Part 20
Setelah
dari kantornya Yonghwa pergi menemui Shinhye di café favorit gadis itu. Begitu gadis itu tiba
dan memesan dua cangkir minuman untuk mereka. Dia duduk berhadapan dengan pria
yang sekarang sedang mengamatinya lekat-lekat.
“Kapan ciuman pertamamu? Dan dengan siapa
kau melakukannya?” tanya Yonghwa tanpa basa-basi.
“Untuk ini kau mengajakku bertemu?” tanya Shinhye
kesal mengingat betapa keras perjuangannya menuju café ini. Buru-buru meninggalkan kelasnya dan hampir
saja terjatuh dari tangga, bahkan mengejar Bus yang hampir saja
meninggalkannya. Itu semua dilakukannya karena kata Yonghwa di telepon ada hal
sangat penting yang ingin dibicarakannya pada Shinhye, yang tidak bisa dibicarakan lewat telepon.
“Bukan karena hal ini. Ini hanya
pertanyaan yang kuajukan karena rasa penasaran saja. Kapan ciuman pertamamu itu
terjadi? Dan dengan siapa kau
melakukannya?” Yonghwa mengulangi pertanyaan-pertanyaannya.
Shinhye tidak menjawab.
“Apa itu baru terjadi saat kau kuliah?
Denganku?” Yonghwa menunjuk dirinya sendiri dengan senyuman menggoda.
“Apa kau mau merasakan minuman ini mendarat di wajahmu?” ancam
Shinhye dengan gelas yang hendak dia tumpahkan pada Yonghwa.
“Ah... ternyata benar aku orangnya. Baiklah, Park Shin Hye—aku menganggap tindakanmu saat ini sebagai respon positif.”
“Katakan keperluanmu yang sebenarnya,
sekarang!” seru Shinhye kesal.
“Arrasseo, nona si pemarah. Apa kau punya waktu
luang akhir pekan ini?”
“Wae?” tanya
Shinhye cuek.
“Karena aku mau menciummu untuk yang kedua
kalinya,” ledek
Yonghwa.
“Ya!” teriak Shinhye
kesal karena Yonghwa yang terus menggodanya.
Yonghwa tertawa melihat mimik kesal
Shinhye.
“Aku hanya bercanda. Sebenarnya, kau
dipanggil oleh eomma. Dia mengajakmu makan malam.”
“Jeongmal? Naega?” ucap Shinhye tak percaya.
Karena sudah jalan sebulan lebih hubungannya dengan Yonghwa dan baru kali ini Ibu Yonghwa memanggilnya dan mengajaknya makan malam.
Yonghwa mengangguk.
“Eonje–kapan?”
“Sabtu malam nanti. Berpakaianlah yang rapi. Aku akan menjemputmu jam
lima sore.”
***
Yonghwa datang menjemput Shinhye. Dia berdiri di
ruang tamu menunggu gadis itu
keluar dari kamarnya. Beberapa menit kemudian, Shinhye keluar dari kamarnya
mengenakan white dress selutut. Gadis
itu terlihat cantik dengan rambutnya yang diikat ke belakang.
“Joha.”
Yonghwa berkomentar. “Aku sempat berpikir untuk membawamu ke butik, seperti
yang dilakukan para pria-pria dalam drama.”
“Berhenti mengungkit tentang drama-dramamu lagi,
Jung Yong Hwa-ssi.”
Yonghwa menggandeng tangan Shinhye dan membawanya
ke luar rumah menuju tempat mobil Yonghwa diparkir. Mereka berdua masuk ke
dalam mobil dan meninggalkan rumah Park Shin Hye.
Begitu tiba di rumah Yonghwa, Shinhye terlihat
gugup. Tiba-tiba saja dia merasakan
dilema, antara masuk ke dalam rumah Yonghwa atau berlari pulang saja. Dia bahkan sempat berpikir
bahwa dirinya tidak pantas untuk masuk ke dalam rumah besar Yonghwa itu.
“Apa sebaiknya aku pulang saja? Apa aku akan
diomeli oleh eomma-mu? Apa eomma-mu tidak seperti
para Ibu kaya yang ada dalam drama?” Shinhye mulai mengajukan beberapa
pertanyaan aneh. “Mereka sering menentang hubungan anaknya dengan gadis-gadis
sederhana, bahkan lebih
pantas dibilang miskin seperti aku. Mereka sering mengomeli gadis-gadis itu,
bahkan menumpahkan air ke atas kepala gadis-gadis itu.”
“Ya,
kau menyuruhku untuk berhenti
mengungkit kisah dalam drama. Tapi sekarang, kau malah mengungkitnya.” Yonghwa
tersenyum melihat wajah panik Shinhye. “Tenang saja, eomma-ku memang seperti yang ada dalam drama, tapi wajahnya saja. Dia cantik, seperti Ibu-ibu yang ada dalam drama. Sifatnya?”
Yonghwa terlihat berpikir sebentar. “Aku rasa tidak seburuk mereka yang ada
dalam drama. Ayo masuk!” Yonghwa menggenggam tangan Shinhye mencoba membuatnya
tidak panik. Kemudian dengan perlahan mereka melangkah masuk ke dalam rumah besar itu.
Begitu tiba di ruang makan keluarga Yonghwa,
Shinhye langsung membungkuk dan menyapa Ibu Yonghwa yang sedang duduk di ruang tamu. Wanita berambut hitam panjang lurus itu ikut menyapa Shinhye
dan mempersilahkan Shinhye juga Yonghwa untuk duduk.
“Ternyata kau yang bernama Park Shin Hye itu.”
Shinhye mengangguk.
“Aku Lee Mi Sook, Ibu Yonghwa.” Ibu Yonghwa
memperkenalkan dirinya. “Ayah
Yonghwa sedang dalam perjalanan bisnis ke New York. Jadi
tidak bisa ikut makan malam bersama kita, Park Shin Hye-ssi.” Wanita itu mengatakannya dengan senyuman mengembang di wajahnya.
Dalam hati, Shinhye bersyukur karena wanita di
depannya ini tidak seperti wanita-wanita yang dia bayangkan dalam drama. “Tidak apa-apa.” Shinhye ikut membalas senyuman wanita
itu.
Wanita itu tertawa
melihat tingkah kikuk Shinhye. “Tidak usah sekikuk itu, Shinhye-ssi. Bicaralah dengan nyaman,” timpalnya
sambil menyentuh pundak tangan. “Panggil aku eommonim, biar lebih terdengar akrab.”
Shinhye tersenyum
masih setengah kikuk dia berkata, “Aku akan mencobanya, eo..mmonim.”
Ibu Yonghwa tertawa
kecil mendengar Shinhye yang memanggilnya dengan cara yang sangat kaku.
***
Setelah selesai makan bersama, ketiga orang itu menuju
ke ruang keluarga dan di sanalah mereka terlibat percakapan. Percakapan yang hampir saja membongkar sebuah kebohongan yang
pernah dimulai Hyunwoo dan kemudian diteruskan oleh Yonghwa.
“Eoh, apa aku boleh memanggilmu Shinhye
saja?”
“Ye, eommonim,” jawab Shinhye mencoba lebih terdengar akrab.
Setelah beberapa
menit terlibat percakapan tentang Shinhye dan kehidupannya, tiba-tiba Ibu
Yonghwa mengganti topik pembicaraan mereka dengan topic mengenai anak
lelakinya.
Wanita itu berkata, “Shinhye-ya, apa kau ingin tahu masa kecil Yonghwa seperti apa?”
Shinhye mengangguk semangat. Dia lebih
memilih untuk mengganti topik pembicaraan tentang dirinya dengan topik yang
lainnya, sebelum nanti akan beralih pada kisah orang tuanya yang akan membuat
dia sangat terpukul kalau harus mengingatnya lagi.
“Eomma, kau tidak boleh memberitahunya,” kata
Yonghwa melarang Ibunya.
“Apa kau ingin aku menceritakannya?” Lee Mi Sook
bertanya pada Shinhye sekali
lagi. Kali ini dia bahkan lebih bersemangat untuk menceritakannya. Perlahan dia
berjalan ke ruangan kerja ayah Yonghwa yang hanya dipisahkan oleh sebuah
pintu yang terbuat dari kaca dengan ruang keluarga—tempat mereka sedang
berkumpul saat ini. Wanita itu berjalan ke arah lemari buku yang
berdiri anggun di dekat dinding ruang kerja ayah Yonghwa, dan mengambil sebuah album foto keluarga. Dia berjalan kembali ke ruang
keluarga dan duduk di tempat duduknya
sebelumnya, dan meminta Shinhye lebih mendekat ke arahnya. Shinhye menuruti. Dia bangun dari sofa tempat dia duduk dan menuju ke
tempat Ibu Yonghwa berada.
“Eomma!” Yonghwa mulai melarang Ibunya lagi.
“Shinhye-ssi, apa kau menyukai anggur?”
“Ne, eomonim.”
“Yonghwa-ya, sebaiknya kau ke ruang penyimpanan anggur
dan bawakan kami sebotol anggur. Pilih anggur favorit eomma, eoh.”
Yonghwa menuruti Ibunya dan berjalan menuju
ruang penyimpanan anggur.
Ibu Yongwa dengan semangat mulai membuka album foto
Yonghwa. Satu per satu foto keluarganya diperlihatkan pada Shinhye.
Shinhye melihat foto orang tua Yonghwa ketika mereka muda, foto pernikahan
mereka, kemudian foto seorang bayi perempuan yang tentu saja Shinhye bisa
memastikan bahwa itu adalah kakak perempuan Yonghwa.
“Eoh,
apa bayi mungil ini, Yoomi eonnie?”
Tunjuk Shinhye pada bayi mungil perempuan yang sedang digendong sang
Ibu.
“Kau mengenal Yoomi-ku juga, Shinhye-ssi? Ah... pasti Yonghwa sudah memperkenalkannya padamu, iya kan?”
Shinhye mengangguk dan menjawab iya pada
pertanyaan Ibu Yonghwa.
“Bisa-bisanya dia memperkenalkanmu pada noona-nya duluan daripada aku, Ibunya,”
kata Lee Mi Sook terlihat sedikit kecewa. Tapi rasa kekecewaannya itu
hanya berlangsung sepersekian detik, karena dia kemudian kembali menyibukkan dirinya membuka satu per satu halaman album lagi—dan kali
ini temanya tentang ‘perkembangan Yonghwa’, dari ketika pria itu lahir, merangkak sampai berjalan sendiri pun, semuanya lengkap di dalam album
foto itu.
“Eoh.”
Shinhye tertawa mendapati foto Yonghwa ketika berada di kelas 4 SD. Bocah kecil
itu terlihat sedang memamerkan
gigi putihnya dengan pipi
yang bersemu merah dilengkapi kacamata berlensa bulat besar yang menghiasi kedua matanya.
“Apa dia menggunakan
kacamata ketika masih kecil dulu?” tanya Shinhye dengan tangan yang menunjuk
pada foto masa kecil Yonghwa berkacamata yang sedang berdiri memegang tongkat baseball.
“Sampai saat ini.
Hanya saja dia menggunakannya ketika sedang membaca,” jawab Ibu Yonghwa.
“Kacamatanya membuat dia terlihat lucu.” Shinhye
berkomentar.
Lee Mi Sook kemudian kembali membuka lembar
berikut pada album foto yang
dipegangnya. “Kau tahu,
Shinhye-ssi. Dulu Yonghwa-ku adalah kapten kecil dalam tim baseball-nya. Dia benar-benar jago memainkan permainan
itu.” Lee Mi Sook mengenang kembali kenangan dalam foto, ketika Yonghwa
terlihat sedang memukul bola dengan tongkatnya. “Aku ingat, saat setelah
permainan itu selesai. Yonghwa si kecil mengundurkan diri dari tim, karena
mendengar bahwa sepupunya yang mengalami kecelakaan tidak diperkenankan lagi
bermain dalam tim. Demi solidaritasnya sebagai saudara, dia akhirnya ikut
meninggalkan tim.”
“Benar-benar bocah yang baik.” Shinhye seakan
ikut merasakan perasaan bangga
yang dirasakan Ibu Yonghwa, ketika
dia mengucapkan kalimat itu.
Di foto berikutnya Shinhye mendapati Yonghwa
sedang duduk berjongkok ditemani seorang bocah yang sebaya
dengannya, dan seorang bocah yang lebih kecil—postur
tubuhnya di bawah beberapa senti dari Yonghwa dan temannya. Di foto itu terlihat bocah yang lebih kecil sedang menangis karena diganggu oleh
Yonghwa dan teman sebayanya itu.
“Siapa anak ini?” Tunjuk Shinhye pada bocah
seumuran Yonghwa yang duduk berjongkok di sampingnya.
“Dia sepupu Yonghwa. Lee Jong Hyun, keponakanku.”
“Ah.. Jadi
ini tampang Jonghyun-ssi ketika masih kecil,” ujar Shinhye dalam hati. Dia hanya
tidak mau terkesan seakan mengenal semua anggota keluarga Yonghwa. “Dan bocah
kecil ini?” Tunjuk Shinhye pada bayi
yang sedang menangis itu.
“Sepupu Yonghwa juga. Namanya, Lee—” Lee Mi Sook
hendak mengatakan nama bayi itu, tapi Yonghwa datang dan memotong
pembicaraannya.
“Eomma, sebaiknya aku mengantarkan Shinhye
pulang sekarang,” kata
Yonghwa memotong pembicaraan Ibunya.
“Tapi kami belum mencicipi anggur itu.” Tunjuk Ibu
Yonghwa pada botol anggur yang
dipegang anaknya.
“Hanya saja ini sudah larut malam.” Yonghwa berdalih. Sebenarnya dia masih mau membiarkan Shinhye
mengakrabkan diri dengan ibunya.
Meski harus menyaksikan keduanya bahagia menertawai dirinya ketika masih kecil dulu. Hanya saja dia hampir meledak ketika
mendengar ibunya hampir
menyebut nama Lee Hyun Woo, yang juga sepupunya itu. Kalau sampai Shinhye tahu yang sebenarnya sekarang, tamatlah riwayatnya. Oleh karena itu, dia
memilih untuk menyudahi pertemuan ini.
“Baiklah,” kata ibu Yonghwa bangun dari duduknya. “Padahal aku masih ingin
menceritakan semua kisah masa lalumu padanya,” katanya dengan wajah merenggut.
“Kau masih bisa melanjutkannya nanti, eomma. Kami harus pulang sekarang,” kata Yonghwa. “Park Shin Hye, kajja!”
“Eommonim bisa memanggilku kapan saja, saat kau
membutuhkanku,” kata Shinhye bangun dari duduknya, membungkuk pamit pada Ibu
Yonghwa dan pergi meninggalkan wanita itu.
***
“Lain kali, kau jangan bersikap seperti
tadi di depan eomma-mu lagi, eoh?” ujar Shinhye ketika Yonghwa mengantarkannya di
depan pagar rumahnya.
Yonghwa mengangguk sambil berkata, “Hanya
sudah malam saja. Aku tidak mau kau harus bangun telat besok, karena eomma-ku.”
Shinhye tersenyum dan hendak masuk ke
dalam rumahnya, tapi Yonghwa menahan lengannya.
“Apa hanya senyuman sebagai ucapan
perpisahan?” kata Yonghwa dengan tampang lugu.
“Eoh,
Arasseo. Chalja, Yonghwa-ssi,”
“Chalja? Apa kau tidak mengerti?” tanya Yonghwa.
Shinhye mengerutkan keningnya.
Tanpa banyak kata, Yonghwa menempatkan
kedua tangannya ke bagian telinga Shinhye, mengangkat wajah gadis itu dan
mendekatkan bibirnya ke bibir gadis itu. Kemudian mencium bibir gadis itu. Shinhye tidak bisa berbuat apa-apa,
dia hanya diam membiarkan bibirnya bersentuhan dengan bibir Yonghwa.
“Kau
melupakan itu,” kata Yonghwa canggung setelah menyelesaikan adegan ciumannya. “Selamat malam. Tidur yang nyenyak dan mimpikan
aku,” kata Yonghwa tersenyum.
“Eoh, neodo–kau juga,”
ucap Shinhye dengan pipi yang bersemu merah. Kemudian, dengan langkah cepat dia
membuka pintu pagarnya,
menutupnya kembali, dan
berlari masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Yonghwa yang masih berdiri
di depan pagar rumahnya.
***
“Aku bermimpi buruk semalam.”
“Mimpi apa itu?” kata Yonghwa berjalan
bersisian dengan Shinhye di taman dekat perusahaannya.
“Aku bermimpi, aku mengacuhkanmu kemudian
kau marah padaku dan meninggalkanku. Kau kemudian lebih memilih Yoojin-ssi.” Shinhye terlihat sedih ketika menceritakan mimpi buruknya.
Langkah Yonghwa berhenti yang kemudian
diikuti Shinhye. Yonghwa berbalik menatap gadis di sampingnya itu. “Itu hanya mimpi burukmu. Percaya padaku bahwa aku tak akan
pernah meninggalkanmu,” kata Yonghwa sambil mengelus lembut
rambut Shinhye. “Atau malah sebaliknya, Shinhye-ya. Kau yang akan pergi meninggalkanku,
kalau tahu aku selama ini
telah membohongimu. Shinhye-ya, aku
hanya belum siap mengatakan kebenarannya
padamu sekarang.”
Yonghwa kemudian mengajak Shinhye duduk di kursi taman agar lebih
leluasa bercerita. Shinhye menurutinya.
“Hyunwoo akan tiba di Seoul beberapa hari
lagi,” kata Yonghwa ketika Shinhye baru saja melesakkan pantat di atas kursi
taman.
“Jeongmal? Kenapa dia tidak memberitahuku?” Shinhye
berpura-pura memprotes. Sebenarnya dia tahu kalau selama ini Hyunwoo tidak
pernah bisa bicara dengannya karena ketika ditelepon Hyunwoo, dia yang tak mau
menjawabnya. Dia
melakukan itu agar Hyunwoo mampu melupakannya.
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan
padamu?” ujar Yonghwa dengan tampang serius.
“Apa itu?” tanya Shinhye sambil menyesap
kopi panas di gelas kertasnya,
di tengah udara dingin bulan Desember.
“Tapi aku takut kau akan marah dan pergi meninggalkanku.”
“Itu kan mimpiku.” Shinhye terus menyesap kopinya.
Yonghwa terdiam. Tidak meneruskan
perkataannya.
“Apa yang mau kau katakan, Jung Yong Hwa-ssi?”
“Aniya. Tidak sekarang aku mengatakannya. Kajja¸ aku akan mengantarmu ke restaurant.”
***
Hyunwoo tiba di Bandara Incheon bersama
ayah dan ibunya. Dari jauh terlihat
Jonghyun dan Yonghwa sedang menunggu mereka. Setelah bertemu dan bertegur sapa, mereka kemudian
naik ke mobil mereka masing-masing.
Ayah dan Ibu Hyun bersaudara naik mobil bersama sekretaris mereka. Sedangkan
Yonghwa, Jonghyun dan Hyunwoo bersama-sama dalam satu mobil. Jonghyun yang
mengemudi dan di sampingnya ada Yonghwa. Di belakang bangku kemudi tentu
Hyunwoo berada.
“Ah.. kau akan benar-benar gila ketika
melihat 36-34 yang berdiri di sampingmu?” kata Hyunwoo sambil membuat bentuk
buah dada pada dadanya yang rata.
“Kau juga benar-benar menyukai tipe
kakak-kakakmu ini.” Tunjuk Yonghwa pada dirinya dan Jonghyun.
“Sayangnya kakakku tidak lagi menyukai tipe seperti itu, hyeong.” Hyunwoo berkata mengingat ukuran Kim Ji Won tidak seperti gadis idaman mereka.
“Kau benar-benar harus kuhajar, dongsaeng-ah?” tambah Jonghyun.
Mereka bertiga tertawa bersama di atas
mobil.
“Eoh, ada lagi hyeong. Aku bertemu seorang gadis asal Argentina. Bodynya benar-benar—” “Ya! Kau masih bocah. Kenapa membicarakan hal itu?” kata Yonghwa
memotong kalimat Hyunwoo.
“Hyeong, aku bukan adik kecil kalian
lagi. Umurku sudah dua puluh satu tahun. Aku sudah cukup dewasa untuk
membicarakan hal itu. Kau mematahkan semangatku saja.”
Yonghwa
dan Jonghyun tertawa lebar mendengar protes Hyunwoo.
“Kalau
saatnya nanti, aku ingin menikahi salah satu gadis yang kutemui di Amerika
sana.”
“Kau harus banyak berolahraga.
Mengencangkan ototmu. Kudengar gadis Amerika menyukai pria berotot.” Kali ini
Jonghyun yang mematahkan semangatnya.
“Eyy,
hyeong.” Hyunwoo merenggut kesal
melihat kedua hyeong-nya yang
terlihat menggodanya.
“Hyunwoo-ya. Apa kau ingin minum kopi denganku?”
Yonghwa memutuskan perbincangan
mereka tentang gadis-gadis seksi yang dilihat Hyunwoo di Amerika itu.
“Apa
harus sekarang, hyeong?” kata Hyunwoo
menatap Yonghwa dengan tatapan aneh.
“Tidak
sekarang. Aku akan meneleponmu ketika waktunya sudah tepat.”
***
“Kenapa
tidak di JeResto saja, hyeong?”
ungkap Hyunwoo, ketika melihat Yonghwa masuk ke dalam coffe shop di pinggiran jalan.
“Kopi
di sini aromanya sangat nikmat. Aku ingin menikmatinya bersamamu.”
“Begitu
ya. Lalu apa yang ingin kau bicarakan
denganku, hyeong?”
“Apa
kau hidup baik di Amerika?” Yonghwa mencoba berbasa-basi.
Hyunwoo
mengangguk. “Seperti yang kau dengar dari ceritaku, hyeong.”
“Apa
paman sudah seratus persen pulih?”
“Aku
rasa belum seratus persen.”
Yonghwa
mengangguk, kemudian mencoba mengatakan kalimat-kalimat lain untuk
berbasa-basi. Beberapa lama kemudian, dia terlihat berpikir sejenak. Sambil menyeka
keningnya, dia mencoba masuk dalam inti percakapan. “Kau sudah bicara pada
Shinhye?”
Hyunwoo
mengusap dagunya dan kemudian menggeleng, memberikan isyarat ‘tidak’ pada
pertanyaan Yonghwa. “Terlalu sulit untuk menghubungi noona. Aku pernah sekali mencoba menghubunginya. Tapi nomornya
selalu sibuk. Aku rasa mungkin dia sudah punya dunia lain yang selalu
menyibukkannya.”
“Keureo guna–begitu rupanya. Kapan kau
mau menemuinya?”
“Nanti
saja, sebagai sebuah kejutan.”
“Ah…
Hyunwoo-ya. So-soal” Yonghwa mencoba
jujur meskipun sedikit terbata-bata. “Soal hubunganmu dengan Jonghyun.” Yonghwa
berdehem sebentar kemudian melanjutkan perkataannya yang terpotong tadi. “Belum
kukatakan pada Shinhye. Itu masih rahasia. Karena—”
“Algo-isseoso–aku sudah tahu. Aku tahu
semuanya, hyeong. Aku tahu kau dan
Shinhye noona berkencan,” kata
Hyunwoo dengan senyuman simpul menghiasi wajahnya. “Yoojin noona yang memberitahuku. Aku sudah tahu lama, aku hanya tidak ingin
merusak hubungan kalian dengan mengatakan kebenarannya. Aku rasa kau punya
alasan untuk tidak mengatakannya padaku.”
“Jeongmalyo?” kata Yonghwa yang tiba-tiba
berubah formal.
Hyunwoo
mengangguk menjawab Yonghwa.
“Gomawo, Hyunwoo-ya. Akan kupastikan memberitahukan Shinhye semua kebenarannya pada
saat yang tepat.”
Sekali
lagi Hyunwoo mengangguk, membuat Yonghwa merasa lebih lega.
***
“Park
Shin Hye-ssi,” panggil Manajer Yoo.
“Ikut aku!”
Shinhye
yang baru datang, langsung mengikuti Manajer Yoo ke ruangan Manajer.
“Silahkan
duduk,” tawar Manajer Yoo. “Presdir Jung tadi ke sini mencarimu.” Manajer Yoo
membuka pembicaraan setelah melihat Shinhye mengikuti tawarannya. “Ada apa
sampai dia datang mencarimu?”
Shinhye
tidak menjawab dan hanya diam sambil meremas-remas tangannya.
“Apa
dia tahu tentang hubunganmu dengan Yonghwa?”
Shinhye
menggeleng dan berkata, “Mollaseo.”
“Apa
mungkin dia ingin membicarakan hal itu denganmu?”
Shinhye
tidak menjawab. Dia terlihat sedang berpikir tentang kemungkinan yang akan
terjadi, kalau saja perkataan Manajer Yoo itu benar terjadi. Kalau benar ya,
berarti dia dalam masalah besar.
“Kau
harus hati-hati, Shinhye-ya. Presdir
adalah orang yang sangat perfeksionis dan diktator. Hubungan cinta Yonghwa dari
dulu tidak pernah berjalan mulus karena sering diatur-atur olehnya. Kali ini,
aku rasa tujuannya menghubungimu pasti ada sangkut pautnya dengan hal ini. Kau
harus hati-hati, Shinhye-ya.”
Shinhye
hanya bisa mengangguk kemudian beranjak pergi dari ruangan Manajer Yoo.
***
Shinhye
duduk di dalam sebuah Cafè di pinggiran jalan tepatnya di area perkantoran
Yonghwa. Sambil memandang keluar jendela Cafè itu, dia berpikir apa kira-kira
yang akan dibicarakan ayah Yonghwa dengannya. Bunyi jarum jam yang berdetak
membuat Shinhye semakin gugup menunggu kedatangan pria tua yang menjadi ayah
dari kekasihnya itu. Lima belas menit berlalu, orang yang ditunggu
kedatangannya akhirnya datang juga bersama dengan seorang pria muda yang lebih
memilih menunggu di luar Cafè—sepertinya dia sekretaris ayah Yonghwa. Dengan
langkah wibawa, pria tua itu berjalan menuju meja Shinhye. Tangan Shinhye
berkeringat ketika melihat pria tua itu berjalan semakin dekat menuju ke
arahnya. Pria tua yang adalah ayah dari kekasihnya itu kemudian duduk di meja
yang sama dengan Shinhye. Mereka duduk berhadapan saat ini.
“Maafkan
aku karena telat lima belas menit dari waktu perjanjian kita.” Pria tua itu
membuka sarung tangan yang membungkus tangannya dan mantel jasnya, meletakannya
di samping kursi tempat duduknya.
“Tidak
apa-apa, Presdir.”
“Kau
bahkan tidak memanggilku abeonim. Kau
kekasihnya Yonghwa, kan? Apa lebih baik kau memanggilku abeonim?” kata Presdir Jung tanpa perlu berbasa-basi.
Ketika
Presdir Jung melontarkan kalimat-kalimat itu, entah kenapa tapi Shinhye merasa
semua itu tidak ikhlas diucapkan pria tua itu. Lebih tepatnya, semua itu hanya
sindiran halus untuknya. Setelah memesan kopi. Presdir mulai menatap jalanan di
luar. Melihat beberapa pejalan kaki yang lalu lalang dengan mantel hangat
mereka. Cuaca dingin di awal bulan Januari saat itu tetap tidak menutup
keinginan kerja masyarakat Seoul. “Cuaca di luar benar-benar dingin. Tapi
orang-orang Seoul tetap tidak pantang menyerah dan terus bekerja keras.
Benarkan, Park Shin Hye-ssi.” Kali
ini Presdir memilih berbasa-basi dulu.
“Ne.” Dengan nada lembut Shinhye menjawab
pertanyaan Presdir.
“Oh
yah, bagaimana hubunganmu dengan Yonghwa? Baik-baik saja?” Senyuman mengembang
di wajah Presdir ketika bertanya tentang hal ini.
“Ne.” Sekali lagi Shinhye menjawab
Presdir dengan nada lembut. Bahkan lebih lembut dari sebelumnya.
“Ah, sejam lagi aku ada meeting jadi aku tidak akan berbasa-basi lebih lama lagi.” Presdir
sepertinya akan masuk pada inti percakapannya. “Park Shin Hye-ssi, aku ingin berterima kasih karena
bantuannmu Yonghwa telah berubah. Dia jadi dewasa dan lebih bertanggung jawab.”
Pria itu menyesap kopi pesanannya. “Apa kau tidak minum?” tanyanya pada
Shinhye. Melihat gadis di depannya ini tidak sedikit pun menyentuh gelas kopi
yang berada di depannya itu.
“Ah,
ye.” Shinhye kemudian mengambil
cangkir kopinya di atas meja dan ikut menyesapnya.
“Kau
memang gadis yang cantik dan baik seperti yang diceritakan Ibu Yonghwa padaku.”
Presdir Jung memandang Shinhye beberapa detik, kemudian mengambil cangkirnya
dan menyesap kopinya lagi. “Aku menyesal karena aku tidak hadir waktu makan
malam bersamamu.”
“Tidak
apa-apa, Presdir.” Kali ini, entah kenapa tapi Shinhye terlihat sangat gugup
berbicara dengan Presdir. Tidak seperti pertemuan pertamanya dengan Presdir.
Obrolan saat itu terdengar lebih santai dari pada obrolan saat ini. Mungkin
karena saat itu, statusnya hanya seorang karyawan biasa. Dan sekarang statusnya
telah berganti menjadi kekasih dari anak pria yang sedang duduk di depannya
saat ini.
“Padahal
aku berharap ingin bertemu dengan kedua orang tuamu saat itu.”
Shinhye
kaget ketika mendengar Presdir menyinggung soal kedua orang tuanya. Apa dia
tidak tahu kalau orang tua Shinhye telah tiada?
“Apa
ayah dan ibumu baik-baik saja saat ini?” tanya Presdir yang membuat Shinhye
mengatupkan gigi-giginya karena mencoba menahan tangis yang siap pecah kalau
saja dia tidak sedang berada di tempat umum.
“Ayahku,
Ibuku—” Shinhye memberi jeda pada kalimatnya sebelum melanjutkan kalimat
berikutnya. “mereka telah tiada, Presdir.”
“Jeongmal? Ah, aku benar-benar
minta maaf karena tidak tahu, Park Shin Hye-ssi.”
Presdir Jung mencoba memperlihatkan wajah rasa bersalahnya. Namun entah kenapa,
Shinhye merasa bahwa raut wajah itu memiliki arti yang lain.
“Apa
sekarang kau hidup sendirian? Bagaimana dengan rumahmu? Apa kau hidup dengan
nyaman di dalamnya? Ah, kuliahmu? Apa semua berjalan lancar?”
“Ne. Semuanya berjalan lancar.”
“Tapi
yang kudengar, kau sering mengambil cuti karena kesulitan membayar uang
kuliahmu?”
Shinhye
tidak sanggup menjawab. Dia malu karena memang benar seperti yang dikatakan
Presdir. Dia tidak bisa mengelak.
“Apa
kau ingin aku membantumu? Aku bisa membantumu membayar lunas semua biaya
kuliahmu?”
Sekali
lagi, Shinhye tidak sanggup menjawab.
“Bahkan
kalau kau berniat mengambil gelar magister, aku siap membiayainya. Kau bisa
memilih satu dari semua universitas terbaik di luar negeri. Aku yang akan
membiayai kuliahmu. Kau hanya perlu pergi ke luar Korea.”
Shinhye
tetap tidak menjawab dan mulai menunduk. Dia tidak sanggup menatap, apalagi
menjawab pertanyaan pria tua di hadapannya ini.
“Apa
kau setuju, Park Shin Hye-ssi? Aku
akan membawakanmu tiket sesuai dengan negara pilihanmu. Kau bisa melanjutkan
kuliahmu di tempat terbaik. Tanpa memikirkan biayanya. Semua proses transfermu
aku yang akan mengurusnya. Apa kau setuju?”
Tepat
seperti yang Shinhye pikirkan sebelumnya bahwa raut wajah rasa bersalah Presdir
Jung tadi memiliki arti yang lain. Dan inilah artinya.
“Jeongmal mianhamnida. Aku sangat berterima
kasih atas tawaranmu, Presdir. Kau benar-benar sangat baik memikirkan tentang
kuliahku,” kata Shinhye mencoba terlihat kuat. “Hanya kalau maksudmu ingin
menjauhkanku dari anakmu, kau tidak perlu repot-repot merencanakan semua ini.
Aku bisa mengerti keadaanmu, Presdir. Aku dengan senang hati akan menjauhi
Yonghwa. Hubungan kami akan benar-benar berakhir. Aku sendiri yang memastikannya.
Tapi tolong, jangan buat aku pergi meninggalkan Korea. Aku tidak mungkin
meninggalkan rumah warisan orang tuaku. Karena hanya rumah itu satu-satunya
kenangan yang tertinggal antara aku dan orang tuaku. Aku mohon padamu.” Kali
ini Shinhye berujar panjang lebar, tanpa memberikan jeda pada Presdir Jung
untuk masuk dalam pembicaraan.
“Aku
minta maaf, Park Shin Hye-ssi. Tapi
aku melakukan semua ini demi kebaikan Yonghwa. Dia adalah putraku satu-satunya.
Aku hanya ingin memastikan dia mendapatkan semua yang terbaik sepanjang
hidupnya. Aku tidak bermaksud—” Presdir Jung sendiri bahkan tak sanggup melanjutkan
kalimatnya.
“Aku
mengerti, Presdir.” Shinhye mengambil alih percakapan. “Seperti yang kubilang
tadi, akan kupastikan hubungan kami akan benar-benar berakhir.”
“Bagaimana
kalau dia memaksa bertemu denganmu? Kau tahu sendiri dia sangat keras kepala.”
“Berikan
aku sedikit waktu. Akan kupastikan dia yang akan menjauhiku. Tolong percaya
padaku.”
“Baiklah.
Tapi kalau kau tidak bisa, kau harus mengikuti keinginanku.”
Shinhye
mengangguk bersamaan dengan berlalunya Presdir meninggalkan dia sendiri di Cafè
itu.
To Be Continued

