"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 14

Rabu, 20 Juli 2016

Rain of Autumn Part 14

Part 14


Setelah menggunting pita yang menandakan bahwa butiknya resmi dibuka. Kini tibalah saatnya pada puncak acara Yoojin. Waktunya pergelaran pertunjukan koleksi busana Yoojin dimulai. Pergelaran busana yang digelar outdoor itu seakan mampu menampung semua penikmat busana yang hadir saat itu. Beberapa model di belakang stage sudah siap memamerkan busana karya Yoojin. Sedang Yoojin sang desainer sendiri sedang berdiri di bawah panggung pertunjukan busana dengan wajah berseri menunggu kedatangan para model di atas panggung pertunjukan. Di bagian paling belakang dari kerumunan, Shinhye terlihat sedang mencari keberadaan Jiwon yang saat itu tiba-tiba menghilang dari penglihatannya. Dalam pikiran Shinhye saat ini adalah dia harus berhasil menggagalkan usaha Jiwon untuk membalas dendam pada Yoojin. Ditelusurinya semua sudut tempat itu mencari sosok Jiwon tapi tak didapatinya sosok itu. Shinhye akhirnya memutuskan menyelinap ke bagian belakang stage. Di sana mungkin dia akan bertemu dengan Jiwon. Begitu tiba di belakang panggung, Shinhye masih mencari sosok Jiwon. Tapi tetap saja tak didapatinya sosok itu. Di sana hanya ada para model yang sedang menunggu giliran mereka untuk naik ke atas panggung. Mau tak mau diperiksanya satu persatu model itu, mencari keganjilan dari busana para model. Tapi tak didapatinya keganjilan itu.
“Jiwon–ah, kau ada di mana? Jebal jangan membuat kacau pertunjukan ini?” katanya mengusap-usap kedua telapak tangannya. Entah kenapa tapi tiba-tiba saja, Shinhye tidak ingin pertunjukan ini gagal. 


***
Satu persatu model keluar dan mempertunjukan busana-busana karya Yoojin. Yoojin terlihat bahagia, apalagi ketika Jun dan beberapa teman desainernya tengah memuji busana hasil karyanya. Dan busana terakhir untuk dipertunjukan adalah busana yang paling istimewa menurut Yoojin. Karena busana ini adalah busana terbaru yang beberapa bulan ini dikerjakan olehnya. Semua tamu bertepuk tangan memuji hasil karya terbarunya ini. Selang si model yang memperagakan busana terbarunya berjalan ke belakang stage, tiba-tiba sang MC masih melanjutkan dengan mengatakan masih ada lagi karya paling membanggakan yang perlu dipertunjukan. Mendengar hal itu, Yoojin kaget setengah mati. Karena menurutnya semua karyanya telah dipertunjukkan tadi. Lantas apa lagi yang belum? Yoojin hendak berjalan ke belakang panggung ingin mengkonfirmasi kesalahan ucapan sang MC. Tapi terlambat. Seorang model tak dikenal saat ini sedang berjalan dengan luwesnya di atas panggung,  dengan busana yang menempel di badannya dan membuat beberapa desainer dan tamu yang hadir saat itu tersenyum geli melihat busana yang model tersebut kenakan. Mengapa tidak tersenyum geli, kalau setelan yang digunakan sang model adalah sebuah kemeja lengan panjang garis-garis dan celana harem bermotif bunga-bunga beserta sepasang sepatu ankle strap dengan hak stiletto sebagai alas kaki sang model. Semua setelan itu adalah setelah yang Yoojin berikan pada Jiwon. Ketika melihat sang model dengan setelan itu, Yoojin langsung menyadari siapa dalang di balik kejadian memalukan ini. Siapa lagi kalau bukan orang yang menerima paket setelan itu yang dikirimkannya. Untuk sesaat Yoojin menyesal karena telah melakukan perbuatan yang kekanakkan pada Jiwon. Akhirnya dia sendiri malah kena batunya. Tanpa menunggu tawa semakin menggema di udara, Yoojin naik ke atas panggung dan mengatakan bahwa itu adalah busana terbaru yang sedang direncanakannya. Dia akan mengupgrade model pakaian ibu-ibu yang biasa mereka pakai kalau sedang berjualan di pasar ke dalam bentuk yang lebih stylish. Meski mereka hanya akan berjualan di pasar, paling tidak mereka pun perlu terlihat stylish¸ agar menarik minat belanja pengunjung pasar. Well, dengan mudahnya para tamu menerima alasannya. Dan alasan tiba-tibanya itu malah membuatnya mendapatkan pujian dari beberapa desainer, karena proyek terbarunya itu.


***
Akhir dari acara diisi oleh nyanyian sang penyanyi tanah air, Kim Jong Kook.

Han namjaga isseo neol neomu saranghan.
(Ada seorang pria yang sangat mencintaimu.)
Han namjaga isseo saranghae maldo mothaneun.
(Ada seorang pria tidak bisa mengatakan aku mencintaimu.)
Ni gyeothe son nae milmyeon kkok daheul georie.
(Aku di sampingmu mengulurkan tangan, hingga kau bisa meraihku di saat tertentu.)
Jasinboda akkineun neol gajin naega isseo.
(Ada aku yang menyayangimu daripada diri sendiri.)
Neoreul utge haneun irojik geugeotman saenggakhago.
(Aku hanya berpikir untuk membuatmu tertawa).

Setelah acara selesai dan beberapa tamu tengah berpamitan pada Yoojin. Di tempat lain Yonghwa sedang berusaha mencari keberadaan Shinhye untuk memenuhi janjinya tadi. Lebih tepatnya karena memang dia tulus ingin mengantar Shinhye pulang ke rumah. Yonghwa menyapu seluruh halaman butik mencari sosok gadis itu, tapi tidak didapatinya keberadaan gadis itu. Dia mencoba berjalan ke luar dari lingkungan butik Yoojin dan mencari Shinhye di luar sana. Akhirnya didapatinya, gadis itu tengah berdiri menunggu bis yang akan membawanya pulang ke rumah.
Yonghwa tersenyum kemudian berjalan mendekati gadis itu. “Tidak akan ada bis yang mau mengantarmu pulang. Karena mereka tahu aku punya janji denganmu.”
Shinhye tidak menjawab karena dalam hatinya telah mekar berbagai jenis bunga. Dia tersipu malu saat itu.
Tanpa banyak bicara, Yonghwa menggenggam pergelangan tangan Shinhye dan membawanya ke arah di mana mobilnya diparkir. Yonghwa berjalan ke arah kanan mobil dan membuka pintu mobilnya untuk Shinhye. Shinhye masuk. Setelah menutup pintu mobilnya, Yonghwa kemudian berputar ke samping kiri mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya juga. Yonghwa lalu menginjak pedal gas dan meninggalkan butik Yoojin.
Beberapa menit berlalu, mereka tidak terlibat dalam percakapan. Hanya suara Shinhye yang sesekali menguap karena mengantuk. Untuk mengisi ruang kosong tanpa perbincangan itu, Yonghwa akhirnya memutuskan untuk memutar MP3 dari audio mobilnya. Sebuah lagu dengan dentuman musik yang keras diputar Yonghwa. Musiknya dianggap Shinhye benar-benar sangat memekakkan telinga. Shinhye refleks menutup gendang telinganya karena bunyi musik dari lagu tersebut. Tapi Yonghwa sebaliknya. Dia malah terlihat menikmati alunan musik dari lagu itu. Dan sekarang dia malah mengikuti liriknya.

Bwabwa nareul bwabwa ttokbaro nae du nuneul bwa.
Geobwa imi neoneun ddan goseul bogo isseo.
Check it one two three, sigyebaneulman chyeoda boneun gae.
Mal an haedo dareun saram saenggingeol ara.

Shinhye hanya mengeluh dalam hati melihat Yonghwa yang terlihat sangat menikmati lagu tersebut. Saat ini yang ada dalam pikiran Shinhye adalah harapan bahwa lagu tersebut segera berakhir. Berhubung irama jantungnya yang terus berpacu tak keruan mendengar lagu ini. Shinhye menekan-nekan dadanya mencoba menetralkan irama jantungnya. Tapi tak juga berhasil. Jantungnya masih berpacu cepat merespon tempo musik dari lagu yang sedang diputar. Tiga menitan berlalu, akhirnya lagu itu selesai juga dan otomatis tergantikan oleh instrument milik Kenny G berjudul The Champions Theme. Instrumen ini benar-benar membuat lega hati Shinhye. Setelah mendengar lagu yang menurutnya sangat berisik itu, terputarnya instrument ini benar-benar membuat jantung Shinhye kembali berpacu normal. Dengan refleks dia menghembuskan nafas dan mengurut dadanya bersyukur atas ketiadaan lagu berisik itu.
“Kau tidak suka lagunya?” tanya Yonghwa karena melihat reaksi mengurut dada Shinhye.
“Oh sangat suka,” jawab Shinhye. “Dibandingkan dengan lagu berisikmu tadi,” teriak Shinhye dalam hati. “Aku sangat menyukai semua karya Kenny G.” Shinhye berbohong karena sebetulnya dia tidak terlalu mengetahui koleksi karya-karya Kenny G.
“Ini bukan lagu. Ini hanya instrumen. Yang kutanyakan adalah lagu yang kuputar tadi,” kata Yonghwa mencoba memperbaiki kesalahan Shinhye.
Shinhye menunduk malu karena kesalahpahaman ini.
“Yang kumaksud adalah, oetoriya oetoriya, dara diri dara du. Oetoriya oetoriya, dara diri dara du. ” Yonghwa kembali mengulang lirik lagu tadi.
Geumanhae.” Shinhye mencoba menghentikan nyanyian Yonghwa.
Yonghwa berhenti bernyanyi.
“Arasseo. Shinhye menghembuskan nafasnya. “Sejujurnya aku tidak menyukai lagu seperti itu.” Shinhye berkata jujur. “Lagu seperti itu hanya akan membuat telingaku tuli. Kalau saja penyanyinya ada di sini, aku ingin menyarankan sesuatu padanya.”
“Apa itu?”
“Hanya penyanyinya yang boleh tahu,” jawab Shinhye enteng.
“Bagaimana kalau penyanyinya ada di sampingmu sekarang? Kau ingin memberitahunya?”
Shinhye mendengus lucu mendengar perkataan Yonghwa.
“Aku serius. Lagu itu milik C.N. BLUE. Dan aku vokalisnya.” Tunjuk Yonghwa pada dirinya sendiri. “Gitarisnya Jungshin dan drummer-nya Minhyuk. Kalau kau tidak percaya, kau boleh cari di internet sekarang. Meski cuma band indie, tapi kami juga sedikit terkenal.” Yonghwa terdengar sedang membanggakan bandnya.
Shinhye terlihat sibuk mem-browsing sesuatu di internet. Dan ternyata benar seperti yang Yonghwa katakan. Lagu itu adalah milik C.N. BLUE. Dan Yonghwa adalah vokalisnya. Sekali lagi dia menunduk malu.
Yonghwa tersenyum melihat tingkah Shinhye yang tersipu malu. “Kau percaya sekarang? Lalu, apa yang ingin kau katakan pada penyanyinya?” tanya Yonghwa dengan raut wajah penasaran.
Dengan wajah tertekuk, Shinhye berbalik ke arah Yonghwa dan berkata, “Aku akan bilang kalau dia tidak sendiri. Dia pasti ditemani penggemar setianya.” Jelas sekali itu bohong. Kebenarannya, dia ingin sekali mengatakan agar penyanyi itu segera pensiun dini dari dunia musik. Karena mereka hanya akan menyebabkan banyak orang, tidak, lebih tepat dirinya tuli karena lagunya.
Kali ini bukan hanya sekedar senyum, tapi Yonghwa tertawa memamerkan gingsulnya yang membuat Shinhye ingin sekali menjawilnya kalau saja bisa.
“Neomu kyeopta,” gumam Shinhye dalam hati.
Joha. Aku menyukaimu yang seperti ini,” kata Yonghwa refleks.
Shinhye tersentak dan berbalik menatap Yonghwa. Dia tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja dikatakan Yonghwa.
Yonghwa sendiri kaget dengan kalimatnya sendiri. “Ah.. rumahmu. Kita sudah sampai di depan rumahmu.” Yonghwa mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia mematikan mesin mobilnya. Dan turun dari mobilnya.
Shinhye ikut keluar dari dalam mobil Yonghwa.
Annyeong! Jaljja. Yonghwa mengucapkan kalimat perpisahan yang jarang sekali diucapkannya. Setelah mengucapkan kalimat manis itu, Yonghwa berjalan cepat masuk ke dalam mobilnya dan segera mungkin meninggalkan Shinhye yang masih mematung di depan pagar rumahnya.
Shinhye akhirnya masuk ke dalam rumahnya. Di kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Bayangan tentang sosok Yonghwa yang sedang tersenyum kembali berkelabat di pikrannya. Tiba-tiba saja jantungnya berpacu cepat mengingat kembali senyuman Yonghwa tadi. Shinhye pun tersenyum bahagia karena senyuman itu. Dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya, Shinhye mulai mengingat kembali lirik lagu yang dinyanyikan Yonghwa tadi.
Oh baby. Oetoriya oetoriya. Dara diri dara du. Oetoriya oetoriya. Dara diri dara du.. hmm..hmm..hmm..hmm..hmmm..hmm..” Shinhye mendengung mencoba meraih-raih note musiknya, karena lirik lagunya yang tidak bisa diingatnya lagi.
“C.N. BLUE?” Shinhye mesem-mesem sendiri. Dia kembali membuka halaman di internet mencoba mencari kabar yang berhubungan dengan C.N. BLUE.
“Sesibuk apa pun kami, C.N. BLUE tetap kami utamakan.” Shinhye membaca komentar Yonghwa di halaman tersebut. Dia tersenyum karena kalimat Yonghwa yang terdengar sangat bertanggung jawab itu.


JeResto.
Annyeonghaseyo, manajer!” sapa Yoojin ketika bertemu manajer Yoo di teras restaurant.
Eoh, annyeonghaseyo, Yoojin-ssi!” Manajer Yoo balik menyapanya. “Apa kau mencari Yonghwa?” tanya manajer Yoo, melihat Yoojin yang akan beranjak masuk ke dalam JeResto.
Eoh. Dia di dalam?” tanya Yoojin mencoba memastikan.
“Dia baru saja pergi. Katanya dia harus mendaftar sidang untuk thesis-nya.”
Yoojin mengangkat kedua alisnya merasa bahwa akhirnya sahabatnya itu mau ujian thesis juga. “Baguslah kalau begitu. Eoh, manajer Yoo, aku ke dalam dulu. Ada yang ingin kutemui.”
Haseyo–silahkan,” ujar manajer Yoo menutup pembicaraan.
Yoojin meninggalkan manajer Yoo dan berjalan ke arah pantry. Dan tak perlu membuang-buang tenaga lagi untuk mencari orang yang ingin dia temui, karena orang itu sedang berada di ruangan yang hendak dimasukinya. “Syukurlah kau ada di sini.” Pandangan Yoojin tertuju hanya pada satu wajah. Wajah siapa lagi kalau bukan wajah Jiwon yang sedang dipandanginya saat ini dengan tatapan penuh amarah. “Eoh, Kim Ji Won-ssi,  pertunjukanmu kemarin benar-benar membawa keuntungan bagiku. Aku banyak mendapat tawaran untuk melanjutkan proyekku, kilahnya seakan-akan dia benar-benar ditawari kerja sama. Eoh, proyekmu maksudku.” Yoojin menekankan pada kalimat terakhir. Apeureon–lain kali, aku harap tidak melihatmu lagi di setiap acaraku. Apa pun itu, katanya dengan tatapan menohok. Yoojin berbalik belakang dan berjalan meninggalkan Jiwon. Tapi kemudian dia berbalik kembali dan berkata, “Eoh, Jiwon-ssi, gomawoyo.” Senyum sinisnya seakan mewarnai kepergiannya.
“Ah.. ah.. stres.” Jiwon mengurut-urut kendoknya karena urat di kendoknya yang mulai menegang.
“Sudah kubilang kan, berhenti berurusan dengannya. Sekarang malah kau yang terlihat seperti pecundang.” Shinhye menyerahkan segelas air agar menenangkan perasaan Jiwon. “Jigeum buteo–mulai sekarang, apa pun itu berhenti berurusan lagi dengannya. Arasseo?” kata Shinhye mencoba menasehati.


***
“Kau sudah tiba? Kupikir aku harus menjemputmu di bawah,” ujar Jonghyun ketika melihat Yoojin masuk ke ruangannya.
“Wah, tidak kusangka kau benar-benar sudah dewasa rupanya.” Yoojin menyentuh jengkal demi jengkal setiap perabot yang ada di ruangan Jonghyun. “Ternyata bocah SMA itu sudah bisa memimpin.”
Jonghyun tertawa sambil berkata, “Apa kau pikir aku masih Jonghyun yang sering berlari sambil melempar bantal denganmu?”
Yoojin tertawa simpul. “Kau masih mengingatnya?
Kau mau minum apa? Ada teh, kopi atau? tawar Jonghyun. 
Kurasa teh cukup,
Jonghyun kemudian memanggil sekretarisnya dan kemudian dua gelas teh hangat dibawa ke ruangan Jonghyun.
Eoh, kudengar hari ini Yonghwa sedang mendaftar sidang. Bagaimana denganmu?”
Naega? Aku sudah mendaftarnya kemarin. Yonghwa baru saja mengirimiku pesan, katanya dia sudah melihat jadwal sidangnya. Dan seminggu lagi jadwal sidang kami. Aku harap kau mendoakan kesuksesan kami.”
“Tentu saja.  Aku akan selalu mendoakan dua sahabat usilku ini.” Yoojin menepuk-nepuk lembut pundak Jonghyun.
Jonghyun menangkap pergelangan tangan Yoojin dan berkata, “Apa kau tidak takut akan terpesona padaku?” tanyanya dengan tatapan nakal.
“Ah.. jjinja.” Yoojin menarik pergelangan tangannya dan memukul pundak Jonghyun lagi. Kali ini pukulannya terlihat sedikit lebih keras. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah terpesona padamu.”
Arasseo. Kau hanya akan selalu terpesona pada satu orang. Dan kurasa sampai sekarang pun hanya orang itu yang mampu membuat hatimu berdebar kan?
Eoh, Hyunnie-ya, apa kau mengenal karyawan Yonghwa yang bernama Park Shin Hye itu?” Yoojin mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia merasakan suhu tubuhnya mulai memanas ketika membicarakan orang itu.
Jonghyun menganggukan kepala mengiyakan. “Ada apa dengannya?”
“Bagaimana dia bisa diterima bekerja di JeResto?”
Aku tidak begitu tahu tentang hal itu. Memangnya kenapa?” Jonghyun ikut meneguk minumannya melihat Yoojin yang juga sedang meneguk minumannya.
“Kulihat akhir-akhir ini Yonghwa sering pergi bersamanya. Apa dia dan Yonghwa sedang menjalin hubungan istimewa? tanya Yoojin penasaran karena dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Yonghwa mengantarkan Shinhye pulang ketika malam peresmian butiknya.
“Jangan bilang kalau kau cemburu pada Park Shin Hye.” Jonghyun menatap Yoojin dengan tatapan jahil.
Yoojin mendengus seakan menjelaskan bahwa dia tidak selevel dengan gadis karyawan itu.
“Bicara soal Park Shin Hye, kudengar kau sedang berkencan dengan sahabatnya, Kim Ji Won. Apa itu benar?”
Ne. Geundae wae?”
Aniya. Aku hanya tidak menyangka orang sepertinya bisa mendapatkan orang sepertimu. Kau lebih pantas...”
“Yoojin-ah!” potong Jonghyun karena sepertinya mengerti akan ke mana arah pembicaraan Yoojin. Berhentilah menilai orang dari kelasnya. Igeo sirheoyo–aku tidak suka itu.”
“Aku hanya tidak mau kau menyesal ke depannya, ujar Yoojin mencoba membela diri.
“Makasih atas perhatianmu. Tapi aku sibuk sekarang. Pulanglah! Nanti aku akan ke rumahmu, mengunjungimu.” Jonghyun bangun dari sofa putih yang dia duduki bersama Yoojin dan beranjak menuju meja kerjanya.
Geurae.” Yoojin bangkit dari sofa yang sama. Sepertinya dia mengerti kalau saat ini dia telah mengubah mood sahabatnya menjadi buruk. Oleh karena itu segera mungkin dia mengucapkan kalimat perpisahan pada Jonghyun. “Jibe gayo–aku pulang!”


***
Arasseo, abeoji. Aku akan melakukannya.” Yonghwa beranjak keluar dari ruang kerja ayahnya.
“Apa yang harus aku lakukan kalau aku tidak bisa melihatnya lagi setiap hari?” Yonghwa terlihat serius memikirkan sesuatu. Kadang-kadang keningnya berkerut dan kedua alisnya terangkat. Ah.. desisnya. "Apa yang kupikirkan? Kenapa hanya dia yang ada dalam pikiranku? Ya, Park Shin Hye, apa kau mencoba menggodaku?” kata Yonghwa ketika melihat bayangan Shinhye di pikirannya sedang berlari sambil menjulurkan lidah padanya.
Ah..” Yonghwa berteriak mencoba menampis semua khayalannya.


***
“Laporan keuangan yang berdasarkan..” Shinhye terlihat sibuk mencoba menhafal mata kuliahnya. “Oleh sebab itu.. Kkamjjagiya–kau mengagetkanku!” Shinhye setengah berteriak ketika mengangkat kepala dan melihat Yonghwa sedang duduk di sebelahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?
“Belikan aku dasi untuk sidangku minggu depan. Sekarang juga! Yonghwa berkata dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya.
Michesseo? Apa aku sekretarismu? Kau tidak lihat aku sedang apa, eong?”
“Hanya kau yang bisa kusuruh. Semuanya sibuk, jawab Yonghwa enteng.
“Aku lebih sibuk lagi. Aku ada ujian sebentar. Kau pulanglah!”
Shireo. Aku akan menunggumu sampai kau selesai ujian.” Yonghwa bersikukuh tidak mau pulang. Dan memilih tetap duduk di dalam kelas Shinhye.
Shinhye hanya menatap Yonghwa dengan tatapan kesal kemudian melanjutkan aktifitas menghafalnya. “Oleh sebab itu produsen yang bertanggung jawab...”
“Park Shin Hye.”  Yonghwa memotong kalimat Shinhye. “Kenapa teman-teman wanitamu menatapku seperti itu? Aku tahu aku benar-benar tampan. Tapi tatapan mereka itu terlihat menakutkan.”
“Itu karena mereka tidak nyaman dengan kehadiran orang asing sepertimu.”
Mworago? Orang asing katamu? Kau pikir aku ini orang asing."Shinhye hanya bisa mendelik kesal.
"Kau lihat akan kubuktikan bahwa aku sangat terkenal di sini. Yeorebeun!” Panggil Yonghwa pada teman-teman kelas Shinhye. “Kalian tahu siapa aku?”
Ne. Kau Jung Yong Hwa.” Jawab suara yang dominannya berasal dari suara wanita.
Yonghwa menatap Shinhye sambil menunjuk dirinya dengan wajah sumringah. Dia bangga karena dirinya terkenal. “Kau sudah buktikan sendiri kan kalau aku ini terkenal.
Shinhye tidak memedulikan perkataan Yonghwa dan kembali membaca buku catatannya.
Yonghwa menempatkan sikunya di atas meja, menopang dagunya dan menatap Park Shin Hye lekat. “Sejak kapan aku mulai tertarik padamu?”
Shinhye tetap menghafal tanpa suara.
“Kau tidak secantik Song Hye Kyo. Tidak seseksi Ha Ji Won. Tidak sekaya Kim Tae Hee. Tapi kenapa aku tertarik padamu?” Tatapannya tetap mengarah pada Shinhye.
Shinhye menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya, mencoba berkonsentrasi kembali pada catatannya.
Ah.. michesseo.” Yonghwa berkata pada dirinya sendiri. Dia bingung dengan dirinya yang akhir-akhir ini terlihat sangat aneh. Dia bahkan berani mengatakan isi hatinya secara terang-terangan. Dirinya yang sekarang benar-benar tidak seperti dirinya yang dahulu.
“Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing,” kata seorang dosen yang baru masuk ke kelas Shinhye. Sepertinya dia yang akan mengadakan  ujian hari ini, karena  ada lembaran-lembaran kertas ujian yang digenggamnya. Dia kemudian mulai mengabsen dan membagi kertas-kertas ujiannya.
“Kau siapa? Mahasiswa di kelasku?” Tunjuknya pada Yonghwa ketika menyadari bahwa baru pertama kali dia melihat mahasiswa ini.
Yonghwa malah memutar kepalanya, melihat ke samping kiri kanannya .
“Kau yang kumaksud,” tegasnya pada Yonghwa.
Eoh, annyeonghaseyo kyosunim!sapa Yonghwa dengan wajah tanpa dosa. “Aku juga ingin ikut ujian di kelasmu.
“Namamu?” tanya profesor.
“Kau tidak mengenalku, profesor?” tunjuk Yonghwa pada dirinya sendiri.
“Siapa kau sehingga aku harus mengenalmu? Hallyu-star?”
Yonghwa berbalik menatap teman-teman kelas Shinhye yang sedang menertawai dirinya. Di sampingnya, Shinhye sedang tersenyum geli sambil berkata tanpa suara yang dengan jelas Yonghwa dapat membaca gerakan bibirnya, katanya,Tidak asing?”
“Keluar dari kelasku. Tulis namamu dan ke ruanganku sebentar,kata profesor Lee Pil Mo yang terkenal sangat tegas itu.
Yonghwa bangkit berdiri, mengusap wajahnya dan beranjak pergi dari ruang kelas Shinhye.



To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar