Part
21
Shinhye menangis tersedu-sedu di
dalam kamarnya. Dia tidak sanggup mengahadapi kenyataan ini. Dia terlalu
mencintai Yonghwa. Tapi apa boleh dikata, dia harus menepati janjinya pada
Presdir. Ini semua demi kebaikan Yonghwa dan demi rumah peninggalan terakhir
ayah dan ibunya. Rumah ini terlalu berharga bagi dia. Dia tidak sanggup
meninggalkan rumah ini. Karena hanya rumah ini yang bisa menggali kembali
kenangan bahagia bersama ayah dan ibunya.
“Kau pasti akan menemukan yang
lebih baik dari aku, Yonghwa-ssi. Ini
semua demi kebaikanmu.” Tangis Shinhye pecah membahana di kamar tidurnya.
Tak lama kemudian, Shinhye
mengusap air matanya dengan punggung tanggannya begitu melihat nama Yonghwa tertera
di layar ponselnya. Yonghwa sedang menghubunginya. Shinhye menahan tangisnya,
kemudian menjawab panggilan Yonghwa. “Yeobeseyo!”
“Kau di mana sekarang? Aku ke restaurant tadi, tapi kau tidak ada.”
“Eoh, apa kau mencariku?”
kata Shinhye dengan suara parau.
“Shinhye-ya, ada apa dengan suaramu? Apa kau demam?” Nada suara Yonghwa
terdengar cemas dengan keadaan Shinhye.
“Tidak apa-apa. Aku tidak
apa-apa. Aku hanya sedikit pilek karena kena angin laut.”
“Kau pergi ke laut? Untuk apa?”
“Hanya, untuk melihat laut,”
kata Shinhye dengan alasan yang tidak terdengar logis. Menikmati angin laut
ketika musim dingin ini sangat tidak biasa dilakukan kebanyakan orang yang
tinggal di Negara empat musim. “Aku tiba-tiba ingin melihat laut. Maaf karena
tidak memberitahumu.” Shinhye berkilah.
“Apa sekarang kau baik-baik
saja? Apa kau butuh aku ke sana?” kata Yonghwa bijak. Dia hanya tidak mau
menyalahkan gadis itu saja. Sudah cukup dengan mendengar suara gadis itu yang
terdengar merasa bersalah dengan tindakan yang dilakukannya sendiri.
Shinhye memukul dadanya. Sakit
rasanya mendengar suara Yonghwa yang terdengar sangat khawatir padanya.
“Kau tunggu di situ, aku akan ke
situ.”
“Aniya. Aku sudah kembali ke rumah.” Shinhye mencoba menahan tangisnya
yang hampir pecah mendengar suara Yonghwa yang terdengar sangat khawatir
padanya.
“Kalau begitu aku akan ke
rumahmu.”
“Tidak. Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sedikit.
Besok pasti sudah baikan. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Sebaiknya sekarang
kau tidur. Besok kau harus bekerja, eoh?”
“Arasseo. Kalau ada apa-apa, ingat aku ada di nomor satu panggilan
cepatmu.”
“Ara.” Shinhye pamit, kemudian mengakhiri panggilan.
***
“Ah, jinjja. Aku bahkan belum mengucapkan selamat malam padamu.” Yonghwa
mengacak-acak rambutnya. Kemudian menatap dirinya di cermin. Dia tersenyum,
kemudian berkata, “Apa karena ketampanan ini yang membuatmu tergila-gila
padaku, Shinhye-ya?” Yonghwa tertawa
kecil. Kemudian berjalan maju dan mundur sambil menatap dirinya di dalam cermin.
“Eomma, kau akan benar-benar menyesal
ketika anak tampanmu ini menjadi milik orang lain. Sebaiknya kau harus
berhati-hati pada Park Shin Hye, karena dia akan menjadi rivalmu dalam hal
memperebutkanku.” Setelah puas mengamati dirinya di cermin, Yonghwa mengambil ponsel
genggamnya dan mengetik beberapa kalimat untuk dikirim.
Apa benar aku tidak perlu ke
rumahmu? Ah, aku hampir gila karena mengkhawatirkanmu. Besok pagi aku akan
menjemputmu. Hanya untuk memastikan kalau kau baik-baik saja.
Setelah membaca pesannya
terkirim ke Shinhye. Yonghwa kembali mengamati dirinya di cermin sambil
menunggu balasan pesan dari Shinhye.
Detik. Menit. Jam berlalu. Tapi
tidak ada balasan. Shinhye tidak membalas pesannya.
“Ah, jinjja. Apa kau yang tergila-gila padaku atau aku yang
tergila-gila padamu? Kau bahkan tidak membalas pesanku, Park Shin Hye? Apa kau
tidur?”
Yonghwa bicara sendiri pada
ponselnya. Tak lama kemudian dia membanting dirinya di atas ranjangnya dan
terlelap tidur.
***
Setelah meletakkan tas ranselnya
di belakang punggungnya, Shinhye keluar rumahnya, membuka pagarnya, dan terlihat
kaget ketika melihat sesosok pria sedang bersandar pada pagar tembok rumahnya.
“Omo,” teriak Shinhye. “Kau
mengagetkanku.”
Pertahanan bersandar pada tembok
pagar Shinhye goyah ketika mendengar teriakan Shinhye.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
tanya Shinhye melihat Yonghwa yang berdiri di depan rumahnya pagi-pagi.
“Hanya untuk memastikan kau
baik-baik saja,” jawab Yonghwa sambil meletakkan punggung tangannya ke kening
Shinhye. “Aku rasa kau baik-baik saja.” Yonghwa menurunkan tangannya ketika mendapati
suhu tubuh Shinhye normal. Beberapa saat kemudian, dia meringis kemudian
berkata, “Ah, Park Shin Hye.” Yonghwa mengeluh sambil menyentuh kedua betis
kakinya. “Ah…,” erangnya lagi. “Setiap hari berapa lama kau berdandan? Aku
hampir mati kedingingan berdiri di luar menunggumu.”
“Kau sudah lama berdiri di
luar?”
Yonghwa mengangguk. “Sekarang,
kau harus bertanggung jawab. Kau harus memijat kakiku ketika kita tiba di mobil
nanti.” Yonghwa mulai menuntut bagai anak kecil.
“Kau sengaja memanfaatkan
tenagaku, kan? Kau benar-benar jahat, Jung Yong Hwa-ssi.”
“Apa kau marah padaku?” tanya
Yonghwa ketika melihat mimik wajah Shinhye yang berubah kesal.
Shinhye tidak menjawab dan tetap
memasang tampang kesal pada Yonghwa.
“Kau tidak usah memijatku. Aku
tidak apa-apa,” kata Yonghwa dengan tangan melambai-lambai di udara. “Aku akan
mengantarmu ke kampus. Kajja!” kata
Yonghwa tersenyum, kemudian menggandeng tangan Shinhye berjalan menuju tempat
mobilnya diparkir.
***
Apa kau mau berkencan
denganku hari ini? Begitulah
pesan yang dibaca Yonghwa. Karena tidak percaya dengan kalimat pesan yang baru
saja dia baca. Dia pun melakukan pengulangan membaca isi pesan tersebut.
“Hari ini apa kau serius ingin
mengajakku berkencan, Park Shin Hye? Haha…” tawa Yonghwa membahana di semua
ruangan apartemennya. “Selama ini kalau ingin berkencan aku yang selalu pertama
mengajakmu. Hari ini malah kau yang mengajakku. Apa kau yang mulai tergila-gila
padaku?” Yonghwa mulai berkata-berkata sendiri tanpa lawan bicara. “Baiklah.
Kali ini aku akan sedikit jual mahal. Bagaimana reaksimu dengan aksiku?”
Yonghwa tersenyum dan mulai
mengetik pesannya.
Hari ini aku agak sedikit
sibuk. Kemarin waktu kosongku banyak, seharusnya kau mengajakku waktu ke laut
kemarin.
Setelah membaca pesannya. Dia
tersenyum jahil kemudian mengirimkannya pada Shinhye. Beberapa menit berlalu,
terdengar bunyi nada pesan pada telepon genggamnya.
“Baiklah, kita batalkan saja
hari ini kalau kau sibuk.” Yonghwa membaca pelan-pelan barisan pesan singkat
Shinhye.
“Mwo? Semudah itu kau membatalkannya?” Yonghwa kemudian mulai
mengetik pesan balasan pada Shinhye.
“Ke mana kau ingin berkencan
hari ini?” Yonghwa membaca ulang pesannya memastikan kalau dia tidak lagi
menulis kalimat-kalimat yang mudah memancing pembatalan kencannya hari ini.
Namsan Tower.
Begitulah bunyi balasan pesan
yang dikirim Shinhye pada Yonghwa.
***
“Apa tidak ada tempat lain lagi
selain Namsan Tower?” tanya Yonghwa
ketika dia dan Shinhye berada dalam mobilnya. “Aku hanya merasa ini terlalu
dingin untuk pergi ke sana.”
“Apa ada tempat lain yang ingin
kau kunjungi?” Shinhye balik bertanya seraya mengeratkan sabuk pengamannya.
“Ada. Kau mau ke sana?” tanya
Yonghwa menyalakan mesin mobilnya, tapi belum menginjak pedal gasnya.
“Apa tempat itu bisa
menghentikan waktu?”
“Mwo?” tanya Yonghwa karena tidak mendengar jelas suara Shinhye.
“Ani. Aku hanya berbicara sendiri.”
“Ada apa denganmu? Apa kau masih
sakit?” Kedua bola mata Yonghwa menatap Shinhye dengan lekat, melihat wajah
gadis yang tadi ceria itu tiba-tiba berubah menjadi sedih. “Atau kau ingin kita
ke Namsan Tower saja?”
“Tidak. Kita ke tempatmu saja.”
Shinhye kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil Yonghwa. Dan
perlahan mulai memejamkan kedua matanya.
Tanpa berpikir panjang, Yonghwa
menginjak pedal gas mobilnya dan berlalu bersama Shinhye yang masih terdiam
menutup mata.
Setengah perjalanan tidak diisi
mereka dengan percakapan. Sesekali Yonghwa mencuri pandang ke arah Shinhye.
Gadis itu masih menutup kedua matanya. Ketenangannya membuat Yonghwa urung
membangunkannya. Tidak lama kemudian, gadis itu menghembuskan nafasnya dan
membuka kedua bola matanya. Matanya mulai menyisir setiap jalan yang mereka
tempuh. Dia membuka kaca jendelanya, menyembulkan wajahnya di luar dan
menyentuh setiap bunga salju yang bisa dia sentuh.
“Kenapa saljunya tidak juga
berhenti? Sekarang kan hampir tiba waktunya musim cherry blossom,” gumam Shinhye masih mencoba menyentuh bunga salju
selama perjalanan mereka. “Apa salju ini bisa membekukan hatimu?” gumamnya lagi
tanpa berbalik ke arah lawan bicaranya─Yonghwa.
“Maksudmu?”
“Ani. Aku hanya berbicara sendiri.” Shinhye mengulang kalimatnya
lagi.
Hari mulai malam ketika mereka
tiba di tempat yang dimaksud Yonghwa. Rumah kayu sederhana yang terletak di
pinggiran jalan. Atap rumah itu tertutup salju, jalan di sekitarnya pun seperti
itu.
“Kajja!” ajak Yonghwa ketika membuka pintu mobil Shinhye. “Kau tak perlu khawatir, rumah itu
milikku.” Yonghwa menjelaskan karena melihat mimik wajah Shinhye yang penuh
tanda tanya. “Waktu kecil, aku dan Yoomi noona
sering diajak orang tua kami ke
sini. Rumah ini tempat kami sekeluarga menghabiskan liburan musim dingin kami.
Rumah ini sangat hangat ketika musim dingin tiba, ini tempat terbaik untuk
menghangatkan diri.”
Mereka
berdua masuk ke dalam rumah itu. Yonghwa menyalakan satu per satu kontak lampu
rumah itu. Di ruang keluarga rumah itu terdapat tungku perapian yang terbuat
dari batu bata. Yonghwa mendekat ke arah tungku perapian, mengambil kayu kering
yang ada di samping tungku perapian, kemudian melemparkan kayu-kayu itu ke
dalam tungku dan mulai menyalakan api. Perlahan tapi pasti api mulai membakar
kayu-kayu kering itu. Yonghwa lalu meletakkan dua bangku kecil tidak jauh dari
perapian, dan mengajak Shinhye untuk duduk di sebelahnya. Shinhye hanya
menurutinya.
Shinhye
menggosok-gosok telapak tangannya, suhu udara di rumah itu seakan menghangat
ketika api mulai membesar. “Apa tidak ada yang menempati rumah ini? Furniturnya
terlihat bersih dan apik,” tanya Shinhye sambil mendekatkan tangannya ke
perapian.
“Paman
di sebelah rumah ini, dia yang menjaga dan membersihkannya,” jawab Yonghwa. “Apa
kau masih kedinginan?” tanya Yonghwa melihat Shinhye yang terus meniup kedua telapak
tangannya yang terbungkus dengan sarung tangan.
Shinhye
hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Yonghwa.
“Kalau
begitu merapatlah padaku.” Yonghwa memegang lengan Shinhye dan mendorong gadis
itu ke dalam dekapannya.
“Lebih
hangat,” guman Shinhye sambil menyandarkan kepalanya di pundak Yonghwa.
“Yonghwa-ya, aku ingin berhenti.”
Shinhye memberikan jeda, sebelum melanjutkan ke
kalimat berikutnya. “Aku ingin berhenti dari pekerjaanku.” Shinhye
menegaskan kalimat intinya.
“Maksudmu,
kau ingin berhenti bekerja di JeResto?” kata Yonghwa sambil menambahkan
beberapa kayu bakar ke dalam tungku perapian. “Wae? Apa kau sudah punya pekerjaan baru?”
“Belum.
Hanya saja, aku ingin berhenti.” Kali ini Shinhye mengangkat kepalanya dari
pundak Yonghwa dan mendongak ke arah Yonghwa. “Apa kau setuju aku berhenti dari
JeResto?”
“Kalau
memang itu yang terbaik, aku hanya bisa mendukungmu.”
Shinhye
tersenyum manis melihat persetujuan Yonghwa, yang sepertinya menunjukan bahwa
rencananya akan berjalan lancar.
“Ah, aku punya sesuatu yang harus kutunjukan
padamu,” kata Yonghwa kemudian dia memadamkan api di tungku perapian. Setelah
apinya mati, Yonghwa bangkit dari duduknya dan berkata, “Kau tunggu di sini,
yah.” Yonghwa lalu berjalan ke luar meninggalkan Shinhye.
Tak
berapa lama kemudian, seluruh lampu di rumah itu padam.
“Jung
Yong Hwa-ssi,” panggil Shinhye karena
takut pada kegelapan. “Jung Yong Hwa-ssi.”
Shinhye bangkit dari duduknya, meraba-raba dalam kegelapan mencari keberadaan
Yonghwa. “Ya, Jung Yong Hwa! Kau bukan pembunuh berantai, kan? Kau tidak
berencana membunuhku, kan?” Kali ini Shinhye mulai berteriak sambil
memanggil-manggil nama Yonghwa. “Ya,
Jung Yong Hwa! Eodisseo?”
Tiba-tiba
terdengar bunyi sesuatu sedang terbuka. Shinhye berbalik mencari asal bunyi
tersebut. Dari ruangan yang lain terlihat cahaya kecil. Shinhye berjalan
mencari ruangan tempat di mana cahaya itu berada. “Akan kubuat perhitungan denganmu,
Jung Yong Hwa,” umpat Shinhye sambil terus berjalan menghampiri cahaya itu.
Begitu
tiba di ruangan tempat cahaya itu berasal, Shinhye melihat Yonghwa berdiri di
depan cahaya itu. Ternyata, cahaya yang dia lihat itu berasal dari sebuah lampu
templok yang diletakkan Yonghwa di atas meja.
“Ige mwoya? Kenapa kau mematikan semua
lampu dan membiarkan lampu ini sebagai penerang?” tanya Shinhye karena
penasaran dengan ulah Yonghwa mematikan semua lampu rumah. “Udara sedang
dingin, kita butuh lampu dan perapian untuk menghangatkan tubuh,” timpal
Shinhye.
Jung
Yong Hwa tidak menjawab namun dia hanya berisyarat memanggil Shinhye dengan
jari telunjuknya.
“Wae?” tanya Shinhye bingung namun
perlahan melangkah maju mendekati Yonghwa.
“Hanya
sepuluh menit, berdansalah denganku.” Yonghwa menyodorkan tangannya menanti
sambutan tangan Shinhye.
Shinhye
tersenyum kaget namun dengan sigat menyambut tangan Yonghwa dan mengikuti ke
mana arah tubuh Yonghwa bergerak. Di tengah kegelapan dan udara yang dingin,
terlihat sepasang makhluk sedang menikmati setiap gerakan tarian mereka.
Yonghwa mulai mendengung membuat musik latar belakang tarian mereka. Langkah
demi langkah, Yonghwa membawa tubuh Shinhye menyusuri ruangan itu. Sesekali,
langkah Shinhye tidak sama dengan langkah Yonghwa, namun dengan cepat Yonghwa
kembali membawa gadis itu dalam irama melodi yang dia dengungkan.
“Kau tahu, waktu SD aku pernah
menyukai
seorang gadis yang adalah sahabatku.”
Yonghwa berhenti berdengung dan mulai menceritakan masa lalunya.
“Apa dia cinta pertamamu?” tanya
Shinhye sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yonghwa.
“Kau benar. Dia cinta pertamaku.
Awal pertemuan kami ketika dia dan keluarganya pindah ke Seoul. Ayahnya adalah
rekan kerja ayahku. Ketika pertama kali dia datang dari Jerman, dia benar-benar
tidak bisa bicara Bahasa Korea. Namun dia bersikeras ingin bersekolah di
sekolah yang sama dengan aku dan Jonghyun. Kami bertiga bahkan ada di kelas
yang sama. Awalnya gadis itu tidak memiliki teman, karena tidak ada yang ingin
berteman dengan gadis yang mereka anggap makhluk asing karena berbicara bahasa
asing. Aku dan Jonghyun pun ikut-ikutan menghindarinya. Kami hanya tidak ingin
dipanggil alien juga. Namun semua keadaan menjadi berubah, ketika suatu hari
dia dijahili anak lelaki yang paling ditakuti di kelas kami. Bocah itu memiliki
tubuh yang tinggi dan besar. Ukuran tubuhnya tidak lazim untuk kami anak kelas
empat SD saat itu. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu ketika dijahili. Aku
yang melihat ikut merasa iba. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bocah
itu terlalu besar untuk ukuranku. Dan lagi saat itu, Jonghyun sedang sakit,
jadi dia tidak ada untuk menemaniku. Namun kejahilan yang dilakukan bocah itu
semakin menjadi-jadi. Karena benar-benar dalam kondisi yang penuh amarah, aku
membanting mejaku dan berjalan mendekati bocah besar itu. Entah kenapa tapi
tiba-tiba rasa takutku menghilang. Yang ingin kulakukan adalah menghajar bocah
itu. Dan melindungi gadis kecil itu. Kau tahu apa yang terjadi?” Yonghwa
mencoba berkomunikasi dengan Shinhye, karena melihat percakapan itu didominasi
olehnya.
“Kau memukulnya. Namun karena
dia lebih besar darimu, akhirnya kau kalah,” kata Shinhye mencoba menerka.
Yonghwa tertawa kecil, kemudian
melanjutkan ceritanya. “Kau benar. Ketika aku maju ke depan, aku mencoba
menghajarnya. Namun, karena tubuhnya yang tinggi membuatku kesulitan menggapai
wajahnya. Oleh karena itu, aku hanya bisa menginjak kakinya.” Yonghwa tertawa
sebentar mengingat masa lalunya. “Karena kesakitan kakinya diinjak, dia
kemudian menarik kerah bajuku dan menghantamku persis di mulutku. Saat itu
kupikir semua gigi depanku telah roboh, karena rasanya sakit sekali. Tidak puas
menghantamku di wajah, dia kemudian mulai menendang kakiku dan memukul seluruh
tubuhku. Untung saja, wali kelas kami datang dan melerainya. Kalau wali kelasku
tidak datang menyelamatkanku, aku pasti sudah berakhir di rumah sakit.” Yonghwa
berhenti sejenak, dia terlihat menarik nafas panjang.
“Lalu?” tanya Shinhye penasaran
dengan kelanjutan cerita masa kecil Yonghwa.
“Setelah masalah diselesaikan
oleh orang tua kami, gadis kecil itu memanggilku ke belakang sekolah tempat
kandang kelinci berada. Dia menyuruhku duduk di bangku dekat situ dan
membersihkan lukaku dengan air dan sapu tangannya. Dia mengeluarkan kotak mini
P3Knya dan mulai mengobati lukaku. Sambil bercerita tentang kelinci-kelincinya
yang sering dia beri makan. Entah mengapa, saat itu tangan kecilnya membuatku
tersentuh. Aku nyaman dengan sentuhan tangan kecilnya itu.”
“Dan kau mulai jatuh cinta padanya?”
“Hmm…” Yonghwa bergumam. “Itu
awal aku jatuh hati padanya. Saat itu kami mulai bersahabat. Sampai masa SMA
pun, kami bertiga tetap bersekolah di sekolah yang sama. Karena persahabatan
kami membuatku urung menyatakan cintaku padanya. Apalagi ketika tanpa sengaja,
aku memergoki Jonghyun sedang mengungkapkan cinta padanya di taman sekolah
kami. Saat itu,
aku sangat
terpukul. Aku bahkan
tidak pernah lagi berpikiran
untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Aku hanya tidak ingin mencintai gadis
yang sama dengan sepupu dan sahabatku sendiri."
Aku
sudah mendengarnya dari Jonghyun-ssi. Kau orang yang dicintai gadis itu. Shinhye berbicara dalam hatinya.
“Apa yang terjadi setelah itu?”
tanya Shinhye pura-pura penasaran.
“Kami berpisah ketika tamat SMA.
Dia kembali ke Jerman, tanpa mengetahui isi perasaanku padanya.” Yonghwa
berhenti berdansa. Dia kemudian berjalan keluar menyalakan sakelar dan kembali
menghidupi tungku perapian.
“Apa kau ingin mendengar
kelanjutannya?”
Shinhye mengangguk.
Yonghwa menepuk bangku kecil
yang tadi mereka duduki, mengisyaratkan Shinhye untuk duduk lagi di bangku itu.
“Apa kau tahu ini adalah rahasia paling pribadi tentang diriku?”
Shinhye menggeleng.
“ Tidak ada satu orang pun yang
mengetahui rahasia ini, kecuali aku sendiri. Tapi hari ini, kau telah
mengetahui semuanya. Oleh karena itu, jangan pernah berpikir untuk lari dariku,
eoh?” ungkap Yonghwa sambil menyentuh
hidung Shinhye dengan jari telunjuknya.
Shinhye tersenyum sampai
wajahnya bersemu merah.
“Selama tiga belas tahun dari hidupku,
kuhabiskan dengan menyimpan perasaanku padanya. Semua gadis yang kukencani
hanya untuk mengisi waktu luangku. Aku bahkan tidak tertarik untuk membagikan
perasaanku dengan gadis lain. Sampai suatu ketika, ada seorang gadis bodoh yang
dengan berani berteriak padaku, menyuruhku minta maaf pada gadis lain yang
kucampakkan di restaurant-ku sendiri.
Saat itu, entah kenapa tapi hati kecilku memaksaku untuk mencari tahu siapa
gadis bodoh itu. Aku bahkan mencari perhatian padanya dengan cara membuatnya
terus marah padaku. Kupikir hanya dengan cara itu aku bisa mendapat
perhatiannya. Tak lama kemudian, perasaan yang tak ingin kubagi itu malah
kubagi dengan orang lain. Bukan dengan gadis kecil, cinta pertamaku. Tapi
dengan gadis bodoh yang duduk di sampingku saat ini.” Yonghwa tertawa sambil
mengelus kepala Shinhye dengan lembut.
“Ya, berani-beraninya kau mengatakanku bodoh.” Shinhye menatap
Yonghwa dengan wajah kesal.
Yonghwa tertawa kemudian kembali
mengusap lembut rambut Shinhye.
“Apa gadis kecil cinta pertamamu
itu Yoojin-ssi?” tanya Shinhye
tiba-tiba yang membuat Yonghwa seketika berbalik menatap Shinhye. Seakan dia ingin
berkata, kau tahu dari mana, tapi hal
itu diurungkannya.
“Apa kalau aku memutuskanmu, kau
akan kembali lagi pada cinta pertamamu itu?”
“Mworagoya?” Sontak Yonghwa kaget dengan pertanyaan tak masuk akal
Shinhye.
“Ani. Aku hanya bergumam. Kau tidak perlu menjawabnya. Ah, Yonghwa-ssi, aku lapar.” Shinhye menyentuh perutnya mengalihkan pembicaraan
mereka. “Apa tidak ada makanan yang bisa kita makan di sini?” Shinhye bangun
dari duduknya dan berjalan ke arah dapur, meninggalkan Yonghwa yang masih syok
dengan pertanyaannya tadi.
***
Shinhye dan Jiwon sedang berada
di kamar Shinhye. Shinhye duduk sambil menyandarkan kepala ke pangkuannya dan duduk
meringkuk rapat-rapat. Jiwon duduk di sampingnya sambil sesekali
mengetuk-ngetuk lantai rumah Shinhye yang terbuat dari kayu. Dia melakukan hal
itu untuk memecah keheningan yang terjadi antara mereka berdua.
“Yang kulihat akhir-akhir ini,
kau terlihat sangat murung,” kata Jiwon menatap Shinhye yang masih meringkuk di
sampingnya. “Apa yang terjadi padamu? Apa ada hal buruk yang menimpamu? Apa
sekarang kau baik-baik saja?” Jiwon terus bertanya melihat Shinhye tidak
kunjung menjawab pertanyaannya.
Shinhye sangat pendiam tidak
seperti biasanya. Kemudian, tiba-tiba saja, dia mendongak dengan wajah datar, tanpa
menatap lawan bicaranya dan berkata, “Aku bosan. Aku bosan harus menjalani
hubungan dengannya.”
“Siapa yang kau bicarakan? Jung
Yong Hwa-ssi?”
Shinhye tidak menjawab. Kali ini
dia menunduk lagi, menatap lantai kamarnya dan meremas kedua tangannya.
“Benar? Yang kau maksud Jung
Yong Hwa-ssi? Apa kau serius
mengatakan ini? Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia melakukan sesuatu yang
jahat padamu?”
“Tidak. Dia tidak melakukan
sesuatu yang jahat padaku.” Shinhye terus menggeleng seakan menyatakan bahwa
dia yang melakukan kejahatan itu.
“Lalu kenapa kau ingin
mengakhiri hubunganmu dengannya?”
“Kurasa sudah waktunya bagi kami
untuk berpisah,” kata Shinhye. Dia mendongak lagi, dan Jiwon dapat melihat
kedua mata Shinhye yang memerah. Shinhye tidak menangis. Suaranya tenang dan
tatapan wajahnya sungguh memperlihatkan dirinya yang tegar. Jiwon sendiri dapat
merasakan bahwa gadis ini baik-baik saja.
“Aku tidak mengerti kenapa kau
harus memilih jalan ini,” kata Jiwon.
“Dia dan aku, kami memiliki
status yang sangat jauh berbeda.”
Jiwon sama sekali tidak percaya
Shinhye akan mengatakan kalimat itu. “Apa
karena hal kecil itu, kau ingin mengakhiri hubunganmu dengan Yonghwa-ssi? Apa kau sudah memikirkannya
matang-matang?”
“Itu mungkin kecil bagimu, tapi tidak bagiku.
Kau mungkin bisa mempertahankan Jonghyun, karena tidak ada hal lain yang akan
kau korbankan dalam hubunganmu. Tapi aku berbeda denganmu.”
“Maksudmu?” tanya Jiwon skeptis.
Shinhye tidak menggubris. Kali
ini dia kembali menunduk menatap lantai kamarnya.
“Apa maksudmu dengan
pengorbanan? Apa yang akan kau korbankan? Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak
mengerti. Setidaknya, bisakah kau menjelaskannya padaku?”
Shinhye mengabaikan Jiwon. Dia
berpikir bahwa Jiwon hanya sedang bersikap dramatis saat ini. Kedua sahabat ini
kemudian memilih untuk saling mendiamkan satu dengan yang lainnya.
Tak berapa lama, Shinhye
tiba-tiba berkata, “Aku capek, Kim Ji Won. Bisakah kita tidak bicara untuk
beberapa hari ini? Aku perlu ketenangan.” Masih dengan menunduk, kali ini
Shinhye berbalik membelakangi Jiwon.
“Mwo? Apa maksudmu?” Jiwon kaget dengan penuturan Shinhye yang
benar-benar aneh menurutnya.
Shinhye tidak menjawab dan malah
berjalan ke arah tempat tidurnya, mengangkat selimut tidurnya, naik ke atas
tempat tidurnya, dan mulai menyelimuti seluruh badannya. Dia menutup kedua
matanya, seakan mengisyaratkan pada sahabatnya yang masih terpaku menunggu
jawaban darinya bahwa dia lelah dan ingin sendiri. Sungguh saat ini dia tidak
ingin bicara dengan siapa pun. Termaksud Jiwon, sahabatnya sendiri.
“Arasseo. Kau mungkin terganggu dengan semua pertanyaanku. Tapi
sungguh aku hanya khawatir padamu, makanya aku banyak bertanya. Kalau saat ini
kau benar-benar ingin sendiri, kau cukup bilang padaku dengan kata-kata, bukan
dengan cara mengacuhkan aku seperti ini. Kau membuatku terlihat seperti orang
bodoh, Shinhye-ya.” Jiwon perlahan
ikut berbalik memunggungi Shinhye. Ketika selangkah berjalan, dia kemudian
berhenti dan berkata, “Iya memang. Kita berbeda. Aku siap mengorbankan semuanya
demi mempertahankan hubunganku dengan Jonghyun, karena aku sangat mencintainya.
Sedangkan kau, kau tidak lebih dari seorang pecundang yang ingin lari dari
kenyataan. Kau tidak sanggup menerima kenyataan hidupmu, dan ingin berlari meninggalkannya.
Kau benar-benar…” Jiwon bahkan tidak bisa melanjutkan kata-kata terakhirnya.
“Aku berharap setelah ini, kau
tidak mengatakan apa pun pada Yonghwa.” Shinhye bersuara lagi. Tapi dia tidak
mencoba membela diri atau mencari alasan untuk menampis omongan Jiwon. Dia
sepertinya menerima semua perkataan Jiwon. Karena memang seperti itu
kenyataannya.
“Aku kecewa padamu, chingu-ya. Aku rasa kau benar. Kau dan aku bebar-benar memerlukan waktu
untuk menyendiri. Untuk sementara, mari jangan bertemu dulu.” Jiwon perlahan
melangkahkan kakinya keluar dari kamar Shinhye.
To be continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar