"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Senin, 25 Juli 2016

Rain of Autumn Part 16

Part 16


“Seberapa jauh Shinhye-ssi sudah mengenal adikku?” Yoomi bertanya seolah Shinhye dan Yonghwa sedang menjalin suatu hubungan. “Apa dia tampan untuk dijadikan pacar?”
Shinhye hanya bisa tertawa sember. Lebih tepatnya karena dia benar-benar tak mengerti dengan maksud pertanyaan kakak perempuan Yonghwa ini.
Melihat Shinhye yang hanya bisa menjawabnya dengan tawa membuat Yoomi semakin menantikan jawabannya. Dengan tatapan menuntut, Yoomi terus memandang Shinhye menantikan gadis di depannya ini membuka mulutnya dan menjawab pertanyaannya.
Melihat tatapan menuntut Yoomi membuat Shinhye seakan merasakan hawa dingin di ruangan ini berubah menjadi panas. Saat itu juga Shinhye langsung melepas syal yang melingkar di lehernya dan meletakkannya di atas sofa yang sedang dia duduki.
Yonghwa tersenyum melihat tingkah gugup Shinhye. Sepertinya dia mengerti apa yang sedang dirasakan Shinhye saat ini. Untuk menyelamatkan Shinhye dari tatapan menuntut Yoomi, Yonghwa kemudian menjawab, “Justru aku baru ingin meminta ijinmu untuk mengencani gadis ini, noona.”
Sontak Shinhye dan Yoomi menatap Yonghwa kaget.
Shinhye-ssi belum menjadi kekasihmu?” tanya Yoomi yang menjadi malu dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan tadi. “Eoh, Shinhye-ya, aku minta maaf sudah membuatmu seakan tersudut. Mianhaeyo.”
Anieyo, eonnie. Gwaenchanayo.
Babo, kata Yoomi menatap Yonghwa dengan tatapan kesal.
“Park Shin Hye, seperti kataku tadi kalau aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang. Dan seseorang itu adalah noona-ku. Dia adalah orang pertama yang akan kukenalkan pada kekasihku. Karena kau calon kekasihku bicaralah di depan noona­-ku. Katakan dngan jujur semua perasaanmu padaku.” Dengan yakin Yonghwa berkata seakan-akan mengetahui dengan jelas seperti apa perasaan Shinhye.
Shinhye seakan ingin meninju wajah pria di sampingnya ini. Kalau saja sedang tidak berada di rumah noona-nya, mungkin Shinhye sudah mengumpatnya habis-habisan. Pria ini benar-benar kekanakkan. Dia membuat Shinhye benar-benar tersudut dengan perkataan sepihaknya itu. Shinhye diam, karena tidak tahu harus menjawab apa.
Yoomi yang membaca ekspresi wajah Shinhye seakan tahu apa yang sedang dialami gadis ini. Dengan langkah gamang dia menuju Yonghwa dan menendang kaki adiknya itu. “Ya, saekkiya! Apa yang kau lakukan padanya? Kau memaksanya jadi kekasihmu? Ah.. michinnyeon–brengsek. Pergi kau!” Yoomi memukul Yonghwa dengan bantal sofa yang dipegangnya.
Yonghwa menghindar dan berlari mengitari ruang tengah rumah itu. “Noona-ya, kau jangan membuatku malu di depan gadis yang kusukai.”
Mworago? Kau berani membentakku? Pergi kau, nappeun saekkiya!” Yoomi terus mengumpat Yonghwa sambil mengejarnya dan memukulnya dengan bantal sofa itu.
Mereka baru berhenti kejar-mengejar setelah mendengar suara tangisan Jinyoung, anak Yoomi yang terganggu dengan keributan yang dibuat mereka. Yoomi berlari ke arah Jinyoung, menggendongnya dan membujuknya agar tenang lagi.
Mianhata, Shinhye-ssi. Kau pasti merasa terganggu dengan keributan yang kami buat,” kata Yoomi dengan nafas yang tersengal-sengal.
Anieyo, eonnie.”
“Tunggulah di sini untuk makan malam, Shinhye-ya. Dan kau,” kata Yoomi mendelik ke arah Yonghwa. “Jangan pernah menyentuh piring dan sendokku.”
Kalau begitu aku akan makan menggunakan mangkukmu, noona.”
Bujung–busung lapar!” ledek Yoomi dengan panggilan yang biasa dia pakai memanggil Yonghwa kalau-kalau sedang marah.
Noona, Jung adalah margamu juga. Maji–benarkan?” ujar Yonghwa membela diri. “Aku pun bisa memanggilmu bujung.”
Shinhye tersenyum simpul melihat tingkah Yonghwa yang tak biasa. Sikapnya benar-benar berbeda ketika sedang bersama noona-nya. Dia lebih ramah dan lebih sering tertawa dan tersenyum.
“Shinhye-ya, bilang padaku kalau saja si bodoh ini tak memperlakukanmu dengan baik.” Yoomi tidak memedulikan perkataan Yonghwa.
Shinhye mengangguk. Eonnie-ya, apa aku bisa membantumu memasak?” tanya Shinhye ketika Yoomi menyerahkan Jinyoung pada Yonghwa dan hendak berjalan menuju dapur. “Aku lumayan hebat bermain dengan pisau.” Shinhye mencoba akrab.
“Benarkah? Tentu saja kau boleh membantuku. Kajja!”


***
“Lama sekali kalian memasak. Aku dan Jinyoung benar-benar kelaparan menunggu masakan kalian,” keluh Yonghwa. “Benarkan, Jinyoung-ah?” Yonghwa mengangkat Jinyoung tinggi melebihi pundaknya dan kemudian mencium-cium bocah kecil itu sampai dia geli dan tawanya mengisi ruang itu. “Ah.. aku berharap anak kita akan seperti Jinyoung juga, Park Shin Hye.” Yonghwa berhenti menggelitik bayi itu dan mengarahkan pandangannya ke Shinhye.
Shinhye tersenyum sember mendengar kalimat sepihak Yonghwa lagi. Sedang Yoomi malah memelototi adiknya dan membuat Yonghwa berhenti bicara dan memilih keluar dari dapur.


***
“Lain kali, kalian berdua main-main lagi ke sini. Kami benar-benar terhibur dengan kehadiran kalian, kata Soobin ketika mengantar Yonghwa dan Shinhye keluar rumah hendak pulang.
Ne, oppa,” ujar Shinhye malu-malu.
“Huh!” Yonghwa mendengus. “Untung saja, oppa yang satu ini sudah menikah. Kalau tidak dia akan tertarik padamu.” Yonghwa mendelik ke arah Shinhye.
Mereka berempat tertawa mendengar kalimat cemburu Yonghwa.
“Yonghwa-ya, kusarankan kau jangan terlalu agresif. Park Shin Hye jadi takut padamu.” Soobin memberi saran.
Oppa, apa kita bisa foto bersama?” ungkap Shinhye masih malu-malu.
“Tentu saja.”
Shinhye mengeluarkan ponselnya. “Eoonie, maaf karena...”
Yoomi memotong kalimat Shinhye seakan tahu apa yang akan Shinhye ucapkan selanjutnya. “Tidak apa-apa. Aku mengerti. Silahkan, foto bersama!”
Hana, dul, set. Kimchi,” ucap Shinhye diikuti bunyi jepretan foto.
Ige mwoya?” Shinhye berbalik menatap Yonghwa dengan tatapan kesal. “Apa yang kau lakukan di..?” Kalimat Shinhye terpotong karena dia sendiri tak mampu melanjutkan kalimatnya.
“Coba aku lihat.
Shinhye menyerahkan ponselnya pada Soobin. Melihat hasil fotonya, Soobin hanya bisa tertawa karena wajah Yonghwa yang ikut-ikutan ada dalam foto. “Ayo kita foto sekali lagi, ajak Soobin begitu melihat wajah cemberut Shinhye.
Andwae. Kalian tidak boleh melakukannya, karena aku akan terus mengganggu kalian,” kata Yonghwa dengan tangan yang terlipat dan dagu yang terangkat.
Shinhye hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah Yonghwa. “Tidak usah lagi, oppa. Ini sudah malam sebaiknya kami pulang. Eonnie, oppa, Jinyoung-ah, kami pulang dulu. Selamat malam.”
Shinhye dan Yonghwa pamit, masuk ke mobil dan meninggalkan rumah Soobin dan Yoomi.


***
Begitu tiba di depan pagar rumah Shinhye, Yonghwa mematikan mesin mobilnya kemudian berbalik menatap Shinhye. Dengan tatapan serius dia menatapi setiap lekukan yang ada pada wajah Shinhye. Dia kemudian berkata, “Apa kau tidak pernah berpikir untuk terpesona padaku, bahkan hanya semenit saja?”
Semenit saja? Kau tidak perlu khawatir karena aku selalu terpesona padamu setiap waktu. Ah... Seandainya saja aku mampu mengatakan kalimat itu, gumam Shinhye dalam hati. Gadis ini tak mampu berkata apa-apa dan lebih memilih untuk merenggut.
“Apa kau tipe wanita yang senang membuat orang berusaha mengejarmu? Mempermainkan mereka?”
Sikapnya berubah lagi.” Masih dalam hati dia berkata-kata.
“Jawab aku, Park Shin Hye!” Yonghwa mengatupkan bibir dan membiarkan giginya beradu.
“Aku harus masuk.” Shinhye mencoba membuka sabuk pengaman yang terpasang di badannya. Tapi dengan sigap, Yonghwa menarik tangannya dan mencium bibirnya dengan kasar. Shinhye mencoba melepaskan genggaman tangan Yonghwa tapi dia tidak kuat. Dengan kekuatan penuh Yonghwa menahan tangan Shinhye. Bibir Yonghwa kini masih menempel pada bibir Shinhye.  Yonghwa terus menciumnya dan Shinhye tidak bisa berbuat apa-apa, selain membiarkan Yonghwa menikmati ciumannya. Setelah merasa puas melampiaskan kemarahannya, Yonghwa melepaskan tangan Shinhye. Dengan wajah penuh amarah Shinhye menatap Yonghwa, kemudian melepaskan sabuk pengamannya dengan kasar dan berlalu meninggalkan Yonghwa.


***
Shinhye berdiri di depan cermin kamar mandinya, memegang bibirnya dan hendak membersihkan bibirnya dari bekas ciuman Yonghwa yang dirasanya masih menempel di bibirnya. Tapi kemudian dia urung melakukannya. Karena tiba-tiba dia merasakan bahwa ini adalah ciuman pertamanya. Meski ciuman pertamanya ini dinilai sedikit kasar, tapi yang melakukannya adalah orang yang membuat jantungnya selalu berdegup kencang ketika menatap mata orang itu. Setelah menatap lama dirinya di kaca, dia baru menyadari bahwa dia melupakan syal yang dipakainya tadi.
Aigoo, itu kan syal pemberian eomma,” keluh Shinhye melihat syal yang seharusnya melingkar di lehernya kini tak dipakainya lagi. Kenapa aku harus meninggalkannya di rumah Yoomi eonnie? Oeteokkhae, oeteokkhae? Bagaimana aku bisa ke sana? Aku bahkan tak mengingat jalannya lagi. Ah..” Shinhye mendengus sebal dengan kecerobohannya ini. “Apa aku harus meneleponnya dan memintanya mengantarkanku ke sana lagi? Andwae. Maldo andwae. Ah
Tut..tut..tut..
Terdengar nada sambung dari seberang telepon.
Yoebeseyo! Kenapa kau menghubungiku malam-malam?” kata suara di seberang sana.
Igo?” ujar Shinhye ragu-ragu. “Aku harus mengambil kembali...”
“Ciumanmu? Kau harus mengambil kembali ciumanmu?”
Mworagoya? Micheosseo? Ah.. dwaesseo. Kkeunheo–kututup teleponnya!” Shinhye mematikan panggilan teleponnya.
“Mengambil kembali ciumanmu? Hahaha…” Tawa Shinhye yang terdengar sangat terpaksa. “Aku bahkan berakhir dengan meneleponmu karena syal itu. Tapi? Kau? Semua dalam pikiranmu hanya berujung ke arah negatif. Dasar pria bodoh!” umpat Shinhye setelah mematikan ponselnya.
Drrtt.. drrtt.. drrtt..
Bunyi getar ponsel Shinhye membuat Shinhye menatap layar ponselnya. Nama Bos Jung dengan aksara Hangul tertera di sana. Pria itu meneleponnya  balik.
“Huh! Bos Jung? Bahkan namamu tidak kuganti lagi dengan meongcheongi, karena akhirnya aku menghargaimu sebagai bosku. Tapi kau? Kau benar-benar.. Shinhye menyuekkan panggilannya. Dia malah mengganti pakaiannya dan naik ke ranjang tidurnya.
Bunyi nada dering yang dicuekkannya berganti dengan bunyi nada pesan yang membuatnya harus kembali membuka mata dan melihat isi pesan itu.

Kenapa kau meneleponku? Katakan padaku, aku penasaran. Apa yang ingin kau ambil?

“Huh!” Shinhye mendesis sambil memukul-mukul bantal peluknya membayangkan wajah Yonghwa sebagai bantal peluknya. Karena tidak membalas pesan dari Yonghwa, Shinhye  malah dikunjungi beberapa pesan lagi yang datangnya serentak. Satu persatu dibukanya pesan-pesan tersebut. Masih pengirim yang sama. Bos Jung.

Kau tidak mau mengatakan maksudmu?

Kenapa kutelepon kau tidak mau mengangkatnya?

Ya, Park Shin Hye! Apa kau sedang mempermainkanku? Marhaebwa!

Apa kau mau aku ke rumahmu sekarang?

Ya! Balas pesanku!


Shinhye kemudian menekan tombol off pada ponselnya. Dan dengan nyaman, dia meletakkan kepalanya di atas bantal tidurnya dan tidur dengan nyenyak.


JeResto.
Ya! Kau tidak mendengarkanku?” seru Yoojin karena sikap cuek Yonghwa. 
“Yoojin-ah, pelankan suaramu! Karyawan yang lain bisa mendengarnya.”
Je m’en fiche–Aku tak peduli! Biar dia sendiri yang mendengarnya.”
Yonghwa menghirup nafas panjang dan kemudian menghembuskannya lagi. “Mian. Jeongmal mianhae. Aku benar-benar tak bermaksud membuat eomma...”
Geumanhae. Berhenti mengatakan maaf. Kau benar-benar telah membuat bibi kecewa padamu. Hanya karena ingin bersamanya, kau bahkan tidak mengindahkan makan malam yang jarang kau lakukan bersama bibi.
Yonghwa diam membisu. Dalam hal ini dia benar-benar merasa bersalah pada eomma-nya dan juga Yoojin. Oleh karena itu dia memilih untuk tidak membela diri dan lebih baik mendengar semua pernyataan kekesalan Yoojin.
Kau pernah bilang padaku kalau kau sangat sibuk sehingga kau tak pernah bisa kuajak untuk bertemu Yoomi eonnie. Tapi kemarin kau bisa menemui eonnie bersama gadis itu?” Yoojin terus protes. “Ya, Jung Yong Hwa, tatap aku dan jawab pertanyaanku?” seru Yoojin dengan suara yang lantang.
Yonghwa tetap tak menjawab.
“Untuk saat ini aku akan memaafkanmu. Tapi lain kali, kau akan kulaporkan pada paman dan bibi. Aku akan mengatakan semuanya. Semuanya tentang kau dan gadis itu.” Yoojin kemudian memilih berlalu meninggalkan Yonghwa di kantornya.
“Kau puas membuat Ibu Yonghwa menangis?” kata Yoojin dengan tatapan melotot pada Shinhye ketika dia dan Shinhye berpapasan di pintu masuk ruang kerja Yonghwa. Tanpa perlu mendengar respon dari Shinhye, Yoojin pun berlalu meninggalkannya.
Shinhye bingung dengan pertanyaan Yoojin barusan. Namun dengan langkah cepat dia berjalan masuk ke ruangan Yonghwa. Mungkin di sana dia bisa menemukan jawabannya. Apa yang dikatakan Yoojin-ssi itu benar?” kata Shinhye ketika dia sudah berada di dalam ruang kerja Yonghwa “Apa ibumu menangis karena aku?” tanyanya menuntut jawaban dari Yonghwa.
Yonghwa diam tak berkutik.
Karena Yonghwa tidak menjawab, Shinhye kemudian melontarkan beberapa pertanyaan lagi. “Tapi aku dan ibumu bahkan tak saling mengenal. Lalu kenapa Yoojin-ssi bilang ibumu menangis karena aku? Apa maksudnya mengatakan hal itu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan perkataannya. Apa kau bisa menjelaskan semuanya padaku, Jung Yong Hwa-ssi?”
“Jangan dengarkan kata-kata Yoojin. Dia hanya asal bicara karena suasana hatinya sedang tidak baik.” Yonghwa akhirnya buka suara.
Geurae? Kalau begitu ada perlu apa kau memanggilku? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku?” Shinhye bicara dengan nada ketus.
“Aku pikir kau tidak akan mau ke sini. Kemari! Duduk!” Yonghwa menginstrusikan Shinhye untuk duduk di sofanya.
“Aku banyak kerjaan. Persingkat saja kata-katamu,” kata Shinhye tetap berdiri tanpa mengikuti instruksi Yonghwa.
Ya! Apa kau masih marah karena kejadian kemarin? Kalau kau sangat marah, baiklah aku akan minta maaf.”
Shinhye tidak menjawab.
Melihat ekspresi datar pada wajah Shinhye, Yonghwa kemudian mulai mencari kalimat yang lebih sopan dari kalimat-kalimat yang sebelumnya dianggapnya sedikit kasar. “Kupikir kau akan berhenti bekerja. Syukurlah, kau tidak melakukannya.”
Shinhye tetap bergeming di tempatnya.
Melihat Shinhye yang tidak juga meresponnya, membuat Yonghwa bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Shinhye.
“Jangan mendekat!” Shinhye akhirnya bersuara.
“Apa aku terlihat menjijikan sehingga kau tak mau mendekatiku, eoh?Yonghwa tertawa kecil sambil mengusap wajahnya.
“Aku bilang jangan mendekat!” kata Shinhye geram karena Yonghwa yang tidak mendengarkannya.
Huh!” Yonghwa mendengus. “Apa kau pikir aku akan menciummu lagi?” Yonghwa menghentikan langkahnya dan kemudian berkata, “Aku hanya akan menciummu saat...”
“Kau marah?” Shinhye memotong perkataan Yonghwa. “Kau hanya akan menciumku saat kau marah?” jawab Shinhye dengan nada kasar. “Apa kau jenis orang yang melampiaskan perasaan marahmu dengan mencium orang lain?”
Museun soriya?” seru Yonghwa dengan kedua alisnya terangkat ke atas. “Apa kau pikir aku menciummu kemarin karena sedang marah?” geram Yonghwa. Giginya terus beradu ketika dia saling bersahut-sahutan dengan Shinhye. “Aku...” Yonghwa mengatur nafasnya mencoba melanjutkan kalimatnya. “Dwaesseo...” Yonghwa memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya tadi. Pikyeo–minggir!” kata Yonghwa menabrak pundak Shinhye dan berjalan keluar dari ruangannya sendiri, meninggalkan Shinhye yang masih berdiri mematung di ruangan Yonghwa.


***
“Apa yang terjadi padamu dengan bos Jung, sampai-sampai kalian tidak saling bicara? Apa kau membuat kekacauan lagi? Shinhye-ya, jawab aku!”
Shinhye tetap melangkah dan tidak tertarik untuk merespon pertanyaan-pertanyaan Jiwon.
“Ayolah Shinhye, jawab pertanyaanku.” Jiwon terus berusaha membujuk. “Kemarin waktu sidangnya dengan Jonghyun, dia bahkan bertanya tentangmu padaku.”
Shinhye tetap bergeming.
“Shinhye-ya, apa kau tidak penasaran sedikit pun tentang apa yang bos katakan tentangmu?”
Karena Shinhye yang tetap tidak merespon membuat Jiwon harus membeberkannya tanpa diminta. “Dia menanyakan padaku kenapa kau tidak ikut denganku ke sidang kemarin?”
Shinhye berhenti berjalan dan berbalik pada Jiwon yang hanya selangkah di belakangnya. “Geumanhae!” ujarnya lembut. “Berhenti bicara tentang pria itu. Aku tidak tertarik.”
Jiwon  menelan ludahnya karena kaget dengan tingkah Shinhye yang secara tidak langsung membuatnya berhenti bicara.
Eoh!” Sontak air muka Jiwon berubah. Kedua matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar dan seluruh tubuhnya terlihat menegang.  
Shinhye berbalik mencari alasan di balik perubahan wajah sahabatnya itu secara tiba-tiba. Shinhye pucat melihat pria yang sedang berjalan ke arahnya itu. Langkahnya semakin dekat dengan posisi di mana Shinhye berdiri. Begitu keduanya berpapasan, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut kedua orang itu. Bahkan untuk sapaan sederhana pun, tidak. Pria itu lebih memilih berlalu meninggalkan Shinhye dan Jiwon yang masih terpaku di tempat mereka berdiri.


Satu bulan kemudian.
“Makasih karena sudah mendukungku selama bekerja di restaurant ini. Karena kuliahku sudah berakhir, ayahku akan memanggilku untuk bekerja di perusahaannya. Aku tidak akan bisa bersama kalian lagi di sini. Oleh karena itu, sebelum kepergianku aku ingin kita rayakan bersama perpisahan ini,” ucap Yonghwa pada karyawan-karyawan JeResto yang sedang berkumpul di restaurantnya saat ini.
Semua karyawan mengangkat gelas anggur mereka masing-masing dan bersulang untuk perpisahan Yonghwa.
“Aku berharap ke depan kalian jangan pernah jenuh bekerja di restaurant ini. Aku mohon bantuan kalian untuk hal ini,” kata Yonghwa sambil membungkuk pada karyawan-karyawan yang dalam beberapa jam saja akan menjadi mantan karyawannya.
Ne. Kami akan melakukan yang terbaik yang kami bisa.” Serempak semua karyawan menjawab. Hanya Shinhye yang tetap diam tanpa menatap Yonghwa sedikit pun.
Sudah sebulan, Shinhye dan Yonghwa tidak saling bicara karena masalah ciuman yang mereka ungkit ketika di ruang kerja Yonghwa sebulan yang lalu. Bukan hanya tidak bicara, mereka bahkan tidak saling menyapa meski jalan mereka bersisian. Entah itu di kampus, di JeResto atau pun di mana saja mereka bertemu tanpa sengaja.
“Mereka berdua benar-benar keras kepala.” Hyejoon berbisik pada Jiwon ketika melihat Shinhye dan Yonghwa yang masih saling mengacuhkan satu sama lain. “Sebenarnya apa yang menyebabkan mereka seperti ini? Aku benar-benar penasaran karena sebelumnya bos malah terlihat sedang mengejar-ngejar Shinhye.”
“Shinhye bahkan tidak mengungkit masalah ini sedikit pun padaku.” Jiwon ikut berbisik ke telinga Hyejoon. “Apa karena Shinhye menolak cinta bos?” Jiwon terlihat berpikir sejenak. “Aku rasa memang seperti itu. Karena Shinhye pernah berkata kalau ada namja yang mengungkapkan cinta padanya. Tapi sampai sekarang aku tidak tahu siapa namja itu. Dilihat dari tingkah bos hari-hari kemarin, sepertinya dialah namja itu.”
“Kalau memang seperti itu. Mereka berdua sangat kekanakkan. Kenapa mereka berdua harus saling mengacuhkan seperti ini? Mereka kan sudah dewasa. Apa mereka tidak bisa bertingkah seperti pria dan wanita dewasa saat menyelesaikan masalah? Aku benar-benar tidak tahan melihat mereka seperti ini?”

“Siapa pun tidak akan tahan melihat sikap dingin mereka yang seperti ini, eonnie. Kali ini biarlah waktu yang menjawab kapan mereka berdua mau berdamai,” ujar Jiwon sekaligus menutup pembicaraannya dengan Hyejoon.

To be continued

Jumat, 22 Juli 2016

Rain of Autumn Part 15

Part 15


***
Ada urusan apa sehingga kau masuk ke dalam kelasku?” tanya Profesor Lee begitu Yonghwa masuk ke ruangan kerjanya.
Jeosonghamnida, kyosunim, tapi aku harus bertemu seorang mahasiswi yang ada di dalam kelasmu,” jawab Yonghwa enteng.
“Bertemu mahasiswiku?” Profesor Lee Pil Mo terlihat mengerutkan keningnya. “Sebelumnya kau bilang padaku kalau kau ingin ikut ujian juga di kelasku? Apa kau sedang berusaha membohongiku sekarang?” tanya profesor mencoba mencari tahu kebohongan yang tersembunyi lewat tatapan mata Yonghwa.
Yonghwa meringis menampakan deretan giginya. Dia ketahuan berbohong pada profesor. “Park Shin Hye. Kau harus menuntutnya, karena dia yang membawaku masuk ke kelasmu, kyosunim. Karena ketahuan berbohong, tanpa perlu menimbang terlebih dahulu jawabannya, Yonghwa akhirnya menjawabnya dengan mengatakan Park Shin Hye adalah penyebab mengapa dia sampai masuk ke kelas profesor Lee.
“Park Shin Hye?” tanya profesor Lee dengan mimik heran. Sepertinya dia tak bisa percaya kalau salah satu mahasiswi teladannya itu melakukan kesalahan.
Yonghwa mengangguk mantap.
“Panggil Park Shin Hye ke ruanganku.” Profesor Lee memberi perintah pada asistennya yang juga sedang berada di ruangan saat itu.

10 menit berlalu
Kyosunim memanggilku?” ujar Shinhye ketika membuka pintu ruang kerja Profesor Lee. Shinhye masuk ke ruangan profesor dan melotot ke arah seseorang yang tentu saja sangat dia yakini bahwa orang itulah dalang mengapa dirinya dipanggil ke ruangan profesor Lee.
Orang yang dipelototi kemudian mengedikkan bahunya.
Anjuseyo.” Profesor Lee mempersilahkan Shinhye untuk duduk. “Apa kau mengenalnya?” tanya profesor meminta konfirmasi dari mahasiswinya ini.
Ne, kyosunim,” jawab Park Shin Hye disertai anggukan.
Apa benar kau yang membawanya ke kelasku?”
Shinhye berbalik menatap orang yang ditunjuk profesor, siapa lagi kalau bukan Jung Yong Hwa. Shinhye benar-benar tidak percaya bahwa pria ini baru saja mengatakan hal yang tidak masuk di akal.
“Benar begitu kan, Park Shin Hye?” Yonghwa membalas tatapan Shinhye dengan seringai lebar. “Kau mengajakku ke kelas karena kau ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padaku, kan? Profesor, mahasiswimu ini sepertinya menyimpan sesuatu hal yang sangat pribadi. Dan ingin mengatakannya hanya kepadaku,” kata Yonghwa dengan sengiran menggoda.
Mworago?” Shinhye mendengus mendengar kalimat Yonghwa yang tak masuk akal. “Aniyo, kyosunim. Dia sendiri yang datang ke kelas, balas Shinhye karena kalimat Yonghwa yang terdengar menyudutkannya itu.
Ya!” Yonghwa menyenggol tubuh Shinhye dengan sikunya karena Shinhye yang tak bisa diajak kompromi.
“Jung Yong Hwa-ssi­, apa kali ini kau bisa mengatakan yang sebenarnya terjadi?” Profesor Lee mencobah menengahi pembicaraan.
Karena kedapatan berbohong dua kali, akhirnya tidak ada alasan lain bagi Yonghwa untuk berbohong lagi dan akhirnya mengatakan semua kebenarannya. Jeosonghamnida, kyosunim. Aku melakukan semua itu hanya karena rasa penasaranku. Tiba-tiba saja aku penasaran pada apa yang sedang dilakukan Park Shin Hye saat itu. Aku terus penasaran padanya tanpa alasan. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan rasa penasaranku. Akhirnya aku memilih untuk mengunjunginya di kelas. Mungkin dengan melihat wajahnya, aku tidak akan penasaran lagi.” Yonghwa terus berceloteh menyatakan semua isi hatinya.
Ya! Berhenti mengatakan hal-hal aneh, Jung Yong Hwa-ssi, cegah Shinhye sebelum pria di sampingnya ini semakin menjadi-jadi.
Yonghwa tidak memedulikan Shinhye dan terus mengatakan kebenarannya pada profesor Lee. “Maafkan aku karena telah membohongimu, kata Yonghwa dengan ketulusan yang yang saat itu juga mampu meruntuhkan tembok amarah profesor Lee.
Keureo guna–ternyata begitu. Aku mengerti perasaanmu sekarang,” kata profesor Lee menampakan sengiran khas di wajahnya. “Tapi lain kali jangan lagi mengulangi perbuatanmu ini. Arrasseo?”
Ne, kyosunim,” jawab Yonghwa singkat. “Tapi apa kau tidak akan menghukum kami?”
Shinhye menelengkan kepalanya ke arah Yonghwa. “Mwo?” Dia benar-benar tidak menyangka Yonghwa akan mengatakan hal ini.
“Hmmm..” Profesor Lee menggumam. “Kau yang memintaku menghukum kalian. Oleh karena itu sebaiknya kau dan Shinhye pergi dan bantulah petugas perpustakaan membersihkan perpustakaan fakultas kami.”
Yonghwa mengangguk mantap menerima perintah profesor dengan semangat.
“Tapi, kyo..” Shinhye akhirnya tidak dapat berkata apa-apa ketika profesor meminta mereka untuk segera meninggalkan ruangannya dan menuju perpustakaan sekarang juga.


***
Yonghwa dan Shinhye berjalan ke arah perpustakaan. Begitu tiba di perpustakaan, mereka masuk ke dalam. Di sana ada petugas perpustakaan yang terlihat sibuk mengatur buku-buku ke dalam rak. Setelah menawarkan jasa mereka, si petugas mulai memberi perintah di rak mana saja yang perlu mereka susun rapi buku-bukunya.
Ah.. untung saja kyosunim menempatkan kau di sisiku sehingga aku lebih semangat mengerjakan semua pekerjaan ini, kata Yonghwa sambil menyusun beberapa buku yang tata letaknya tak beraturan menjadi lebih beraturan.
Hallyu star, Jung Yong hwa.” Shinhye terdengar sedang menggoda Yonghwa dengan sebutan hallyu star. Mengingat kejadian di kelas tadi ketika profesor menyebutnya dengan sebutan itu. “Apa kau sedang demam? Kenapa akhir-akhir ini kau berubah drastis, eong?” tanya Shinhye ikut menyusun buku-buku yang berantakan berdasarkan nomor yang tertera di samping buku-buku tersebut.
Ya, jangan menggodaku!”
Shinhye tertawa melihat wajah kesal Yonghwa.
“Kau bilang aku sedang demam? Aku rasa aku baik-baik saja. Coba kau periksa!” Yonghwa menyodorkan keningnya ke wajah Shinhye, mengisyaratkan Shinhye untuk menyentuh keningnya dan mastikannya sendiri.
Shinhye menempelkan telapak tangannya ke kening Yonghwa.
Sementara tangan Shinhye berada di atas keningnya, dengan tangkas Yonghwa menggenggam erat pergelangan tangan Shinhye dan mendekatkan wajahnya ke wajah Shinhye. “Setelah aku selesai sidang. Aku tidak akan berada di restaurant lagi. Apa saat itu kau mau mengejarku?”
Shinhye menjauhkan wajahnya dari wajah Yonghwa dan tidak menjawab pertanyaan Yonghwa. Jantungnya berdetak dan darahnya berdesir lebih cepat dari biasanya. Dia gugup saat ini.
“Aku takut kau akan menghilang dari hadapanku Park Shin Hye. Oleh karena itu, aku terus berpikir dan berpikir untuk menjadikanmu kekasihku. Kau mau jadi kekasihku?”
Shinhye tidak mampu berkata-kata. Dia memilih diam untuk menutupi rasa gugupnya.
Ya, apa kau tidak punya mulut untuk menjawabku?”
Kenapa kau melakukan hal ini?” Hanya ini yang bisa Shinhye ucapkan setelah mampu mengatasi rasa gugupnya.
“Apa kau tidak menyadarinya? Neol joahanikka–karena aku menyukaimu,” jawab Yonghwa enteng.
Shinhye menahan nafas sebentar tapi kemudian menghembuskan nafasnya. Dan untuk sesaat, membiarkan nafasnya menguar di udara. “Bereskan semua buku-buku itu. Aku ada urusan lain yang harus dikerjakan.” Shinhye berjalan meninggalkan Yonghwa. Dia lebih memilih pergi daripada mengatakan yang sebenarnya bahwa dia juga ingin menjadi kekasih Yonghwa. Saat ini hanya itu pilihan terbaiknya agar dia tidak terlihat murahan di mata lelaki ini.
Ya, Park Shin Hye! Kau belum selesai mengerjakan pekerjaanmu!” teriak Yonghwa yang saat itu membuat semua mata pengunjung perpustakaan menatapnya dengan tatapan sengit. Yonghwa membungkuk sebagai pertanda bahwa dia meminta maaf atas tingkahnya yang telah membuat mereka terganggu.


***
“Jiwon-ah,” panggil Shinhye pada Jiwon yang sedang sibuk menempelkan krim malam ke wajahnya.
Eong,” jawab Jiwon masih berkutat di depan cermin kamar Shinhye.
“Apa yang akan kau lakukan kalau ada yang memintamu menjadi kekasihnya?”
Jiwon berbalik menatap Shinhye yang sudah berada di atas tempat tidur dan berkata, “Ada yang menyatakan cintanya padamu?” tanya Jiwon dengan mimik penasaran.
Anieyo. Bukan aku. Teman kampusku.” Shinhye mencoba mengelak.
“Teman kampusmu? Benar dia teman kampusmu? Siapa itu? Teman kampusmu, teman kampusku, aku pasti mengenalnya juga.
Ya, kenapa kau menanyakan hal yang tidak penting?”
Jiwon tertawa melihat reaksi Shinhye.
Utjima–jangan tertawa!” seru Shinhye melihat Jiwon yang sedang menyindirnya lewat tawa.
“Kau berbohong, Park Shin Hye! Semua tertulis jelas di keningmu.” Jiwon menggambar aksara hangul ‘gotjimal’ di udara.
Aishh.. Shinhye mendengus karena dirinya yang kecolongan menipu. “Igeo–itu. Ada seorang namja yang memintaku menjadi kekasihnya.”
Jiwon tersenyum lucu karena tingkah malu-malu Shinhye. “Lalu apa yang kau katakan? Kau menerimanya? Atau menolaknya?”
Shinhye menggelengkan kepalanya. “Molla. Justru karena aku bingung harus menjawab apa, makanya aku bertanya padamu. Apa menurutmu aku harus menerimanya?”
Haebwa–coba lakukan saja! Terima dia dan lihatlah seberapa tulus dia mencintaimu?” Jiwon memberi saran.
“Aku tidak langsung menerimanya karena dia terlihat memaksa saat menyatakan cintanya padaku.”
Maksudmu dia tidak tulus mengatakannya kepadamu?”
Tulus? Huh!Shinhye mendengus dalam hati. Kalimat-kalimat Yonghwa kembali berkelabat di pikirannya.
Setelah aku selesai sidang. Aku tidak akan berada di restaurant lagi. Apa saat itu kau mau mengejarku? Aku takut kau akan menghilang dari hadapanku Park Shin Hye. Oleh karena itu, aku terus berpikir dan berpikir untuk menjadikanmu kekasihku. Kau mau jadi kekasihku? Apa kau tidak menyadarinya? Neol joahanikka–karena aku menyukaimu.
“Kau malah terlihat memaksaku, nappeun namjapria jahat, kata Shinhye pada dirinya sendiri.
Napeun namja? Beritahu aku siapa napeun namjamu itu. Aku penasaran ingin tahu siapa dia,” kata Jiwon menggoda sahabatnya itu.
Namja-ku? Dia bukan namja-ku, arasseo? Dwaesseo. Aku malas membicarakannya. Aku ingin tidur. Jangan bangunkan aku, eong! kata Shinhye dengan wajah kesal bercampur malu karena Jiwon yang terus menggodanya.


JeResto
Yonghwa tengah berdiri di beranda luar restaurant menunggu kedatangan Shinhye ke restaurant. Tapi yang datang malah orang yang tidak diharapkannya.
“Kau masih di sini rupanya. Aku rasa paman bilang kalau kau sudah diperbolehkan bekerja di perusahaannya setelah sidangmu. Kenapa kau masih di sini?”
“Sidangnya masih minggu depan. Dan kau? Apa yang kau lakukan di sini?” Yonghwa balik bertanya.
“Apa aku dilarang mengunjungi sahabatku sendiri?”
Yonghwa menggeleng.
“Tadi aku bertemu bibi. Dia bilang malam ini dia ingin makan malam bersama kita. Katanya kau jangan sampai tidak datang.”
Anjoha–tidak bisa. Aku tidak bisa malam ini.” Yonghwa celingak-celinguk ketika melihat kedatangan Shinhye dari seberang jalan. Begitu gadis itu mencapai restaurant, Yonghwa langsung menyapanya dengan senyuman.
Annyeonghaseyo!” Shinhye menyapa Yonghwa dan tamunya sambil membungkuk. Setelah itu dia berjalan meninggalkan mereka dan masuk ke dalam restaurant.
“Yoojin-ah, kau pulanglah! Minggu depan aku akan menjemputmu. Kita akan makan malam dengan eomma,” ujar Yonghwa pendek dan melenggang meninggalkan Yoojin yang masih berdiri dengan tampang bingung karena ini pertama kalinya dia diacuhkan Yonghwa.
Yonghwa mengejar Shinhye mencoba merendengi langkahnya dengan langkah Shinhye. Tapi Shinhye malah mempercepat langkahnya sampai akhirnya dia tiba di kamar ganti karyawan wanita. Dan langsung menutup pintu ruangan tersebut.
Shinhye menghembuskan napas lega, karena Yonghwa yang tak akan bisa masuk ke ruangan tersebut. Baru saja hendak berbalik memunggungi pintunya, tiba-tiba pintu kamar gantinya terbuka. Dan Yonghwa berdiri tepat di depan pintu tersebut.
Ya! Apa yang kau lakukan? Apa yang akan kau perbuat kalau saja ada yeoja yang sedang berganti?” celetuk Shinhye.
“Tidak ada orang di dalam kan? Hanya kau. Benar kan?” Yonghwa masuk menutup pintu ruangan itu dengan senggolan kakinya dan menarik Shinhye menjauh dari pintu tersebut.
Ya! Kau tidak bisa seenaknya berada di sini. Apa kata orang kalau melihatmu di kamar ganti wanita?”
“Semua ruangan di restaurant ini milikku. Jadi terserah aku mau berada di mana saja.” Yonghwa duduk di kursi dan menepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Shinhye untuk duduk di sampingnya.
Shinhye tetap berdiri dan dengan acuh bertanya, “Apa yang ingin kau katakan? Marhae!”
Yang kemarin itu. Apa kau sudah memiliki jawabannya?” tanya Yonghwa dengan kedua tangannya terlipat di dada.
Jung Yong Hwa-ssi, apa kau sudah memikirkannya baik-baik sebelum mengatakannya kepadaku?”
Yonghwa mengangguk yakin.
Apa kau terpeleset di kamar mandi kemarin? Atau mungkin kau tertindih tiang listrik sehingga kau menjadi seperti ini?” Shinhye mengatakan semua hal ini hanya sekedar memastikan apakah Yonghwa benar-benar serius menyukainya.
“Apa semua orang yang mengejarmu kau mengata-ngatai mereka seperti ini?” ucap Yonghwa ketus. “Kau tahu, aku sendiri bingung mengapa yang ada dalam pikiranku hanya kau saja? Bukan sidangku, bukan karirku atau apa pun itu? Tapi kau!” kata Yonghwa dengan mimik wajah yang benar-benar serius. Yonghwa bangun dari duduknya dan beranjak mendekati Shinhye. Shinhye mundur beberapa langkah ke belakang mencoba menjauh dari Yonghwa. Tapi Yonghwa malah terus mendekatinya.
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Shinhye gugup ketika akhirnya punggungnya menyentuh dinding di belakangnya. Menandakan bahwa tidak ada lagi jalan baginya untuk terus mundur ke belakang.
Yonghwa menempelkan keningnya ke kening Shinhye. Kali ini wajah mereka hanya terpisah beberapa senti saja. Bahkan keduanya dapat merasakan nafasnya masing-masing.
“Teruslah menghindar. Karena aku suka wanita seperti itu.”
Shinhye mengerjap-ngerjapkan matanya pertanda bahwa dia benar-benar gugup sekarang.
“Ikut aku!” Yonghwa menarik lengan Shinhye dan membawanya ke luar dari restaurant.
Shinhye tidak berkata apa-apa dan hanya mengikuti ke mana Yonghwa membawanya pergi.
Yonghwa menempatkan Shinhye ke dalam mobilnya, kemudian dia menginjak pedal gas mobilnya dan melaju meninggalkan restaurant.
“Kita akan ke mana?” tanya Shinhye gugup. Kali ini dia benar-benar takut Yonghwa akan melakukan hal-hal aneh padanya. Melihat tingkah Yonghwa yang sering melakukan sesuatu semaunya.
“Kau tenang saja. Aku tidak biasa menyentuh gadis-gadis yang tidak mau kusentuh. Sepertimu, kata Yonghwa terus terang.
Shinhye mendengus. “Tidak biasa menyentuh? Neo?”
Yonghwa tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan melihat ke arah jalan yang sedang mereka tempuh.
Ya, Jung Yong Hwa-ssi, kita akan ke mana?” Shinhye kembali bertanya setelah menghabiskan dua puluh menit di jalanan tapi belum juga tiba di tempat tujuan mereka.
“Kita akan bertemu seseorang. Dia orang pertama yang harus kau temui.
“Maksudmu?”
“Jangan banyak tanya. Kau akan tahu maksudku setelah kita tiba di sana.”


***
Yonghwa memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang asing bagi Shinhye. Yonghwa bergerak keluar dari dalam mobilnya. Setelah keluar dari mobilnya, Yonghwa berjalan ke bagian kanan mobil dan hendak membukakan pintu mobil untuk Shinhye. Ketika tangannya menyentuh engkol pintu mobilnya, dengan sigap Shinhye mengunci pintu mobil itu.
Ya, apa yang kau lakukan di situ? Cepat turun!” kata Yonghwa terus mencoba membuka engkol pintu mobilnya.
Sirheo–tidak mau!”
Ya, keluar dari mobilku!”
Siltagoyo–kubilang tidak mau!” Shinhye bersikeras tidak mau keluar dari dalam mobil. “Katakan padaku, rumah siapa ini? Kenapa kau membawaku ke sini?” seru Shinhye dengan tampang curiga.
Apa kau pikir aku akan berbuat yang aneh-aneh padamu? Aku tidak akan tertarik melakukan hal itu kalau kau sendiri tidak mau melakukannya. Yonghwa mencoba meyakinkan Shinhye yang keras kepala. “Kalau kau tetap mau di sini, baiklah. Aku akan masuk ke dalam. Tapi saranku sebaiknya kau berhati-hati karena di tempat ini banyak gadis yang sering diculik, bahkan ketika mereka ada di halaman rumah mereka sendiri.” Yonghwa hendak berjalan meninggalkan Shinhye. Tapi kemudian didengarnya suara pintu mobil yang terbuka. Dan sekarang yang terdengar adalah langkah kaki Shinhye yang sedang mengikutinya dari belakang. Beberapa langkah lagi, Yonghwa akan tiba di depan pintu rumah yang ditujunya. Tapi belum mencapai pintu rumah tersebut, tiba-tiba dilihatnya sang pemilik rumah dengan jas dinginnya keluar dari dalam rumah.
Hyeongnim, tegur Yonghwa ketika tatapan mereka bersirobok.
Eoh, Yonghwa-ya. Oraenmanida!” Pria tersebut memeluk Yonghwa dan memukul pundaknya.
Eyy, hyeongnim. Baru beberapa minggu yang lalu aku ke sini, tapi perkataanmu seakan-akan mengatakan sudah lama aku tidak mengunjungi kalian.
Shinhye yang tadinya bersembunyi di balik punggung Yonghwa, kini menyembulkan kepalanya dari balik punggung Yonghwa, mencoba mencari tahu seperti apa rupa lawan bicara Yonghwa.
Eoh. Annyeonghaseyo!” Lawan bicara Yonghwa kaget begitu melihat sosok Shinhye yang muncul tiba-tiba.
Annyeonghaseyo!” balas Shinhye dengan tatapan malu-malu.
Ya, Jung Yong Hwa, hampir sebulan kau tidak ke sini dan sekarang kau kembali membawa gadis cantik ini. Apa dia yang akan kau perkenalkan pada Yoomi?”
“Ah, hyeongnim. Jangan berkata seperti itu.”
Arasseo. Kau masuklah ke dalam. Ada Yoomi di dalam. Aku ada urusan di luar sebentar.
“Hati-hati, hyeongnim!” kata Yonghwa.
Keureom!” pamit kakak ipar Yonghwa pada Yonghwa dan Shinhye.
Annyeonghi kaseyo–selamat jalan!” tegur Shinhye pada kakak ipar Yonghwa yang baru saja melenggang pergi meninggalkan mereka.
Ya, apa benar yang kulihat tadi adalah Bae Soo Bin oppa?” Shinhye menunjuk kakak ipar Yonghwa yang kini telah menghilang dari pandangan mereka.Apa noona-mu adalah wanita yang dinikahi Soobin oppa?”
Oppa? Jeongsin charyeo–sadarlah!” Yonghwa kemudian berdecak dan berkata, “Orang yang hanya bisa kau lihat lewat televisi, kau memanggilnya oppa? Sedangkan aku, tidak pernah sedikit pun terbersit di pikiranmu untuk memanggilku oppa.”
Shinhye hanya bisa mendelik melihat tingkah cemburu Yonghwa.
Keurae–baiklah, kau sudah lihat sendiri kan siapa pemilik rumah ini? Apa sekarang kau masih curiga padaku?”
Shinhye menggeleng. “Tapi..” Shinhye kemudian menyentuh pipinya dengan kedua telapak tangannya. “Kenapa wajahku terasa panas mengingat kembali tatapan lembutnya tadi?” Shinhye lalu menampar-nampar pipinya masih tidak percaya bahwa dia bertatapan langsung dengan aktor favoritnya.
Cheoltae–benar-benar.” Yonghwa hanya bisa menggeleng melihat tingkah Shinhye yang berlebihan.
Ah.., kenapa tadi aku tidak minta tanda tangannya saja?”
Neomu eoba hajima–jangan terlalu berlebihan.” Yonghwa kemudian berjalan masuk ke dalam rumah kakaknya tanpa memedulikan Shinhye yang masih terpesona dengan wajah kakak iparnya. Beberapa detik kemudian, Shinhye baru mengekorinya dari belakang.
Annyeonghaseyo!” Yonghwa menyapa seorang wanita yang sedang duduk memunggunginya dan Shinhye.
Wanita yang disapa berbalik melihat tamunya. Begitu dilihatnya sosok Yonghwa yang berdiri di depannya, dia malah berbalik dan kembali melakukan aktifitasnya memberi makan seorang bayi kecil yang sedang duduk manis di atas kursi kayu bayinya.
Annyeong, jokha-adel–keponakan laki-laki! Apa kau baik-baik saja seperti eommamu?” Yonghwa berjalan mendekati ibu dan anak yang disapanya itu. Ah.. kau bertambah tampan seperti pamanmu ini, katanya lagi ketika berhadapan langsung dengan anak kecil itu.
Wanita yang disapa malah berkata, “Kau sebaiknya pulang. Tidak usah ke sini lagi.”
Mianhae, noona. Aku benar-benar ingin mengunjungi kalian setiap hari, hanya saja banyak kesibukan yang harus kukerjakan. Kau tahu sendiri kan, ayah menempatkanku di restaurant.
Wanita itu masih menatap sinis ke arah Yonghwa. Lalu tatapannya berubah lembut ketika melihat wajah Shinhye. “Gadis cantik siapa yang kau bawa?”
Eoh, annyeonghaseyo! Joneun Park Shin Hye imnida.” Shinhye membungkuk dan memperkenalkan dirinya secara formal.
Yoomi bangkit dari duduknya ikut membungkuk dan menyapa Shinhye. Annyeonghaseyo! Aku Jung Yoo Mi, kakak Yonghwa.” Saat sedang memperkenalkan dirinya, angin dari luar yang terbawa masuk karena jendela rumahnya yang terbuka lebar mengibas setiap helai rambutnya dan menyebabkan rambut sebahunya itu memenuhi dahi, pipi, dan pelipisnya. Meskipun saat ini wajahnya dipenuhi rambut yang berantakan, tapi sedikitpun tak mengurangi kecantikannya.
Anjeuseyo–silahkan duduk,” kata Yoomi dengan wajah tersenyum mempersilahkan Shinhye untuk duduk di kursi.
Shinhye tidak meresponnya karena sedang sibuk memuji wanita bernama Yoomi itu di dalam hatinya.
“Park Shin Hye-ssi,” panggil Yoomi pada Shinhye yang terlihat sedang melamun.
Lamunan Shinhye terbuyar mendengar seseorang sedang memanggil namanya. “Eoh.. mianhaeyo, eonnie,” kata Shinhye sambil membungkuk.
Anjeuseyo!” Yoomi mengulangi kalimatnya masih dengan senyuman yang terus melengkung di wajahnya.
Shinhye mengikuti saran Yoomi.
Begitu melihat Shinhye telah duduk dengan nyaman. Yoomi kemudian mulai berbicara lagi pada Shinhye. Katanya, “Apa dia pernah bercerita tentangku?” Tunjuknya pada Yonghwa yang sedang berdiri di sampingnya itu.
Shinhye menggeleng sambil tersenyum lebar.
“Sudah kuduga, dia tidak pernah menceritakanku.” Yoomi meletakkan kedua tangannya di pinggul dan mendelik ke arah Yonghwa yang memperlihatkan wajah tanpa dosanya.
Noona, justru aku baru ingin memperkenalkannya padamu. Sesuai janjiku.”
Tampang Shinhye bingung mendengar percakapan kakak beradik di depannya ini.
Yonghwa kemudian berjalan ke arah Shinhye dan duduk di sampingnya. Mereka berdua kini duduk berhadapan dengan Yoomi.

“Seberapa jauh Shinhye-ssi sudah mengenal adikku?” Yoomi bertanya seolah-olah Shinhye dan Yonghwa sedang menjalin suatu hubungan. “Apa dia tampan untuk dijadikan pacar?” Kalimat terakhir yang diucapkan Yoomi saat ini bagaikan aliran arus listrik yang menyetrum Shinhye sampai ke dalam tulang-tulangnya.


To be continued.