jonghyun dengan tatapan
yang jelas menyatakan bahwa dia serius mengatakannya. “Saya hanya
ingin mengenal asisten pribadi saya lebih jauh. Dengan begitu saya lebih cepat
memercayaimu."
Shinhye mengangguk-angguk. Kemudian dia menceritakan awal
kisah dia bekerja dan akhirnya dipecat. Sesekali, Jonghyun tersenyum lucu
melihat ekspresi wajah Shinhye yang terus berubah-ubah sesuai isi ceritanya.
"Menurutmu, siapa yang benar dalam hal ini?"
"Kau makan dulu," kata Jonghyun ketika pelayan
datang mengantarkan pesanan mereka.
"Tuan, Shinhye, saya permisi dulu," kata gadis pelayan yang melayani mereka.
"Tuan, Shinhye, saya permisi dulu," kata gadis pelayan yang melayani mereka.
"Ne,
Hyejoon eonni," balas Shinhye.
"Mendengar ceritamu, aku benar-benar bingung dengan
anak pemilik restaurant ini. Kenapa
dia memecatmu dengan alasan yang tidak masuk akal? Kau kan hanya ingin membela
wanita itu. Iya kan?"
Shinhye mengangguk pasti.
"Dengan kau mendatanginya dan menyuruhnya minta maaf
pada wanita yang dikasarinya itu, dia seharusnya sadar dengan sikapnya yang
kasar. Bahkan orang lain saja bisa menyadari sikapnya, kenapa dia sendiri
tidak? Dia seharusnya bangga punya pelayan sepertimu, yang mau membela
pengunjung yang lemah. Tapi yang
terjadi malah sebaliknya."
"Dia benar-benar pemilik tak punya hati."
Shinhye mendengus kesal, begitu mengingat kembali perbuatan Yonghwa.
“Hati-hati kalau bicara, kau sedang berada di tempat
pemilik tak punya hati itu,” ujar Jonghyun berbisik.
“Dia tidak pernah mengunjungi tempat ini. Jadi tidak usah
takut kalau dia akan menangkap basah aku membicarakannya.”
Jonghyun hanya tertawa dan kemudian berkata, "Kalau
kau bisa melakukan apa pun yang kau mau, apa yang ingin kau lakukan pada
pemilik tak punya hati itu?"
"Oh, kalau hal seperti itu ada, aku ingin sekali
menyuruh pemilik tak punya hati itu untuk berlutut bahkan sampai mencium tanah
minta maaf kepada wanita yang dia kasari juga aku. Kalau dia tidak mau, aku ingin sekali
mengubahnya menjadi seekor kecoak. Dengan begitu aku bisa menginjaknya sesuka hatiku. Dan yang
terakhir, aku ingin sekali menendangnya keluar dari muka bumi ini. Pria tanpa
hati itu tidak pantas bersosialisasi dengan manusia. Mungkin dia perlu tinggal
di planet lain. Dengan begitu, dia tidak perlu susah-susah menolak cinta orang.
Dia beruntung, karena masih ada wanita yang mendatanginya. Suatu hari nanti,
bagaimana kalau tidak ada lagi wanita yang tertarik padanya, karena sikap
kasarnya itu? Menurutmu?"
Jonghyun membelalak ngeri mendengar isi penuturan asistennya ini, yang secara tidak langsung telah menegur dia karena sering menolak wanita atau memilih-milih wanita terbaik yang bisa dijadikan pasangannya.
Jonghyun membelalak ngeri mendengar isi penuturan asistennya ini, yang secara tidak langsung telah menegur dia karena sering menolak wanita atau memilih-milih wanita terbaik yang bisa dijadikan pasangannya.
"Geurae.
Kau benar sekali. Bagaimana kalau suatu hari nanti, tidak ada lagi wanita yang
mau mendekatinya?"
"Dia akan hidup sendiri sampai mati." Shinhye tertawa bahagia, seakan membayangkan semua yang dia ingini betul-betul terjadi pada Yonghwa.
"Dia akan hidup sendiri sampai mati." Shinhye tertawa bahagia, seakan membayangkan semua yang dia ingini betul-betul terjadi pada Yonghwa.
Jonghyun ikut tertawa bersamanya. "Shinhye-ssi, kau benar-benar lucu. Aku tidak
sabar lagi menunggu makan siang yang berikut dan berikutnya lagi. Sepertinya
aku mulai tertarik dengan ceritamu tentang pemilik tak punya hati itu."
Pipi Shinhye memerah mendengar perkataan Jonghyun.
"Jonghyun-ssi, sebenarnya apa
yang ingin anda bicarakan dengan saya?" kata Shinhye kembali formal.
Setelah sadar hari ini dia banyak berkata informal pada bosnya ini.
"Tidak ada sesuatu yang penting. Aku hanya ingin
mengenalmu lebih dekat. Dengan begitu aku bisa percaya sepenuhnya padamu,"
jawab Jonghyun. "Shinhye-ssi,
makan siang berikutnya biar aku yang menjadi naratornya. Kali berikutnya, aku
sangat butuh seseorang untuk berbagi. Dan itu kau. Kau mau kan?"
Shinhye menatap Jonghyun lekat-lekat, tidak menyangka
pria yang menurutnya memiliki segala hal ini, ternyata sendiri. Dia tidak punya
seseorang dekat yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita. Meski dia membutuhkan
orang itu. Dan hari ini, dengan tulus dia meminta Shinhye untuk menjadi teman
berbagi cerita dengannya. Shinhye benar-benar senang. Pria yang akhir-akhir ini terus melintas dalam
pikirannya, memilihnya menjadi teman berbagi cerita. Meski tidak
lebih dari hanya menjadi teman, tapi Shinhye benar-benar bahagia karena hanya
dengan cara ini dia bisa mengenal Jonghyun lebih dekat. Tanpa banyak kata,
Shinhye menjawab pertanyaan Jonghyun dengan anggukan mantap.
Universitas Kyunghee
"Ya, Park
Shin Hye, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" seru Jiwon kesal karena
tidak mendapat respon dari Shinhye.
"Jiwon-ah,
telingaku hampir tuli mendengar teriakanmu."
"Kau benar-benar keterlaluan, kemarin datang tanpa
memberitahu. Aku kan penasaran juga ingin melihat seperti apa rupa bosmu."
"Mianhae. Kemarin aku
benar-benar lupa. Lagian kau di mana kemarin saat aku di restaurant?"
"Igeo, aku disuruh manager mengantar pesanan presdir."
"Igeo, aku disuruh manager mengantar pesanan presdir."
"Mwo? Kau
bertemu dengan presdir? Apa dia sudah kembali ke Seoul?"
"Ne,"
jawab Jiwon singkat.
"Pesanan apa itu?"
"Molla.
Terbungkus rapat dalam kotak. Shinhye-ya,
kenapa kau bertanya hal aneh?"
"Aku hanya ingin memastikan bahwa manager menyesal memecatku. Maksudku
pesanan itu mungkin surat permintaan pada presdir untuk memperkerjakanku
kembali."
Jiwon tertawa lucu dengan spekulasi Shinhye.
"Tapi Jiwon-ah,
apa kau bertemu juga dengan anaknya yang tak punya hati itu?"
"Aniyo.
Dia tidak ada di kantor presdir."
"Baguslah. Aku takut kalau dia melihatmu, dia juga
akan memecatmu. Jadi mulai sekarang, sebaik mungkin kau harus menghindar
darinya."
"Kau tidak usah khawatir soal itu. Kalau suatu hari
aku dipecat juga, kan masih banyak lowongan pekerjaan di luar sana."
Shinhye hanya mengangguk setuju. Meski sebenarnya dia
tidak yakin akan banyaknya lowongan pekerjaan di luar sana. Buktinya sekarang, dirinya hanya
bisa menjadi seorang asisten pribadi yang hanya bekerja saat dia benar-benar
dibutuhkan.
***
Semburan tawa dari Jonghyun dan sepupunya memenuhi ruang
kerja Jonghyun. Mereka tertawa karena mengingat masa-masa SMA mereka.
"Aku benar-benar tidak menyangka dia ternyata
menyukaimu," aku Jonghyun.
"Aku malah berpikir dia pasti menyukaimu. Itu
sebabnya, aku menyuekinya."
"Aku sendiri baru tahu saat dia jujur padaku bahwa
dia menyukaimu. Saat itu aku benar-benar merasa bersalah, karena telah
mengatakan cinta padanya yang seharusnya hakmu,"
timpal Jonghyun.
Mereka tertawa lagi.
"Tidak apa-apa. Lagian saat itu, aku sungguh tidak
menyukai dia lagi."
"Yonghwa-ya,” kata
Jonghyun dengan tatapan tajam. “Bisakah kita berhenti menganggap wanita seperti
barang yang setelah dimiliki kita akan bosan dan ingin mencari yang baru
lagi?"
"Apa maksudmu?" tanya Yonghwa mendengar penuturan Jonghyun yang tidak biasa.
"Apa maksudmu?" tanya Yonghwa mendengar penuturan Jonghyun yang tidak biasa.
"Aku hanya tidak ingin sesuatu buruk menimpa kita
berdua."
"Apa kau tadi
terpeleset di kamar mandi?"
"Aku serius,” jawab Jonghyun datar. “Dengan sikap
kita yang sering menyueki wanita, bagaimana kalau hal itu menjadi karma untuk
kita sendiri?"
Yonghwa tertawa, "Kau benar-benar berubah nelangsa.
Apa yang tiba-tiba membuatmu seperti ini?"
"Seseorang telah menyadarkanku akan hal ini."
"Siapa orang itu? Aku benar-benar penasaran ingin
melihat orang yang telah berjasa menyadarkanmu." Yonghwa masih tidak
serius merespon ucapan Jonghyun.
"Jung Yong Hwa! Aku bicara
serius," sembur Jonghyun kesal.
Yonghwa kaget setengah mati mendengar Jonghyun berbicara
kasar padanya. Matanya
membelalak. Sejurus kemudian dia mendengus dan bangkit dari duduknya kemudian
berkata, "Jadi? Teruskanlah sikap melow-mu. Kalau kau ingin melakukan hal yang tidak bisa kulakukan,
silahkan saja. Tapi, jangan mengajak-ajakku melakukan hal yang tidak ingin
kulakukan. Satu hal lagi, beritahu orang yang berjasa menyadarkanmu itu untuk
jangan pernah mencoba mengajariku dengan teorinya yang tak masuk di akal. Aku tidak
dan tidak akan pernah percaya dengan apa yang namanya karma. Jadi Lee Jong
Hyun, sebaiknya pertemuan kita berakhir di sini."
***
Shinhye berlari cepat menuju bawah jembatan sungai Han.
Di sana dia melihat Jonghyun sedang
berdiri termangu memandangi sungai Han. Hari ini Jonghyun yang
memilih tempat pertemuannya. Dan di sungai inilah pilihan Jonghyun jatuh
atasnya. Shinhye berlari menghampiri Jonghyun.
"Apa kau sudah lama menunggu, Jonghyun-ssi?"
Jonghyun tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan meminta
Shinhye berdiri di sampingnya.
"Shinhye-ssi, apa hari ini kau siap menjadi pendengar yang baik?" tanya Jonghyun sember.
Begitu Shinhye menjawab, Jonghyun langsung memulai ceritanya. Dari dia yang awalnya juga berkuliah di Universitas Kyunghee dan ingin sekali mengambil jurusan musik modern karena keinginannya menekuni gitar. Dia sangat tergila-gila pada benda yang bernama gitar itu. Tapi kemudian ditentang dan dipaksa mengambil jurusan bisnis. Karena dia harus menggantikkan posisi ayahnya sebagai seorang presdir di perusahaan mereka. Tapi kemudian dia yang tiba-tiba dipaksa menjadi direktur sementara untuk mengawasi keadaan perusaahaan selama ayahnya harus dirawat di Amerika. Bagaimana awalnya dia menolak pemaksaan ini, karena telah membuatnya mengorbankan hobinya. Tapi dia seakan tidak punya kuasa untuk menentang ayahnya. Dan berakhir dengan melakukan semua keinginan ayahnya.
"Shinhye-ssi, apa hari ini kau siap menjadi pendengar yang baik?" tanya Jonghyun sember.
Begitu Shinhye menjawab, Jonghyun langsung memulai ceritanya. Dari dia yang awalnya juga berkuliah di Universitas Kyunghee dan ingin sekali mengambil jurusan musik modern karena keinginannya menekuni gitar. Dia sangat tergila-gila pada benda yang bernama gitar itu. Tapi kemudian ditentang dan dipaksa mengambil jurusan bisnis. Karena dia harus menggantikkan posisi ayahnya sebagai seorang presdir di perusahaan mereka. Tapi kemudian dia yang tiba-tiba dipaksa menjadi direktur sementara untuk mengawasi keadaan perusaahaan selama ayahnya harus dirawat di Amerika. Bagaimana awalnya dia menolak pemaksaan ini, karena telah membuatnya mengorbankan hobinya. Tapi dia seakan tidak punya kuasa untuk menentang ayahnya. Dan berakhir dengan melakukan semua keinginan ayahnya.
"Determinisme yang menyakitkan." Jonghyun
mendesis. "Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat bodoh karena mengorbankan
hal yang kusukai demi melakukan hal yang tidak kusukai?"
Shinhye tidak langsung menjawab. Dia masih kaget dengan kehidupan Jonghyun yang tidak dia sangka, jauh dari kesempurnaan. Dia ibah melihat Jonghyun. Andaikan Jonghyun mau, Shinhye ingin sekali meminjamkan bahunya untuk dipakai Jonghyun bersandar.
Shinhye tidak langsung menjawab. Dia masih kaget dengan kehidupan Jonghyun yang tidak dia sangka, jauh dari kesempurnaan. Dia ibah melihat Jonghyun. Andaikan Jonghyun mau, Shinhye ingin sekali meminjamkan bahunya untuk dipakai Jonghyun bersandar.
"Tidak, Jonghyun-ssi.
Kau sudah melakukan hal yang baik. Kau bukan orang bodoh. Kau malah tidak egois. Kau orang yang
lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada dirimu sendiri. Kalau ayahmu
tahu, dia pasti sangat bangga padamu."
"Gomapda,
Shinhye-ssi. Aku sangat terhibur.
Besok-besok, kau lagi yang bercerita tentang keluargamu, kuliahmu atau bahkan
kekasihmu. Aku siap mendengarkan."
"Tidak perlu. Kau saja yang bercerita," tolak Shinhye halus. Dia hanya
tidak ingin orang lain tahu tentang kehidupan pribadinya.
"Aniyo. Aku juga kan
perlu mengenalmu lebih jauh."
Shinhye menarik dan membuang nafasnya. "Aku hidup
sendiri. Appa dan eomma-ku sudah meninggal. Jadi, tidak
ada yang perlu diceritakan."
"Maaf atas ketidaktahuanku," kata Jonghyun
menyesal. "Kalau begitu, sekarang kau mau makan apa? Aku yang
traktir," ucap Jonghyun mencoba menghibur.
"Untung saja kau menawariku. Dari tadi perutku terus
bernyanyi karena lapar," balas Shinhye, karena akan lebih baik kalau tidak
membicarakan ibu atau ayahnya. "Baiklah, aku ingin makan hobakjeon."
"Mwoya? Hobakjeon? Apa ada jenis makanan seperti
itu?"
"Aigoo,
dasar orang kaya. Makanan seperti ini sampai kalian abaikan. Hobakjeon itu sejenis pancake berisi labu. Itu jajanan yang
sering dijual di pinggiran jalan."
"Kelihatannya enak. Aku ingin makan pancake labu itu."
"Aigoo,
bagaimana bisa kau menyebut dirimu orang Korea,
tapi tidak mengenal makanan ini? Kajja,
kita cari makanan ini. Menjadi orang Korea yang paling penting adalah
mengetahui jenis-jenis makanannya."
Jonghyun mengangguk dan berjalan mengikuti Shinhye.
***
Saat Shinhye dan Jonghyun sedang asik menikmati hobakjeon, tiba-tiba ponsel Shinhye
berdering. Di layar ponselnya tertera nama Jiwon. Dia mengangkatnya,
"Jiwon-ah, yeoboseyo?"
"Shinhye, kau di mana sekarang?"
"Aku di…" Kata-kata Shinhye dipotong Jiwon.
"Ah, sudahlah tidak penting di mana kau sekarang.
Yang terpenting adalah, sekarang juga kau ke restaurant. Karena ada hal penting yang ingin dibicarakan manager padamu."
"Manager?
Hal penting? Apa itu?"
"Mollaseo–tidak
tahu. Jangan banyak tanya. Cepatlah kemari!"
Jiwon menutup sambungan teleponnya.
Shinhye yang penasaran akhirnya harus pamit dan pergi
meninggalkan Jonghyun.
JeResto
Shinhye keluar dari ruangan manager-nya dengan perasaan dilema. Apa yang akan dibicarakan
presdir? Dia kan sudah tidak bekerja lagi di restaurant ini. Kenapa tiba-tiba presdir memanggilnya?
"Shinhye-ya,
apa yang manager katakan
padamu?"
"Presdir memintaku menemuinya."
Jiwon melotot kaget, "Jadi presdir
mendengar kata-kataku? Ah, jeongmal
haengbokhae–benar-benar bahagianya," katanya senang.
"Presdir
mendengar kata-katamu? Jiwon-ah,
katakan padaku apa yang kau katakan pada presdir?"
"Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya. Aku bilang
semua pada presdir. Aku bilang padanya tentang anaknya yang datang dan asal memecat
karyawan terbaik yang restaurant ini
miliki. Saat kukatakan hal itu, presdir sepertinya ibah mendengarnya. Dan
semoga saja dia memanggilmu karena ingin memperkerjakanmu kembali."
"Ireon–dasar!
Pantas saja presdir memanggilku sekarang."
Jiwon mengangguk-angguk lucu memperlihatkan wajah tanpa
dosanya. "Kau tenang saja. Aku yakin presdir pasti
akan memanggilmu kembali bekerja. Aku jamin itu."
"Awas kau, kalau sampai kebalikannya."
***
Shinhye masuk ke rumah presdir Jung dengan perasaan hati-hati, dia takut
tiba-tiba bertemu dengan orang yang selama ini dia hindari. Siapa lagi kalau
bukan Jung Yong Hwa. Tapi akhirnya semua pikiran itu dia tampis karena inti
kedatangannya ke rumah ini adalah untuk bertemu dengan presdir. Ya,
Presdir. Pemilik rumah ini. Jadi dia tidak perlu takut kalau berhadapan dengan
manusia menyebalkan bernama Jung Yong Hwa itu.
Shinhye berjalan ke ruang kerja presdir yang
ditunjukan salah satu pekerja di rumah Yonghwa. Begitu Shinhye masuk ke dalam
ruang kerja itu. Presdir langsung memintanya duduk dan membicarakan hal yang
ingin dibicarakan.
"Park Shin Hye-ssi, ada hal penting yang ingin saya bicarakan denganmu. Tapi
sebelumnya atas nama anak saya, saya minta maaf karena perbuatannya yang tidak
dewasa dan mungkin merugikanmu," ujar pria berumur setengah abad itu.
Shinhye menyeringai. "Tidak apa-apa presdir,
anda tidak perlu minta maaf."
Presdir tersenyum, "Park Shin Hye-ssi, sebelumnya anda pasti sudah
mendengar dari manajer Yoo bahwa saya memanggil anda ke sini karena ada
yang ingin saya bicarakan dengan
anda.”
“Ye, Presdir,” jawab Shinhye.
“Ye, Presdir,” jawab Shinhye.
“Sebenarnya alasan saya memanggil anda ke sini adalah saya ingin bekerja sama dengan anda,"
terang pria dengan beberapa kerutan di keningnya ini.
Shinhye mengerutkan keningnya.
"Saya tidak tahu apa anda ingin melakukan
kerjasama ini atau tidak. Tapi saya benar-benar berharap, anda mau
melakukannya."
"Presdir, saya merasa terhormat atas
permintaan ini. Namun, kalau saya boleh tahu kerjasama seperti apa yang anda
maksudkan?"
Presdir Jung tertawa simple dan berkata, "Anda tahu bahwa anak saya, Jung Yong Hwa
adalah seseorang yang tidak memiliki pikiran seorang dewasa meskipun umurnya
sudah dua puluh empat tahun.
Akan tetapi sedikit lagi dia sudah harus meneruskan membantu saya memimpin
perusahaan. Jadi saya benar-benar khawatir kalau sikapnya yang seperti ini, akankah dia bisa membantu saya memimpin
perusahaan? Saya belum yakin dengan kinerja kerjanya. Oleh karena itu saya ingin menugaskan dia untuk
terlebih dahulu bekerja memantau di JeResto. Apabila kinerja kerjanya bagus,
saya baru boleh percaya dia memimpin perusahaan saya. Anda tahu Shinhye-ssi, bahwa pelanggan yang akan dia
layani di restaurant itu adalah
seperti halnya juga melayani seorang klien." Presdir menarik nafas sebelum
melanjutkan pembicaraannya, "Shinhye-ssi,
saya ingin Yonghwa bekerja di restaurant."
Shinhye melengkungkan senyum pengertian meski
dalam hati dia bertanya-tanya maksud perkataan presdir Jung. Dan apa hubungan
Yonghwa yang akan bekerja di JeResto dengan dirinya yang dipanggil ke sini?
"Presdir, saya mengerti maksud anda
memperkerjakan anak anda. Namun, kerjasama apa yang anda maksudkan di
sini?" katanya memastikan bahwa kedatangannya ke sini tidak membuang-buang
waktu dan tenaga.
Presdir tertawa lebar mendengar pertanyaan
Shinhye. Saking banyak bicara, dia sendiri lupa menyampaikan maksud tujuannya
memanggil Shinhye.
"Mianhamnida,
Park Shin Hye-ssi. Saya sampai lupa
mengatakan maksud saya memanggil anda."
"Tidak apa-apa, presdir.”
"Tidak apa-apa, presdir.”
"Saya tidak tahu apa anda mau melakukannya
atau tidak. Tapi saya benar-benar berharap anda mau membimbing Yonghwa bekerja
di JeResto. Saya ingin anda kembali bekerja di restaurant dan mengajari Yonghwa cara melayani yang baik."
"Presdir, saya merasa terhormat atas
penawaran ini. Tapi, saya minta maaf karena saya sudah…" Perkataan Shinhye
terpotong oleh presdir Jung.
"Saya mohon Shinhye-ssi. Bantu saya kali ini. Saya tahu bahwa hanya
anda yang bisa membantu saya melakukan hal ini. Saya yakin bahwa anda mungkin bisa mengubah sifat Yonghwa."
Shinhye merasa terharu mendengar permohonan
presdir Jung. Pria berumur setengah abad ini tidak peduli dengan statusnya
sebagai seorang pemimpin tertinggi, tapi hanya demi anaknya yang sombong itu
dia berani mempertaruhkan harga dirinya memohon pada mantan seorang pegawai restaurant biasa seperti Shinhye.
"Apa maksud anda? Saya tidak mengerti kenapa
anda harus memilih saya untuk membimbing anak anda?"
"Karena hanya anda yang melihat
Yonghwa tidak sebagai anak saya. Banyak karyawan saya yang merasa Yonghwa
sebagai anak saya jadi mereka tidak berani menentang atau memprotes kalau dia
melakukan kesalahan. Tapi anda, seperti yang saya sudah dengar dari nona Kim,
bahwa anda berani menentang Yonghwa kalau dia salah. Oleh karena itu, saya rasa
anda orang yang tepat yang bisa merubah anak saya. Saya hanya berharap anda mau
membantu saya."
"Tapi…."
Sekali lagi kata-kata Shinhye dipotong
presdir. Presdir melakukan hal ini, karena dia tidak mau mendengar penolakan
dari Shinhye.
" Kau bisa melakukan apa pun padanya
tanpa harus memandang bahwa dia anakku. Kalau dia bersalah, kau bisa melaporkannya padaku. Kau tenang saja, kalau aku yang bicara, Yonghwa
akan mendengarkannya."
Begitu mendengar kalimat-kalimat yang presdir
ucapkan, Shinhye seperti tersuntik multivitamin. Dia merasa bahwa ini saatnya
dia balas dendam pada Yonghwa. Berdasarkan apa yang dikatakan presdir, bahwa
dia bisa melakukan apa pun pada Yonghwa kalau Yonghwa bersalah. Seperti yang dikatakan presdir, dia akan melakukan apa pun sesuka hatinya
yang penting bisa membalas perbuatan Yonghwa.
“Jung Yong hwa, tunggu saja
kau!” ujar Shinhye dalam
hati.
"Baiklah predir. Saya akan melakukannya demi
kenyamanan anda."
"Park Shin Hye-ssi, terima kasih. Terima kasih sekali. Sebagai hadiahnya apa pun
yang kau butuhkan kau boleh bilang padaku."
"Piryeopseo–tidak
perlu! Saya akan melakukannya tanpa pamrih."
Melakukan apa pun pada Jung Yong Hwa sesuka hatiku sudah termasuk hadiahnya, presdir. Jadi anda tidak perlu
repot-repot menawariku hadiah lain, bisiknya dalam hati.
"Kamsahamnida,
nona Park."
"Ne.
Sillyehamnida–permisi."
"Haseyo–silahkan!"
balas presdir.
Shinhye kemudian membungkuk dan keluar dari
ruangan presdir. Dengan perasaan senang, dia menuruni tangga menuju ruang depan
rumah itu, sambil membayangkan bagaimana wajah Yonghwa kalau tahu bahwa dia
adalah pembimbing Yonghwa selama berada di JeResto.
“Mampus kau!” kata Shinhye dengan senyuman nakal
yang menyeringai di wajahnya.
"Micheosseo?"
tanya sebuah suara yang saat itu juga menyadarkan Shinhye dari lamunan
nakalnya.
Begitu Shinhye berbalik, dia melihat pemilik suara
itu sudah berdiri di depannya.
To Be Continued

