Part 8
***
Shinye masuk ke kantor Yonghwa, setelah diberitahu bahwa
Yonghwa memanggilnya. Melihat Shinhye berdiri di depannya, Yonghwa jadi gugup setengah mati. Tapi
sebisa mungkin, dia mencoba menetralkannya.
"Kemarin kau ke mana?" Yonghwa membuka
pembicaraan.
Shinhye yang tadi menunduk akhirnya mengangkat kepalanya.
"Aku demam, jadi tidak berangkat kerja."
"Kemarin aku ke rumahmu, tapi kau tidak di rumah.
Kau di mana?"
"Rumah sakit," ucap Shinhye berbohong.
"Kau benar-benar pandai berbohong, Park Shin Hye."
"Apa maksudmu?"
"Keluarlah!" perintah Yonghwa. "Hari ini
makan sianglah denganku, akan kukatakan apa maksudku."
“Ye?”
“Apa
kau tidak mengerti Bahasa Korea?” ujar Yonghwa mencoba menutupi rasa gugupnya
karena mengajak Shinhye keluar untuk makan siang.
“Aniyo. Maksudku..” Shinhye malah ikutan
gugup karena tiba-tiba diajak makan siang oleh orang yang tidak dia sangka.
“Maksudku, kita biasa juga makan siang di sini.”
“Ada
yang ingin kukatakan padamu. Tapi tidak di tempat ini. Ayo kita keluar siang
ini.” Ajak Yonghwa yang dari raut wajahnya jelas mengharapkan persetujuan
Shinhye tanpa harus bertanya lagi. Karena kalau Shinhye bertanya lagi, sudah
jelas Yonghwa tidak akan bisa berkata apa-apa lagi.
"Tapi aku harus bertemu Jonghyun-ssi,
siang ini?"
Shinhye mulai mencari alasan. Dia hanya tidak mau terlihat semudah itu menerima
ajakan Yonghwa.
"Tidak ada alasan lain. Kau harus keluar
denganku."
Yonghwa bersikukuh harus keluar dengan Shinhye siang ini.
Shinhye tersentak mendengar penuturan Yonghwa. Tapi akhirnya
dia memilih untuk mengiyakan. Karena dia sendiri juga
penasaran apa yang ingin Yonghwa bicarakan nanti.
***
"Siapa yang kau namai meongcheongi pada contact
person di ponselmu?" Yonghwa membuka pembicaraan, begitu mereka tiba
dan duduk di kursi restaurant yang
dituju sebelumnya.
"Apa maksudmu?" Shinhye bingung dengan
tudingan Yonghwa yang tiba-tiba. Baru saja dia melesakkan pantatnya di atas
kursi restaurant itu. Tapi dia
langsung ditanyai hal yang aneh oleh Yonghwa.
"Park Shin Hye, kau masih terlalu muda
untuk mengidap alzeimer. Katakan padaku nomor kontak siapa yang kau namai meongcheongi?”
"Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu?"
“Ya, mengapa kau lupa semua hal yang telah kau lakukan?"
Shinhye
mendengus mulai kesal dengan kelakuan Yonghwa. “Aku bilang aku tidak mengerti
dengan apa yang kau bicarakan. Kalau kau mengajakku makan siang untuk membahas
hal yang bahkan tidak kumengerti, lebih baik aku tidak usah menyetujui
permintaan makan siangmu tadi.”
"Apa kau benar-benar tidak mengerti atau kau tidak
ingat?" Yonghwa berdecak heran.
***
Flashback
Warung tenda di pinggir jalan ini adalah tempat minum
soju terbaik versi Shinhye.
Setelah duduk, dan menerima pesanan soju beserta daging panggangnya, dia mulai menghabiskannya. Sebotol soju habis diminum, Shinhye langsung mabuk. Kadang-kadang dia bersendawa, setelah itu menertawai dirinya kembali. Dan akhirnya, kepalanya jatuh terkulai di atas meja. Pemilik warung tenda jadi bingung apa yang harus dia lakukan pada Shinhye. Berulang-ulang kali dia mencoba membangunkan Shinhye, tapi tidak ada respon dari Shinhye.
Setelah duduk, dan menerima pesanan soju beserta daging panggangnya, dia mulai menghabiskannya. Sebotol soju habis diminum, Shinhye langsung mabuk. Kadang-kadang dia bersendawa, setelah itu menertawai dirinya kembali. Dan akhirnya, kepalanya jatuh terkulai di atas meja. Pemilik warung tenda jadi bingung apa yang harus dia lakukan pada Shinhye. Berulang-ulang kali dia mencoba membangunkan Shinhye, tapi tidak ada respon dari Shinhye.
"Agassi–nona.
Agassi." Wanita pemilik warung tenda itu menggoyang-goyangkan tubuh Shinhye. Karena Shinhye tidak
merespon, dia memutuskan untuk
menelepon salah satu nama kerabat yang ada di ponsel Shinhye.
"Siapa yang harus kuhubungi?"
tanyanya bingung melihat begitu banyak nomor kontak dalam ponsel Shinhye.
Wanita pemilik warung itu
menyentuh layar keypad ponsel Shinhye
mencari nama
kerabat dekat Shinhye, entah itu appa, eomma atau
keluarga yang bisa
dihubungi. Tapi
tidak satu pun dia temui. Akhirnya dia memutuskan membuka isi pesan Shinhye,
mungkin dari situ dia bisa menemukan seseorang yang paling dekat yang bisa
dihubungi. Yang dia dapati di pesan masuk pertama adalah isi pesan dari orang
yang bernama meongcheongi. Dengan isi
pesan, kau di
mana sekarang?
Sejenak si pemilik warung tersenyum geli membaca nama
itu. Secepatnya dia langsung menghubungi pemilik nomor tersebut. Dua puluh menit berlalu, kemudian si pemilik nama meongcheongi
itu tiba di warung tenda yang Shinhye kunjungi.
"Eoh, apa
kau kenal nona ini?” kata bibi pemilik warung menunjuk Shinhye yang duduk
dengan kepala terkulai di atas meja.
“Ya, aku mengenalnya. Aku yang anda hubungi tadi.”
“Untung kau datang. Kau benar-benar kekasih yang baik
hati.”
"Apa maksud anda? Kekasih?"
"Kau bukan kekasihnya?"
Wanita pemilik warung itu terlihat berpikir sejenak.
Pria itu mengangguk.
"Tapi dia menamaimu meongcheongi. Aku pikir itu panggilan sayang untuk kekasihnya. Seperti
juga anakku yang menamai kekasihnya meongcheongi
di ponselnya." Bibi pemilik warung tersenyum saat mengatakan kata meongcheongi.
Pria itu hanya menahan nafas, dongkol dengan istilah
'bodoh' yang diberikan untuknya.
"Saat mabuk dia terus memanggil nama Jong, Jong,
entah siapa itu. Dan setelah sebotol soju habis diminumnya, dia tertidur pulas
seperti itu."
"Maaf telah merepotkan anda, ahjumoni. Terima kasih telah membantu."
"Chamkamanyo!"
Bibi pemilik warung tenda menahan pria yang baru saja akan menggendong Shinhye.
"Kalau boleh tahu siapa anda? Maaf, hanya untuk memastikan nona ini
kembali dengan selamat."
"Tenang saja, aku bos-nya dan dia karyawanku.”
Yonghwa berusaha meyakinkan wanita tua yang khawatir dengan pelanggannya itu.
“Bos?”
Yonghwa
menyerahkan kartu namanya pada si wanita pemilik warung. “Restaurant
kami tidak jauh dari sini. Kalau anda tidak percaya, anda boleh datang besok
dan mengeceknya sendiri."
"Jung Yong Hwa." Bibi itu membaca nama pria
yang menyerahkan kartu namanya padanya.
"Baiklah, kali ini aku percaya padamu, conggak–anak muda."
"Gomapseunimda,
ahjumoni. Kami pergi dulu." Yonghwa menggendong Shinhye di pundaknya
dan berjalan meninggalkan warung tenda itu.
"Josimhae–hati-hati!"
ucap bibi pemilik warung tenda.
Flashback
ends
Yonghwa menutup ceritanya dan menatap tajam ke arah
Shinhye. "Apa
kau tidak khawatir, kau yang sebelumnya berada di warung tenda tapi tiba-tiba
bisa berada di kamarmu sendiri?"
Sepertinya
Shinhye mulai mengerti ke mana arah pembicaraan
Yonghwa. "Sebelumnya aku
sendiri bertanya-tanya, tapi saat bangun pagi tubuhku terasa baik-baik saja
seperti biasanya. Aku
yakin yang mengantarku pasti orang baik. Karena itu kau yang mengantarku, gomapda," ucap Shinhye polos.
Yonghwa menggeleng-geleng dan berkata, "Bagaimana
dengan istilah meongcheongi yang kau
namai untukku? Apa aku terlihat dungu sampai kau menamaiku begitu?" ujar Yonghwa ketus.
Shinhye salah tingkah, tidak tahu harus menjelaskan apa. Dia menggaruk-garuk kepalanya kemudian berpindah ke telinganya.
Shinhye salah tingkah, tidak tahu harus menjelaskan apa. Dia menggaruk-garuk kepalanya kemudian berpindah ke telinganya.
Yonghwa sendiri malah memasang wajah menuntut.
"Mianhae."
Hanya kata maaf yang bisa Shinhye ucapkan karena dalam hal ini dia benar-benar merasa
bersalah. Kali ini dia tidak bisa membela diri seperti yang biasa sering dia
lakukan terhadap Yonghwa.
"Mianhae?"
Wajah Yonghwa berubah kesal. “Apa hanya mianhae yang bisa kau ucapkan?”
"Arasseo,
arasseo. Aku akan mengganti namamu dengan bos Jung." Shinhye mengambil
ponselnya dari dalam saku celana jeans-nya.
"Dwaesseo.
Biarlah seperti itu. Karena aku juga akan mengganti namamu dengan babbo–bodoh," kata Yonghwa sambil mengangkat ponselnya.
"Ya,
Yonghwa-ssi, kau tidak bisa seenaknya
menamaiku seperti itu."
"Kau sendiri?"
"Aku kan berniat menggantinya."
"Itu karena ketahuan olehku."
Shinhye hanya bisa menatap Yonghwa kesal begitu Yonghwa
memperlihatkan nomor ponsel Shinhye yang telah berganti nama menjadi babbo di ponsel Yonghwa.
"Neomu, neomu,
neomu bulkoaehae–sangat, sangat, sangat menjengkelkan?" ejek Yonghwa.
Sekali
lagi, Shinhye memasang wajah kesal. Tapi
Yonghwa malah tertawa melihat wajah Shinhye yang seperti kepiting rebus kalau
sedang marah.
Melihat Yonghwa yang begitu manis saat dia tertawa, jantung
Shinhye yang malah jadi berdetak tak karuan. Dia terpana dengan senyuman dan
tawa Yonghwa yang begitu manis. Sampai-sampai dia pun ikut tertawa bersama Yonghwa.
"Waeyo?"
tanya Yonghwa karena Shinhye bukannya marah tapi malah ikut-ikutan tertawa.
"Ani."
Shinhye menggeleng-geleng. "Habiskan saja makan siangmu."
***
Pagi ini Jonghyun bersiap-siap ke JeResto. Kali ini dia
yakin apa pun yang menjadi tujuannya datang ke restaurant ini pasti berhasil. Apalagi tujuannya kalau bukan
tentang Jiwon. Hampir seminggu dia belajar cara mengungkapkan cinta lewat
Shinhye. Karena dengan Shinhye, dia lebih mudah melakukannya. Oleh karena itu,
dia meminta Shinhye kali ini untuk membantu. Berkat Shinhye, Jonghyun akhirnya
mudah belajar mengungkapkan perasaannya untuk Jiwon. Dan kali ini, dia sudah
bersiap-siap melakukannya. Pertama-tama dia berniat ke restaurant dan kemudian akan mengajak Jiwon keluar untuk
jalan-jalan. Pastinya, dia sudah meminta ijin Yonghwa sebelumnya untuk membawa
karyawan Yonghwa keluar saat jadwalnya bekerja. Dan niatnya disambut Yonghwa
positif pastinya, karena dengan cara ini Yonghwa yakin Jonghyun tidak akan mengganggu Shinhye apalagi
sampai menyukai Shinhye. Meski sebenarnya dia tidak tahu kalau Shinhye selama
ini yang menyukai Jonghyun bukan sebaliknya.
At JeResto
Jonghyun masuk dengan kaos dan setelan jas pinknya. Gaya santainya memperlihatkan
dirinya yang sangat tampan.
"Eosseo Osseyo–selamat
datang," sapa Minho, karyawan pria yang berdiri di depan pintu masuk.
Jonghyun balik menyapanya dan langsung masuk mencari
Jiwon.
Orang yang dicari langsung keluar menemui Jonghyun begitu
diberitahu salah satu teman pelayannya. Begitu keluar dan menemui Jonghyun, Jiwon sendiri kaget
untuk apa Jonghyun datang menemuinya pagi ini. Pertanyaan itu langsung saja dia tanyakan pada Jonghyun.
"Annyeonghaseyo,
Jonghyun-ssi. Mereka bilang anda
datang menemuiku? Apa benar?"
Jonghyun mengangguk.
"Ada apa?"
***
Pagi ini Shinhye datang lebih awal karena siangnya dia
ada jadwal kuliah, oleh karena itu dia memilih datang bekerja terlebih dahulu. Begitu menuju ruang ganti,
dia melihat Jiwon sedang berdiri melamun di depan lokernya. Sepertinya ada
sesuatu serius yang sedang dipikirkan Jiwon.
"Jiwon-ah, apa yang sedang kau pikirkan?" tegur Shinhye.
"Jiwon-ah, apa yang sedang kau pikirkan?" tegur Shinhye.
Jiwon kaget dari lamunannya dan melihat Shinhye sudah
berdiri di sampingnya.
"Eoh, kau.
Kapan sampai?"
"Baru saja. Ada apa denganmu? Kau terlihat murung
tadi."
"Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja. Cepatlah
ganti pakaianmu dan ke depan. Aku duluan." Jiwon berjalan meninggalkan Shinhye.
***
Setelah menyelesaikan shift di JeResto, Park Shin Hye dan Kim Ji Won langsung berangkat menuju
kampus mereka karena siang ini mereka punya jadwal kuliah.
Di kelas, Shinhye dan Jiwon memilih untuk keluar belakangan
begitu mata kuliah
profesor Han berakhir.
"Shinhye-ya,
ada yang ingin kubicarakan denganmu," kata Jiwon pada Shinhye yang duduk
di sampingnya.
Shinhye mengangguk mempersilahkan Jiwon untuk
menyampaikan apa yang ingin Jiwon sampaikan.
"Orang itu, maksudku Jonghyun-ssi. Apa kau menyukainya?"
Mata Shinhye terbelalak mendengar pertanyaan Jiwon.
"Museun
soriya?" tanya Shinhye
pelan berusaha menetralkan kekagetannya.
"Jonghyun-ssi,
apa kau menyukainya?" ulang Jiwon.
Shinhye bingung harus menjawab apa. Dia masih diam
memikirkan jawaban terbaik untuk diberikan.
Jiwon menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. "Kalau kau menyukainya..."
Jiwon menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. "Kalau kau menyukainya..."
Perkataan Jiwon langsung dipotong Shinhye.
"Aniyo. Ani.
Aku tidak pernah menyukai dia.” Tangan Shinhye melambai-lambai di
udara. “Hubunganku
dengan Lee Jong Hyun-ssi, hanya sebatas bos dan asistennya. Tidak ada yang
spesial." Shinhye berusaha meyakinkan Jiwon. "Gotjimall–bohong.
Aku tahu kau menyukainya. Kelihatan jelas dari matamu."
"Jiwon-ah,
kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku serius tidak menyukai Jonghyun. Karena
ada orang lain yang kusukai." Shinhye mulai berkilah untuk lebih
meyakinkan Jiwon.
"Jinsimiya–serius?
Ada orang lain yang kau sukai? Siapa dia?"
Shinhye bingung tidak tahu harus menjawab apa.
"Ah,
Shinhye-ya, jangan-jangan kau menyukai
bos kita yang baru? Jung Yong Hwa? Kau sering keluar bersama
dia, aku yakin kau pasti menyukainya.” tebak Jiwon.
"Eyy. Aku tidak mungkin menyukainya. Sifatnya terlalu buruk
untuk kusukai. Shireo." Shinhye
menggeleng-geleng.
"Kalau begitu siapa yang kau sukai?" Jiwon
terlihat memaksa.
"Aku, aku….”
“Nugu?” Jiwon semakin memaksa.
“Aku menyukai Hyunwoo," kilah Shinhye. Dia terpaksa
berbohong seperti itu karena takut ketahuan Jiwon kalau dia juga menyukai
Jonghyun.
"Lee Hyun Woo? Jeongmal?
Dia kan hoobae-mu–juniormu. Bagaimana mungkin?" Jiwon
menggeleng-geleng tidak percaya.
"Aku serius mengatakannya. Aku menyukai hoobae itu. Apa salah?"
"Ah, benar-benar tidak bisa dipercaya. Tapi,
Shinhye-ya,
kalau kau memang menyukainya, kenapa tidak kau katakan saja padanya?"
"Shireo.
Aku masih memegang teguh pendirianku untuk tidak mengungkapkan perasaanku pada
seorang pria terlebih dulu."
"Tapi apa kau tidak capek menyembunyikan perasaanmu?
Lee Hyun Woo juga perlu tahu perasaanmu padanya, dengan begitu kau tidak perlu
susah-payah menyimpan perasaanmu sendiri."
"Piryeopseo.
Dia tidak perlu tahu perasaanku. Cukup aku saja yang tahu. Dan kau, Jiwon-ah, jangan coba-coba kau katakan pada
Hyunwoo tentang perasaanku. Kalau tidak kau akan mati. Arasseo?"
"Ne. Arasseo.
Aku tahu suatu saat, kau pasti bisa mengungkapkan perasaanmu pada Lee Hyun
Woo."
Shinhye mengangguk-angguk pura-pura mengerti.
"Tapi, Jiwon-ah
ada maksud apa tiba-tiba kau bertanya tentang aku yang menyukai Jonghyun?"
tanya Shinhye pura-pura tidak mengerti dengan tingkah aneh Jiwon yang tiba-tiba
menanyakan kenapa dia menyukai Jonghyun. Meski dia yakin bahwa Jonghyun pasti
sudah mengungkapkan perasaannya pada Jiwon, oleh karena itu Jiwon tiba-tiba
bertanya hal itu padanya. Shinhye yakin bahwa Jiwon pasti takut kalau saja dia
memberikan jawabannya pada Jonghyun, tapi malah akan membuat dia jauh dari Shinhye. Karena Jiwon
sangat khawatir kalau kemungkinan besar Shinhye juga menyukai Jonghyun.
Beberapa jeda yang Jiwon buat dengan menghirup dan
menghembuskan udara dari hidung dan mulutnya. Setelah itu dia mulai bercerita
semua hal yang Jonghyun katakan padanya. Jiwon mulai bercerita semuanya dengan
rinci pada Shinhye, sahabatnya sejak kecil.
***
Jonghyun masuk dengan kaos dan setelan jas pinknya. Gaya
santainya memperlihatkan dirinya yang sangat tampan.
"Eosseo Osseyo," sapa Minho salah satu pelayan
pria yang berdiri di dekat pintu masuk.
Jonghyun balik menyapanya dan langsung masuk mencari
Jiwon.
Orang yang dicari langsung keluar menemui Jonghyun begitu
diberitahu salah satu teman pelayannya bahwa ada yang datang menemuinnya.
Begitu keluar dan menemui Jonghyun, Jiwon sendiri kaget
untuk apa Jonghyun datang menemuinya. Pertanyaan itu langsung saja dia tanyakan
pada Jonghyun.
"Annyeonghaseyo,
Jonghyun-ssi. Mereka bilang anda datang
menemuiku? Apa benar?"
Jonghyun mengangguk.
"Ada apa?"
"Apa kau punya waktu untuk makan siang
denganku?" ucap Jonghyun tanpa basa-basi.
Jiwon mengangkat alisnya tandanya dia sedang bertanya
melalui gerakan tubuhnya.
Jonghyun meresponnya dengan berkata, "Ada hal
penting yang ingin kubicarakan denganmu. Apa kau punya waktu?"
"Tapi aku harus minta ijin dulu pada…."
Jonghyun memotong pembicaraan Jiwon, "Tenang saja,
aku sudah minta ijin pada Yonghwa. Dan dia mengijinkanmu untuk keluar denganku.
Sekarang kau punya waktu kan untuk keluar bersamaku?"
Jiwon belum mengiyakan, tapi Jonghyun sudah menggenggam pergelangan tangannya dan membawanya keluar dari restaurant.
Jiwon belum mengiyakan, tapi Jonghyun sudah menggenggam pergelangan tangannya dan membawanya keluar dari restaurant.
***
"Kita akan ke mana?" tanya Jiwon membuka
pembicaraan yang dari tadi diisi oleh kekosongan.
"Kau akan tahu saat kita tiba di sana," jawab
Jonghyun dengan senyuman yang dari tadi terus terpancar di wajah tampannya itu.
Beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat
yang Jonghyun tuju. Namsan Tower. Tempat
romantis ini yang dipilih Jonghyun. Tanpa basa-basi, Jonghyun mengajak Jiwon mengunjungi museum Teddy Bear. Untuk
mencapai museum tersebut, mereka
harus naik cable
car
yang ada di situ. Sedang menunggu cable car, jantung Jiwon hampir tidak berhenti berdegup karena di
sekitarnya hanya berisikan pasangan yang sedang kencan. Pipi Jiwon bersemu merah setiap kali menoleh pada
Jonghyun yang sedang berdiri tegap di sampingnya.
"Lee Jong Hyun-ssi,
terimakasih untuk semua ini. Tapi menurutku sebaiknya kita tidak usah ke
sini?"
"Hmm? Waeyo?"
"Apa kau tidak lihat di sekitar kita hanya berisikan
pasangan yang sedang kencan?" bisik Jiwon.
"Kalau begitu anggap saja kita berdua adalah
pasangan yang sedang kencan."
Mata Jiwon membulat besar mendengar penuturan Jonghyun.
Begitu kereta gantung tiba di depan mereka, tanpa meminta
persetujuan Jiwon, Jonghyun menarik tangan Jiwon dan masuk ke dalam kereta gantung.
"Kim Ji Won-ssi,"
bisik Jonghyun pada Jiwon. "Apa salah kalau aku naik kereta gantung dengan
calon kekasihku?"
Jiwon terkejut dengan pertanyaan sekaligus pernyataan
Jonghyun. Dia berbalik dan menatap Jonghyun seakan bertanya tentang pertanyaan
dan pernyataan Jonghyun yang mengejutkan itu. Jonghyun tidak merespon dengan
serius. Dia
malah memasang tampang manis dengan mengerutkan kening dan menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal. Hal
itu membuat Jiwon ingin sekali mencubit pipi pria ini. Setelah turun dari kereta gantung, mereka
menuju langsung menuju museum Teddy Bear.
"Kenapa kau membawaku ke tempat ini?" tanya
Jiwon dengan kening
berkerut meskipun dia bahagia karena Jonghyun membawanya
ke tempat favoritnya.
"Aku dengar kau sangat menyukai beruang Teddy. Oleh karena itu, aku membawamu ke sini." Jonghyun
menunjuk berbagai jenis beruang Teddy yang terpajang di museum Teddy Bear tempat dia dan Jiwon berkunjung.
"Eoh.”
Jiwon berjalan selangkah meninggalkan Jonghyun. Dia mulai menyentuh setiap beruang
Teddy yang terpajang di museum itu. “Wah.. daebak.
Ada banyak koleksi baru yang terpajang.” Jiwon menggeleng-geleng kagum dengan
koleksi terbaru museum Teddy Bear di Namsan Tower yang baru dilihatnya.
"Apa kau senang?" ujar Jonghyun
tersenyum melihat reaksi bahagia Jiwon.
Jiwon
tersentak. Dia baru menyadari bahwa saat ini dia tidak datang sendiri. “Eoh, jeosonghamnida.”
Jiwon membungkuk meminta maaf pada Jonghyun. “Karena aku sangat bahagia, aku bahkan lupa kalau kau
ada bersamaku.
Maafkan aku. Aku hanya terbawa suasana. Maafkan aku.” Sekali
lagi dia membungkuk. “Aku hanya tidak punya kesempatan untuk mengunjungi tempat
ini. Karena itu aku banyak ketinggalan. Dan akhirnya malah terbawa suasana
ketika melihat koleksi terbarunya. Mianhaeyo.”
"Apa kau senang?" Jonghyun bertanya
pertanyaan yang sama sekali lagi.
“Gomawoyo, Jonghyun-ssi. Aku
sangat bahagia."
“Aku
bahagia kalau kau menyukainya.”
Jiwon
tertawa simpul tanpa banyak berkata lagi.
Jonghyun
ikut tertawa. “Apa setelah ini kau ingin ikut aku ke suatu tempat?” tanya
Jonghyun ragu-ragu.
Jiwon
mengangguk dan tersenyum. Lee
Jong Hyun ikut tersenyum
bersama Jiwon.
Setelah
puas mengunjungi museum Teddy Bear di Namsan Tower. Jonghyun mengajak Jiwon
makan di restaurant. Mereka mengunjungi
balkon ke empat di mana terdapat restaurant
berputar. Di restaurant itulah Jonghyun mengungkapkan perasaannya pada Jiwon.
Tapi sedikit kekecewaan yang dia terima, karena Jiwon belum bisa membalas
perasaannya sekarang. Dengan alasan dia membutuhkan waktu untuk
mempertimbangkan jawabannya. Meski sebenarnya, pertimbangan Jiwon adalah dia
takut kalau kecurigaannya tentang Shinhye yang juga menyukai Jonghyun adalah
benar. Dan kalau sampai tindakannya yang gegabah ingin menjadi kekasih Jonghyun
membuat Shinhye sakit hati, dia akan sangat menyesalinya. Jiwon tidak ingin pilihannya
untuk menerima pernyataan cinta dari Jonghyun, tanpa konfirmasi sebelumnya pada
Shinhye malah
akan merusak persahabatannya dengan
Shinhye yang telah dibangun selama tiga belas tahun itu. Oleh karena itu, dengan
berat hati dia menggantung pernyataan cinta Jonghyun saat itu.
***
Mendengar cerita Jiwon, Shinhye yang jadi geregetan ingin
menjewer
telinga sahabatnya ini.
"Micheosseo? Pria setampan dan sebaik Lee Jong Hyun itu, kau gantungkan? Dan alasannya karena aku? Ya, KIM JI WON, A-KU sama sekali tidak menyukai Jonghyun-ssi." Shinhye menekan nada bicaranya pada kata aku, agar terlihat dia serius mengatakannya. "Sekarang juga kau harus bilang pada Jonghyun semua tentang perasaanmu?" Shinhye mengambil ponsel Jiwon dalam tas Jiwon dan hendak menelepon Jonghyun. Tapi Jiwon menahannya. "Hajjima. Aku akan mengurus semua itu. Kau tenang saja. Ara?" Jiwon mengatakannya dengan senyuman lega. Hari ini dia telah mengetahui seperti apa perasaan Shinhye yang sebenarnya. Dia sangat bersyukur sahabatnya ini tidak menyukai orang yang sama dengan yang disukainya.
"Micheosseo? Pria setampan dan sebaik Lee Jong Hyun itu, kau gantungkan? Dan alasannya karena aku? Ya, KIM JI WON, A-KU sama sekali tidak menyukai Jonghyun-ssi." Shinhye menekan nada bicaranya pada kata aku, agar terlihat dia serius mengatakannya. "Sekarang juga kau harus bilang pada Jonghyun semua tentang perasaanmu?" Shinhye mengambil ponsel Jiwon dalam tas Jiwon dan hendak menelepon Jonghyun. Tapi Jiwon menahannya. "Hajjima. Aku akan mengurus semua itu. Kau tenang saja. Ara?" Jiwon mengatakannya dengan senyuman lega. Hari ini dia telah mengetahui seperti apa perasaan Shinhye yang sebenarnya. Dia sangat bersyukur sahabatnya ini tidak menyukai orang yang sama dengan yang disukainya.
Shinhye tersenyum meski di dalam hati, hujan musim gugur
sudah menetes duluan di hatinya sebelum akhirnya turun dan membasahi
bumi. Dia benar-benar sakit hati mendengar perlakuan istimewa
yang Jonghyun berikan pada Jiwon. Dia cemburu. Tapi
semua itu hanya bisa dia tahan dalam hati. Dia tidak ingin Jiwon tahu dan
akhirnya malah membuat Jiwon menderita.
***
Malam itu juga Jiwon mengajak Jonghyun keluar.
Setelah mereka bertemu di cafè di daerah Gangnam, dekat tempat tinggal Jonghyun. Jiwon mulai
mengatakan semua yang ada dalam hatinya. Dan sekaligus menjawab perasaan Jonghyun.
"Lee Jong Hyun-ssi,
bisakah aku memanggilmu Jonghyun saja?"
Jonghyun mengangguk mantap, tandanya dia setuju.
"Jonghyun, nado."
"Nado
wae?" tanya Jonghyun
pura-pura tidak tahu.
"Nado
saranghae," jawab Jiwon malu-malu.
Mereka berdua tertawa bahagia malam itu seakan tidak ada
yang mampu menandingi kebahagian mereka.
Setelah
mendengar jawaban Jiwon, Jonghyun merasa sangat bahagia. Dengan spontan, dia
menggenggam erat tangan Jiwon yang ada di atas meja café.
“Kau
dengar nona Kim, sekarang kau adalah kekasihku. Jadi mulai saat ini cobalah
untuk saling membahagiakan. Ne?”
Jiwon
mengangguk mantap sebagai jawaban.
TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:
Posting Komentar