Rain of Autumn
Author: Tiny Ndapa Lawa
Main
Casts:
Park Shin Hye (Actress)
Jung Yong Hwa (CN BLUE)
Casts:
Kim Ji Won (Actress)
Lee Jong Hyun (CN BLUE)
Lee Hyun Woo (Actor)
Kim
Yoo Jin (a.k.a UEE After School)
Kim
Hye Joon (OC)
Yoo
Jae Seok (Comedian/Presenter)
Bae
Soo Ji (Miss A)
Kang Min Hyuk (CN
BLUE)
Lee Jung Shin (CN
BLUE)
Lee
Mi Seok as Yonghwa’s mom (Actress)
Jung
Dong Hwan as Yonghwa’s dad (Actor)
Additional Casts:
Jung
Yoo Mi (Actress)
Bae
Soo Bin (Actor)
Jin
Goo (Actor)
Min
Ho (Shinee)
Jin Joon Goo
Ji Suk Jin
(Comedian/Presenter)
Seo Joo Hyun (SNSD)
Shin Dong Hee (Super Junior)
Choi Soo Young (SNSD)
Go Ha Ra (KARA)
Dong Hyun
(Boyfriend)
Song Ok Sook (Actress)
Part 1
Musim gugur adalah masa di mana pohon-pohon
siap mengugurkan daun-daunnya sebelum menghadapi musim dingin. Dan semua
tumbuhan hijau yang hidup berubah warna daunnya menjadi kuning, jingga dan ada
juga merah. Bicara soal daun yang rontok, hal yang sama terjadi pada seorang
gadis yang sedang duduk tersendu di bawah atap halte bus. Musim gugur tahun ini
mewakili perasaannya hari ini. Hatinya rontok tepatnya hancur. Dia telah
kehilangan ibu tercintanya sebulan yang lalu, karena leukimia yang ibunya
derita akhirnya dia ditinggal sendiri. Kini dia hanya hidup sendiri. Bahkan
untuk membiayai hidupnya pun, ia lakukan sendiri.
Flashback
13 tahun yang lalu.
"Eomma,
lihat daun yang berwarna kuning ini," kata seorang gadis kecil dengan
wajah ceria sambil mengambil sehelai daun yang jatuh dari ranting pohon di atas
bahunya. "Eomma, kata orang
kalau daun yang tiba-tiba jatuh di atas bahu kita, itu karna seseorang dari
surga sedang mengirimi surat pada kita. Apa itu appa?"
Wanita yang diajak bicara hanya tersenyum
kecil.
"Apa appa yang mengirim surat pada kita?" tanyanya menyelidiki seakan memaksa
ibunya untuk menjawab.
"Shinhye-ya, kalau appa yang mengirim surat lewat daun itu,
lantas kenapa tidak kau bacakan surat itu untuk eomma?" katanya sambil mempererat genggamannya.
"Eomma-aa,"
renggut Shinhye kesal mendengar jawaban yang tidak diharapkan.
"Shinhye-ya, hari ini apa yang kaupelajari? Coba ceritakan semua pada eomma."
"Hari ini kami belajar mengenal empat
musim di Seoul. Eomma, ternyata saat
musim gugur daun tidak hanya berubah menjadi kuning. Tetapi ada juga yang
berwarna jingga dan merah,"
katanya penuh semangat.
"Jeongmal?"
ucap Ibunya pura-pura penasaran. Meski dia sudah tahu
akan hal itu.
"Ne,"
jawabnya, "Dan seonsangnim juga
bilang saat hujan musim gugur datang itu berarti musim gugur akan segera
digantikan dengan musim dingin."
"Hari ini banyak yang kau pelajari
ya?"
"Eomma,
kata temanku, kakaknya sering
bilang kalau hujan musim gugur itu adalah saat di mana dia akan melepaskan
kesedihannya berlalu bersama hujan musim gugur. Jadi saat musim dingin, dia
akan memulainya dengan bahagia. Apa kita juga seharusnya seperti itu? Apa pun
kesedihan kita tahun ini biar berlalu pergi bersama dengan hujan musim gugur.
Benarkan, eomma?"
Wanita yang ditanya, sekali lagi hanya
membalas dengan senyuman dan anggukan.
Flashback
End
"Eomma,
apa kau bahagia di sana?"
Gadis kecil itu kini telah bermetamorfosis
menjadi seorang gadis dewasa yang cantik.
"Eomma,
bisakah kau minta agar hujan musim gugur turun saat ini? Aku mau agar kesedihan
ini berlalu bersama hujan musim
gugur itu," katanya dalam hati.
Ting..
Bunyi bel pintu bus yang terbuka
mengagetkannya dari lamunan panjang tentang hari-hari lalu saat bersama ibunya.
Shinhye bangkit dari duduknya dan berlari masuk dalam bus. Karena terburu-buru,
dia menabrak seorang pria yang hendak naik juga ke dalam bus.
"Eoh,
jeosonghamnida," ucapnya sambil membungkukkan badan tepat persis di
depan pria tersebut. Dia dan pria tersebut bersama-sama naik ke dalam bus.
"Gwaenchanayo?" tanya pria tersebut.
Shinhye yang tidak mendengar jelas malah memasang tampang bingung.
"Maksudku, apa kau baik-baik saja?" ulang pria itu.
Shinhye hanya mengangguk-angguk.
Shinhye yang tidak mendengar jelas malah memasang tampang bingung.
"Maksudku, apa kau baik-baik saja?" ulang pria itu.
Shinhye hanya mengangguk-angguk.
"Sepertinya aku pernah melihatmu. Wajahmu tidak
asing lagi," kata pria itu sambil mengamati wajah Shinhye lebih dalam.
Shinhye yang
merasa terganggu hanya menampilkan senyum kecut.
"Eoh,
Shinhye noona. Apa ini kau? Benar
ini kau. Ya, noona! Oraenmanieyo–lama tidak berjumpa!" sapanya setelah sadar dari
kebodohannya yang tidak bisa mengenal gadis yang sudah 3 tahun ini ia rindukan.
"Ya, rambut cepakmu sudah
berubah," katanya sambil mengacak rambut Shinhye.
Shinhye kaget bukan main, dia mendelik karena orang asing
ini mengenal dirinya waktu SMA dulu.
"Kau pasti sudah lupa siapa aku? Hyunwoo imnida. Lee-Hyun-Woo," katanya dengan menekan pada tiga kata dari namanya. “Aku hoobae-mu waktu di SMA. Anak yang sering kau teriaki karena mengacak rambutmu. Aigoo noona, dari dulu pipimu tidak kempis-kempis. Tidak ada yang berubah dari dirimu. Apa sampai sekarang kau juga belum punya kekasih?" godanya bersemangat sampai menampilkan jajaran giginya yg putih.
"Kau pasti sudah lupa siapa aku? Hyunwoo imnida. Lee-Hyun-Woo," katanya dengan menekan pada tiga kata dari namanya. “Aku hoobae-mu waktu di SMA. Anak yang sering kau teriaki karena mengacak rambutmu. Aigoo noona, dari dulu pipimu tidak kempis-kempis. Tidak ada yang berubah dari dirimu. Apa sampai sekarang kau juga belum punya kekasih?" godanya bersemangat sampai menampilkan jajaran giginya yg putih.
"Apa benar kau Lee Hyun Woo?" tanya Shinhye
belum bisa percaya dengan perkataan pria berpenampilan rambut merah kecoklatan
ini. Sepengetahuannya, Lee Hyun Woo yang dia kenal
berbadan gemuk, bertampang jahil dan
sama sekali tidak
mirip dengani pria di depannya
ini yang terlihat lebih dewasa dan tampan akunya.
Hyunwoo mengangguk.
"Benarkah?” tanya
Shinhye sambil mengamati wajah Hyunwoo lebih dekat. “Eoh, benar ini kau. kau sudah dewasa rupanya.
Badanmu lebih kurusan. Aku bahkan
tidak mengenalmu. Aiisshi, aku
benar-benar tidak percaya, bocah nakal itu sudah berubah menjadi dewasa. Kau
tahu, hampir setahun baru aku bisa melupakan tingkah jailmu yang sering kau
lakukan. Hampir setahun juga aku menjaga-jaga agar tidak ada yang tiba-tiba
datang merebut makan siangku. Bahkan rambutku tidak pernah tergerai selama
setahun karena
takut kau acaki."
Hyunwoo tertawa senang karena ternyata Shinhye masih
mengenalnya. Dan karena Shinhye juga tidak cepat melupakannya. Buktinya
membutuhkan setahun bagi Shinhye untuk melupakan segala hal yang sering dia lakukan pada noona
itu.
"Noona,
kapan kau berpikir untuk mengempiskan pipimu? Aku saja
berhasil mengempiskan badanku."
"Ya,
jangan menggodaku di sini," marah Shinhye karena malu digoda oleh hoobae-nya
di atas transportasi umum.
"Hahaha," tawa Hyunwoo.
"Entah kenapa aku senang melihatmu salah tingkah,
noona."
Shinhye mendelik marah pada Hyunwoo. Sedang Hyunwoo
sendiri malah terlihat menikmati kelakarnya.
Hampir sejam mereka terlibat percakapan yg membuat
Shinhye tidak sadar bahwa dia hampir tiba di daerah tempat tinggalnya.
"Eoh, Hyunwoo.
Aku duluan," kata Shinhye setelah mengucapkan selamat tinggal sebelumnya.
Saat dia sudah turun dari bus ternyata Hyunwoo juga mengekorinya dari belakang. Ketika dia berbalik dan melihat Hyunwoo mengikutinya, dia berhenti dan bertanya maksud Hyunwoo mengikutinya ini.
Saat dia sudah turun dari bus ternyata Hyunwoo juga mengekorinya dari belakang. Ketika dia berbalik dan melihat Hyunwoo mengikutinya, dia berhenti dan bertanya maksud Hyunwoo mengikutinya ini.
Hyunwoo tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan tetap
mengikuti Shinhye berjalan pulang sampai rumahnya.
"Ternyata di sini rumahmu. Tidak jauh juga dari
kampusku. Kapan-kapan aku boleh main-main ke sini ya?" kata Hyunwoo ketika
mereka tiba di depan pagar rumah Shinhye.
"Ya,
sebaiknya kau pulang. Karena tidak baik seorang pria masuk ke rumah wanita yang tinggal sendiri,"
ujar Shinhye.
"Di mana ahjumma?
Aku ingin menegurnya sebelum pulang."
"Pulanglah,
ppalli!" Shinhye menolak Hyunwoo
keluar dari pagar rumahnya. Dia menutup pagar tersebut.
"Noona, noona," teriak Hyunwoo
memanggilnya dari luar.
Seketika itu air mata
Shinhye jatuh membasahi pipinya. Dia tidak suka
ada yang menanyakan tentang keberadaan ibunya. Dia paling benci kalau orang
lain melihatnya rapuh. Dia tidak mau. Beberapa menit Shinhye menangis sambil membekap mulutnya
di depan pagar rumahnya. Dia teringat lagi akan ibunya.
Mengapa Hyunwoo
bertanya tentang ibunya? Tidak tahukah dia, bahwa tiap malam Shinhye menangis
saat mengingat ibunya?
Tapi setelah
mengingat kata-kata terakhir ibunya, ia memutuskan untuk menghapus air matanya. Dia harus kuat.
Ya, dia harus kuat.
"Shinhye-ya, uljimma! Eomma gwaenchanha.
Kau tidak boleh sedih, kalau kau sedih, Eomma juga akan sedih. Apa pun yang terjadi, kau harus bahagia biar eomma juga bahagia. Arasseo?" ucapan ibunya terngiang lagi di
kepalanya.
Shinhye harus terlihat
bahagia agar ibunya yg di atas jangan sedih melihatnya.
***
Di tempat lain Hyunwoo berjalan linglung. Ia baru tahu
dari ahjusshi tetangga Shinhye yang
dia temui tadi, bahwa eomma Shinhye
sudah meninggal dunia sebulan yang lalu. Dan sekarang Shinhye hidup sendiri.
Bahkan kata ahjusshi tetangga itu, Park Shin Hye sering pulang malam karna
lembur bekerja sebagai pelayan di restaurant.
Itu semua dilakukan untuk membiayai hidupnya dan kuliahnya. Entah mengapa hati
Hyunwoo hancur mendengar semua itu. Bagaimanapun, dia harus
mencari cara untuk membantu Shinhye keluar dari masalah ini. Ya, dia harus mampu membuat wanita yang selama ini dia
cari-cari itu bahagia. Dia juga harus membuat Shinhye untuk tidak bekerja lembur
lagi. Itu tekad bulatnya.
Lee Hyun Woo membuka pintu rumahnya, dia mendapati Hyeong-nya sedang duduk di ruang tamu.
"Dari mana saja kau?" tanya pria itu.
"Eoh, hyeong.
Ada urusan kampus yang harus aku selesaikan," kilahnya
Hyeong-nya hanya bergeming.
Melihat wajah hyeong-nya,
Hyunwoo seakan mendapat ide."Hyeong,
bisakkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Hyunwoo hati-hati.
"Apa lagi?" Pria ini paling tidak bisa menolak
permintaan adiknya.
"Katamu kau membutuhkan asisten pribadi. Apa tawaranmu
masih berlaku? Aku punya kandidatnya."
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini? Siapa itu? Chingu?"
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini? Siapa itu? Chingu?"
"Ne,"
jawab Hyunwoo jujur. "Apa kau bisa membantuku?"
"Bawa dulu temanmu, biar aku nilai."
"Hyeong,
dia bukan barang yang bisa kau nilai harganya. Namanya adalah Park Shin Hye.
Dia masih kuliah, jadi kuharap kau mau membiarkannya bekerja part time."
"Siapa dia? Yeojachingu-mu?" goda pria itu yang membuat Hyunwoo salah
tingkah.
"Ani. Dia
setahun lebih tua dariku. Dia seniorku waktu di SMA."
"Tapi kau terlihat sangat khawatir padanya."
"Hyeong,
jangan banyak tanya. Hanya turuti permintaanku," ucap Hyunwoo mencoba
mengalihkan pembicaraan.
Hyeong-nya hanya tertawa melihat adiknya yang salah tingkah.
"Baiklah akan aku pertimbangkan. Kalau dia lulus
ujian, maka dia boleh jadi asisten pribadiku."
"Kapan aku boleh panggil dia ke sini?"
"Kapan aku boleh panggil dia ke sini?"
"Kapan pun boleh. Bilang padanya kalau dia lulus
ujian maka dia tidak usah khawatir soal jadwal kuliahnya yang mungkin akan
terganggu. Karena aku akan memanggilnya hanya saat membutuhkannya
saja. Selain itu dia bisa bebas
melakukan apa pun." Pria itu menekankan pada kalimat 'kalau dia lulus'.
Dia hanya tidak ingin terang-teragan terlihat subjektif pada adiknya.
"Gomawo,
hyeong!" ucap Hyunwoo bahagia. Dia tulus berterimakasih karena hyeong-nya yang sangat selektif dalam memilih seseorang untuk dipekerjakan ini dengan mudahnya
menerima tawarannya untuk memperkerjakan temannya dengan segala keringanan yang
telah ditentukan. Urusan mencari pekerjaan sudah beres. Sisanya adalah
bagaimana membuat Shinhye mau menerima pekerjaan ini. Alasan apa yang harus dia
buat untuk membuat Shinhye percaya bahwa tidak ada campur tangannya dalam hal
ini.
***
1 week later
At JeResto
"Ya, kau pulanglah! Aku sedang bekerja.
Jangan menggangguku!" omel Shinhye karena hampir seharian Hyunwoo terus
mengganggunya yang sedang bekerja melayani para tamu di restaurant tempatnya bekerja.
"Aniyo. Aku akan tetap di sini sampai noona mau mendengarkanku." Hyunwoo
bersikeras. Dia mengekori Shinhye ke mana pun Shinhye pergi.
"Shinhye-ssi, kau dipanggil manager," panggil Minho salah satu teman pelayannya.
Shinhye berjalan
meninggalkan Hyunwoo pergi ke ruangan manager-nya.
Ketika dia membuka
pintu, dia masih sempat menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Hyunwoo
tidak
sedang mengekorinya.
"Permisi, manager. Apa kau memanggilku?"
"Silahkan
masuk!" perintah manager-nya.
Shinhye masuk dan
duduk di depan pria berkepala empat itu.
"Apa kau tahu
aturan dalam restaurant ini?"
tanya manager Yoo retoris.
Shinhye tahu ini
pasti ada hubungannya dengan Hyunwoo.
"Jangan
membawa urusan pribadi dengan pekerjaan. Siapa dia? Namjachingu-mu? Aku tidak bermaksud kasar, tapi sebaiknya kau suruh
dia pulang dulu."
Shinhye
mengangguk dan segera keluar dari ruangan tersebut. Setelah keluar, dia
langsung menuju ke arah Hyunwoo.
"Ya, Hyunwoo-ssi," teriak Shinhye saat berhadapan dengan Hyunwoo.
Hyunwoo melotot
kaget melihat sikap Shinhye yang berubah kasar
tiba-tiba.
"Apa yang
ingin kaukatakan, cepat katakan dan pulanglah." Shinhye menarik tangan
Hyunwoo keluar lewat pintu samping. Sejurus kemudian pipi Hyunwoo memerah. Jantungnya
berdetak tidak karuan. Dia salah tingkah, karena tangannya digenggam Shinhye.
"Apa yang ingin kaukatakan?" Shinhye mengulang pertanyaannya sekali lagi.
"Apa yang ingin kaukatakan?" Shinhye mengulang pertanyaannya sekali lagi.
"Eoh, noona," kata Hyunwoo yang baru
sadar dari kesalahtingkahannya.
"Ppalli!"
"Igeo." Hyunwoo terlihat gugup. "Apa kau bisa berhenti dari pekerjaan ini?" tanyanya hati-hati.
"Mwo? Mworagoya?" teriak Shinhye membelalakkan matanya.
"Igeo." Hyunwoo terlihat gugup. "Apa kau bisa berhenti dari pekerjaan ini?" tanyanya hati-hati.
"Mwo? Mworagoya?" teriak Shinhye membelalakkan matanya.
"Aku punya
pekerjaan yang lebih baik untukmu." Hyunwoo menggenggam tangan Shinhye.
"Sejauh
ini, pekerjaan inilah yang paling baik untukku." Shinhye melepaskan
tangannya dari genggaman Hyunwoo.
"Noona, jebal. Kau harus menerima
pekerjaan ini. Aku tak mau melihatmu lelah. Aku jamin bahwa kau tidak perlu
lembur seperti ini. Atau membolos kuliah karena alasan pekerjaan,"
imbuhnya.
Shinhye merasa
terharu tapi dia tidak mau langsung menerima sebuah pekerjaan sebelum
mengetahui pekerjaan seperti apa itu. "Geokjeongma–jangan khawatir. Naneun
gwaenchanha–aku baik-baik saja," ujar Shinhye pasti.
"Andwaeyo,
noona. Kau tidak baik-baik saja. Lihat saja setiap hari kau lembur seperti
ini. Bahkan makan siang saja jarang kau lakukan. Kau pun mulai sering bolos
kuliah. Aku tahu semuanya." Kali ini kebalikan Hyunwoo yang marah-marah.
Lebih tepatnya karena khawatir. "Jadi, jebal
noona, terimalah pekerjaan ini. Kau hanya perlu datang jikalau bos-mu
memanggil. Selain itu kau boleh bebas. Aku sudah bilang padanya, bahwa kau
masih kuliah. Dan dia sepertinya setuju untuk menyesuaikan jadwalnya dengan
jadwal kuliahmu," jelas Hyunwoo panjang lebar.
"Pekerjaan macam apa itu?
Terlihat mudah sekali untuk dilakukan."
"Asisten pribadi. Tidak sulit kan?"
"Mwo? Asisten pribadi? Shireo. Aku tidak mau melakukan pekerjaan itu."
"Jebal, noona.
Tolong kali ini saja pertimbangkan baik-baik usulanku. Kumohon lakukan saja, kalau kau cocok kau boleh
teruskan. Tapi kalau tidak, kau boleh berhenti."
"Aigoo.
Kau benar-benar pemaksa."
"Noona, jebal.
Pikirkanlah baik-baik, demi kehidupan dan pendidikanmu," kata Hyunwoo
memelas.
"Baiklah. Akan kupikirkan."
Hyunwoo terlihat senang mendengar jawaban Shinhye.
"Ingat, aku belum tentu menerima. Masih
kupikirkan. Jadi, jangan terlalu berharap."
"Arasseo,
noona," teriak Hyunwoo dengan gerakan memberi hormat.
"Ya,
kau ini benar-benar. Sekarang
pulanglah, jangan menggangguku lagi."
"Ne,
noona. Aku pergi dulu." Hyunwoo
pamit pulang dengan senyuman mengembang di bibirnya. Hari ini dia benar-benar
bahagia, karena Shinhye mau menimbang sarannya.
At Kyunghee University
Pagi ini Shinhye berjalan di lingkungan kampusnya
sempoyongan. Matanya sesekali menutup, karena rasa kantuk yang masih
menyerangnya.
"Aiisshi,
bagaimana aku bisa ikut ujian kalau mata ini tidak bisa diajak kompromi."
Shinhye mengerjap-ngerjap menghilangkan rasa kantuknya.
"Shinhye-ya!"
teriak seorang yeoja di belakangnya.
Shinhye berbalik dan mendapati sahabatnya sedang berlari menuju ke arahnya.
"Eoh,
Jiwon-ah. Annyeong!"
"Annyeong!"
sapa balik Jiwon dengan nafas memburu. "Aigoo, aku pikir sudah telat." Jiwon mencoba mengatur normal
nafasnya sebelum berbicara dengan Shinhye. "Ya, Park Shin Hye! Ke mana saja kau dua hari ini? Choi Kyosunim mencarimu ke mana-mana. Katanya
kau sudah tiga kali bolos mata kuliahnya. Bagaimana bisa, hanya selama seminggu
kau kutinggal maka kau mulai membandel? Membolos sebanyak tiga kali? Aiishi, kali ini aku tidak akan pergi
lama-lama lagi. Karena bisa-bisa saat aku kembali, kau sudah di-drop-out."
Shinhye tertawa melihat tingkah Jiwon yang seperti
terbakar api. "Aku lembur lagi. Lagian, kau sendiri kenapa pergi ke Mokpo
tanpa minta persetujuanku? Kau pikir aku mampu melakukan semua pekerjaan di restaurant sendirian?"
"Selalu saja kau cari cara untuk membela
diri. Arasseo, Park Shin Hye. Mi-an-hae! Lain kali aku tidak akan
membiarkanmu lembur lagi. Tapi ingat, kau tidak boleh membolos lagi."
"Ne,
seongsangnim," jawab Shinhye membungkuk. "Tapi, Jiwon-ah, apa yang kau lakukan di Mokpo? Apa
kau pergi menangkap ikan?" goda Shinhye.
"Aiishi,
jjinja. Dasar anak nakal," kata Jiwon sambil mengacak-acak rambut
Shinhye.
"Apa kau sudah berbaikan dengan Seungri sunbae?" tanya Shinhye menanyakan
kabar sunbae mereka sewaktu di SMA. Yang juga adalah kekasihnya Jiwon, dan
sekarang sudah kembali ke kampung halamannya Mokpo.
"Ani,"
jawab Jiwon enteng.
"Lantas untuk apa kau capek-capek ke
Mokpo?"
"Aku dan Seungri memutuskan untuk berpisah
selamanya. Susah untuk menjalani hubungan jarak jauh. Dan sepertinya berpisah
lebih baik bagi kami."
Sedang asyik bercengkerama. Mereka tidak sadar kalau ada mobil yang
berhenti tepat di belakang mereka.
Pip..pip..
Bunyi klakson yang terdengar tajam dan suara teriakan seorang pria dari dalam mobil tersebut mengagetkan Shinhye dan Jiwon bahwa mereka sudah menghalangi lajunya mobil tersebut.
"Ya, apa kalian tuli?" teriak pria yang mengemudi.
Bunyi klakson yang terdengar tajam dan suara teriakan seorang pria dari dalam mobil tersebut mengagetkan Shinhye dan Jiwon bahwa mereka sudah menghalangi lajunya mobil tersebut.
"Ya, apa kalian tuli?" teriak pria yang mengemudi.
Keduanya segera berbalik dan membungkuk minta
maaf. Mobil itu kembali melaju, tapi dengan lambat dan saat melewati mereka
berdua, pria yg duduk di sebelah kemudi dengan mata tetap tertuju ke depan
berkata, "Gwi eobta."
Dengan jelas, Shinhye mendengar pria itu menyebut
mereka tidak punya telinga.

