"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 21

Senin, 22 Agustus 2016

Rain of Autumn Part 21

Part 21




Shinhye menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Dia tidak sanggup mengahadapi kenyataan ini. Dia terlalu mencintai Yonghwa. Tapi apa boleh dikata, dia harus menepati janjinya pada Presdir. Ini semua demi kebaikan Yonghwa dan demi rumah peninggalan terakhir ayah dan ibunya. Rumah ini terlalu berharga bagi dia. Dia tidak sanggup meninggalkan rumah ini. Karena hanya rumah ini yang bisa menggali kembali kenangan bahagia bersama ayah dan ibunya.
“Kau pasti akan menemukan yang lebih baik dari aku, Yonghwa-ssi. Ini semua demi kebaikanmu.” Tangis Shinhye pecah membahana di kamar tidurnya.
Tak lama kemudian, Shinhye mengusap air matanya dengan punggung tanggannya begitu melihat nama Yonghwa tertera di layar ponselnya. Yonghwa sedang menghubunginya. Shinhye menahan tangisnya, kemudian menjawab panggilan Yonghwa. “Yeobeseyo!”
“Kau di mana sekarang? Aku ke restaurant tadi, tapi kau tidak ada.”
Eoh, apa kau mencariku?” kata Shinhye dengan suara parau.
“Shinhye-ya, ada apa dengan suaramu? Apa kau demam?” Nada suara Yonghwa terdengar cemas dengan keadaan Shinhye.
“Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pilek karena kena angin laut.”
“Kau pergi ke laut? Untuk apa?”
“Hanya, untuk melihat laut,” kata Shinhye dengan alasan yang tidak terdengar logis. Menikmati angin laut ketika musim dingin ini sangat tidak biasa dilakukan kebanyakan orang yang tinggal di Negara empat musim. “Aku tiba-tiba ingin melihat laut. Maaf karena tidak memberitahumu.” Shinhye berkilah.
“Apa sekarang kau baik-baik saja? Apa kau butuh aku ke sana?” kata Yonghwa bijak. Dia hanya tidak mau menyalahkan gadis itu saja. Sudah cukup dengan mendengar suara gadis itu yang terdengar merasa bersalah dengan tindakan yang dilakukannya sendiri.
Shinhye memukul dadanya. Sakit rasanya mendengar suara Yonghwa yang terdengar sangat khawatir padanya.
“Kau tunggu di situ, aku akan ke situ.”
Aniya. Aku sudah kembali ke rumah.” Shinhye mencoba menahan tangisnya yang hampir pecah mendengar suara Yonghwa yang terdengar sangat khawatir padanya.
“Kalau begitu aku akan ke rumahmu.”
“Tidak. Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sedikit. Besok pasti sudah baikan. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Sebaiknya sekarang kau tidur. Besok kau harus bekerja, eoh?”
Arasseo. Kalau ada apa-apa, ingat aku ada di nomor satu panggilan cepatmu.”
Ara.” Shinhye pamit, kemudian mengakhiri panggilan.


***
“Ah, jinjja. Aku bahkan belum mengucapkan selamat malam padamu.” Yonghwa mengacak-acak rambutnya. Kemudian menatap dirinya di cermin. Dia tersenyum, kemudian berkata, “Apa karena ketampanan ini yang membuatmu tergila-gila padaku, Shinhye-ya?” Yonghwa tertawa kecil. Kemudian berjalan maju dan mundur sambil menatap dirinya di dalam cermin. “Eomma, kau akan benar-benar menyesal ketika anak tampanmu ini menjadi milik orang lain. Sebaiknya kau harus berhati-hati pada Park Shin Hye, karena dia akan menjadi rivalmu dalam hal memperebutkanku.” Setelah puas mengamati dirinya di cermin, Yonghwa mengambil ponsel genggamnya dan mengetik beberapa kalimat untuk dikirim.

Apa benar aku tidak perlu ke rumahmu? Ah, aku hampir gila karena mengkhawatirkanmu. Besok pagi aku akan menjemputmu. Hanya untuk memastikan kalau kau baik-baik saja.

Setelah membaca pesannya terkirim ke Shinhye. Yonghwa kembali mengamati dirinya di cermin sambil menunggu balasan pesan dari Shinhye.
Detik. Menit. Jam berlalu. Tapi tidak ada balasan. Shinhye tidak membalas pesannya.
“Ah, jinjja. Apa kau yang tergila-gila padaku atau aku yang tergila-gila padamu? Kau bahkan tidak membalas pesanku, Park Shin Hye? Apa kau tidur?”
Yonghwa bicara sendiri pada ponselnya. Tak lama kemudian dia membanting dirinya di atas ranjangnya dan terlelap tidur.


***
Setelah meletakkan tas ranselnya di belakang punggungnya, Shinhye keluar rumahnya, membuka pagarnya, dan terlihat kaget ketika melihat sesosok pria sedang bersandar pada pagar tembok rumahnya. “Omo,” teriak Shinhye. “Kau mengagetkanku.”
Pertahanan bersandar pada tembok pagar Shinhye goyah ketika mendengar teriakan Shinhye.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Shinhye melihat Yonghwa yang berdiri di depan rumahnya pagi-pagi.
“Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja,” jawab Yonghwa sambil meletakkan punggung tangannya ke kening Shinhye. “Aku rasa kau baik-baik saja.” Yonghwa menurunkan tangannya ketika mendapati suhu tubuh Shinhye normal. Beberapa saat kemudian, dia meringis kemudian berkata, “Ah, Park Shin Hye.” Yonghwa mengeluh sambil menyentuh kedua betis kakinya. “Ah…,” erangnya lagi. “Setiap hari berapa lama kau berdandan? Aku hampir mati kedingingan berdiri di luar menunggumu.”
“Kau sudah lama berdiri di luar?”
Yonghwa mengangguk. “Sekarang, kau harus bertanggung jawab. Kau harus memijat kakiku ketika kita tiba di mobil nanti.” Yonghwa mulai menuntut bagai anak kecil.
“Kau sengaja memanfaatkan tenagaku, kan? Kau benar-benar jahat, Jung Yong Hwa-ssi.”
“Apa kau marah padaku?” tanya Yonghwa ketika melihat mimik wajah Shinhye yang berubah kesal.
Shinhye tidak menjawab dan tetap memasang tampang kesal pada Yonghwa.
“Kau tidak usah memijatku. Aku tidak apa-apa,” kata Yonghwa dengan tangan melambai-lambai di udara. “Aku akan mengantarmu ke kampus. Kajja!” kata Yonghwa tersenyum, kemudian menggandeng tangan Shinhye berjalan menuju tempat mobilnya diparkir.


***
Apa kau mau berkencan denganku hari ini? Begitulah pesan yang dibaca Yonghwa. Karena tidak percaya dengan kalimat pesan yang baru saja dia baca. Dia pun melakukan pengulangan membaca isi pesan tersebut.
“Hari ini apa kau serius ingin mengajakku berkencan, Park Shin Hye? Haha…” tawa Yonghwa membahana di semua ruangan apartemennya. “Selama ini kalau ingin berkencan aku yang selalu pertama mengajakmu. Hari ini malah kau yang mengajakku. Apa kau yang mulai tergila-gila padaku?” Yonghwa mulai berkata-berkata sendiri tanpa lawan bicara. “Baiklah. Kali ini aku akan sedikit jual mahal. Bagaimana reaksimu dengan aksiku?”
Yonghwa tersenyum dan mulai mengetik pesannya.

Hari ini aku agak sedikit sibuk. Kemarin waktu kosongku banyak, seharusnya kau mengajakku waktu ke laut kemarin.

Setelah membaca pesannya. Dia tersenyum jahil kemudian mengirimkannya pada Shinhye. Beberapa menit berlalu, terdengar bunyi nada pesan pada telepon genggamnya.
“Baiklah, kita batalkan saja hari ini kalau kau sibuk.” Yonghwa membaca pelan-pelan barisan pesan singkat Shinhye.
Mwo? Semudah itu kau membatalkannya?” Yonghwa kemudian mulai mengetik pesan balasan pada Shinhye.
“Ke mana kau ingin berkencan hari ini?” Yonghwa membaca ulang pesannya memastikan kalau dia tidak lagi menulis kalimat-kalimat yang mudah memancing pembatalan kencannya hari ini.

Namsan Tower.

Begitulah bunyi balasan pesan yang dikirim Shinhye pada Yonghwa.


***
“Apa tidak ada tempat lain lagi selain Namsan Tower?” tanya Yonghwa ketika dia dan Shinhye berada dalam mobilnya. “Aku hanya merasa ini terlalu dingin untuk pergi ke sana.”
“Apa ada tempat lain yang ingin kau kunjungi?” Shinhye balik bertanya seraya mengeratkan sabuk pengamannya.
“Ada. Kau mau ke sana?” tanya Yonghwa menyalakan mesin mobilnya, tapi belum menginjak pedal gasnya.
“Apa tempat itu bisa menghentikan waktu?”
Mwo?” tanya Yonghwa karena tidak mendengar jelas suara Shinhye.
Ani. Aku hanya berbicara sendiri.” 
“Ada apa denganmu? Apa kau masih sakit?” Kedua bola mata Yonghwa menatap Shinhye dengan lekat, melihat wajah gadis yang tadi ceria itu tiba-tiba berubah menjadi sedih. “Atau kau ingin kita ke Namsan Tower saja?”
“Tidak. Kita ke tempatmu saja.” Shinhye kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil Yonghwa. Dan perlahan mulai memejamkan kedua matanya.
Tanpa berpikir panjang, Yonghwa menginjak pedal gas mobilnya dan berlalu bersama Shinhye yang masih terdiam menutup mata.
Setengah perjalanan tidak diisi mereka dengan percakapan. Sesekali Yonghwa mencuri pandang ke arah Shinhye. Gadis itu masih menutup kedua matanya. Ketenangannya membuat Yonghwa urung membangunkannya. Tidak lama kemudian, gadis itu menghembuskan nafasnya dan membuka kedua bola matanya. Matanya mulai menyisir setiap jalan yang mereka tempuh. Dia membuka kaca jendelanya, menyembulkan wajahnya di luar dan menyentuh setiap bunga salju yang bisa dia sentuh.
“Kenapa saljunya tidak juga berhenti? Sekarang kan hampir tiba waktunya musim cherry blossom,” gumam Shinhye masih mencoba menyentuh bunga salju selama perjalanan mereka. “Apa salju ini bisa membekukan hatimu?” gumamnya lagi tanpa berbalik ke arah lawan bicaranyaYonghwa.
“Maksudmu?”
Ani. Aku hanya berbicara sendiri.” Shinhye mengulang kalimatnya lagi.
Hari mulai malam ketika mereka tiba di tempat yang dimaksud Yonghwa. Rumah kayu sederhana yang terletak di pinggiran jalan. Atap rumah itu tertutup salju, jalan di sekitarnya pun seperti itu.
Kajja!” ajak Yonghwa ketika membuka pintu mobil Shinhye. “Kau tak perlu khawatir, rumah itu milikku.” Yonghwa menjelaskan karena melihat mimik wajah Shinhye yang penuh tanda tanya. “Waktu kecil, aku dan Yoomi noona sering diajak orang tua kami ke sini. Rumah ini tempat kami sekeluarga menghabiskan liburan musim dingin kami. Rumah ini sangat hangat ketika musim dingin tiba, ini tempat terbaik untuk menghangatkan diri.”
Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu. Yonghwa menyalakan satu per satu kontak lampu rumah itu. Di ruang keluarga rumah itu terdapat tungku perapian yang terbuat dari batu bata. Yonghwa mendekat ke arah tungku perapian, mengambil kayu kering yang ada di samping tungku perapian, kemudian melemparkan kayu-kayu itu ke dalam tungku dan mulai menyalakan api. Perlahan tapi pasti api mulai membakar kayu-kayu kering itu. Yonghwa lalu meletakkan dua bangku kecil tidak jauh dari perapian, dan mengajak Shinhye untuk duduk di sebelahnya. Shinhye hanya menurutinya.
Shinhye menggosok-gosok telapak tangannya, suhu udara di rumah itu seakan menghangat ketika api mulai membesar. “Apa tidak ada yang menempati rumah ini? Furniturnya terlihat bersih dan apik,” tanya Shinhye sambil mendekatkan tangannya ke perapian.
“Paman di sebelah rumah ini, dia yang menjaga dan membersihkannya,” jawab Yonghwa. “Apa kau masih kedinginan?” tanya Yonghwa melihat Shinhye yang terus meniup kedua telapak tangannya yang terbungkus dengan sarung tangan.
Shinhye hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Yonghwa.
“Kalau begitu merapatlah padaku.” Yonghwa memegang lengan Shinhye dan mendorong gadis itu ke dalam dekapannya.
“Lebih hangat,” guman Shinhye sambil menyandarkan kepalanya di pundak Yonghwa. “Yonghwa-ya, aku ingin berhenti.” Shinhye memberikan jeda, sebelum melanjutkan ke  kalimat berikutnya. “Aku ingin berhenti dari pekerjaanku.” Shinhye menegaskan kalimat intinya.
“Maksudmu, kau ingin berhenti bekerja di JeResto?” kata Yonghwa sambil menambahkan beberapa kayu bakar ke dalam tungku perapian. “Wae? Apa kau sudah punya pekerjaan baru?”
“Belum. Hanya saja, aku ingin berhenti.” Kali ini Shinhye mengangkat kepalanya dari pundak Yonghwa dan mendongak ke arah Yonghwa. “Apa kau setuju aku berhenti dari JeResto?”
“Kalau memang itu yang terbaik, aku hanya bisa mendukungmu.”
Shinhye tersenyum manis melihat persetujuan Yonghwa, yang sepertinya menunjukan bahwa rencananya akan berjalan lancar.
“Ah, aku punya sesuatu yang harus kutunjukan padamu,” kata Yonghwa kemudian dia memadamkan api di tungku perapian. Setelah apinya mati, Yonghwa bangkit dari duduknya dan berkata, “Kau tunggu di sini, yah.” Yonghwa lalu berjalan ke luar meninggalkan Shinhye.
Tak berapa lama kemudian, seluruh lampu di rumah itu padam.
“Jung Yong Hwa-ssi,” panggil Shinhye karena takut pada kegelapan. “Jung Yong Hwa-ssi.” Shinhye bangkit dari duduknya, meraba-raba dalam kegelapan mencari keberadaan Yonghwa. “Ya, Jung Yong Hwa! Kau bukan pembunuh berantai, kan? Kau tidak berencana membunuhku, kan?” Kali ini Shinhye mulai berteriak sambil memanggil-manggil nama Yonghwa. “Ya, Jung Yong Hwa! Eodisseo?”
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu sedang terbuka. Shinhye berbalik mencari asal bunyi tersebut. Dari ruangan yang lain terlihat cahaya kecil. Shinhye berjalan mencari ruangan tempat di mana cahaya itu berada. “Akan kubuat perhitungan denganmu, Jung Yong Hwa,” umpat Shinhye sambil terus berjalan menghampiri cahaya itu.
Begitu tiba di ruangan tempat cahaya itu berasal, Shinhye melihat Yonghwa berdiri di depan cahaya itu. Ternyata, cahaya yang dia lihat itu berasal dari sebuah lampu templok yang diletakkan Yonghwa di atas meja.
Ige mwoya? Kenapa kau mematikan semua lampu dan membiarkan lampu ini sebagai penerang?” tanya Shinhye karena penasaran dengan ulah Yonghwa mematikan semua lampu rumah. “Udara sedang dingin, kita butuh lampu dan perapian untuk menghangatkan tubuh,” timpal Shinhye.
Jung Yong Hwa tidak menjawab namun dia hanya berisyarat memanggil Shinhye dengan jari telunjuknya.
Wae?” tanya Shinhye bingung namun perlahan melangkah maju mendekati Yonghwa.
“Hanya sepuluh menit, berdansalah denganku.” Yonghwa menyodorkan tangannya menanti sambutan tangan Shinhye.
Shinhye tersenyum kaget namun dengan sigat menyambut tangan Yonghwa dan mengikuti ke mana arah tubuh Yonghwa bergerak. Di tengah kegelapan dan udara yang dingin, terlihat sepasang makhluk sedang menikmati setiap gerakan tarian mereka. Yonghwa mulai mendengung membuat musik latar belakang tarian mereka. Langkah demi langkah, Yonghwa membawa tubuh Shinhye menyusuri ruangan itu. Sesekali, langkah Shinhye tidak sama dengan langkah Yonghwa, namun dengan cepat Yonghwa kembali membawa gadis itu dalam irama melodi yang dia dengungkan.
“Kau tahu, waktu SD aku pernah menyukai seorang gadis yang adalah sahabatku.” Yonghwa berhenti berdengung dan mulai menceritakan masa lalunya.
“Apa dia cinta pertamamu?” tanya Shinhye sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yonghwa.
“Kau benar. Dia cinta pertamaku. Awal pertemuan kami ketika dia dan keluarganya pindah ke Seoul. Ayahnya adalah rekan kerja ayahku. Ketika pertama kali dia datang dari Jerman, dia benar-benar tidak bisa bicara Bahasa Korea. Namun dia bersikeras ingin bersekolah di sekolah yang sama dengan aku dan Jonghyun. Kami bertiga bahkan ada di kelas yang sama. Awalnya gadis itu tidak memiliki teman, karena tidak ada yang ingin berteman dengan gadis yang mereka anggap makhluk asing karena berbicara bahasa asing. Aku dan Jonghyun pun ikut-ikutan menghindarinya. Kami hanya tidak ingin dipanggil alien juga. Namun semua keadaan menjadi berubah, ketika suatu hari dia dijahili anak lelaki yang paling ditakuti di kelas kami. Bocah itu memiliki tubuh yang tinggi dan besar. Ukuran tubuhnya tidak lazim untuk kami anak kelas empat SD saat itu. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu ketika dijahili. Aku yang melihat ikut merasa iba. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bocah itu terlalu besar untuk ukuranku. Dan lagi saat itu, Jonghyun sedang sakit, jadi dia tidak ada untuk menemaniku. Namun kejahilan yang dilakukan bocah itu semakin menjadi-jadi. Karena benar-benar dalam kondisi yang penuh amarah, aku membanting mejaku dan berjalan mendekati bocah besar itu. Entah kenapa tapi tiba-tiba rasa takutku menghilang. Yang ingin kulakukan adalah menghajar bocah itu. Dan melindungi gadis kecil itu. Kau tahu apa yang terjadi?” Yonghwa mencoba berkomunikasi dengan Shinhye, karena melihat percakapan itu didominasi olehnya.
“Kau memukulnya. Namun karena dia lebih besar darimu, akhirnya kau kalah,” kata Shinhye mencoba menerka.
Yonghwa tertawa kecil, kemudian melanjutkan ceritanya. “Kau benar. Ketika aku maju ke depan, aku mencoba menghajarnya. Namun, karena tubuhnya yang tinggi membuatku kesulitan menggapai wajahnya. Oleh karena itu, aku hanya bisa menginjak kakinya.” Yonghwa tertawa sebentar mengingat masa lalunya. “Karena kesakitan kakinya diinjak, dia kemudian menarik kerah bajuku dan menghantamku persis di mulutku. Saat itu kupikir semua gigi depanku telah roboh, karena rasanya sakit sekali. Tidak puas menghantamku di wajah, dia kemudian mulai menendang kakiku dan memukul seluruh tubuhku. Untung saja, wali kelas kami datang dan melerainya. Kalau wali kelasku tidak datang menyelamatkanku, aku pasti sudah berakhir di rumah sakit.” Yonghwa berhenti sejenak, dia terlihat menarik nafas panjang.
“Lalu?” tanya Shinhye penasaran dengan kelanjutan cerita masa kecil Yonghwa.
“Setelah masalah diselesaikan oleh orang tua kami, gadis kecil itu memanggilku ke belakang sekolah tempat kandang kelinci berada. Dia menyuruhku duduk di bangku dekat situ dan membersihkan lukaku dengan air dan sapu tangannya. Dia mengeluarkan kotak mini P3Knya dan mulai mengobati lukaku. Sambil bercerita tentang kelinci-kelincinya yang sering dia beri makan. Entah mengapa, saat itu tangan kecilnya membuatku tersentuh. Aku nyaman dengan sentuhan tangan kecilnya itu.”
“Dan kau mulai jatuh cinta padanya?”
“Hmm…” Yonghwa bergumam. “Itu awal aku jatuh hati padanya. Saat itu kami mulai bersahabat. Sampai masa SMA pun, kami bertiga tetap bersekolah di sekolah yang sama. Karena persahabatan kami membuatku urung menyatakan cintaku padanya. Apalagi ketika tanpa sengaja, aku memergoki Jonghyun sedang mengungkapkan cinta padanya di taman sekolah kami. Saat itu, aku sangat terpukul. Aku bahkan tidak pernah lagi berpikiran untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Aku hanya tidak ingin mencintai gadis yang sama dengan sepupu dan sahabatku sendiri."
Aku sudah mendengarnya dari Jonghyun-ssi. Kau orang yang dicintai gadis itu. Shinhye berbicara dalam hatinya.
“Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Shinhye pura-pura penasaran.
“Kami berpisah ketika tamat SMA. Dia kembali ke Jerman, tanpa mengetahui isi perasaanku padanya.” Yonghwa berhenti berdansa. Dia kemudian berjalan keluar menyalakan sakelar dan kembali menghidupi tungku perapian.
“Apa kau ingin mendengar kelanjutannya?”
Shinhye mengangguk.
Yonghwa menepuk bangku kecil yang tadi mereka duduki, mengisyaratkan Shinhye untuk duduk lagi di bangku itu. “Apa kau tahu ini adalah rahasia paling pribadi tentang diriku?”
Shinhye menggeleng.
“ Tidak ada satu orang pun yang mengetahui rahasia ini, kecuali aku sendiri. Tapi hari ini, kau telah mengetahui semuanya. Oleh karena itu, jangan pernah berpikir untuk lari dariku, eoh?” ungkap Yonghwa sambil menyentuh hidung Shinhye dengan jari telunjuknya.
Shinhye tersenyum sampai wajahnya bersemu merah.
“Selama tiga belas tahun dari hidupku, kuhabiskan dengan menyimpan perasaanku padanya. Semua gadis yang kukencani hanya untuk mengisi waktu luangku. Aku bahkan tidak tertarik untuk membagikan perasaanku dengan gadis lain. Sampai suatu ketika, ada seorang gadis bodoh yang dengan berani berteriak padaku, menyuruhku minta maaf pada gadis lain yang kucampakkan di restaurant-ku sendiri. Saat itu, entah kenapa tapi hati kecilku memaksaku untuk mencari tahu siapa gadis bodoh itu. Aku bahkan mencari perhatian padanya dengan cara membuatnya terus marah padaku. Kupikir hanya dengan cara itu aku bisa mendapat perhatiannya. Tak lama kemudian, perasaan yang tak ingin kubagi itu malah kubagi dengan orang lain. Bukan dengan gadis kecil, cinta pertamaku. Tapi dengan gadis bodoh yang duduk di sampingku saat ini.” Yonghwa tertawa sambil mengelus kepala Shinhye dengan lembut.
Ya, berani-beraninya kau mengatakanku bodoh.” Shinhye menatap Yonghwa dengan wajah kesal.
Yonghwa tertawa kemudian kembali mengusap lembut rambut Shinhye.
“Apa gadis kecil cinta pertamamu itu Yoojin-ssi?” tanya Shinhye tiba-tiba yang membuat Yonghwa seketika berbalik menatap Shinhye. Seakan dia ingin berkata, kau tahu dari mana, tapi hal itu diurungkannya.
“Apa kalau aku memutuskanmu, kau akan kembali lagi pada cinta pertamamu itu?”
Mworagoya?” Sontak Yonghwa kaget dengan pertanyaan tak masuk akal Shinhye.
Ani. Aku hanya bergumam. Kau tidak perlu menjawabnya. Ah, Yonghwa-ssi, aku lapar.” Shinhye menyentuh perutnya mengalihkan pembicaraan mereka. “Apa tidak ada makanan yang bisa kita makan di sini?” Shinhye bangun dari duduknya dan berjalan ke arah dapur, meninggalkan Yonghwa yang masih syok dengan pertanyaannya tadi.


***
Shinhye dan Jiwon sedang berada di kamar Shinhye. Shinhye duduk sambil menyandarkan kepala ke pangkuannya dan duduk meringkuk rapat-rapat. Jiwon duduk di sampingnya sambil sesekali mengetuk-ngetuk lantai rumah Shinhye yang terbuat dari kayu. Dia melakukan hal itu untuk memecah keheningan yang terjadi antara mereka berdua.
“Yang kulihat akhir-akhir ini, kau terlihat sangat murung,” kata Jiwon menatap Shinhye yang masih meringkuk di sampingnya. “Apa yang terjadi padamu? Apa ada hal buruk yang menimpamu? Apa sekarang kau baik-baik saja?” Jiwon terus bertanya melihat Shinhye tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Shinhye sangat pendiam tidak seperti biasanya. Kemudian, tiba-tiba saja, dia mendongak dengan wajah datar, tanpa menatap lawan bicaranya dan berkata, “Aku bosan. Aku bosan harus menjalani hubungan dengannya.”
“Siapa yang kau bicarakan? Jung Yong Hwa-ssi?”
Shinhye tidak menjawab. Kali ini dia menunduk lagi, menatap lantai kamarnya dan meremas kedua tangannya.
“Benar? Yang kau maksud Jung Yong Hwa-ssi? Apa kau serius mengatakan ini? Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia melakukan sesuatu yang jahat padamu?”
“Tidak. Dia tidak melakukan sesuatu yang jahat padaku.” Shinhye terus menggeleng seakan menyatakan bahwa dia yang melakukan kejahatan itu.
“Lalu kenapa kau ingin mengakhiri hubunganmu dengannya?”
“Kurasa sudah waktunya bagi kami untuk berpisah,” kata Shinhye. Dia mendongak lagi, dan Jiwon dapat melihat kedua mata Shinhye yang memerah. Shinhye tidak menangis. Suaranya tenang dan tatapan wajahnya sungguh memperlihatkan dirinya yang tegar. Jiwon sendiri dapat merasakan bahwa gadis ini baik-baik saja.
“Aku tidak mengerti kenapa kau harus memilih jalan ini,” kata Jiwon.
“Dia dan aku, kami memiliki status yang sangat jauh berbeda.”
Jiwon sama sekali tidak percaya Shinhye akan mengatakan kalimat itu.  “Apa karena hal kecil itu, kau ingin mengakhiri hubunganmu dengan Yonghwa-ssi? Apa kau sudah memikirkannya matang-matang?”
 “Itu mungkin kecil bagimu, tapi tidak bagiku. Kau mungkin bisa mempertahankan Jonghyun, karena tidak ada hal lain yang akan kau korbankan dalam hubunganmu. Tapi aku berbeda denganmu.”
“Maksudmu?” tanya Jiwon skeptis.
Shinhye tidak menggubris. Kali ini dia kembali menunduk menatap lantai kamarnya.
“Apa maksudmu dengan pengorbanan? Apa yang akan kau korbankan? Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti. Setidaknya, bisakah kau menjelaskannya padaku?”
Shinhye mengabaikan Jiwon. Dia berpikir bahwa Jiwon hanya sedang bersikap dramatis saat ini. Kedua sahabat ini kemudian memilih untuk saling mendiamkan satu dengan yang lainnya.
Tak berapa lama, Shinhye tiba-tiba berkata, “Aku capek, Kim Ji Won. Bisakah kita tidak bicara untuk beberapa hari ini? Aku perlu ketenangan.” Masih dengan menunduk, kali ini Shinhye berbalik membelakangi Jiwon.
Mwo? Apa maksudmu?” Jiwon kaget dengan penuturan Shinhye yang benar-benar aneh menurutnya.
Shinhye tidak menjawab dan malah berjalan ke arah tempat tidurnya, mengangkat selimut tidurnya, naik ke atas tempat tidurnya, dan mulai menyelimuti seluruh badannya. Dia menutup kedua matanya, seakan mengisyaratkan pada sahabatnya yang masih terpaku menunggu jawaban darinya bahwa dia lelah dan ingin sendiri. Sungguh saat ini dia tidak ingin bicara dengan siapa pun. Termaksud Jiwon, sahabatnya sendiri.
Arasseo. Kau mungkin terganggu dengan semua pertanyaanku. Tapi sungguh aku hanya khawatir padamu, makanya aku banyak bertanya. Kalau saat ini kau benar-benar ingin sendiri, kau cukup bilang padaku dengan kata-kata, bukan dengan cara mengacuhkan aku seperti ini. Kau membuatku terlihat seperti orang bodoh, Shinhye-ya.” Jiwon perlahan ikut berbalik memunggungi Shinhye. Ketika selangkah berjalan, dia kemudian berhenti dan berkata, “Iya memang. Kita berbeda. Aku siap mengorbankan semuanya demi mempertahankan hubunganku dengan Jonghyun, karena aku sangat mencintainya. Sedangkan kau, kau tidak lebih dari seorang pecundang yang ingin lari dari kenyataan. Kau tidak sanggup menerima kenyataan hidupmu, dan ingin berlari meninggalkannya. Kau benar-benar…” Jiwon bahkan tidak bisa melanjutkan kata-kata terakhirnya.
“Aku berharap setelah ini, kau tidak mengatakan apa pun pada Yonghwa.” Shinhye bersuara lagi. Tapi dia tidak mencoba membela diri atau mencari alasan untuk menampis omongan Jiwon. Dia sepertinya menerima semua perkataan Jiwon. Karena memang seperti itu kenyataannya.

“Aku kecewa padamu, chingu-ya. Aku rasa kau benar. Kau dan aku bebar-benar memerlukan waktu untuk menyendiri. Untuk sementara, mari jangan bertemu dulu.” Jiwon perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Shinhye.


To be continued 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar