"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 19

Selasa, 09 Agustus 2016

Rain of Autumn Part 19

Part 19




“Shinhye-ssi, apa kau tidak lihat cara Jongsuk oppa menatapku tadi di kelas? Ah.. aku rasa tidak lama lagi dia akan menyatakan perasaannya padaku, kan?” kata teman duduk Shinhye di kelas bisnis tadi.
Shinhye hanya bisa membelalakan matanya mendengar penuturan sepihak temannya itu. Memang sudah menjadi kebiasaan perempuan yang sedang berjalan di sampingnya ini untuk mengidolakan dirinya sendiri. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa dialah idaman para lelaki. Perempuan di sampingnya terus berkoar meski Shinhye sudah memasang tampang bosan dengan ceritanya yang selalu meninggikan diri. Tapi sepertinya dia tidak sadar dengan tindakan terang-terangan Shinhye itu.
“Aku yakin bukan kau yang Jongsuk oppa tatap, kan? Pasti! Bukan kau tapi aku, maji–benarkan?”
“Hmm..” Shinhye hanya mengiyakan. Karena malas harus berdebat dengan gadis di sampingnya ini.
Begitu kedua gadis ini tiba di depan gerbang kampus. Seorang pria  dengan tampang sumringah berdiri di samping mobil mewahnya dan menatap kedatangan kedua yeoja ini. Senyuman lembutnya seakan memberi kesan pada warna jas middle blue yang dipakainya.
Omo, omo. Itu Jung Yong Hwa, keponakan pemilik kampus ini, kan?” tanya gadis si percaya diri itu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Shinhye tetap berjalan tanpa memedulikan omongan gadis itu.
“Apa dia sedang menatap kita? Ani—Dia pasti sedang menatapku.” Gadis itu kemudian mulai memperbaiki gaya rambut dan pakaiannya. Dia bahkan sempat-sempatnya mengambil kaca riasnya dan memperbaiki riasan wajahnya.
Shinhye mendengus lucu melihat tindakan gadis ini. Eoh, mungkin Jung Yong Hwa-mu sedang menunggumu untuk naik mobil bersama.” Shinhye berkata dengan nada sinis. Dengan bangga Shinhye mengatakan, “Tidak mungkin untuk aku kan—senyuman Jung Yong Hwa itu?” Shinhye berakting. Berhubung gadis di sampingnya ini perlu dikerjai.
Gadis itu mengangguk mantap membenarkan kata-kata Shinhye.
“Aku yakin dia sedang menatap salah satu di antara kita. Karena senyuman itu tertuju pada kita?” kata gadis itu semakin percaya diri.
“Apa kau tidak mau memastikan dulu di belakangmu tidak ada orang?” ujar Shinhye, nadanya lebih sinis dari sebelumnya.
“Tidak. Tidak ada orang di belakang kita,” katanya sangat yakin, setelah memastikan bahwa di belakangnya tidak ada orang. “Aku yakin dia tersenyum pada salah satu di antara kita. Itu pasti aku? Tidak mungkin kau, kan? Apa mungkin dia akan mengajakku jalan-jalan?” oceh gadis itu dengan tampang sumringah.
Begitu tiba di depan Yonghwa, dengan bangga gadis itu menyapa Yonghwa dengan sapaan akrab. “Annyeong!” ucapnya dibuat lembut sebisa mungkin.
Yonghwa dengan tampang melongo, memandang gadis itu dari ujung kepala sampai kakinya. Kemudian dengan sinis dia berkata, “Nuguseyo? Kenapa kau berbicara banmal padaku? Apa kita sudah pernah saling mengenal sebelumnya?”
Gadis itu tersontak, kaget. Kemudian dengan tampang bingung dia berkata, “Kalau begitu kau tersenyum pada siapa tadi? Tidak mungkin padanya, kan?” Tunjuknya ke arah Park Shin Hye.
Heol!” Shinhye mencibir.
“Aku tersenyum pada gadis di sebelahmu, yang kau ragukan itu.” Yonghwa mengangkat dagunya mengarah pada Park Shin Hye. “Kachi ka–ayo pergi bersama!” Ajakan Yonghwa pada Shinhye seakan membungkam mulut gadis itu.
Eoh, kau menjemputku?” tanya Shinhye pura-pura kaget sambil menunjuk dirinya sendiri. “Soohyun-ssi, mianhae. Kami pergi dulu.” Shinhye pamit dan masuk ke dalam mobil Yonghwa, meninggalkan gadis bernama Soohyun dengan tampang menyedihkan karena merasa dirinya baru saja dipermainkan oleh Shinhye.
Azza.” Shinhye mengibaskan tangannya di udara. “Kau lihat wajahnya tadi? Seandainya dia punya jenggot, mungkin jenggotnya sudah terbakar habis,” ungkapnya benar-benar bahagia, karena bisa mematahkan rasa percaya diri Soohyun yang berlebihan itu.
“Kau terlihat senang sekali. Bagaimana kalau kau mentraktirku hari ini?” tawar Yonghwa sambil menancapkan gas mobilnya keluar dari lingkungan kampus.
Mwo? Kau yang mengajak bertemu, seharusnya kau yang mentraktirku.”
“Aku mau kau yang mentraktirku kali ini. Anggap saja sebagai balas budi karena menggunakanku sebagai bahan balas dendammu tadi.”
Shinhye mengangkat bibir atasnya, kebiasaannya kalau sedang kesal. Tapi kemudian, dia menyetujui alasan Yonghwa. “Baiklah.”


***
Begitu turun dari mobil, Shinhye langsung menghirup aroma sedap daging asap, makanan yang menjadi ciri khas warung makan favoritnya itu. Dengan senyuman yang melengkung, Shinhye menyapa bibi pemilik warung tersebut. Kemudian dengan cepat dia menyambar tangan Yonghwa dan menarik pria yang masih berdiri di samping mobil itu untuk masuk mengikutinya ke dalam warung.
“Apa tidak ada tempat lain lagi di Seoul selain tempat ini?”
“Kalau kau tidak mau makan di tempat ini, kau boleh pulang.” Shinhye manarik kursi dan kemudian duduk di atasnya dan langsung memesan dua porsi daging babi asap dan beberapa menu lainnya.
Yonghwa kemudian ikut menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Shinhye.
Begitu menu yang dipesan Shinhye tiba. Sang pemilik toko kemudian mengucapkan selamat makan pada tamu-tamunya.
Jal meokgeosseumnida–saya akan makan,” kata Shinhye merespon teguran sang pemilik warung. Sebelum makan Shinhye menjepit rambutnya ke atas. Dan menyelip anak rambutnya yang terurai ke belakang telinganya. Shinhye kemudian mengambil sumpit dan mulai memakannya. “Eoh, Yonghwa-ssi, apa yang mau kau katakan padaku?” katanya dengan mulut penuh daging.
Yonghwa menatap gadis di depannya ini dengan tatapan heran. Karena begitu tertariknya gadis ini pada daging panggang di depannya itu. Dan yang lebih krusial keheranannya adalah kenapa dia bisa menyukai gadis yang makan dengan makanan penuh mulut ini? Ini bukan tipenya. Tapi kenapa dia malah terjebak dalam situasi yang dia bahkan tidak tahu jawabannya?
“Makanlah pelan-pelan nanti kau tersedak?” tegur Yonghwa.
“Kau mau?” Shinhye mengapit daging babinya dengan sumpit dan mencoba menyuapi Yonghwa.
Yonghwa kemudian membuka mulutnya dan ikut memakan daging itu.
“Park Shin Hye!” kata Yonghwa dengan tampang serius. “Ke depannya, kalau ada orang yang mencoba mengatakan sesuatu padamu, apa pun perkataannya—jangan langsung kau percayai. Kau tanya dulu kebenarannya padaku, arasseo?”
Mwoga–apa itu? Algosipeo–aku ingin tahu.” Shinhye menghentikan aktifitas mengunyahnya dan bertanya dengan mimik heran.
Mideojwo–hanya percaya padaku!” kata Yonghwa sambil menggenggam punggung tangan gadis di depannya ini. “Aku akan mengatakan semuanya padamu. Tapi, tidak sekarang.”
Shinhye hanya bisa mengerling pada Yonghwa dengan wajah lugu. Tapi kemudian kembali melanjutkan aktifitas memakan daging panggang di depannya itu.
Chamkkaman! Cobalah mengerling seperti tadi!”
Shinhye mengerling, menuruti perintah Yonghwa.
“Kau benar-benar mirip...” Yonghwa menyentuh pipi Shinhye dengan kedua tangannya dan terlihat berpikir. “Aha...” Sepertinya dia mendapatkan jawabannya sehingga dengan tatapan nakal, dia berkata, “Akhirnya aku ingat hal yang pernah ingin kuprotes padamu.”
“Kau sudah ingat? Apa itu?” Shinhye memasang tampang ingin tahu.
“Kau benar-benar mirip dengan gadis yang dramanya diputar di salah satu stasiun TV, malam kemarin.”
“Kau juga menonton drama?” tanya Shinhye dengan mimik lucu.
Yonghwa kemudian melepaskan tangannya dari pipi Shinhye dan berkata, “Kang Min Hyuk memberitahuku bahwa ada gadis yang wajahnya benar-benar mirip sepertimu dalam drama itu. Oleh karena itu sesibuk apa pun, aku menyempatkan waktu untuk menonton sendiri demi memastikannya. Dan benar seperti yang dibilang Minhyuk, kalau gadis itu benar-benar mirip denganmu.”
“Lalu?”
“Kau harus nonton sendiri dan memastikannya. Kalau tidak salah judul dramanya The Heirs. Ya, The Heirs, judulnya. Ah..” Yonghwa menelengkan kepalanya sedikit. “Aku benar-benar kesal ketika Lee Min Ho mencium gadis itu, karena membayangkan kau yang ada di posisi gadis itu.”
Shinhye tertawa mengamati tingkah pria di depannya ini.
Wae useo–kenapa tertawa?” tanya Yonghwa ketika melihat Shinhye tertawa.
Hoksi–jangan-jangan, kau melempar TV-mu karena adegan Lee Min Ho mencium gadis itu?”
Yonghwa sontak menjadi gugup. Dia melongo. Tapi kemudian dia bangkit dari duduknya dan berkata, “Jibe kajja–ayo pulang!” Pipinya bersemu merah saat itu. Dia malu, karena kedapatan benar-benar melakukan hal yang dikatakan Shinhye barusan. Dia ingat bahwa dia melempar TVnya dengan bantal sofa tadi malam, karena kesal melihat adegan Lee Min Ho mencium gadis yang wajahnya mirip Park Shin Hye itu.
Ige bwa–lihat ini.” Shinhye menunjuk ke arah pipi Yonghwa yang bersemu merah tiba-tiba. “Yonghwa-ku malu?”
“Aku tunggu kau di mobil,” kata Yonghwa kemudian  membelakangi Shinhye dan berjalan meninggalkan Shinhye menuju mobilnya.


***
Sambil menunggu Shinhye di dalam mobilnya, Yonghwa kembali mengingat kejadian melempar TV dengan bantal tadi malam.
Siapa gadis ini? Kenapa dia benar-benar mirip dengan Park Shin Hye?” kata Yonghwa dengan tangan terlipat. “Huh.. Minho hyeong?” kata Yonghwa ketika melihat tokoh pria dalam drama itu adalah pria yang dia kenal. Lee Min Ho, mantan kakak seniornya waktu SMA dulu. Dia kemudian mulai terbawa serius menonton drama televisi yang sedang tayang itu.

Musik dimainkan dan lampu dipadamkan. Cha Eun Sang, gadis pengantar pesanan minuman di pesta itu menatap Kim Tan, lelaki yang dicintainya.
Senang bertemu denganmu, Cha Eun Sang dari kelas tunjangan sosial. Aku Kim Tan, anak tidak sah.”
Kim Tan berkata bahwa pesta akan dimulai sekarang. Pelan-pelan, ia melepaskan celemek yang sedang dipakai Cha Eun Sang dan kemudian melepas ikat rambut gadis itu. Kim Tan lalu mengikatkan korsase di tangan Cha Eun Sang. Dan di depan semua orang, Kim Tan mencium kening Cha Eun Sang dengan lembut.

 “Ya! Apa yang kau lakukan pada gadisku?” teriak Yonghwa bangun dari sofanya, mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke televisi tepat pada wajah Lee Min Ho atau Kim Tan itu.
“Huh..” Yonghwa menghembuskan nafas kesalnya. Untung saja dia bukan gadisku. Dan kau mantan sunbae-ku, jadi aku tidak perlu menghajarmu kalau saja tidak sengaja kita bertemu.”
Yonghwa kemudian mengangkat remot TV-nya dan memindahkan ke channel lain. Dari pada dia kebakaran janggut melihat kedekatan Lee Min Ho dengan gadis yang mirip Park Shin Hye itu.


***
Setelah memastikan mobil Yonghwa sudah menjauh dari pandangannya. Shinhye keluar dari pagar rumahnya dan menuju sebuah tempat. Begitu tiba di tempat itu, Shinhye langsung melihat wanita yang ingin bertemu dengannya sedang duduk melamun di atas bangku taman sambil menatap ke arah langit. Shinhye mendekati wanita tersebut dan membuatnya terenyak dari lamunannya.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Shinhye tanpa basa-basi.
“Apa kau tidak duduk dulu?”
Shinhye mengikuti tawaran itu. Dia duduk di sebelah wanita tersebut.
“Aku mungkin tidak bicara banyak. Tapi, seperti yang kau ketahui bahwa Yonghwa adalah calon pewaris JeGrup nanti. Dengan masa depannya seperti itu, apa kau mau menghancurkannya saat memilih untuk berkencan dengannya?
Shinhye tidak menjawab dan memilih untuk bungkam.
Wanita itu kemudian melanjutkan kalimat-kalimatnya,  “Sampai saat ini, ayah Yonghwa belum tahu tentang hubunganmu dengan Yonghwa. Kalau sampai ayahnya tahu, bukan kau yang akan disalahkan—tapi Yonghwa yang akan menanggung akibatnya,” celetuknya. “Kalau kau menyayanginya sebaiknya kau melepaskan dia, eoh!”
“Bagaimana kalau aku tak mau melakukannya?” tandas Shinhye yang membuat wanita itu kaget.
“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Yonghwa, aku tak akan segan-segan menghancurkanmu, Park Shin Hye-ssi.”
Shinhye mendengus dalam hati mendengar respon sadis wanita itu. Tapi tetap tak mau mengalah dia menantang, katanya, “Apa kau menyukainya juga, Yoojin-ssi?”
Wanita lawan bicaranya yang adalah Yoojin itu tidak menjawab pertanyaan Shinhye.
“Kalau kau benar-benar tulus menyayanginya, mari kita bersaing secara adil. Aku menyayangi Yonghwa, dan aku tidak akan melepaskannya hanya karena ancamanmu itu. Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku pulang dulu.” Shinhye bangkit dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Yoojin yang terbakar api kemarahan karena sikap berani Shinhye itu.


***
Dalam perjalanan pulang setelah dari gedung resepsi pernikahan senior SMPnya dulu, Shinhye masuk ke salah satu café untuk menikmati Latte favoritnya. Setelah pesanannya telah siap, dia mengambil sendiri minumannya, dan mencari sudut yang paling sepi sekaligus tempat baginya untuk merenung.
Setelah menarik kursi dan menikmati minuman favoritnya itu, Shinhye dikagetkan dengan kedatangan seseorang secara tiba-tiba.
“Apa kau menyesal karena pernikahannya hari ini?” tanyanya karena melihat tatapan merenung Shinhye.
Neo? Sedang apa kau di sini? Apa dari tadi kau mengikutiku?”
Ani. Sekretarisku yang melakukannya.”
Mwo?” tanya Shinhye membelalakan matanya. “Jadi sekarang kau mulai menyewa orang untuk mengikutiku?”
Aniya. Hanya hari ini saja sekretarisku mengikutimu, karena kudengar kalau hari ini kau menghadiri pernikahan mantan senior yang pernah kau sukai waktu SMP dulu.”
“Apa kau pikir aku akan jatuh cinta padanya lagi, Jung Yong Hwa-ssi?” Shinhye berkata dengan tatapan mendelik, karena kesal dengan spekulasi Yonghwa.
Yonghwa mengedikkan bahunya. “Siapa tahu?”
Shinhye mengangkat bibir atasnya sebagai tanda risih dengan respon Yonghwa. “Kau tidak ke kantor hari ini?” tanyanya mengganti topik pembicaraan.
“Apa kau tidak lihat aku sedang berpakaian kantor sekarang?” kata Yonghwa menunjuk pakaian kantor yang sedang dipakainya.
Lalu apa yang kau lakukan di sini?”
“Apa ini salah satu tempat favoritmu selain toko daging asap itu?” tanya Yonghwa mengalihkan pembicaraan. “Joha. Ini terlihat lebih baik dari toko daging panggangmu itu.”
“Kau kembalilah ke kantor, sekarang.”
“Apa kau sering ke sini?” Yonghwa mengalihkan pembicaraan lagi.
Shinhye tidak menjawab dan hanya menatap Yonghwa.
“Baiklah. Tatapan itu sebagai tanda kau mengiyakan. Kalau begitu mulai sekarang aku harus sering-sering ke sini. Dan saat aku tiba, kau harus menyambutku dengan pelukan dan ciuman hangat, oke?”
Shinhye mendengus mendengar penuturan Yonghwa yang menurutnya aneh jika dilakukan di depan umum.
“Itulah yang sering dilakukan sepasang kekasih,” kata Yonghwa dengan rasa percaya diri tinggi.
Shinhye tidak merespon dan malah meraih cangkir Latte-nya dan menyesap minumanya.
Yonghwa berdecak. “Coba lihat dirimu! Apa kau tidak tahu cara minum yang rapi?” katanya sambil menunjuk Shinhye dengan jari telunjuknya. “Lihat—kau bahkan meninggalkan bekas krim di atas bibirmu? Apa kau sering melakukan ini saat ada pemuda lain di sampingmu dan berpura-pura tidak menyadarinya?”
Shinhye mengangkat bibir atasnya lagi kesal dengan pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal Yonghwa.
“Apa kau mau aku menghapus krimnya dengan bajuku? Aniya. Aku harus ke kantor sebentar. Kemarilah!” Yonghwa bangkit berdiri hendak mendekatkan wajahnya dengan wajah Shinhye.
Tapi secepat kilat Shinhye menghapus bekas krim di atas bibirnya dengan lidahnya. “Kau tidak perlu melakukannya. Sekarang sudah bersih,kata Shinhye dan menjauhkan wajahnya dari wajah Yonghwa.
“Kau seharusnya membiarkanku menghapusnya dengan bibirku.”
Shinhye menelan ludah, gugup.
“Banyak gadis di drama sering membiarkan pemuda yang mereka cintai menghapus bekas krim mereka dengan bibir pemuda itu,” kata Yonghwa kembali duduk, kesal karena tidak berhasil melancarkan aksinya.
“Aku bukan gadis dalam drama-dramamu itu. Karena aku tidak akan pernah melakukannya, Yonghwa-ssi.”
“Baiklah. Kali ini aku tenang, karena tentunya kau belum pernah dan mungkin tidak pernah melakukan foam kiss dengan orang lain. Ingat, Park Shin Hye! Krimmu yang selanjutnya, kau harus membiarkanku yang pertama menghapusnya. Arraseo? Bangunlah! Aku akan mengantarmu pulang.”


***
“Ah... hari ini aku benar-benar lelah,” keluh Sooji setelah membalikkan tanda close di papan gantung yang ada di pintu JeResto.
“Apa kau pikir hanya kau seorang yang lelah?” timpal Jiwon sambil memukul-mukul pundaknya yang sedikit keram.
Setelah semua karyawan mengemas barang-barang mereka dan hendak pulang, Yonghwa tiba-tiba masuk dan mengajak mereka untuk minum dan karaoke bersama. Para karyawan setuju untuk melakukan hal-hal itu, hanya sebagai pelepas lelah. Begitu tiba di tempat karaoke dan memesan minuman beserta penganan lainnya. Karyawan restaurant mulai bertaruh untuk memainkan permainan Yaja time. Game di mana memperbolehkan junior untuk berbicara tidak resmi pada seniornya.
“Kita mulai dari yang paling tua di sini,” kata Minho membuka permainan. “Manajer Yoo, apakah kebiasaanmu suka memerintah? Apa kau tidak bisa mengerjakan pekerjaan di restaurant sendiri, Yoo Jae Seok?” Minho menekankan pada tiga kata nama Manajer Yoo.
Yonghwa dan semua karyawan menertawakan tingkah kesal Manajer Yoo. Tapi Manajer Yoo tidak bisa membalas apa-apa. Karena ini hanya permainan saja. Setelah Minho yang berbicara banmal pada Manajer Yoo. Kini gilirannya Hyejoon yang bicara banmal. Dan tanpa berpikir panjang siapa yang harus dijadikannya lawan bicara, gadis itu langsung memilih Yonghwa sebagai targetnya.
“Jung Yong Hwa, kapan ciuman pertamamu?” tanya Hyejoon yang sontak membuat Shinhye dan Yonghwa menatapnya.
“Itu. Apa aku boleh menjawabnya?” tanya Yonghwa berbalik menatap Shinhye.
“Kau harus menjawabnya karena kalau tidak, kau akan dihukum,” tambah Hyejoon semakin berbicara dengan kalimat dan nada yang terdengar informal.
“SD. Ciuman pertamaku kudapatkan sewaktu SD.” Yonghwa menjawabnya meski ragu-ragu sebentar.
Daebak! Kau benar-benar hebat, Jung Yong Hwa,” timpal Manajer Yoo.
“Apa kau sudah pernah mencium Shinhye?” Hyejoon mengajukan pertanyaan lain lagi.
“Kecuali itu, aku tidak bisa menjawabnya.”
“Jika kau tidak menjawab, maka kau harus minum!” kata karyawan yang lainnya.
“Aku tidak bisa minum banyak, karena aku harus menyetir,” tolak Yonghwa.
“Apa kau mau aku menjadi mawar hitammu, oppa?” tawar Sooji pada Yonghwa sambil menjulurkan lidahnya pada Shinhye.
Aniya. Kau masih kecil dan kau tidak diperbolehkan minum,” kata Shinhye kemudian meminum bagiannya Yonghwa.
Selesai karaoke, bermain Yaja, dan minum-minum, mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Yonghwa membopong Shinhye masuk ke dalam mobilnya, karena gadis itu sudah mabuk berat. Begitu masuk ke dalam mobil, dan hendak memasangkan sabuk pengaman pada Shinhye, tiba-tiba dasi Yonghwa ditarik oleh Shinhye. Kini wajah keduanya hanya berjarak sejengkal.
“Ciuman pertamamu saat SD?” tanya Shinhye dalam keadaan mabuk berat.
Kau, kau lebih memilih minum daripada berkata sejujurnya. Sekarang lihat—” Yonghwa berdecak sambil memasangkan sabuk pengaman pada Shinhye. “kau benar-benar hilang kendali.”
“Ciuman pertamaku bahkan denganmu, Jung Yong Hwa-ssi.” Kali ini Shinhye melepas genggamannya pada dasi Yonghwa dan menepuk-nepuk pipi pria itu dengan kedua tangannya.
“Kau benar-benar mabuk, Park Shin Hye,” kata Yonghwa sembari tersenyum bahagia mendapati dirinyalah di mana Shinhye mendaratkan ciuman pertamanya itu.



 To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar