"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Jumat, 15 Juli 2016

Rain of Autumn Part 11

Part 11



“Kau berani bertaruh berapa bahwa Yoo Jin itu kekasihnya?" Shinhye berkoar-koar dengan semangat.
Jiwon tidak merespon, tapi malah melotot-lotot tidak jelas ke arah Shinhye.
"Wae?"
"Aku bertaruh sejuta Won bahwa Yoojin itu bukan kekasihku."
Suara dari balik punggung Shinhye, mengagetkannya.
Shinhye berbalik dan kaget  mendapati Yonghwa sudah di depannya. "Eoh, bos? Kau di sini?" Wajah Shinhye mengerut saat mengucapkan kalimat-kalimat itu.
Yonghwa menggerakan kepalanya sebagai gesture untuk menyuruh Jiwon keluar. Jiwon pun menurutinya.
"PARK-SHIN-HYE!" Yonghwa menekankan setiap kata pada nama Shinhye. "Berapa banyak uang yang sudah kau dapatkan dari taruhan ini?"
Shinhye menggeleng.
Yonghwa mendengus. "Kau benar-benar tidak peka. Apa kau tidak menyesal menjadikan orang lain objek taruhanmu, eoh?" kata Yonghwa sedikit mengencangkan volume suaranya.
Shinhye meringis. Sedetik kemudian dia merasa bersalah dan mengatakan, "Mianhamnida."
Yonghwa mendengus lagi. "Semua penjahat juga mengatakan kata itu. Tapi mereka tetap saja dihukum," kata Yonghwa menohok.
Shinhye memilih untuk diam karena merasa dalam hal ini, dia memang bersalah.
"Park Shin Hye, apa kau benar-benar menyesal?"
Shinhye mengangguk.
"Kalau begitu sebagai hukumanmu, sekarang ganti bajumu dan ikut aku! Ppalli!"
"Untuk?"
"Jangan banyak tanya! Aku tunggu di mobil." Yonghwa berjalan duluan meninggalkan Shinhye.

***
Dalam perjalan menuju tempat yang sampai sekarang pun Shinhye tidak tahu, Shinhye dan Yonghwa memilih untuk tetap bungkam atau tidak bersuara. Hanya suara bising kendaraan dari luar yang menemani perjalanan mereka. Sampai akhirnya, Shinhye menyerah dan bertanya pada Yonghwa. "Kita akan ke mana?" tanyanya memecah keheningan
"Bandara," jawab Yonghwa singkat.
"Menjemput sahabatmu itu?"
Yonghwa hanya mengangguk dan tetap fokus menyetir.
Tiga puluh menit berlalu mereka tiba di Bandara Internasional Incheon.
Setelah memarkir mobil, Yonghwa dan Shinhye membuka pintu mobil dan turun, kemudian dengan langkah cepat mereka masuk ke dalam gedung besar di bandara itu.
"Kau tetaplah di sini," kata Yonghwa pada Shinhye yang memilih menunggu di hall kedatangan bandara tersebut. "Aku akan menunggu Yoojin di sana," kata Yonghwa dengan langkah yang perlahan mulai menjauh dari Shinhye dan kemudian berbaur dengan beberapa orang di terminal kedatangan yang juga sedang menunggu kenalan mereka. Beberapa menit menunggu, Yonghwa tak kunjung datang. Shinhye mulai jenuh dan kemudian memilih untuk berjalan-jalan menikmati keindahan taman indoor di bandara tersebut. Belum lama menikmati keindahan taman kaktus, Shinhye akhirnya sadar kalau dia lupa membawa ponsel dan sepertinya dia harus segera kembali ke tempat menunggu sebelumnya agar tidak kehilangan Yonghwa. Begitu kembali ke tempat sebelumnya, tidak lama kemudian Shinhye melihat Yonghwa datang dengan seorang gadis yang ramping dan tinggi semampai. Dari penampilan gadis itu saja membuat Shinhye merasa sangat terbelakang. Gadis itu sangat pantas berjalan di samping Yonghwa. Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang fashionable. Penampilan luar gadis itu tampak sekali kalau dia itu wanita Parisian Style. Mata Shinhye naik turun menyapu keseluruhan penampilan gadis yang perlahan sedang menuju ke arahnya ini. Gadis itu menggunakan atasan Breton stripped shirt dan bawahannya skinny jeans bermerk yang sepadan dengan kaki jenjangnya. Meski saat ini dia hanya menggunakan flat shoes, tapi sepatu itu terlihat sangat cantik di kakinya. Tidak kalah tas bermerk Louis Vuitton yang menggantung manis di lengannya. Dia benar-benar memiliki penampilan wanita Paris. Ketika dilihatnya langkah Yonghwa dan gadis itu yang semakin mendekat, Shinhye pura-pura membalikkan wajahnya ke arah lain agar tidak kelihatan bahwa dia baru saja memerhatikan mereka.
"Park Shin Hye," panggil Yonghwa.
Shinhye berbalik. "Eoh, kau sudah di sini?" katanya berpura-pura.
"Siapa dia?" tanya wanita yang jelas sekali namanya adalah Yoojin ini. Wajahnya tampak tidak senang dengan kehadiran Shinhye.
"Dia karyawan di JeResto," kata Yonghwa dan kemudian mulai memperkenalkan mereka satu per satu. "Yoojin ini Shinhye. Shinhye ini Yoojin."
Saat Shinhye membungkuk dan mengucapkan salam perkenalan, Yoojin malah mengacuhkannya.
"Eoh, mana LEE-HYUN[1] bersaudara?” tanya Yoojin celingak-celinguk mencari keberadaan Lee-Hyun bersaudara saat itu.
Tidak ada jawaban dari Yonghwa.
"Sesibuk apa sih mereka, sampai tidak bisa menjemputku?" dumel Yoojin. Bibirnya yang manyun saat itu membuat pipi chubby-nya ikut mengembung. Namun dia tetap saja terlihat cantik.
Kajja!” ajak Yonghwa agar tidak terlalu membuang waktu di bandara.

***
Setelah memastikan Yoojin dan Shinhye sudah masuk ke dalam mobilnya. Yonghwa mengendalikan stir mobilnya dan keluar dari Bandara Internasional Korea Selatan itu. Di sepanjang perjalanan mereka terisi oleh suasana yang khidmat. Sampai akhirnya Yoojin membuka kaca jendela mobil Yonghwa dan berusaha menghirup udara kota Incheon sore itu. Dari situlah suasana khidmat itu berubah menjadi suasana ketika kau sedang berada di padang pasir. Panas!
“Wah.. sudah lama aku tidak menghirup udara Korea Selatan,” kata Yoojin membuka pembicaraan.
“Tidak sebaik kotamu kan?” Yonghwa ikut nimbrung dalam pembicaraan.
Yoojin tidak membalas, tapi kemudian berkata, "Chammkaman!" kata Yoojin teringat sesuatu. "Apa kita akan singgah di SMA kita dulu?" tanyanya yang tentunya pertanyaan itu ditujukan pada mantan teman SMAnya, Yonghwa.
Yonghwa menjawab dengan mengangguk.
"Kalau begitu, agasshi–nona,” seruduk Yoojin. Dia berbalik menatap Shinhye yang sedang duduk di kursi belakang kemudi. “Kau sepertinya tidak bisa ikut," katanya menohok.
Kali ini Yonghwa tidak ikut nimbrung dalam percakapan. Dia lebih memilih diam.
"Yonghwa-ya." Kali ini Yoojin berbalik menatap Yonghwa dengan tatapan masyuk. "Kau sudah berjanji padaku saat aku tiba nanti di Seoul, kau akan membawaku mengunjungi SMA kita dulu. Kau tidak lupa kan?"
Yonghwa yang sudah di dalam mobil hanya mengangguk.
"Kalau begitu, ayo kita pergi mengunjungi SMA kita."
“Masih ada Shinhye di sini,” timpal Yonghwa. Sepertinya Yonghwa terlihat berat hati untuk meninggalkan Shinhye.
"Kau tidak keberatan naik bis kan, agasshi?" tanya Yoojin meminta persetujuan Shinhye.
Tidak ada kata-kata yang bisa Shinhye ucapkan selain anggukan kecilnya. Tandanya dia setuju, meski karena terpaksa. Akan lebih baik kalau dia turun daripada harus menjadi nyamuk dalam pembicaraan kedua sahabat yang lama tidak bertemu itu.
Eoh, Yonghwa, agasshi ini menyetujuinya. Ayo kita turunkan dia di halte bis terdekat.” Yoojin terdengar antusias mengucapkan kalimat ini. "Kajja!" katanya menggelendot manja di lengan Yonghwa.
Geurae, Shinhye?” Yonghwa meminta persetujuan Shinhye.
Ne. aku baru ingat kalau ada sesuatu yang harus aku urus.”
Yonghwa mengangguk mengerti. Kemudian melajukan mobilnya menuju halte bis terdekat. Shinhye hendak turun dari dalam mobil Yonghwa, tapi samar-samar dari kaca spion depan mobil Yonghwa dia melihat Yoojin sedang menatap tajam ke arahnya. Shinhye kemudian menghembuskan nafasnya dan membuka pintu mobil tersebut.
“Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku.” Yonghwa terlihat khawatir karena harus meninggalkan Shinhye sendiri.
Mendengar kalimat perhatian Yonghwa, Shinhye baru sadar kalau dia merasakan sesuatu dalam hatinya. Dia juga ingin bersama Yonghwa. Dia tidak mau ditinggal sendiri di sini. Dengan sigap tangannya hendak memegang engkol pintu mobil Yonghwa. Belum sempat menyentuh engkolnya, mobil Yonghwa sudah melaju meninggalkan Shinhye sendiri.
"Cham..," kalimat Shinhye terpotong ketika melihat mobil Yonghwa yang menghilang dari peredarannya. "Chammkaman! Jung Yong Hwa-ssi, apa kita bisa kembali ke restaurant bersama?" lanjut Shinhye dengan hati yang tertohok. Merasakan hatinya yang bagai ditikam belati, melihat Yonghwa telah pergi meninggalkannya. Shinhye baru tahu bahwa dia sepertinya telah jatuh hati pada Yonghwa. Meski selama ini dia selalu menyangkal bahwa dia telah terpesona oleh Yonghwa. Karena dia tidak ingin menyatakan bahwa dirinya memang telah menyukai Yonghwa. Tapi kali ini dengan air mata yang tertahan di pelupuk matanya, dia berkata, "Jung Yong Hwa-ssi, bisakah kau tidak pergi dengan wanita itu dan bawa aku bersamamu?" Air mata yang mengalir di pipinya disekanya karena dia tidak mau dilihat orang banyak sedang menangis tanpa alasan.

***
Di tempat lain, Yoojin malah sedang bersenang-senang menceritakan kisah-kisahnya sewaktu di Paris tentang kerja kerasnya waktu harus kursus dan sekolah mode sampai ajang peragaan busana yang sering diikutinya untuk menguji karyanya. Semua diceritakannya pada Yonghwa. Tak lama kemudian tiba-tiba perlahan Yoojin mulai mengungkit tentang Shinhye, gadis yang bahkan belum dikenalinya itu.
"Aku kembali karena tertarik ingin berbisnis di Seoul. Aku ingin menyewa gedung untuk butikku di sini. Dan kemudian memamerkan karya-karyaku sewaktu di Paris."
"Kau serius ingin berbisnis di sini?"
"Apa aku kelihatan main-main? Aku ingin tinggal di Seoul selamanya."
"Bagaimana dengan Paris?"
Kedua alis Yoojin bertaut. Dia heran dengan pertanyaan Yonghwa yang seakan tidak senang dengan kehadirannya di Seoul. "Apa kau keberatan aku kembali ke sini? Atau kau tidak mau aku mengganggu hubunganmu dengan gadis itu?"
"Gadis itu? Maksudmu?"
"Karyawanmu tadi,” ucap Yoojin blak-blakan.
“Park Shin Hye, namanya.” Yonghwa mencoba meluruskan ketidaktahuan Yoojin.
“Entahlah, Shinhye, Shinhyo atau apa pun itu. Untuk apa coba dia ikut-ikutan menjemputku?" tanya Yoojin bersungut-sungut.
"Kau pikir Shinhye itu kekasihku?" timpal Yonghwa mendengar Yoojin yang sepertinya sedang salah paham.
"Lantas, untuk apa kau membawa dia menjemputku?" ulang Yoojin manja.
Kali ini Yonghwa tertawa dengan spekulasi Yoojin. "Kau salah besar Kim Yoo Jin-ssi. Park Shin Hye itu kuajak sebagai jaga-jaga kalau saja barang bawaanmu itu terlalu banyak, aku bisa minta tolong padanya untuk membawakan barang yang lain. Tapi ternyata kau hanya membawa satu koper. Oleh karena itu, aku bisa mengatasinya sendiri tanpa bantuannya."
"Semua barang-barangku akan menyusul belakangan. Dan lagi, apa kau tidak punya karyawan pria, sehingga menyuruh dia untuk mengangkut barang-barangku?" lanjut Yoojin masih bersungut-sungut.
"Ya, Kim Yoo Jin, semua karyawan priaku sedang sibuk menyiapkan pesta kedatanganmu. Bagaimana bisa kuajak mereka? Karena kebetulan Park Shin Hye tidak punya pekerjaan untuk dikerjakan, maka kuajak dia."
"Jeongmalyo?"
"Ne. Kau puas sekarang?"
Yoojin terlihat lega mendengar jawaban Yonghwa.


***
Tidak lama berkendara, Yonghwa dan Yoojin tiba di SMA mereka dahulu. Yoojin mengajak Yonghwa melihat-lihat SMA mereka yang telah berubah seratus delapan puluh derajat. Yonghwa dan Yoojin berjalan santai ke taman sekolah di mana mereka berdua ditambah Jonghyun, biasa menghabiskan waktu kosong di sana.
"Ya, Jung Yong Hwa!” panggil Yoojin pada Yonghwa yang sedang sibuk menebarkan pandangannya pada setiap gedung sekolah mereka yang sudah mengalami perubahaan. “Apa kau masih ingat tempat itu?" Yoojin menunjuk bangku kayu yang jaraknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Yoojin berjalan ke arah di mana terdapat bangku kayu itu, dengan Yonghwa yang merendengi langkahnya.
Yonghwa duduk di atas bangku kayu yang ditunjuk Yoojin. Sedang Yoojin sendiri masih berdiri mengamati bangku kayu tersebut, hanya untuk memastikan bahwa bangku kayu tersebut masih sama dengan bangku kayunya ketika SMA dulu. Dan benar, bangku kayu itu adalah bangku kayunya dulu.
"Yonghwa-ya, apa kau tahu, di bangku ini..” Yoojin menyentuh bangku kayu yang kini tepat berada di depannya. “Jonghyun pernah menyatakan cintanya padaku?" timpalnya lagi.
"Kau pernah bilang padaku."
"Kau tahu kenapa Jonghyun memilih tempat ini?"
Yonghwa hanya menggeleng.
"Dia memilih tempat ini karena dia tahu aku sangat menyukai tempat ini." Yoojin kemudian duduk di atas bangku kayu itu dan menyentuh setiap sisi dari bangku tersebut.
"Jonghyun benar-benar hebat dalam hal memahami perasaan wanita," puji Yonghwa pada Jonghyun.
"Sebaliknya denganmu," celetuk Yoojin.
Yonghwa tidak berani menentang, karena memang begitu kenyataannya. Dia sendiri menyadari bahwa dia adalah salah satu pria yang paling lamban dalam memahami perasaan wanita.
"Jung Yong Hwa, kau tahu betul di tempat ini aku juga pernah menyatakan hal yang sama padamu," jelas Yoojin. Dia kemudian menghela nafas panjang dan kembali menghembuskannya. "Tapi sampai saat ini aku belum mendapatkan respon darimu. Jung Yong Hwa-ssi, kenapa kau terus menggantungku seperti ini?" Yoojin tengah memanyunkan bibirnya yang membuat pipi chubby-nya ikut mengembung.
"Kenapa kau menolak Jonghyun?" tanya Yonghwa yang membuat bingung Yoojin.
"Selalu saja kau membalik pertanyaan orang menjadi pertanyaanmu."
"Kau cukup jawab saja. Jawabanku tergantung dari jawabanmu," ujar Yonghwa.
"Molla," jawab Yoojin pura-pura tak tahu.
"Yoojin-ah, kau menolak Jonghyun saat itu karena kau menyayanginya hanya sebagai sahabat kan?"
Yoojin tidak mau menjawab. Dia takut kalau ternyata Yonghwa juga hanya menyayanginya sebagai seorang sahabat. Sehingga Yonghwa menggantung perasaannya sampai saat ini.
"Kau tahu, aku sangat menyayangimu. Tapi bisakah rasa sayang itu hanya sebatas sahabat?"
Benar sekali. Sesuai perkiraan Yoojin, ternyata Yonghwa hanya menganggapnya sebagai sahabat tidak lebih dari itu. Namun dari lubuk hati Yoojin yang paling dalam, dia telah memutuskan apa pun yang terjadi, Yonghwa harus jadi miliknya.

Halte Bis, Kota Incheon.
Karena terburu-buru datang ke bandara tadi, Shinhye lupa membawa dompet dan ponselnya. Ingin naik taksi untuk pulang, tapi tidak ada sepeser uang pun di kantungnya. Ingin menelepon seseorang untuk menjemputnya, tapi ponsel lupa dibawanya. Akhirnya sekarang di halte bis, di mana Yonghwa menurunkannya tadi, Shinhye tengah berdiri sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya dan sesekali menghembuskan kabut dingin dari dalam mulutnya. Sudah beberapa jam dia menunggu di halte bis itu sambil berharap Yonghwa kembali dan menjemputnya. Ada beberapa taksi yang menawarinya naik, tapi semuanya diacuhkannya, dan tetap berharap Yonghwa akan kembali. Hawa kota Incheon menjelang malam yang semakin dingin membuatnya merapatkan cardigan hitam yang dia pakai ke tubuhnya. Dan sesekali kembali berharap Yonghwa akan kembali menjemputnya.

***
Yonghwa dan Yoojin tiba di JeResto disambut oleh Jonghyun, manajer Yoo, Jiwon, Minhyuk, Jungshin (kedua pria yang ikut-ikutan, meskipun tidak mengenal Yoojin. Yang terpenting bagi mereka berdua adalah makanan yang saat itu dihidangkan. Itulah Minhyuk dan Jungshin.), Hyejoon, Minho, Donghyun dan dua koki lainnya di JeResto. Balon-balon, topi kerucut, kembang api dan sampanye membuat meriah pesta kecil untuk menyambut Yoojin. Di teras luar JeResto telah tersedia beberapa penganan dan botol-botol sampanye beserta gelas-gelas kosong. Begitu melihat pesta sambutan kecil itu, membuat Yoojin terharu dan dengan wajah gembira dia bersalaman dengan semua orang yang mempersiapkan pesta sambutan tersebut sebagai ungkapan terima kasih. Setelah bersalaman dengan semua, dia beranjak menuju Jonghyun yang berdiri paling belakang dari barisan orang-orang yang bersalaman dengannya. Jonghyun tersenyum saat melihat Yoojin menghampirinya.
"Ya, kau Lee Jong Hyun, bagaimana bisa kau mengabaikanku, eoh? Apa kau sangat sibuk sampai tidak bisa menjemputku?” kata Yoojin merenggut sambil menepuk pelan dada Jonghyun.
"Apa kau tidak lihat, pesta ini sukses karena kehadiranku? Aku tadi menyiapkan pesta ini untukmu. Jadi kuutus Yonghwa untuk menjemputmu," jawab Jonghyun dengan senyuman yang memperlihatkan gigi-giginya yang putih mengkilat.
"Geurae? Kalau begitu di mana Lee Hyun Woo? Dia juga.." tanya Yoojin yang membuat Jonghyun langsung mengajak Yoojin mencari tempat yang aman untuk bercerita tentang Hyunwoo dan jauh dari hadapan Jiwon.
Karyawan yang lain sedang minum, makan dan bercerita. Sedang Jonghyun dan Yoojin duduk bercerita berdua. Pemandangan itu membuat Jiwon sedikit cemburu. Tapi semuanya dianggap positif baginya. Karena dia yakin, Jonghyun tidak mungkin mengkhianatinya.  Sedang Yonghwa sendiri ingin nimbrung bersama Jonghyun dan Yoojin, tapi batal karena sepertinya mereka berdua benar-benar tidak membutuhkan kehadirannya. Akhirnya, Yonghwa memilih untuk bergabung bersama manajer Yoo, Jiwon dan Hyejoon yang juga sedang bercerita bersama. Baru saja melesakkan pantatnya di kursi, dia sudah dihamburi beberapa pertanyaan dari Jiwon.
"Chogi, apa kau tidak pulang bersama dengan Shinhye? Minhamnida, tapi tadi Shinhye pergi bersamamu. Kenapa sekarang kau hanya sendiri dengan Yoojin-ssi?" tanya Jiwon yang terukir jelas di wajahnya bahwa dia khawatir dengan keadaan Shinhye sekarang.
"Memang dia belum kembali ke sini?" Yonghwa balik bertanya.
Jiwon mengangguk mengiyakan.
“Tapi tadi di Incheon dia memutuskan untuk naik bis,” ujar Yonghwa sember.
“Naik bis? Tapi ponsel dan dompetnya tertinggal di sini," lanjut Jiwon masih dengan tampang khawatir.
"Mworago? Jadi dia ke sana tanpa membawa apa-apa?" Yonghwa jadi ikut-ikutan khawatir.
"Bos kan tiba-tiba memanggilnya. Jadi dia terburu-buru dan akhirnya lupa membawa tasnya." "Jadi di mana dia sekarang?" timpal manajer Yoo ikut khawatir juga.
"Bagaimana menghubunginya kalau ponselnya tertinggal?" Kali ini Hyejoon yang bersuara.
"Kalian tidak usah khawatir. Aku yang akan mencarinya." Yonghwa jadi merasa bersalah karena telah meninggalkan Shinhye. Dia kemudian terlihat buru-buru meninggalkan restaurant.
Dari kejauhan Yoojin memerhatikan Yonghwa yang sepertinya khawatir dan buru-buru meningalkan restaurant tanpa pamit padanya dan Jonghyun terlebih dahulu.

Halte Bis, Kota Incheon.
Shinhye menunggu Yonghwa mengharapkan Yonghwa yang tak kunjung datang. Karena lelah menunggu, akhirnya Shinhye memilih untuk perlahan berjalan mencari seseorang yang mungkin bisa membantunya. Begitu melihat seorang gadis remaja yang sedang berdiri sambil menyesap kopi hangat di depannya. Shinhye berlari menghampiri gadis itu. Shinhye mengatakan kejadian memprihatinkan yang sedang menimpanya saat ini. Dia berharap gadis ini mau membantunya. Awalnya gadis ini terlihat curiga dengan tingkah Shinhye. Dia takut Shinhye adalah seorang pencopet yang sedang berakting. Karena Shinhye yang terus berusaha meyakinkannya, gadis itu pun akhirnya terenyuh mendengar keadaan memprihatinkan Shinhye. Dia akhirnya membolehkan Shinhye menahan bis tujuan Shinye dan membayar ongkos bis dengan kartu penumpangnya sendiri. Selang beberapa menit bis Shinhye berlalu, Yonghwa tiba di halte bis yang sama. Dengan tergesa-gesa, dia keluar dari dalam mobil dan mencari-cari keberadaan Shinhye. Hampir semua pelosok ditelusurinya, tapi Shinhye tidak juga dia temui. Dengan rasa khawatir, dia memencet nomor Shinhye, tapi yang menjawab malah Jiwon, dengan kabar berita Shinhye belum pulang. Yonghwa benar-benar bingung apa yang harus dia perbuat. Dia terus mencari Shinhye di jalanan, tapi bayangan gadis itu pun tidak dilihatnya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah Shinhye, siapa tahu gadis itu sudah pulang. Begitu tiba di depan pagar rumah Shinhye, ternyata pagarnya masih terkunci dari luar. Yang menandakan bahwa pemilik rumahnya belum pulang. Akhirnya Yonghwa memutuskan untuk menunggu Shinhye di depan pagar rumah Shinhye. Kadang-kadang dia duduk berjongkok, lalu kemudian bangkit berdiri dan melongok ke arah jalanan mencari sosok Shinhye.
Di balik pagar rumah tetangga, seorang gadis sedang berdiri mengintip Yonghwa dengan perasaan yang bercampur aduk antara marah, sedih dan kasihan. Marah karena dia harus membungkuk meminta belas kasihan pada orang yang tidak dikenalnya. Sedih karena dia ditinggal sendiri di halte bis kota Incheon. Tapi ada juga rasa kasihan karena melihat Yonghwa yang sedang berjongkok di depan pagar rumahnya menanti kepulangannya. Gadis pengintip itu yang adalah Shinhye, akhirnya memutuskan untuk mengabari Yonghwa tentang keadaannya. Dia mengambil ponsel yang telah diambilnya dari Jiwon tadi dan mengirimkan pesan yang berisi: aku baik-baik saja. Dan sekarang sedang menginap di rumah Jiwon. Terima kasih karena sudah mencariku.
Setelah memastikan pesannya telah terkirim, secepat mungkin dia menonaktifkan ponselnya. Berjaga-jaga agar saat ditelepon Yonghwa, dia tidak perlu mengangkatnya. Ternyata prasangka Shinhye benar. Begitu membaca isi pesan Shinhye, Yonghwa terlihat menempelkan ponselnya di telinga, terlihat sedang menghubungi seseorang. Tapi karena nomor yang dia tuju sedang tidak aktif, maka dia kembali mematikan sambungan teleponnya. Yonghwa dengan wajah kusut masuk ke dalam mobilnya dan berjalan meninggalkan rumah Shinhye. Melihat Yonghwa yang sudah jauh dari peredaran, Shinhye kemudian berjalan ke rumahnya, membuka pagar dan masuk ke dalam rumahnya.

***
Keesokkan paginya, Shinhye masih marah atas kejadian kemarin. Dia memilih untuk mogok kerja sehari tanpa meminta ijin sebelumnya. Bahkan bila manajer akan memecatnya sekalipun, dia tidak peduli. Karena rasanya darahnya akan berdesir lebih cepat kalau melihat wajah Yonghwa juga sahabat manjanya itu, siapa lagi kalau bukan KIM YOO JIN. Dengan malas-malasan dia bangun mencuci muka, menyikat gigi, kemudian duduk di depan televisi dan menyalakan benda elektronik tersebut. Belum lama menikmati siaran TV, dia dikejutkan dengan bunyi nada dering ponselnya. Ditatapnya layar ponselnya, yang tertera di situ adalah nama Bos Jung. Yonghwa meneleponnya. Dia menggeser garis hijau pada layar dan menjawab panggilan tersebut. "Yeoboseyo.” Suaranya dibuat sepelan mungkin. “Aku sedang di perpustakaan kampus, jadi tidak bisa lama berbincang. Kututup teleponmu, ne?" Shinhye menutup panggilan dan kembali menikmati acara TV.
Sepuluh menit berlalu, masih nomor yang sama menghubunginya. Dengan kasar dia menggeser garis hijau pada layar ponselnya lagi. Tapi tetap saja dijawabnya panggilan tersebut dengan suara yang masih dibuat pelan. "Yeoboseyo. Aku tidak bisa..," ucapnya sok lembut.
"Gotjimal!" potong Yonghwa "Aku sedang di perpustakaan kampus. Kau ada di mana sekarang?"
"Eoh?" Shinhye tersentak karena ternyata Yonghwa ada di kampus. Dikiranya Yonghwa sedang di restaurant, oleh karena itu dia membohongi Yonghwa kalau dia di kampus sekarang. "Kau sudah di perpustakaan? Eoh, sepertinya kita berselisihan jalan. Sekarang aku sudah naik bus hendak pulang."
"Hari ini datanglah ke restaurant, karena ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."
"Apa itu?" tanya Shinhye sekenanya. Bahkan tidak penasaran sekalipun. Dia hanya sudah terbiasa mendengar Yonghwa mengatakan ‘hal penting’ yang setelah didengarkan, hal itu malah terdengar sangat biasa di telinganya.
"Kututup teleponmu yah, karena aku sedang di perpustakaan sekarang?" Yonghwa membalas Shinhye dengan menyalin kalimat Shinhye tadi. Dia kemudian mengakhiri panggilannya. Dengan tersenyum dia menyakukan ponselnya di saku celananya, menginjak pedal gas dan meninggalkan kampusnya.

Keduanya berbohong tentang keberadaan mereka.

TO BE CONTINUED




[1] Panggilan akrab untuk kedua bersaudara Jonghyun dan Hyunwoo (LEE Jong HYUN dan LEE HYUN Woo).

Kamis, 14 Juli 2016

Rain of Autumn Part 10

Part 10



Tiga puluh menit berlalu.
Tit..tit.. Bunyi nada pesan dari ponsel Yonghwa.
Dari: Jonghyun.
Yonghwa, kami sudah selesai bicara. Aku lega sekali, dia mau mendengarkanku. Kami sudah pulang. Kau juga pulanglah. Hati-hati di jalan.
"Chogi, apa mereka sudah selesai bicara?" tanya Shinhye hati-hati, melihat Yonghwa yang sedang menyentuh layar ponselnya membaca isi pesan masuknya.
"Jonghyun bilang, dia dan Hyunwoo masih mengurus masalah di luar. Jadi aku harus tetap menunggu di dalam."
"Mwo? Ini sudah jam sebelas malam. Kau sebaiknya pulang. Bilang pada mereka, carilah tempat lain untuk berbicara. Dan lagi.."
"Andwae," sambar Yonghwa. "Mereka tidak akan suka diganggu kalau sedang bicara. Jadi aku akan tinggal di dalam sampai mereka selesai bicara."
Shinhye hanya bisa menggerutu melihat tingkah Yonghwa. "Geurae. Aku mau tidur dulu. Kalau kau ingin pulang panggil saja aku. Selamat malam."
"Hajjima!" kata Yonghwa menahan langkah Shinhye.
Shinhye berhenti dan berbalik pada Yonghwa.
"Kau, duduk dan temani aku." Gerakan tangan Yonghwa mengisyaratkan agar Shinhye duduk di sampingnya.
"Mwo? Huh!" Shinhye mendengus kesal dengan tingkah Yonghwa yang suka memerintah. "Shireo," timpalnya.
"Ya, aku tidak mungkin duduk sendiri di rumahmu. Sedang kau sendiri malah mau tidur." Tampang nelangsa Yonghwa membuat Shinhye terenyuh dan akhirnya malah berakhir duduk di samping Yonghwa. Beberapa menit diisi jedah antara mereka berdua. Karena tidak ada percakapan yang terjadi, maka Shinhye mulai mengantuk. Matanya kelihatan sayup-sayup, tandanya waktunya untuk tidur. Tapi orang yang duduk di sampingnya ini belum juga membuka suara menyatakan akan pulang. Karena Yonghwa belum juga mau pulang. Sedang Shinhye benar-benar sudah mengantuk. Akhirnya Shinhye memilih untuk melepas lelah dengan menyandarkan kepalanya di tembok dan menutup mata.
"Apa kau masih akan bekerja sebagai asisten Jonghyun?" tanya Yonghwa memecah jeda, sekaligus mengagetkan Shinhye yang baru saja ingin tidur.
"Hmmm." Shinhye hanya menggumam karena dia benar-benar sudah mengantuk.
"Apa kau tidak berpikir untuk fokus hanya pada satu pekerjaan?"
"Hmmm."
“Kalau begitu kau akan berhenti bekerja pada siapa?” tanya Yonghwa masih penasaran dengan kalimat-kalimat Shinhye tentang berhenti bekerja tadi siang di halte bus.
“Hmmm.” Jawaban yang Shinhye berikan sama sekali tidak sinkron dengan pertanyaan Yonghwa. Ini semua disebabkan karena rasa kantuk yang menyerang konsentrasinya.
"Ya, apa kau mendengarkanku?" tanya Yonghwa dengan gigi-giginya yang bergemelatuk. Kebiasaannya kalau sedang marah.
"Ne." Shinhye balas berteriak. Dia kemudian duduk tegap dan ikut-ikutan menatap marah pada Yonghwa. "Apa salah kalau aku menjawabnya dengan menggumam? Aku mengantuk dan benar-benar ingin tidur. Kau tahu?" jawab Shinhye lemas. Dia pun kembali menyandarkan kepalanya di tembok dan menutup matanya.
"Arasseo.” Yonghwa menurunkan nada bicaranya melihat Shinhye yang marah dan terlihat sangat menakutkan saat ini. “Tapi, apa benar kau hanya akan fokus pada satu pekerjaan? Memang melakukan satu pekerjaan saja sudah cukup. Dengan beasiswa yang kau terima dari kampus, kau tidak harus memaksakan diri bekerja di dua tempat yang berbeda. Kau harus menjaga kesehatanmu. Akan lebih baik kalau kau berhenti pada salah satu pekerjaanmu, seperti keputusanmu tadi siang. Apa kau bisa memberitahuku pada siapa kau akan berhenti bekerja? Kau akan berhenti bekerja padaku atau pada Jonghyun? ucap Yonghwa panjang lebar. Tapi tidak ada respon juga dari Shinhye. “Kau mendengarku?" Ketika Yonghwa berbalik, dia mendadak terkesiap mendapati Shinhye yang sudah tertidur dan sepertinya sudah lelap. Sedikit kesal juga melihat Shinhye tidak meresponnya. Tapi wajah Shinhye yang tertidur lelap saat itu, seketika membuat Yonghwa tersenyum tipis.
“Dia benar-benar manis kalau sedang diam,” ujar Yonghwa dalam hati.
"Babbo! Di lantai pun kau bisa tidur," kata Yonghwa menggeleng sambil tersenyum lebar. Dia mengangkat Shinhye dan membopongnya masuk ke kamar Shinhye. Pelan-pelan dia meletakan Shinhye di atas tempat tidur Shinhye. Yonghwa tersenyum melihat Shinhye yang terlelap. Dia menarik selimut dan menutup seluruh badan Shinhye. Setelah itu, dia keluar dari kamar Shinhye menuju pintu keluar dan pergi dari rumah Shinhye.
Mendengar pintu pagar yang telah ditutup dari luar. Shinhye kemudian menyingkapkan selimutnya dan bangun dari tidurnya. "Omo, ada apa dengan dada ini?" kata Shinhye menepuk-nepuk dadanya. Ternyata dia hanya pura-pura tertidur tadi. "Wae? Waeyo?" Matanya membelalak saat menyimpulkan sesuatu. "Andwae. Andwae," katanya sambil menggeleng-geleng. "Aku tidak mungkin terpesona olehnya. Andwae. Andwae. Arrgh.." Dia menutup mata dan telinganya tidak mau menerima kenyataan bahwa dia memang baru saja terpesona oleh perbuatan Yonghwa.

***
Pagi-pagi sebelum Shinhye datang bekerja, Hyunwoo sudah menunggunya di ruang kerja Yonghwa. Sambil menunggu Shinhye, dia dan Yonghwa bercakap-cakap.
"Aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada Shinhye noona. Jonghyun hyeong bilang, dia dan hyeong akan membereskan semuanya selama aku di Amerika. Meski aku rasa, noona pasti akan mengatakan bahwa aku pengecut dan lari dari tanggung jawab. Karena sebenarnya itu tugasku mengatakan kebenaran padanya. Karena semua kebohongan ini berawal dariku. Tapi, karena hyeong berdua keberatan aku mengakhirinya, maka aku percayakan masalah ini pada kalian. Dan aku yakin kalian pasti bisa mengurusnya sesuai rencana kalian."
"Kalau kau tidak setuju, kita batalkan saja rencana itu," ujar Yonghwa melihat wajah Hyunwoo yang sepertinya keberatan dengan rencana yang dia dan Jonghyun buat.
Hyunwoo belum sempat menjawab kata-kata Yonghwa, karena kedatangan manajer Yoo di ruangan Yonghwa.
"Shinhye sudah di bawah," kata pria berkepala empat itu melongok di balik pintu yang sedikit terbuka.
"Eoh, geurae. Aku akan ke bawah. Khamsahamnida, manajer," timpal Hyunwoo.
Manajer Yoo mengangguk dan berjalan meninggalkan Yonghwa dan Hyunwoo.
"Gwaencanha, hyeong." Hyunwoo bangkit dari duduknya. "Aku ke bawah dulu."
"Chamkaman! Bagaimana kabar samchon? Apa dia sudah lebih baik?"
"Ne. Abeoji sudah lebih baik. Kemarin dia bahkan sempat bicara denganku via-phone."
Yonghwa tersenyum mendengar kabar baik yang datang dari pamannya yang katanya sudah lumayan pulih dari struk ringannya.
"Eomma benar-benar membutuhkanku. Dia sendiri harus mengurus ayah. Dari suaranya, aku yakin dia pasti membutuhkan salah satu anak prianya untuk menemaninya di sana. Jonghyun hyeong sendiri harus mengurus semuanya di Korea. Oleh karena itu, aku akan ke sana sendiri dan membantu eomma merawat abeoji."
"Kapan kau berangkat?"
"Dua hari lagi."
"Kau baik-baik di sana ya. Sampaikan salamku untuk samchon dan imo. Dan jangan khawatir semua di sini kami yang akan mengurusnya," kata Yonghwa lagi.
"Ne. Aku percayakan semuanya pada kalian. Kalau begitu hyeong, aku ke bawah dulu. Aku harus pamit pada Shinhye noona. Geureom."
Yonghwa hanya meresponnya dengan anggukan.
Hyunwoo membelakangi Yonghwa dan berjalan keluar dari ruangan Yonghwa.
Hyunwoo menuruni tangga dan melihat Shinhye sudah menunggunya di bawah. Ia tersenyum meski senyumnya saat menuruni tangga terlihat sangat dipaksakan.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau seperti ingin pergi selamanya," sambut Shinhye.
Hyunwoo tersenyum lagi, meski masih terlihat dipaksakan.
"Kapan kau akan berangkat?"
"Dua hari lagi. Apa kau tidak merasa kehilanganku?" tanya Hyunwoo penuh harap.
"Kau kan tidak selamanya pergi. Jadi aku tidak perlu merasa kehilangan."
"Tapi aku akan merasa sangat kehilanganmu," tutur Hyunwoo.
Shinhye tertawa, "Kalau kau merasa kehilangan, kau bisa menghubungiku kapan saja," katanya sambil menepuk-nepuk pundak Hyunwoo.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi tidak di tempat ini," kata Hyunwoo terbata-bata. "Kau ada waktu kan?"
"Ne. Wae? Kau ingin mengajakku keluar?”
Hyunwoo mengangguk.
“Kebetulan jadwalku sudah selesai. Kau ingin pergi sekarang?”
Ne,” jawab Hyunwoo singkat. "Tumben kau tidak menolaknya. Biasanya kau selalu bilang sibuk."
Eoh, hari ini mari kita habiskan bersama sebagai hari-hari terakhir kita bersama. Kajja!" ujar Shinhye tidak merespon pertanyaan Hyunwoo.
“Tapi, tunggu sebentar! Noona, kalimatmu tadi sangat menggangguku. Apa kau pikir kita akan berpisah selamanya sehingga kau berkata sepertinya aku akan pergi selamanya?"
Shinhye meresponnya hanya dengan tawa kecilnya.
Hyunwoo memajukan bibirnya lima centi. Karena sekali lagi Shinhye tidak merespon pertanyaannya sesuai harapannya.
"Ara, ara. Akan kuganti kalimat perpisahanku yang mengganggumu dengan Lee Hyun Woo, hari ini mari kita habiskan dua hari terakhir kita bersama sebelum nanti bertemu lagi. Kajja!" Shinhye memperbesar volume suaranya pada kata kajja. Mereka berdua keluar dari restaurant dan menuju tempat yang akan dipilih untuk menghabiskan waktu bersama.


Lotte World.

"Kenapa kau menolak kuajak ke restaurant dan lebih memilih tempat ini?"
"Dari pada uangmu kau habiskan membeli sepiring makanan yang harganya sama seperti karcis untuk puluhan orang masuk ke dalam Lotte World akan lebih baik kita ke sini dan bermain semua wahana sepuas hati."
Hyunwoo sebenarnya sedikit kecewa, karena sebelumnya yang dia inginkan adalah kencan yang romantis dalam sebuah restaurant ternama di Seoul. Tapi akhirnya tidak terwujud, karena keras kepala Shinhye yang tidak ingin menghambur-hambur uang. Oh ya, perlu digaris-bawahi bahwa Hyunwoo menganggap saat ini dia dan Shinhye sedang kencan. Sedangkan Shinhye malah sebaliknya.
Habis mengunjungi Lotte World dan makan di kedai sederhana, sekarang waktunya pulang. Hyunwoo mengantar Shinhye ke rumah, meski awalnya Shinhye menolak tapi karena Hyunwoo memaksa akhirnya Shinhye mengiyakan.
"Ada yang ingin kubicarakan." Hyunwoo menghentikan langkahnya yang akhirnya diikuti juga oleh Shinhye.
Shinhye berbalik dan menatap Hyunwoo. "Ada apa?"
"Ini sangat berat bagiku. Tapi akan lebih berat lagi kalau tidak diungkapkan. Aku akan sangat menyesal, kalau kau tidak akan pernah tahu. Sebenarnya.." kata Hyunwoo ragu-ragu. "Sebenarnya..," lanjut Hyunwoo. Dia kemudian menggamit tangan Shinhye sebelum melanjutkan kata-katanya lagi. "Jo, maeil..." Ada jeda sebelum melanjutkannya lagi. "Jo, maeil saenggaknayo,” ujarnya meski pelan tapi mulai lancar. “Keurinikha.." Hyunwoo melepaskan genggamannya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Manhi saranghandago."
Shinhye tersentak mendengar pernyataan Hyunwoo. Dia mengamati wajah Hyunwoo mencoba mencari kebenaran dari ucapan Hyunwoo barusan. "Hahaha.." Sontak Shinhye tertawa. "Kau mau mencoba mengerjaiku? Ya, Lee Hyun Woo, leluconmu itu tidak akan berhasil padaku."
Hyunwoo menyeringai. "Eung, mengerjaimu? Ah.. berarti kau tidak mudah kukerjai? Hahaha.." Hyunwoo ikut tertawa meski dia kecewa karena ternyata Shinhye menganggapnya sedang membanyol. Apa keseriusannya itu tidak pernah dianggap oleh Shinhye, sehingga Shinhye menganggap seakan dia sedang main-main? Namun karena Shinhye tidak menanggapinya, Hyunwoo jadi berpikiran untuk tidak melanjutkan meminta jawaban Shinhye. Dia pun ikut-ikutan mengatakan bahwa dirinya memang sedang bercanda.
"Ah, ireon–dasar! Kalau begitu Lee Hyun Woo, kita berpisah di sini. Rumahku tidak jauh lagi dari sini. Kau pulanglah, tidak perlu mengantarku. Jaljja–selamat malam!" Shinhye meninggalkan Hyunwoo yang masih menatapnya hingga bayangannya lenyap di ujung jalan.
"Mianhae. Aku jadi membuatmu terlihat bodoh. Jeongmal mianhae. Aku hanya belum bisa mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu. Jeongmal, jeongmal mianhae, Lee Hyun Woo," ucap Shinhye di sepanjang perjalanan pulangnya.

Dua hari setelah kejadian itu.
Hyunwoo berangkat ke Amerika diantar Yonghwa dan Jonghyun ke bandara tanpa kehadiran Shinhye. Seminggu setelah keberangkatan Hyunwoo ke Amerika, dia masih sering menghubungi Shinhye. Dan Shinhye pun selalu menanggapi obrolan Hyunwoo, seakan-akan dia benar-benar tidak tahu apa-apa tentang perasaan Hyunwoo.

JeResto
Tanpa pengumuman sebelumnya, tiba-tiba hari ini JeResto menutup pelayanannya. Karena ada sesuatu yang ingin diumumkan Yonghwa. Yonghwa kemudian mengumpulkan semua karyawannya. Setelah seluruh karyawannya sudah lengkap, Yonghwa mulai mengungkapkan apa penyebab hari ini JeResto tidak membuka pelayanannya.
"Hari ini sahabat baikku dari Paris akan datang ke sini," ujar Yonghwa dengan senyum yang membersit di wajahnya.
"Benar dia sahabatmu?" goda Manajer Yoo melihat Yonghwa yang senyumnya terus terpancar di wajahnya.
"Kim Yoo Jin namanya. Dan dia benar sahabat baikku," timpal Yonghwa masih dengan senyuman.
“Tidak. Aku hanya merasa kau selalu tersenyum setiap mengucapkan nama sahabatmu itu.”
“Kalau begitu, kau salah besar ahjussi,” timpal Yonghwa.
Manajer Yoo hanya mengangguk-angguk karena tidak berhasil menggoda Yonghwa.
"Oleh sebab itu untuk hari ini aku menutup JeResto. Karena aku ingin membuat perayaan kecil-kecilan baginya. Aku harap kita semua akan ambil bagian dalam perayaan ini. Masing-masing tugas untuk dikerjakan akan dibagi oleh manajer Yoo. Cukup sekian. Harap kerjasamanya." Yonghwa setengah membungkuk. Dan barisan karyawan kemudian dibubarkan.
Shinhye dan Jiwon berjalan duluan ke arah pantri.
"Kim Yoo Jin namanya. Dia benar sahabat baikku. Huh! Kau lihat wajahnya saat mengucapkan kalimat-kalimat itu?" kata Shinhye sedikit cemburu.
Jiwon menggeleng. "Ani. Aku tidak memperhatikannya."
"Dia berbohong. Jelas tergambar di wajahnya."
"Maksudmu?” tanya Jiwon tak mengerti.
“Kim Yoo Jin itu pasti kekasihnya.”
“Kau mengada-ngada, Shinhye-ya. Dia jelas mengatakan Kim Yoo Jin itu sahabatnya.”
“Kau berani bertaruh berapa bahwa Yoo Jin itu kekasihnya?" Shinhye berkoar-koar dengan semangat.
Jiwon tidak merespon, tapi malah melotot-lotot tidak jelas ke arah Shinhye.
"Wae?"
"Aku bertaruh sejuta Won bahwa Yoojin itu bukan kekasihku."
Suara dari balik punggung Shinhye, mengagetkannya.


TO BE CONTINUED

Rabu, 13 Juli 2016

Rain of Autumn Part 9

Part 9


***
Shinhye bangun dengan mata sembab, karena semalaman dia menangisi dirinya yang lemah. Lemah setiap kali melihat Jonghyun bersama dengan Jiwon. Tapi apa yang bisa dia buat, selain mengalah dan terus mengalah. Dari awal dia sudah memilih jalan ini. Berarti seterusnya dia harus melanjutkan jalan ini. MENGALAH!
"Shinhye babbo, Shinhye babbo, Shinhye babbo." Dia terus mengucapkan kata-kata ini, karena sadar dengan kebodohannya yang tidak berani berterus terang. Akhirnya sekarang dia malah menyimpan semuanya sendirian. Dan malah dia sendiri juga yang menderita sakit hati. Bosan memaki dirinya, Shinhye menyalakan TV dan melihat siaran berita saat itu.
"Perkiraan cuaca untuk hari ini…." Si pembawa acara terus berbicara tentang siklus cuaca hari ini. "Dengan begitu, maka hujan untuk pertama kali di musim gugur ini akan turun di distrik Gangdong," kata si pembawa berita mengakhiri ramalan cuacanya.
"Gangdong?" kutip Shinhye.
Tiba-tiba muncul sebuah inisiatif dalam pikirannya. Dia mengangkat ponselnya dan jari-jari tangannya menari di atas layar ponselnya. Setelah membaca laporan terkirimnya sukses. Shinhye menepuk-nepuk dadanya berharap pesannya akan mendapat respon positif.
"Kali ini aku harus bisa. Dia pasti datang." Shinhye menguatkan hatinya.
Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi. Dan nada pesannya langsung berhenti berbunyi saat dia membuka pesan tersebut. Sekilas ia tersenyum, karena benar yang dia harapkan, pesannya mendapat respon positif dari si penerima.

Distrik Gangdong.
Shinhye duduk di bangku salah satu taman yang ada di Gangdong district. Tepat jam lima sore, sesuai dengan perjanjiannya dia akan bertemu Jonghyun di taman ini. Setelah tiga puluh menit menit berlalu, Jonghyun tak kunjung datang. Jadi Shinhye kembali membaca isi pesan dalam ponselnya, takut malah dia yang salah membaca jam pertemuannya.
Lee Jong Hyun-ssi, apa kau sibuk hari ini? Bisakah kita bertemu di taman A di Gangdong distrik, tepat jam 5? Ada yang ingin kubicarakan denganmu, aku harap kau akan datang.
PS
: Aku akan terus menunggu sampai kau datang. Kau harus datang
. A
ra?
Terkirim ke:
Lee Jong Hyun

Arayo. Aku akan ke sana.
Begitulah balasan singkat dari Jonghyun.

Setelah membaca kembali pesannya, Shinhye yakin kalau dia tidak salah mengetik atau membaca angka lima pada ponselnya. Lalu kenapa sampai setengah jam berlalu, Jonghyun belum juga tiba? Shinhye kemudian bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan mendekati sebuah pohon besar yang daunnya telah gugur semua. Dia kemudian menjongkok dan mulai menghitung jumlah batu-batu kerikil ceper yang ada di bawah pohon ini.
"Onda–datang?" katanya sambil menghitung satu batu ceper yang ada. "Anonda–tidak datang?"
Dia kembali menghitung lagi. "Onda? Anonda?" Dia selalu melakukan pengandaian ini, kalau sedang menunggu seseorang. Dan juga Salah satu caranya membunuh waktu.
“Apa kau sibuk? Kenapa tidak memberitahuku? Atau kau bahagia membuatku terus menunggu? Jonghyun-ssi, kau harus datang sebelum hujan musim gugur itu turun?”
Shinhye mulai ragu dengan penantiannya. Tapi dia memaksakan diri tetap menunggu, karena ada sedikit keyakinan dalam hatinya bahwa Jonghyun akan datang. Sejam, dua jam berlalu. Tapi Jonghyun tidak kunjung datang. Shinhye terus menunggu, meski hari sudah gelap. Dia tidak jera melakukan penantian ini.
Shinhye kemudian melihat ke arah jam tangannya. "Jam tujuh? Aku mohon Jonghyun-ssi, sedikit lagi hujannya akan segera turun. Kau harus ada sebelum hujannya turun," kata Shinhye sambil menggigit bibir bawahnya.
Dia kemudian mendongak ke atas langit, bintang dan bulan yang seharusnya terlihat tidak kelihatan sama sekali karena tertutup awan hitam. Langit benar-benar gelap. Dan saat ini Shinhye hanya ditemani oleh cahaya temaram yang datang dari lampu taman dan lampu jalanan. Meski begitu, dia tetap memaksa untuk menunggu.
"Hari ini semua harus terselesaikan. Harus." Shinhye terus menguatkan dirinya. "Jonghyun-ssi, aku mohon datanglah. Kau harus datang."
Shinhye kembali memandang jamnya. Satu jam telah berlalu lagi, tapi mana Jonghyun? Bayangannya saja tidak kelihatan. Shinhye mulai jera. Dia ingin pulang, tapi tidak ada pemberitahuan akan datang atau tidak datang dari Jonghyun. Jadi dia mencoba menguatkan hatinya untuk tetap menunggu. Tidak terasa, titik-titik air mulai turun dari langit. Rintik yang ada pelan-pelan mulai berubah menjadi hujan deras. Tapi Shinhye bersikukuh tidak ingin bangun dari duduknya. Melihat hujan telah turun, Shinhye benar-benar sedih dan kecewa dengan penantiannya. Dia sebenarnya berharap bahwa hujan musim gugur yang pertama di tahun ini bisa melepas semua masalah yang ada di hatinya. Dia berharap semua perasaannya pada Jonghyun bisa dia ungkapkan malam ini. Agar dia tidak lagi memendam semuanya sendiri. Tidak peduli sekalipun dia akan ditolak. Yang penting dia tidak lagi memendamnya, dan malam ini semuanya bisa terlepas bersama hujan musim gugur. Tapi ternyata semuanya tidak sesuai harapan. Kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya ini membuat dia menjadi marah, kecewa dan sakit hati. Semua perasaannya bercampur aduk menjadi satu. Dia hanya bisa menangisi dirinya, lagi dan lagi. Air mata dan air hujan, membasahi wajahnya.
"Ya, apa kau pikir aku bahagia memendam perasaan ini? Apa kau pikir aku hanya bisa memikirkan-mu? Apa kau pikir aku tidak bisa melepaskan-mu? Ya, Lee Jong Hyun, apa kau pikir aku orang bodoh? Napeun saramiya–kau jahat," teriak Shinhye.
Tangis dan teriakannya pecah di tengah hujan deras. "Neokau, mulai saat ini kau sudah berlalu dari hatiku. Kau sudah pergi bersama dengan hujan ini. Ara?" teriak Shinhye lagi sembari memukul dadanya yang sakit.

***
Shinhye masuk ke dalam rumahnya, langsung menuju kamar mandinya. Setelah selesai mandi dan mencuci rambutnya dengan air hangat, dia masuk ke kamar tidurnya dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Sambil mengeringkan rambut, dia mengeluarkan ponselnya dari dalam plastik kecil yang dia simpan dalam tasnya yang dipakai tadi.
Lima belas missed calls dari Jiwon.Shinhye menekan tombol hijau dan menghubungi Jiwon.
"Eoh, Shinhye-ya, kenapa tidak mengangkat teleponku tadi?" kata Jiwon dari seberang sana.
"Mianhae. Aku tadi di dapur dan tidak mendengar panggilanmu." Shinhye bersin-bersin.
"Gwaenchanha?" tanya Jiwon khawatir karena mendengar Shinhye bersin-bersin.
"Hmm," gumam Shinhye.
"Kau terdengar tidak baik-baik saja. Apa kau sakit? Haruskah aku ke rumahmu sekarang?" Jiwon menghamburkan berbagai pertanyaan kekhawatiran.
"Tidak. Tidak usah. Aku baik-baik saja. Setelah minum obat, pasti akan sembuh."
"Oh, baiklah. Jaga kondisimu. Dan jangan lupa minum obat. Aku tutup teleponmu ya?"
"Chamkkaman!" tahan Shinhye. "Tadi kenapa kau meneleponku? Apa ada sesuatu yang penting ingin kau katakan?"
"Ani. Aku hanya ingin kau bantu memilih restaurant paling bagus untuk dinner. Tapi lupakan saja, karena aku dan Jonghyun sudah menemukan tempatnya."
"Ne?" kata Shinhye, suaranya tercekat di kerongkongan, "Apa kau sekarang sedang bersama Jonghyun-ssi?"
"Ne. Aku yang mengajaknya makan malam dan dia langsung menyetujuinya. Ya, kenapa kau bertanya?"
Tidak ada respon dari Shinhye.
"Shinhye, apa kau masih di sana? Kalau tidak ada yang mau kau bicarakan, kututup teleponmu ya?"
"Oh, ne." Shinhye meletakkan ponselnya di atas meja riasnya. Hari ini lengkap sudah penderitaannya. Ternyata Jonghyun tidak memenuhi janji bertemu dengannya, karena Jonghyun lebih memilih bertemu dengan Jiwon. Hatinya sakit, tapi dia lebih memilih untuk tegar. Dia tidak boleh menangis lagi. Dia sendiri yang tadi sudah memutuskan untuk tidak lagi memikirkan apa pun tentang Jonghyun. Dia harus bisa melupakan Jonghyun.

***
Universitas Kyunghee.
Sehari belum cukup bagi Shinhye untuk istirahat. Pagi ini dia memutuskan setelah jadwal kuliahnya selesai, dia akan pulang kembali ke rumah karena sepertinya dia belum siap untuk bekerja di JeResto dengan fisiknya yang lemah seperti ini. Shinhye berjalan menunduk menuju halte bus dekat kampusnya. Begitu tiba di sana, dia duduk menunggu bus yang akan menuju rumahnya. Pikirannya melayang-layang tak tentu. Beberapa kali ia mendesah, kemudian berkata, "Aku sudah memutuskan bahwa aku tidak mau bekerja denganmu lagi." katanya mencoba berlatih berbicara pada Jonghyun nanti bahwa dia akan berhenti bekerja dengan Jonghyun. "Ani, ani. Terlalu kasar." Dia kemudian berdehem dan memikirkan kalimat yang lain untuk diucapkan. "Direktur, maafkan aku karena tidak bisa bekerja denganmu lagi."
Sepertinya kalimat ini paling baik untuk diucapkan, pikirnya.
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa melanjutkan bekerja denganku lagi?"
Shinhye kaget setengah mati karena sebuah suara yang tiba-tiba ikut merespon perkataannya barusan. Shinhye berputar beberapa derajat mencari asal suara itu. Begitu menoleh Shinhye terkesiap ketika melihat siapa pemilik suara yang meresponnya barusan. Shinhye melotot namun pria di sampingnya malah menatapnya dengan tatapan menuntut jawaban darinya.
"Wae?" tanya pria itu lagi.
"Sejak kapan kau mengikutiku?" Kedua alis Shinhye bertaut. Sepertinya heran melihat kehadiran pria itu yang tiba-tiba. 
"Sejak kau keluar dari gerbang kampus tadi,” timpal pria itu. “Aku tanya sekali lagi, kenapa kau tidak bisa bekerja denganku? Apa Jonghyun yang memintamu melakukannya? Apa kemarin dia menyuruhmu berlatih mengucapkan kalimat kekanakan itu?"
Shinhye tidak menjawab. Pria yang adalah Yonghwa yang sedang berdiri di depannya ini sukses membuatnya kesal.
"Kenapa kau diam?"
Shinhye membisu lama, sampai Yonghwa mendesaknya.
Ya, jawab aku!” Yonghwa kemudian berdecak-decak dan berkata, "Kau tidak bisa menjawabnya karena semua yang kukatakan itu benar adanya? Berarti kemarin waktumu kau habiskan bersama Jonghyun, sampai kau terserang flu?"
"Kau sudah selesai bicara? Aku mau pulang." Shinhye terlihat marah. Dia bangkit berdiri ingin menaiki bis yang berhenti tepat di depan halte tempatnya menunggu.
"Ya, jawab aku!" kata Yonghwa dengan gigi yang beradu. Dia penasaran, apa benar Shinhye ingin berhenti bekerja dengannya? Karena Shinhye tidak peduli, Yonghwa malah menarik tangan Shinhye dan membiarkan bis yang ingin ditumpangi Shinhye berlalu begitu saja.
Shinhye menutup mata dan mendesah dengan keras. Kemudian dia membuka mata kembali dan berteriak, "Wae, wae, wae, wae, wae, wa….e? Apa urusannya denganmu kalau aku mau berhenti bekerja?" Teriakan Shinhye benar-benar membuat Yonghwa kaget dan melepaskan genggamannya pada Shinhye.
"Apa kita bisa membicarakan semuanya dengan baik-baik?" ujar Yonghwa pelan, mencoba mencairkan suasana.
"Aku tidak bisa. Maafkan aku." Shinhye beringsut menjauhi Yonghwa dan menahan taksi yang berjarak lima meter di depannya. Saat taksi tiba di depannya, dia langsung masuk dan pergi meninggalkan Yonghwa.

***
Shinhye akan masuk ke dalam rumahnya, tapi dia melihat Hyunwoo sedang duduk menunggu di depan pagar rumahnya. Shinhye berjalan mendekat.
Melihat orang yang ditunggu-tunggu akhirnya pulang, wajah riang Hyunwoo langsung terpancar. "Noona, anyeong!" sapa Hyunwoo.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Shinhye dengan ekspresi hambar.
"Noona, sigani isseoyo–apa kau ada waktu?"
"Wae? Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan denganku? Kalau ada, katakan saja," kata Shinhye dengan nada tak senang. Hari ini dia hanya tidak ingin berbicara pada siapa pun. Oleh karena itu kehadiran Hyunwoo saat ini dianggapnya adalah hal yang sangat mengganggu.
"Apa kau tidak bisa mengundangku masuk ke rumahmu dulu? Ayo kita bicara di dalam." Hyunwoo menarik lengan Shinhye ingin masuk ke rumahnya.
"Andwaeyo. Pria dilarang masuk ke rumah wanita, kalau wanita itu tinggal sendirian. Kita bicara di sini saja."
"Baiklah," kata Hyunwoo sedikit kecewa. "Noona, sebenarnya ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu sebelum aku berangkat ke Amerika."
"Amerika? Untuk apa kau ke sana?"
"Ayahku memanggilku ke sana."
"Ayahmu? Ah ye, arasseo. Ayahmu ingin bertemu denganmu di sana. Benar kan?"
"Sebenarnya
ada hal yang sangat penting yang ingin kubicarakan denganmu. Tapi aku takut kalau mendengarnya kau akan marah." Hyunwoo ingin mengatakan semua kebenaran tentang dirinya. Semua kebohongan yang dia buat selama ini. Dia ingin mengatakan semuanya saat ini sekaligus minta maaf sebesar-besarnya pada Shinhye, sebelum dia berangkat ke Amerika.
"Apa itu? Kenapa kau malah membuatku jadi khawatir?" Nada bicara Shinhye yang acuh tadi malah berubah menjadi nada penasaran.
"Sebenarnya.. sebenarnya.. selama ini..." Kalimat Hyunwoo terpotong karena seseorang memanggilnya.
"Ya, Lee Hyun Woo, apa yang kau lakukan di sini?"
teriak Jonghyun.
Mata Hyunwoo membelalak begitu melihat Jonghyun dan Yonghwa sedang berjalan ke arahnya. Andwae, hyeongdeul. Kalian tidak bisa melakukan itu padaku.” Hyunwoo berteriak berharap kedua hyeong-nya bisa mengerti. Tapi kedua pria itu tetap mendekatinya dan sekarang malah merangkulnya erat.
"Kami mencarimu ke mana-mana, ternyata kau ada di sini," kata Jonghyun mempererat rangkulannya.
"Andwae, hyeong. Aku harus bilang semua pada Shinhye-nui. Aku tidak mau terus….hufft…"
Yonghwa membekap mulut Hyunwoo.
"Ada apa ini?" tanya Shinhye bingung dengan tingkah ketiga pria di depannya ini.
"Kau masuklah ke dalam. Hyunwoo sedang mabuk berat, jadi biar kami yang mengurusnya," ujar Jonghyun.
Hyunwoo meronta-ronta dan berusaha berbicara, tapi karena mulutnya dibekap Yonghwa dan badannya dirangkul Jonghyun dari belakang, jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Shinhye mengikuti perintah, dia masuk ke dalam rumahnya dengan penasaran.
Melihat Shinhye yang sudah masuk, Yonghwa dan Jonghyun melepaskan bekapan dan rangkulan mereka.
"Ya, hyeongdeul, kalian berdua benar-benar di luar batas."
"Yonghwa, sebaiknya kau masuk dan memastikan Shinhye tidak mendengarkan pembicaraan kita. Aku akan bicara dengan Hyunwoo," kata Jonghyun.
"Aisshi, apa kau tidak mencuci mulutmu tadi pagi?" kata Yonghwa pada Hyunwoo, begitu dia mencium bau di telapak tangannya akibat membekap mulut Hyunwoo tadi. Dia kemudian mengibas-ngibas tangannya dan mengelap tangannya yang lembab di kemeja Hyunwoo. "Kalau begitu kalian berdua bicaralah. Aku masuk dulu," kata Yonghwa sambil memegang pegangan pintu pagar Shinhye hendak membuka pagar itu.
"Andwae, hyeong. Kau tidak boleh masuk ke rumah itu. Seorang pria dilarang masuk ke rumah seorang wanita yang tinggal sendirian." Hyunwoo mengutip kalimat Shinhye tadi.
"Namja saram–seorang pria? Tapi aku pernah sekali masuk ke rumah ini. Dia sendiri yang mengijinkan. Sudahlah, aku masuk dulu."
"Hyeong, andwae," teriak Hyunwoo khawatir.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Park Shin Hye tidak kuanggap sebagai seorang wanita, jadi kau tenang-tenang saja," kilah Yonghwa menutup pembicaraannya dengan Hyunwoo.
Hyunwoo beranjak ingin menahan Yonghwa, tapi malah ditahan oleh Jonghyun.
Yonghwa membuka pintu pagar Shinhye
. Begitu hendak masuk, dia kaget melihat Shinhye sedang merapatkan telinganya di depan pintu pagarnya sendiri.
Yonghwa dan Shinhye sama-sama berlonjak kaget.
"Apa yang kau lakukan?" Yonghwa masuk kemudian menutup pintu pagar rumah Shinhye.
Shinhye terlihat gugup menjawab pertanyaan Yonghwa. "Eoh?" Shinhye berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk meyakinkan Yonghwa bahwa dia tidak sedang menguping. "Aku hanya ingin bilang pada kalian bahwa ini sudah larut malam. Sebaiknya kalian pulang saja."
"Beri aku air. Aku haus." Yonghwa tidak merespon dan malah berjalan hendak masuk ke rumah Shinhye.
"Ya, ini sudah larut. Tidak baik bertamu di rumah orang. Meskipun kau tidak menganggapku sebagai seorang wanita, tapi kenyataannya aku ini wanita.
“Ah.. kau mendengar pembicaraan kami tadi yah?” seruduk Yonghwa.
“Itu..” Shinhye gelagapan karena langkah Yonghwa yang terus menuju rumahnya. “Jadi, kau dilarang masuk…."
Shinhye berhenti bicara begitu melihat Yonghwa sudah membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalamnya. Akhirnya Shinhye masuk juga ke dalam rumahnya dan melihat Yonghwa yang sudah duduk meluruskan kaki di lantai rumahnya.
"Beri aku segelas air. Aku haus," kata Yonghwa lagi dengan mata terpejam.
"Ya, sekalipun kau tidak menganggapku sebagai seorang wanita. Tapi kenyataannya, aku ini wanita dan kau seorang pria. Kau tetap tidak bisa seenaknya bertamu di rumah seorang wanita."
"Aku pernah sekali ke sini kan? Kenapa waktu itu kau tidak melarangnya?" timpal Yonghwa.
"Itu karena….." Shinhye hilang kata-kata, tidak tahu harus bicara apa lagi. Sesekali dia menyesali kebodohannya, karena pernah membiarkan Yonghwa masuk ke rumahnya dulu. Akhirnya sekarang, dia tidak tahu harus pakai alasan apa untuk menyuruh Yonghwa pergi dari rumahnya.
"Kau sudah selesai bicara?" Yonghwa membuka mata dan menatap Shinhye. "Kalau sudah selesai, tolong beri aku segelas air karena sepertinya mereka butuh waku yang lama untuk bicara." Yonghwa kembali menutup matanya.
"Apa kalian bisa bicara di tempat lain?”
“Tidak,” ucap Yonghwa retoris.
Shinhye hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban Yonghwa. “Apa yang mereka berdua bicarakan di luar? Apa ini ada hubungannya denganku, sehingga kalian bertingkah aneh di depanku? Apa yang sedang kalian rahasiakan?"
"Kami tidak merahasiakan apa-apa. Kau tenang saja, ini tidak ada hubungannya denganmu. Ini masalah antara Jonghyun dan Hyunwoo. Biar mereka berdua selesaikan. Dan, ehm..." Yonghwa berdehem. "Soal tadi siang, anggaplah tidak pernah terjadi. Besok, kau harus masuk bekerja. Jangan mangkir!" Yonghwa mengungkit kembali masalah tadi siang di halte bus.
Melihat Yonghwa yang sulit sekali untuk mengucapkan kata maaf, karena siang tadi telah membuat kesalahan, membuat Shinhye ingin sekali meninjunya. Karena kesempatan, Yonghwa sedang menutup mata, Shinhye mulai melakukan aksinya dengan mengolok-olok Yonghwa. Dia memutar-mutar bola matanya, menjulurkan lidahnya dan mengepalkan tangannya ingin memukul Yonghwa. Begitu Yonghwa membuka matanya secara tiba-tiba, Shinhye kemudian menyelip-nyelipkan anak rambutnya ke telinganya, berpura-pura tidak melakukan apa-apa.
"Park Shin Hye, berapa kali lagi aku harus bilang kalau aku haus? Bisakah kau mengambilkan segelas air untukku?" kata Yonghwa menekankan pada kalimat terakhir.
Shinhye mencibir dan berjalan ke dapur mengambil segelas air sesuai yang diminta Yonghwa.
Tiga puluh menit berlalu.
Tit..tit.. Bunyi nada pesan dari ponsel Yonghwa.
Dari: Jonghyun.
Yonghwa, kami sudah selesai bicara. Aku lega sekali, dia mau mendengarkanku. Kami sudah pulang. Kau juga pulanglah. Hati-hati di jalan.
"Chogi, apa mereka sudah selesai bicara?" tanya Shinhye hati-hati, melihat Yonghwa yang sedang menyentuh layar ponselnya membaca isi pesan masuknya.
"Jonghyun bilang, dia dan Hyunwoo masih mengurus masalah di luar. Jadi aku harus tetap menunggu di dalam."
"Mwo? Ini sudah jam sebelas malam. Kau sebaiknya pulang. Bilang pada mereka, carilah tempat lain untuk berbicara. Dan lagi.."
"Andwae," sambar Yonghwa. "Mereka tidak akan suka diganggu kalau sedang bicara. Jadi aku akan tinggal di dalam sampai mereka selesai bicara."
Shinhye hanya bisa menggerutu melihat tingkah Yonghwa. "Geurae. Aku mau tidur dulu. Kalau kau ingin pulang panggil saja aku. Selamat malam."
"Hajjima!" kata Yonghwa menahan langkah Shinhye.
Shinhye berhenti dan berbalik pada Yonghwa.

TO BE CONTINUED