Part
14
Setelah
menggunting pita yang menandakan bahwa butiknya resmi dibuka. Kini tibalah saatnya
pada puncak acara Yoojin. Waktunya pergelaran pertunjukan koleksi busana Yoojin
dimulai. Pergelaran busana yang digelar outdoor itu seakan mampu menampung semua
penikmat busana yang hadir saat itu. Beberapa model di belakang stage sudah siap memamerkan busana karya
Yoojin. Sedang Yoojin sang desainer sendiri sedang berdiri di bawah panggung
pertunjukan busana dengan wajah berseri menunggu kedatangan para model di atas
panggung pertunjukan. Di bagian paling belakang dari kerumunan, Shinhye terlihat
sedang mencari keberadaan Jiwon yang saat itu tiba-tiba menghilang dari
penglihatannya. Dalam pikiran Shinhye saat ini adalah dia harus berhasil
menggagalkan usaha Jiwon untuk membalas dendam pada Yoojin. Ditelusurinya semua
sudut tempat itu mencari sosok Jiwon tapi tak didapatinya sosok itu. Shinhye
akhirnya memutuskan menyelinap ke bagian belakang stage. Di sana mungkin dia akan bertemu dengan Jiwon. Begitu tiba
di belakang panggung, Shinhye masih mencari sosok Jiwon. Tapi tetap saja tak
didapatinya sosok itu. Di sana hanya ada para model yang sedang menunggu
giliran mereka untuk naik ke atas panggung. Mau tak mau diperiksanya satu
persatu model itu, mencari keganjilan dari busana para model. Tapi tak
didapatinya keganjilan itu.
“Jiwon–ah,
kau ada di mana? Jebal jangan
membuat kacau pertunjukan ini?” katanya mengusap-usap kedua telapak tangannya.
Entah kenapa tapi tiba-tiba saja, Shinhye tidak ingin pertunjukan ini gagal.
***
Satu persatu model
keluar dan mempertunjukan busana-busana karya Yoojin. Yoojin terlihat bahagia,
apalagi ketika Jun dan beberapa teman desainernya tengah memuji busana hasil
karyanya. Dan busana terakhir untuk dipertunjukan adalah busana yang paling
istimewa menurut Yoojin. Karena busana ini adalah busana terbaru yang beberapa
bulan ini dikerjakan olehnya. Semua tamu bertepuk tangan memuji hasil karya terbarunya
ini. Selang si model yang memperagakan busana terbarunya berjalan ke belakang stage,
tiba-tiba sang MC masih melanjutkan dengan mengatakan masih ada lagi karya
paling membanggakan yang perlu dipertunjukan. Mendengar hal itu, Yoojin kaget setengah
mati. Karena menurutnya semua karyanya telah dipertunjukkan tadi. Lantas apa
lagi yang belum? Yoojin hendak berjalan ke belakang panggung ingin mengkonfirmasi
kesalahan ucapan sang MC. Tapi terlambat. Seorang model tak dikenal saat ini
sedang berjalan dengan luwesnya di atas panggung, dengan busana yang menempel di badannya dan
membuat beberapa desainer dan tamu yang hadir saat itu tersenyum geli melihat
busana yang model tersebut kenakan. Mengapa tidak tersenyum geli, kalau setelan
yang digunakan sang model adalah
sebuah kemeja lengan panjang garis-garis dan celana harem bermotif bunga-bunga
beserta sepasang sepatu ankle strap
dengan hak stiletto sebagai alas kaki
sang model. Semua setelan itu adalah setelah yang Yoojin berikan pada Jiwon.
Ketika melihat sang model dengan setelan itu, Yoojin langsung menyadari siapa dalang di balik kejadian memalukan ini. Siapa lagi kalau
bukan orang yang menerima paket setelan itu yang dikirimkannya. Untuk sesaat
Yoojin menyesal karena telah melakukan perbuatan yang kekanakkan pada Jiwon.
Akhirnya dia sendiri malah kena batunya. Tanpa menunggu tawa semakin menggema
di udara, Yoojin naik ke atas panggung
dan mengatakan bahwa itu adalah busana terbaru yang sedang
direncanakannya. Dia akan mengupgrade
model pakaian ibu-ibu yang biasa mereka pakai kalau sedang berjualan di pasar
ke dalam bentuk yang lebih stylish.
Meski mereka hanya akan berjualan di pasar, paling tidak mereka pun perlu
terlihat stylish¸ agar menarik minat
belanja pengunjung pasar. Well,
dengan mudahnya para tamu menerima alasannya. Dan alasan tiba-tibanya itu malah
membuatnya mendapatkan pujian dari beberapa desainer, karena proyek terbarunya
itu.
***
Akhir dari acara
diisi oleh nyanyian sang penyanyi tanah air, Kim Jong Kook.
Han namjaga isseo neol neomu saranghan.
(Ada seorang pria yang sangat mencintaimu.)
Han namjaga isseo saranghae maldo mothaneun.
(Ada seorang pria tidak bisa mengatakan aku
mencintaimu.)
Ni gyeothe son nae milmyeon kkok daheul georie.
(Aku di sampingmu mengulurkan tangan, hingga kau
bisa meraihku di saat tertentu.)
Jasinboda akkineun neol gajin naega isseo.
(Ada aku yang menyayangimu daripada diri sendiri.)
Neoreul utge haneun irojik geugeotman saenggakhago.
(Aku hanya berpikir untuk membuatmu tertawa).
Setelah acara
selesai dan beberapa tamu tengah berpamitan pada Yoojin. Di tempat lain Yonghwa
sedang berusaha mencari keberadaan Shinhye untuk memenuhi janjinya tadi. Lebih
tepatnya karena memang dia tulus ingin mengantar Shinhye pulang ke rumah. Yonghwa
menyapu seluruh halaman butik mencari sosok gadis itu, tapi tidak didapatinya
keberadaan gadis itu. Dia mencoba berjalan ke luar dari lingkungan butik Yoojin
dan mencari Shinhye di luar sana. Akhirnya didapatinya, gadis itu tengah
berdiri menunggu bis yang akan membawanya pulang ke rumah.
Yonghwa tersenyum kemudian
berjalan mendekati gadis itu. “Tidak akan ada bis yang mau mengantarmu pulang. Karena
mereka tahu aku punya janji denganmu.”
Shinhye tidak
menjawab karena dalam hatinya telah mekar berbagai jenis bunga. Dia tersipu
malu saat itu.
Tanpa banyak
bicara, Yonghwa menggenggam pergelangan tangan Shinhye dan membawanya ke arah
di mana mobilnya diparkir. Yonghwa berjalan ke arah kanan mobil dan membuka
pintu mobilnya untuk Shinhye. Shinhye masuk. Setelah menutup pintu mobilnya,
Yonghwa kemudian berputar ke samping kiri mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya
juga. Yonghwa lalu menginjak pedal gas dan meninggalkan butik Yoojin.
Beberapa menit berlalu,
mereka tidak terlibat dalam percakapan. Hanya suara Shinhye yang sesekali
menguap karena mengantuk. Untuk mengisi ruang kosong tanpa perbincangan itu, Yonghwa
akhirnya memutuskan untuk memutar MP3 dari audio mobilnya.
Sebuah lagu dengan dentuman musik yang keras diputar Yonghwa. Musiknya dianggap
Shinhye benar-benar sangat memekakkan telinga. Shinhye refleks menutup gendang
telinganya karena bunyi musik dari lagu tersebut. Tapi Yonghwa sebaliknya. Dia
malah terlihat menikmati alunan musik dari lagu itu. Dan sekarang dia malah
mengikuti liriknya.
Bwabwa
nareul bwabwa ttokbaro nae du nuneul bwa.
Geobwa
imi neoneun ddan goseul bogo isseo.
Check
it one two three, sigyebaneulman chyeoda boneun gae.
Mal an
haedo dareun saram saenggingeol ara.
Shinhye hanya
mengeluh dalam hati melihat Yonghwa yang terlihat sangat menikmati lagu
tersebut. Saat ini yang ada dalam pikiran Shinhye adalah harapan bahwa lagu
tersebut segera berakhir. Berhubung irama jantungnya yang terus berpacu tak
keruan mendengar lagu ini. Shinhye menekan-nekan dadanya mencoba menetralkan
irama jantungnya. Tapi tak juga berhasil. Jantungnya masih berpacu cepat
merespon tempo musik dari lagu yang sedang diputar. Tiga menitan
berlalu,
akhirnya lagu itu selesai juga dan otomatis tergantikan oleh instrument milik
Kenny G berjudul The
Champions Theme. Instrumen ini benar-benar membuat lega hati
Shinhye. Setelah mendengar lagu yang menurutnya sangat berisik itu, terputarnya
instrument ini benar-benar membuat jantung Shinhye kembali berpacu normal. Dengan
refleks dia menghembuskan nafas dan mengurut dadanya bersyukur atas ketiadaan
lagu berisik itu.
“Kau tidak suka
lagunya?” tanya Yonghwa karena melihat reaksi mengurut dada Shinhye.
“Oh sangat suka,”
jawab Shinhye. “Dibandingkan
dengan lagu berisikmu tadi,” teriak Shinhye
dalam hati. “Aku sangat menyukai semua karya
Kenny G.” Shinhye berbohong karena sebetulnya dia tidak terlalu mengetahui koleksi
karya-karya Kenny G.
“Ini bukan lagu.
Ini hanya instrumen. Yang kutanyakan adalah lagu yang kuputar tadi,” kata
Yonghwa mencoba memperbaiki kesalahan Shinhye.
Shinhye menunduk
malu karena kesalahpahaman ini.
“Yang kumaksud
adalah, oetoriya
oetoriya, dara diri dara du. Oetoriya oetoriya, dara diri dara du. ”
Yonghwa kembali mengulang lirik lagu tadi.
“Geumanhae.” Shinhye mencoba menghentikan
nyanyian Yonghwa.
Yonghwa berhenti
bernyanyi.
“Arasseo.” Shinhye menghembuskan nafasnya.
“Sejujurnya aku tidak menyukai lagu seperti itu.” Shinhye berkata jujur. “Lagu
seperti itu hanya akan membuat telingaku tuli. Kalau saja penyanyinya ada di
sini, aku ingin menyarankan sesuatu padanya.”
“Apa itu?”
“Hanya penyanyinya
yang boleh tahu,” jawab Shinhye enteng.
“Bagaimana kalau
penyanyinya ada di sampingmu sekarang? Kau ingin memberitahunya?”
Shinhye mendengus
lucu mendengar perkataan Yonghwa.
“Aku serius. Lagu
itu milik C.N. BLUE. Dan aku vokalisnya.” Tunjuk Yonghwa pada dirinya sendiri. “Gitarisnya
Jungshin dan drummer-nya Minhyuk.
Kalau kau tidak percaya, kau boleh cari di internet sekarang. Meski cuma band
indie, tapi kami juga sedikit terkenal.” Yonghwa terdengar sedang membanggakan bandnya.
Shinhye terlihat
sibuk mem-browsing sesuatu di internet. Dan ternyata benar
seperti yang Yonghwa katakan. Lagu itu adalah milik C.N. BLUE. Dan Yonghwa
adalah vokalisnya. Sekali lagi dia menunduk malu.
Yonghwa tersenyum
melihat tingkah Shinhye yang tersipu malu. “Kau percaya sekarang? Lalu, apa
yang ingin kau katakan pada penyanyinya?” tanya Yonghwa dengan raut wajah
penasaran.
Dengan wajah tertekuk,
Shinhye berbalik ke arah Yonghwa dan berkata, “Aku akan bilang kalau dia tidak
sendiri. Dia pasti ditemani penggemar setianya.” Jelas sekali itu bohong.
Kebenarannya, dia ingin sekali mengatakan agar penyanyi itu segera pensiun dini
dari dunia musik. Karena mereka hanya akan menyebabkan banyak orang, tidak, lebih tepat dirinya tuli karena
lagunya.
Kali ini bukan hanya
sekedar senyum, tapi Yonghwa tertawa memamerkan gingsulnya yang membuat Shinhye
ingin sekali menjawilnya kalau saja bisa.
“Neomu kyeopta,” gumam Shinhye dalam hati.
“Joha. Aku menyukaimu yang seperti ini,” kata
Yonghwa refleks.
Shinhye tersentak
dan berbalik menatap Yonghwa. Dia tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja
dikatakan Yonghwa.
Yonghwa sendiri
kaget dengan kalimatnya sendiri. “Ah.. rumahmu. Kita sudah sampai di depan
rumahmu.” Yonghwa mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia mematikan mesin
mobilnya. Dan turun dari mobilnya.
Shinhye ikut
keluar dari dalam mobil Yonghwa.
“Annyeong! Jaljja.” Yonghwa mengucapkan kalimat perpisahan yang jarang sekali
diucapkannya. Setelah mengucapkan kalimat manis itu, Yonghwa berjalan cepat
masuk ke dalam mobilnya dan segera mungkin meninggalkan Shinhye yang masih
mematung di depan pagar rumahnya.
Shinhye akhirnya masuk
ke dalam rumahnya. Di kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Bayangan tentang sosok Yonghwa yang sedang tersenyum kembali
berkelabat di pikrannya. Tiba-tiba saja jantungnya berpacu cepat mengingat
kembali senyuman Yonghwa tadi. Shinhye pun tersenyum bahagia karena senyuman
itu. Dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya, Shinhye mulai mengingat
kembali lirik lagu yang dinyanyikan Yonghwa tadi.
“Oh baby. Oetoriya oetoriya. Dara diri dara
du. Oetoriya oetoriya. Dara diri dara du.. hmm..hmm..hmm..hmm..hmmm..hmm..”
Shinhye mendengung mencoba meraih-raih note
musiknya,
karena lirik lagunya yang tidak bisa diingatnya lagi.
“C.N. BLUE?”
Shinhye mesem-mesem sendiri. Dia kembali membuka halaman di internet mencoba
mencari kabar yang berhubungan dengan C.N. BLUE.
“Sesibuk apa pun
kami, C.N. BLUE tetap kami utamakan.” Shinhye membaca komentar Yonghwa di
halaman tersebut. Dia tersenyum karena kalimat Yonghwa yang terdengar sangat
bertanggung jawab itu.
JeResto.
“Annyeonghaseyo, manajer!” sapa Yoojin
ketika bertemu manajer
Yoo di teras restaurant.
“Eoh, annyeonghaseyo, Yoojin-ssi!” Manajer Yoo balik menyapanya. “Apa
kau mencari Yonghwa?” tanya manajer Yoo, melihat Yoojin yang akan beranjak
masuk ke dalam JeResto.
“Eoh. Dia di dalam?” tanya Yoojin mencoba memastikan.
“Dia baru saja
pergi. Katanya dia harus mendaftar sidang untuk thesis-nya.”
Yoojin
mengangkat kedua alisnya merasa bahwa akhirnya sahabatnya itu mau ujian thesis
juga.
“Baguslah kalau begitu. Eoh, manajer Yoo, aku ke dalam dulu. Ada yang
ingin kutemui.”
“Haseyo–silahkan,” ujar manajer
Yoo menutup pembicaraan.
Yoojin
meninggalkan manajer Yoo dan
berjalan ke arah pantry.
Dan tak
perlu membuang-buang tenaga
lagi untuk mencari orang yang ingin dia temui, karena orang itu sedang berada di
ruangan yang hendak dimasukinya.
“Syukurlah kau
ada di sini.” Pandangan Yoojin tertuju hanya pada satu
wajah. Wajah siapa
lagi kalau bukan wajah Jiwon yang
sedang
dipandanginya saat ini dengan tatapan penuh amarah. “Eoh,
Kim Ji Won-ssi, pertunjukanmu
kemarin benar-benar
membawa keuntungan bagiku. Aku banyak mendapat tawaran untuk melanjutkan proyekku,” kilahnya seakan-akan dia benar-benar ditawari kerja sama. “Eoh, proyekmu maksudku.” Yoojin
menekankan pada kalimat
terakhir. “Apeureon–lain
kali, aku harap tidak melihatmu
lagi di setiap acaraku.
Apa pun itu,” katanya dengan tatapan menohok.
Yoojin berbalik belakang dan berjalan meninggalkan Jiwon. Tapi kemudian dia
berbalik kembali dan berkata, “Eoh, Jiwon-ssi, gomawoyo.” Senyum
sinisnya seakan mewarnai kepergiannya.
“Ah.. ah.. stres.” Jiwon mengurut-urut kendoknya karena urat di kendoknya yang
mulai menegang.
“Sudah
kubilang kan, berhenti berurusan dengannya. Sekarang malah kau yang
terlihat seperti pecundang.” Shinhye menyerahkan
segelas air agar menenangkan perasaan Jiwon. “Jigeum
but’eo–mulai
sekarang, apa pun itu berhenti berurusan lagi dengannya. Arasseo?” kata Shinhye mencoba menasehati.
***
“Kau sudah
tiba? Kupikir aku harus menjemputmu di bawah,” ujar Jonghyun ketika melihat
Yoojin masuk ke ruangannya.
“Wah, tidak
kusangka kau benar-benar sudah dewasa rupanya.” Yoojin menyentuh jengkal demi
jengkal setiap perabot yang ada di ruangan Jonghyun. “Ternyata bocah SMA itu
sudah bisa memimpin.”
Jonghyun
tertawa sambil berkata, “Apa kau pikir aku masih Jonghyun yang sering berlari
sambil melempar bantal denganmu?”
Yoojin
tertawa simpul. “Kau masih mengingatnya?”
“Kau mau minum apa? Ada teh, kopi atau?” tawar Jonghyun.
“Kurasa teh cukup,”
Jonghyun kemudian memanggil sekretarisnya dan kemudian dua gelas teh hangat dibawa ke ruangan Jonghyun.
“Eoh, kudengar hari ini Yonghwa sedang mendaftar sidang. Bagaimana denganmu?”
“Kau mau minum apa? Ada teh, kopi atau?” tawar Jonghyun.
“Kurasa teh cukup,”
Jonghyun kemudian memanggil sekretarisnya dan kemudian dua gelas teh hangat dibawa ke ruangan Jonghyun.
“Eoh, kudengar hari ini Yonghwa sedang mendaftar sidang. Bagaimana denganmu?”
“Naega?
Aku sudah mendaftarnya kemarin. Yonghwa baru saja mengirimiku pesan, katanya
dia sudah melihat jadwal sidangnya. Dan seminggu lagi jadwal sidang kami. Aku
harap kau mendoakan kesuksesan
kami.”
“Tentu
saja. Aku akan selalu mendoakan dua
sahabat usilku ini.” Yoojin menepuk-nepuk lembut
pundak Jonghyun.
Jonghyun
menangkap pergelangan tangan Yoojin dan berkata, “Apa kau tidak takut akan
terpesona padaku?” tanyanya dengan
tatapan
nakal.
“Ah.. jjinja.” Yoojin menarik
pergelangan tangannya dan memukul pundak Jonghyun lagi. Kali ini pukulannya terlihat
sedikit lebih keras. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah terpesona
padamu.”
“Arasseo.
Kau hanya akan selalu terpesona pada satu orang. Dan kurasa sampai sekarang pun hanya orang itu yang mampu membuat hatimu
berdebar kan?”
“Eoh, Hyunnie-ya, apa kau mengenal karyawan Yonghwa
yang bernama Park Shin Hye
itu?”
Yoojin mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia merasakan suhu tubuhnya
mulai memanas ketika membicarakan orang itu.
Jonghyun
menganggukan kepala mengiyakan. “Ada
apa dengannya?”
“Bagaimana
dia bisa diterima bekerja di JeResto?”
“Aku tidak begitu tahu tentang
hal itu.
Memangnya kenapa?” Jonghyun ikut
meneguk minumannya melihat Yoojin yang juga sedang meneguk minumannya.
“Kulihat akhir-akhir
ini Yonghwa sering pergi
bersamanya. Apa
dia dan Yonghwa sedang menjalin hubungan istimewa?” tanya Yoojin penasaran karena
dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Yonghwa mengantarkan Shinhye pulang
ketika malam peresmian butiknya.
“Jangan
bilang kalau kau
cemburu pada Park Shin Hye.” Jonghyun menatap
Yoojin dengan tatapan jahil.
Yoojin mendengus seakan
menjelaskan bahwa dia tidak selevel dengan gadis karyawan itu.
“Bicara
soal Park Shin Hye,
kudengar kau sedang
berkencan dengan
sahabatnya, Kim Ji Won. Apa itu benar?”
“Ne. Geundae wae?”
“Aniya. Aku hanya tidak menyangka orang
sepertinya bisa mendapatkan orang sepertimu. Kau lebih pantas...”
“Yoojin-ah!”
potong Jonghyun karena sepertinya
mengerti akan ke mana arah pembicaraan Yoojin. “Berhentilah
menilai orang dari
kelasnya. Igeo sirheoyo–aku tidak
suka itu.”
“Aku hanya
tidak mau kau menyesal ke depannya,” ujar Yoojin mencoba membela
diri.
“Makasih
atas perhatianmu. Tapi aku sibuk sekarang. Pulanglah! Nanti aku akan ke
rumahmu, mengunjungimu.” Jonghyun bangun dari sofa putih yang dia duduki
bersama Yoojin dan beranjak menuju meja kerjanya.
“Geurae.” Yoojin bangkit dari sofa yang
sama. Sepertinya dia mengerti kalau saat ini dia telah mengubah mood sahabatnya menjadi buruk. Oleh
karena itu segera mungkin dia mengucapkan kalimat perpisahan pada Jonghyun. “Jibe gayo–aku pulang!”
***
“Arasseo, abeoji. Aku akan
melakukannya.” Yonghwa beranjak keluar dari ruang kerja ayahnya.
“Apa yang
harus aku lakukan kalau aku tidak bisa melihatnya lagi setiap hari?” Yonghwa
terlihat serius memikirkan sesuatu. Kadang-kadang
keningnya berkerut dan
kedua alisnya
terangkat. “Ah..” desisnya. "Apa yang kupikirkan? Kenapa hanya dia yang ada dalam pikiranku? Ya, Park Shin Hye, apa kau mencoba
menggodaku?” kata Yonghwa ketika melihat bayangan Shinhye di pikirannya
sedang berlari sambil menjulurkan lidah padanya.
“Ah..” Yonghwa berteriak mencoba menampis
semua khayalannya.
***
“Laporan
keuangan yang berdasarkan..” Shinhye terlihat sibuk mencoba menhafal mata
kuliahnya. “Oleh sebab itu.. Kkamjjagiya–kau mengagetkanku!”
Shinhye setengah berteriak ketika mengangkat kepala dan melihat Yonghwa sedang duduk di
sebelahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?
“Belikan
aku dasi untuk sidangku minggu depan.
Sekarang juga!”
Yonghwa berkata dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya.
“Michesseo? Apa aku sekretarismu? Kau tidak lihat aku sedang apa, eong?”
“Hanya kau
yang bisa kusuruh. Semuanya sibuk,” jawab Yonghwa enteng.
“Aku lebih
sibuk lagi. Aku ada
ujian sebentar.
Kau pulanglah!”
“Shireo. Aku akan menunggumu sampai kau
selesai ujian.” Yonghwa bersikukuh tidak
mau pulang. Dan memilih tetap duduk di
dalam kelas Shinhye.
Shinhye
hanya menatap Yonghwa dengan tatapan kesal kemudian melanjutkan aktifitas menghafalnya.
“Oleh sebab itu produsen
yang bertanggung jawab...”
“Park Shin
Hye.” Yonghwa memotong kalimat Shinhye.
“Kenapa teman-teman wanitamu menatapku seperti itu? Aku tahu aku benar-benar
tampan. Tapi tatapan
mereka itu terlihat
menakutkan.”
“Itu karena
mereka tidak nyaman dengan kehadiran orang asing sepertimu.”
“Mworago? Orang asing katamu? Kau pikir aku ini orang asing."Shinhye hanya bisa mendelik kesal.
"Kau lihat akan kubuktikan bahwa aku sangat terkenal di sini. Yeorebeun!” Panggil Yonghwa pada teman-teman kelas Shinhye. “Kalian tahu siapa aku?”
"Kau lihat akan kubuktikan bahwa aku sangat terkenal di sini. Yeorebeun!” Panggil Yonghwa pada teman-teman kelas Shinhye. “Kalian tahu siapa aku?”
“Ne. Kau Jung Yong Hwa.” Jawab suara yang
dominannya berasal dari
suara wanita.
Yonghwa
menatap Shinhye sambil menunjuk
dirinya dengan
wajah sumringah. Dia bangga karena dirinya terkenal. “Kau sudah buktikan sendiri kan
kalau aku ini terkenal.”
Shinhye
tidak memedulikan perkataan
Yonghwa dan kembali membaca
buku catatannya.
Yonghwa
menempatkan sikunya di atas meja, menopang dagunya dan menatap Park Shin Hye
lekat. “Sejak kapan aku mulai tertarik padamu?”
Shinhye
tetap menghafal tanpa suara.
“Kau tidak
secantik Song Hye
Kyo. Tidak seseksi Ha
Ji Won. Tidak sekaya Kim
Tae Hee. Tapi kenapa
aku tertarik padamu?” Tatapannya tetap mengarah
pada Shinhye.
Shinhye
menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya, mencoba berkonsentrasi kembali pada
catatannya.
“Ah.. michesseo.” Yonghwa berkata pada
dirinya sendiri. Dia bingung dengan dirinya yang akhir-akhir ini terlihat
sangat aneh. Dia bahkan berani mengatakan
isi hatinya secara terang-terangan.
Dirinya yang sekarang benar-benar tidak seperti dirinya yang dahulu.
“Semuanya
kembali ke tempat duduk masing-masing,” kata seorang dosen yang baru masuk ke
kelas Shinhye. Sepertinya dia yang akan mengadakan ujian
hari ini, karena ada
lembaran-lembaran kertas ujian yang digenggamnya. Dia kemudian mulai mengabsen
dan membagi kertas-kertas ujiannya.
“Kau siapa?
Mahasiswa di kelasku?” Tunjuknya pada Yonghwa ketika menyadari bahwa baru
pertama kali dia melihat mahasiswa ini.
Yonghwa
malah memutar
kepalanya, melihat ke samping kiri kanannya .
“Kau yang
kumaksud,” tegasnya pada Yonghwa.
“Eoh, annyeonghaseyo
kyosunim!” sapa Yonghwa dengan wajah tanpa
dosa. “Aku juga ingin ikut ujian di kelasmu.”
“Namamu?”
tanya profesor.
“Kau tidak
mengenalku,
profesor?” tunjuk Yonghwa pada dirinya sendiri.
“Siapa kau
sehingga aku harus mengenalmu? Hallyu-star?”
Yonghwa
berbalik menatap teman-teman
kelas Shinhye yang sedang menertawai dirinya. Di sampingnya, Shinhye
sedang tersenyum
geli
sambil berkata tanpa suara
yang dengan jelas Yonghwa dapat membaca gerakan bibirnya, katanya, “Tidak asing?”
“Keluar
dari kelasku. Tulis namamu dan ke
ruanganku sebentar,” kata
profesor Lee Pil
Mo yang terkenal sangat tegas itu.
Yonghwa
bangkit berdiri, mengusap
wajahnya dan beranjak
pergi dari ruang
kelas Shinhye.
To be continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar