"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 18

Minggu, 07 Agustus 2016

Rain of Autumn Part 18

Part 18



Satu minggu kemudian.
Bel rumah Shinhye berbunyi pagi-pagi sekali. Dengan rasa kantuk yang luar biasa, gadis itu menggeliat di atas tempat tidurnya. Dia berguling tak karuan sampai akhirnya terjatuh dari atas ranjangnya. Spontan dia meringis karena rasa sakit yang ia rasakan ketika tubuhnya menyentuh lantai kamarnya. Dengan malas gadis itu mencoba bangun dan duduk bersandar pada lemari kecil tempat lampu tidurnya berada. Dia menguap lebar dan kemudian mengeluh karena bunyi bel rumahnya yang tak kunjung berhenti.
“Siapa yang pagi-pagi sekali sudah bertamu?” tanyanya kesal. Gadis itu kemudian bangkit dari duduknya, mengucak-ngucak matanya, dan berjalan keluar menuju ke arah pintu pagarnya. “Awas kalau sampai itu kau, Kim Ji Won!” serunya pada dirinya sendiri.
Tiba di depan pagar rumahnya, Shinhye membuka pagarnya. Setelah membuka pagar rumahnya dan melihat tamu tak diharapkan itu, sontak wajah Shinhye berubah kemerahan. Dia malu. Gadis itu kemudian berbalik membelakangi tamu tersebut dan menghambur masuk ke dalam rumahnya. Shinhye masuk ke dalam kamar mandinya dan secepat kilat berlari ke arah cermin. Dia menatap wajahnya di depan cermin. Rambutnya yang masih acak-acakkan dan wajah berminyak yang belum dibasuh air membuatnya meringis malu. Dia kemudian mendaratkan dahinya di depan cermin dalam kurun waktu yang cukup lama. Dia bahkan tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tamunya.
“Park Shin Hye, bukannya menyapaku kau malah berlari masuk ke kamar mandi.” Tamu tak diharapkan itu melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan selop rumah Shinhye, kemudian masuk ke dalam rumah Shinhye. “Keluarlah! Tidak usah malu karena wajah baru bangun tidurmu itu. Kau bahkan harus membiasakan diri dengan hal itu sebelum kita menikah nanti.”
Shinhye mengikat rambutnya asal-asalan menyuci mukanya di wastafel, kemudian keluar menghampiri tamunya. “Kenapa kau datang pagi-pagi sekali?” tanya Shinhye dengan tatapan kesal.
Ya! Kau bahkan tidak menyapaku dengan wajah gembira sambil berkata chagiya kau sudah datang. Tapi kau malah menyambutku dengan tatapan sedang menyapa musuhmu.”
“Aku tidak sedang bercanda, Jung Yong Hwa-ssi. Kita kan janjian bukan pagi ini.”
Yonghwa tidak langsung menjawabnya tapi malah mencoba menetralkan batuknya yang datang tiba-tiba.
“Kau sakit?” tanya Shinhye sedikit khawatir.
Aniya. Aku hanya masuk angin sedikit karena kemarin harus lembur bekerja. Kau jangan banyak tanya lagi, cepat mandi dan berganti baju. Aku merubah jadwal kencan kita menjadi pagi ini.”
Shinhye menatap Yonghwa dengan tatapan menyelidik. Dia kemudian berjalan ke arah Yonghwa dan menyentuh kening pria itu. “Kau panas, Yonghwa-ssi. Kita harus ke rumah sakit.”
Aniya. Aku tidak apa-apa,” kata Yonghwa menggenggam pergelangan tangan Shinhye mencoba meyakinkan Shinhye bahwa dia baik-baik saja. “Kau lekaslah berganti!”
“Apa kau yakin tidak apa-apa? Tapi suhu tubuhmu...”
“Serius. Aku tidak apa-apa.” Yonghwa memotong kalimat Shinhye dengan meyakinkan bahwa dia berkata serius. “Ka!”
Shinhye masuk ke dalam kamarnya dan bersiap-siap.
Di ruangan lain, Yonghwa terlihat sedang merapatkan jaket tebal yang dia pakai ke tubuhnya. Meski suhu tubuhnya panas, tapi dia malah merasakan hawa dingin yang terus menyergapinya. Sambil menunggu Shinhye keluar dari kamarnya, sesekali Yonghwa mencoba menghentikan getaran tubuhnya yang semakin menjadi-jadi. Wajah Yonghwa yang pucat semakin berubah parah. Untuk sementara dia membaringkan badannya di atas sofa di ruang nonton. Ketika kepalanya terkulai di atas bantal sofa dan matanya terpejam, Yonghwa seakan lupa dengan kencannya dan malah mengingat kembali kejadian tadi malam yang membuatnya menjadi gemetaran seperti ini.


***
Flashback
“Yoojin-ah, jangan seperti ini. Ayo masuk nanti kau sakit!” kata Yonghwa sambil memayungkan Yoojin, takut kalau gadis di depannya ini bisa sakit karena terkena air hujan.
Shireo.” Yoojin bersikukuh tidak mau masuk, dan tetap berdiri di depan apartemen Yonghwa.
“Ayolah, sudah hampir sejam kita berdiri di sini. Apa kau mau besok kau tidak berangkat kerja karena sakit, eo
h?” Yonghwa juga tak beranjak dan membiarkan dirinya berdiri dengan payung yang melindungi Yoojin sedangkan dia malah basah kuyup kena air hujan.
“Aku tidak peduli. Aku benci kau Jung Yong Hwa!” Dengan tangisan yang membanjiri wajah Yoojin, dia terlihat memukul-mukul tubuh Yonghwa. Seakan kemarahnnya terlampiaskan ketika memukul tubuh lelaki itu.
Yonghwa pasrah dan membiarkan gadis itu terus memukulnya.
Flashback end


***
Shinhye keluar dari kamarnya dan melihat Yonghwa tertidur di atas sofa dengan lelap. Shinhye beranjak mendekatinya dan menyentuh kening pria itu. “Suhu tubuhmu masih panas tapi kau bersikeras mau kencan. Babocheoreom,” kata Shinhye sambil menutup seluruh tubuh Yonghwa dengan selimut yang dia bawa dari kamarnya.  Gadis itu kemudian bangun dari duduknya dan berjalan keluar rumah menuju apotik terdekat untuk membelikan Yonghwa obat.
Setelah kembali dari apotik, gadis itu menuju dapur dan langsung membuatkan bubur untuk Yonghwa. Selesai membuat bubur, dia membawa handuk dan air dingin untuk mengompres Yonghwa. Dia tersenyum ketika mendapati Yonghwa masih tertidur lelap dalam bungkusan selimutnya. “Sajangnim, aku tidak menyangka kau setampan ini kalau sedang tidur,” ujarnya kemudian duduk di samping Yonghwa meletakkan bokor air kompresan di atas meja dan mulai mengompres dahi Yonghwa secara perlahan. Karena Yonghwa yang tak kunjung bangun membuat Shinhye harus menemani pria itu. Tak berapa lama dalam penjagaannya, gadis itu pun ikut tertidur di sisi Yonghwa.
“Selamat malam, gadis tukang tidur,” ucap Yonghwa ketika melihat Shinhye membuka mata diiringi uapan lebarnya.
“Jam berapa ini?” tanya gadis itu masih menguap.
“Jam sebelas malam.” Yonghwa mendelik ke arah jam tangannya. “Kau tidur dalam kurun waktu yang cukup lama, agassi.”
Shinhye mengangguk-anggukkan kepalanya seakan membenarkan perkataan Yonghwa. “Aku sudah memasakan bubur untukmu. Akan kupanaskan lagi.” Shinhye beranjak ke dapur.
Setelah kembali dari memanaskan bubur, Shinhye membawa baki berisi bubur dan segelas air. “Makanlah, lalu minum obatnya,” ujar Shinhye sambil menyerahkan baki ke arah Yonghwa.
“Kenapa kau tidak membangunkanku tadi?” kata Yonghwa sambil menerima baki yang disodorkan Shinhye. “Kita tak jadi kencan karena kau tak membangunkanku. Setelah kumakan bubur ini, kita harus keluar kencan.” Yonghwa menyendok buburnya dan memakannya. “Aku tidak mau karena sakit, kita harus membatalkan kencan kita yang pertama.”
“Lupakan! Kita akan melakukannya lain kali, kalau kau sudah baikkan.
Yonghwa makan sambil merenggut. Karena permintaannya tak disetujui Shinhye.
“Kau makanlah! Setelah itu pulanglah ke apartemenmu.”
“Aku tidak mau. Aku mau tinggal di sini malam ini.” Yonghwa berhenti dari kegiatannya mengunyah dan mulai melakukan kebiasaanya kalau sedang kesal. Melipat tangannya dan mendelik ke arah Shinhye.
“Apa kata orang kalau melihatmu keluar dari rumahku pagi-pagi, eoh? Oleh karena itu kau harus pulang malam ini juga.”
“Tapi keadaanku belum sepenuhnya pulih. Bagaimana kalau aku tiba-tiba demam lagi? Siapa yang akan merawatku kalau aku kembali ke apartemenku?
Shinhye menyentuh kening Yonghwa. “Suhu tubuhmu sudah tidak sepanas tadi. Cukup minum obat, dan besok pagi kau akan benar-benar pulih. Jangan berkata yang tidak masuk akal lagi,” tutur Shinhye cepat melihat reaksi Yonghwa yang ingin bicara lagi dan mencari alasan untuk tinggal di rumahnya. “Kau sudah dewasa, sajangnim. Jangan bertingkah seperti anak kecil lagi, eoh?”
Yonghwa kembali memakan buburnya, tapi sontak dia berkata, “Ah… aku hampir lupa. Karena ingin naik bis bersama-sama denganmu tadi, aku datang ke sini tidak membawa mobil. Sopirku yang mengantarku. Jadi dengan apa aku harus pulang sekarang?” Yonghwa mulai mencari alasan lagi.
“Telepon sopirmu! Suruh dia menjemputmu!”
“Tidak bisa. Ini sudah malam. Dia pasti sudah tidur. Aku tidak mau mengganggunya.”
Ah... aku yakin kau pasti akan mengatakan hal ini. Oleh karena itu..” Shinhye terlihat menekan salah satu tombol di ponselnya. “Aku sudah mengirim pesan untuk memesan taksi,” kata Shinhye sambil mengangkat ponselnya seakan menunjukan bahwa dia benar telah memesan taksi lewat SMS. “Dalam dua puluh menit lagi, taksi akan ke sini. Selesaikan makanmu, dan keluarlah saat taksi tiba di sini.


***
Setelah turun dari taksi, Yonghwa naik elevator menuju ke kamar apartemennya. Begitu masuk ke dalam apartemennya, Yonghwa terlihat kaget ketika melihat ibunya sedang duduk di atas sofa ruang tamunya, menunggunya.
“Kau sudah pulang? Kenapa larut sekali? tanya Ibu Yonghwa khawatir melihat anaknya yang baru pulang saat tengah malam.
Yonghwa melepaskan jaket yang dipakainya dan membuangnya ke atas meja begitu saja.
“Ada apa eomma ke sini?” tanyanya datar
“Yoojin datang menemui eomma sehabis dari apartemenmu kemarin. Dia bilang semuanya pada eomma.” Ibu Yonghwa terlihat mengatur nafasnya sebelum akhirnya lanjut bicara. “Yonghwa-ya, eomma tidak akan ikut campur hubunganmu dengan gadis karyawan restaurant kita itu. Eomma hanya memohon padamu untuk mempertimbangkannya baik-baik, eoh. Pikirkanlah Yoojin. Kasihan betapa terpukulnya dia saat ini,” kata wanita separuh baya itu. Biasanya dia tak pernah sekalipun |menentang pilihan anak-anaknya, karena dia tahu semua pilihan mereka itu adalah yang terbaik bagi mereka sendiri. Tapi kali ini berbeda. Dia sedikit tidak menyetujui pilihan anaknya. Semuanya karena dia tidak ingin melihat Yoojin terluka. “Dia kedinginan dan basah kuyup ketika menceritakan semuanya padaku. Apa kau tidak kasihan melihat Yoojin yang seperti itu?”
Yonghwa tidak menjawab dan memilih menjadi pendengar saja.
“Yonghwa-ya, kau harus bersyukur karena Yoojin belum menceritakan semuanya pada ayahmu. Eomma tidak tahu apa yang akan terjadi, kalau saja ayahmu tahu semuanya.”
Yonghwa tetap bergeming. Hanya suara nafasnya yang terdengar menguar saat itu.
Kau memilih jalan yang sama dengan kakekmu, anakku,” kata Ibu Yonghwa dalam hati sambil mengingat kembali kisah orang tuanya ketika muda dulu. Ibunya seorang gadis sederhana yang bekerja di perusahaan ayahnya. Keduanya bertemu dan saling jatuh cinta. Tapi karena status ayahnya yang adalah anak pemilik perusahaan, oleh karena itu hubungan ayah dan ibunya ditentang luar biasa oleh orang tua ayahnya. Karena kekerasan hati, anak satu-satunya pewaris kekayaan keluarga Lee, membuat hati orang tua anak itu luluh dan membiarkannya menikahi gadis yang dipilihnya. Wanita itu tersenyum sebentar setelah mengingat kembali kisah kedua orangtuanya itu. Dia kemudian berbalik menatap mata anak lelaki satu-satunya ini, sambil berkata, “Apa kau tidak berpikir bahwa pilihanmu itu telah melukai hati sahabat baikmu itu?” tanyanya dengan suara yang sangat lembut
Anak lelakinya itu tak menjawab pertanyaannya.
Eomma rasa kau perlu mempertimbangkannya lagi, Yonghwa-ya.”
Eomma, aku capek,” kata Yonghwa sambil menyelonjorkan kakinya ke atas meja dan menyandarkan kepalanya ke sofa, menutup kedua matanya.
Arasseo,” kata Ibu Yonghwa dengan hembusan nafas yang panjang. “Siapa pun yang kau pilih, eomma yakin dialah yang terbaik.” Wanita itu akhirnya memilih untuk tidak ikut campur dalam masalah anaknya ini. Melihat respon Yonghwa padanya jelas-jelas menyatakan bahwa anak lelakinya itu tidak ingin Ibunya ikut campur dalam hubungan percintaannya. “Eomma pulang dulu. Kau tidurlah yang nyenyak. Chalja.Ibu Yonghwa pamit setelah sebelumnya mengusap lembut rambut anak lelakinya itu.


***
Jung Yong Hwa berdiri menatap Park Shin Hye dari atas kepala sampai ke kaki gadis itu. Dengan tangan terlipat dia berdiri dengan santainya bersandar pada kaca jendela restaurant yang lebar. Meskipun sebelumnya dia telah ditegur oleh beberapa karyawan restaurant untuk menunggu di ruangannya sebelumnya, tapi dia bersikeras untuk menunggu Shinhye di tempat dia berdiri sekarang. Berhubung itu adalah tempat strategis di mana ia bisa melihat dengan leluasa Shinhye bergerak melayani pengunjung restaurant.   
“Apa kau tidak akan ke ruanganmu?” tanya Shinhye ikut-ikutan melipat tangannya.
“Aku tidak akan masuk ke ruanganku. Karena aku mau protes padamu,” kata Yonghwa sambil mencibirkan bibirnya.
“Kau boleh protes padaku, tapi tidak sekarang, eoh? Aku sedang melayani pengunjung,” ucap Shinhye dengan wajah memelas. “Apa kau tidak malu dilihat mereka?” kata Shinhye mengarah pada pengunjung yang ada di JeResto saat itu.
“Aku bisa mengusir mereka semua dari restaurant ini. Biar hanya ada kau dan aku. Setelah itu aku bisa puas menceritakan alasan kenapa aku ingin protes padamu.
“Dan kau mau merugikan JeGrup dalam sekejap mata hanya karena tindakan kekanakanmu ini?” kata Shinhye sambil berkacak pinggang. “Ah.. apa kau mau kutelepon presdir dan melaporkan tindakanmu yang merugikan JeResto sekaligus JeGrup saat ini, eong? Shinhye terdengar mengancam.
Yonghwa terlihat berpikir sejenak. Kemudian menjawab, “Baiklah. Aku akan ke ruanganku dulu. Setelah selesai, temui aku.” Yonghwa berjalan menapaki tangga ke ruangannya dulu.


***
Setelah JeResto ditutup. Semua karyawan berkumpul di jalanan depan restaurant itu.
“Yonghwa oppa, di mana adik kenalanmu yang kau bicarakan itu?” tanya Sooji membuka pembicaraan.
Tak.. Manajer Yoo menjitak kepala Sooji. “Panggil dia bos. Panggil dia bos.” Manajer Yoo mengulangi kalimatnya dan menekankan pada kata bos.
Sooji mengerang sambil mendelik kesal ke arah manajer Yoo. Untung saja dia masih terlalu muda sehingga manajer Yoo tidak merasa terganggu dengan delikannya.
Ya, kau tidak seharusnya menatap manajer seperti itu, eoh,” kata Hyejoon menasehati. Karena sudah seharusnya dia melakukan hal itu berhubung tugasnya sebagai kepala pelayan di JeResto.
Gwaenchanha.” Yonghwa berkata sambil melihat ke arah manajer Yoo dan Hyejoon. Kemudian dia berganti menatap Sooji dan berkata, “Sayangnya, dia tidak berada di Seoul saat ini. Tapi akan kukenalkan padamu saat dia kembali ke sini.”
“Benarkah dia tidak ada di Seoul saat ini?” tanya Sooji pupus. “Padahal aku ingin segera bertemu dengannya.”
“Aku janji akan kuperkenalkan dia padamu begitu dia kembali ke sini,” ujar Yonghwa terlihat meyakinkan.
“Bos, kami pamit pulang dulu,” kata para karyawan memotong pembicaraan Yonghwa dan Sooji. Satu per satu mereka membungkuk dan pamit pada Yonghwa. Kemudian meninggalkan Yonghwa, Shinhye, Jiwon, Hyejoon serta Sooji yang masih berdiri di depan restaurant.
“Kau harus janji...” Sooji belum menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba saja dia dirangkul dari belakang oleh Jiwon.
“Kau juga harus pulang, Bae Soo Ji,” ungkap Jiwon yang lebih berupa paksaan. Dia menyadari bahwa bukan saatnya bagi mereka untuk tetap berada bersama-sama dengan Yonghwa dan Shinhye.
Andwae. Aku masih harus...” Kali ini Jiwon dan Hyejoon merangkul lengan Sooji dan menarik paksa dia meninggalkan Yonghwa dan Shinhye.
Tampang Yonghwa saat melihat langkah Jiwon, Hyejoon dan Sooji yang sedikit demi sedikit mulai menjauh dari pandangannya menunjukan bahwa dia benar-benar berterima kasih karena atas bantuan Jiwon dan Hyejoon, dia tidak perlu lagi mendengar semua celotehan Sooji saat itu.
“Apa kau ingin pergi bersamaku?” kata Shinhye membuyarkan pandangan Yonghwa yang masih mau memastikan bahwa ketiga orang di depannya itu betul-betul sudah menghilang dari pandangan matanya.
Yonghwa mengangguk.
“Kau tidak membawa mobilmu?”
Ne,” kilah Yonghwa.
“Tapi mobil yang di sana itu terlihat seperti mobilmu?” kata Shinhye sambil menunjuk pada sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari JeResto.
Anieyo. Itu bukan mobilku. Itu pasti milik pengunjung café seberang.” Yonghwa masih berkilah. Padahal jelas sekali kalau mobil itu miliknya.
Geurae?” kata Shinhye masih mencoba memastikan bahwa mobil itu benar-benar bukan milik Yonghwa.
Ya.” Yonghwa dengan kedua tangannya menyentuh telinga Shinhye dan memutar wajah Shinhye menghadap ke arah lain. Agar Shinhye tidak lagi mengamati mobilnya. “Jibe kaja–ayo pulang!”
“Kau tidak keberatan harus naik bis?”
“Tentu saja.” Yonghwa berjalan duluan menuju ke arah halte bus diikuti Shinhye di belakangnya.
Belum lama berdiri di halte bis. Sebuah bis tujuan Dongjak-gu dengan perlahan berhenti di depan halte di mana Shinhye dan Yonghwa berada. Pintu bis kemudian terbuka lebar dan beberapa penumpang termasuk Yonghwa dan Shinhye naik ke atas bis tersebut. Karena saat itu waktunya para pekerja pulang ke rumah, maka suasana dalam bis terlihat sangat ramai. Sehingga menyebabkan mereka berdua dengan tidak leluasanya memilih tempat untuk duduk bersama. Masih ada beberapa tempat kosong, tapi di sebelah kursi-kursi kosong itu telah ditempati oleh orang lain.
 “Ya, Park Shin Hye!” panggil Yonghwa ketika Shinhye hendak memilih tempat duduknya. “Ayo kita cari bis lain!” katanya karena melihat tidak ada peluang baginya untuk duduk di samping Shinhye.
“Tidak bisa. Kau duduklah di bagian sana.” Tunjuk Shinhye pada tempat duduk yang masih kosong di bagian paling belakang.
Yonghwa menggeleng, mengisyaratkan dengan wajah polosnya bahwa dia tak mau berpisah dari Shinhye.
“Kalau begitu berdirilah terus di situ, sampai tiba di rumahku nanti.” Shinhye kemudian duduk di bangku pilihannya.
Yonghwa hanya bisa merenggut karena dia tidak bisa duduk bersama Shinhye.
Bis kemudian mulai melaju kembali menyusuri jalan raya kota Seoul pada malam itu.
Yonghwa yang masih setia berdiri di samping Shinhye mendesah kemudian memanggil seorang wanita tua yang sedang duduk di samping Shinhye. “Halmeoni, bagaimana kalau halmeoni duduk di bangku belakang?”
Serempak Shinhye dan nenek yang dipanggil berbalik menatap Yonghwa. Masing-masing dengan tatapannya yang berbeda. Shinhye dengan tatapan seakan mau berkata, “Jugoshippeo–kau mau mati?” Dan wanita tua itu dengan tatapan seakan mau berkata, “Apa aku tidak salah dengar?”.
“Apa yang kau bicarakan tadi, anak muda?” kata wanita tua dengan keranjang belanjaan di atas pangkuannya mencoba memastikan perkataan Yonghwa barusan.
“Aku .. bilang .., kata Yonghwa terbata-bata.
Ya, Jung Yong Hwa-ssi!” Shinhye memotong pembicaraan Yonghwa sebelum nanti Yonghwa yang ditegur oleh penumpang lain karena memaksa seorang wanita tua untuk duduk bersesakan di kursi bagian paling belakang dari bis tersebut.
“Apa kau tega melihat aku duduk bersesakan bersama orang-orang di belakang?” kata Yonghwa bergidik melihat penumpang-penumpang di kursi belakang sana. Ada pria berkumis dengan tampang menyeramkan, wanita yang tertidur dengan mulut terbuka, dan pria aneh yang selalu memasang tampang malu ketika Yonghwa tanpa sengaja melihat ke arahnya.
“Kalau kau tidak mau, biar aku saja. Kau duduk di sini dan aku yang ke belakang. Bagaimana? ujar Shinhye mencoba membuat kesepakatan.
Joha,” kata Yonghwa dengan tatapan puas.
Shinhye hendak bangkit dari kursinya. Tapi seketika ditahan Yonghwa. Andwae, kata Yonghwa mengubah keputusannya. “Aku tidak mau kau dekat-dekat dengan pria bertampang menyeramkan itu,” ujarnya seraya berbisik.
“Kalau begitu, jangan mengganggu nenek ini dan tetap berdiri di tempat kau berdiri! Ara?”
Yonghwa merenggut lagi karena dirinya yang berakhir duduk di bangku paling belakang bis.
Sampai di halte tujuan. Bis berhenti dan membiarkan beberapa penumpang di atas bis turun di halte tujuan mereka itu, termasuk Yonghwa dan Shinhye. Setelah turun dari bis, tangan Shinhye digenggam terus oleh Yonghwa dari halte bis sampai ke rumah Shinhye. Shinhye hanya bisa tersenyum merasakan genggaman tangan Yonghwa yang begitu erat. Setelah tiba di depan rumah Shinhye dan waktunya Yonghwa pamit. Tiba-tiba Shinhye menahan tangan Yonghwa dan berkata, “Katamu tadi kau ingin memprotesku? Apa itu?”
Ah... gara-gara menggenggam tanganmu tadi, aku bahkan lupa apa yang mau kuprotes,” kata Yonghwa jujur.
“Kalau begitu pulanglah dan ingat kembali apa yang ingin kau protes.”
“Aku benar-benar lupa. Tapi aku akan mencoba mengingatnya, setelah itu kau akan kuberitahu. Kau masuklah, ini sudah larut! Selamat malam! Tidur yang nyenyak,” kata Yonghwa mengakhiri pembicaraan.


***
Dering telepon membangunkan Yonghwa di pagi hari. Dengan mata menyipit dia menatap layar ponselnya. Terbaca nama Hyunwoo di sana. Dengan malas dia menjawab panggilannya.
“Ada apa pagi-pagi sekali kau sudah meneleponku, Hyunwoo-ya?” tanya Yonghwa dengan suara parau.
“Bagaimana kabarmu, hyeong?” kata Hyunwoo basa-basi.
“Aku baik-baik saja.
Ah.. hyeong, maafkan aku karena meneleponmu saat kau baru bangun pagi,” kata Hyunwoo ketika mendengar suara baru bangun Yonghwa “Di sini sedang sore oleh karena itu aku meneleponmu tanpa mengingat bahwa aku sedang tidak di Seoul saat ini.”
Gwaenchanha, Hyunwoo-ya. Bagaimana keadaan wesamchon?”
Abeoji? Dia baik-baik saja. Kondisinya perlahan sudah membaik,” jawab Hyunwoo.
“Ada apa kau meneleponku? Apa hanya ingin menanyakan kabarku kau meneleponku dari Amerika?” tanya Yonghwa penasaran. Dia kemudian bangun dari tidurnya, membuka tirai jendelanya, membiarkan sinar matahari pagi masuk ke dalam kamarnya.
Eoh hyeong, itu.. aku ingin menanyakan tentang kabar Shinhye noona? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya. Aku sering meneleponnya, tapi dia tidak pernah menjawab panggilanku. Apa dia marah padaku karena telah membohonginya tentang hubunganku dengan Jonghyun hyeong?”
Yonghwa terlihat berpikir, mencoba mencerna isi kalimat Hyunwoo. Dia kemudian ingat bahwa dia dan Jonghyun pernah berjanji pada Hyunwoo kalau mereka yang akan mengatakan semua kebenaran pada Shinhye nanti, setelah Hyunwoo tiba di Amerika. Tapi sampai detik ini, janji itu belum mereka tepati. Yonghwa meringis mengingat kenyataan ini. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Hyunwoo. Yonghwa mengusap wajahnya dengan tangan kirinya. Dia mendesah.
Hyeong, apa kau masih di sana?” tanya Hyunwoo karena mendengar keheningan di seberang telepon sana.
Yonghwa tidak menjawab.
Hyeong-ah, minggu depan aku akan kembali ke Seoul,” tutur Hyunwoo lancar berhubung tidak ada respon apa-apa dari sepupunya ini.
Andwae,” seru Yonghwa.
Hyeong, museun mal jigeum–kau bicara apa tadi?” tanya Hyunwoo karena samar-samar  dia mendengar Yonghwa sedang mengatakan sesuatu tadi.
Jeongmal?” kata Yonghwa mencoba mengalihkan pembicaraan. “Kau serius mau pulang sekarang?”
“Tidak sekarang. Minggu depan, hyeong.” Hyunwoo menjawab dengan semangat berhubung dia ingin bertemu Shinhye sesegera mungkin.
“Maldo andwae. Aku bahkan belum memberitahukan kepadamu tentang hubunganku dengan Park Shin Hye,” ujar Yonghwa dalam hati.
“Apa kau tidak berpikir untuk menghabiskan liburan natalmu di Los Angeles? Akan terlihat bahagia sekali saat kau menghabiskan natal di sana. Pemandangan dan suasana natal di sana lebih menarik dari pada berada di Seoul,” celoteh Yonghwa panjang lebar. Alasan saja supaya membuat Hyunwoo tidak kembali ke Seoul.
“Kalau begitu, kenapa hyeong tidak ke sini juga?”
Ah.. karena.. karena..” Yonghwa terdengar sedang mencari alasan. “Karena sekarang aku salah satu direktur di JeGrup,” timpalnya dengan alasan sebisa mungkin. “Karena sekarang aku salah satu direktur di perusahaan ayahku, jadi tidak bisa berlibur seenaknya lagi.
“Sayangnya aku lebih menyukai Seoul dari pada Los Angeles. Aku akan kembali minggu depan, hyeong. Pastikan kalian menjemputku di bandara, okay? Ah.. hyeong, kututup teleponnya karena sepertinya eomma sedang memanggilku.”
“Hyunwoo!” panggil Yonghwa tapi Hyunwoo keburu menutup teleponnya.
Selang beberapa menit, Hyunwoo mematikan panggilan teleponnya dengan Yonghwa. Dengan gerakan cepat Yonghwa mencari nomer ponsel Shinhye pada kontak ponselnya dan menghubungi gadis itu.
Terdengar sapaan lembut dari suara gadis di seberang telepon.
“Kau tidak sibuk, kan? Sebentar aku ke kampusmu. Menjemputmu, ujar Yonghwa retoris.
“Ah.. hari ini...” Nada suara gadis itu terdengar berat. Sepertinya dia tidak tertarik untuk bertemu hari ini.
Ije kkeutnae–kututup teleponnya!” kata Yonghwa mencoba menghindari alasan penolakan Shinhye.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Shinhye, Yonghwa kemudian berpindah ke Jonghyun. Dia mencari nama kontak Jonghyun. Dan menghubungi pria itu.
Yoboseyo,” sapa Jonghyun.
“Kita dalam keadaan gawat, kata Yonghwa dengan nafas menghambur.
“Apa maksudmu dengan keadaan gawat?”
“Hyunwoo sudah meneleponmu?”
Ne. Dia bilang akan pulang minggu depan.”
“Apa kau tidak khawatir dengan kepulangannya?”
“Jung Yong Hwa, untuk apa aku khawatir dengan kepulangan adikku sendiri? Yang ada aku sangat bahagia dengan kepulangannya.”
Nado. Aku juga bahagia dengan kepulangannya. Namun apa kau tidak khawatir tentang kebohongan yang belum kita ungkapkan kebenarannya pada Shinhye?”
Ah...” Jonghyun baru menyadari arah pembicaraan Yonghwa. “Aku bahkan lupa akan hal ini. Yong-ah, bagaimana kalau kita mengatakan yang sebenarnya pada Shinhye sekarang?”
Aniya. Jigeum andwae–jangan sekarang!” Yonghwa menggelengkan kepalanya saat mengatakan kalimat tadi. “Nanti aku yang akan mengatakan semuanya padanya. Tapi tidak sekarang.”
“Kapan? Kau menunggu Hyunwoo yang menceritakannya?”
“Kau tidak mengerti semua ini.” Yonghwa terlihat menyentuh dahinya dengan tangan kirinya. “Bukan kau yang menjalani hubungan dengan Shinhye, tapi aku. Oleh karena itu biarkan aku yang mengatakan semuanya pada Shinhye.”
“Bukan begitu maksudku. Aku hanya berpikir kemungkinan terburuk kalau saja Hyunwoo yang mengatakan semuanya pada Shinhye setibanya di Seoul nanti. Shinhye pasti akan sangat marah, kalau dia tahu semuanya dari Hyunwoo. Kau tahu sendiri kan, Hyunwoo bahkan belum tahu kalau kita masih merahasiakan hubungan antara dia, aku dan kau, Yonghwa-ya.”
“Aku hanya tidak tahu harus bilang apa?”
“Apa kau mau aku membantumu mengatakannya pada Shinhye?” Jonghyun menawarkan bantuannya.
“Itu akan lebih memperburuk keadaan.”
Jonghyun dan Yonghwa kemudian terlibat keadaan saling mendiamkan satu dengan yang lainnya. Sepertinya mereka sedang sibuk mencari jalan keluar permasalahannya.
“Beri aku waktu untuk berpikir, kata Yonghwa membuka kembali percakapan mereka.
“Baiklah. Aku percayakan semuanya padamu, Yong-ah.”

Kemudian Jonghyun dan Yonghwa mengakhiri panggilan mereka masing-masing.

To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar