Part 16
“Seberapa
jauh Shinhye-ssi sudah mengenal
adikku?” Yoomi bertanya seolah Shinhye dan Yonghwa sedang menjalin suatu
hubungan. “Apa dia tampan untuk dijadikan pacar?”
Shinhye hanya bisa tertawa sember. Lebih tepatnya karena
dia benar-benar tak mengerti dengan maksud pertanyaan kakak perempuan Yonghwa
ini.
Melihat Shinhye yang hanya bisa
menjawabnya dengan tawa membuat Yoomi semakin menantikan jawabannya. Dengan
tatapan menuntut, Yoomi terus memandang Shinhye menantikan gadis di depannya
ini membuka mulutnya dan menjawab pertanyaannya.
Melihat tatapan menuntut Yoomi
membuat Shinhye seakan merasakan hawa dingin di ruangan ini berubah menjadi
panas. Saat itu juga Shinhye langsung melepas syal yang melingkar di
lehernya dan meletakkannya
di atas sofa yang sedang dia duduki.
Yonghwa
tersenyum melihat
tingkah gugup Shinhye. Sepertinya dia mengerti apa yang sedang dirasakan
Shinhye saat ini. Untuk menyelamatkan Shinhye dari tatapan menuntut Yoomi,
Yonghwa kemudian menjawab, “Justru aku baru ingin meminta ijinmu untuk mengencani
gadis ini, noona.”
Sontak
Shinhye dan Yoomi menatap Yonghwa kaget.
“Shinhye-ssi belum menjadi kekasihmu?” tanya Yoomi yang menjadi malu
dengan pertanyaan-pertanyaan yang
dia ajukan tadi. “Eoh, Shinhye-ya, aku minta maaf sudah
membuatmu seakan tersudut. Mianhaeyo.”
“Anieyo, eonnie. Gwaenchanayo.”
“Babo,”
kata Yoomi menatap
Yonghwa dengan tatapan kesal.
“Park Shin
Hye, seperti kataku
tadi kalau aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang. Dan seseorang itu adalah noona-ku. Dia adalah
orang pertama yang akan kukenalkan pada kekasihku. Karena kau calon kekasihku
bicaralah di depan noona-ku. Katakan
dngan jujur semua perasaanmu padaku.” Dengan
yakin Yonghwa berkata
seakan-akan mengetahui dengan jelas seperti apa perasaan Shinhye.
Shinhye
seakan ingin meninju wajah pria di sampingnya ini. Kalau saja sedang tidak berada di rumah noona-nya,
mungkin Shinhye sudah mengumpatnya habis-habisan. Pria ini benar-benar
kekanakkan. Dia membuat Shinhye benar-benar
tersudut dengan
perkataan sepihaknya itu. Shinhye diam, karena tidak tahu harus menjawab apa.
Yoomi yang
membaca ekspresi
wajah Shinhye
seakan tahu apa yang sedang dialami gadis ini. Dengan langkah
gamang dia menuju Yonghwa dan menendang kaki adiknya itu. “Ya, saekkiya! Apa yang kau lakukan padanya? Kau
memaksanya jadi kekasihmu? Ah.. michinnyeon–brengsek. Pergi kau!” Yoomi memukul Yonghwa dengan bantal
sofa yang dipegangnya.
Yonghwa menghindar dan berlari
mengitari ruang tengah rumah itu. “Noona-ya,
kau jangan membuatku malu di depan gadis yang kusukai.”
“Mworago? Kau berani membentakku? Pergi kau, nappeun saekkiya!” Yoomi terus mengumpat
Yonghwa sambil mengejarnya dan memukulnya dengan bantal sofa itu.
Mereka baru
berhenti kejar-mengejar setelah mendengar suara tangisan Jinyoung, anak Yoomi
yang terganggu dengan keributan yang
dibuat mereka. Yoomi berlari ke arah Jinyoung,
menggendongnya dan membujuknya agar
tenang lagi.
“Mianhata, Shinhye-ssi. Kau pasti merasa terganggu dengan keributan yang kami buat,” kata
Yoomi dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Anieyo, eonnie.”
“Tunggulah di
sini untuk makan malam,
Shinhye-ya. Dan kau,” kata Yoomi mendelik ke
arah Yonghwa. “Jangan pernah menyentuh piring dan sendokku.”
“Kalau begitu aku akan makan
menggunakan mangkukmu, noona.”
“Bujung–busung lapar!” ledek Yoomi dengan panggilan yang biasa dia pakai memanggil Yonghwa kalau-kalau sedang
marah.
“Noona, Jung adalah
margamu juga. Maji–benarkan?” ujar Yonghwa membela diri. “Aku pun bisa memanggilmu bujung.”
Shinhye tersenyum simpul melihat
tingkah Yonghwa yang tak biasa. Sikapnya benar-benar berbeda ketika sedang
bersama noona-nya. Dia lebih ramah
dan lebih sering tertawa dan tersenyum.
“Shinhye-ya,
bilang padaku kalau
saja si
bodoh ini tak
memperlakukanmu dengan baik.” Yoomi tidak memedulikan perkataan Yonghwa.
Shinhye
mengangguk.
“Eonnie-ya, apa aku bisa membantumu
memasak?” tanya Shinhye ketika Yoomi menyerahkan Jinyoung pada Yonghwa dan
hendak berjalan menuju dapur.
“Aku lumayan hebat
bermain dengan
pisau.” Shinhye mencoba akrab.
“Benarkah?
Tentu saja kau
boleh membantuku. Kajja!”
***
“Lama
sekali kalian memasak. Aku dan Jinyoung benar-benar kelaparan menunggu masakan
kalian,” keluh Yonghwa. “Benarkan, Jinyoung-ah?”
Yonghwa mengangkat Jinyoung tinggi
melebihi pundaknya dan kemudian
mencium-cium bocah kecil itu sampai dia geli dan tawanya mengisi ruang itu.
“Ah.. aku berharap anak kita akan seperti Jinyoung juga, Park Shin
Hye.”
Yonghwa berhenti menggelitik bayi itu dan mengarahkan
pandangannya ke
Shinhye.
Shinhye
tersenyum sember
mendengar kalimat
sepihak Yonghwa lagi.
Sedang Yoomi malah memelototi adiknya dan membuat Yonghwa berhenti bicara dan memilih keluar dari
dapur.
***
“Lain kali,
kalian berdua main-main lagi ke sini. Kami benar-benar terhibur dengan
kehadiran kalian,” kata Soobin ketika mengantar
Yonghwa dan Shinhye keluar rumah hendak pulang.
“Ne,
oppa,” ujar Shinhye malu-malu.
“Huh!” Yonghwa
mendengus. “Untung saja, oppa yang
satu ini sudah menikah. Kalau tidak
dia akan tertarik padamu.” Yonghwa mendelik ke
arah Shinhye.
Mereka berempat
tertawa mendengar kalimat
cemburu Yonghwa.
“Yonghwa-ya,
kusarankan kau jangan terlalu agresif. Park Shin Hye jadi takut padamu.” Soobin
memberi saran.
“Oppa,
apa kita bisa foto bersama?” ungkap Shinhye masih malu-malu.
“Tentu
saja.”
Shinhye
mengeluarkan ponselnya. “Eoonie, maaf karena...”
Yoomi
memotong kalimat Shinhye seakan tahu apa yang akan Shinhye ucapkan selanjutnya. “Tidak
apa-apa. Aku mengerti. Silahkan, foto bersama!”
“Hana,
dul, set. Kimchi,” ucap Shinhye diikuti bunyi jepretan foto.
“Ige mwoya?” Shinhye berbalik menatap
Yonghwa dengan tatapan kesal. “Apa yang kau lakukan di..?” Kalimat
Shinhye terpotong karena dia sendiri tak mampu melanjutkan kalimatnya.
“Coba aku lihat.”
Shinhye menyerahkan ponselnya pada
Soobin. Melihat
hasil fotonya,
Soobin hanya bisa tertawa karena wajah Yonghwa yang ikut-ikutan ada dalam
foto. “Ayo kita foto sekali lagi,” ajak Soobin begitu melihat
wajah cemberut Shinhye.
“Andwae. Kalian tidak boleh melakukannya,
karena aku akan terus mengganggu kalian,” kata Yonghwa dengan tangan yang terlipat dan dagu yang terangkat.
Shinhye
hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah Yonghwa. “Tidak usah lagi, oppa. Ini sudah malam sebaiknya kami
pulang. Eonnie, oppa, Jinyoung-ah,
kami pulang dulu. Selamat malam.”
Shinhye dan
Yonghwa pamit, masuk ke mobil dan meninggalkan rumah Soobin dan Yoomi.
***
Begitu tiba
di depan pagar rumah Shinhye, Yonghwa mematikan mesin mobilnya kemudian
berbalik menatap Shinhye. Dengan tatapan serius dia menatapi setiap lekukan
yang ada pada wajah Shinhye. Dia kemudian berkata, “Apa kau tidak pernah
berpikir untuk terpesona padaku, bahkan hanya semenit saja?”
“Semenit saja? Kau tidak perlu khawatir karena aku selalu terpesona padamu setiap
waktu. Ah... Seandainya saja aku mampu mengatakan kalimat itu,” gumam
Shinhye dalam hati. Gadis ini tak mampu berkata
apa-apa dan lebih
memilih untuk merenggut.
“Apa kau
tipe wanita yang senang membuat orang berusaha mengejarmu? Mempermainkan
mereka?”
“Sikapnya berubah lagi.” Masih dalam hati dia berkata-kata.
“Jawab aku,
Park Shin Hye!” Yonghwa mengatupkan bibir dan membiarkan giginya beradu.
“Aku harus
masuk.” Shinhye mencoba membuka sabuk pengaman yang terpasang di badannya. Tapi dengan
sigap, Yonghwa menarik tangannya dan mencium bibirnya dengan kasar. Shinhye
mencoba melepaskan genggaman tangan Yonghwa tapi dia tidak kuat. Dengan
kekuatan penuh Yonghwa menahan tangan Shinhye. Bibir Yonghwa kini masih
menempel pada bibir Shinhye. Yonghwa
terus menciumnya dan Shinhye tidak bisa berbuat apa-apa, selain membiarkan
Yonghwa menikmati ciumannya. Setelah merasa puas melampiaskan kemarahannya,
Yonghwa melepaskan tangan Shinhye. Dengan wajah penuh amarah
Shinhye menatap Yonghwa,
kemudian melepaskan sabuk pengamannya dengan kasar dan berlalu meninggalkan
Yonghwa.
***
Shinhye
berdiri di depan cermin kamar mandinya, memegang bibirnya dan hendak membersihkan bibirnya dari bekas
ciuman Yonghwa yang dirasanya masih menempel di bibirnya. Tapi kemudian dia
urung melakukannya. Karena tiba-tiba dia merasakan bahwa ini adalah ciuman pertamanya. Meski ciuman pertamanya ini dinilai sedikit
kasar,
tapi yang melakukannya adalah orang yang membuat jantungnya selalu berdegup
kencang ketika menatap mata orang itu. Setelah menatap lama dirinya di kaca, dia baru menyadari
bahwa dia melupakan syal yang dipakainya
tadi.
“Aigoo,
itu kan syal pemberian
eomma,” keluh Shinhye melihat syal
yang seharusnya melingkar di lehernya kini tak dipakainya lagi. “Kenapa aku
harus meninggalkannya di rumah Yoomi
eonnie? Oeteokkhae, oeteokkhae? Bagaimana
aku bisa ke sana? Aku bahkan tak mengingat jalannya lagi. Ah..”
Shinhye mendengus sebal dengan kecerobohannya ini. “Apa aku harus meneleponnya
dan memintanya mengantarkanku ke sana lagi? Andwae. Maldo
andwae. Ah…”
Tut..tut..tut..
Terdengar
nada sambung dari
seberang telepon.
“Yoebeseyo! Kenapa kau menghubungiku
malam-malam?” kata suara di seberang sana.
“Igo?” ujar Shinhye ragu-ragu. “Aku harus mengambil kembali...”
“Ciumanmu?
Kau harus mengambil kembali ciumanmu?”
“Mworagoya? Micheosseo? Ah.. dwaesseo. Kkeunheo–kututup
teleponnya!” Shinhye mematikan panggilan
teleponnya.
“Mengambil
kembali ciumanmu? Hahaha…” Tawa
Shinhye yang terdengar sangat
terpaksa. “Aku bahkan berakhir dengan meneleponmu karena syal itu. Tapi?
Kau? Semua dalam
pikiranmu hanya berujung ke arah negatif. Dasar pria
bodoh!” umpat Shinhye setelah mematikan ponselnya.
Drrtt..
drrtt.. drrtt..
Bunyi getar
ponsel Shinhye membuat Shinhye menatap layar ponselnya. Nama Bos Jung dengan
aksara Hangul tertera di sana. Pria itu meneleponnya
balik.
“Huh! Bos
Jung? Bahkan namamu tidak kuganti
lagi dengan meongcheongi, karena
akhirnya aku menghargaimu sebagai bosku. Tapi kau? Kau benar-benar..” Shinhye
menyuekkan panggilannya. Dia malah mengganti pakaiannya dan naik ke ranjang
tidurnya.
Bunyi nada
dering yang dicuekkannya berganti dengan bunyi nada pesan yang membuatnya harus
kembali membuka mata dan melihat isi pesan itu.
Kenapa kau meneleponku? Katakan padaku, aku penasaran. Apa yang ingin kau
ambil?
“Huh!”
Shinhye mendesis sambil
memukul-mukul
bantal peluknya membayangkan wajah Yonghwa sebagai
bantal peluknya. Karena tidak membalas pesan dari Yonghwa,
Shinhye malah dikunjungi beberapa pesan
lagi yang datangnya serentak.
Satu persatu dibukanya pesan-pesan tersebut. Masih pengirim yang sama. Bos Jung.
Kau tidak mau mengatakan maksudmu?
Kenapa kutelepon kau tidak mau mengangkatnya?
Ya, Park Shin Hye! Apa kau sedang mempermainkanku?
Marhaebwa!
Apa kau mau aku ke rumahmu sekarang?
Ya! Balas pesanku!
Shinhye
kemudian menekan tombol off pada
ponselnya. Dan dengan nyaman, dia meletakkan kepalanya di atas bantal tidurnya dan tidur
dengan nyenyak.
JeResto.
“Ya! Kau tidak mendengarkanku?” seru Yoojin karena sikap cuek
Yonghwa.
“Yoojin-ah, pelankan suaramu! Karyawan yang lain
bisa mendengarnya.”
“Je
m’en fiche–Aku tak peduli! Biar dia sendiri yang mendengarnya.”
Yonghwa
menghirup nafas
panjang dan kemudian
menghembuskannya lagi. “Mian. Jeongmal mianhae. Aku benar-benar
tak bermaksud
membuat eomma...”
“Geumanhae. Berhenti mengatakan maaf. Kau
benar-benar telah membuat bibi kecewa padamu.
Hanya karena ingin
bersamanya,
kau bahkan tidak mengindahkan makan
malam yang jarang kau lakukan bersama bibi.”
Yonghwa diam membisu. Dalam hal
ini dia benar-benar merasa bersalah pada eomma-nya
dan juga Yoojin. Oleh karena itu dia memilih untuk tidak membela diri dan lebih
baik mendengar semua pernyataan kekesalan Yoojin.
“Kau pernah
bilang padaku kalau
kau sangat sibuk sehingga kau tak
pernah bisa kuajak untuk bertemu Yoomi eonnie. Tapi kemarin kau
bisa menemui eonnie bersama gadis itu?”
Yoojin terus protes. “Ya, Jung Yong Hwa, tatap aku dan
jawab pertanyaanku?” seru Yoojin dengan suara yang lantang.
Yonghwa tetap tak menjawab.
“Untuk saat
ini aku akan memaafkanmu. Tapi lain kali, kau akan
kulaporkan pada paman dan bibi. Aku akan mengatakan semuanya. Semuanya tentang
kau dan gadis itu.” Yoojin
kemudian memilih berlalu meninggalkan Yonghwa di kantornya.
“Kau puas
membuat Ibu Yonghwa menangis?”
kata Yoojin dengan
tatapan melotot pada Shinhye ketika dia dan Shinhye berpapasan
di pintu masuk
ruang kerja Yonghwa. Tanpa
perlu mendengar respon dari Shinhye,
Yoojin pun berlalu meninggalkannya.
Shinhye
bingung dengan
pertanyaan Yoojin barusan.
Namun dengan langkah
cepat dia berjalan masuk
ke ruangan Yonghwa.
Mungkin di sana dia bisa menemukan jawabannya. “Apa yang dikatakan Yoojin-ssi itu benar?” kata
Shinhye ketika dia sudah berada di dalam ruang kerja Yonghwa “Apa ibumu
menangis karena aku?”
tanyanya menuntut jawaban dari Yonghwa.
Yonghwa
diam tak berkutik.
Karena
Yonghwa tidak menjawab, Shinhye kemudian melontarkan beberapa pertanyaan lagi. “Tapi
aku dan ibumu bahkan tak saling mengenal. Lalu kenapa Yoojin-ssi bilang ibumu menangis karena aku? Apa maksudnya mengatakan hal
itu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataannya. Apa kau
bisa menjelaskan semuanya padaku,
Jung Yong Hwa-ssi?”
“Jangan
dengarkan kata-kata Yoojin. Dia hanya asal bicara karena suasana hatinya sedang tidak baik.” Yonghwa akhirnya
buka suara.
“Geurae? Kalau begitu ada perlu apa kau
memanggilku? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku?” Shinhye
bicara dengan nada ketus.
“Aku pikir
kau tidak akan mau ke sini. Kemari! Duduk!” Yonghwa menginstrusikan Shinhye
untuk duduk di sofanya.
“Aku banyak
kerjaan. Persingkat saja kata-katamu,” kata Shinhye tetap berdiri tanpa
mengikuti instruksi Yonghwa.
“Ya!
Apa kau masih marah karena kejadian kemarin? Kalau kau sangat marah,
baiklah aku akan minta maaf.”
Shinhye
tidak menjawab.
Melihat
ekspresi datar pada wajah Shinhye, Yonghwa kemudian mulai mencari kalimat yang
lebih sopan dari kalimat-kalimat
yang sebelumnya
dianggapnya sedikit kasar. “Kupikir kau akan berhenti bekerja. Syukurlah, kau
tidak melakukannya.”
Shinhye tetap
bergeming di tempatnya.
Melihat
Shinhye yang tidak juga meresponnya, membuat Yonghwa bangun dari duduknya dan
berjalan mendekati Shinhye.
“Jangan
mendekat!” Shinhye akhirnya bersuara.
“Apa aku
terlihat menjijikan sehingga kau tak mau mendekatiku, eoh?”
Yonghwa tertawa kecil sambil mengusap wajahnya.
“Aku bilang
jangan mendekat!” kata Shinhye geram karena Yonghwa yang tidak mendengarkannya.
“Huh!”
Yonghwa mendengus.
“Apa kau pikir aku akan menciummu lagi?” Yonghwa menghentikan langkahnya
dan kemudian berkata, “Aku hanya akan menciummu saat...”
“Kau
marah?” Shinhye memotong perkataan Yonghwa. “Kau hanya akan menciumku saat kau
marah?” jawab Shinhye dengan nada kasar. “Apa kau jenis orang yang melampiaskan
perasaan marahmu dengan
mencium orang lain?”
“Museun soriya?” seru Yonghwa dengan kedua
alisnya terangkat ke atas. “Apa kau pikir aku menciummu kemarin karena sedang
marah?” geram Yonghwa. Giginya terus beradu ketika dia saling bersahut-sahutan
dengan Shinhye. “Aku...” Yonghwa mengatur nafasnya mencoba melanjutkan
kalimatnya. “Dwaesseo...” Yonghwa
memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya tadi. “Pikyeo–minggir!” kata
Yonghwa menabrak pundak Shinhye dan berjalan keluar dari ruangannya sendiri,
meninggalkan Shinhye yang masih berdiri mematung di ruangan Yonghwa.
***
“Apa yang
terjadi padamu dengan bos Jung, sampai-sampai kalian tidak saling bicara? Apa
kau membuat kekacauan lagi? Shinhye-ya, jawab aku!”
Shinhye
tetap melangkah dan tidak tertarik untuk merespon pertanyaan-pertanyaan Jiwon.
“Ayolah
Shinhye, jawab pertanyaanku.” Jiwon terus berusaha membujuk. “Kemarin waktu
sidangnya dengan Jonghyun, dia bahkan bertanya tentangmu padaku.”
Shinhye
tetap bergeming.
“Shinhye-ya,
apa kau tidak penasaran sedikit pun tentang apa yang bos katakan
tentangmu?”
Karena
Shinhye yang tetap tidak merespon membuat Jiwon harus membeberkannya tanpa
diminta. “Dia menanyakan padaku kenapa kau tidak ikut denganku ke sidang kemarin?”
Shinhye
berhenti berjalan dan berbalik pada Jiwon yang hanya selangkah di belakangnya.
“Geumanhae!” ujarnya lembut.
“Berhenti bicara tentang pria itu. Aku tidak tertarik.”
Jiwon menelan ludahnya karena kaget dengan tingkah
Shinhye yang secara tidak langsung membuatnya berhenti bicara.
“Eoh!” Sontak air muka Jiwon berubah.
Kedua matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar dan seluruh tubuhnya terlihat
menegang.
Shinhye
berbalik mencari alasan di balik perubahan wajah sahabatnya itu secara
tiba-tiba. Shinhye pucat melihat pria yang sedang berjalan ke arahnya itu.
Langkahnya semakin dekat dengan posisi di mana Shinhye berdiri. Begitu keduanya
berpapasan, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut kedua orang
itu. Bahkan untuk sapaan sederhana pun, tidak. Pria itu lebih memilih berlalu
meninggalkan Shinhye dan Jiwon yang masih terpaku di tempat mereka berdiri.
Satu bulan kemudian.
“Makasih
karena sudah mendukungku selama bekerja di restaurant
ini. Karena kuliahku sudah berakhir, ayahku akan memanggilku untuk bekerja
di perusahaannya. Aku tidak akan bisa bersama kalian lagi di sini. Oleh karena
itu, sebelum kepergianku aku ingin kita rayakan bersama perpisahan ini,” ucap
Yonghwa pada karyawan-karyawan JeResto yang sedang berkumpul di restaurantnya saat ini.
Semua
karyawan mengangkat gelas anggur mereka masing-masing dan bersulang untuk
perpisahan Yonghwa.
“Aku berharap
ke depan kalian jangan pernah jenuh bekerja di restaurant ini. Aku mohon bantuan kalian untuk hal ini,” kata
Yonghwa sambil membungkuk pada karyawan-karyawan yang dalam beberapa jam saja
akan menjadi mantan karyawannya.
“Ne. Kami akan melakukan yang terbaik
yang kami bisa.” Serempak semua karyawan menjawab. Hanya Shinhye yang tetap
diam tanpa menatap Yonghwa sedikit pun.
Sudah sebulan,
Shinhye dan Yonghwa tidak saling bicara karena masalah ciuman yang mereka
ungkit ketika di ruang kerja Yonghwa sebulan yang lalu. Bukan hanya tidak
bicara, mereka bahkan tidak saling menyapa meski jalan mereka bersisian. Entah
itu di kampus, di JeResto atau pun di mana saja mereka bertemu tanpa sengaja.
“Mereka
berdua benar-benar keras kepala.” Hyejoon berbisik pada Jiwon ketika melihat
Shinhye dan Yonghwa yang masih saling mengacuhkan satu sama lain. “Sebenarnya
apa yang menyebabkan mereka seperti ini? Aku benar-benar penasaran karena
sebelumnya bos malah terlihat sedang mengejar-ngejar Shinhye.”
“Shinhye
bahkan tidak mengungkit masalah ini sedikit pun padaku.” Jiwon ikut berbisik ke
telinga Hyejoon. “Apa karena Shinhye menolak cinta bos?” Jiwon terlihat
berpikir sejenak. “Aku rasa memang seperti itu. Karena Shinhye pernah berkata
kalau ada namja yang mengungkapkan
cinta padanya. Tapi sampai sekarang aku tidak tahu siapa namja itu. Dilihat dari tingkah bos hari-hari kemarin, sepertinya
dialah namja itu.”
“Kalau
memang seperti itu. Mereka berdua sangat kekanakkan. Kenapa mereka berdua harus
saling mengacuhkan seperti ini? Mereka kan sudah dewasa. Apa mereka tidak bisa
bertingkah seperti pria dan wanita dewasa saat menyelesaikan masalah? Aku
benar-benar tidak tahan melihat mereka seperti ini?”
“Siapa pun
tidak akan tahan melihat sikap dingin mereka yang seperti ini, eonnie. Kali ini biarlah waktu yang
menjawab kapan mereka berdua mau berdamai,” ujar Jiwon sekaligus menutup
pembicaraannya dengan Hyejoon.
To be continued

