"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Jumat, 22 Juli 2016

Rain of Autumn Part 15

Part 15


***
Ada urusan apa sehingga kau masuk ke dalam kelasku?” tanya Profesor Lee begitu Yonghwa masuk ke ruangan kerjanya.
Jeosonghamnida, kyosunim, tapi aku harus bertemu seorang mahasiswi yang ada di dalam kelasmu,” jawab Yonghwa enteng.
“Bertemu mahasiswiku?” Profesor Lee Pil Mo terlihat mengerutkan keningnya. “Sebelumnya kau bilang padaku kalau kau ingin ikut ujian juga di kelasku? Apa kau sedang berusaha membohongiku sekarang?” tanya profesor mencoba mencari tahu kebohongan yang tersembunyi lewat tatapan mata Yonghwa.
Yonghwa meringis menampakan deretan giginya. Dia ketahuan berbohong pada profesor. “Park Shin Hye. Kau harus menuntutnya, karena dia yang membawaku masuk ke kelasmu, kyosunim. Karena ketahuan berbohong, tanpa perlu menimbang terlebih dahulu jawabannya, Yonghwa akhirnya menjawabnya dengan mengatakan Park Shin Hye adalah penyebab mengapa dia sampai masuk ke kelas profesor Lee.
“Park Shin Hye?” tanya profesor Lee dengan mimik heran. Sepertinya dia tak bisa percaya kalau salah satu mahasiswi teladannya itu melakukan kesalahan.
Yonghwa mengangguk mantap.
“Panggil Park Shin Hye ke ruanganku.” Profesor Lee memberi perintah pada asistennya yang juga sedang berada di ruangan saat itu.

10 menit berlalu
Kyosunim memanggilku?” ujar Shinhye ketika membuka pintu ruang kerja Profesor Lee. Shinhye masuk ke ruangan profesor dan melotot ke arah seseorang yang tentu saja sangat dia yakini bahwa orang itulah dalang mengapa dirinya dipanggil ke ruangan profesor Lee.
Orang yang dipelototi kemudian mengedikkan bahunya.
Anjuseyo.” Profesor Lee mempersilahkan Shinhye untuk duduk. “Apa kau mengenalnya?” tanya profesor meminta konfirmasi dari mahasiswinya ini.
Ne, kyosunim,” jawab Park Shin Hye disertai anggukan.
Apa benar kau yang membawanya ke kelasku?”
Shinhye berbalik menatap orang yang ditunjuk profesor, siapa lagi kalau bukan Jung Yong Hwa. Shinhye benar-benar tidak percaya bahwa pria ini baru saja mengatakan hal yang tidak masuk di akal.
“Benar begitu kan, Park Shin Hye?” Yonghwa membalas tatapan Shinhye dengan seringai lebar. “Kau mengajakku ke kelas karena kau ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padaku, kan? Profesor, mahasiswimu ini sepertinya menyimpan sesuatu hal yang sangat pribadi. Dan ingin mengatakannya hanya kepadaku,” kata Yonghwa dengan sengiran menggoda.
Mworago?” Shinhye mendengus mendengar kalimat Yonghwa yang tak masuk akal. “Aniyo, kyosunim. Dia sendiri yang datang ke kelas, balas Shinhye karena kalimat Yonghwa yang terdengar menyudutkannya itu.
Ya!” Yonghwa menyenggol tubuh Shinhye dengan sikunya karena Shinhye yang tak bisa diajak kompromi.
“Jung Yong Hwa-ssi­, apa kali ini kau bisa mengatakan yang sebenarnya terjadi?” Profesor Lee mencobah menengahi pembicaraan.
Karena kedapatan berbohong dua kali, akhirnya tidak ada alasan lain bagi Yonghwa untuk berbohong lagi dan akhirnya mengatakan semua kebenarannya. Jeosonghamnida, kyosunim. Aku melakukan semua itu hanya karena rasa penasaranku. Tiba-tiba saja aku penasaran pada apa yang sedang dilakukan Park Shin Hye saat itu. Aku terus penasaran padanya tanpa alasan. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan rasa penasaranku. Akhirnya aku memilih untuk mengunjunginya di kelas. Mungkin dengan melihat wajahnya, aku tidak akan penasaran lagi.” Yonghwa terus berceloteh menyatakan semua isi hatinya.
Ya! Berhenti mengatakan hal-hal aneh, Jung Yong Hwa-ssi, cegah Shinhye sebelum pria di sampingnya ini semakin menjadi-jadi.
Yonghwa tidak memedulikan Shinhye dan terus mengatakan kebenarannya pada profesor Lee. “Maafkan aku karena telah membohongimu, kata Yonghwa dengan ketulusan yang yang saat itu juga mampu meruntuhkan tembok amarah profesor Lee.
Keureo guna–ternyata begitu. Aku mengerti perasaanmu sekarang,” kata profesor Lee menampakan sengiran khas di wajahnya. “Tapi lain kali jangan lagi mengulangi perbuatanmu ini. Arrasseo?”
Ne, kyosunim,” jawab Yonghwa singkat. “Tapi apa kau tidak akan menghukum kami?”
Shinhye menelengkan kepalanya ke arah Yonghwa. “Mwo?” Dia benar-benar tidak menyangka Yonghwa akan mengatakan hal ini.
“Hmmm..” Profesor Lee menggumam. “Kau yang memintaku menghukum kalian. Oleh karena itu sebaiknya kau dan Shinhye pergi dan bantulah petugas perpustakaan membersihkan perpustakaan fakultas kami.”
Yonghwa mengangguk mantap menerima perintah profesor dengan semangat.
“Tapi, kyo..” Shinhye akhirnya tidak dapat berkata apa-apa ketika profesor meminta mereka untuk segera meninggalkan ruangannya dan menuju perpustakaan sekarang juga.


***
Yonghwa dan Shinhye berjalan ke arah perpustakaan. Begitu tiba di perpustakaan, mereka masuk ke dalam. Di sana ada petugas perpustakaan yang terlihat sibuk mengatur buku-buku ke dalam rak. Setelah menawarkan jasa mereka, si petugas mulai memberi perintah di rak mana saja yang perlu mereka susun rapi buku-bukunya.
Ah.. untung saja kyosunim menempatkan kau di sisiku sehingga aku lebih semangat mengerjakan semua pekerjaan ini, kata Yonghwa sambil menyusun beberapa buku yang tata letaknya tak beraturan menjadi lebih beraturan.
Hallyu star, Jung Yong hwa.” Shinhye terdengar sedang menggoda Yonghwa dengan sebutan hallyu star. Mengingat kejadian di kelas tadi ketika profesor menyebutnya dengan sebutan itu. “Apa kau sedang demam? Kenapa akhir-akhir ini kau berubah drastis, eong?” tanya Shinhye ikut menyusun buku-buku yang berantakan berdasarkan nomor yang tertera di samping buku-buku tersebut.
Ya, jangan menggodaku!”
Shinhye tertawa melihat wajah kesal Yonghwa.
“Kau bilang aku sedang demam? Aku rasa aku baik-baik saja. Coba kau periksa!” Yonghwa menyodorkan keningnya ke wajah Shinhye, mengisyaratkan Shinhye untuk menyentuh keningnya dan mastikannya sendiri.
Shinhye menempelkan telapak tangannya ke kening Yonghwa.
Sementara tangan Shinhye berada di atas keningnya, dengan tangkas Yonghwa menggenggam erat pergelangan tangan Shinhye dan mendekatkan wajahnya ke wajah Shinhye. “Setelah aku selesai sidang. Aku tidak akan berada di restaurant lagi. Apa saat itu kau mau mengejarku?”
Shinhye menjauhkan wajahnya dari wajah Yonghwa dan tidak menjawab pertanyaan Yonghwa. Jantungnya berdetak dan darahnya berdesir lebih cepat dari biasanya. Dia gugup saat ini.
“Aku takut kau akan menghilang dari hadapanku Park Shin Hye. Oleh karena itu, aku terus berpikir dan berpikir untuk menjadikanmu kekasihku. Kau mau jadi kekasihku?”
Shinhye tidak mampu berkata-kata. Dia memilih diam untuk menutupi rasa gugupnya.
Ya, apa kau tidak punya mulut untuk menjawabku?”
Kenapa kau melakukan hal ini?” Hanya ini yang bisa Shinhye ucapkan setelah mampu mengatasi rasa gugupnya.
“Apa kau tidak menyadarinya? Neol joahanikka–karena aku menyukaimu,” jawab Yonghwa enteng.
Shinhye menahan nafas sebentar tapi kemudian menghembuskan nafasnya. Dan untuk sesaat, membiarkan nafasnya menguar di udara. “Bereskan semua buku-buku itu. Aku ada urusan lain yang harus dikerjakan.” Shinhye berjalan meninggalkan Yonghwa. Dia lebih memilih pergi daripada mengatakan yang sebenarnya bahwa dia juga ingin menjadi kekasih Yonghwa. Saat ini hanya itu pilihan terbaiknya agar dia tidak terlihat murahan di mata lelaki ini.
Ya, Park Shin Hye! Kau belum selesai mengerjakan pekerjaanmu!” teriak Yonghwa yang saat itu membuat semua mata pengunjung perpustakaan menatapnya dengan tatapan sengit. Yonghwa membungkuk sebagai pertanda bahwa dia meminta maaf atas tingkahnya yang telah membuat mereka terganggu.


***
“Jiwon-ah,” panggil Shinhye pada Jiwon yang sedang sibuk menempelkan krim malam ke wajahnya.
Eong,” jawab Jiwon masih berkutat di depan cermin kamar Shinhye.
“Apa yang akan kau lakukan kalau ada yang memintamu menjadi kekasihnya?”
Jiwon berbalik menatap Shinhye yang sudah berada di atas tempat tidur dan berkata, “Ada yang menyatakan cintanya padamu?” tanya Jiwon dengan mimik penasaran.
Anieyo. Bukan aku. Teman kampusku.” Shinhye mencoba mengelak.
“Teman kampusmu? Benar dia teman kampusmu? Siapa itu? Teman kampusmu, teman kampusku, aku pasti mengenalnya juga.
Ya, kenapa kau menanyakan hal yang tidak penting?”
Jiwon tertawa melihat reaksi Shinhye.
Utjima–jangan tertawa!” seru Shinhye melihat Jiwon yang sedang menyindirnya lewat tawa.
“Kau berbohong, Park Shin Hye! Semua tertulis jelas di keningmu.” Jiwon menggambar aksara hangul ‘gotjimal’ di udara.
Aishh.. Shinhye mendengus karena dirinya yang kecolongan menipu. “Igeo–itu. Ada seorang namja yang memintaku menjadi kekasihnya.”
Jiwon tersenyum lucu karena tingkah malu-malu Shinhye. “Lalu apa yang kau katakan? Kau menerimanya? Atau menolaknya?”
Shinhye menggelengkan kepalanya. “Molla. Justru karena aku bingung harus menjawab apa, makanya aku bertanya padamu. Apa menurutmu aku harus menerimanya?”
Haebwa–coba lakukan saja! Terima dia dan lihatlah seberapa tulus dia mencintaimu?” Jiwon memberi saran.
“Aku tidak langsung menerimanya karena dia terlihat memaksa saat menyatakan cintanya padaku.”
Maksudmu dia tidak tulus mengatakannya kepadamu?”
Tulus? Huh!Shinhye mendengus dalam hati. Kalimat-kalimat Yonghwa kembali berkelabat di pikirannya.
Setelah aku selesai sidang. Aku tidak akan berada di restaurant lagi. Apa saat itu kau mau mengejarku? Aku takut kau akan menghilang dari hadapanku Park Shin Hye. Oleh karena itu, aku terus berpikir dan berpikir untuk menjadikanmu kekasihku. Kau mau jadi kekasihku? Apa kau tidak menyadarinya? Neol joahanikka–karena aku menyukaimu.
“Kau malah terlihat memaksaku, nappeun namjapria jahat, kata Shinhye pada dirinya sendiri.
Napeun namja? Beritahu aku siapa napeun namjamu itu. Aku penasaran ingin tahu siapa dia,” kata Jiwon menggoda sahabatnya itu.
Namja-ku? Dia bukan namja-ku, arasseo? Dwaesseo. Aku malas membicarakannya. Aku ingin tidur. Jangan bangunkan aku, eong! kata Shinhye dengan wajah kesal bercampur malu karena Jiwon yang terus menggodanya.


JeResto
Yonghwa tengah berdiri di beranda luar restaurant menunggu kedatangan Shinhye ke restaurant. Tapi yang datang malah orang yang tidak diharapkannya.
“Kau masih di sini rupanya. Aku rasa paman bilang kalau kau sudah diperbolehkan bekerja di perusahaannya setelah sidangmu. Kenapa kau masih di sini?”
“Sidangnya masih minggu depan. Dan kau? Apa yang kau lakukan di sini?” Yonghwa balik bertanya.
“Apa aku dilarang mengunjungi sahabatku sendiri?”
Yonghwa menggeleng.
“Tadi aku bertemu bibi. Dia bilang malam ini dia ingin makan malam bersama kita. Katanya kau jangan sampai tidak datang.”
Anjoha–tidak bisa. Aku tidak bisa malam ini.” Yonghwa celingak-celinguk ketika melihat kedatangan Shinhye dari seberang jalan. Begitu gadis itu mencapai restaurant, Yonghwa langsung menyapanya dengan senyuman.
Annyeonghaseyo!” Shinhye menyapa Yonghwa dan tamunya sambil membungkuk. Setelah itu dia berjalan meninggalkan mereka dan masuk ke dalam restaurant.
“Yoojin-ah, kau pulanglah! Minggu depan aku akan menjemputmu. Kita akan makan malam dengan eomma,” ujar Yonghwa pendek dan melenggang meninggalkan Yoojin yang masih berdiri dengan tampang bingung karena ini pertama kalinya dia diacuhkan Yonghwa.
Yonghwa mengejar Shinhye mencoba merendengi langkahnya dengan langkah Shinhye. Tapi Shinhye malah mempercepat langkahnya sampai akhirnya dia tiba di kamar ganti karyawan wanita. Dan langsung menutup pintu ruangan tersebut.
Shinhye menghembuskan napas lega, karena Yonghwa yang tak akan bisa masuk ke ruangan tersebut. Baru saja hendak berbalik memunggungi pintunya, tiba-tiba pintu kamar gantinya terbuka. Dan Yonghwa berdiri tepat di depan pintu tersebut.
Ya! Apa yang kau lakukan? Apa yang akan kau perbuat kalau saja ada yeoja yang sedang berganti?” celetuk Shinhye.
“Tidak ada orang di dalam kan? Hanya kau. Benar kan?” Yonghwa masuk menutup pintu ruangan itu dengan senggolan kakinya dan menarik Shinhye menjauh dari pintu tersebut.
Ya! Kau tidak bisa seenaknya berada di sini. Apa kata orang kalau melihatmu di kamar ganti wanita?”
“Semua ruangan di restaurant ini milikku. Jadi terserah aku mau berada di mana saja.” Yonghwa duduk di kursi dan menepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Shinhye untuk duduk di sampingnya.
Shinhye tetap berdiri dan dengan acuh bertanya, “Apa yang ingin kau katakan? Marhae!”
Yang kemarin itu. Apa kau sudah memiliki jawabannya?” tanya Yonghwa dengan kedua tangannya terlipat di dada.
Jung Yong Hwa-ssi, apa kau sudah memikirkannya baik-baik sebelum mengatakannya kepadaku?”
Yonghwa mengangguk yakin.
Apa kau terpeleset di kamar mandi kemarin? Atau mungkin kau tertindih tiang listrik sehingga kau menjadi seperti ini?” Shinhye mengatakan semua hal ini hanya sekedar memastikan apakah Yonghwa benar-benar serius menyukainya.
“Apa semua orang yang mengejarmu kau mengata-ngatai mereka seperti ini?” ucap Yonghwa ketus. “Kau tahu, aku sendiri bingung mengapa yang ada dalam pikiranku hanya kau saja? Bukan sidangku, bukan karirku atau apa pun itu? Tapi kau!” kata Yonghwa dengan mimik wajah yang benar-benar serius. Yonghwa bangun dari duduknya dan beranjak mendekati Shinhye. Shinhye mundur beberapa langkah ke belakang mencoba menjauh dari Yonghwa. Tapi Yonghwa malah terus mendekatinya.
“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Shinhye gugup ketika akhirnya punggungnya menyentuh dinding di belakangnya. Menandakan bahwa tidak ada lagi jalan baginya untuk terus mundur ke belakang.
Yonghwa menempelkan keningnya ke kening Shinhye. Kali ini wajah mereka hanya terpisah beberapa senti saja. Bahkan keduanya dapat merasakan nafasnya masing-masing.
“Teruslah menghindar. Karena aku suka wanita seperti itu.”
Shinhye mengerjap-ngerjapkan matanya pertanda bahwa dia benar-benar gugup sekarang.
“Ikut aku!” Yonghwa menarik lengan Shinhye dan membawanya ke luar dari restaurant.
Shinhye tidak berkata apa-apa dan hanya mengikuti ke mana Yonghwa membawanya pergi.
Yonghwa menempatkan Shinhye ke dalam mobilnya, kemudian dia menginjak pedal gas mobilnya dan melaju meninggalkan restaurant.
“Kita akan ke mana?” tanya Shinhye gugup. Kali ini dia benar-benar takut Yonghwa akan melakukan hal-hal aneh padanya. Melihat tingkah Yonghwa yang sering melakukan sesuatu semaunya.
“Kau tenang saja. Aku tidak biasa menyentuh gadis-gadis yang tidak mau kusentuh. Sepertimu, kata Yonghwa terus terang.
Shinhye mendengus. “Tidak biasa menyentuh? Neo?”
Yonghwa tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan melihat ke arah jalan yang sedang mereka tempuh.
Ya, Jung Yong Hwa-ssi, kita akan ke mana?” Shinhye kembali bertanya setelah menghabiskan dua puluh menit di jalanan tapi belum juga tiba di tempat tujuan mereka.
“Kita akan bertemu seseorang. Dia orang pertama yang harus kau temui.
“Maksudmu?”
“Jangan banyak tanya. Kau akan tahu maksudku setelah kita tiba di sana.”


***
Yonghwa memarkirkan mobilnya di halaman sebuah rumah yang asing bagi Shinhye. Yonghwa bergerak keluar dari dalam mobilnya. Setelah keluar dari mobilnya, Yonghwa berjalan ke bagian kanan mobil dan hendak membukakan pintu mobil untuk Shinhye. Ketika tangannya menyentuh engkol pintu mobilnya, dengan sigap Shinhye mengunci pintu mobil itu.
Ya, apa yang kau lakukan di situ? Cepat turun!” kata Yonghwa terus mencoba membuka engkol pintu mobilnya.
Sirheo–tidak mau!”
Ya, keluar dari mobilku!”
Siltagoyo–kubilang tidak mau!” Shinhye bersikeras tidak mau keluar dari dalam mobil. “Katakan padaku, rumah siapa ini? Kenapa kau membawaku ke sini?” seru Shinhye dengan tampang curiga.
Apa kau pikir aku akan berbuat yang aneh-aneh padamu? Aku tidak akan tertarik melakukan hal itu kalau kau sendiri tidak mau melakukannya. Yonghwa mencoba meyakinkan Shinhye yang keras kepala. “Kalau kau tetap mau di sini, baiklah. Aku akan masuk ke dalam. Tapi saranku sebaiknya kau berhati-hati karena di tempat ini banyak gadis yang sering diculik, bahkan ketika mereka ada di halaman rumah mereka sendiri.” Yonghwa hendak berjalan meninggalkan Shinhye. Tapi kemudian didengarnya suara pintu mobil yang terbuka. Dan sekarang yang terdengar adalah langkah kaki Shinhye yang sedang mengikutinya dari belakang. Beberapa langkah lagi, Yonghwa akan tiba di depan pintu rumah yang ditujunya. Tapi belum mencapai pintu rumah tersebut, tiba-tiba dilihatnya sang pemilik rumah dengan jas dinginnya keluar dari dalam rumah.
Hyeongnim, tegur Yonghwa ketika tatapan mereka bersirobok.
Eoh, Yonghwa-ya. Oraenmanida!” Pria tersebut memeluk Yonghwa dan memukul pundaknya.
Eyy, hyeongnim. Baru beberapa minggu yang lalu aku ke sini, tapi perkataanmu seakan-akan mengatakan sudah lama aku tidak mengunjungi kalian.
Shinhye yang tadinya bersembunyi di balik punggung Yonghwa, kini menyembulkan kepalanya dari balik punggung Yonghwa, mencoba mencari tahu seperti apa rupa lawan bicara Yonghwa.
Eoh. Annyeonghaseyo!” Lawan bicara Yonghwa kaget begitu melihat sosok Shinhye yang muncul tiba-tiba.
Annyeonghaseyo!” balas Shinhye dengan tatapan malu-malu.
Ya, Jung Yong Hwa, hampir sebulan kau tidak ke sini dan sekarang kau kembali membawa gadis cantik ini. Apa dia yang akan kau perkenalkan pada Yoomi?”
“Ah, hyeongnim. Jangan berkata seperti itu.”
Arasseo. Kau masuklah ke dalam. Ada Yoomi di dalam. Aku ada urusan di luar sebentar.
“Hati-hati, hyeongnim!” kata Yonghwa.
Keureom!” pamit kakak ipar Yonghwa pada Yonghwa dan Shinhye.
Annyeonghi kaseyo–selamat jalan!” tegur Shinhye pada kakak ipar Yonghwa yang baru saja melenggang pergi meninggalkan mereka.
Ya, apa benar yang kulihat tadi adalah Bae Soo Bin oppa?” Shinhye menunjuk kakak ipar Yonghwa yang kini telah menghilang dari pandangan mereka.Apa noona-mu adalah wanita yang dinikahi Soobin oppa?”
Oppa? Jeongsin charyeo–sadarlah!” Yonghwa kemudian berdecak dan berkata, “Orang yang hanya bisa kau lihat lewat televisi, kau memanggilnya oppa? Sedangkan aku, tidak pernah sedikit pun terbersit di pikiranmu untuk memanggilku oppa.”
Shinhye hanya bisa mendelik melihat tingkah cemburu Yonghwa.
Keurae–baiklah, kau sudah lihat sendiri kan siapa pemilik rumah ini? Apa sekarang kau masih curiga padaku?”
Shinhye menggeleng. “Tapi..” Shinhye kemudian menyentuh pipinya dengan kedua telapak tangannya. “Kenapa wajahku terasa panas mengingat kembali tatapan lembutnya tadi?” Shinhye lalu menampar-nampar pipinya masih tidak percaya bahwa dia bertatapan langsung dengan aktor favoritnya.
Cheoltae–benar-benar.” Yonghwa hanya bisa menggeleng melihat tingkah Shinhye yang berlebihan.
Ah.., kenapa tadi aku tidak minta tanda tangannya saja?”
Neomu eoba hajima–jangan terlalu berlebihan.” Yonghwa kemudian berjalan masuk ke dalam rumah kakaknya tanpa memedulikan Shinhye yang masih terpesona dengan wajah kakak iparnya. Beberapa detik kemudian, Shinhye baru mengekorinya dari belakang.
Annyeonghaseyo!” Yonghwa menyapa seorang wanita yang sedang duduk memunggunginya dan Shinhye.
Wanita yang disapa berbalik melihat tamunya. Begitu dilihatnya sosok Yonghwa yang berdiri di depannya, dia malah berbalik dan kembali melakukan aktifitasnya memberi makan seorang bayi kecil yang sedang duduk manis di atas kursi kayu bayinya.
Annyeong, jokha-adel–keponakan laki-laki! Apa kau baik-baik saja seperti eommamu?” Yonghwa berjalan mendekati ibu dan anak yang disapanya itu. Ah.. kau bertambah tampan seperti pamanmu ini, katanya lagi ketika berhadapan langsung dengan anak kecil itu.
Wanita yang disapa malah berkata, “Kau sebaiknya pulang. Tidak usah ke sini lagi.”
Mianhae, noona. Aku benar-benar ingin mengunjungi kalian setiap hari, hanya saja banyak kesibukan yang harus kukerjakan. Kau tahu sendiri kan, ayah menempatkanku di restaurant.
Wanita itu masih menatap sinis ke arah Yonghwa. Lalu tatapannya berubah lembut ketika melihat wajah Shinhye. “Gadis cantik siapa yang kau bawa?”
Eoh, annyeonghaseyo! Joneun Park Shin Hye imnida.” Shinhye membungkuk dan memperkenalkan dirinya secara formal.
Yoomi bangkit dari duduknya ikut membungkuk dan menyapa Shinhye. Annyeonghaseyo! Aku Jung Yoo Mi, kakak Yonghwa.” Saat sedang memperkenalkan dirinya, angin dari luar yang terbawa masuk karena jendela rumahnya yang terbuka lebar mengibas setiap helai rambutnya dan menyebabkan rambut sebahunya itu memenuhi dahi, pipi, dan pelipisnya. Meskipun saat ini wajahnya dipenuhi rambut yang berantakan, tapi sedikitpun tak mengurangi kecantikannya.
Anjeuseyo–silahkan duduk,” kata Yoomi dengan wajah tersenyum mempersilahkan Shinhye untuk duduk di kursi.
Shinhye tidak meresponnya karena sedang sibuk memuji wanita bernama Yoomi itu di dalam hatinya.
“Park Shin Hye-ssi,” panggil Yoomi pada Shinhye yang terlihat sedang melamun.
Lamunan Shinhye terbuyar mendengar seseorang sedang memanggil namanya. “Eoh.. mianhaeyo, eonnie,” kata Shinhye sambil membungkuk.
Anjeuseyo!” Yoomi mengulangi kalimatnya masih dengan senyuman yang terus melengkung di wajahnya.
Shinhye mengikuti saran Yoomi.
Begitu melihat Shinhye telah duduk dengan nyaman. Yoomi kemudian mulai berbicara lagi pada Shinhye. Katanya, “Apa dia pernah bercerita tentangku?” Tunjuknya pada Yonghwa yang sedang berdiri di sampingnya itu.
Shinhye menggeleng sambil tersenyum lebar.
“Sudah kuduga, dia tidak pernah menceritakanku.” Yoomi meletakkan kedua tangannya di pinggul dan mendelik ke arah Yonghwa yang memperlihatkan wajah tanpa dosanya.
Noona, justru aku baru ingin memperkenalkannya padamu. Sesuai janjiku.”
Tampang Shinhye bingung mendengar percakapan kakak beradik di depannya ini.
Yonghwa kemudian berjalan ke arah Shinhye dan duduk di sampingnya. Mereka berdua kini duduk berhadapan dengan Yoomi.

“Seberapa jauh Shinhye-ssi sudah mengenal adikku?” Yoomi bertanya seolah-olah Shinhye dan Yonghwa sedang menjalin suatu hubungan. “Apa dia tampan untuk dijadikan pacar?” Kalimat terakhir yang diucapkan Yoomi saat ini bagaikan aliran arus listrik yang menyetrum Shinhye sampai ke dalam tulang-tulangnya.


To be continued.

Rabu, 20 Juli 2016

Rain of Autumn Part 14

Part 14


Setelah menggunting pita yang menandakan bahwa butiknya resmi dibuka. Kini tibalah saatnya pada puncak acara Yoojin. Waktunya pergelaran pertunjukan koleksi busana Yoojin dimulai. Pergelaran busana yang digelar outdoor itu seakan mampu menampung semua penikmat busana yang hadir saat itu. Beberapa model di belakang stage sudah siap memamerkan busana karya Yoojin. Sedang Yoojin sang desainer sendiri sedang berdiri di bawah panggung pertunjukan busana dengan wajah berseri menunggu kedatangan para model di atas panggung pertunjukan. Di bagian paling belakang dari kerumunan, Shinhye terlihat sedang mencari keberadaan Jiwon yang saat itu tiba-tiba menghilang dari penglihatannya. Dalam pikiran Shinhye saat ini adalah dia harus berhasil menggagalkan usaha Jiwon untuk membalas dendam pada Yoojin. Ditelusurinya semua sudut tempat itu mencari sosok Jiwon tapi tak didapatinya sosok itu. Shinhye akhirnya memutuskan menyelinap ke bagian belakang stage. Di sana mungkin dia akan bertemu dengan Jiwon. Begitu tiba di belakang panggung, Shinhye masih mencari sosok Jiwon. Tapi tetap saja tak didapatinya sosok itu. Di sana hanya ada para model yang sedang menunggu giliran mereka untuk naik ke atas panggung. Mau tak mau diperiksanya satu persatu model itu, mencari keganjilan dari busana para model. Tapi tak didapatinya keganjilan itu.
“Jiwon–ah, kau ada di mana? Jebal jangan membuat kacau pertunjukan ini?” katanya mengusap-usap kedua telapak tangannya. Entah kenapa tapi tiba-tiba saja, Shinhye tidak ingin pertunjukan ini gagal. 


***
Satu persatu model keluar dan mempertunjukan busana-busana karya Yoojin. Yoojin terlihat bahagia, apalagi ketika Jun dan beberapa teman desainernya tengah memuji busana hasil karyanya. Dan busana terakhir untuk dipertunjukan adalah busana yang paling istimewa menurut Yoojin. Karena busana ini adalah busana terbaru yang beberapa bulan ini dikerjakan olehnya. Semua tamu bertepuk tangan memuji hasil karya terbarunya ini. Selang si model yang memperagakan busana terbarunya berjalan ke belakang stage, tiba-tiba sang MC masih melanjutkan dengan mengatakan masih ada lagi karya paling membanggakan yang perlu dipertunjukan. Mendengar hal itu, Yoojin kaget setengah mati. Karena menurutnya semua karyanya telah dipertunjukkan tadi. Lantas apa lagi yang belum? Yoojin hendak berjalan ke belakang panggung ingin mengkonfirmasi kesalahan ucapan sang MC. Tapi terlambat. Seorang model tak dikenal saat ini sedang berjalan dengan luwesnya di atas panggung,  dengan busana yang menempel di badannya dan membuat beberapa desainer dan tamu yang hadir saat itu tersenyum geli melihat busana yang model tersebut kenakan. Mengapa tidak tersenyum geli, kalau setelan yang digunakan sang model adalah sebuah kemeja lengan panjang garis-garis dan celana harem bermotif bunga-bunga beserta sepasang sepatu ankle strap dengan hak stiletto sebagai alas kaki sang model. Semua setelan itu adalah setelah yang Yoojin berikan pada Jiwon. Ketika melihat sang model dengan setelan itu, Yoojin langsung menyadari siapa dalang di balik kejadian memalukan ini. Siapa lagi kalau bukan orang yang menerima paket setelan itu yang dikirimkannya. Untuk sesaat Yoojin menyesal karena telah melakukan perbuatan yang kekanakkan pada Jiwon. Akhirnya dia sendiri malah kena batunya. Tanpa menunggu tawa semakin menggema di udara, Yoojin naik ke atas panggung dan mengatakan bahwa itu adalah busana terbaru yang sedang direncanakannya. Dia akan mengupgrade model pakaian ibu-ibu yang biasa mereka pakai kalau sedang berjualan di pasar ke dalam bentuk yang lebih stylish. Meski mereka hanya akan berjualan di pasar, paling tidak mereka pun perlu terlihat stylish¸ agar menarik minat belanja pengunjung pasar. Well, dengan mudahnya para tamu menerima alasannya. Dan alasan tiba-tibanya itu malah membuatnya mendapatkan pujian dari beberapa desainer, karena proyek terbarunya itu.


***
Akhir dari acara diisi oleh nyanyian sang penyanyi tanah air, Kim Jong Kook.

Han namjaga isseo neol neomu saranghan.
(Ada seorang pria yang sangat mencintaimu.)
Han namjaga isseo saranghae maldo mothaneun.
(Ada seorang pria tidak bisa mengatakan aku mencintaimu.)
Ni gyeothe son nae milmyeon kkok daheul georie.
(Aku di sampingmu mengulurkan tangan, hingga kau bisa meraihku di saat tertentu.)
Jasinboda akkineun neol gajin naega isseo.
(Ada aku yang menyayangimu daripada diri sendiri.)
Neoreul utge haneun irojik geugeotman saenggakhago.
(Aku hanya berpikir untuk membuatmu tertawa).

Setelah acara selesai dan beberapa tamu tengah berpamitan pada Yoojin. Di tempat lain Yonghwa sedang berusaha mencari keberadaan Shinhye untuk memenuhi janjinya tadi. Lebih tepatnya karena memang dia tulus ingin mengantar Shinhye pulang ke rumah. Yonghwa menyapu seluruh halaman butik mencari sosok gadis itu, tapi tidak didapatinya keberadaan gadis itu. Dia mencoba berjalan ke luar dari lingkungan butik Yoojin dan mencari Shinhye di luar sana. Akhirnya didapatinya, gadis itu tengah berdiri menunggu bis yang akan membawanya pulang ke rumah.
Yonghwa tersenyum kemudian berjalan mendekati gadis itu. “Tidak akan ada bis yang mau mengantarmu pulang. Karena mereka tahu aku punya janji denganmu.”
Shinhye tidak menjawab karena dalam hatinya telah mekar berbagai jenis bunga. Dia tersipu malu saat itu.
Tanpa banyak bicara, Yonghwa menggenggam pergelangan tangan Shinhye dan membawanya ke arah di mana mobilnya diparkir. Yonghwa berjalan ke arah kanan mobil dan membuka pintu mobilnya untuk Shinhye. Shinhye masuk. Setelah menutup pintu mobilnya, Yonghwa kemudian berputar ke samping kiri mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya juga. Yonghwa lalu menginjak pedal gas dan meninggalkan butik Yoojin.
Beberapa menit berlalu, mereka tidak terlibat dalam percakapan. Hanya suara Shinhye yang sesekali menguap karena mengantuk. Untuk mengisi ruang kosong tanpa perbincangan itu, Yonghwa akhirnya memutuskan untuk memutar MP3 dari audio mobilnya. Sebuah lagu dengan dentuman musik yang keras diputar Yonghwa. Musiknya dianggap Shinhye benar-benar sangat memekakkan telinga. Shinhye refleks menutup gendang telinganya karena bunyi musik dari lagu tersebut. Tapi Yonghwa sebaliknya. Dia malah terlihat menikmati alunan musik dari lagu itu. Dan sekarang dia malah mengikuti liriknya.

Bwabwa nareul bwabwa ttokbaro nae du nuneul bwa.
Geobwa imi neoneun ddan goseul bogo isseo.
Check it one two three, sigyebaneulman chyeoda boneun gae.
Mal an haedo dareun saram saenggingeol ara.

Shinhye hanya mengeluh dalam hati melihat Yonghwa yang terlihat sangat menikmati lagu tersebut. Saat ini yang ada dalam pikiran Shinhye adalah harapan bahwa lagu tersebut segera berakhir. Berhubung irama jantungnya yang terus berpacu tak keruan mendengar lagu ini. Shinhye menekan-nekan dadanya mencoba menetralkan irama jantungnya. Tapi tak juga berhasil. Jantungnya masih berpacu cepat merespon tempo musik dari lagu yang sedang diputar. Tiga menitan berlalu, akhirnya lagu itu selesai juga dan otomatis tergantikan oleh instrument milik Kenny G berjudul The Champions Theme. Instrumen ini benar-benar membuat lega hati Shinhye. Setelah mendengar lagu yang menurutnya sangat berisik itu, terputarnya instrument ini benar-benar membuat jantung Shinhye kembali berpacu normal. Dengan refleks dia menghembuskan nafas dan mengurut dadanya bersyukur atas ketiadaan lagu berisik itu.
“Kau tidak suka lagunya?” tanya Yonghwa karena melihat reaksi mengurut dada Shinhye.
“Oh sangat suka,” jawab Shinhye. “Dibandingkan dengan lagu berisikmu tadi,” teriak Shinhye dalam hati. “Aku sangat menyukai semua karya Kenny G.” Shinhye berbohong karena sebetulnya dia tidak terlalu mengetahui koleksi karya-karya Kenny G.
“Ini bukan lagu. Ini hanya instrumen. Yang kutanyakan adalah lagu yang kuputar tadi,” kata Yonghwa mencoba memperbaiki kesalahan Shinhye.
Shinhye menunduk malu karena kesalahpahaman ini.
“Yang kumaksud adalah, oetoriya oetoriya, dara diri dara du. Oetoriya oetoriya, dara diri dara du. ” Yonghwa kembali mengulang lirik lagu tadi.
Geumanhae.” Shinhye mencoba menghentikan nyanyian Yonghwa.
Yonghwa berhenti bernyanyi.
“Arasseo. Shinhye menghembuskan nafasnya. “Sejujurnya aku tidak menyukai lagu seperti itu.” Shinhye berkata jujur. “Lagu seperti itu hanya akan membuat telingaku tuli. Kalau saja penyanyinya ada di sini, aku ingin menyarankan sesuatu padanya.”
“Apa itu?”
“Hanya penyanyinya yang boleh tahu,” jawab Shinhye enteng.
“Bagaimana kalau penyanyinya ada di sampingmu sekarang? Kau ingin memberitahunya?”
Shinhye mendengus lucu mendengar perkataan Yonghwa.
“Aku serius. Lagu itu milik C.N. BLUE. Dan aku vokalisnya.” Tunjuk Yonghwa pada dirinya sendiri. “Gitarisnya Jungshin dan drummer-nya Minhyuk. Kalau kau tidak percaya, kau boleh cari di internet sekarang. Meski cuma band indie, tapi kami juga sedikit terkenal.” Yonghwa terdengar sedang membanggakan bandnya.
Shinhye terlihat sibuk mem-browsing sesuatu di internet. Dan ternyata benar seperti yang Yonghwa katakan. Lagu itu adalah milik C.N. BLUE. Dan Yonghwa adalah vokalisnya. Sekali lagi dia menunduk malu.
Yonghwa tersenyum melihat tingkah Shinhye yang tersipu malu. “Kau percaya sekarang? Lalu, apa yang ingin kau katakan pada penyanyinya?” tanya Yonghwa dengan raut wajah penasaran.
Dengan wajah tertekuk, Shinhye berbalik ke arah Yonghwa dan berkata, “Aku akan bilang kalau dia tidak sendiri. Dia pasti ditemani penggemar setianya.” Jelas sekali itu bohong. Kebenarannya, dia ingin sekali mengatakan agar penyanyi itu segera pensiun dini dari dunia musik. Karena mereka hanya akan menyebabkan banyak orang, tidak, lebih tepat dirinya tuli karena lagunya.
Kali ini bukan hanya sekedar senyum, tapi Yonghwa tertawa memamerkan gingsulnya yang membuat Shinhye ingin sekali menjawilnya kalau saja bisa.
“Neomu kyeopta,” gumam Shinhye dalam hati.
Joha. Aku menyukaimu yang seperti ini,” kata Yonghwa refleks.
Shinhye tersentak dan berbalik menatap Yonghwa. Dia tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja dikatakan Yonghwa.
Yonghwa sendiri kaget dengan kalimatnya sendiri. “Ah.. rumahmu. Kita sudah sampai di depan rumahmu.” Yonghwa mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia mematikan mesin mobilnya. Dan turun dari mobilnya.
Shinhye ikut keluar dari dalam mobil Yonghwa.
Annyeong! Jaljja. Yonghwa mengucapkan kalimat perpisahan yang jarang sekali diucapkannya. Setelah mengucapkan kalimat manis itu, Yonghwa berjalan cepat masuk ke dalam mobilnya dan segera mungkin meninggalkan Shinhye yang masih mematung di depan pagar rumahnya.
Shinhye akhirnya masuk ke dalam rumahnya. Di kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Bayangan tentang sosok Yonghwa yang sedang tersenyum kembali berkelabat di pikrannya. Tiba-tiba saja jantungnya berpacu cepat mengingat kembali senyuman Yonghwa tadi. Shinhye pun tersenyum bahagia karena senyuman itu. Dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya, Shinhye mulai mengingat kembali lirik lagu yang dinyanyikan Yonghwa tadi.
Oh baby. Oetoriya oetoriya. Dara diri dara du. Oetoriya oetoriya. Dara diri dara du.. hmm..hmm..hmm..hmm..hmmm..hmm..” Shinhye mendengung mencoba meraih-raih note musiknya, karena lirik lagunya yang tidak bisa diingatnya lagi.
“C.N. BLUE?” Shinhye mesem-mesem sendiri. Dia kembali membuka halaman di internet mencoba mencari kabar yang berhubungan dengan C.N. BLUE.
“Sesibuk apa pun kami, C.N. BLUE tetap kami utamakan.” Shinhye membaca komentar Yonghwa di halaman tersebut. Dia tersenyum karena kalimat Yonghwa yang terdengar sangat bertanggung jawab itu.


JeResto.
Annyeonghaseyo, manajer!” sapa Yoojin ketika bertemu manajer Yoo di teras restaurant.
Eoh, annyeonghaseyo, Yoojin-ssi!” Manajer Yoo balik menyapanya. “Apa kau mencari Yonghwa?” tanya manajer Yoo, melihat Yoojin yang akan beranjak masuk ke dalam JeResto.
Eoh. Dia di dalam?” tanya Yoojin mencoba memastikan.
“Dia baru saja pergi. Katanya dia harus mendaftar sidang untuk thesis-nya.”
Yoojin mengangkat kedua alisnya merasa bahwa akhirnya sahabatnya itu mau ujian thesis juga. “Baguslah kalau begitu. Eoh, manajer Yoo, aku ke dalam dulu. Ada yang ingin kutemui.”
Haseyo–silahkan,” ujar manajer Yoo menutup pembicaraan.
Yoojin meninggalkan manajer Yoo dan berjalan ke arah pantry. Dan tak perlu membuang-buang tenaga lagi untuk mencari orang yang ingin dia temui, karena orang itu sedang berada di ruangan yang hendak dimasukinya. “Syukurlah kau ada di sini.” Pandangan Yoojin tertuju hanya pada satu wajah. Wajah siapa lagi kalau bukan wajah Jiwon yang sedang dipandanginya saat ini dengan tatapan penuh amarah. “Eoh, Kim Ji Won-ssi,  pertunjukanmu kemarin benar-benar membawa keuntungan bagiku. Aku banyak mendapat tawaran untuk melanjutkan proyekku, kilahnya seakan-akan dia benar-benar ditawari kerja sama. Eoh, proyekmu maksudku.” Yoojin menekankan pada kalimat terakhir. Apeureon–lain kali, aku harap tidak melihatmu lagi di setiap acaraku. Apa pun itu, katanya dengan tatapan menohok. Yoojin berbalik belakang dan berjalan meninggalkan Jiwon. Tapi kemudian dia berbalik kembali dan berkata, “Eoh, Jiwon-ssi, gomawoyo.” Senyum sinisnya seakan mewarnai kepergiannya.
“Ah.. ah.. stres.” Jiwon mengurut-urut kendoknya karena urat di kendoknya yang mulai menegang.
“Sudah kubilang kan, berhenti berurusan dengannya. Sekarang malah kau yang terlihat seperti pecundang.” Shinhye menyerahkan segelas air agar menenangkan perasaan Jiwon. “Jigeum buteo–mulai sekarang, apa pun itu berhenti berurusan lagi dengannya. Arasseo?” kata Shinhye mencoba menasehati.


***
“Kau sudah tiba? Kupikir aku harus menjemputmu di bawah,” ujar Jonghyun ketika melihat Yoojin masuk ke ruangannya.
“Wah, tidak kusangka kau benar-benar sudah dewasa rupanya.” Yoojin menyentuh jengkal demi jengkal setiap perabot yang ada di ruangan Jonghyun. “Ternyata bocah SMA itu sudah bisa memimpin.”
Jonghyun tertawa sambil berkata, “Apa kau pikir aku masih Jonghyun yang sering berlari sambil melempar bantal denganmu?”
Yoojin tertawa simpul. “Kau masih mengingatnya?
Kau mau minum apa? Ada teh, kopi atau? tawar Jonghyun. 
Kurasa teh cukup,
Jonghyun kemudian memanggil sekretarisnya dan kemudian dua gelas teh hangat dibawa ke ruangan Jonghyun.
Eoh, kudengar hari ini Yonghwa sedang mendaftar sidang. Bagaimana denganmu?”
Naega? Aku sudah mendaftarnya kemarin. Yonghwa baru saja mengirimiku pesan, katanya dia sudah melihat jadwal sidangnya. Dan seminggu lagi jadwal sidang kami. Aku harap kau mendoakan kesuksesan kami.”
“Tentu saja.  Aku akan selalu mendoakan dua sahabat usilku ini.” Yoojin menepuk-nepuk lembut pundak Jonghyun.
Jonghyun menangkap pergelangan tangan Yoojin dan berkata, “Apa kau tidak takut akan terpesona padaku?” tanyanya dengan tatapan nakal.
“Ah.. jjinja.” Yoojin menarik pergelangan tangannya dan memukul pundak Jonghyun lagi. Kali ini pukulannya terlihat sedikit lebih keras. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah terpesona padamu.”
Arasseo. Kau hanya akan selalu terpesona pada satu orang. Dan kurasa sampai sekarang pun hanya orang itu yang mampu membuat hatimu berdebar kan?
Eoh, Hyunnie-ya, apa kau mengenal karyawan Yonghwa yang bernama Park Shin Hye itu?” Yoojin mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia merasakan suhu tubuhnya mulai memanas ketika membicarakan orang itu.
Jonghyun menganggukan kepala mengiyakan. “Ada apa dengannya?”
“Bagaimana dia bisa diterima bekerja di JeResto?”
Aku tidak begitu tahu tentang hal itu. Memangnya kenapa?” Jonghyun ikut meneguk minumannya melihat Yoojin yang juga sedang meneguk minumannya.
“Kulihat akhir-akhir ini Yonghwa sering pergi bersamanya. Apa dia dan Yonghwa sedang menjalin hubungan istimewa? tanya Yoojin penasaran karena dengan mata kepalanya sendiri dia melihat Yonghwa mengantarkan Shinhye pulang ketika malam peresmian butiknya.
“Jangan bilang kalau kau cemburu pada Park Shin Hye.” Jonghyun menatap Yoojin dengan tatapan jahil.
Yoojin mendengus seakan menjelaskan bahwa dia tidak selevel dengan gadis karyawan itu.
“Bicara soal Park Shin Hye, kudengar kau sedang berkencan dengan sahabatnya, Kim Ji Won. Apa itu benar?”
Ne. Geundae wae?”
Aniya. Aku hanya tidak menyangka orang sepertinya bisa mendapatkan orang sepertimu. Kau lebih pantas...”
“Yoojin-ah!” potong Jonghyun karena sepertinya mengerti akan ke mana arah pembicaraan Yoojin. Berhentilah menilai orang dari kelasnya. Igeo sirheoyo–aku tidak suka itu.”
“Aku hanya tidak mau kau menyesal ke depannya, ujar Yoojin mencoba membela diri.
“Makasih atas perhatianmu. Tapi aku sibuk sekarang. Pulanglah! Nanti aku akan ke rumahmu, mengunjungimu.” Jonghyun bangun dari sofa putih yang dia duduki bersama Yoojin dan beranjak menuju meja kerjanya.
Geurae.” Yoojin bangkit dari sofa yang sama. Sepertinya dia mengerti kalau saat ini dia telah mengubah mood sahabatnya menjadi buruk. Oleh karena itu segera mungkin dia mengucapkan kalimat perpisahan pada Jonghyun. “Jibe gayo–aku pulang!”


***
Arasseo, abeoji. Aku akan melakukannya.” Yonghwa beranjak keluar dari ruang kerja ayahnya.
“Apa yang harus aku lakukan kalau aku tidak bisa melihatnya lagi setiap hari?” Yonghwa terlihat serius memikirkan sesuatu. Kadang-kadang keningnya berkerut dan kedua alisnya terangkat. Ah.. desisnya. "Apa yang kupikirkan? Kenapa hanya dia yang ada dalam pikiranku? Ya, Park Shin Hye, apa kau mencoba menggodaku?” kata Yonghwa ketika melihat bayangan Shinhye di pikirannya sedang berlari sambil menjulurkan lidah padanya.
Ah..” Yonghwa berteriak mencoba menampis semua khayalannya.


***
“Laporan keuangan yang berdasarkan..” Shinhye terlihat sibuk mencoba menhafal mata kuliahnya. “Oleh sebab itu.. Kkamjjagiya–kau mengagetkanku!” Shinhye setengah berteriak ketika mengangkat kepala dan melihat Yonghwa sedang duduk di sebelahnya. “Apa yang kau lakukan di sini?
“Belikan aku dasi untuk sidangku minggu depan. Sekarang juga! Yonghwa berkata dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya.
Michesseo? Apa aku sekretarismu? Kau tidak lihat aku sedang apa, eong?”
“Hanya kau yang bisa kusuruh. Semuanya sibuk, jawab Yonghwa enteng.
“Aku lebih sibuk lagi. Aku ada ujian sebentar. Kau pulanglah!”
Shireo. Aku akan menunggumu sampai kau selesai ujian.” Yonghwa bersikukuh tidak mau pulang. Dan memilih tetap duduk di dalam kelas Shinhye.
Shinhye hanya menatap Yonghwa dengan tatapan kesal kemudian melanjutkan aktifitas menghafalnya. “Oleh sebab itu produsen yang bertanggung jawab...”
“Park Shin Hye.”  Yonghwa memotong kalimat Shinhye. “Kenapa teman-teman wanitamu menatapku seperti itu? Aku tahu aku benar-benar tampan. Tapi tatapan mereka itu terlihat menakutkan.”
“Itu karena mereka tidak nyaman dengan kehadiran orang asing sepertimu.”
Mworago? Orang asing katamu? Kau pikir aku ini orang asing."Shinhye hanya bisa mendelik kesal.
"Kau lihat akan kubuktikan bahwa aku sangat terkenal di sini. Yeorebeun!” Panggil Yonghwa pada teman-teman kelas Shinhye. “Kalian tahu siapa aku?”
Ne. Kau Jung Yong Hwa.” Jawab suara yang dominannya berasal dari suara wanita.
Yonghwa menatap Shinhye sambil menunjuk dirinya dengan wajah sumringah. Dia bangga karena dirinya terkenal. “Kau sudah buktikan sendiri kan kalau aku ini terkenal.
Shinhye tidak memedulikan perkataan Yonghwa dan kembali membaca buku catatannya.
Yonghwa menempatkan sikunya di atas meja, menopang dagunya dan menatap Park Shin Hye lekat. “Sejak kapan aku mulai tertarik padamu?”
Shinhye tetap menghafal tanpa suara.
“Kau tidak secantik Song Hye Kyo. Tidak seseksi Ha Ji Won. Tidak sekaya Kim Tae Hee. Tapi kenapa aku tertarik padamu?” Tatapannya tetap mengarah pada Shinhye.
Shinhye menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya, mencoba berkonsentrasi kembali pada catatannya.
Ah.. michesseo.” Yonghwa berkata pada dirinya sendiri. Dia bingung dengan dirinya yang akhir-akhir ini terlihat sangat aneh. Dia bahkan berani mengatakan isi hatinya secara terang-terangan. Dirinya yang sekarang benar-benar tidak seperti dirinya yang dahulu.
“Semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing,” kata seorang dosen yang baru masuk ke kelas Shinhye. Sepertinya dia yang akan mengadakan  ujian hari ini, karena  ada lembaran-lembaran kertas ujian yang digenggamnya. Dia kemudian mulai mengabsen dan membagi kertas-kertas ujiannya.
“Kau siapa? Mahasiswa di kelasku?” Tunjuknya pada Yonghwa ketika menyadari bahwa baru pertama kali dia melihat mahasiswa ini.
Yonghwa malah memutar kepalanya, melihat ke samping kiri kanannya .
“Kau yang kumaksud,” tegasnya pada Yonghwa.
Eoh, annyeonghaseyo kyosunim!sapa Yonghwa dengan wajah tanpa dosa. “Aku juga ingin ikut ujian di kelasmu.
“Namamu?” tanya profesor.
“Kau tidak mengenalku, profesor?” tunjuk Yonghwa pada dirinya sendiri.
“Siapa kau sehingga aku harus mengenalmu? Hallyu-star?”
Yonghwa berbalik menatap teman-teman kelas Shinhye yang sedang menertawai dirinya. Di sampingnya, Shinhye sedang tersenyum geli sambil berkata tanpa suara yang dengan jelas Yonghwa dapat membaca gerakan bibirnya, katanya,Tidak asing?”
“Keluar dari kelasku. Tulis namamu dan ke ruanganku sebentar,kata profesor Lee Pil Mo yang terkenal sangat tegas itu.
Yonghwa bangkit berdiri, mengusap wajahnya dan beranjak pergi dari ruang kelas Shinhye.



To be continued