"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Senin, 22 Agustus 2016

Rain of Autumn Part 21

Part 21




Shinhye menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Dia tidak sanggup mengahadapi kenyataan ini. Dia terlalu mencintai Yonghwa. Tapi apa boleh dikata, dia harus menepati janjinya pada Presdir. Ini semua demi kebaikan Yonghwa dan demi rumah peninggalan terakhir ayah dan ibunya. Rumah ini terlalu berharga bagi dia. Dia tidak sanggup meninggalkan rumah ini. Karena hanya rumah ini yang bisa menggali kembali kenangan bahagia bersama ayah dan ibunya.
“Kau pasti akan menemukan yang lebih baik dari aku, Yonghwa-ssi. Ini semua demi kebaikanmu.” Tangis Shinhye pecah membahana di kamar tidurnya.
Tak lama kemudian, Shinhye mengusap air matanya dengan punggung tanggannya begitu melihat nama Yonghwa tertera di layar ponselnya. Yonghwa sedang menghubunginya. Shinhye menahan tangisnya, kemudian menjawab panggilan Yonghwa. “Yeobeseyo!”
“Kau di mana sekarang? Aku ke restaurant tadi, tapi kau tidak ada.”
Eoh, apa kau mencariku?” kata Shinhye dengan suara parau.
“Shinhye-ya, ada apa dengan suaramu? Apa kau demam?” Nada suara Yonghwa terdengar cemas dengan keadaan Shinhye.
“Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pilek karena kena angin laut.”
“Kau pergi ke laut? Untuk apa?”
“Hanya, untuk melihat laut,” kata Shinhye dengan alasan yang tidak terdengar logis. Menikmati angin laut ketika musim dingin ini sangat tidak biasa dilakukan kebanyakan orang yang tinggal di Negara empat musim. “Aku tiba-tiba ingin melihat laut. Maaf karena tidak memberitahumu.” Shinhye berkilah.
“Apa sekarang kau baik-baik saja? Apa kau butuh aku ke sana?” kata Yonghwa bijak. Dia hanya tidak mau menyalahkan gadis itu saja. Sudah cukup dengan mendengar suara gadis itu yang terdengar merasa bersalah dengan tindakan yang dilakukannya sendiri.
Shinhye memukul dadanya. Sakit rasanya mendengar suara Yonghwa yang terdengar sangat khawatir padanya.
“Kau tunggu di situ, aku akan ke situ.”
Aniya. Aku sudah kembali ke rumah.” Shinhye mencoba menahan tangisnya yang hampir pecah mendengar suara Yonghwa yang terdengar sangat khawatir padanya.
“Kalau begitu aku akan ke rumahmu.”
“Tidak. Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sedikit. Besok pasti sudah baikan. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Sebaiknya sekarang kau tidur. Besok kau harus bekerja, eoh?”
Arasseo. Kalau ada apa-apa, ingat aku ada di nomor satu panggilan cepatmu.”
Ara.” Shinhye pamit, kemudian mengakhiri panggilan.


***
“Ah, jinjja. Aku bahkan belum mengucapkan selamat malam padamu.” Yonghwa mengacak-acak rambutnya. Kemudian menatap dirinya di cermin. Dia tersenyum, kemudian berkata, “Apa karena ketampanan ini yang membuatmu tergila-gila padaku, Shinhye-ya?” Yonghwa tertawa kecil. Kemudian berjalan maju dan mundur sambil menatap dirinya di dalam cermin. “Eomma, kau akan benar-benar menyesal ketika anak tampanmu ini menjadi milik orang lain. Sebaiknya kau harus berhati-hati pada Park Shin Hye, karena dia akan menjadi rivalmu dalam hal memperebutkanku.” Setelah puas mengamati dirinya di cermin, Yonghwa mengambil ponsel genggamnya dan mengetik beberapa kalimat untuk dikirim.

Apa benar aku tidak perlu ke rumahmu? Ah, aku hampir gila karena mengkhawatirkanmu. Besok pagi aku akan menjemputmu. Hanya untuk memastikan kalau kau baik-baik saja.

Setelah membaca pesannya terkirim ke Shinhye. Yonghwa kembali mengamati dirinya di cermin sambil menunggu balasan pesan dari Shinhye.
Detik. Menit. Jam berlalu. Tapi tidak ada balasan. Shinhye tidak membalas pesannya.
“Ah, jinjja. Apa kau yang tergila-gila padaku atau aku yang tergila-gila padamu? Kau bahkan tidak membalas pesanku, Park Shin Hye? Apa kau tidur?”
Yonghwa bicara sendiri pada ponselnya. Tak lama kemudian dia membanting dirinya di atas ranjangnya dan terlelap tidur.


***
Setelah meletakkan tas ranselnya di belakang punggungnya, Shinhye keluar rumahnya, membuka pagarnya, dan terlihat kaget ketika melihat sesosok pria sedang bersandar pada pagar tembok rumahnya. “Omo,” teriak Shinhye. “Kau mengagetkanku.”
Pertahanan bersandar pada tembok pagar Shinhye goyah ketika mendengar teriakan Shinhye.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Shinhye melihat Yonghwa yang berdiri di depan rumahnya pagi-pagi.
“Hanya untuk memastikan kau baik-baik saja,” jawab Yonghwa sambil meletakkan punggung tangannya ke kening Shinhye. “Aku rasa kau baik-baik saja.” Yonghwa menurunkan tangannya ketika mendapati suhu tubuh Shinhye normal. Beberapa saat kemudian, dia meringis kemudian berkata, “Ah, Park Shin Hye.” Yonghwa mengeluh sambil menyentuh kedua betis kakinya. “Ah…,” erangnya lagi. “Setiap hari berapa lama kau berdandan? Aku hampir mati kedingingan berdiri di luar menunggumu.”
“Kau sudah lama berdiri di luar?”
Yonghwa mengangguk. “Sekarang, kau harus bertanggung jawab. Kau harus memijat kakiku ketika kita tiba di mobil nanti.” Yonghwa mulai menuntut bagai anak kecil.
“Kau sengaja memanfaatkan tenagaku, kan? Kau benar-benar jahat, Jung Yong Hwa-ssi.”
“Apa kau marah padaku?” tanya Yonghwa ketika melihat mimik wajah Shinhye yang berubah kesal.
Shinhye tidak menjawab dan tetap memasang tampang kesal pada Yonghwa.
“Kau tidak usah memijatku. Aku tidak apa-apa,” kata Yonghwa dengan tangan melambai-lambai di udara. “Aku akan mengantarmu ke kampus. Kajja!” kata Yonghwa tersenyum, kemudian menggandeng tangan Shinhye berjalan menuju tempat mobilnya diparkir.


***
Apa kau mau berkencan denganku hari ini? Begitulah pesan yang dibaca Yonghwa. Karena tidak percaya dengan kalimat pesan yang baru saja dia baca. Dia pun melakukan pengulangan membaca isi pesan tersebut.
“Hari ini apa kau serius ingin mengajakku berkencan, Park Shin Hye? Haha…” tawa Yonghwa membahana di semua ruangan apartemennya. “Selama ini kalau ingin berkencan aku yang selalu pertama mengajakmu. Hari ini malah kau yang mengajakku. Apa kau yang mulai tergila-gila padaku?” Yonghwa mulai berkata-berkata sendiri tanpa lawan bicara. “Baiklah. Kali ini aku akan sedikit jual mahal. Bagaimana reaksimu dengan aksiku?”
Yonghwa tersenyum dan mulai mengetik pesannya.

Hari ini aku agak sedikit sibuk. Kemarin waktu kosongku banyak, seharusnya kau mengajakku waktu ke laut kemarin.

Setelah membaca pesannya. Dia tersenyum jahil kemudian mengirimkannya pada Shinhye. Beberapa menit berlalu, terdengar bunyi nada pesan pada telepon genggamnya.
“Baiklah, kita batalkan saja hari ini kalau kau sibuk.” Yonghwa membaca pelan-pelan barisan pesan singkat Shinhye.
Mwo? Semudah itu kau membatalkannya?” Yonghwa kemudian mulai mengetik pesan balasan pada Shinhye.
“Ke mana kau ingin berkencan hari ini?” Yonghwa membaca ulang pesannya memastikan kalau dia tidak lagi menulis kalimat-kalimat yang mudah memancing pembatalan kencannya hari ini.

Namsan Tower.

Begitulah bunyi balasan pesan yang dikirim Shinhye pada Yonghwa.


***
“Apa tidak ada tempat lain lagi selain Namsan Tower?” tanya Yonghwa ketika dia dan Shinhye berada dalam mobilnya. “Aku hanya merasa ini terlalu dingin untuk pergi ke sana.”
“Apa ada tempat lain yang ingin kau kunjungi?” Shinhye balik bertanya seraya mengeratkan sabuk pengamannya.
“Ada. Kau mau ke sana?” tanya Yonghwa menyalakan mesin mobilnya, tapi belum menginjak pedal gasnya.
“Apa tempat itu bisa menghentikan waktu?”
Mwo?” tanya Yonghwa karena tidak mendengar jelas suara Shinhye.
Ani. Aku hanya berbicara sendiri.” 
“Ada apa denganmu? Apa kau masih sakit?” Kedua bola mata Yonghwa menatap Shinhye dengan lekat, melihat wajah gadis yang tadi ceria itu tiba-tiba berubah menjadi sedih. “Atau kau ingin kita ke Namsan Tower saja?”
“Tidak. Kita ke tempatmu saja.” Shinhye kemudian menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil Yonghwa. Dan perlahan mulai memejamkan kedua matanya.
Tanpa berpikir panjang, Yonghwa menginjak pedal gas mobilnya dan berlalu bersama Shinhye yang masih terdiam menutup mata.
Setengah perjalanan tidak diisi mereka dengan percakapan. Sesekali Yonghwa mencuri pandang ke arah Shinhye. Gadis itu masih menutup kedua matanya. Ketenangannya membuat Yonghwa urung membangunkannya. Tidak lama kemudian, gadis itu menghembuskan nafasnya dan membuka kedua bola matanya. Matanya mulai menyisir setiap jalan yang mereka tempuh. Dia membuka kaca jendelanya, menyembulkan wajahnya di luar dan menyentuh setiap bunga salju yang bisa dia sentuh.
“Kenapa saljunya tidak juga berhenti? Sekarang kan hampir tiba waktunya musim cherry blossom,” gumam Shinhye masih mencoba menyentuh bunga salju selama perjalanan mereka. “Apa salju ini bisa membekukan hatimu?” gumamnya lagi tanpa berbalik ke arah lawan bicaranyaYonghwa.
“Maksudmu?”
Ani. Aku hanya berbicara sendiri.” Shinhye mengulang kalimatnya lagi.
Hari mulai malam ketika mereka tiba di tempat yang dimaksud Yonghwa. Rumah kayu sederhana yang terletak di pinggiran jalan. Atap rumah itu tertutup salju, jalan di sekitarnya pun seperti itu.
Kajja!” ajak Yonghwa ketika membuka pintu mobil Shinhye. “Kau tak perlu khawatir, rumah itu milikku.” Yonghwa menjelaskan karena melihat mimik wajah Shinhye yang penuh tanda tanya. “Waktu kecil, aku dan Yoomi noona sering diajak orang tua kami ke sini. Rumah ini tempat kami sekeluarga menghabiskan liburan musim dingin kami. Rumah ini sangat hangat ketika musim dingin tiba, ini tempat terbaik untuk menghangatkan diri.”
Mereka berdua masuk ke dalam rumah itu. Yonghwa menyalakan satu per satu kontak lampu rumah itu. Di ruang keluarga rumah itu terdapat tungku perapian yang terbuat dari batu bata. Yonghwa mendekat ke arah tungku perapian, mengambil kayu kering yang ada di samping tungku perapian, kemudian melemparkan kayu-kayu itu ke dalam tungku dan mulai menyalakan api. Perlahan tapi pasti api mulai membakar kayu-kayu kering itu. Yonghwa lalu meletakkan dua bangku kecil tidak jauh dari perapian, dan mengajak Shinhye untuk duduk di sebelahnya. Shinhye hanya menurutinya.
Shinhye menggosok-gosok telapak tangannya, suhu udara di rumah itu seakan menghangat ketika api mulai membesar. “Apa tidak ada yang menempati rumah ini? Furniturnya terlihat bersih dan apik,” tanya Shinhye sambil mendekatkan tangannya ke perapian.
“Paman di sebelah rumah ini, dia yang menjaga dan membersihkannya,” jawab Yonghwa. “Apa kau masih kedinginan?” tanya Yonghwa melihat Shinhye yang terus meniup kedua telapak tangannya yang terbungkus dengan sarung tangan.
Shinhye hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Yonghwa.
“Kalau begitu merapatlah padaku.” Yonghwa memegang lengan Shinhye dan mendorong gadis itu ke dalam dekapannya.
“Lebih hangat,” guman Shinhye sambil menyandarkan kepalanya di pundak Yonghwa. “Yonghwa-ya, aku ingin berhenti.” Shinhye memberikan jeda, sebelum melanjutkan ke  kalimat berikutnya. “Aku ingin berhenti dari pekerjaanku.” Shinhye menegaskan kalimat intinya.
“Maksudmu, kau ingin berhenti bekerja di JeResto?” kata Yonghwa sambil menambahkan beberapa kayu bakar ke dalam tungku perapian. “Wae? Apa kau sudah punya pekerjaan baru?”
“Belum. Hanya saja, aku ingin berhenti.” Kali ini Shinhye mengangkat kepalanya dari pundak Yonghwa dan mendongak ke arah Yonghwa. “Apa kau setuju aku berhenti dari JeResto?”
“Kalau memang itu yang terbaik, aku hanya bisa mendukungmu.”
Shinhye tersenyum manis melihat persetujuan Yonghwa, yang sepertinya menunjukan bahwa rencananya akan berjalan lancar.
“Ah, aku punya sesuatu yang harus kutunjukan padamu,” kata Yonghwa kemudian dia memadamkan api di tungku perapian. Setelah apinya mati, Yonghwa bangkit dari duduknya dan berkata, “Kau tunggu di sini, yah.” Yonghwa lalu berjalan ke luar meninggalkan Shinhye.
Tak berapa lama kemudian, seluruh lampu di rumah itu padam.
“Jung Yong Hwa-ssi,” panggil Shinhye karena takut pada kegelapan. “Jung Yong Hwa-ssi.” Shinhye bangkit dari duduknya, meraba-raba dalam kegelapan mencari keberadaan Yonghwa. “Ya, Jung Yong Hwa! Kau bukan pembunuh berantai, kan? Kau tidak berencana membunuhku, kan?” Kali ini Shinhye mulai berteriak sambil memanggil-manggil nama Yonghwa. “Ya, Jung Yong Hwa! Eodisseo?”
Tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu sedang terbuka. Shinhye berbalik mencari asal bunyi tersebut. Dari ruangan yang lain terlihat cahaya kecil. Shinhye berjalan mencari ruangan tempat di mana cahaya itu berada. “Akan kubuat perhitungan denganmu, Jung Yong Hwa,” umpat Shinhye sambil terus berjalan menghampiri cahaya itu.
Begitu tiba di ruangan tempat cahaya itu berasal, Shinhye melihat Yonghwa berdiri di depan cahaya itu. Ternyata, cahaya yang dia lihat itu berasal dari sebuah lampu templok yang diletakkan Yonghwa di atas meja.
Ige mwoya? Kenapa kau mematikan semua lampu dan membiarkan lampu ini sebagai penerang?” tanya Shinhye karena penasaran dengan ulah Yonghwa mematikan semua lampu rumah. “Udara sedang dingin, kita butuh lampu dan perapian untuk menghangatkan tubuh,” timpal Shinhye.
Jung Yong Hwa tidak menjawab namun dia hanya berisyarat memanggil Shinhye dengan jari telunjuknya.
Wae?” tanya Shinhye bingung namun perlahan melangkah maju mendekati Yonghwa.
“Hanya sepuluh menit, berdansalah denganku.” Yonghwa menyodorkan tangannya menanti sambutan tangan Shinhye.
Shinhye tersenyum kaget namun dengan sigat menyambut tangan Yonghwa dan mengikuti ke mana arah tubuh Yonghwa bergerak. Di tengah kegelapan dan udara yang dingin, terlihat sepasang makhluk sedang menikmati setiap gerakan tarian mereka. Yonghwa mulai mendengung membuat musik latar belakang tarian mereka. Langkah demi langkah, Yonghwa membawa tubuh Shinhye menyusuri ruangan itu. Sesekali, langkah Shinhye tidak sama dengan langkah Yonghwa, namun dengan cepat Yonghwa kembali membawa gadis itu dalam irama melodi yang dia dengungkan.
“Kau tahu, waktu SD aku pernah menyukai seorang gadis yang adalah sahabatku.” Yonghwa berhenti berdengung dan mulai menceritakan masa lalunya.
“Apa dia cinta pertamamu?” tanya Shinhye sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yonghwa.
“Kau benar. Dia cinta pertamaku. Awal pertemuan kami ketika dia dan keluarganya pindah ke Seoul. Ayahnya adalah rekan kerja ayahku. Ketika pertama kali dia datang dari Jerman, dia benar-benar tidak bisa bicara Bahasa Korea. Namun dia bersikeras ingin bersekolah di sekolah yang sama dengan aku dan Jonghyun. Kami bertiga bahkan ada di kelas yang sama. Awalnya gadis itu tidak memiliki teman, karena tidak ada yang ingin berteman dengan gadis yang mereka anggap makhluk asing karena berbicara bahasa asing. Aku dan Jonghyun pun ikut-ikutan menghindarinya. Kami hanya tidak ingin dipanggil alien juga. Namun semua keadaan menjadi berubah, ketika suatu hari dia dijahili anak lelaki yang paling ditakuti di kelas kami. Bocah itu memiliki tubuh yang tinggi dan besar. Ukuran tubuhnya tidak lazim untuk kami anak kelas empat SD saat itu. Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu ketika dijahili. Aku yang melihat ikut merasa iba. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bocah itu terlalu besar untuk ukuranku. Dan lagi saat itu, Jonghyun sedang sakit, jadi dia tidak ada untuk menemaniku. Namun kejahilan yang dilakukan bocah itu semakin menjadi-jadi. Karena benar-benar dalam kondisi yang penuh amarah, aku membanting mejaku dan berjalan mendekati bocah besar itu. Entah kenapa tapi tiba-tiba rasa takutku menghilang. Yang ingin kulakukan adalah menghajar bocah itu. Dan melindungi gadis kecil itu. Kau tahu apa yang terjadi?” Yonghwa mencoba berkomunikasi dengan Shinhye, karena melihat percakapan itu didominasi olehnya.
“Kau memukulnya. Namun karena dia lebih besar darimu, akhirnya kau kalah,” kata Shinhye mencoba menerka.
Yonghwa tertawa kecil, kemudian melanjutkan ceritanya. “Kau benar. Ketika aku maju ke depan, aku mencoba menghajarnya. Namun, karena tubuhnya yang tinggi membuatku kesulitan menggapai wajahnya. Oleh karena itu, aku hanya bisa menginjak kakinya.” Yonghwa tertawa sebentar mengingat masa lalunya. “Karena kesakitan kakinya diinjak, dia kemudian menarik kerah bajuku dan menghantamku persis di mulutku. Saat itu kupikir semua gigi depanku telah roboh, karena rasanya sakit sekali. Tidak puas menghantamku di wajah, dia kemudian mulai menendang kakiku dan memukul seluruh tubuhku. Untung saja, wali kelas kami datang dan melerainya. Kalau wali kelasku tidak datang menyelamatkanku, aku pasti sudah berakhir di rumah sakit.” Yonghwa berhenti sejenak, dia terlihat menarik nafas panjang.
“Lalu?” tanya Shinhye penasaran dengan kelanjutan cerita masa kecil Yonghwa.
“Setelah masalah diselesaikan oleh orang tua kami, gadis kecil itu memanggilku ke belakang sekolah tempat kandang kelinci berada. Dia menyuruhku duduk di bangku dekat situ dan membersihkan lukaku dengan air dan sapu tangannya. Dia mengeluarkan kotak mini P3Knya dan mulai mengobati lukaku. Sambil bercerita tentang kelinci-kelincinya yang sering dia beri makan. Entah mengapa, saat itu tangan kecilnya membuatku tersentuh. Aku nyaman dengan sentuhan tangan kecilnya itu.”
“Dan kau mulai jatuh cinta padanya?”
“Hmm…” Yonghwa bergumam. “Itu awal aku jatuh hati padanya. Saat itu kami mulai bersahabat. Sampai masa SMA pun, kami bertiga tetap bersekolah di sekolah yang sama. Karena persahabatan kami membuatku urung menyatakan cintaku padanya. Apalagi ketika tanpa sengaja, aku memergoki Jonghyun sedang mengungkapkan cinta padanya di taman sekolah kami. Saat itu, aku sangat terpukul. Aku bahkan tidak pernah lagi berpikiran untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Aku hanya tidak ingin mencintai gadis yang sama dengan sepupu dan sahabatku sendiri."
Aku sudah mendengarnya dari Jonghyun-ssi. Kau orang yang dicintai gadis itu. Shinhye berbicara dalam hatinya.
“Apa yang terjadi setelah itu?” tanya Shinhye pura-pura penasaran.
“Kami berpisah ketika tamat SMA. Dia kembali ke Jerman, tanpa mengetahui isi perasaanku padanya.” Yonghwa berhenti berdansa. Dia kemudian berjalan keluar menyalakan sakelar dan kembali menghidupi tungku perapian.
“Apa kau ingin mendengar kelanjutannya?”
Shinhye mengangguk.
Yonghwa menepuk bangku kecil yang tadi mereka duduki, mengisyaratkan Shinhye untuk duduk lagi di bangku itu. “Apa kau tahu ini adalah rahasia paling pribadi tentang diriku?”
Shinhye menggeleng.
“ Tidak ada satu orang pun yang mengetahui rahasia ini, kecuali aku sendiri. Tapi hari ini, kau telah mengetahui semuanya. Oleh karena itu, jangan pernah berpikir untuk lari dariku, eoh?” ungkap Yonghwa sambil menyentuh hidung Shinhye dengan jari telunjuknya.
Shinhye tersenyum sampai wajahnya bersemu merah.
“Selama tiga belas tahun dari hidupku, kuhabiskan dengan menyimpan perasaanku padanya. Semua gadis yang kukencani hanya untuk mengisi waktu luangku. Aku bahkan tidak tertarik untuk membagikan perasaanku dengan gadis lain. Sampai suatu ketika, ada seorang gadis bodoh yang dengan berani berteriak padaku, menyuruhku minta maaf pada gadis lain yang kucampakkan di restaurant-ku sendiri. Saat itu, entah kenapa tapi hati kecilku memaksaku untuk mencari tahu siapa gadis bodoh itu. Aku bahkan mencari perhatian padanya dengan cara membuatnya terus marah padaku. Kupikir hanya dengan cara itu aku bisa mendapat perhatiannya. Tak lama kemudian, perasaan yang tak ingin kubagi itu malah kubagi dengan orang lain. Bukan dengan gadis kecil, cinta pertamaku. Tapi dengan gadis bodoh yang duduk di sampingku saat ini.” Yonghwa tertawa sambil mengelus kepala Shinhye dengan lembut.
Ya, berani-beraninya kau mengatakanku bodoh.” Shinhye menatap Yonghwa dengan wajah kesal.
Yonghwa tertawa kemudian kembali mengusap lembut rambut Shinhye.
“Apa gadis kecil cinta pertamamu itu Yoojin-ssi?” tanya Shinhye tiba-tiba yang membuat Yonghwa seketika berbalik menatap Shinhye. Seakan dia ingin berkata, kau tahu dari mana, tapi hal itu diurungkannya.
“Apa kalau aku memutuskanmu, kau akan kembali lagi pada cinta pertamamu itu?”
Mworagoya?” Sontak Yonghwa kaget dengan pertanyaan tak masuk akal Shinhye.
Ani. Aku hanya bergumam. Kau tidak perlu menjawabnya. Ah, Yonghwa-ssi, aku lapar.” Shinhye menyentuh perutnya mengalihkan pembicaraan mereka. “Apa tidak ada makanan yang bisa kita makan di sini?” Shinhye bangun dari duduknya dan berjalan ke arah dapur, meninggalkan Yonghwa yang masih syok dengan pertanyaannya tadi.


***
Shinhye dan Jiwon sedang berada di kamar Shinhye. Shinhye duduk sambil menyandarkan kepala ke pangkuannya dan duduk meringkuk rapat-rapat. Jiwon duduk di sampingnya sambil sesekali mengetuk-ngetuk lantai rumah Shinhye yang terbuat dari kayu. Dia melakukan hal itu untuk memecah keheningan yang terjadi antara mereka berdua.
“Yang kulihat akhir-akhir ini, kau terlihat sangat murung,” kata Jiwon menatap Shinhye yang masih meringkuk di sampingnya. “Apa yang terjadi padamu? Apa ada hal buruk yang menimpamu? Apa sekarang kau baik-baik saja?” Jiwon terus bertanya melihat Shinhye tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Shinhye sangat pendiam tidak seperti biasanya. Kemudian, tiba-tiba saja, dia mendongak dengan wajah datar, tanpa menatap lawan bicaranya dan berkata, “Aku bosan. Aku bosan harus menjalani hubungan dengannya.”
“Siapa yang kau bicarakan? Jung Yong Hwa-ssi?”
Shinhye tidak menjawab. Kali ini dia menunduk lagi, menatap lantai kamarnya dan meremas kedua tangannya.
“Benar? Yang kau maksud Jung Yong Hwa-ssi? Apa kau serius mengatakan ini? Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia melakukan sesuatu yang jahat padamu?”
“Tidak. Dia tidak melakukan sesuatu yang jahat padaku.” Shinhye terus menggeleng seakan menyatakan bahwa dia yang melakukan kejahatan itu.
“Lalu kenapa kau ingin mengakhiri hubunganmu dengannya?”
“Kurasa sudah waktunya bagi kami untuk berpisah,” kata Shinhye. Dia mendongak lagi, dan Jiwon dapat melihat kedua mata Shinhye yang memerah. Shinhye tidak menangis. Suaranya tenang dan tatapan wajahnya sungguh memperlihatkan dirinya yang tegar. Jiwon sendiri dapat merasakan bahwa gadis ini baik-baik saja.
“Aku tidak mengerti kenapa kau harus memilih jalan ini,” kata Jiwon.
“Dia dan aku, kami memiliki status yang sangat jauh berbeda.”
Jiwon sama sekali tidak percaya Shinhye akan mengatakan kalimat itu.  “Apa karena hal kecil itu, kau ingin mengakhiri hubunganmu dengan Yonghwa-ssi? Apa kau sudah memikirkannya matang-matang?”
 “Itu mungkin kecil bagimu, tapi tidak bagiku. Kau mungkin bisa mempertahankan Jonghyun, karena tidak ada hal lain yang akan kau korbankan dalam hubunganmu. Tapi aku berbeda denganmu.”
“Maksudmu?” tanya Jiwon skeptis.
Shinhye tidak menggubris. Kali ini dia kembali menunduk menatap lantai kamarnya.
“Apa maksudmu dengan pengorbanan? Apa yang akan kau korbankan? Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti. Setidaknya, bisakah kau menjelaskannya padaku?”
Shinhye mengabaikan Jiwon. Dia berpikir bahwa Jiwon hanya sedang bersikap dramatis saat ini. Kedua sahabat ini kemudian memilih untuk saling mendiamkan satu dengan yang lainnya.
Tak berapa lama, Shinhye tiba-tiba berkata, “Aku capek, Kim Ji Won. Bisakah kita tidak bicara untuk beberapa hari ini? Aku perlu ketenangan.” Masih dengan menunduk, kali ini Shinhye berbalik membelakangi Jiwon.
Mwo? Apa maksudmu?” Jiwon kaget dengan penuturan Shinhye yang benar-benar aneh menurutnya.
Shinhye tidak menjawab dan malah berjalan ke arah tempat tidurnya, mengangkat selimut tidurnya, naik ke atas tempat tidurnya, dan mulai menyelimuti seluruh badannya. Dia menutup kedua matanya, seakan mengisyaratkan pada sahabatnya yang masih terpaku menunggu jawaban darinya bahwa dia lelah dan ingin sendiri. Sungguh saat ini dia tidak ingin bicara dengan siapa pun. Termaksud Jiwon, sahabatnya sendiri.
Arasseo. Kau mungkin terganggu dengan semua pertanyaanku. Tapi sungguh aku hanya khawatir padamu, makanya aku banyak bertanya. Kalau saat ini kau benar-benar ingin sendiri, kau cukup bilang padaku dengan kata-kata, bukan dengan cara mengacuhkan aku seperti ini. Kau membuatku terlihat seperti orang bodoh, Shinhye-ya.” Jiwon perlahan ikut berbalik memunggungi Shinhye. Ketika selangkah berjalan, dia kemudian berhenti dan berkata, “Iya memang. Kita berbeda. Aku siap mengorbankan semuanya demi mempertahankan hubunganku dengan Jonghyun, karena aku sangat mencintainya. Sedangkan kau, kau tidak lebih dari seorang pecundang yang ingin lari dari kenyataan. Kau tidak sanggup menerima kenyataan hidupmu, dan ingin berlari meninggalkannya. Kau benar-benar…” Jiwon bahkan tidak bisa melanjutkan kata-kata terakhirnya.
“Aku berharap setelah ini, kau tidak mengatakan apa pun pada Yonghwa.” Shinhye bersuara lagi. Tapi dia tidak mencoba membela diri atau mencari alasan untuk menampis omongan Jiwon. Dia sepertinya menerima semua perkataan Jiwon. Karena memang seperti itu kenyataannya.

“Aku kecewa padamu, chingu-ya. Aku rasa kau benar. Kau dan aku bebar-benar memerlukan waktu untuk menyendiri. Untuk sementara, mari jangan bertemu dulu.” Jiwon perlahan melangkahkan kakinya keluar dari kamar Shinhye.


To be continued 

Minggu, 14 Agustus 2016

Rain of Autumn Part 20

Part 20




Setelah dari kantornya Yonghwa pergi menemui Shinhye di café favorit gadis itu. Begitu gadis itu tiba dan memesan dua cangkir minuman untuk mereka. Dia duduk berhadapan dengan pria yang sekarang sedang mengamatinya lekat-lekat.
“Kapan ciuman pertamamu? Dan dengan siapa kau melakukannya?” tanya Yonghwa tanpa basa-basi.
“Untuk ini kau mengajakku bertemu?” tanya Shinhye kesal mengingat betapa keras perjuangannya menuju café ini. Buru-buru meninggalkan kelasnya dan hampir saja terjatuh dari tangga, bahkan mengejar Bus yang hampir saja meninggalkannya. Itu semua dilakukannya karena kata Yonghwa di telepon ada hal sangat penting yang ingin dibicarakannya pada Shinhye, yang tidak bisa dibicarakan lewat telepon.
“Bukan karena hal ini. Ini hanya pertanyaan yang kuajukan karena rasa penasaran saja. Kapan ciuman pertamamu itu terjadi? Dan dengan siapa kau melakukannya?” Yonghwa mengulangi pertanyaan-pertanyaannya.
Shinhye tidak menjawab.
“Apa itu baru terjadi saat kau kuliah? Denganku?” Yonghwa menunjuk dirinya sendiri dengan senyuman menggoda.
“Apa kau mau merasakan minuman ini mendarat di wajahmu?” ancam Shinhye dengan gelas yang hendak dia tumpahkan pada Yonghwa.
“Ah... ternyata benar aku orangnya. Baiklah, Park Shin Hye—aku menganggap tindakanmu saat ini sebagai respon positif.”
“Katakan keperluanmu yang sebenarnya, sekarang!” seru Shinhye kesal.
Arrasseo, nona si pemarah. Apa kau punya waktu luang akhir pekan ini?”
Wae?” tanya Shinhye cuek.
“Karena aku mau menciummu untuk yang kedua kalinya, ledek Yonghwa.
Ya!” teriak Shinhye kesal karena Yonghwa yang terus menggodanya.
Yonghwa tertawa melihat mimik kesal Shinhye.
“Aku hanya bercanda. Sebenarnya, kau dipanggil oleh eomma. Dia mengajakmu makan malam.”
Jeongmal? Naega?” ucap Shinhye tak percaya. Karena sudah jalan sebulan lebih hubungannya dengan Yonghwa dan baru kali ini Ibu Yonghwa memanggilnya dan mengajaknya makan malam.
Yonghwa mengangguk.
Eonje–kapan?”
Sabtu malam nanti. Berpakaianlah yang rapi. Aku akan menjemputmu jam lima sore.”


***
Yonghwa datang menjemput Shinhye. Dia berdiri di ruang tamu menunggu gadis itu keluar dari kamarnya. Beberapa menit kemudian, Shinhye keluar dari kamarnya mengenakan white dress selutut. Gadis itu terlihat cantik dengan rambutnya yang diikat ke belakang.
Joha.” Yonghwa berkomentar. “Aku sempat berpikir untuk membawamu ke butik, seperti yang dilakukan para pria-pria dalam drama.”
“Berhenti mengungkit tentang drama-dramamu lagi, Jung Yong Hwa-ssi.
Yonghwa menggandeng tangan Shinhye dan membawanya ke luar rumah menuju tempat mobil Yonghwa diparkir. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Park Shin Hye.
Begitu tiba di rumah Yonghwa, Shinhye terlihat gugup. Tiba-tiba saja dia merasakan dilema, antara masuk ke dalam rumah Yonghwa atau berlari pulang saja. Dia bahkan sempat berpikir bahwa dirinya tidak pantas untuk masuk ke dalam rumah besar Yonghwa itu.
“Apa sebaiknya aku pulang saja? Apa aku akan diomeli oleh eomma-mu? Apa eomma-mu tidak seperti para Ibu kaya yang ada dalam drama?” Shinhye mulai mengajukan beberapa pertanyaan aneh. “Mereka sering menentang hubungan anaknya dengan gadis-gadis sederhana, bahkan lebih pantas dibilang miskin seperti aku. Mereka sering mengomeli gadis-gadis itu, bahkan menumpahkan air ke atas kepala gadis-gadis itu.”
Ya, kau menyuruhku untuk berhenti mengungkit kisah dalam drama. Tapi sekarang, kau malah mengungkitnya.” Yonghwa tersenyum melihat wajah panik Shinhye. “Tenang saja, eomma-ku memang seperti yang ada dalam drama, tapi wajahnya saja. Dia cantik, seperti Ibu-ibu yang ada dalam drama. Sifatnya?” Yonghwa terlihat berpikir sebentar. “Aku rasa tidak seburuk mereka yang ada dalam drama. Ayo masuk!” Yonghwa menggenggam tangan Shinhye mencoba membuatnya tidak panik. Kemudian dengan perlahan mereka melangkah  masuk ke dalam rumah besar itu.
Begitu tiba di ruang makan keluarga Yonghwa, Shinhye langsung membungkuk dan menyapa Ibu Yonghwa yang sedang duduk di ruang tamu. Wanita berambut hitam panjang lurus itu ikut menyapa Shinhye dan mempersilahkan Shinhye juga Yonghwa untuk duduk.
“Ternyata kau yang bernama Park Shin Hye itu.”
Shinhye mengangguk.
“Aku Lee Mi Sook, Ibu Yonghwa.” Ibu Yonghwa memperkenalkan dirinya. “Ayah Yonghwa sedang dalam perjalanan bisnis ke New York. Jadi tidak bisa ikut makan malam bersama kita, Park Shin Hye-ssi.” Wanita itu mengatakannya dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Dalam hati, Shinhye bersyukur karena wanita di depannya ini tidak seperti wanita-wanita yang dia bayangkan dalam drama. “Tidak apa-apa.” Shinhye ikut membalas senyuman wanita itu.
Wanita itu tertawa melihat tingkah kikuk Shinhye. “Tidak usah sekikuk itu, Shinhye-ssi. Bicaralah dengan nyaman,” timpalnya sambil menyentuh pundak tangan. “Panggil aku eommonim, biar lebih terdengar akrab.”
Shinhye tersenyum masih setengah kikuk dia berkata, “Aku akan mencobanya, eo..mmonim.”
Ibu Yonghwa tertawa kecil mendengar Shinhye yang memanggilnya dengan cara yang sangat kaku.


***
Setelah selesai makan bersama, ketiga orang itu menuju ke ruang keluarga dan di sanalah mereka terlibat percakapan. Percakapan yang hampir saja membongkar sebuah kebohongan yang pernah dimulai Hyunwoo dan kemudian diteruskan oleh Yonghwa.
Eoh, apa aku boleh memanggilmu Shinhye saja?”
Ye, eommonim, jawab Shinhye mencoba lebih terdengar akrab.
Setelah beberapa menit terlibat percakapan tentang Shinhye dan kehidupannya, tiba-tiba Ibu Yonghwa mengganti topik pembicaraan mereka dengan topic mengenai anak lelakinya.
Wanita itu berkata, “Shinhye-ya, apa kau ingin tahu masa kecil Yonghwa seperti apa?”
Shinhye mengangguk semangat. Dia lebih memilih untuk mengganti topik pembicaraan tentang dirinya dengan topik yang lainnya, sebelum nanti akan beralih pada kisah orang tuanya yang akan membuat dia sangat terpukul kalau harus mengingatnya lagi.
Eomma, kau tidak boleh memberitahunya,” kata Yonghwa melarang Ibunya.
“Apa kau ingin aku menceritakannya?” Lee Mi Sook bertanya pada Shinhye sekali lagi. Kali ini dia bahkan lebih bersemangat untuk menceritakannya. Perlahan dia berjalan ke ruangan kerja ayah Yonghwa yang hanya dipisahkan oleh sebuah pintu yang terbuat dari kaca dengan ruang keluarga—tempat mereka sedang berkumpul saat ini. Wanita itu berjalan ke arah lemari buku yang berdiri anggun di dekat dinding ruang kerja ayah Yonghwa, dan mengambil sebuah album foto keluarga. Dia berjalan kembali ke ruang keluarga dan duduk di tempat duduknya sebelumnya, dan meminta Shinhye lebih mendekat ke arahnya. Shinhye menuruti. Dia bangun dari sofa tempat dia duduk dan menuju ke tempat Ibu Yonghwa berada.
Eomma!” Yonghwa mulai melarang Ibunya lagi.
“Shinhye-ssi, apa kau menyukai anggur?”
Ne, eomonim.”
“Yonghwa-ya, sebaiknya kau ke ruang penyimpanan anggur dan bawakan kami sebotol anggur. Pilih anggur favorit eomma, eoh.
Yonghwa menuruti Ibunya dan berjalan menuju ruang penyimpanan anggur.
Ibu Yongwa dengan semangat mulai membuka album foto Yonghwa. Satu per satu foto keluarganya diperlihatkan pada Shinhye. Shinhye melihat foto orang tua Yonghwa ketika mereka muda, foto pernikahan mereka, kemudian foto seorang bayi perempuan yang tentu saja Shinhye bisa memastikan bahwa itu adalah kakak perempuan Yonghwa.
Eoh, apa bayi mungil ini, Yoomi eonnie?” Tunjuk Shinhye pada bayi mungil perempuan yang sedang digendong sang Ibu.
“Kau mengenal Yoomi-ku juga, Shinhye-ssi? Ah... pasti Yonghwa sudah memperkenalkannya padamu, iya kan?”
Shinhye mengangguk dan menjawab iya pada pertanyaan Ibu Yonghwa.
“Bisa-bisanya dia memperkenalkanmu pada noona-nya duluan daripada aku, Ibunya,” kata Lee Mi Sook terlihat sedikit kecewa. Tapi rasa kekecewaannya itu hanya berlangsung sepersekian detik, karena dia kemudian kembali menyibukkan dirinya membuka satu per satu halaman album lagi—dan kali ini temanya tentang ‘perkembangan Yonghwa’, dari ketika pria itu lahir, merangkak sampai berjalan sendiri pun, semuanya lengkap di dalam album foto itu.
Eoh.” Shinhye tertawa mendapati foto Yonghwa ketika berada di kelas 4 SD. Bocah kecil itu terlihat sedang memamerkan gigi putihnya dengan pipi yang bersemu merah dilengkapi kacamata berlensa bulat besar yang menghiasi kedua matanya.
“Apa dia menggunakan kacamata ketika masih kecil dulu?” tanya Shinhye dengan tangan yang menunjuk pada foto masa kecil Yonghwa berkacamata yang sedang berdiri memegang tongkat baseball.
“Sampai saat ini. Hanya saja dia menggunakannya ketika sedang membaca,” jawab Ibu Yonghwa.
“Kacamatanya membuat dia terlihat lucu.” Shinhye berkomentar.
Lee Mi Sook kemudian kembali membuka lembar berikut pada album foto yang dipegangnya. “Kau tahu, Shinhye-ssi. Dulu Yonghwa-ku adalah kapten kecil dalam tim baseball-nya. Dia benar-benar jago memainkan permainan itu.” Lee Mi Sook mengenang kembali kenangan dalam foto, ketika Yonghwa terlihat sedang memukul bola dengan tongkatnya. “Aku ingat, saat setelah permainan itu selesai. Yonghwa si kecil mengundurkan diri dari tim, karena mendengar bahwa sepupunya yang mengalami kecelakaan tidak diperkenankan lagi bermain dalam tim. Demi solidaritasnya sebagai saudara, dia akhirnya ikut meninggalkan tim.”
“Benar-benar bocah yang baik.” Shinhye seakan ikut merasakan perasaan bangga yang dirasakan Ibu Yonghwa, ketika dia mengucapkan kalimat itu.
Di foto berikutnya Shinhye mendapati Yonghwa sedang duduk berjongkok ditemani seorang bocah yang sebaya dengannya, dan seorang bocah yang lebih kecil—postur tubuhnya di bawah beberapa senti dari Yonghwa dan temannya.  Di foto itu terlihat bocah yang lebih kecil sedang menangis karena diganggu oleh Yonghwa dan teman sebayanya itu.
“Siapa anak ini?” Tunjuk Shinhye pada bocah seumuran Yonghwa yang duduk berjongkok di sampingnya.
Dia sepupu Yonghwa. Lee Jong Hyun, keponakanku.”
“Ah.. Jadi ini tampang Jonghyun-ssi ketika masih kecil,” ujar Shinhye dalam hati. Dia hanya tidak mau terkesan seakan mengenal semua anggota keluarga Yonghwa. “Dan bocah kecil ini?” Tunjuk Shinhye pada bayi yang sedang menangis itu.
“Sepupu Yonghwa juga. Namanya, Lee—” Lee Mi Sook hendak mengatakan nama bayi itu, tapi Yonghwa datang dan memotong pembicaraannya.
Eomma, sebaiknya aku mengantarkan Shinhye pulang sekarang, kata Yonghwa memotong pembicaraan Ibunya.
“Tapi kami belum mencicipi anggur itu.” Tunjuk Ibu Yonghwa pada botol anggur yang dipegang anaknya.
“Hanya saja ini sudah larut malam.” Yonghwa berdalih. Sebenarnya dia masih mau membiarkan Shinhye mengakrabkan diri dengan ibunya. Meski harus menyaksikan keduanya bahagia menertawai dirinya ketika masih kecil dulu. Hanya saja dia hampir meledak ketika mendengar ibunya hampir menyebut nama Lee Hyun Woo, yang juga sepupunya itu. Kalau sampai Shinhye tahu yang sebenarnya sekarang, tamatlah riwayatnya. Oleh karena itu, dia memilih untuk menyudahi pertemuan ini.
“Baiklah,” kata ibu Yonghwa bangun dari duduknya. “Padahal aku masih ingin menceritakan semua kisah masa lalumu padanya, katanya dengan wajah merenggut.
“Kau masih bisa melanjutkannya nanti, eomma. Kami harus pulang sekarang,” kata Yonghwa. “Park Shin Hye, kajja!”
Eommonim bisa memanggilku kapan saja, saat kau membutuhkanku,” kata Shinhye bangun dari duduknya, membungkuk pamit pada Ibu Yonghwa dan pergi meninggalkan wanita itu.


***
“Lain kali, kau jangan bersikap seperti tadi di depan eomma-mu lagi, eoh?” ujar Shinhye ketika Yonghwa mengantarkannya di depan pagar rumahnya.
Yonghwa mengangguk sambil berkata, “Hanya sudah malam saja. Aku tidak mau kau harus bangun telat besok, karena eomma-ku.”
Shinhye tersenyum dan hendak masuk ke dalam rumahnya, tapi Yonghwa menahan lengannya.
“Apa hanya senyuman sebagai ucapan perpisahan?” kata Yonghwa dengan tampang lugu.
Eoh, Arasseo. Chalja, Yonghwa-ssi,
Chalja? Apa kau tidak mengerti?” tanya Yonghwa.
Shinhye mengerutkan keningnya.
Tanpa banyak kata, Yonghwa menempatkan kedua tangannya ke bagian telinga Shinhye, mengangkat wajah gadis itu dan mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu. Kemudian mencium bibir gadis itu. Shinhye tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya diam membiarkan bibirnya bersentuhan dengan bibir Yonghwa.
“Kau melupakan itu,” kata Yonghwa canggung setelah menyelesaikan adegan ciumannya. “Selamat malam. Tidur yang nyenyak dan mimpikan aku,” kata Yonghwa tersenyum.
Eoh, neodo–kau juga,” ucap Shinhye dengan pipi yang bersemu merah. Kemudian, dengan langkah cepat dia membuka pintu pagarnya, menutupnya kembali, dan berlari masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Yonghwa yang masih berdiri di depan pagar rumahnya.


***
“Aku bermimpi buruk semalam.”
“Mimpi apa itu?” kata Yonghwa berjalan bersisian dengan Shinhye di taman dekat perusahaannya.
“Aku bermimpi, aku mengacuhkanmu kemudian kau marah padaku dan meninggalkanku. Kau kemudian lebih memilih Yoojin-ssi.” Shinhye terlihat sedih ketika menceritakan mimpi buruknya.
Langkah Yonghwa berhenti yang kemudian diikuti Shinhye. Yonghwa berbalik menatap gadis di sampingnya itu. “Itu hanya mimpi burukmu. Percaya padaku bahwa aku tak akan pernah meninggalkanmu,” kata Yonghwa sambil mengelus lembut rambut Shinhye. “Atau malah sebaliknya, Shinhye-ya. Kau yang akan pergi meninggalkanku, kalau tahu aku selama ini telah membohongimu. Shinhye-ya, aku hanya belum siap mengatakan kebenarannya padamu sekarang.”
Yonghwa kemudian mengajak Shinhye duduk di kursi taman agar lebih leluasa bercerita. Shinhye menurutinya.
“Hyunwoo akan tiba di Seoul beberapa hari lagi,” kata Yonghwa ketika Shinhye baru saja melesakkan pantat di atas kursi taman.
Jeongmal? Kenapa dia tidak memberitahuku?” Shinhye berpura-pura memprotes. Sebenarnya dia tahu kalau selama ini Hyunwoo tidak pernah bisa bicara dengannya karena ketika ditelepon Hyunwoo, dia yang tak mau menjawabnya. Dia melakukan itu agar Hyunwoo mampu melupakannya.
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu?” ujar Yonghwa dengan tampang serius.
“Apa itu?” tanya Shinhye sambil menyesap kopi panas di gelas kertasnya, di tengah udara dingin bulan Desember.
Tapi aku takut kau akan marah dan pergi meninggalkanku.”
“Itu kan mimpiku.Shinhye terus menyesap kopinya.
Yonghwa terdiam. Tidak meneruskan perkataannya.
“Apa yang mau kau katakan, Jung Yong Hwa-ssi?”
Aniya. Tidak sekarang aku mengatakannya. Kajja¸ aku akan mengantarmu ke restaurant.”


***
Hyunwoo tiba di Bandara Incheon bersama ayah dan ibunya. Dari jauh terlihat Jonghyun dan Yonghwa sedang menunggu mereka. Setelah bertemu dan bertegur sapa, mereka kemudian naik ke mobil mereka masing-masing. Ayah dan Ibu Hyun bersaudara naik mobil bersama sekretaris mereka. Sedangkan Yonghwa, Jonghyun dan Hyunwoo bersama-sama dalam satu mobil. Jonghyun yang mengemudi dan di sampingnya ada Yonghwa. Di belakang bangku kemudi tentu Hyunwoo berada.
“Ah.. kau akan benar-benar gila ketika melihat 36-34 yang berdiri di sampingmu?” kata Hyunwoo sambil membuat bentuk buah dada pada dadanya yang rata.
“Kau juga benar-benar menyukai tipe kakak-kakakmu ini.” Tunjuk Yonghwa pada dirinya dan Jonghyun.
“Sayangnya kakakku tidak lagi menyukai tipe seperti itu, hyeong.” Hyunwoo berkata mengingat ukuran Kim Ji Won tidak seperti gadis idaman mereka.
“Kau benar-benar harus kuhajar, dongsaeng-ah?” tambah Jonghyun.
Mereka bertiga tertawa bersama di atas mobil.
Eoh, ada lagi hyeong. Aku bertemu seorang gadis asal Argentina. Bodynya benar-benar—” Ya! Kau masih bocah. Kenapa membicarakan hal itu?” kata Yonghwa memotong kalimat Hyunwoo.
Hyeong, aku bukan adik kecil kalian lagi. Umurku sudah dua puluh satu tahun. Aku sudah cukup dewasa untuk membicarakan hal itu. Kau mematahkan semangatku saja.”
Yonghwa dan Jonghyun tertawa lebar mendengar protes Hyunwoo.
“Kalau saatnya nanti, aku ingin menikahi salah satu gadis yang kutemui di Amerika sana.”
Kau harus banyak berolahraga. Mengencangkan ototmu. Kudengar gadis Amerika menyukai pria berotot.” Kali ini Jonghyun yang mematahkan semangatnya.
“Eyy, hyeong.” Hyunwoo merenggut kesal melihat kedua hyeong-nya yang terlihat menggodanya.
“Hyunwoo-ya. Apa kau ingin minum kopi denganku?” Yonghwa memutuskan perbincangan mereka tentang gadis-gadis seksi yang dilihat Hyunwoo di Amerika itu.
“Apa harus sekarang, hyeong?” kata Hyunwoo menatap Yonghwa dengan tatapan aneh.
“Tidak sekarang. Aku akan meneleponmu ketika waktunya sudah tepat.”


***
“Kenapa tidak di JeResto saja, hyeong?” ungkap Hyunwoo, ketika melihat Yonghwa masuk ke dalam coffe shop di pinggiran jalan.
“Kopi di sini aromanya sangat nikmat. Aku ingin menikmatinya bersamamu.”
“Begitu ya. Lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku, hyeong?”
“Apa kau hidup baik di Amerika?” Yonghwa mencoba berbasa-basi.
Hyunwoo mengangguk. “Seperti yang kau dengar dari ceritaku, hyeong.”
“Apa paman sudah seratus persen pulih?”
“Aku rasa belum seratus persen.”
Yonghwa mengangguk, kemudian mencoba mengatakan kalimat-kalimat lain untuk berbasa-basi. Beberapa lama kemudian, dia terlihat berpikir sejenak. Sambil menyeka keningnya, dia mencoba masuk dalam inti percakapan. “Kau sudah bicara pada Shinhye?”
Hyunwoo mengusap dagunya dan kemudian menggeleng, memberikan isyarat ‘tidak’ pada pertanyaan Yonghwa. “Terlalu sulit untuk menghubungi noona. Aku pernah sekali mencoba menghubunginya. Tapi nomornya selalu sibuk. Aku rasa mungkin dia sudah punya dunia lain yang selalu menyibukkannya.”
Keureo guna–begitu rupanya. Kapan kau mau menemuinya?”
“Nanti saja, sebagai sebuah kejutan.”
“Ah… Hyunwoo-ya. So-soal” Yonghwa mencoba jujur meskipun sedikit terbata-bata. “Soal hubunganmu dengan Jonghyun.” Yonghwa berdehem sebentar kemudian melanjutkan perkataannya yang terpotong tadi. “Belum kukatakan pada Shinhye. Itu masih rahasia. Karena—”
Algo-isseoso–aku sudah tahu. Aku tahu semuanya, hyeong. Aku tahu kau dan Shinhye noona berkencan,” kata Hyunwoo dengan senyuman simpul menghiasi wajahnya. “Yoojin noona yang memberitahuku. Aku sudah tahu lama, aku hanya tidak ingin merusak hubungan kalian dengan mengatakan kebenarannya. Aku rasa kau punya alasan untuk tidak mengatakannya padaku.”
Jeongmalyo?” kata Yonghwa yang tiba-tiba berubah formal.
Hyunwoo mengangguk menjawab Yonghwa.
Gomawo, Hyunwoo-ya. Akan kupastikan memberitahukan Shinhye semua kebenarannya pada saat yang tepat.”
Sekali lagi Hyunwoo mengangguk, membuat Yonghwa merasa lebih lega.


***
“Park Shin Hye-ssi,” panggil Manajer Yoo. “Ikut aku!”
Shinhye yang baru datang, langsung mengikuti Manajer Yoo ke ruangan Manajer.
“Silahkan duduk,” tawar Manajer Yoo. “Presdir Jung tadi ke sini mencarimu.” Manajer Yoo membuka pembicaraan setelah melihat Shinhye mengikuti tawarannya. “Ada apa sampai dia datang mencarimu?”
Shinhye tidak menjawab dan hanya diam sambil meremas-remas tangannya.
“Apa dia tahu tentang hubunganmu dengan Yonghwa?”
Shinhye menggeleng dan berkata, “Mollaseo.”
“Apa mungkin dia ingin membicarakan hal itu denganmu?”
Shinhye tidak menjawab. Dia terlihat sedang berpikir tentang kemungkinan yang akan terjadi, kalau saja perkataan Manajer Yoo itu benar terjadi. Kalau benar ya, berarti dia dalam masalah besar.
“Kau harus hati-hati, Shinhye-ya. Presdir adalah orang yang sangat perfeksionis dan diktator. Hubungan cinta Yonghwa dari dulu tidak pernah berjalan mulus karena sering diatur-atur olehnya. Kali ini, aku rasa tujuannya menghubungimu pasti ada sangkut pautnya dengan hal ini. Kau harus hati-hati, Shinhye-ya.”
Shinhye hanya bisa mengangguk kemudian beranjak pergi dari ruangan Manajer Yoo.


***
Shinhye duduk di dalam sebuah Cafè di pinggiran jalan tepatnya di area perkantoran Yonghwa. Sambil memandang keluar jendela Cafè itu, dia berpikir apa kira-kira yang akan dibicarakan ayah Yonghwa dengannya. Bunyi jarum jam yang berdetak membuat Shinhye semakin gugup menunggu kedatangan pria tua yang menjadi ayah dari kekasihnya itu. Lima belas menit berlalu, orang yang ditunggu kedatangannya akhirnya datang juga bersama dengan seorang pria muda yang lebih memilih menunggu di luar Cafè—sepertinya dia sekretaris ayah Yonghwa. Dengan langkah wibawa, pria tua itu berjalan menuju meja Shinhye. Tangan Shinhye berkeringat ketika melihat pria tua itu berjalan semakin dekat menuju ke arahnya. Pria tua yang adalah ayah dari kekasihnya itu kemudian duduk di meja yang sama dengan Shinhye. Mereka duduk berhadapan saat ini.
“Maafkan aku karena telat lima belas menit dari waktu perjanjian kita.” Pria tua itu membuka sarung tangan yang membungkus tangannya dan mantel jasnya, meletakannya di samping kursi tempat duduknya.
“Tidak apa-apa, Presdir.”
“Kau bahkan tidak memanggilku abeonim. Kau kekasihnya Yonghwa, kan? Apa lebih baik kau memanggilku abeonim?” kata Presdir Jung tanpa perlu berbasa-basi.
Ketika Presdir Jung melontarkan kalimat-kalimat itu, entah kenapa tapi Shinhye merasa semua itu tidak ikhlas diucapkan pria tua itu. Lebih tepatnya, semua itu hanya sindiran halus untuknya. Setelah memesan kopi. Presdir mulai menatap jalanan di luar. Melihat beberapa pejalan kaki yang lalu lalang dengan mantel hangat mereka. Cuaca dingin di awal bulan Januari saat itu tetap tidak menutup keinginan kerja masyarakat Seoul. “Cuaca di luar benar-benar dingin. Tapi orang-orang Seoul tetap tidak pantang menyerah dan terus bekerja keras. Benarkan, Park Shin Hye-ssi.” Kali ini Presdir memilih berbasa-basi dulu.
Ne.” Dengan nada lembut Shinhye menjawab pertanyaan Presdir.
“Oh yah, bagaimana hubunganmu dengan Yonghwa? Baik-baik saja?” Senyuman mengembang di wajah Presdir ketika bertanya tentang hal ini.
Ne.” Sekali lagi Shinhye menjawab Presdir dengan nada lembut. Bahkan lebih lembut dari sebelumnya.
“Ah, sejam lagi aku ada meeting jadi aku tidak akan berbasa-basi lebih lama lagi.” Presdir sepertinya akan masuk pada inti percakapannya. “Park Shin Hye-ssi, aku ingin berterima kasih karena bantuannmu Yonghwa telah berubah. Dia jadi dewasa dan lebih bertanggung jawab.” Pria itu menyesap kopi pesanannya. “Apa kau tidak minum?” tanyanya pada Shinhye. Melihat gadis di depannya ini tidak sedikit pun menyentuh gelas kopi yang berada di depannya itu.
“Ah, ye.” Shinhye kemudian mengambil cangkir kopinya di atas meja dan ikut menyesapnya.
“Kau memang gadis yang cantik dan baik seperti yang diceritakan Ibu Yonghwa padaku.” Presdir Jung memandang Shinhye beberapa detik, kemudian mengambil cangkirnya dan menyesap kopinya lagi. “Aku menyesal karena aku tidak hadir waktu makan malam bersamamu.”
“Tidak apa-apa, Presdir.” Kali ini, entah kenapa tapi Shinhye terlihat sangat gugup berbicara dengan Presdir. Tidak seperti pertemuan pertamanya dengan Presdir. Obrolan saat itu terdengar lebih santai dari pada obrolan saat ini. Mungkin karena saat itu, statusnya hanya seorang karyawan biasa. Dan sekarang statusnya telah berganti menjadi kekasih dari anak pria yang sedang duduk di depannya saat ini.
“Padahal aku berharap ingin bertemu dengan kedua orang tuamu saat itu.”
Shinhye kaget ketika mendengar Presdir menyinggung soal kedua orang tuanya. Apa dia tidak tahu kalau orang tua Shinhye telah tiada?
“Apa ayah dan ibumu baik-baik saja saat ini?” tanya Presdir yang membuat Shinhye mengatupkan gigi-giginya karena mencoba menahan tangis yang siap pecah kalau saja dia tidak sedang berada di tempat umum.
“Ayahku, Ibuku—” Shinhye memberi jeda pada kalimatnya sebelum melanjutkan kalimat berikutnya. “mereka telah tiada, Presdir.”
Jeongmal? Ah, aku benar-benar minta maaf karena tidak tahu, Park Shin Hye-ssi.” Presdir Jung mencoba memperlihatkan wajah rasa bersalahnya. Namun entah kenapa, Shinhye merasa bahwa raut wajah itu memiliki arti yang lain.
“Apa sekarang kau hidup sendirian? Bagaimana dengan rumahmu? Apa kau hidup dengan nyaman di dalamnya? Ah, kuliahmu? Apa semua berjalan lancar?”
Ne. Semuanya berjalan lancar.”
“Tapi yang kudengar, kau sering mengambil cuti karena kesulitan membayar uang kuliahmu?”
Shinhye tidak sanggup menjawab. Dia malu karena memang benar seperti yang dikatakan Presdir. Dia tidak bisa mengelak.
“Apa kau ingin aku membantumu? Aku bisa membantumu membayar lunas semua biaya kuliahmu?”
Sekali lagi, Shinhye tidak sanggup menjawab.
“Bahkan kalau kau berniat mengambil gelar magister, aku siap membiayainya. Kau bisa memilih satu dari semua universitas terbaik di luar negeri. Aku yang akan membiayai kuliahmu. Kau hanya perlu pergi ke luar Korea.”
Shinhye tetap tidak menjawab dan mulai menunduk. Dia tidak sanggup menatap, apalagi menjawab pertanyaan pria tua di hadapannya ini.
“Apa kau setuju, Park Shin Hye-ssi? Aku akan membawakanmu tiket sesuai dengan negara pilihanmu. Kau bisa melanjutkan kuliahmu di tempat terbaik. Tanpa memikirkan biayanya. Semua proses transfermu aku yang akan mengurusnya. Apa kau setuju?”
Tepat seperti yang Shinhye pikirkan sebelumnya bahwa raut wajah rasa bersalah Presdir Jung tadi memiliki arti yang lain. Dan inilah artinya.
Jeongmal mianhamnida. Aku sangat berterima kasih atas tawaranmu, Presdir. Kau benar-benar sangat baik memikirkan tentang kuliahku,” kata Shinhye mencoba terlihat kuat. “Hanya kalau maksudmu ingin menjauhkanku dari anakmu, kau tidak perlu repot-repot merencanakan semua ini. Aku bisa mengerti keadaanmu, Presdir. Aku dengan senang hati akan menjauhi Yonghwa. Hubungan kami akan benar-benar berakhir. Aku sendiri yang memastikannya. Tapi tolong, jangan buat aku pergi meninggalkan Korea. Aku tidak mungkin meninggalkan rumah warisan orang tuaku. Karena hanya rumah itu satu-satunya kenangan yang tertinggal antara aku dan orang tuaku. Aku mohon padamu.” Kali ini Shinhye berujar panjang lebar, tanpa memberikan jeda pada Presdir Jung untuk masuk dalam pembicaraan.
“Aku minta maaf, Park Shin Hye-ssi. Tapi aku melakukan semua ini demi kebaikan Yonghwa. Dia adalah putraku satu-satunya. Aku hanya ingin memastikan dia mendapatkan semua yang terbaik sepanjang hidupnya. Aku tidak bermaksud—” Presdir Jung sendiri bahkan tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
“Aku mengerti, Presdir.” Shinhye mengambil alih percakapan. “Seperti yang kubilang tadi, akan kupastikan hubungan kami akan benar-benar berakhir.”
“Bagaimana kalau dia memaksa bertemu denganmu? Kau tahu sendiri dia sangat keras kepala.”
“Berikan aku sedikit waktu. Akan kupastikan dia yang akan menjauhiku. Tolong percaya padaku.”
“Baiklah. Tapi kalau kau tidak bisa, kau harus mengikuti keinginanku.”

Shinhye mengangguk bersamaan dengan berlalunya Presdir meninggalkan dia sendiri di Cafè itu.

To Be Continued