Part 18
Satu minggu
kemudian.
Bel rumah
Shinhye berbunyi pagi-pagi sekali. Dengan rasa kantuk yang luar biasa, gadis
itu menggeliat di atas tempat tidurnya. Dia berguling tak karuan sampai
akhirnya terjatuh dari atas ranjangnya. Spontan dia meringis karena rasa sakit yang ia rasakan ketika tubuhnya
menyentuh lantai kamarnya. Dengan malas gadis itu mencoba bangun dan duduk
bersandar pada lemari kecil tempat lampu tidurnya berada. Dia menguap lebar dan
kemudian mengeluh karena bunyi bel rumahnya yang tak kunjung berhenti.
“Siapa yang
pagi-pagi sekali sudah bertamu?” tanyanya kesal. Gadis itu kemudian bangkit
dari duduknya, mengucak-ngucak matanya,
dan berjalan keluar menuju ke arah pintu pagarnya. “Awas
kalau sampai itu kau, Kim Ji Won!”
serunya pada dirinya sendiri.
Tiba di
depan pagar rumahnya, Shinhye membuka pagarnya. Setelah membuka pagar rumahnya
dan melihat tamu tak diharapkan itu, sontak wajah Shinhye berubah kemerahan. Dia malu. Gadis itu kemudian
berbalik membelakangi tamu tersebut dan menghambur
masuk ke dalam rumahnya.
Shinhye masuk ke
dalam kamar
mandinya dan secepat kilat berlari ke arah cermin. Dia menatap
wajahnya di depan cermin. Rambutnya
yang masih acak-acakkan dan wajah berminyak yang belum dibasuh air membuatnya meringis malu. Dia kemudian
mendaratkan dahinya di depan cermin dalam
kurun waktu yang cukup
lama. Dia bahkan tidak tertarik
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tamunya.
“Park Shin
Hye, bukannya menyapaku kau malah berlari masuk ke kamar mandi.” Tamu tak
diharapkan itu melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan selop rumah Shinhye, kemudian
masuk ke dalam rumah Shinhye. “Keluarlah! Tidak usah malu karena wajah baru
bangun tidurmu itu. Kau bahkan harus membiasakan diri dengan hal itu sebelum
kita menikah nanti.”
Shinhye
mengikat rambutnya asal-asalan menyuci mukanya di wastafel, kemudian keluar menghampiri
tamunya. “Kenapa kau datang pagi-pagi sekali?” tanya Shinhye dengan tatapan
kesal.
“Ya!
Kau bahkan tidak menyapaku dengan wajah gembira sambil berkata chagiya kau sudah datang. Tapi kau
malah menyambutku dengan tatapan sedang menyapa musuhmu.”
“Aku tidak
sedang bercanda, Jung Yong Hwa-ssi. Kita
kan janjian bukan pagi ini.”
Yonghwa
tidak langsung menjawabnya tapi malah mencoba menetralkan batuknya yang datang tiba-tiba.
“Kau
sakit?” tanya
Shinhye sedikit khawatir.
“Aniya. Aku hanya masuk angin sedikit karena kemarin harus lembur bekerja. Kau
jangan banyak tanya lagi, cepat mandi dan berganti baju. Aku merubah jadwal
kencan kita menjadi pagi ini.”
Shinhye
menatap Yonghwa dengan tatapan menyelidik. Dia kemudian berjalan ke arah
Yonghwa dan menyentuh kening pria itu. “Kau panas, Yonghwa-ssi. Kita harus ke rumah sakit.”
“Aniya. Aku tidak apa-apa,” kata
Yonghwa menggenggam pergelangan tangan Shinhye mencoba meyakinkan Shinhye bahwa dia baik-baik
saja. “Kau lekaslah berganti!”
“Apa kau
yakin tidak apa-apa? Tapi suhu tubuhmu...”
“Serius. Aku tidak
apa-apa.” Yonghwa memotong kalimat Shinhye dengan meyakinkan bahwa dia berkata
serius. “Ka!”
Shinhye
masuk ke dalam
kamarnya dan bersiap-siap.
Di ruangan lain, Yonghwa
terlihat sedang merapatkan
jaket tebal yang dia pakai ke tubuhnya. Meski suhu tubuhnya panas, tapi dia
malah merasakan hawa dingin yang terus menyergapinya. Sambil menunggu Shinhye
keluar dari kamarnya, sesekali Yonghwa mencoba menghentikan getaran tubuhnya
yang semakin menjadi-jadi. Wajah Yonghwa yang pucat semakin berubah parah. Untuk
sementara dia membaringkan badannya di atas sofa di ruang nonton. Ketika
kepalanya terkulai di atas bantal sofa dan matanya terpejam, Yonghwa seakan
lupa dengan kencannya dan malah mengingat kembali kejadian tadi malam yang
membuatnya menjadi gemetaran seperti ini.
***
Flashback
“Yoojin-ah,
jangan seperti ini. Ayo masuk nanti kau sakit!” kata Yonghwa sambil
memayungkan Yoojin, takut kalau gadis di depannya ini bisa sakit karena terkena air hujan.
“Shireo.” Yoojin bersikukuh tidak mau
masuk, dan tetap berdiri di depan apartemen Yonghwa.
“Ayolah, sudah hampir sejam kita berdiri di sini. Apa kau mau besok kau tidak berangkat kerja karena sakit, eoh?” Yonghwa juga tak beranjak dan membiarkan dirinya berdiri dengan payung yang melindungi Yoojin sedangkan dia malah basah kuyup kena air hujan.
“Ayolah, sudah hampir sejam kita berdiri di sini. Apa kau mau besok kau tidak berangkat kerja karena sakit, eoh?” Yonghwa juga tak beranjak dan membiarkan dirinya berdiri dengan payung yang melindungi Yoojin sedangkan dia malah basah kuyup kena air hujan.
“Aku
tidak peduli. Aku benci kau Jung Yong Hwa!” Dengan tangisan yang membanjiri
wajah Yoojin, dia terlihat memukul-mukul tubuh Yonghwa. Seakan kemarahnnya
terlampiaskan ketika memukul tubuh lelaki itu.
Yonghwa
pasrah dan membiarkan gadis itu terus memukulnya.
Flashback end
***
Shinhye
keluar dari kamarnya dan melihat Yonghwa tertidur di atas sofa dengan lelap.
Shinhye beranjak mendekatinya dan menyentuh kening pria itu. “Suhu tubuhmu
masih panas tapi kau bersikeras mau kencan. Babocheoreom,”
kata Shinhye sambil menutup seluruh tubuh
Yonghwa dengan selimut yang
dia bawa dari kamarnya. Gadis
itu kemudian bangun dari duduknya dan berjalan keluar rumah menuju apotik
terdekat untuk membelikan Yonghwa obat.
Setelah
kembali dari apotik, gadis itu menuju dapur dan langsung membuatkan bubur untuk
Yonghwa. Selesai membuat bubur, dia membawa
handuk dan air dingin untuk mengompres Yonghwa. Dia tersenyum
ketika mendapati Yonghwa masih tertidur lelap dalam bungkusan selimutnya. “Sajangnim,
aku tidak menyangka kau setampan ini kalau sedang tidur,” ujarnya kemudian
duduk di samping Yonghwa meletakkan bokor air kompresan di atas meja dan mulai
mengompres dahi Yonghwa secara
perlahan. Karena Yonghwa yang tak kunjung bangun membuat Shinhye harus menemani
pria itu.
Tak berapa lama dalam penjagaannya, gadis itu pun ikut tertidur di sisi Yonghwa.
“Selamat
malam, gadis tukang tidur,” ucap Yonghwa ketika melihat Shinhye membuka mata
diiringi uapan lebarnya.
“Jam berapa
ini?” tanya gadis itu masih menguap.
“Jam
sebelas malam.” Yonghwa mendelik ke arah jam tangannya. “Kau tidur dalam kurun
waktu yang cukup lama, agassi.”
Shinhye
mengangguk-anggukkan
kepalanya seakan membenarkan perkataan Yonghwa. “Aku sudah memasakan bubur
untukmu. Akan kupanaskan lagi.” Shinhye beranjak ke dapur.
Setelah
kembali dari memanaskan bubur, Shinhye membawa
baki berisi bubur dan segelas air.
“Makanlah, lalu minum obatnya,” ujar Shinhye sambil menyerahkan baki ke
arah Yonghwa.
“Kenapa kau
tidak membangunkanku tadi?” kata Yonghwa sambil menerima baki yang disodorkan
Shinhye. “Kita tak
jadi kencan karena kau tak membangunkanku. Setelah kumakan bubur
ini, kita harus keluar
kencan.” Yonghwa menyendok buburnya dan memakannya. “Aku tidak mau karena
sakit, kita harus membatalkan kencan kita yang pertama.”
“Lupakan!
Kita akan melakukannya lain kali, kalau kau sudah baikkan.”
Yonghwa
makan sambil merenggut.
Karena permintaannya tak disetujui Shinhye.
“Kau
makanlah! Setelah itu pulanglah ke apartemenmu.”
“Aku tidak
mau. Aku mau tinggal
di sini malam
ini.” Yonghwa berhenti dari kegiatannya mengunyah dan mulai
melakukan kebiasaanya kalau sedang kesal.
Melipat tangannya
dan mendelik ke arah Shinhye.
“Apa kata
orang kalau melihatmu keluar dari rumahku pagi-pagi, eoh? Oleh karena itu kau harus pulang malam ini juga.”
“Tapi
keadaanku belum sepenuhnya pulih. Bagaimana kalau aku tiba-tiba demam lagi? Siapa yang akan merawatku kalau
aku kembali ke apartemenku?”
Shinhye
menyentuh kening Yonghwa. “Suhu
tubuhmu sudah tidak sepanas
tadi.
Cukup minum obat, dan besok pagi kau akan benar-benar pulih. Jangan berkata
yang tidak masuk akal lagi,” tutur Shinhye cepat melihat reaksi Yonghwa yang
ingin bicara lagi dan mencari alasan untuk tinggal di rumahnya. “Kau
sudah dewasa, sajangnim. Jangan
bertingkah seperti anak kecil lagi, eoh?”
Yonghwa
kembali memakan buburnya, tapi sontak
dia berkata, “Ah… aku hampir
lupa. Karena ingin
naik bis bersama-sama denganmu tadi, aku datang ke sini tidak
membawa mobil. Sopirku yang mengantarku. Jadi dengan apa aku harus pulang sekarang?” Yonghwa
mulai mencari alasan lagi.
“Telepon
sopirmu! Suruh dia menjemputmu!”
“Tidak
bisa. Ini sudah
malam. Dia pasti
sudah tidur. Aku tidak mau mengganggunya.”
“Ah... aku yakin kau pasti akan mengatakan hal ini. Oleh karena itu..” Shinhye terlihat menekan
salah satu tombol di ponselnya. “Aku sudah mengirim pesan untuk memesan taksi,” kata
Shinhye sambil mengangkat ponselnya seakan menunjukan bahwa dia benar telah
memesan taksi lewat SMS. “Dalam dua
puluh menit lagi, taksi akan ke sini. Selesaikan makanmu, dan
keluarlah saat taksi tiba di sini.”
***
Setelah turun dari taksi,
Yonghwa naik elevator menuju ke kamar apartemennya. Begitu masuk
ke dalam
apartemennya,
Yonghwa terlihat kaget ketika melihat ibunya sedang duduk di atas sofa ruang
tamunya,
menunggunya.
“Kau sudah
pulang? Kenapa
larut sekali?”
tanya Ibu Yonghwa khawatir melihat anaknya yang baru pulang saat tengah malam.
Yonghwa
melepaskan jaket yang dipakainya dan membuangnya ke atas meja begitu saja.
“Ada apa eomma ke sini?” tanyanya datar
“Yoojin
datang menemui eomma sehabis dari
apartemenmu kemarin. Dia bilang semuanya pada eomma.”
Ibu Yonghwa terlihat mengatur nafasnya sebelum akhirnya lanjut bicara. “Yonghwa-ya, eomma tidak akan ikut campur hubunganmu dengan gadis karyawan restaurant kita itu. Eomma hanya memohon padamu untuk
mempertimbangkannya baik-baik,
eoh.
Pikirkanlah Yoojin. Kasihan betapa terpukulnya dia saat ini,” kata wanita separuh baya itu. Biasanya dia tak
pernah sekalipun |menentang
pilihan anak-anaknya, karena dia tahu semua pilihan mereka itu adalah yang
terbaik bagi mereka sendiri.
Tapi kali ini berbeda. Dia sedikit tidak menyetujui pilihan anaknya. Semuanya
karena dia tidak ingin melihat Yoojin terluka. “Dia kedinginan dan basah kuyup
ketika menceritakan semuanya padaku. Apa kau tidak kasihan melihat Yoojin yang
seperti itu?”
Yonghwa tidak menjawab dan
memilih menjadi pendengar saja.
“Yonghwa-ya, kau harus bersyukur karena Yoojin belum menceritakan semuanya
pada ayahmu. Eomma tidak tahu apa
yang akan terjadi, kalau saja ayahmu tahu semuanya.”
Yonghwa tetap bergeming. Hanya
suara nafasnya yang terdengar menguar saat itu.
“Kau memilih jalan yang sama dengan kakekmu, anakku,” kata
Ibu Yonghwa dalam hati
sambil mengingat kembali kisah
orang tuanya ketika muda dulu. Ibunya
seorang gadis sederhana
yang bekerja di perusahaan ayahnya.
Keduanya bertemu dan saling jatuh cinta. Tapi karena status ayahnya yang adalah
anak pemilik perusahaan, oleh karena itu hubungan ayah dan ibunya ditentang
luar biasa oleh orang tua ayahnya. Karena
kekerasan hati, anak
satu-satunya pewaris kekayaan keluarga Lee,
membuat hati orang tua anak itu luluh dan membiarkannya menikahi gadis yang
dipilihnya.
Wanita itu tersenyum sebentar setelah mengingat kembali kisah kedua orangtuanya itu. Dia kemudian
berbalik menatap mata
anak lelaki satu-satunya
ini, sambil berkata, “Apa kau tidak berpikir bahwa pilihanmu itu telah
melukai hati sahabat
baikmu itu?” tanyanya dengan suara yang sangat lembut
Anak lelakinya itu tak
menjawab pertanyaannya.
“Eomma rasa kau perlu mempertimbangkannya
lagi, Yonghwa-ya.”
“Eomma, aku capek,” kata Yonghwa sambil menyelonjorkan kakinya ke atas meja dan menyandarkan
kepalanya ke sofa, menutup kedua matanya.
“Arasseo,” kata Ibu Yonghwa dengan hembusan nafas yang panjang. “Siapa
pun yang kau pilih, eomma yakin dialah
yang terbaik.” Wanita itu akhirnya
memilih untuk tidak ikut campur dalam masalah anaknya ini. Melihat respon Yonghwa padanya
jelas-jelas menyatakan bahwa anak lelakinya itu tidak ingin Ibunya ikut campur
dalam hubungan percintaannya. “Eomma
pulang dulu. Kau tidurlah yang nyenyak. Chalja.” Ibu
Yonghwa pamit setelah
sebelumnya mengusap lembut rambut anak lelakinya itu.
***
Jung Yong Hwa
berdiri menatap Park Shin Hye dari atas kepala sampai ke kaki gadis itu. Dengan
tangan terlipat dia berdiri dengan santainya bersandar pada kaca jendela restaurant yang lebar. Meskipun sebelumnya
dia telah ditegur oleh
beberapa karyawan restaurant
untuk menunggu di ruangannya sebelumnya, tapi dia bersikeras untuk menunggu Shinhye di tempat
dia berdiri sekarang. Berhubung itu adalah tempat strategis di mana ia bisa
melihat dengan leluasa Shinhye bergerak melayani pengunjung restaurant.
“Apa kau tidak
akan ke ruanganmu?” tanya Shinhye ikut-ikutan melipat tangannya.
“Aku tidak akan
masuk ke ruanganku. Karena aku mau protes padamu,” kata Yonghwa sambil mencibirkan bibirnya.
“Kau boleh protes
padaku, tapi tidak sekarang, eoh? Aku sedang
melayani pengunjung,” ucap Shinhye dengan wajah memelas.
“Apa kau tidak malu dilihat mereka?” kata Shinhye mengarah pada pengunjung yang
ada di JeResto saat itu.
“Aku bisa mengusir
mereka
semua dari restaurant ini. Biar hanya ada kau dan aku. Setelah itu aku bisa puas menceritakan
alasan kenapa aku ingin protes padamu.”
“Dan kau mau
merugikan JeGrup dalam sekejap mata hanya karena tindakan
kekanakanmu ini?”
kata Shinhye sambil berkacak pinggang. “Ah..
apa kau mau kutelepon presdir dan melaporkan tindakanmu yang merugikan JeResto sekaligus
JeGrup saat ini, eong?” Shinhye terdengar mengancam.
Yonghwa terlihat
berpikir sejenak. Kemudian menjawab, “Baiklah. Aku akan ke ruanganku dulu. Setelah selesai, temui
aku.” Yonghwa berjalan menapaki tangga ke ruangannya dulu.
***
Setelah JeResto ditutup. Semua karyawan berkumpul di jalanan depan restaurant itu.
“Yonghwa oppa,
di mana adik kenalanmu yang kau bicarakan itu?” tanya Sooji membuka pembicaraan.
Tak.. Manajer
Yoo menjitak kepala Sooji. “Panggil dia bos. Panggil dia bos.” Manajer Yoo
mengulangi kalimatnya dan menekankan pada kata bos.
Sooji
mengerang sambil mendelik kesal ke arah manajer Yoo. Untung saja dia masih terlalu muda sehingga manajer Yoo
tidak merasa terganggu dengan delikannya.
“Ya, kau
tidak seharusnya menatap manajer seperti itu, eoh,” kata Hyejoon menasehati. Karena sudah seharusnya dia
melakukan hal itu berhubung tugasnya sebagai kepala pelayan di JeResto.
“Gwaenchanha.” Yonghwa berkata sambil melihat ke arah manajer Yoo dan Hyejoon. Kemudian dia berganti menatap Sooji dan berkata, “Sayangnya, dia tidak berada di Seoul saat ini. Tapi akan kukenalkan padamu saat
dia kembali ke sini.”
“Benarkah
dia tidak ada di Seoul saat ini?”
tanya Sooji pupus. “Padahal aku ingin segera bertemu
dengannya.”
“Aku janji akan kuperkenalkan dia padamu begitu dia
kembali ke sini,” ujar Yonghwa terlihat meyakinkan.
“Bos, kami pamit
pulang dulu,” kata para karyawan memotong pembicaraan Yonghwa dan Sooji. Satu per satu mereka membungkuk dan pamit pada Yonghwa. Kemudian meninggalkan Yonghwa, Shinhye, Jiwon, Hyejoon serta Sooji yang masih berdiri di depan restaurant.
“Kau harus
janji...” Sooji
belum menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba saja dia dirangkul dari
belakang oleh Jiwon.
“Kau juga harus
pulang, Bae Soo Ji,”
ungkap Jiwon yang lebih berupa paksaan. Dia menyadari bahwa bukan saatnya bagi
mereka untuk tetap berada bersama-sama dengan Yonghwa dan Shinhye.
“Andwae. Aku masih harus...” Kali ini Jiwon
dan Hyejoon merangkul
lengan Sooji dan menarik paksa dia meninggalkan Yonghwa dan Shinhye.
Tampang Yonghwa
saat melihat langkah Jiwon, Hyejoon dan Sooji yang sedikit demi sedikit mulai menjauh dari pandangannya menunjukan bahwa dia benar-benar berterima kasih karena
atas bantuan Jiwon
dan Hyejoon, dia tidak perlu lagi mendengar semua celotehan Sooji saat itu.
“Apa kau ingin pergi
bersamaku?” kata Shinhye membuyarkan pandangan Yonghwa
yang masih mau memastikan bahwa ketiga orang di depannya itu betul-betul sudah
menghilang dari pandangan matanya.
Yonghwa
mengangguk.
“Kau tidak membawa
mobilmu?”
“Ne,” kilah
Yonghwa.
“Tapi mobil yang di sana itu terlihat seperti
mobilmu?” kata Shinhye sambil menunjuk pada sebuah mobil yang terparkir tidak
jauh dari JeResto.
“Anieyo.
Itu bukan mobilku. Itu pasti milik pengunjung café seberang.” Yonghwa masih
berkilah. Padahal jelas sekali kalau mobil itu miliknya.
“Geurae?”
kata Shinhye masih mencoba memastikan bahwa mobil itu benar-benar bukan milik
Yonghwa.
“Ya.”
Yonghwa dengan kedua tangannya menyentuh telinga Shinhye dan memutar wajah
Shinhye menghadap ke arah lain. Agar Shinhye tidak lagi mengamati mobilnya. “Jibe kaja–ayo pulang!”
“Kau tidak keberatan harus naik bis?”
“Tentu saja.” Yonghwa berjalan duluan menuju ke arah halte bus diikuti
Shinhye di belakangnya.
Belum lama berdiri di halte bis. Sebuah bis
tujuan Dongjak-gu dengan perlahan berhenti di depan halte di mana
Shinhye dan Yonghwa berada. Pintu bis kemudian terbuka lebar dan beberapa
penumpang termasuk Yonghwa dan Shinhye naik ke atas bis tersebut. Karena saat
itu waktunya para pekerja pulang ke rumah, maka suasana dalam bis terlihat
sangat ramai. Sehingga menyebabkan
mereka berdua
dengan tidak leluasanya memilih tempat untuk duduk
bersama. Masih ada beberapa tempat kosong, tapi di sebelah kursi-kursi
kosong itu telah ditempati oleh orang lain.
“Ya,
Park Shin Hye!” panggil Yonghwa ketika Shinhye hendak memilih tempat duduknya.
“Ayo kita cari bis lain!” katanya karena melihat tidak
ada peluang baginya untuk duduk di samping Shinhye.
“Tidak bisa. Kau
duduklah di bagian sana.” Tunjuk Shinhye pada tempat duduk yang masih kosong di
bagian paling belakang.
Yonghwa menggeleng,
mengisyaratkan dengan wajah polosnya bahwa dia tak mau berpisah dari Shinhye.
“Kalau begitu
berdirilah terus di situ, sampai tiba di rumahku nanti.” Shinhye kemudian duduk
di bangku pilihannya.
Yonghwa hanya
bisa merenggut karena dia tidak
bisa duduk bersama Shinhye.
Bis kemudian mulai melaju kembali menyusuri jalan raya
kota Seoul pada malam itu.
Yonghwa yang masih setia berdiri di samping Shinhye
mendesah kemudian memanggil seorang wanita tua yang sedang duduk di samping Shinhye. “Halmeoni,
bagaimana kalau halmeoni duduk di bangku belakang?”
Serempak Shinhye
dan nenek yang dipanggil berbalik menatap Yonghwa. Masing-masing dengan
tatapannya yang berbeda. Shinhye dengan tatapan seakan mau berkata, “Jugoshippeo–kau mau mati?” Dan wanita tua itu dengan tatapan seakan mau berkata,
“Apa aku tidak salah dengar?”.
“Apa yang kau
bicarakan tadi, anak muda?” kata wanita tua dengan keranjang belanjaan di atas
pangkuannya mencoba memastikan
perkataan Yonghwa barusan.
“Aku
.. bilang
..,”
kata Yonghwa terbata-bata.
“Ya,
Jung Yong Hwa-ssi!” Shinhye memotong pembicaraan Yonghwa sebelum nanti Yonghwa yang ditegur
oleh penumpang lain karena memaksa seorang wanita tua untuk duduk bersesakan di
kursi bagian paling belakang dari bis tersebut.
“Apa kau tega
melihat aku duduk bersesakan bersama orang-orang di belakang?” kata Yonghwa
bergidik melihat penumpang-penumpang di kursi belakang sana. Ada pria berkumis
dengan tampang menyeramkan, wanita yang tertidur dengan mulut terbuka, dan pria
aneh yang selalu memasang tampang malu ketika Yonghwa tanpa sengaja melihat ke arahnya.
“Kalau kau tidak
mau, biar aku saja. Kau duduk di sini dan aku yang ke belakang.
Bagaimana?”
ujar Shinhye mencoba membuat kesepakatan.
“Joha,” kata Yonghwa dengan tatapan puas.
Shinhye
hendak bangkit dari kursinya.
Tapi seketika ditahan
Yonghwa. “Andwae,” kata Yonghwa mengubah keputusannya. “Aku tidak mau kau dekat-dekat
dengan pria bertampang menyeramkan itu,” ujarnya seraya berbisik.
“Kalau begitu,
jangan mengganggu nenek ini dan tetap berdiri di tempat
kau berdiri! Ara?”
Yonghwa merenggut lagi karena dirinya yang berakhir
duduk di bangku paling belakang bis.
Sampai di halte tujuan. Bis berhenti dan membiarkan
beberapa penumpang di atas bis turun di halte tujuan mereka itu, termasuk
Yonghwa dan Shinhye. Setelah turun
dari bis, tangan Shinhye digenggam terus oleh Yonghwa dari halte bis sampai
ke rumah Shinhye. Shinhye hanya bisa tersenyum merasakan
genggaman tangan Yonghwa yang begitu erat.
Setelah tiba di depan rumah Shinhye dan waktunya Yonghwa
pamit. Tiba-tiba Shinhye menahan tangan Yonghwa dan berkata, “Katamu tadi
kau ingin memprotesku? Apa itu?”
“Ah... gara-gara menggenggam tanganmu
tadi, aku bahkan lupa apa yang mau kuprotes,” kata Yonghwa jujur.
“Kalau begitu pulanglah
dan ingat kembali apa
yang ingin kau protes.”
“Aku benar-benar
lupa. Tapi aku akan mencoba mengingatnya, setelah itu kau akan kuberitahu. Kau
masuklah, ini sudah larut! Selamat malam! Tidur yang nyenyak,” kata Yonghwa
mengakhiri pembicaraan.
***
Dering telepon
membangunkan Yonghwa di pagi hari. Dengan mata menyipit dia menatap layar
ponselnya. Terbaca nama Hyunwoo di sana. Dengan malas dia menjawab
panggilannya.
“Ada apa pagi-pagi
sekali kau sudah meneleponku, Hyunwoo-ya?”
tanya Yonghwa dengan suara parau.
“Bagaimana kabarmu,
hyeong?” kata Hyunwoo basa-basi.
“Aku baik-baik saja.”
“Ah..
hyeong, maafkan
aku karena meneleponmu saat kau baru bangun pagi,” kata Hyunwoo ketika
mendengar suara baru bangun Yonghwa “Di sini sedang sore oleh karena itu aku meneleponmu tanpa
mengingat bahwa aku sedang tidak di Seoul saat ini.”
“Gwaenchanha,
Hyunwoo-ya. Bagaimana keadaan wesamchon?”
“Abeoji? Dia baik-baik saja. Kondisinya perlahan sudah membaik,”
jawab Hyunwoo.
“Ada apa kau meneleponku? Apa hanya ingin
menanyakan kabarku kau meneleponku dari Amerika?” tanya Yonghwa penasaran. Dia
kemudian bangun dari tidurnya, membuka tirai jendelanya, membiarkan sinar
matahari pagi masuk ke dalam kamarnya.
“Eoh hyeong, itu.. aku ingin menanyakan
tentang kabar Shinhye noona? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya. Aku sering
meneleponnya, tapi dia tidak pernah menjawab panggilanku. Apa dia marah padaku karena telah membohonginya tentang hubunganku dengan Jonghyun hyeong?”
Yonghwa terlihat
berpikir, mencoba mencerna isi kalimat Hyunwoo. Dia kemudian ingat bahwa dia
dan Jonghyun pernah berjanji pada Hyunwoo kalau mereka yang akan mengatakan semua kebenaran pada Shinhye nanti, setelah Hyunwoo tiba di Amerika.
Tapi sampai detik ini, janji itu belum
mereka tepati. Yonghwa meringis mengingat kenyataan
ini. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan Hyunwoo. Yonghwa mengusap wajahnya dengan tangan kirinya.
Dia mendesah.
“Hyeong,
apa kau masih di sana?” tanya
Hyunwoo karena mendengar keheningan di
seberang telepon sana.
Yonghwa tidak
menjawab.
“Hyeong-ah, minggu depan aku akan
kembali ke Seoul,” tutur Hyunwoo lancar berhubung tidak ada respon apa-apa dari sepupunya
ini.
“Andwae,”
seru Yonghwa.
“Hyeong, museun mal jigeum–kau bicara apa tadi?” tanya Hyunwoo karena samar-samar
dia mendengar Yonghwa sedang mengatakan sesuatu tadi.
“Jeongmal?” kata
Yonghwa mencoba mengalihkan pembicaraan. “Kau serius mau pulang sekarang?”
“Tidak sekarang.
Minggu depan, hyeong.” Hyunwoo
menjawab dengan semangat berhubung dia ingin bertemu Shinhye sesegera mungkin.
“Maldo andwae. Aku
bahkan belum memberitahukan
kepadamu tentang hubunganku dengan Park Shin Hye,” ujar Yonghwa dalam hati.
“Apa kau tidak
berpikir untuk menghabiskan liburan natalmu di Los Angeles? Akan terlihat bahagia sekali saat kau menghabiskan
natal di sana. Pemandangan dan suasana natal di sana lebih menarik dari pada
berada di Seoul,” celoteh Yonghwa panjang lebar. Alasan saja supaya membuat
Hyunwoo tidak kembali ke Seoul.
“Kalau begitu,
kenapa hyeong tidak ke sini juga?”
“Ah.. karena.. karena..” Yonghwa
terdengar sedang mencari alasan. “Karena sekarang aku
salah satu direktur di
JeGrup,” timpalnya dengan alasan sebisa mungkin. “Karena sekarang aku salah
satu direktur
di perusahaan ayahku, jadi tidak
bisa berlibur seenaknya lagi.”
“Sayangnya aku
lebih menyukai Seoul dari pada Los Angeles. Aku akan kembali minggu depan, hyeong. Pastikan kalian menjemputku di
bandara, okay? Ah.. hyeong, kututup teleponnya karena sepertinya eomma sedang memanggilku.”
“Hyunwoo!” panggil
Yonghwa tapi Hyunwoo keburu menutup teleponnya.
Selang beberapa
menit, Hyunwoo mematikan panggilan teleponnya
dengan Yonghwa.
Dengan gerakan cepat
Yonghwa mencari nomer
ponsel Shinhye pada kontak ponselnya dan menghubungi gadis itu.
Terdengar sapaan
lembut dari suara gadis di seberang telepon.
“Kau tidak sibuk,
kan? Sebentar aku ke kampusmu. Menjemputmu,” ujar Yonghwa retoris.
“Ah.. hari ini...”
Nada suara gadis itu terdengar berat. Sepertinya
dia tidak tertarik untuk bertemu
hari ini.
“Ije kkeutnae–kututup
teleponnya!”
kata Yonghwa mencoba menghindari
alasan penolakan Shinhye.
Setelah mengakhiri
panggilannya dengan Shinhye, Yonghwa kemudian berpindah ke Jonghyun. Dia
mencari nama kontak Jonghyun.
Dan menghubungi pria itu.
“Yoboseyo,” sapa Jonghyun.
“Kita dalam
keadaan gawat,”
kata Yonghwa dengan nafas menghambur.
“Apa maksudmu
dengan keadaan gawat?”
“Hyunwoo sudah
meneleponmu?”
“Ne. Dia bilang akan pulang minggu depan.”
“Apa kau tidak
khawatir dengan kepulangannya?”
“Jung Yong Hwa,
untuk apa aku khawatir dengan kepulangan adikku sendiri? Yang ada aku sangat bahagia dengan kepulangannya.”
“Nado.
Aku juga bahagia dengan kepulangannya. Namun apa kau tidak khawatir tentang
kebohongan yang belum kita ungkapkan kebenarannya pada Shinhye?”
“Ah...” Jonghyun baru
menyadari arah pembicaraan Yonghwa. “Aku bahkan lupa akan hal ini. Yong-ah, bagaimana kalau kita mengatakan yang sebenarnya pada Shinhye
sekarang?”
“Aniya. Jigeum andwae–jangan sekarang!” Yonghwa menggelengkan kepalanya
saat mengatakan kalimat tadi. “Nanti aku yang akan mengatakan semuanya padanya.
Tapi tidak sekarang.”
“Kapan? Kau
menunggu Hyunwoo yang menceritakannya?”
“Kau tidak
mengerti semua ini.” Yonghwa terlihat menyentuh dahinya dengan tangan kirinya.
“Bukan kau yang menjalani hubungan dengan Shinhye, tapi aku. Oleh karena itu biarkan
aku yang mengatakan semuanya pada Shinhye.”
“Bukan begitu
maksudku. Aku hanya berpikir kemungkinan terburuk kalau saja
Hyunwoo yang mengatakan semuanya pada Shinhye setibanya di Seoul nanti. Shinhye
pasti akan sangat marah, kalau dia tahu semuanya dari Hyunwoo. Kau tahu sendiri
kan, Hyunwoo bahkan belum tahu kalau kita masih merahasiakan hubungan antara
dia, aku dan kau, Yonghwa-ya.”
“Aku hanya tidak
tahu harus bilang apa?”
“Apa kau mau aku
membantumu mengatakannya pada Shinhye?” Jonghyun menawarkan bantuannya.
“Itu akan lebih
memperburuk keadaan.”
Jonghyun dan
Yonghwa kemudian terlibat keadaan saling mendiamkan satu dengan yang lainnya.
Sepertinya mereka sedang sibuk mencari jalan keluar permasalahannya.
“Beri aku waktu untuk
berpikir,”
kata Yonghwa membuka kembali
percakapan mereka.
“Baiklah. Aku percayakan
semuanya padamu, Yong-ah.”
Kemudian Jonghyun
dan Yonghwa mengakhiri panggilan mereka masing-masing.
To be continued
To be continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar