"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Maret 2016

Minggu, 27 Maret 2016

Rain of Autumn Part 2

Part 2


Mobil itu kembali melaju tapi dengan lambat dan saat melewati mereka berdua. Pria yg duduk di sebelah kemudi dengan mata tetap tertuju ke depan berkata, "Gwi eobta."
Dengan jelas, Shinhye mendengar pria itu menyebut mereka tidak punya telinga.
Ya, kau yang tidak punya telinga!” teriak Shinhye, meski dia yakin pria itu tidak mendengarnya karena mobil itu sudah berada jauh di depan mereka. “Dasar orang kaya sombong.”
“Jaga bicaramu, dia itu keponakan pemilik kampus ini. Kalau tadi dia dengar, maka kau sudah dikeluarkan dari kampus ini,” tegur Jiwon.
Jeongmal? Aku tidak takut. Keluarkan saja, itu lebih baik.”
Ya, kau ini. Apa kau tidak memikirkanku sehingga mau meninggalkan kampus ini?”
Mianhae. Aku hanya terbawa emosi. Lagian, dia hanya keponakan, kenapa malah bertingkah seperti anak pemilik kampus ini?” Shinhye merenggut kesal dengan tingkah pria tadi.
“Entahlah. Jung Yong Hwa memang seperti itu.”
“Wow! Apa dia begitu hebat, sampai-sampai kau saja mengenal siapa dia dan namanya?”
“Kau saja yang tidak mengenalnya. Seluruh isi kampus ini tahu siapa dia. Dia itu pria dengan seribu satu pesona. Banyak yeoja yang menyatakan cinta padanya, tapi selalu ditolak. Dia terkenal dengan sifatnya yang kasar. Tak pernah memikirkan perasaan orang lain.
Omo, bertingkah seperti pangeran. Lihat saja suatu saat akan kubuat perhitungan dengannya.”
“Shinhye-ya, jangan lakukan hal-hal bodoh di luar pengetahuanku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”
Benar yang Jiwon katakan. Mencoba membuat perhitungan dengan Yonghwa, seperti menyerahkan diri ke sarang musuh. Karena siapa pun yang mencoba menentangnya pasti akan menyerah sendiri. Dan bahkan akan berbalik meminta maaf padanya. Banyak rumor yang bilang begitu. Tapi entah kenapa, Shinhye ingin sekali memberi pelajaran pada pangeran sombong itu. Biar dia berhenti menganggap remeh atau menghina orang sembarangan. Ya, suatu waktu kalau Shinhye diberi kesempatan untuk membalas, maka tidak segan-segan dia membalas perbuatan sombong pria yang bernama Jung Yong Hwa itu.


JeResto
Chogiyo–permisi, agassi–nona.”
Jiwon berhenti berjalan ketika mendengar ada orang yang memanggil. Ketika berbalik, dia melihat seorang pria sedang berdiri di depan pintu samping restaurant tempatnya bekerja.
“Apa kau memanggilku?” tunjuk Jiwon pada dirinya sendiri.
Pria itu hanya mengangguk sembari berkata, “Apa Park Shin Hye-ssi ada?
Jiwon mengangguk mengiyakan.
Ada urusan penting yang harus aku katakan padanya. Apa kau bisa memanggilnya? Sebelumnya, maaf kalau sudah merepotkan,” katanya sembari membungkukkan badannya.
“Sebaiknya lewat pintu depan saja, karena tidak baik seorang tamu ada di pintu samping. Sebelumnya kalau boleh tahu siapa namamu, agar aku bisa beritahu pada Shinhye?”
Joneun Lee Hyun Woo imnida.”
“Kalau begitu masuklah lewat pintu depan, Lee Hyun Woo-ssi. Akan kupanggilkan Park Shin Hye,” kata Jiwon sambil melangkah pergi meninggalkan Hyunwoo.
Hyunwoo yang mengerti, meninggalkan pintu samping dan menuju pintu depan. Begitu masuk lewat pintu depan, mata Hyunwoo mencari-cari keberadaan Shinhye. Namun, dia tidak bisa menemukan sosok Shinhye di seluruh pelosok ruangan yang bisa dijangkau dengan mata. Jadi dia memutuskan untuk duduk dan menunggu sampai Shinhye datang, seperti kata Jiwon tadi. Setelah duduk di dalam restaurant, seorang pelayan datang dan membawa kartu menu padanya. Hyunwoo berdalih sedang menunggu teman, jadi belum bisa memesan.
Beberapa menit menunggu, akhirnya wanita yang ditunggu itu datang juga.
Noona, kau lama sekali. Kau hampir membuatku mati karena malu. Bayangkan saja dari tadi pelayan datang berulang-ulang untuk menanyakan apa pesananku. Kau pikir aku punya uang untuk makan di tempat seperti ini?” cerocos Hyunwoo panjang lebar. “Aku ingin bicara denganmu sebentar. Tapi tidak di sini, sebaiknya kita di luar saja. Aku tidak punya uang untuk mentraktirmu, noona, tambah Hyunwoo sambil berbisik.
Mereka berjalan beriringan ke luar. Di teras luar restaurant, langit sore yang beberapa jam lagi akan berubah menjadi gelap menjadi latar perbincangan mereka.
“Bagaimana noona, sudah kau putuskan?”
Ne.”
“Jadi?”
“Aku akan melakukannya.” Ketika Shinhye menjawab kalimat ini, dia melihat raut wajah Hyunwoo yang tulus bahagia. “Tapi, aku tetap akan menjadi pelayan di restaurant ini. Aku akan melakukan dua pekerjaan ini sekaligus. Aku akan membagi jadwalku. Dan akan aku pastikan, tidak akan membolos kuliah untuk lembur pada salah satu pekerjaanku. Jadi, kau tenang saja.”
“Tapi noona, kau akan capek kalau harus melakukan dua pekerjaan ini sekaligus. Kau seharusnya…”
Perkataan Hyunwoo disambar Shinhye. “Kalau kau suruh aku untuk memilih salah satu di antara ke dua ini, maka yang akan aku pilih adalah tetap menjadi pelayan di restaurant ini. Toh, sama juga kan, asisten pribadi seperti juga budak pribadi. Hanya lebih sopan saja.” Shinhye tertawa sesekali membekap mulutnya karena takut kalau dia membuka mulut terlalu lebar. “Kalau kau tidak mau aku melakukan pekerjaan ini, maka kau boleh pergi. Dan perlu kau ingat Lee Hyun Woo, jangan pernah memaksaku lagi. Karena aku tidak akan melakukan apa pun maumu. Harus kau ingat juga bahwa aku bukan siapa-siapamu. Jadi sekarang, pulanglah!” Perkataan Shinhye semuanya lebih tepat kalau disebut perintah.
Geurae, aku bukan siapa-siapamu. Jadi tidak bisa seenaknya memaksamu. Bekerja di mana pun itu asalkan kau bahagia, aku juga turut bahagia. Tapi noona, jangan pernah lembur atau membolos kuliah lagi,” kata Hyunwoo lesuh karena masih syok dengan perkataan Shinhye tadi. “Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu,” kata Shinhye pergi meninggalkan Hyunwoo yang masih mematung karena hatinya terasa sakit. Dia baru menyadari bahwa dia menyukai noona itu. Dan awalnya dia ingin sekali menjadi tiang penyandar bagi noona itu, kalau saja noona itu membutuhkannya. Tapi ternyata, dia tidak bisa melakukan hal itu.
“Lee Hyun Woo, apa yang kau lakukan di sini?”
Sebuah suara mengagetkan Hyunwoo dari rasa terpuruknya.
“Apa kau mau makan gratis lagi?” tanya suara itu lagi.
“Yonghwa hyeong,” respon Hyunwoo pada suara itu.
“Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Yonghwa khawatir dengan Hyunwoo. “Kau terlihat aneh.”
“Akan kuceritakan semuanya di rumah. Kalau kau tidak sibuk, cepatlah pulang.”
“Baiklah. Kau pulang duluan.” Yonghwa membuka pintu restaurant. Tapi kemudian dia berhenti sebentar dan berkata, “Masih ada urusan yang harus aku selesaikan di sini. Kau pulanglah duluan. Hari ini akan aku pastikan menjadi pendengar setia curhatanmu. Karena sepertinya menarik. Hyeong kalkae!” ujar Yonghwa masih sempat bercanda.
Hyunwoo menurut dan berjalan meninggalkan Yonghwa.
Yonghwa masuk dalam restaurant dan mencari tempat yang telah dipesan sebelumnya. Tempat itu ada paling pojok kanan bersampingan tepat dengan jalan raya, hanya dipisahkan oleh sebuah etalase. Yonghwa langsung duduk dan melihat yeoja yang mengajak bertemu dengannya. Ya, yeoja teman sekampusnya.
Eoh, Yonghwa-ya, aku pikir kau tidak akan datang,” ucap yeoja itu sedikit gugup.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Apa benar ada hubungannya dengan kerjasama yang Song kyosunim tawarkan?” tanyanya sedikit mengatupkan bibirnya.
Yeoja ini tidak menjawab. Kekakuan yang luar biasa seakan menyerang syaraf-syarafnya tiba-tiba.
Ya, jawab pertanyaanku!” bentak Yonghwa yang mulai muak dengan yeoja di depannya ini.
“Permisi nona, anda ingin memesan apa?” tanya Shinhye mengganggu pembicaraan mereka. Sebelumnya dia diberitahu Jiwon bahwa salah satu pengunjung restaurant adalah Jung Yong Hwa, yang sepertinya sedang bertemu dengan yeojachingu-nya. Oleh karena itu, Shinhye mengambil kesempatan untuk membalas dendam pada Yonghwa di tempat ini. Karena yeoja yang ditanya tidak menjawab pertanyaannya, maka ini kesempatan bagus bagi Shinhye untuk bertanya pada pangeran sombong ini.
“Permisi gwi eobta, apa yang ingin anda pesan?” tanya Shinhye dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
“Mwo? Mwoya?” Yonghwa balik bertanya karena sepertinya dia mendengar sesuatu aneh yang diucapkan gadis pelayan ini.
Eoh, aku bilang anda ingin pesan apa?” kilah Shinhye.
“Kami belum ingin memesan, kau boleh pergi.” Karena Yonghwa tidak ingin membahas masalah tidak penting dengan gadis pelayan ini. Jadi dia berpindah bertanya pada gadis yang mengajaknya bertemu. “Ya, Seo Joo Hyun,” teriaknya masih dengan suara terkontrol. “Apa yang ingin kau bicarakan? Jangan menjadi bisu, karena aku tidak punya waktu melayani gadis bisu.”
Shinhye yang mendengarnya merasa tersinggung. Namun yeoja yang diteriaki hanya diam menerimanya. Shinhye tiba-tiba tertarik ingin mendengar apa yang akan pangeran sombong ini bicarakan dengan teman atau mungkin kekasihnya itu. Sampai, dia tidak ingin beranjak ke belakang sekalipun. Dia pura-pura berdiri agak jauh dari pandangan mereka.
“Yonghwa-ya, naneun johae–aku menyukaimu. Nae namjaching-guga doe-eojullaeyo–maukah kau jadi pacarku?”
Tiba-tiba Yonghwa tertawa sinis mendengar pengakuan ini. Dia kemudian mendengus kesal dan berkata, “Jadi hal bodoh ini yang ingin kau bicarakan? Apa kau bodoh? Aku paling benci gadis bodoh yang mengajakku bertemu untuk membicarakan hal bodoh seperti ini. Aku benci gadis bodoh sepertimu. Beritahu Song kyosunim bahwa aku menolak tawaran kerjasama itu.” Yonghwa bangun dan beranjak pergi. Namun dia masih sempat berbalik dan berkata, “Anggap saja pertemuan ini tidak pernah ada. Dan jangan pernah memanggilku Yonghwa-ya, karena kau tidak pantas melakukan itu. Satu lagi, jangan pernah membohongiku.” Sejurus kemudian Yonghwa berbalik dan berjalan keluar dari restaurant tempat mereka bertemu.
Yeoja yang dihina itu kelihatan syok. Dia duduk dengan kepala tertunduk, wajahnya menghadap lantai restaurant. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dan sekarang ada tetes-tetes air jatuh di atas lantai restaurant itu. Dia menangis.
Shinhye yang melihat dan mendengar pembicaraan itu secara langsung merasa terhina harga dirinya sebagai seorang perempuan. Dia mengejar Yonghwa untuk memaksanya minta maaf pada yeoja yang dihina dan sekarang sedang menangis itu.
Ya!” teriak Shinhye saat dia berada di luar restaurant dan melihat Yonghwa hampir masuk ke dalam mobilnya.
Yonghwa berbalik dan melihat gadis pelayan itu sedang mengejarnya. “Aku tidak memesan apa-apa,” jelas Yonghwa.
“Apa kau manusia?” 
Yonghwa bingung dengan pertanyaan gadis pelayan ini. Apa dia pikir bahwa Yonghwa bukan manusia, sehingga menanyakan kejelasannya?
“Apa kau manusia?” ulangnya, “Apa kau masih punya hati? Ya, jawab aku!” teriak Shinhye marah.
“Apa kau bodoh? Kenapa bertanya hal-hal bodoh seperti itu?” Yonghwa balik bertanya. “Aku paling benci orang bo…”
Geumanharago!” potong Shinhye sebelum Yonghwa berhasil menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa hanya kata bodoh yang kau ucapkan dari tadi? Apa kau merasa pintar? Hebat? Sehingga menganggap semua orang bodoh. Sekarang, masuklah dan minta maaf pada yeoja yang kau buat menangis itu!” Kali ini Shinhye meraup tangan Yonghwa dan mencoba menariknya masuk ke dalam restaurant.
Yonghwa menarik tangannya terlepas dari Shinhye. “Apa kau juga mau mencari perhatian padaku? Maaf, aku tidak tertarik pada gadis jelek sepertimu.”
Ya, jjinja babo?” Kali ini Shinhye tidak peduli pada pandangan orang yang sedang lalu lalang padanya. Yang pasti dia harus puas memaki pria tanpa hati yang berdiri di depannya ini.
Yonghwa menatap sinis pada Shinhye. “Park Shin Hye, sebaiknya kau segera mencari pekerjaan yang baru,” kata Yonghwa berlalu masuk ke dalam mobilnya, menginjak pedal gas dan menjauh dari hadapan Shinhye.
Shinhye yang melihat Yonghwa menjauh dari pandangan masih menganga, dia bingung dari mana Yonghwa mengetahui namanya? Dia kemudian menepuk dahinya begitu menyadari bahwa dia sedang menggunakan name tag di dadanya.
Aiishi, siapa kau beraninya menyuruhku mencari pekerjaan baru, hah?”
Shinhye masuk kembali ke dalam restaurant. Begitu tiba di dalam restaurant, dia menoleh sebentar ke tempat Yonghwa dan yeoja tadi bertemu. Tapi dia tidak mendapati yeoja itu lagi. Sepertinya yeoja itu sudah pulang.
Shinhye berjalan ke pantry menemui Jiwon yang sedang menaruh makanan pada baki dan akan membawanya ke pengunjung.
“Apa yang kau lakukan tadi?” Jiwon bertanya dengan senyuman karena lucu dengan tingkah sahabatnya yang masih belum jera ingin membalas dendam pada Yonghwa. “Sudahlah, lupakan. Untuk apa kau membalas dendam pada orang seperti Jung Yong Hwa itu? Membuang-buang waktumu saja.”
“Cih, orang itu benar-benar membuatku seperti kebakaran rambut. Kau tahu, dia bilang apa padaku? Park Shin Hye, sebaiknya kau segera mencari pekerjaan yang baru.” Shinhye mengulangi apa yang Yonghwa katakan padanya tadi. “Siapa dia, berani berkata seperti itu? Manager saja tidak,” ucap Shinhye berapi-api.
“Kan aku sudah bilang, lupakan saja. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Berurusan dengan dia itu, hanya membuat sakit kepala.”
“Mudah berkata seperti itu, karena bukan kau yang berada di posisiku.”
“Terserah padamu. Aku ke depan dulu.” Jiwon pergi dengan membawa baki di tangannya.


***
Benar apa kata Yonghwa, sehari setelah kejadian itu, Shinhye dipecat dari restaurant tempatnya bekerja. Dia benar-benar mengutuki Yonghwa karena membuatnya kehilangan pekerjaan yang paling dia butuhkan. Sekarang dia benar-benar menjadi seorang pengangguran. Bagaimana dia bisa membiayai hidup dan kuliahnya, kalau menganggur seperti ini?
Aisshi, bagaimana bisa hanya dalam dua puluh empat jam lebih aku telah dipecat? Kenapa juga aku bodoh mau berurusan dengan orang itu? Arghhh,” teriak Shinhye sambil mengacak-acak rambutnya kesal. “Kenapa juga aku tidak mengikuti nasehatmu?”
“Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Lagi pula nasehatku juga datang belakangan,” tambah Jiwon yang sedang duduk bersila di atas ranjang Shinhye.
“Sampai sekarang aku benar-benar tidak percaya bahwa dia adalah anak pemilik restaurant itu. Kenapa juga tidak ada yang memberitahu? Kenapa juga dia tidak pernah datang ke restaurant dan memperkenalkan diri sebagai anak ketua? Dengan begitu kan, aku bisa jaga-jaga bicara dengannya.”
“Hyejoon eonnie, Donghyun oppa, Minho, dan kita berdua, semua adalah pekerja baru. Jadi wajar kita semua belum mengenal dia. Itu sebabnya saat dia datang kemarin-kemarin, tidak ada pelayanan istimewa. Shinhye-ya, sekarang jangan pikirkan itu dulu! Pikirkan, bagaimana mendapatkan pekerjaan yang baru. Kau tidak boleh berhenti kuliah, apa pun yang terjadi. Shinhye hanya duduk merenung nasib sialnya, sedang Jiwon bingung sendiri apa yang harus dilakukannya untuk membantu Shinhye keluar dari masalah ini. Tiba-tiba, Jiwon teringat akan sesuatu yang pernah Shinhye ceritakan padanya.
Eoh, Shinhye. Kau pernah bilang waktu itu kalau kau ditawarkan bekerja sebagai asisten pribadi. Kenapa tidak kau terima saja pekerjaan itu?”
Mata Shinhye membulat, dia baru ingat akan pekerjaan itu. Ah, meskipun dia dibilang mengambil kesempatan, karena saat membutuhkan baru dia mau melakukan pekerjaan itu. Tapi hanya ini jalan keluarnya.
“Benar juga.” Shinhye mengambil ponselnya dan mencari-cari salah satu nama kontak yang perlu dihubungi. “Ini. Nomor ini yang perlu aku hubungi.”


***
Hyeong, aku mohon ijinkan aku tinggal di sini selama dia berada di rumah,” bujuk Hyunwoo.
Ani. Aku tidak mau direpotkan.”
Hyeong, jebal,” kata Hyunwoo sambil menggosok-gosok kedua tangannya memohon. “Kau tidak mau kan, kalau aku tidur di luar? Ayolah hyeong, aku janji tidak akan pernah merepotkanmu.” Hyunwoo mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Yakso?” kata Yonghwa tersenyum melihat tingkah sepupunya ini.
Hyunwoo hanya menjawab dengan anggukan dan seringai lebar.
“Siapa suruh kau mau memulainya dengan kebohongan. Sekarang kau sendiri yang susah.”
“Dia kan tidak setiap hari ada di rumahku, kecuali Jonghyun hyeong memanggilnya. Dan lagi, aku harus berbohong bahwa Jonghyun hyeong itu bukan kakakku. Karena kalau tidak, dia tidak mau menerima pekerjaan ini.”
“Apa kau menyukainya?”
Ya, hyeong. Kenapa kau juga mengucapkan kalimat itu? Cukup Jonghyun hyeong saja. Aku dan gadis itu tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya teman.”
Arasseo. Bagaimana dengan Jonghyun, apa dia juga sudah tahu?”
“Ya. Dia sudah tahu. Dan dia juga mau membantuku merahasiakan hal ini.”
Hyeong-mu itu benar-benar memanjakanmu. Apa pun akan dia lakukan untukmu.”
“Itulah yang harus dia lakukan selama abeoji dan eomma tidak di sini.” 


***
Seminggu setelah Shinhye menelepon Hyunwoo, Shinhye akan resmi bekerja sebagai asisten pribadi untuk hyeong-nya Hyunwoo. Perlu digarisbawahi tanpa sepengetahuan Shinhye bahwa bosnya adalah kakak laki-laki Lee Hyun Woo.
Hari ini Hyunwoo berjanji mengantarkan Shinhye ke rumah tempat Shinhye bekerja atau rumahnya sendiri. Ketika sampai di depan rumah tersebut, Shinhye masih enggan masuk ke dalamnya karena rumah itu terlihat sangat mewah di matanya.
“Apa kau yakin ini rumahnya?”
Ne. Kajja!” ajak Hyunwoo.
Mereka berdua masuk dan menjumpai pria dengan setelan jas abu-abu, lengkap dengan celana dan dasinya. Sepertinya, dia orang yang dimaksud Hyunwoo.
Sajangnim, ini dia Park Shin Hye-ssi. Orang yang saya maksud.” Hyunwoo menjelaskan.
“Dari tadi, saya menunggu kalian. Kenapa lama sekali?” tanyanya dengan sikap berwibawa. Kalau mau dinilai tampilan luar pria ini, dia pantas mendapatkan nilai 99. Lihat saja tampilannya yang up to date. Jas, baju, dasi, celana dan sepatunya adalah barang-barang branded. Belum lagi wajahnya yang bersih tanpa ada bekas mencukur, rambut yang rapi, giginya putih bercahaya, hidungnya bangir, matanya bulat indah. Dan tidak kurang wangi parfumnya yang menusuk hidung. Aduh Tuhan, pria ini benar-benar pantas dapat nilai 99 untuk tampilan luarnya. Meski belum tentu hatinya.
“Apa kau mengerti yang kumaksud?"
Shinhye yang masih sibuk memberi nilai pada pria itu, tidak merespon pertanyaannya sampai Hyunwoo yang mengagetkannya dengan menepuk pundaknya.
"Eoh, jeosonghamnida," kata Shinhye membungkuk dalam-dalam. "Bolehkah kau mengulanginya lagi?"
"Saya rasa tidak perlu. Hyunwoo pasti bisa menjelaskan semuanya secara rinci." Dia tersenyum melihat tingkah Shinhye. Seperti yang ditebaknya, pasti Park Shin Hye juga seperti wanita-wanita lain yang setiap kali melihatnya akan langsung tertegun, sampai-sampai mereka sendiri akan lupa apa yang harus mereka buat.
"Saya harus buru-buru ke kantor. Hari ini kau tidak usah bekerja dulu, mungkin saat dipanggil baru kau datang. Dan satu lagi, panggil saya Lee Jong Hyun atau Jonghyun saja, jangan sajangnim." Lee Jong Hyun berjalan meninggalkan Shinhye dan Hyunwoo.
"Hyunwoo-ya, sajangnim-mu itu umur berapa? Maksudku dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang sajangnim."
"Dua puluh empat tahun.”
“Ternyata dia dua tahun lebih tua dariku. Wah, dia masih terlalu muda tapi sudah menjadi seorang direktur.
Dia belum menjadi seorang direktur. Aku saja yang memanggilnya sajangnim, agar lebih sopan. Sajangnim sebenarnya masih kuliah. Dia hanya pergi ke perusahaan untuk sekedar membantu. Sembari belajar untuk pengangkatannya setelah dia lulus kuliah nanti. Aku rasa mungkin setahun lagi dia sudah bisa menyelesaikan kuliahnya. Presdir Lee, maksudku ayah sajangnim menderita struk. Dia sekarang sedang dirawat intensif di salah satu rumah sakit di Amerika. Oleh karena itu, hyeong maksudku sajangnim diminta Presdir untuk pergi ke perusahaan dan belajar di sana."
"Dari mana kau mengenalnya? Maaf, aku hanya penasaran saja."
"Bilang saja noona mau bilang kalau aku tidak pantas bergaul dengan pria seperti dia."
"Aniyo, bukan maksudku seperti itu." Shinhye mengelak meski memang itu kenyataannya.
"Tak apa-apa, noona. Kalau kau penasaran bagaimana aku bisa mengenal dia, itu karena ayahku adalah sekretaris Presdir sampai sekarang. Dan kami sudah saling mengenal sejak kecil, oleh karena itu kadang-kadang kami seperti kakak-adik sungguhan."
"Hmmm, jadi di mana ayahmu sekarang? Amerika juga?"
"Yah, begitulah. Ayahku itu orangnya sangat setia pada presdir. Di mana pun presdir berada, ayahku juga pasti di situ."
"Oh ya noona, sajangnim sudah membuat jadwal pekerjaan yang harus kau lakukan." Hyunwoo mengangkat kertas putih panjang yang terletak di atas meja. "Ini." Hyunwoo menyerahkan kertas itu pada Shinhye.
Shinhye menerima dan membacanya. Matanya naik turun mengamati kertas tersebut.
"Baiklah, jadi ini yang harus aku lakukan." Shinhye terlihat manggut-manggut. "Tidak berat. Hanya membawakan kopi dan roti untuk sarapan pagi di kantor, menemaninya makan siang kalau tidak sibuk, berbelanja
keperluannya, membawa dan memastikan sendiri bahwa pakaian yang dibawa ke laundry sudah bersih dan rapi, dan yang terakhir melakukan pekerjaan yang dibutuhkan di luar perkiraan."
"Tambahan dari sajangnim, kalau kau sedang sibuk kuliah, kau boleh mangkir dari pekerjaan."
"Aniyo. Aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak ada kata mangkir dalam kamusku. Dan lagi, pekerjaan-pekerjaan ini tidak mengganggu jadwal kuliahku."
"Kau yakin?"
"Ya. Lihat saja jadwal jam kerjaku," kata Shinhye sambil menunjukan kertas putih yang dia pegang ke arah Hyunwoo. "Seperti sudah diatur saja untuk tidak mengganggu jadwal kuliahku."
"Baguslah kalau begitu," kata Hyunwoo tersenyum. Dalam hati dia berkata, “Memang tidak mengganggu jadwal kuliahmu, noona. Kar
ena aku sendiri yang menyusun jadwal kerjamu."
"Jadi, kapan aku mulai bekerja?"
"Besok juga boleh," kata Hyunwoo dan Shinhye hanya bisa manut-manut.
"Ah, ada yang ingin kutanyakan padamu. Tapi, jangan tersinggung."
Hyunwoo hanya mengangguk sebagai jawaban atas permintaan Shinhye.
"Kenapa bukan kau saja yang jadi asisten pribadi sajangnim?"
Hyunwoo tertawa kecil mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol. Karena masa, Jonghyun mau membiarkan dia jadi asisten pribadi. Dia kan adik kandung Jonghyun. Ingin sekali dia menjawabnya seperti itu. Tapi itu sama saja dengan membocorkan rahasia sendiri.
"Itu karena Jonghyun hyeong membutuhkan wanita sebagai asisten pribadinya," kata Hyunwoo. Sejurus kemudian dia mendekatkan wajahnya di dekat telinga Shinhye dan membisikkan, "Noona, perlu kau ketahui bahwa aku dan sajangnim masih normal."
"Bukan. Bukan maksudku seperti itu," kata Shinhye dengan tangan melambai-lambai di udara. "Jangan berpikiran buruk seperti itu. Aku hanya merasa kalau kau tahu banyak tentang sajangnim, makanya aku bertanya seperti tadi. Tapi kalau kau merasa tersinggung, aku benar-benar minta maaf."
"Gwaenchanha," kata Hyunwoo, sejurus kemudian dia mengacak-acak rambut Shinhye, membuat Shinhye melotot karena malu dia diperlakukan seperti anak kecil.
"Ya, berhenti melakukan kebiasaan burukmu itu." Shinhye menepis tangan Hyunwoo yang masih bersarang di atas kepalanya.

TO BE CONTINUED