Part
19
“Shinhye-ssi, apa kau tidak lihat
cara Jongsuk oppa menatapku tadi di kelas? Ah.. aku rasa tidak
lama lagi dia akan menyatakan
perasaannya padaku, kan?” kata teman
duduk Shinhye di kelas bisnis tadi.
Shinhye hanya bisa membelalakan matanya
mendengar penuturan sepihak temannya itu. Memang sudah menjadi kebiasaan perempuan yang sedang berjalan di
sampingnya ini untuk mengidolakan dirinya sendiri. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa dialah idaman para lelaki. Perempuan di sampingnya terus
berkoar meski Shinhye sudah memasang tampang bosan dengan ceritanya yang selalu meninggikan diri. Tapi sepertinya dia
tidak sadar dengan tindakan terang-terangan Shinhye itu.
“Aku yakin bukan kau yang Jongsuk oppa tatap, kan? Pasti! Bukan kau tapi aku, maji–benarkan?”
“Hmm..” Shinhye hanya mengiyakan. Karena
malas harus berdebat dengan gadis di sampingnya ini.
Begitu kedua gadis ini tiba di depan gerbang
kampus. Seorang pria dengan tampang
sumringah berdiri di samping mobil mewahnya dan menatap kedatangan kedua yeoja
ini. Senyuman lembutnya seakan memberi kesan pada warna jas middle blue yang dipakainya.
“Omo, omo.
Itu Jung Yong Hwa, keponakan pemilik kampus ini, kan?” tanya gadis si
percaya diri itu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Shinhye tetap berjalan tanpa memedulikan
omongan gadis itu.
“Apa dia sedang menatap kita? Ani—Dia pasti sedang menatapku.” Gadis
itu kemudian mulai memperbaiki gaya rambut dan pakaiannya. Dia bahkan
sempat-sempatnya mengambil kaca riasnya dan memperbaiki riasan wajahnya.
Shinhye
mendengus lucu melihat tindakan gadis ini. “Eoh, mungkin Jung Yong Hwa-mu sedang menunggumu untuk
naik mobil bersama.” Shinhye berkata dengan nada sinis. Dengan bangga Shinhye
mengatakan, “Tidak mungkin untuk aku kan—senyuman Jung Yong Hwa itu?” Shinhye
berakting. Berhubung gadis di sampingnya ini perlu dikerjai.
Gadis itu mengangguk mantap membenarkan kata-kata Shinhye.
“Aku yakin dia sedang menatap salah satu
di antara kita. Karena senyuman itu tertuju pada kita?” kata gadis itu
semakin percaya diri.
“Apa kau tidak mau memastikan dulu di
belakangmu tidak ada orang?” ujar Shinhye, nadanya lebih sinis dari sebelumnya.
“Tidak. Tidak ada orang di belakang kita,”
katanya sangat yakin, setelah memastikan bahwa di belakangnya tidak ada orang. “Aku yakin dia tersenyum pada salah satu di antara kita. Itu pasti aku?
Tidak mungkin kau, kan? Apa
mungkin dia akan mengajakku jalan-jalan?” oceh gadis itu dengan tampang
sumringah.
Begitu tiba di depan Yonghwa, dengan
bangga gadis itu menyapa Yonghwa dengan sapaan akrab. “Annyeong!” ucapnya dibuat lembut sebisa mungkin.
Yonghwa dengan tampang melongo, memandang gadis itu dari ujung kepala
sampai kakinya. Kemudian dengan sinis dia berkata, “Nuguseyo? Kenapa kau berbicara banmal padaku? Apa kita sudah pernah saling
mengenal sebelumnya?”
Gadis itu tersontak, kaget. Kemudian dengan tampang bingung dia berkata, “Kalau begitu kau tersenyum pada siapa
tadi? Tidak mungkin padanya, kan?” Tunjuknya ke arah Park Shin Hye.
“Heol!” Shinhye mencibir.
“Aku tersenyum pada gadis di sebelahmu,
yang kau ragukan itu.” Yonghwa mengangkat dagunya mengarah pada Park Shin Hye. “Kachi ka–ayo pergi bersama!” Ajakan Yonghwa pada Shinhye seakan
membungkam mulut gadis itu.
“Eoh, kau menjemputku?” tanya Shinhye pura-pura
kaget sambil menunjuk dirinya
sendiri. “Soohyun-ssi,
mianhae. Kami pergi dulu.”
Shinhye pamit dan masuk ke dalam mobil Yonghwa, meninggalkan gadis bernama Soohyun dengan tampang menyedihkan karena
merasa dirinya baru saja dipermainkan oleh Shinhye.
“Azza.”
Shinhye mengibaskan tangannya di udara. “Kau
lihat wajahnya tadi? Seandainya dia punya jenggot, mungkin jenggotnya sudah
terbakar habis,” ungkapnya benar-benar
bahagia, karena bisa
mematahkan rasa percaya diri Soohyun yang berlebihan itu.
“Kau terlihat senang sekali. Bagaimana
kalau kau mentraktirku hari ini?” tawar Yonghwa sambil menancapkan gas mobilnya
keluar dari lingkungan kampus.
“Mwo? Kau yang mengajak bertemu, seharusnya kau yang mentraktirku.”
“Aku mau kau yang mentraktirku kali ini.
Anggap saja sebagai balas budi karena menggunakanku sebagai bahan balas
dendammu tadi.”
Shinhye mengangkat bibir atasnya, kebiasaannya
kalau sedang kesal. Tapi kemudian, dia menyetujui alasan Yonghwa. “Baiklah.”
***
Begitu turun dari mobil, Shinhye langsung
menghirup aroma sedap daging asap, makanan yang menjadi ciri khas warung makan favoritnya
itu. Dengan
senyuman yang melengkung, Shinhye menyapa bibi pemilik warung tersebut.
Kemudian dengan cepat dia menyambar tangan Yonghwa dan menarik pria yang masih
berdiri di samping mobil itu untuk masuk mengikutinya ke dalam warung.
“Apa tidak ada tempat lain lagi di Seoul
selain tempat ini?”
“Kalau kau tidak mau makan di tempat ini,
kau boleh pulang.” Shinhye manarik kursi dan kemudian duduk di atasnya dan
langsung memesan dua porsi daging babi asap dan beberapa menu lainnya.
Yonghwa kemudian ikut menarik kursi dan
duduk berhadapan dengan Shinhye.
Begitu menu yang dipesan Shinhye tiba. Sang pemilik toko kemudian
mengucapkan selamat makan pada tamu-tamunya.
“Jal
meokgeosseumnida–saya akan makan,” kata Shinhye merespon teguran sang
pemilik warung. Sebelum makan Shinhye menjepit rambutnya ke atas. Dan menyelip
anak rambutnya yang terurai ke belakang telinganya. Shinhye kemudian mengambil
sumpit dan mulai memakannya. “Eoh, Yonghwa-ssi, apa yang mau
kau katakan padaku?” katanya dengan mulut penuh daging.
Yonghwa menatap gadis di depannya ini
dengan tatapan heran. Karena begitu tertariknya gadis ini pada daging panggang
di depannya itu. Dan yang lebih
krusial keheranannya adalah kenapa dia bisa menyukai gadis yang makan dengan
makanan penuh mulut ini? Ini
bukan tipenya. Tapi kenapa dia malah terjebak dalam situasi yang dia bahkan
tidak tahu jawabannya?
“Makanlah pelan-pelan nanti kau tersedak?” tegur Yonghwa.
“Kau mau?” Shinhye mengapit daging babinya
dengan sumpit dan mencoba menyuapi Yonghwa.
Yonghwa kemudian membuka mulutnya dan ikut
memakan daging itu.
“Park Shin Hye!” kata Yonghwa dengan tampang
serius. “Ke depannya, kalau ada orang yang mencoba mengatakan sesuatu padamu,
apa pun perkataannya—jangan langsung kau
percayai. Kau tanya dulu
kebenarannya padaku, arasseo?”
“Mwoga–apa
itu? Algosipeo–aku ingin tahu.”
Shinhye menghentikan aktifitas mengunyahnya dan bertanya dengan mimik heran.
“Mideojwo–hanya
percaya padaku!” kata Yonghwa sambil menggenggam punggung tangan gadis di
depannya ini. “Aku akan mengatakan semuanya padamu. Tapi, tidak sekarang.”
Shinhye hanya bisa mengerling pada Yonghwa
dengan wajah lugu. Tapi kemudian kembali melanjutkan aktifitas memakan daging panggang di depannya itu.
“Chamkkaman! Cobalah mengerling seperti tadi!”
Shinhye mengerling, menuruti perintah
Yonghwa.
“Kau benar-benar mirip...” Yonghwa
menyentuh pipi Shinhye dengan kedua tangannya dan terlihat berpikir. “Aha...”
Sepertinya dia mendapatkan jawabannya sehingga dengan tatapan nakal, dia
berkata, “Akhirnya aku ingat
hal yang pernah ingin
kuprotes padamu.”
“Kau sudah ingat? Apa itu?” Shinhye
memasang tampang ingin tahu.
“Kau benar-benar mirip dengan gadis yang
dramanya diputar di salah satu stasiun TV, malam kemarin.”
“Kau juga menonton drama?” tanya Shinhye
dengan mimik lucu.
Yonghwa kemudian melepaskan tangannya dari
pipi Shinhye dan berkata, “Kang Min Hyuk memberitahuku bahwa ada gadis yang
wajahnya benar-benar mirip sepertimu dalam drama itu. Oleh karena itu sesibuk apa pun, aku menyempatkan
waktu untuk menonton sendiri demi
memastikannya. Dan benar seperti yang dibilang Minhyuk, kalau gadis itu
benar-benar mirip denganmu.”
“Lalu?”
“Kau harus nonton sendiri dan
memastikannya. Kalau tidak salah
judul dramanya The Heirs. Ya, The
Heirs, judulnya. Ah..” Yonghwa
menelengkan kepalanya sedikit. “Aku benar-benar kesal ketika Lee Min Ho mencium gadis itu, karena membayangkan
kau yang ada di posisi gadis itu.”
Shinhye tertawa mengamati tingkah pria di depannya
ini.
“Wae useo–kenapa
tertawa?” tanya Yonghwa ketika melihat Shinhye tertawa.
“Hoksi–jangan-jangan, kau melempar TV-mu karena adegan Lee Min Ho mencium gadis itu?”
Yonghwa sontak menjadi gugup. Dia melongo.
Tapi kemudian dia bangkit dari
duduknya dan berkata, “Jibe kajja–ayo
pulang!” Pipinya bersemu merah saat itu. Dia malu, karena kedapatan benar-benar
melakukan hal yang dikatakan
Shinhye barusan. Dia ingat bahwa dia melempar TVnya dengan bantal sofa tadi
malam, karena kesal melihat adegan Lee Min Ho mencium gadis yang wajahnya mirip Park Shin Hye
itu.
“Ige bwa–lihat
ini.” Shinhye menunjuk ke arah pipi Yonghwa yang bersemu merah tiba-tiba. “Yonghwa-ku malu?”
“Aku tunggu kau di mobil,” kata Yonghwa
kemudian membelakangi Shinhye dan
berjalan meninggalkan Shinhye menuju mobilnya.
***
Sambil menunggu Shinhye di dalam mobilnya, Yonghwa
kembali mengingat kejadian melempar TV dengan bantal tadi malam.
“Siapa gadis
ini? Kenapa dia benar-benar mirip
dengan Park Shin Hye?” kata Yonghwa dengan tangan terlipat. “Huh.. Minho hyeong?” kata Yonghwa ketika melihat tokoh pria dalam drama itu adalah pria yang dia kenal. Lee Min Ho, mantan kakak seniornya waktu SMA
dulu. Dia
kemudian mulai terbawa serius menonton drama televisi yang sedang tayang
itu.
Musik dimainkan dan lampu dipadamkan. Cha Eun Sang, gadis
pengantar pesanan minuman di pesta itu menatap Kim Tan, lelaki yang dicintainya.
“Senang bertemu denganmu, Cha Eun Sang dari kelas tunjangan sosial. Aku Kim Tan, anak tidak sah.”
Kim Tan berkata bahwa pesta akan dimulai sekarang.
Pelan-pelan, ia melepaskan celemek yang sedang dipakai Cha Eun Sang dan kemudian melepas ikat rambut gadis itu.
Kim Tan lalu mengikatkan korsase di
tangan Cha Eun Sang. Dan di depan
semua orang, Kim Tan mencium kening
Cha Eun Sang dengan lembut.
“Ya! Apa yang kau lakukan pada
gadisku?” teriak Yonghwa bangun dari sofanya,
mengambil bantal sofa dan melemparkannya ke televisi tepat pada wajah Lee Min Ho atau Kim Tan itu.
“Huh..” Yonghwa menghembuskan nafas kesalnya. “Untung
saja dia bukan gadisku. Dan kau
mantan sunbae-ku, jadi aku tidak perlu menghajarmu kalau saja
tidak sengaja kita bertemu.”
Yonghwa kemudian
mengangkat remot TV-nya dan memindahkan ke channel lain. Dari pada dia kebakaran janggut
melihat kedekatan Lee Min Ho dengan
gadis yang mirip Park Shin Hye itu.
***
Setelah memastikan mobil Yonghwa sudah menjauh
dari pandangannya. Shinhye keluar
dari pagar rumahnya dan menuju sebuah tempat. Begitu tiba di tempat itu,
Shinhye langsung melihat wanita yang ingin bertemu dengannya sedang duduk melamun di atas bangku taman sambil menatap ke
arah langit. Shinhye mendekati wanita tersebut dan membuatnya terenyak dari
lamunannya.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya
Shinhye tanpa basa-basi.
“Apa kau tidak duduk dulu?”
Shinhye mengikuti tawaran itu. Dia duduk di
sebelah wanita tersebut.
“Aku mungkin tidak bicara banyak. Tapi, seperti
yang kau ketahui bahwa Yonghwa adalah calon pewaris JeGrup nanti. Dengan masa depannya seperti itu, apa kau mau menghancurkannya saat memilih
untuk berkencan dengannya?”
Shinhye tidak
menjawab dan memilih untuk bungkam.
Wanita itu kemudian
melanjutkan kalimat-kalimatnya, “Sampai saat ini, ayah Yonghwa belum tahu tentang hubunganmu
dengan Yonghwa. Kalau sampai ayahnya tahu, bukan kau yang akan
disalahkan—tapi Yonghwa yang akan menanggung akibatnya,” celetuknya. “Kalau kau menyayanginya sebaiknya
kau melepaskan dia, eoh!”
“Bagaimana kalau aku tak mau melakukannya?” tandas
Shinhye yang membuat wanita itu kaget.
“Kalau sampai terjadi sesuatu pada Yonghwa, aku tak akan segan-segan
menghancurkanmu, Park Shin Hye-ssi.”
Shinhye mendengus dalam hati mendengar respon
sadis wanita itu. Tapi tetap tak mau mengalah dia
menantang, katanya, “Apa kau menyukainya juga, Yoojin-ssi?”
Wanita lawan bicaranya yang adalah Yoojin itu tidak menjawab pertanyaan
Shinhye.
“Kalau kau benar-benar tulus menyayanginya, mari
kita bersaing secara adil. Aku menyayangi Yonghwa, dan aku tidak akan melepaskannya hanya karena
ancamanmu itu. Kalau tidak
ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku pulang dulu.” Shinhye bangkit dari
duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Yoojin yang terbakar api kemarahan karena
sikap berani Shinhye itu.
***
Dalam perjalanan pulang setelah
dari gedung resepsi pernikahan senior SMPnya dulu, Shinhye masuk ke salah satu café untuk menikmati Latte favoritnya. Setelah pesanannya
telah siap, dia mengambil sendiri
minumannya, dan mencari sudut
yang paling sepi sekaligus tempat baginya untuk merenung.
Setelah menarik kursi dan menikmati minuman
favoritnya itu, Shinhye dikagetkan dengan kedatangan seseorang
secara tiba-tiba.
“Apa kau menyesal karena pernikahannya
hari ini?” tanyanya karena melihat tatapan merenung Shinhye.
“Neo? Sedang apa kau di sini? Apa dari tadi
kau mengikutiku?”
“Ani. Sekretarisku yang melakukannya.”
“Mwo?”
tanya Shinhye membelalakan matanya. “Jadi sekarang kau mulai menyewa orang
untuk mengikutiku?”
“Aniya. Hanya hari ini saja sekretarisku
mengikutimu, karena kudengar kalau
hari ini kau menghadiri pernikahan mantan senior yang pernah kau sukai waktu
SMP dulu.”
“Apa kau pikir aku akan jatuh cinta
padanya lagi, Jung Yong Hwa-ssi?”
Shinhye berkata dengan tatapan mendelik, karena kesal dengan spekulasi Yonghwa.
Yonghwa mengedikkan bahunya. “Siapa tahu?”
Shinhye mengangkat bibir atasnya sebagai
tanda risih dengan respon Yonghwa. “Kau tidak ke kantor hari ini?” tanyanya
mengganti topik pembicaraan.
“Apa kau tidak lihat aku sedang berpakaian
kantor sekarang?” kata Yonghwa menunjuk pakaian kantor yang sedang dipakainya.
“Lalu apa yang kau lakukan di sini?”
“Apa ini salah satu tempat favoritmu
selain toko daging asap itu?” tanya Yonghwa mengalihkan pembicaraan. “Joha.
Ini terlihat lebih baik dari toko daging panggangmu itu.”
“Kau kembalilah ke kantor, sekarang.”
“Apa kau sering ke sini?” Yonghwa
mengalihkan pembicaraan lagi.
Shinhye tidak menjawab dan hanya menatap
Yonghwa.
“Baiklah. Tatapan itu sebagai tanda kau
mengiyakan. Kalau begitu mulai sekarang aku harus sering-sering ke sini. Dan
saat aku tiba, kau harus menyambutku dengan pelukan dan ciuman hangat, oke?”
Shinhye mendengus mendengar penuturan
Yonghwa yang menurutnya aneh jika dilakukan di depan umum.
“Itulah yang sering dilakukan sepasang
kekasih,” kata Yonghwa dengan rasa percaya diri tinggi.
Shinhye tidak merespon dan malah meraih
cangkir Latte-nya dan menyesap minumanya.
Yonghwa berdecak. “Coba lihat dirimu! Apa kau tidak tahu
cara minum yang rapi?” katanya sambil menunjuk Shinhye dengan jari
telunjuknya. “Lihat—kau bahkan meninggalkan bekas krim di atas
bibirmu? Apa kau sering melakukan ini saat ada pemuda lain di sampingmu dan
berpura-pura tidak menyadarinya?”
Shinhye mengangkat bibir atasnya lagi
kesal dengan pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal Yonghwa.
“Apa kau mau aku menghapus krimnya dengan bajuku? Aniya. Aku harus ke kantor sebentar. Kemarilah!” Yonghwa bangkit
berdiri hendak mendekatkan wajahnya dengan wajah Shinhye.
Tapi secepat kilat Shinhye menghapus bekas
krim di atas bibirnya dengan lidahnya. “Kau tidak perlu melakukannya. Sekarang
sudah bersih,” kata Shinhye dan menjauhkan wajahnya dari wajah Yonghwa.
“Kau seharusnya membiarkanku menghapusnya
dengan bibirku.”
Shinhye menelan ludah, gugup.
“Banyak gadis di drama sering membiarkan
pemuda yang mereka cintai menghapus bekas krim mereka dengan bibir pemuda itu,” kata Yonghwa
kembali duduk, kesal karena tidak berhasil melancarkan aksinya.
“Aku bukan gadis dalam drama-dramamu itu.
Karena aku tidak akan pernah melakukannya, Yonghwa-ssi.”
“Baiklah. Kali ini aku tenang, karena
tentunya kau belum pernah dan mungkin tidak pernah melakukan foam kiss dengan orang lain. Ingat, Park
Shin Hye! Krimmu yang selanjutnya, kau harus membiarkanku yang pertama
menghapusnya. Arraseo? Bangunlah! Aku akan mengantarmu pulang.”
***
“Ah... hari ini aku benar-benar lelah,”
keluh Sooji setelah
membalikkan tanda close di papan gantung yang
ada di pintu JeResto.
“Apa kau pikir hanya kau seorang yang
lelah?” timpal Jiwon sambil
memukul-mukul pundaknya yang sedikit keram.
Setelah semua karyawan mengemas barang-barang
mereka dan hendak pulang, Yonghwa tiba-tiba masuk dan mengajak
mereka untuk minum dan
karaoke bersama. Para karyawan setuju untuk melakukan hal-hal itu, hanya
sebagai pelepas lelah. Begitu tiba
di tempat karaoke dan memesan minuman beserta penganan lainnya. Karyawan restaurant mulai bertaruh untuk
memainkan permainan Yaja time. Game di mana memperbolehkan junior untuk berbicara
tidak resmi pada seniornya.
“Kita mulai dari yang paling tua di sini,”
kata Minho membuka permainan.
“Manajer Yoo, apakah kebiasaanmu suka memerintah? Apa kau tidak bisa
mengerjakan pekerjaan di restaurant
sendiri, Yoo Jae Seok?” Minho menekankan pada tiga kata nama Manajer
Yoo.
Yonghwa dan semua karyawan menertawakan
tingkah kesal Manajer Yoo. Tapi Manajer Yoo tidak bisa membalas apa-apa. Karena
ini hanya permainan saja. Setelah
Minho yang berbicara banmal pada
Manajer Yoo. Kini gilirannya Hyejoon yang bicara banmal. Dan tanpa berpikir panjang siapa yang harus
dijadikannya lawan bicara, gadis itu
langsung memilih Yonghwa
sebagai targetnya.
“Jung Yong Hwa, kapan ciuman pertamamu?”
tanya Hyejoon yang sontak membuat Shinhye dan Yonghwa menatapnya.
“Itu. Apa aku boleh menjawabnya?” tanya
Yonghwa berbalik menatap Shinhye.
“Kau harus menjawabnya karena kalau tidak,
kau akan dihukum,” tambah Hyejoon semakin berbicara dengan kalimat dan nada
yang terdengar informal.
“SD. Ciuman pertamaku kudapatkan sewaktu
SD.” Yonghwa menjawabnya meski ragu-ragu sebentar.
“Daebak! Kau benar-benar hebat, Jung Yong Hwa,”
timpal Manajer Yoo.
“Apa kau sudah pernah mencium Shinhye?”
Hyejoon mengajukan pertanyaan lain lagi.
“Kecuali itu, aku tidak bisa menjawabnya.”
“Jika kau tidak menjawab, maka kau harus minum!” kata karyawan yang
lainnya.
“Aku tidak bisa minum banyak, karena aku
harus menyetir,” tolak Yonghwa.
“Apa kau mau aku menjadi mawar hitammu, oppa?” tawar Sooji pada Yonghwa sambil menjulurkan lidahnya pada Shinhye.
“Aniya.
Kau masih kecil dan kau tidak diperbolehkan minum,” kata Shinhye kemudian
meminum bagiannya Yonghwa.
Selesai karaoke, bermain Yaja, dan
minum-minum, mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Yonghwa membopong Shinhye masuk ke dalam
mobilnya, karena gadis itu sudah mabuk berat. Begitu masuk ke dalam mobil, dan hendak
memasangkan sabuk pengaman pada Shinhye, tiba-tiba dasi Yonghwa ditarik oleh
Shinhye. Kini wajah keduanya hanya berjarak sejengkal.
“Ciuman pertamamu saat SD?” tanya Shinhye dalam
keadaan mabuk berat.
“Kau, kau lebih memilih minum
daripada berkata sejujurnya. Sekarang
lihat—” Yonghwa berdecak sambil memasangkan sabuk pengaman pada
Shinhye. “kau benar-benar hilang kendali.”
“Ciuman pertamaku bahkan denganmu, Jung
Yong Hwa-ssi.” Kali ini Shinhye
melepas genggamannya pada dasi Yonghwa dan menepuk-nepuk pipi pria itu dengan
kedua tangannya.
“Kau benar-benar mabuk, Park Shin Hye,”
kata Yonghwa sembari tersenyum bahagia mendapati dirinyalah di mana
Shinhye mendaratkan ciuman pertamanya
itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar