"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn
Tampilkan postingan dengan label Rain of Autumn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rain of Autumn. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Desember 2016

Rain of Autumn Part 22

Part 22


  
Hyejoon yang akan pindah ke Masan, bersama kekasihnya mereka terlihat sibuk mengangkut barang dari rumah kontrakan Hyejoon ke atas mobil pengangkut barang. Beberapa karyawan dari JeResto datang membantu, hanya Jiwon memilih pulang lebih awal ketika melihat Shinhye yang baru datang dan hendak membantu juga. Tanpa aba-aba, Shinhye langsung merapikan barang-barang muatan di atas mobil pengangkut barang. Biar ada ruang tersisa untuk barang-barang berikutnya.
“Apa kau dan dia masih akan terus seperti ini?” tanya Hyejoon berdiri sambil menatap ke arah Shinhye.
Eonnie, sudah sebulan kalian seperti ini. Kurasa sudah waktunya kalian saling memaafkan,” ucap Sooji sambil lalu. Dia kemudian kembali masuk ke rumah Hyejoon dan mengangkut beberapa kardus kecil yang masih tertinggal di dalam rumah Hyejoon.
“Akan ada saatnya, eonnie. Hanya belum waktunya saja,” jawab Shinhye terhadap pertanyaan Hyejoon sebelumnya. Shinhye mencoba tersenyum sebisa mungkin agar tidak terlihat wajah rapunya.
“Kau dan dia benar-benar seperti anak remaja yang sedang bertengkar. Berbaikanlah! Seperti apa yang dikatakan Sooji,” timpal manajer Yoo. “Melihat kalian seperti ini, aku merasa seperti sedang menonton drama remaja di rumahku.”
Shinhye tertawa simpul. “Apa masih banyak barang di dalam, eonnie? Biar aku bantu mengambilnya.” Shinhye berdalih meski sebenarnya dia hanya ingin menghindar dari ceramah manajer Yoo dan Hyejoon saja.
Setelah semua barang diangkut ke atas mobil. Hyejoon dan kekasihnya pamit pada semua orang yang turut hadir membantu mereka. Setelah berpelukan dengan para karyawan JeResto, Hyejoon dan kekasihnya naik ke mobil dan perlahan mobil itu menjauh dari pandangan Shinhye serta beberapa karyawan JeResto yang masih tinggal di situ.
“Ah….” Manajer Yoo mendesah. “Perlahan-lahan semua karyawanku mulai meninggalkanku. Apa setelah Shinhye dan Hyejoon, kau juga ingin mengundurkan diri Minho?”
“Tidak, manajer. Hanya belum saatnya saja,” jawab Minho sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Hanya belum saatnya? Ya, neo!” Manajer Yoo mengarahkan telunjuknya ke arah Minho, salah satu karyawan di JeResto. “Jangan pernah berpikir untuk mengundurkan diri sebelum aku yang melakukannya dahulu.” Manajer Yoo mengepalkan tangannya dan mengetuk pelan kepala Minho.
“Eyy, manajer,” keluh Minho karena sakit yang dia rasakan.
Shinhye dan beberapa karyawan lainnya tertawa melihat aksi Minho yang meringis kesakitan.
Setelah Minho dan beberapa karyawan beranjak menjauh dari manajer Yoo, pelan-pelan ia beranjak mendekati Shinhye sambil berkata, “aku yakin kau pasti bisa melaluinya, Shinhye-ya. Kapan pun kau butuh bantuanku, aku siap membantumu,” kata Manajer Yoo menepuk pundak Shinhye, seakan dia ikut serta merasakan apa yang sedang dirasakan Shinhye saat ini. “Yeodeul-ah, kajja!”


***
Shinhye tersadar dari lamunannya. Kejadian beberapa bulan lalu, kembali berkelabat di benaknya. JANJI. Janjinya dengan ayah Yonghwa sampai saat ini belum juga bisa ditepatinya. Memang berjanji itu mudah. Tapi untuk menepatinya sepertinya terlalu sulit. Shinhye mendesah memikirkan hal ini. Bagaimanapun juga, dia harus siap membuat Yonghwa menjauhinya, dengan cara apa pun.
Aku harus bisa melepas dan merelakannya. Memang tak seharusnya aku seperti ini, menjauhinya tanpa memberitahunya alasan yang sebenarnya. Tapi hanya ini jalan, agar dia mau melepaskanku. Cinta tak harus memiliki kan?”
Ya! Kau melamun lagi?” Tiba-tiba Yonghwa sudah ada di samping Shinhye sambil membawakan segelas kopi  dan menyerahkannya pada Shinhye.
Shinhye tersenyum sambil menerima gelas kopi yang disodorkan Yonghwa. “Aku hanya sedang memikirkanmu,” ujar Shinhye sedikit menggodanya.
Yonghwa tersenyum manis mendengar kalimat godaan Shinhye. Pria ini terus tersenyum tanpa henti. Ini pertama kalinya bagi dia mendengar gadis itu mengatakan bahwa dia sedang memikirkannya.
“Apa yang kau pikirkan tentang aku? Katakan padaku!” kata Yonghwa sambil melipat kedua tangannya di dada.
Ani.” Shinhye tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mau menceritakan apa yang dipikirkannya tadi.
“Biar kutebak.”
Shinhye mengangguk-angguk pelan. Menyetujui akan mendengar tebakan Yonghwa.
“Apa kau memikirkan kapan kita berdua akan menikah? Atau berapa jumlah anak yang akan kita miliki?”
Ya!” teriak Shinhye sedikit salah tingkah. Pipi gadis itu kemudian bersemu merah. Dia malu. Tapi secepatnya dia menutupi tingkah malunya itu dan berkata, “Kenapa juga aku harus memikirkan hal itu, Jung Yong Hwa-ssi?”
“Apa sulit bagimu untuk memanggilku Yonghwa-ya?” kata Yonghwa sambil menggigit bibir bawahnya.
Sirheo–tidak mau. Siltagoyo–kubilang tidak mau.” Shinhye menekankan pada kalimat terakhirnya.
Wae?”
“Karena aku takut kau akan berkata ‘
jangan pernah memanggilku Yonghwa-ya, karena kau tidak pantas melakukan itu.’”
Yonghwa mendesah. “Aku tak akan mungkin mengeluarkan kalimat bodoh seperti itu?”
Jeongmal?” Shinhye membelalak lucu. “Tapi kau melakukannya pada gadis yang kau temui di JeResto waktu itu. Apa kau lupa kalau kau pernah mengelurkan kalimat bodoh seperti itu, Jung Yong Hwa-ssi?”
Ya, apa kau benar-benar mengutip kalimatku?” tanya Yonghwa yang baru menyadari bahwa Shinhye telah mengutip kalimatnya. Kalimatnya pada seorang gadis bernama Seo Joo Hyun, ketika gadis itu mengajaknya bertemu di JeResto beberapa bulan yang lalu.
“Hmm…” Shinhye mengerling polos ke arah Yonghwa.
Yonghwa tak tahan untuk tidak mencubiti pipi Shinhye yang sekarang sedang bersemu merah itu. “Jangan pernah berpikir untuk lari dariku, Park Shin Hye,” katanya sambil menyentuh cuping hidung Shinhye.
Ucapan Yonghwa saat itu benar-benar membuat jantung Shinhye seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Kalimat Yonghwa seakan menyatakan bahwa dia tahu kalau suatu saat nanti, Shinhye pasti akan melakukan hal itu.


***
Sinar matahari yang menembus tirai jendela kamarnya, memaksanya untuk segera keluar dari dunia mimpinya. Shinhye membuka matanya secara perlahan, tapi dengan refleks ia menutup kedua matanya dengan tangan karena silau matahari. Gadis itu kemudian berguling di atas ranjangnya beberapa kali, menutup matanya, membukanya lagi, berguling lagi, dan akhirnya memilih untuk merangkak, lalu berakhir dengan duduk bersila di atas ranjangnya. Dengan keadaan setengah sadar, dia menggaruk-garuk pelan wajahnya dan kemudian melirik ke kiri dan ke kanan. Dia menguap lebar dan sejurus kemudian mengutuki dirinya dengan beberapa kata kutukan. “Apa itu sulit bagimu, gadis bodoh?” Dia kemudian meninju-ninju bantal peluknya. “Apa sulit bagimu mengatakan kata putus? Aisshi.” Kali ini dia menimpuk wajahnya dengan bantal peluknya. Beberapa menit berada di atas ranjang sambil merenung, Shinhye akhirnya memilih bangun dan menghadapi kenyataan hidupnya. Ia melompat dari ranjangnya, beranjak ke arah kamar mandi dan mempersiapkan dirinya ke kampus.
Kini Shinhye telah berada di dalam bis yang akan membawanya ke kampus. Gadis itu meraba-raba tasnya, mencari ponselnya yang terus berdering. Setelah tangannya menyentuh ponselnya, Shinhye malah mengernyit ketika membaca nama kontak yang tertera di layar ponselnya. “Kim Yoo Jin?” Dia bertanya pada dirinya sendiri. Sejurus kemudian, ia mengusap layar ponselnya, menempelkannya pada telinganya dan berkata, “Yeoboseyo.” Beberapa detik dia terdiam mendengar perkataan lawan bicaranya. “Ne. Arasseo.” Begitulah kata-kata terakhirnya, yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


***
“Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin bertemu denganku?” tanya Shinhye begitu melesakkan pantatnya di atas sebuah kursi restaurant mewah di daerah Gangnam. “Hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
“Aku sudah memesan makan malam kita.” Yoojin tak menghiraukan pertanyaan-pertanyaan Shinhye. “Kau tidak berkerja lagi di JeResto kan, karena aku akan merasa sangat bersalah pada manajer Yoo karena harus menahanmu cukup lama di sini.”
Ne. Aku tidak bekerja lagi di JeResto. Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Kim Yoo Jin-ssi?”
“Aku rasa kita bisa membicarakannya setelah selesai makan. Aku lapar.” Yoojin mengelus-elus perutnya.
Makan malam yang telah dipesan Yoojin akhirnya datang. Mereka menikmati jamuan itu dalam suasana diam. Tak ada satu pun dari mereka yang ingin bicara sepatah kata pun. Setelah menghabiskan makan malam mereka, Shinhye kemudian mulai membuka pembicaraan lagi.
“Apa kita boleh bicara sekarang?”
Yoojin mengangguk sambil meletakkan peralatan makannya di atas meja. Dia kemudian mulai membicarakan alasan dirinya memanggil Shinhye ke tempat itu. “Apa hubunganmu dengan Yonghwa berjalan lancar?” Sebuah awal percakapan yang buruk.
Shinhye tersenyum sinis. Sepertinya dia bisa merasakan ada aura tidak menyenangkan dari awal percakapan ini. “Aku rasa baik-baik saja. Waeyo?”
“Tidak. Aku hanya bertanya karena penasaran,” jawab Yoojin datar. Untuk beberapa saat Yoojin meninggalkan jeda pada percakapannya dengan Shinhye. Gadis itu kemudian meletakkan sikunya di atas meja dan menopang dagunya dengan kedua tangannya. Dia mulai menatap Shinhye bergantian dari kepala sampai ke batas perut Shinhye. Setelah puas menatap gadis di depannya ini, Yoojin akhirnya kembali membuka percakapan. “Aku benar-benar tidak menyangka kalau Yonghwa akan jatuh pada tangan gadis sepertimu?” Kali ini bibir sinis Yoojin seakan mengundang Shinhye untuk memukulnya dengan satu pukulan telak.
“Kau mencintainya?” tanya Yoojin.
“Apa itu pertanyaan yang wajar untuk dijawab, Kim Yoo Jin-ssi? Melihat hubungan kami yang baik-baik saja sampai detik ini, aku rasa kau sendiri bisa menjawab pertanyaanmu barusan.” Kali ini Shinhye yang menyunggingkan senyuman sinisnya.
“Karena kau mencintainya, apa kau rasa kau sudah mengenal dia dengan pasti, Park Shin Hye-ssi?”
“Iya. Aku rasa aku sudah mengenalnya dengan pasti.”
Yoojin mendesah. “Kau benar-benar polos, Park Shin Hye-ssi. Kau mengatakan bahwa kau mengenalnya dengan pasti, tapi kurasa kau tidak begitu mengenal dia dengan pasti nona Park.”
“Apa maksudmu mengatakan hal-hal ini? Tolong jangan membuang waktuku.” Shinhye mulai muak dengan basa-basi ini.
“Apa kau benar-benar naif atau terlalu bodoh, sampai kau tidak menyadari bahwa selama ini kau telah dibohongi oleh pria yang kau cintai itu?”
“Apa maksudmu?” Shinhye terpancing amarahnya mendengar kata-kata Yoojin yang kasar.
Yoojin tertawa melihat wajah Shinhye yang memerah karena terpancing amarah. “Apa kau tahu bahwa kekasih yang kau kenal dengan pasti itu telah menipumu selama ini?”
Arayo,” tegas Shinhye. “Aku tahu kalau dia telah menipuku selama ini.”
“Sebanyak apa kau mengetahuinya?” Yoojin terdengar menantang.
“Sebanyak yang kau ketahui, Kim Yoo Jin-ssi.”
Yoojin menatap Shinhye dengan mata membelalak. Kali ini wajahnya yang bersemu merah karena termakan amarahnnya sendiri.
“Apa kau tahu bahwa Yonghwa dan Jonghyun itu adalah…,”
“Sepupu.” Shinhye menjawab sebelum Yoojin sempat menyelesaikan kalimatnya. “Mereka berdua adalah saudara sepupu. Aku tahu. Aku tahu semuanya, Kim Yoo Jin-ssi. Aku bahkan tahu kalau mereka bertiga, Yonghwa-ssi, Jonghyun-ssi, Hyunwoo-ssi, telah menipuku selama ini.”
“Bagaimana kau mengetahuinya?” Yoojin terlihat kaget sampai-sampai dia menggeser makanan penutup yang ada di atas meja ke pinggiran sudut meja dengan tak sengaja. Dia berpikir bahwa hanya dia satu-satunya orang selain Yonghwa, Jonghyun dan Hyunwoo, yang mengetahui kebenaran ini. Tapi ternyata dugaannya salah besar. Shinhye juga telah mengetahuinya.
“Apa kau benar-benar naif atau terlalu bodoh sampai memanggilku ke sini hanya untuk mengatakan sesuatu hal yang telah kuketahui sebelumnya?” Shinhye mengutip kalimat Yoojin sebelumnya.
“Tapi, tapi kemarin, Yonghwa, Jonghyun dan Hyunwoo membicarakan hal ini secara rahasia. Mereka bahkan yakin kau belum mengetahuinya.”
“Seharusnya kau tidak boleh hanya mengintip pembicaraan mereka bertiga saja. Kau perlu melakukannya padaku dan Ibu Yonghwa juga. Jadi kau tidak perlu terlihat memalukan seperti saat ini, Kim Yoo Jin-ssi.”
Yoojin tidak menyanggah. Wajahnya kini sepenuhnya telah berubah kemerahan. Sepertinya dia benar-benar malu saat ini.
Shinhye tersenyum melihat wajah Yoojin yang telah berubah drastis saat ini.
“Kau mengetahuinya dari Ibu Yonghwa?” kata Yoojin terbata-bata. “Sejak kapan kau bertemu dengannya?”
Shinhye mengangguk. “Aku mengetahuinya dari Ibu Yonghwa. Sejak kapan? Sepertinya ‘sejak kapan itu’ silahkan bertanya langsung pada Ibu Yonghwa saja. Cerita beliau akan lebih menarik untuk didengarkan.” Shinhye bangkit dari duduknya dengan wajah bangga akan sikapnya siang ini.
Chamkanman! Kenapa kau tidak pernah mengatakan semuanya pada Yonghwa?” Yoojin berbicara tanpa menoleh sedikit pun ke arah Shinhye.
“Aku hanya menunggu Yonghwa sendiri yang akan melakukannya.” Shinhye berjalan selangkah hendak meninggalkan Yoojin, tapi kemudian dia berbalik dan berkata, “Ah…, lain kali kalau ingin bertemu lagi denganku, biarlah aku yang menentukan tempatnya. Akan kupastikan kau akan kutraktir juga saat itu. Hanya saja tidak di tempat semewah ini. Keureom.” Shinhye berjalan meninggalkan Yoojin yang terlihat masih syok dengan kalimat-kalimat Shinhye.



***
Untuk pertama kalinya sejak kepulangannya dari Amerika, Hyunwoo akhirnya memutuskan untuk mengunjungi JeResto. Sudah hampir tiga bulan ketika Hyunwoo memutuskan untuk tidak mengunjungi Shinhye. Entah mengapa, tapi bocah yang selalu dianggap Shinhye seorang pengganggu itu memutuskan untuk tidak mengunjungi Shinhye beberapa bulan kemarin karena alasan ‘dia tidak ingin mengganggu’. Sungguh sebuah alasan yang tidak masuk akal didengar, berhubung dirinya adalah seseorang yang telah dicap sebagai pengganggu malah memilih menggunakan alasan itu untuk tidak mengunjungi Shinhye. Tapi dia akhirnya memutuskan menggunakan alasan itu karena sebenarnya dia hanya ingin melupakan Shinhye—benar-benar ingin melupakan noona itu. Dia harus melupakan Shinhye, karena sepertinya dia tidak lagi bisa menggunakan pundaknya sebagai sandaran hidup Shinhye. Yonghwa, hyeongnya telah mengambil alih tugas itu. Setelah hampir tiga bulan lebih, usaha melupakan Shinhye dirasakannya lumayan berhasil, dia akhirnya berani mengunjungi noona itu. Hanya untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa noona yang pernah mengisi ruang hatinya—bahkan belum sepenuhnya pergi dari ruang hatinya itu dalam kondisi yang baik-baik saja.
Hyunwoo melangkahkan sepasang sneakers-nya pelan, menapakai setiap anak tangga restaurant tempat Shinhye bekerja. Dengan wajah yang diatur setenang mungkin, Hyunwoo membuka pintu restaurant. Yang dilihatnya pertama kali ketika ia masuk ke dalam restaurant itu adalah seorang gadis muda yang dikenalnya cukup baik lewat cerita-cerita hyeongnya, ketika ia masih di Amerika. Kim Ji Won nama gadis itu. Gadis itu sekarang sedang berdiri di depan meja kasir.
Eosseo osseyoselamat datang, sapa Jiwon pada Hyunwoo dengan senyuman hangat.
Hyunwoo ikut tersenyum hangat. “Annyeonghaseyo,—noona,” sapanya, yang sebelumnya sempat mempertimbangkan panggilan apa yang akan dia gunakan untuk memanggil gadis muda kekasih hyeongnya ini.
“Lama tidak berjumpa, pelanggan. Silahkan masuk,” kata Jiwon bersikap profesional.
“Terima kasih karena tidak menceritakan semuanya pada Shinhye noona,” kata Hyunwoo tersenyum sambil berjalan meninggalkan Jiwon.
Jiwon tidak menjawab tapi hanya tersenyum sebagai respon positif terhadap perkataan Hyunwoo. Jiwon memang telah mengetahui kenyataan bahwa Lee Jong Hyun dan Lee Hyun Woo adalah saudara sedarah. Dia hanya tidak memberitahukannya pada Shinhye, karena Yonghwa sendiri yang memintanya untuk merahasiakannya sampai nanti Yonghwa siap untuk mengatakannya sendiri.
Hyunwoo kemudian berjalan menuju ruangan manajer Yoo, ruangan yang selalu dikunjunginya kalau dia hanya ingin mengunjungi Shinhye dan tidak berniat untuk makan di restaurant itu.
Eoh, Hyunwoo-ya, lama tak berjumpa,” sapa manajer Yoo begitu melihat Hyunwoo tak begitu jauh berada di depannya.
“Lama tak berjumpa, manajer.” Hyunwoo menyapa sambil membungkuk.
“Aku penasaran mengapa bocah Amerika ini datang mengunjungiku? Ayo masuk,” ajak manajer Yoo pada Hyunwoo sambil membuka pintu ruangannya. “Silahkan duduk,” tawarnya.
Mereka berdua sama-sama melesakkan pantat di atas sofa ruang kerja manajer Yoo.
“Wah, sudah lama kau tidak ke sini. Bagaimana ceritamu ketika berada di Amerika kemarin? Ah…, kudengar kau kembali ke Seoul, Desember kemarin. Tapi kenapa sekarang kau baru mengunjungiku?”
Hyunwoo tertawa simpul. “Seperti biasanya manajer. Kalau kau pergi ke sebuah Negara besar hanya untuk menjaga dan merawat ayahmu, kau pastinya akan terus memeriksa kondisinya hari demi hari. Kau sendiri ingin memastikan apakah ayahmu sudah normal seperti biasanya atau belum. Paling tidak kau harus berjaga-jaga agar tidak secara tiba-tiba kau harus mengantarkan ayahmu lagi ke tempat yang sama untuk berobat. Maafkan aku karena baru mengunjungimu hari ini,” kata Hyunwoo sambil membungkukkan badannya ke arah manajer Yoo. “Dan terima kasih manajer, karena mau menyimpan rahasia ini.”
Manajer Yoo tersenyum bijak sambil mengangguk.
Memang hampir semua orang di JeResto telah mengetahui tentang kebohongan yang selama ini dibuat oleh Jung Yong Hwa, Lee Jong Hyun dan Lee Hyun Woo. Mereka semua telah mengetahuinya dari mulut Yonghwa sendiri. Mereka hanya tidak menceritakannya pada Shinhye karena bukan hak mereka untuk membeberkan rahasia itu.
“Apa kau sudah bertemu Shinhye?” tanya manajer Yoo.
“Aku ke sini untuk bertemu dengannya, manajer,” jawab Hyunwoo memastikan.
Manajer Yoo menatap Hyunwoo dengan tampang bingung. “Apa kau tidak tahu kalau dia sudah menugundurkan diri dari JeResto beberapa bulan yang lalu?”



***
Noona,” sapa Hyunwoo canggung begitu melihat Shinhye berdiri di depannya. “Oraenmanieyo.”
Shinhye melipat tangan di dada dan menatap Hyunwoo lekat.
Hyunwoo tak tahu harus berkata apa lagi dan hanya bisa menyentuh belakang lehernya. Sambil sesekali membuka lebar jajaran giginya.
Ya, setelah kembali dari Amerika apa kau memilih untuk tidak memedulikan aku lagi?” ujar Shinhye dengan nada sinis.
Hyunwoo tak membalas meski dalam hati dia ingin mengatakan kalau dia lebih pantas mengucapkan kalimat Shinhye barusan. Ya, memang benar dia yang lebih pantas mengucapkan kalimat itu. Karena selama keberadaannya di Amerika, dia telah mencoba menghubungi Shinhye berulang-ulang kali, tapi gadis itu tak pernah menjawab panggilan teleponnya. Gadis itu yang pertama kali memilih untuk mencuekinya dan bukan dia yang pertama melakukannya.
Ya, jawab aku! Kenapa kau malah tersenyum?”
“Kemarin aku benar-benar sibuk sampai-sampai aku hampir melupakanmu. Tapi kau harus bersyukur karena dalam kesibukanku, aku masih bisa datang mengunjungimu, noona.”
Ya, bocah!” teriak Shinhye kemudian menendang kaki Hyunwoo. “Apa kau secara tiba-tiba menggantikan ayahmu menjadi sekretaris presdir sehingga kau mengatakan kalau kau benar-benar sibuk? Sshi…” Shihnye mengumpat dan seakan-akan hendak memukul Hyunwoo dengan kepalan tangannya.
Hyunwoo tertawa melihat tingkah Shinhye. “Maafkan aku karena telah memulai semua kebohongan ini, noona,” ujar Hyunwoo dalam hati sambil menatap Shinhye dengan perasaan penuh penyesalan. 
Kenapa kalian melakukan ini padaku? Apa kau juga akan terus membohongiku? Kenapa hanya kepadaku kalian menyembunyikan kebenarannya?” Shinhye ikut berujar dalam hati melihat tampang penyesalan Hyunwoo.
Mianhae, noona. Jeongmal mianhae,” kata Hyunwoo dengan tampang penuh penyesalan.
Wae? Kenapa kau meminta maaf, Hyunwoo-ya?” tanya Shinhye dengan harapan Hyunwoo mau menceritakan semuanya.
Maaf karena tak bisa menceritakannya padamu, noona,” kata Hyunwoo dalam hati. Dia tersenyum berharap seandainya dia bisa menjadi orang pertama yang akan menceritakan kebenarannya pada Shinhye. “Maaf karena tak pernah mengunjungimu selama ini.” Namun semua itu tak mampu dia lakukan karena bukan dia orang yang tepat untuk mengatakannya. Akan lebih pantas kalau Yonghwa, hyeongnya itu yang melakukannya.
Arasseo, Hyunwoo-ya. Kau sama saja seperti mereka. Tak mampu mengatakannya. Aku akan tetap menunggu sampai kalian sendiri yang mengatakannya padaku.” Shinhye tersenyum kemudian membalas kalimat Hyunwoo, “Arasseo. Aku memakluminya Hyunwoo-ya. Masuk!” Shinhye mengajak Hyunwoo masuk ke dalam rumahnya.
Eoh, apa peraturan tentang lelaki yang tak boleh masuk ke rumahmu itu telah kau ubah, noona?”
“Eyy…” Shinhye melipat tangannya di dada lagi. “Kau bukan seorang lelaki bagiku. Dongsaeng. Kau adalah seorang adik bagiku, eong.”
Hyunwoo tertawa kemudian ikut masuk bersama Shinhye ke rumah yang selama ini hanya bisa dilihat pintu pagarnya saja itu.



***
Sepertinya awan sedang berbaik hati hari ini, karena dengan riangnya mereka terus berarak mengikuti ke mana arah langkah kaki Shinhye. Siang itu seakan mereka paham betul apa yang sedang dirasakan gadis itu, sehingga mereka begitu ingin melindunginya dari terik dan panas matahari yang begitu menyengat. Shinhye menghembuskan nafas mengikuti semilir angin yang meniup beberapa helai rambutnya menyentuh wajahnya. Gadis itu terus melangkahkan kakinya sampai dia menemukan sebuah kursi taman yang terlihat seakan sedang memanggilnya dan menawarkannya untuk sejenak melepaskan kepenatannya siang itu dengan duduk bersandar padanya. Shinhye kemudian memutuskan untuk menerima tawaran kursi kayu yang ada di taman itu. Dia duduk di atas kursi itu terlindung oleh bayangan pohon rindang besar yang berada tepat di belakang kursi tempat ia duduki sembari memerhatikan dedaunan pohon yang sedang melambai-lambai karena terpaan angin siang itu. Suasana saat itu benar-benar menggambarkan betapa sejuknya siang di musim semi tahun ini.
Namun, situasi berlainan terjadi dalam benak Shinhye. Ketika dia kembali memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa jam sebelumnya ketika dia bertemu dengan ayah Yonghwa.

Maaf karena sekali lagi membuatmu menunggu, Park Shin Hye-ssi.”
Shinhye bangun dari duduknya, membungkuk dan menyapa ketua Jung yang sedang bediri di hadapannya.
Silahkan duduk,” tawar ketua Jung yang telah lebih dulu duduk di kursi.
Shinhye mengikutinya.
Keduanya duduk berhadapan, tapi belum ada yang memulai percakapan. Shinhye meremas tangannya dan sesekali menghembuskan nafas karena gugup dengan tatapan ketua Jung yang tak luput darinya. Sedangkan ketua Jung sendiri terus menatap Shinhye lama, yang kemudian sesekali pandangannya beralih pada beberapa orang yang sedang lewat di samping café di pinggir jalan itu.
Tak terasa sekarang sudah musim semi. Aku ingat pertemuan kita yang terakhir kali itu, aku duduk di tempat yang sama dan melihat warga kota Seoul terus berjalan meski di tengah musim dingin tapi mereka tak lelah bekerja hanya untuk mencari kehidupan yang layak. Benarkan, Park Shin Hye-ssi?”
“Ne, hoejangnim.” Shinhye terus meremas tangannya bahkan kali ini dia bisa merasakan kalau kukunya telah menembus tulang telapak tangannya.
Silahkan diminum,” tawar ketua Jung melihat dua cangkir teh yang telah diletakkan oleh seorang pelayan café di atas meja mereka. “Jeosonghamnida, Park Shin Hye-ssi, aku tak biasa menikmati minuman dingin seperti layaknya anak muda jaman sekarang.”
“Gwaenchanseumnida, hoejangnim. Shinhye tersenyum meskipun dia tetap terlihat sedang menutupi wajah gugupnya.
Ketua Jung menyesap tehnya. Sekali lagi dia menawarkan Park Shin Hye untuk minum, meskipun kali ini hanya dengan gerakan tubuhnya.
Shinhye dengan tangan yang gemetaran mengangkat dua balok gula dan menuangkannya ke dalam cangkirnya. Dia hendak meminum tehnya namun secara tiba-tiba dia menghentikan niat menyesap tehnya, karena ketua Jung yang memulai percakapan lagi. Secara perlahan dia kemudian meletakkan kembali cangkir tehnya di atas meja.
Apa kau sudah dengar kalau performance Yonghwa di perusahaan kurang begitu bagus?” Ketua Jung menghembuskan nafas yang terdengar seperti hembusan kekesalan. “Aku tak tahu apa yang begitu mengganggu pikirannya sampai-sampai dia tak bisa berkompetisi dengan direktur-direktur lainnya.”
Shinhye tak berani menanggapi setiap kalimat ketua Jung. Dia hanya mampu melihat ke arah cangkirnya yang ada di atas meja.
“Eoh, mianhae. Tehmu hampir dingin, silahkan dinikmati,” kata ketua Jung sambil menyesap tehnya lagi.
Shinhye mengambil sebalok gula dan menuangkannya lagi ke dalam cangkirnya. Dia mengaduknya lagi dan lagi. Tapi tak berani meminumnya.
Aku berpikir untuk menyekolahkannya lagi ke tingkat yang lebih tinggi. Paling tidak sampai dia menyadari bahwa dia mampu berkompetisi melawan direktur-direktur di perusahaan-perusahaan kami. Semuanya hanya untuk membuat dia menyadari bahwa hanya dia yang berhak menggantikan posisiku, bukan direktur-direktur itu. Apa aku harus mengirimnya ke luar negeri? Inggris? Amerika Serikat? Rusia? Menurutmu kira-kira Negara mana yang cocok untuk Yonghwa?”
“Jeosonghamnida, hoejangnim. Jeongmal jeosonghamnida.” Kali ini Shinhye tak lagi menatap cangkir tehnya, tapi dia memberanikan diri menatap wajah ketua Jung. “Ketua tak perlu mengirimnya ke tempat yang jauh. Aku yang akan pergi menjauh darinya. Hubungan kami akan kupastikan benar-benar berakhir. Aku mohon padamu.” Shinhye membungkuk.
“Geurae?”
Shinhye mengangguk pasti.
Ini yang kedua kalinya aku mendengarmu mengucapkan kalimat ini. Aku berharap untuk tak ada yang ketiga kalinya nanti.” Ketua Jung tersenyum.
Shinhye membalas senyuman ketua meski terasa hambar.
Ketua bangun dari duduknya hendak meninggalkan Shinhye, tapi dia berhenti tepat di samping Shinhye kemudian menepuk pundak gadis itu dan berkata, “jangan minum tehnya! Kau sudah mencampur gulanya lebih dari dua kali. Itu akan terasa sangat manis. Kau bisa sakit nantinya. Chogiyo!” panggil ketua Jung pada salah seorang pelayan café. “Bisakah kau memberi secangkir teh hangat yang baru pada nona ini?”
Pelayan café mengangguk, melaksanakan pesanan ketua Jung.
“Ah…, Park Shin Hye-ssi, kau boleh menikmati minuman yang baru saja kupesan. Maafkan aku karena aku harus pergi sekarang.”
KLING KLING
Lonceng di sudut pintu berbunyi, tanda kalau ketua Jung telah meninggalkan café itu.

Shinhye menghembuskan nafas ketika mengakhiri lamunannya. Kini bukan lagi wajah ketua Jung yang dilihatnya, dan kursi yang dia duduki bukan lagi kursi café yang didatanginya tadi. Dia telah kembali sadar dari lamunannya. Shinhye kemudian tertawa kecil begitu melihat matahari telah berpindah posisinya. “Sudah sore rupanya,” katanya sambil menengadah ke atas mencoba mencari keberadaan matahari yang terpalang oleh lebatnya dedaunan pohon tempat dia berteduh. “Eoh, kau di sana rupanya.” Shinhye menunjuk ke arah timur. Tepat di mana matahari berada. “Apa kau tahu apa yang sedang kurasakan sekarang?” tanyanya pada matahari sore itu. Sepertinya dia sedang mencoba bercakap-cakap dengan salah satu benda langit tersebut. “Aku merasa kau sangat jahat. Wae? Kau tahu kenapa? Itu karena kau tak pernah setia. Kau seharusnya tetap setia meskipun itu malam. Kau tak boleh pergi, eong?” Shinhye mencibir ke arah matahari. “Kau jahat.” Shinhye menghembuskan nafasnya lagi, kemudian berkata, “Aniya. Kau tidak jahat,” katanya berubah pikiran. Tangannya melambai-lambai ke arah matahari. “Aku hanya bercanda. Teng!” Dia kemudian tertawa sendiri melihat tingkah lakunya. “Babbo cheorom.” Shinhye tertawa lagi dan kemudian mengakhiri tingkah konyolnya dengan menempelkan ponselnya di telinganya dan menghubungi seseorang.
“Ini aku Park Shin Hye. Apa kau ada waktu untuk makan malam bersama?”
Terdengar suara balasan dari seberang teleponnya.
“Aku tahu tempat makan malam yang lumayan baik bagi kita untuk malam ini.” Shinhye menyentuh dagunya dengan telunjuknya. “Meski tak semahal dan tak selezat makanan dari restaurant-restaurant yang sering kau datangi, tapi tempat makan malamku kali ini tak kalah lezatnya dengan restaurantmu. Juga mahal,” katanya ragu. “Bagiku,” katanya mencoba melanjutkan kalimatnya sebelumnya. “Karena makan malam kali ini aku yang membayarnya, aku juga yang harus menentukan tempatnya. Setuju?”
Terdengar balasan dari lawan bicara Shinhye di seberang teleponnya.

“Baiklah. Aku akan mengirimkanmu alamatnya. Sampai bertemu di sana.” Shinhye mengakhiri panggilan teleponnya, kemudian berjalan pergi meninggalkan taman itu.

To be continued

Senin, 22 Agustus 2016

Rain of Autumn Part 21

Part 21




Shinhye menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Dia tidak sanggup mengahadapi kenyataan ini. Dia terlalu mencintai Yonghwa. Tapi apa boleh dikata, dia harus menepati janjinya pada Presdir. Ini semua demi kebaikan Yonghwa dan demi rumah peninggalan terakhir ayah dan ibunya. Rumah ini terlalu berharga bagi dia. Dia tidak sanggup meninggalkan rumah ini. Karena hanya rumah ini yang bisa menggali kembali kenangan bahagia bersama ayah dan ibunya.
“Kau pasti akan menemukan yang lebih baik dari aku, Yonghwa-ssi. Ini semua demi kebaikanmu.” Tangis Shinhye pecah membahana di kamar tidurnya.
Tak lama kemudian, Shinhye mengusap air matanya dengan punggung tanggannya begitu melihat nama Yonghwa tertera di layar ponselnya. Yonghwa sedang menghubunginya. Shinhye menahan tangisnya, kemudian menjawab panggilan Yonghwa. “Yeobeseyo!”
“Kau di mana sekarang? Aku ke restaurant tadi, tapi kau tidak ada.”
Eoh, apa kau mencariku?” kata Shinhye dengan suara parau.
“Shinhye-ya, ada apa dengan suaramu? Apa kau demam?” Nada suara Yonghwa terdengar cemas dengan keadaan Shinhye.
“Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pilek karena kena angin laut.”
“Kau pergi ke laut? Untuk apa?”
“Hanya, untuk melihat laut,” kata Shinhye dengan alasan yang tidak terdengar logis. Menikmati angin laut ketika musim dingin ini sangat tidak biasa dilakukan kebanyakan orang yang tinggal di Negara empat musim. “Aku tiba-tiba ingin melihat laut. Maaf karena tidak memberitahumu.” Shinhye berkilah.
“Apa sekarang kau baik-baik saja? Apa kau butuh aku ke sana?” kata Yonghwa bijak. Dia hanya tidak mau menyalahkan gadis itu saja. Sudah cukup dengan mendengar suara gadis itu yang terdengar merasa bersalah dengan tindakan yang dilakukannya sendiri.
Shinhye memukul dadanya. Sakit rasanya mendengar suara Yonghwa yang terdengar sangat khawatir padanya.
“Kau tunggu di situ, aku akan ke situ.”
Aniya. Aku sudah kembali ke rumah.” Shinhye mencoba menahan tangisnya yang hampir pecah mendengar suara Yonghwa yang terdengar sangat khawatir padanya.
“Kalau begitu aku akan ke rumahmu.”
“Tidak. Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sedikit. Besok pasti sudah baikan. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Sebaiknya sekarang kau tidur. Besok kau harus bekerja, eoh?”
Arasseo. Kalau ada apa-apa, ingat aku ada di nomor satu panggilan cepatmu.”
Ara.” Shinhye pamit, kemudian mengakhiri panggilan.


***
“Ah, jinjja. Aku bahkan belum mengucapkan selamat malam padamu.” Yonghwa mengacak-acak rambutnya. Kemudian menatap dirinya di cermin. Dia tersenyum, kemudian berkata, “Apa karena ketampanan ini yang membuatmu tergila-gila padaku, Shinhye-ya?” Yonghwa tertawa kecil. Kemudian berjalan maju dan mundur sambil menatap dirinya di dalam cermin. “Eomma, kau akan benar-benar menyesal ketika anak tampanmu ini menjadi milik orang lain. Sebaiknya kau harus berhati-hati pada Park Shin Hye, karena dia akan menjadi rivalmu dalam hal memperebutkanku.” Setelah puas mengamati dirinya di cermin, Yonghwa mengambil ponsel genggamnya dan mengetik beberapa kalimat untuk dikirim.

Apa benar aku tidak perlu ke rumahmu? Ah, aku hampir gila karena mengkhawatirkanmu. Besok pagi aku akan menjemputmu. Hanya untuk memastikan kalau kau baik-baik saja.

Setelah membaca pesannya terkirim ke Shinhye. Yonghwa kembali mengamati dirinya di cermin sambil menunggu balasan pesan dari Shinhye.
Detik. Menit. Jam berlalu. Tapi tidak ada balasan. Shinhye tidak membalas pesannya.
“Ah, jinjja. Apa kau yang tergila-gila padaku atau aku yang tergila-gila padamu? Kau bahkan tidak membalas pesanku, Park Shin Hye? Apa kau tidur?”
Yonghwa bicara sendiri pada ponselnya. Tak lama kemudian dia membanting dirinya di atas ranjangnya dan terlelap tidur.


***
Setelah meletakkan tas ranselnya di belakang punggungnya, Shinhye keluar rumahnya, membuka pagarnya, dan terlihat kaget ketika melihat sesosok pria sedang bersandar pada pagar tembok rumahnya. “Omo,” teriak Shinhye. “Kau mengagetkanku.”
Pertahanan bersandar pada tembok pagar Shinhye goyah ketika mendengar teriakan Shinhye.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Shinhye melihat Yonghwa yang berdiri di depan rumahnya pagi-pagi.
“Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja,” jawab Yonghwa sambil meletakkan punggung tangannya ke kening Shinhye. “Aku rasa kau baik-baik saja.” Yonghwa menurunkan tangannya ketika mendapati suhu tubuh Shinhye normal. Beberapa saat kemudian, dia meringis kemudian berkata, “Ah, Park Shin Hye.” Yonghwa mengeluh sambil menyentuh kedua betis kakinya. “Ah…,” erangnya lagi. “Setiap hari berapa lama kau berdandan? Aku hampir mati kedingingan berdiri di luar menunggumu.”
“Kau sudah lama berdiri di luar?”
Yonghwa mengangguk. “Sekarang, kau harus bertanggung jawab. Kau harus memijat kakiku ketika kita tiba di mobil nanti.” Yonghwa mulai menuntut bagai anak kecil.
“Kau sengaja memanfaatkan tenagaku, kan? Kau benar-benar jahat, Jung Yong Hwa-ssi.”
“Apa kau marah padaku?” tanya Yonghwa ketika melihat mimik wajah Shinhye yang berubah kesal.
Shinhye tidak menjawab dan tetap memasang tampang kesal pada Yonghwa.
“Kau tidak usah memijatku. Aku tidak apa-apa,” kata Yonghwa dengan tangan melambai-lambai di udara. “Aku akan mengantarmu ke kampus. Kajja!” kata Yonghwa tersenyum, kemudian menggandeng tangan Shinhye berjalan menuju tempat mobilnya diparkir.


***
Apa kau mau berkencan denganku hari ini? Begitulah pesan yang dibaca Yonghwa. Karena tidak percaya dengan kalimat pesan yang baru saja dia baca. Dia pun melakukan pengulangan membaca isi pesan tersebut.
“Hari ini apa kau serius ingin mengajakku berkencan, Park Shin Hye? Haha…” tawa Yonghwa membahana di semua ruangan apartemennya. “Selama ini kalau ingin berkencan aku yang selalu pertama mengajakmu. Hari ini malah kau yang mengajakku. Apa kau yang mulai tergila-gila padaku?” Yonghwa mulai berkata-berkata sendiri tanpa lawan bicara. “Baiklah. Kali ini aku akan sedikit jual mahal. Bagaimana reaksimu dengan aksiku?”
Yonghwa tersenyum dan mulai mengetik pesannya.

Hari ini aku agak sedikit sibuk. Kemarin waktu kosongku banyak, seharusnya kau mengajakku waktu ke laut kemarin.

Setelah membaca pesannya. Dia tersenyum jahil kemudian mengirimkannya pada Shinhye. Beberapa menit berlalu, terdengar bunyi nada pesan pada telepon genggamnya.
“Baiklah, kita batalkan saja hari ini kalau kau sibuk.” Yonghwa membaca pelan-pelan barisan pesan singkat Shinhye.
Mwo? Semudah itu kau membatalkannya?” Yonghwa kemudian mulai mengetik pesan balasan pada Shinhye.
“Ke mana kau ingin berkencan hari ini?” Yonghwa membaca ulang pesannya memastikan kalau dia tidak lagi menulis kalimat-kalimat yang mudah memancing pembatalan kencannya hari ini.

Namsan Tower.

Begitulah bunyi balasan pesan yang dikirim Shinhye pada Yonghwa.


***
“Apa tidak ada tempat lain lagi selain Namsan Tower?” tanya Yonghwa ketika dia dan Shinhye berada dalam mobilnya. “Aku hanya merasa ini terlalu dingin untuk pergi ke sana.”
“Apa ada tempat lain yang ingin kau kunjungi?” Shinhye balik bertanya seraya mengeratkan sabuk pengamannya.
“Ada. Kau mau ke sana?” tanya Yonghwa menyalakan mesin mobilnya, tapi belum menginjak pedal gasnya.
“Apa tempat itu bisa menghentikan waktu?”
Mwo?” tanya Yonghwa karena tidak mendengar jelas suara Shinhye.
Ani. Aku hanya berbicara sendiri.” 
“Ada apa denganmu? Apa kau masih sakit?” Kedua bola mata Yonghwa menatap Shinhye dengan lekat, melihat wajah gadis yang tadi ceria itu tiba-tiba berubah menjadi sedih. “Atau kau ingin kita ke Namsan Tower saja?”
“Tidak. Kita ke tempatmu saja.” Shinhye kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil Yonghwa. Dan perlahan mulai memejamkan kedua matanya.
Tanpa berpikir panjang, Yonghwa menginjak pedal gas mobilnya dan berlalu bersama Shinhye yang masih terdiam menutup mata.
Setengah perjalanan tidak diisi mereka dengan percakapan. Sesekali Yonghwa mencuri pandang ke arah Shinhye. Gadis itu masih menutup kedua matanya. Ketenangannya membuat Yonghwa urung membangunkannya. Tidak lama kemudian, gadis itu menghembuskan nafasnya dan membuka kedua bola matanya. Matanya mulai menyisir setiap jalan yang mereka tempuh. Dia membuka kaca jendelanya, menyembulkan wajahnya di luar dan menyentuh setiap bunga salju yang bisa dia sentuh.
“Kenapa saljunya tidak juga berhenti? Sekarang kan hampir tiba waktunya musim cherry blossom,” gumam Shinhye masih mencoba menyentuh bunga salju selama perjalanan mereka. “Apa salju ini bisa membekukan hatimu?” gumamnya lagi tanpa berbalik ke arah lawan bicaranyaYonghwa.
“Maksudmu?”
Ani. Aku hanya berbicara sendiri.” Shinhye mengulang kalimatnya lagi.
Hari mulai malam ketika mereka tiba di tempat yang dimaksud Yonghwa. Rumah kayu sederhana yang terletak di pinggiran jalan. Atap rumah itu tertutup salju, jalan di sekitarnya pun seperti itu.
Kajja!” ajak Yonghwa ketika membuka pintu mobil Shinhye. “Kau tak perlu khawatir, rumah itu milikku.” Yonghwa menjelaskan karena melihat mimik wajah Shinhye yang penuh tanda tanya. “Waktu kecil, aku dan Yoomi noona sering diajak orang tua kami ke sini. Rumah ini tempat kami sekeluarga menghabiskan liburan musim dingin kami. Rumah ini sangat hangat ketika musim dingin tiba, ini tempat terbaik untuk menghangatkan diri.”
Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu. Yonghwa menyalakan satu per satu kontak lampu rumah itu. Di ruang keluarga rumah itu terdapat tungku perapian yang terbuat dari batu bata. Yonghwa mendekat ke arah tungku perapian, mengambil kayu kering yang ada di samping tungku perapian, kemudian melemparkan kayu-kayu itu ke dalam tungku dan mulai menyalakan api. Perlahan tapi pasti api mulai membakar kayu-kayu kering itu. Yonghwa lalu meletakkan dua bangku kecil tidak jauh dari perapian, dan mengajak Shinhye untuk duduk di sebelahnya. Shinhye hanya menurutinya.
Shinhye menggosok-gosok telapak tangannya, suhu udara di rumah itu seakan menghangat ketika api mulai membesar. “Apa tidak ada yang menempati rumah ini? Furniturnya terlihat bersih dan apik,” tanya Shinhye sambil mendekatkan tangannya ke perapian.
“Paman di sebelah rumah ini, dia yang menjaga dan membersihkannya,” jawab Yonghwa. “Apa kau masih kedinginan?” tanya Yonghwa melihat Shinhye yang terus meniup kedua telapak tangannya yang terbungkus dengan sarung tangan.
Shinhye hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Yonghwa.
“Kalau begitu merapatlah padaku.” Yonghwa memegang lengan Shinhye dan mendorong gadis itu ke dalam dekapannya.
“Lebih hangat,” guman Shinhye sambil menyandarkan kepalanya di pundak Yonghwa. “Yonghwa-ya, aku ingin berhenti.” Shinhye memberikan jeda, sebelum melanjutkan ke  kalimat berikutnya. “Aku ingin berhenti dari pekerjaanku.” Shinhye menegaskan kalimat intinya.
“Maksudmu, kau ingin berhenti bekerja di JeResto?” kata Yonghwa sambil menambahkan beberapa kayu bakar ke dalam tungku perapian. “Wae? Apa kau sudah punya pekerjaan baru?”
“Belum. Hanya saja, aku ingin berhenti.” Kali ini Shinhye mengangkat kepalanya dari pundak Yonghwa dan mendongak ke arah Yonghwa. “Apa kau setuju aku berhenti dari JeResto?”
“Kalau memang itu yang terbaik, aku hanya bisa mendukungmu.”
Shinhye tersenyum manis melihat persetujuan Yonghwa, yang sepertinya menunjukan bahwa rencananya akan berjalan lancar.
“Ah, aku punya sesuatu yang harus kutunjukan padamu,” kata Yonghwa kemudian dia memadamkan api di tungku perapian. Setelah apinya mati, Yonghwa bangkit dari duduknya dan berkata, “Kau tunggu di sini, yah.” Yonghwa lalu berjalan ke luar meninggalkan Shinhye.
Tak berapa lama kemudian, seluruh lampu di rumah itu padam.
“Jung Yong Hwa-ssi,” panggil Shinhye karena takut pada kegelapan. “Jung Yong Hwa-ssi.” Shinhye bangkit dari duduknya, meraba-raba dalam kegelapan mencari keberadaan Yonghwa. “Ya, Jung Yong Hwa! Kau bukan pembunuh berantai, kan? Kau tidak berencana membunuhku, kan?” Kali ini Shinhye mulai berteriak sambil memanggil-manggil nama Yonghwa. “Ya, Jung Yong Hwa! Eodisseo?”
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu sedang terbuka. Shinhye berbalik mencari asal bunyi tersebut. Dari ruangan yang lain terlihat cahaya kecil. Shinhye berjalan mencari ruangan tempat di mana cahaya itu berada. “Akan kubuat perhitungan denganmu, Jung Yong Hwa,” umpat Shinhye sambil terus berjalan menghampiri cahaya itu.
Begitu tiba di ruangan tempat cahaya itu berasal, Shinhye melihat Yonghwa berdiri di depan cahaya itu. Ternyata, cahaya yang dia lihat itu berasal dari sebuah lampu templok yang diletakkan Yonghwa di atas meja.
Ige mwoya? Kenapa kau mematikan semua lampu dan membiarkan lampu ini sebagai penerang?” tanya Shinhye karena penasaran dengan ulah Yonghwa mematikan semua lampu rumah. “Udara sedang dingin, kita butuh lampu dan perapian untuk menghangatkan tubuh,” timpal Shinhye.
Jung Yong Hwa tidak menjawab namun dia hanya berisyarat memanggil Shinhye dengan jari telunjuknya.
Wae?” tanya Shinhye bingung namun perlahan melangkah maju mendekati Yonghwa.
“Hanya sepuluh menit, berdansalah denganku.” Yonghwa menyodorkan tangannya menanti sambutan tangan Shinhye.
Shinhye tersenyum kaget namun dengan sigat menyambut tangan Yonghwa dan mengikuti ke mana arah tubuh Yonghwa bergerak. Di tengah kegelapan dan udara yang dingin, terlihat sepasang makhluk sedang menikmati setiap gerakan tarian mereka. Yonghwa mulai mendengung membuat musik latar belakang tarian mereka. Langkah demi langkah, Yonghwa membawa tubuh Shinhye menyusuri ruangan itu. Sesekali, langkah Shinhye tidak sama dengan langkah Yonghwa, namun dengan cepat Yonghwa kembali membawa gadis itu dalam irama melodi yang dia dengungkan.
“Kau tahu, waktu SD aku pernah menyukai seorang gadis yang adalah sahabatku.” Yonghwa berhenti berdengung dan mulai menceritakan masa lalunya.
“Apa dia cinta pertamamu?” tanya Shinhye sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yonghwa.
“Kau benar. Dia cinta pertamaku. Awal pertemuan kami ketika dia dan keluarganya pindah ke Seoul. Ayahnya adalah rekan kerja ayahku. Ketika pertama kali dia datang dari Jerman, dia benar-benar tidak bisa bicara Bahasa Korea. Namun dia bersikeras ingin bersekolah di sekolah yang sama dengan aku dan Jonghyun. Kami bertiga bahkan ada di kelas yang sama. Awalnya gadis itu tidak memiliki teman, karena tidak ada yang ingin berteman dengan gadis yang mereka anggap makhluk asing karena berbicara bahasa asing. Aku dan Jonghyun pun ikut-ikutan menghindarinya. Kami hanya tidak ingin dipanggil alien juga. Namun semua keadaan menjadi berubah, ketika suatu hari dia dijahili anak lelaki yang paling ditakuti di kelas kami. Bocah itu memiliki tubuh yang tinggi dan besar. Ukuran tubuhnya tidak lazim untuk kami anak kelas empat SD saat itu. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu ketika dijahili. Aku yang melihat ikut merasa iba. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bocah itu terlalu besar untuk ukuranku. Dan lagi saat itu, Jonghyun sedang sakit, jadi dia tidak ada untuk menemaniku. Namun kejahilan yang dilakukan bocah itu semakin menjadi-jadi. Karena benar-benar dalam kondisi yang penuh amarah, aku membanting mejaku dan berjalan mendekati bocah besar itu. Entah kenapa tapi tiba-tiba rasa takutku menghilang. Yang ingin kulakukan adalah menghajar bocah itu. Dan melindungi gadis kecil itu. Kau tahu apa yang terjadi?” Yonghwa mencoba berkomunikasi dengan Shinhye, karena melihat percakapan itu didominasi olehnya.
“Kau memukulnya. Namun karena dia lebih besar darimu, akhirnya kau kalah,” kata Shinhye mencoba menerka.
Yonghwa tertawa kecil, kemudian melanjutkan ceritanya. “Kau benar. Ketika aku maju ke depan, aku mencoba menghajarnya. Namun, karena tubuhnya yang tinggi membuatku kesulitan menggapai wajahnya. Oleh karena itu, aku hanya bisa menginjak kakinya.” Yonghwa tertawa sebentar mengingat masa lalunya. “Karena kesakitan kakinya diinjak, dia kemudian menarik kerah bajuku dan menghantamku persis di mulutku. Saat itu kupikir semua gigi depanku telah roboh, karena rasanya sakit sekali. Tidak puas menghantamku di wajah, dia kemudian mulai menendang kakiku dan memukul seluruh tubuhku. Untung saja, wali kelas kami datang dan melerainya. Kalau wali kelasku tidak datang menyelamatkanku, aku pasti sudah berakhir di rumah sakit.” Yonghwa berhenti sejenak, dia terlihat menarik nafas panjang.
“Lalu?” tanya Shinhye penasaran dengan kelanjutan cerita masa kecil Yonghwa.
“Setelah masalah diselesaikan oleh orang tua kami, gadis kecil itu memanggilku ke belakang sekolah tempat kandang kelinci berada. Dia menyuruhku duduk di bangku dekat situ dan membersihkan lukaku dengan air dan sapu tangannya. Dia mengeluarkan kotak mini P3Knya dan mulai mengobati lukaku. Sambil bercerita tentang kelinci-kelincinya yang sering dia beri makan. Entah mengapa, saat itu tangan kecilnya membuatku tersentuh. Aku nyaman dengan sentuhan tangan kecilnya itu.”
“Dan kau mulai jatuh cinta padanya?”
“Hmm…” Yonghwa bergumam. “Itu awal aku jatuh hati padanya. Saat itu kami mulai bersahabat. Sampai masa SMA pun, kami bertiga tetap bersekolah di sekolah yang sama. Karena persahabatan kami membuatku urung menyatakan cintaku padanya. Apalagi ketika tanpa sengaja, aku memergoki Jonghyun sedang mengungkapkan cinta padanya di taman sekolah kami. Saat itu, aku sangat terpukul. Aku bahkan tidak pernah lagi berpikiran untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Aku hanya tidak ingin mencintai gadis yang sama dengan sepupu dan sahabatku sendiri."
Aku sudah mendengarnya dari Jonghyun-ssi. Kau orang yang dicintai gadis itu. Shinhye berbicara dalam hatinya.
“Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Shinhye pura-pura penasaran.
“Kami berpisah ketika tamat SMA. Dia kembali ke Jerman, tanpa mengetahui isi perasaanku padanya.” Yonghwa berhenti berdansa. Dia kemudian berjalan keluar menyalakan sakelar dan kembali menghidupi tungku perapian.
“Apa kau ingin mendengar kelanjutannya?”
Shinhye mengangguk.
Yonghwa menepuk bangku kecil yang tadi mereka duduki, mengisyaratkan Shinhye untuk duduk lagi di bangku itu. “Apa kau tahu ini adalah rahasia paling pribadi tentang diriku?”
Shinhye menggeleng.
“ Tidak ada satu orang pun yang mengetahui rahasia ini, kecuali aku sendiri. Tapi hari ini, kau telah mengetahui semuanya. Oleh karena itu, jangan pernah berpikir untuk lari dariku, eoh?” ungkap Yonghwa sambil menyentuh hidung Shinhye dengan jari telunjuknya.
Shinhye tersenyum sampai wajahnya bersemu merah.
“Selama tiga belas tahun dari hidupku, kuhabiskan dengan menyimpan perasaanku padanya. Semua gadis yang kukencani hanya untuk mengisi waktu luangku. Aku bahkan tidak tertarik untuk membagikan perasaanku dengan gadis lain. Sampai suatu ketika, ada seorang gadis bodoh yang dengan berani berteriak padaku, menyuruhku minta maaf pada gadis lain yang kucampakkan di restaurant-ku sendiri. Saat itu, entah kenapa tapi hati kecilku memaksaku untuk mencari tahu siapa gadis bodoh itu. Aku bahkan mencari perhatian padanya dengan cara membuatnya terus marah padaku. Kupikir hanya dengan cara itu aku bisa mendapat perhatiannya. Tak lama kemudian, perasaan yang tak ingin kubagi itu malah kubagi dengan orang lain. Bukan dengan gadis kecil, cinta pertamaku. Tapi dengan gadis bodoh yang duduk di sampingku saat ini.” Yonghwa tertawa sambil mengelus kepala Shinhye dengan lembut.
Ya, berani-beraninya kau mengatakanku bodoh.” Shinhye menatap Yonghwa dengan wajah kesal.
Yonghwa tertawa kemudian kembali mengusap lembut rambut Shinhye.
“Apa gadis kecil cinta pertamamu itu Yoojin-ssi?” tanya Shinhye tiba-tiba yang membuat Yonghwa seketika berbalik menatap Shinhye. Seakan dia ingin berkata, kau tahu dari mana, tapi hal itu diurungkannya.
“Apa kalau aku memutuskanmu, kau akan kembali lagi pada cinta pertamamu itu?”
Mworagoya?” Sontak Yonghwa kaget dengan pertanyaan tak masuk akal Shinhye.
Ani. Aku hanya bergumam. Kau tidak perlu menjawabnya. Ah, Yonghwa-ssi, aku lapar.” Shinhye menyentuh perutnya mengalihkan pembicaraan mereka. “Apa tidak ada makanan yang bisa kita makan di sini?” Shinhye bangun dari duduknya dan berjalan ke arah dapur, meninggalkan Yonghwa yang masih syok dengan pertanyaannya tadi.


***
Shinhye dan Jiwon sedang berada di kamar Shinhye. Shinhye duduk sambil menyandarkan kepala ke pangkuannya dan duduk meringkuk rapat-rapat. Jiwon duduk di sampingnya sambil sesekali mengetuk-ngetuk lantai rumah Shinhye yang terbuat dari kayu. Dia melakukan hal itu untuk memecah keheningan yang terjadi antara mereka berdua.
“Yang kulihat akhir-akhir ini, kau terlihat sangat murung,” kata Jiwon menatap Shinhye yang masih meringkuk di sampingnya. “Apa yang terjadi padamu? Apa ada hal buruk yang menimpamu? Apa sekarang kau baik-baik saja?” Jiwon terus bertanya melihat Shinhye tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Shinhye sangat pendiam tidak seperti biasanya. Kemudian, tiba-tiba saja, dia mendongak dengan wajah datar, tanpa menatap lawan bicaranya dan berkata, “Aku bosan. Aku bosan harus menjalani hubungan dengannya.”
“Siapa yang kau bicarakan? Jung Yong Hwa-ssi?”
Shinhye tidak menjawab. Kali ini dia menunduk lagi, menatap lantai kamarnya dan meremas kedua tangannya.
“Benar? Yang kau maksud Jung Yong Hwa-ssi? Apa kau serius mengatakan ini? Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia melakukan sesuatu yang jahat padamu?”
“Tidak. Dia tidak melakukan sesuatu yang jahat padaku.” Shinhye terus menggeleng seakan menyatakan bahwa dia yang melakukan kejahatan itu.
“Lalu kenapa kau ingin mengakhiri hubunganmu dengannya?”
“Kurasa sudah waktunya bagi kami untuk berpisah,” kata Shinhye. Dia mendongak lagi, dan Jiwon dapat melihat kedua mata Shinhye yang memerah. Shinhye tidak menangis. Suaranya tenang dan tatapan wajahnya sungguh memperlihatkan dirinya yang tegar. Jiwon sendiri dapat merasakan bahwa gadis ini baik-baik saja.
“Aku tidak mengerti kenapa kau harus memilih jalan ini,” kata Jiwon.
“Dia dan aku, kami memiliki status yang sangat jauh berbeda.”
Jiwon sama sekali tidak percaya Shinhye akan mengatakan kalimat itu.  “Apa karena hal kecil itu, kau ingin mengakhiri hubunganmu dengan Yonghwa-ssi? Apa kau sudah memikirkannya matang-matang?”
 “Itu mungkin kecil bagimu, tapi tidak bagiku. Kau mungkin bisa mempertahankan Jonghyun, karena tidak ada hal lain yang akan kau korbankan dalam hubunganmu. Tapi aku berbeda denganmu.”
“Maksudmu?” tanya Jiwon skeptis.
Shinhye tidak menggubris. Kali ini dia kembali menunduk menatap lantai kamarnya.
“Apa maksudmu dengan pengorbanan? Apa yang akan kau korbankan? Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti. Setidaknya, bisakah kau menjelaskannya padaku?”
Shinhye mengabaikan Jiwon. Dia berpikir bahwa Jiwon hanya sedang bersikap dramatis saat ini. Kedua sahabat ini kemudian memilih untuk saling mendiamkan satu dengan yang lainnya.
Tak berapa lama, Shinhye tiba-tiba berkata, “Aku capek, Kim Ji Won. Bisakah kita tidak bicara untuk beberapa hari ini? Aku perlu ketenangan.” Masih dengan menunduk, kali ini Shinhye berbalik membelakangi Jiwon.
Mwo? Apa maksudmu?” Jiwon kaget dengan penuturan Shinhye yang benar-benar aneh menurutnya.
Shinhye tidak menjawab dan malah berjalan ke arah tempat tidurnya, mengangkat selimut tidurnya, naik ke atas tempat tidurnya, dan mulai menyelimuti seluruh badannya. Dia menutup kedua matanya, seakan mengisyaratkan pada sahabatnya yang masih terpaku menunggu jawaban darinya bahwa dia lelah dan ingin sendiri. Sungguh saat ini dia tidak ingin bicara dengan siapa pun. Termaksud Jiwon, sahabatnya sendiri.
Arasseo. Kau mungkin terganggu dengan semua pertanyaanku. Tapi sungguh aku hanya khawatir padamu, makanya aku banyak bertanya. Kalau saat ini kau benar-benar ingin sendiri, kau cukup bilang padaku dengan kata-kata, bukan dengan cara mengacuhkan aku seperti ini. Kau membuatku terlihat seperti orang bodoh, Shinhye-ya.” Jiwon perlahan ikut berbalik memunggungi Shinhye. Ketika selangkah berjalan, dia kemudian berhenti dan berkata, “Iya memang. Kita berbeda. Aku siap mengorbankan semuanya demi mempertahankan hubunganku dengan Jonghyun, karena aku sangat mencintainya. Sedangkan kau, kau tidak lebih dari seorang pecundang yang ingin lari dari kenyataan. Kau tidak sanggup menerima kenyataan hidupmu, dan ingin berlari meninggalkannya. Kau benar-benar…” Jiwon bahkan tidak bisa melanjutkan kata-kata terakhirnya.
“Aku berharap setelah ini, kau tidak mengatakan apa pun pada Yonghwa.” Shinhye bersuara lagi. Tapi dia tidak mencoba membela diri atau mencari alasan untuk menampis omongan Jiwon. Dia sepertinya menerima semua perkataan Jiwon. Karena memang seperti itu kenyataannya.

“Aku kecewa padamu, chingu-ya. Aku rasa kau benar. Kau dan aku bebar-benar memerlukan waktu untuk menyendiri. Untuk sementara, mari jangan bertemu dulu.” Jiwon perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Shinhye.


To be continued