Part 15
***
“Ada urusan apa sehingga kau masuk
ke dalam
kelasku?” tanya Profesor Lee begitu
Yonghwa masuk ke
ruangan kerjanya.
“Jeosonghamnida, kyosunim,
tapi aku harus bertemu seorang mahasiswi yang ada di dalam kelasmu,” jawab
Yonghwa enteng.
“Bertemu mahasiswiku?” Profesor
Lee Pil Mo terlihat mengerutkan keningnya. “Sebelumnya kau bilang padaku kalau kau
ingin ikut ujian juga di kelasku? Apa kau sedang berusaha membohongiku
sekarang?” tanya profesor mencoba mencari tahu kebohongan yang tersembunyi lewat
tatapan mata Yonghwa.
Yonghwa meringis menampakan
deretan giginya. Dia ketahuan berbohong pada profesor. “Park Shin
Hye. Kau harus menuntutnya, karena dia yang membawaku masuk ke kelasmu, kyosunim.”
Karena ketahuan berbohong, tanpa perlu menimbang terlebih dahulu jawabannya,
Yonghwa akhirnya
menjawabnya dengan mengatakan Park Shin Hye adalah penyebab mengapa dia sampai
masuk ke kelas profesor Lee.
“Park Shin
Hye?” tanya profesor
Lee dengan mimik heran. Sepertinya dia tak bisa percaya kalau salah satu mahasiswi
teladannya itu melakukan kesalahan.
Yonghwa mengangguk mantap.
“Panggil Park Shin Hye ke
ruanganku.” Profesor Lee memberi perintah pada asistennya yang juga sedang
berada di ruangan saat itu.
10 menit berlalu
“Kyosunim
memanggilku?” ujar Shinhye ketika membuka pintu ruang kerja Profesor Lee.
Shinhye masuk ke ruangan profesor dan melotot ke arah seseorang yang tentu saja sangat dia
yakini bahwa orang itulah dalang mengapa dirinya dipanggil ke ruangan profesor
Lee.
Orang yang dipelototi kemudian
mengedikkan bahunya.
“Anjuseyo.” Profesor Lee mempersilahkan Shinhye untuk duduk. “Apa
kau mengenalnya?” tanya profesor meminta konfirmasi dari mahasiswinya ini.
“Ne, kyosunim,” jawab Park
Shin Hye disertai anggukan.
“Apa benar kau yang
membawanya ke kelasku?”
Shinhye
berbalik menatap orang
yang ditunjuk profesor, siapa lagi kalau bukan Jung Yong Hwa. Shinhye
benar-benar tidak percaya bahwa pria ini baru
saja mengatakan hal yang tidak masuk di akal.
“Benar begitu kan, Park Shin
Hye?” Yonghwa membalas tatapan Shinhye dengan seringai lebar. “Kau mengajakku
ke kelas karena kau ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting padaku, kan? Profesor,
mahasiswimu ini sepertinya menyimpan sesuatu hal yang sangat pribadi. Dan ingin
mengatakannya hanya kepadaku,” kata Yonghwa dengan sengiran menggoda.
“Mworago?” Shinhye mendengus mendengar
kalimat Yonghwa yang tak masuk akal.
“Aniyo, kyosunim. Dia sendiri yang datang ke
kelas,” balas Shinhye karena kalimat
Yonghwa yang terdengar menyudutkannya itu.
“Ya!” Yonghwa menyenggol tubuh Shinhye dengan sikunya karena Shinhye
yang tak bisa diajak kompromi.
“Jung Yong Hwa-ssi, apa kali ini kau bisa mengatakan
yang sebenarnya terjadi?” Profesor Lee mencobah menengahi pembicaraan.
Karena kedapatan berbohong dua
kali, akhirnya tidak ada alasan lain bagi Yonghwa untuk berbohong lagi dan
akhirnya mengatakan semua kebenarannya. “Jeosonghamnida, kyosunim. Aku melakukan semua itu hanya karena rasa penasaranku. Tiba-tiba
saja aku penasaran pada
apa yang sedang dilakukan Park Shin Hye saat itu. Aku terus
penasaran padanya
tanpa alasan. Aku
tak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan rasa penasaranku.
Akhirnya aku memilih untuk mengunjunginya di kelas. Mungkin dengan melihat
wajahnya, aku tidak akan penasaran lagi.” Yonghwa terus berceloteh menyatakan
semua isi hatinya.
“Ya! Berhenti mengatakan hal-hal
aneh, Jung Yong Hwa-ssi,” cegah Shinhye sebelum pria di sampingnya ini
semakin menjadi-jadi.
Yonghwa tidak memedulikan
Shinhye dan terus mengatakan kebenarannya pada profesor Lee. “Maafkan aku
karena telah membohongimu,”
kata Yonghwa dengan ketulusan yang yang saat itu juga mampu meruntuhkan tembok amarah
profesor Lee.
“Keureo guna–ternyata begitu. Aku mengerti perasaanmu sekarang,”
kata profesor Lee menampakan sengiran khas di wajahnya. “Tapi lain kali jangan
lagi mengulangi perbuatanmu ini. Arrasseo?”
“Ne, kyosunim,” jawab
Yonghwa singkat. “Tapi apa kau tidak akan menghukum kami?”
Shinhye menelengkan kepalanya ke
arah Yonghwa. “Mwo?” Dia benar-benar
tidak menyangka Yonghwa akan mengatakan hal ini.
“Hmmm..” Profesor Lee menggumam.
“Kau yang memintaku menghukum kalian. Oleh karena itu sebaiknya kau dan Shinhye
pergi dan bantulah petugas perpustakaan membersihkan perpustakaan fakultas
kami.”
Yonghwa mengangguk mantap
menerima perintah profesor dengan semangat.
“Tapi, kyo..” Shinhye akhirnya tidak dapat berkata apa-apa ketika profesor
meminta mereka untuk segera meninggalkan ruangannya dan menuju perpustakaan
sekarang juga.
***
Yonghwa dan Shinhye berjalan ke
arah perpustakaan. Begitu tiba di perpustakaan, mereka masuk ke dalam. Di sana
ada petugas perpustakaan yang terlihat sibuk mengatur buku-buku ke dalam rak.
Setelah menawarkan jasa mereka, si petugas mulai memberi perintah di rak mana
saja yang perlu mereka susun rapi buku-bukunya.
“Ah.. untung
saja kyosunim menempatkan kau di sisiku
sehingga aku lebih
semangat mengerjakan semua pekerjaan ini,” kata Yonghwa sambil menyusun
beberapa buku yang tata letaknya tak beraturan menjadi lebih beraturan.
“Hallyu
star, Jung
Yong hwa.” Shinhye
terdengar sedang menggoda Yonghwa dengan sebutan hallyu star. Mengingat kejadian di kelas tadi ketika profesor
menyebutnya dengan sebutan itu. “Apa kau sedang demam?
Kenapa akhir-akhir ini kau berubah
drastis, eong?”
tanya Shinhye ikut
menyusun buku-buku yang
berantakan berdasarkan nomor yang tertera di samping
buku-buku tersebut.
“Ya, jangan menggodaku!”
Shinhye tertawa melihat wajah
kesal Yonghwa.
“Kau bilang aku sedang demam?
Aku rasa aku baik-baik saja. Coba kau periksa!”
Yonghwa menyodorkan keningnya ke wajah Shinhye, mengisyaratkan Shinhye untuk menyentuh keningnya
dan mastikannya sendiri.
Shinhye
menempelkan
telapak tangannya ke kening Yonghwa.
Sementara tangan Shinhye berada
di atas keningnya, dengan tangkas Yonghwa menggenggam erat pergelangan tangan
Shinhye dan mendekatkan wajahnya ke wajah Shinhye. “Setelah aku selesai sidang. Aku
tidak akan berada di restaurant lagi.
Apa saat itu kau mau mengejarku?”
Shinhye
menjauhkan wajahnya dari
wajah Yonghwa dan tidak
menjawab pertanyaan Yonghwa.
Jantungnya berdetak dan darahnya berdesir lebih cepat dari biasanya. Dia gugup
saat ini.
“Aku takut
kau akan menghilang
dari hadapanku Park Shin Hye. Oleh
karena itu, aku terus berpikir dan berpikir untuk menjadikanmu kekasihku. Kau
mau jadi kekasihku?”
Shinhye
tidak mampu berkata-kata. Dia memilih
diam untuk menutupi rasa gugupnya.
“Ya, apa kau tidak punya mulut untuk menjawabku?”
“Kenapa kau melakukan hal ini?” Hanya ini yang bisa Shinhye
ucapkan setelah mampu mengatasi rasa gugupnya.
“Apa kau tidak menyadarinya? Neol joahanikka–karena aku menyukaimu,”
jawab Yonghwa enteng.
Shinhye menahan nafas sebentar
tapi kemudian menghembuskan nafasnya. Dan untuk sesaat, membiarkan nafasnya
menguar di udara. “Bereskan semua buku-buku itu. Aku ada
urusan lain yang harus dikerjakan.” Shinhye berjalan meninggalkan Yonghwa. Dia lebih memilih pergi
daripada mengatakan yang sebenarnya bahwa dia juga ingin menjadi kekasih
Yonghwa. Saat ini hanya itu pilihan terbaiknya agar dia tidak terlihat murahan
di mata lelaki ini.
“Ya, Park Shin Hye! Kau belum selesai mengerjakan
pekerjaanmu!”
teriak Yonghwa yang saat itu membuat semua mata pengunjung perpustakaan
menatapnya dengan tatapan sengit. Yonghwa membungkuk sebagai pertanda bahwa dia
meminta maaf atas tingkahnya yang telah membuat mereka terganggu.
***
“Jiwon-ah,” panggil Shinhye pada Jiwon yang
sedang sibuk menempelkan krim malam ke
wajahnya.
“Eong,” jawab Jiwon masih berkutat di
depan cermin kamar
Shinhye.
“Apa yang
akan kau lakukan kalau ada yang memintamu menjadi kekasihnya?”
Jiwon
berbalik menatap Shinhye yang sudah berada di atas tempat tidur dan berkata,
“Ada yang menyatakan cintanya
padamu?” tanya
Jiwon dengan mimik penasaran.
“Anieyo. Bukan aku. Teman kampusku.” Shinhye
mencoba mengelak.
“Teman
kampusmu? Benar dia
teman kampusmu?
Siapa itu? Teman kampusmu, teman kampusku,
aku pasti mengenalnya juga.”
“Ya, kenapa kau menanyakan hal yang tidak penting?”
Jiwon tertawa melihat reaksi
Shinhye.
“Utjima–jangan tertawa!” seru Shinhye melihat Jiwon yang sedang
menyindirnya lewat tawa.
“Kau berbohong, Park Shin Hye!
Semua tertulis jelas di keningmu.” Jiwon menggambar aksara hangul ‘gotjimal’ di udara.
“Aishh..”
Shinhye mendengus karena dirinya yang kecolongan menipu. “Igeo–itu. Ada
seorang namja yang memintaku menjadi
kekasihnya.”
Jiwon
tersenyum lucu karena tingkah
malu-malu Shinhye. “Lalu apa yang kau katakan? Kau menerimanya? Atau
menolaknya?”
Shinhye
menggelengkan kepalanya. “Molla. Justru
karena aku bingung harus menjawab apa, makanya aku bertanya padamu. Apa menurutmu aku harus
menerimanya?”
“Haebwa–coba lakukan saja! Terima dia dan lihatlah seberapa tulus
dia mencintaimu?” Jiwon memberi saran.
“Aku tidak langsung menerimanya
karena dia terlihat memaksa saat menyatakan cintanya padaku.”
“Maksudmu dia tidak tulus
mengatakannya kepadamu?”
“Tulus? Huh!” Shinhye mendengus dalam
hati. Kalimat-kalimat
Yonghwa kembali berkelabat
di pikirannya.
Setelah aku selesai sidang. Aku tidak akan
berada di restaurant lagi. Apa saat itu kau mau mengejarku? Aku takut kau akan menghilang dari hadapanku Park Shin
Hye. Oleh karena itu, aku terus berpikir
dan berpikir untuk menjadikanmu kekasihku. Kau mau jadi kekasihku? Apa
kau tidak menyadarinya?
Neol joahanikka–karena aku menyukaimu.
“Kau malah
terlihat memaksaku, nappeun namja–pria
jahat,” kata Shinhye pada dirinya
sendiri.
“Napeun namja?
Beritahu aku siapa napeun namjamu itu. Aku penasaran ingin tahu
siapa dia,” kata Jiwon menggoda sahabatnya itu.
“Namja-ku? Dia bukan namja-ku, arasseo? Dwaesseo. Aku malas
membicarakannya.
Aku ingin tidur. Jangan bangunkan aku, eong!” kata Shinhye dengan wajah kesal
bercampur malu karena Jiwon yang terus menggodanya.
JeResto
Yonghwa
tengah berdiri
di beranda luar restaurant menunggu
kedatangan Shinhye ke restaurant. Tapi
yang datang malah orang yang
tidak diharapkannya.
“Kau
masih di sini rupanya. Aku rasa paman bilang kalau kau sudah diperbolehkan
bekerja di perusahaannya setelah sidangmu. Kenapa kau masih di sini?”
“Sidangnya masih minggu depan. Dan
kau? Apa yang kau
lakukan di sini?” Yonghwa balik bertanya.
“Apa aku dilarang mengunjungi
sahabatku sendiri?”
Yonghwa menggeleng.
“Tadi
aku bertemu bibi. Dia bilang malam
ini dia ingin makan malam bersama kita. Katanya kau jangan sampai tidak
datang.”
“Anjoha–tidak bisa. Aku tidak bisa malam ini.” Yonghwa celingak-celinguk ketika melihat
kedatangan Shinhye
dari seberang jalan.
Begitu gadis
itu mencapai restaurant, Yonghwa
langsung menyapanya dengan senyuman.
“Annyeonghaseyo!” Shinhye menyapa Yonghwa dan tamunya
sambil membungkuk. Setelah
itu dia berjalan meninggalkan
mereka dan masuk ke dalam restaurant.
“Yoojin-ah, kau pulanglah! Minggu depan aku akan
menjemputmu. Kita akan
makan malam dengan eomma,” ujar Yonghwa pendek dan melenggang meninggalkan Yoojin yang masih
berdiri dengan tampang bingung karena ini pertama kalinya dia diacuhkan
Yonghwa.
Yonghwa
mengejar Shinhye mencoba merendengi langkahnya dengan langkah Shinhye. Tapi
Shinhye malah mempercepat langkahnya sampai akhirnya dia tiba di kamar ganti
karyawan wanita. Dan langsung menutup pintu ruangan tersebut.
Shinhye
menghembuskan napas lega, karena Yonghwa yang
tak akan bisa masuk
ke ruangan
tersebut. Baru
saja hendak berbalik
memunggungi pintunya, tiba-tiba
pintu kamar gantinya terbuka. Dan Yonghwa berdiri tepat di depan
pintu tersebut.
“Ya!
Apa yang kau lakukan? Apa yang akan kau perbuat kalau
saja ada yeoja yang sedang berganti?” celetuk Shinhye.
“Tidak ada
orang di dalam kan? Hanya kau. Benar kan?”
Yonghwa masuk menutup pintu
ruangan itu dengan senggolan
kakinya dan menarik Shinhye menjauh dari pintu tersebut.
“Ya! Kau tidak bisa seenaknya berada di
sini. Apa kata orang
kalau melihatmu di kamar
ganti wanita?”
“Semua
ruangan di restaurant ini milikku.
Jadi terserah aku mau berada di mana saja.” Yonghwa
duduk di kursi dan menepuk kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Shinhye untuk duduk di sampingnya.
Shinhye
tetap berdiri dan dengan acuh bertanya, “Apa yang ingin kau katakan? Marhae!”
“Yang kemarin itu. Apa kau
sudah memiliki jawabannya?”
tanya Yonghwa dengan kedua tangannya terlipat di dada.
“Jung Yong Hwa-ssi, apa kau sudah memikirkannya
baik-baik sebelum mengatakannya kepadaku?”
Yonghwa mengangguk yakin.
“Apa kau
terpeleset di kamar mandi kemarin? Atau mungkin kau tertindih tiang listrik
sehingga kau menjadi
seperti ini?”
Shinhye mengatakan semua hal ini hanya sekedar memastikan apakah Yonghwa
benar-benar serius menyukainya.
“Apa semua
orang yang mengejarmu kau mengata-ngatai mereka seperti ini?” ucap Yonghwa
ketus. “Kau tahu, aku sendiri bingung mengapa yang ada dalam pikiranku hanya
kau saja? Bukan sidangku,
bukan karirku atau apa pun itu? Tapi kau!” kata Yonghwa dengan mimik wajah yang benar-benar
serius. Yonghwa
bangun dari duduknya dan beranjak mendekati Shinhye. Shinhye mundur beberapa langkah ke belakang
mencoba menjauh dari Yonghwa. Tapi Yonghwa malah terus mendekatinya.
“Apa yang
mau kau lakukan?” tanya Shinhye gugup ketika akhirnya punggungnya menyentuh
dinding di belakangnya. Menandakan bahwa tidak ada lagi jalan baginya untuk
terus mundur ke belakang.
Yonghwa
menempelkan keningnya ke kening Shinhye.
Kali ini wajah mereka hanya terpisah beberapa senti saja. Bahkan keduanya dapat merasakan
nafasnya masing-masing.
“Teruslah
menghindar. Karena aku suka wanita seperti itu.”
Shinhye
mengerjap-ngerjapkan matanya pertanda bahwa dia benar-benar gugup sekarang.
“Ikut aku!”
Yonghwa menarik lengan Shinhye dan membawanya ke luar dari restaurant.
Shinhye tidak berkata apa-apa
dan hanya mengikuti ke mana Yonghwa membawanya pergi.
Yonghwa
menempatkan Shinhye ke
dalam mobilnya,
kemudian dia menginjak pedal gas
mobilnya dan melaju meninggalkan restaurant.
“Kita akan
ke mana?” tanya Shinhye gugup. Kali ini dia benar-benar takut Yonghwa akan
melakukan hal-hal aneh padanya.
Melihat tingkah Yonghwa yang sering melakukan sesuatu semaunya.
“Kau tenang
saja. Aku tidak biasa menyentuh
gadis-gadis yang tidak mau kusentuh. Sepertimu,” kata Yonghwa terus terang.
Shinhye
mendengus. “Tidak
biasa menyentuh? Neo?”
Yonghwa
tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan melihat ke arah jalan yang sedang mereka
tempuh.
“Ya, Jung Yong Hwa-ssi, kita
akan ke mana?” Shinhye kembali
bertanya setelah menghabiskan
dua puluh menit di
jalanan
tapi belum
juga tiba di tempat tujuan
mereka.
“Kita akan
bertemu seseorang. Dia orang pertama yang harus
kau temui.”
“Maksudmu?”
“Jangan banyak tanya. Kau akan
tahu maksudku setelah kita tiba di sana.”
***
Yonghwa
memarkirkan mobilnya
di halaman sebuah rumah yang asing bagi Shinhye. Yonghwa bergerak keluar dari
dalam mobilnya. Setelah keluar dari mobilnya, Yonghwa berjalan ke bagian kanan
mobil dan hendak membukakan pintu mobil untuk Shinhye. Ketika tangannya
menyentuh engkol pintu mobilnya, dengan sigap Shinhye mengunci pintu mobil itu.
“Ya, apa yang kau lakukan di situ? Cepat turun!” kata Yonghwa terus
mencoba membuka engkol pintu mobilnya.
“Sirheo–tidak mau!”
“Ya, keluar dari mobilku!”
“Siltagoyo–kubilang tidak mau!” Shinhye bersikeras tidak mau keluar
dari dalam mobil. “Katakan padaku, rumah siapa ini? Kenapa kau membawaku ke
sini?” seru Shinhye dengan tampang curiga.
“Apa kau pikir aku akan berbuat
yang aneh-aneh padamu? Aku tidak akan tertarik melakukan hal itu kalau kau
sendiri tidak mau melakukannya.”
Yonghwa mencoba meyakinkan Shinhye yang keras kepala. “Kalau kau tetap mau di
sini, baiklah. Aku akan masuk ke dalam. Tapi saranku sebaiknya kau berhati-hati
karena di tempat ini banyak gadis yang sering diculik, bahkan ketika mereka ada
di halaman rumah mereka sendiri.” Yonghwa hendak berjalan
meninggalkan Shinhye. Tapi kemudian didengarnya suara pintu mobil yang terbuka.
Dan sekarang yang terdengar adalah langkah kaki Shinhye yang sedang
mengikutinya dari belakang. Beberapa langkah lagi, Yonghwa akan tiba di depan
pintu rumah yang
ditujunya. Tapi belum mencapai pintu rumah tersebut, tiba-tiba dilihatnya sang
pemilik rumah dengan jas dinginnya keluar dari dalam rumah.
“Hyeongnim,” tegur Yonghwa ketika tatapan
mereka bersirobok.
“Eoh, Yonghwa-ya. Oraenmanida!” Pria
tersebut memeluk Yonghwa dan memukul pundaknya.
“Eyy, hyeongnim. Baru beberapa minggu yang lalu aku ke sini, tapi perkataanmu
seakan-akan mengatakan sudah lama aku tidak mengunjungi kalian.”
Shinhye yang tadinya bersembunyi
di balik punggung Yonghwa, kini menyembulkan kepalanya dari balik punggung
Yonghwa, mencoba mencari tahu seperti apa rupa lawan bicara Yonghwa.
“Eoh. Annyeonghaseyo!” Lawan bicara Yonghwa kaget begitu melihat sosok
Shinhye yang muncul tiba-tiba.
“Annyeonghaseyo!” balas Shinhye dengan tatapan malu-malu.
“Ya, Jung Yong Hwa, hampir sebulan kau tidak
ke sini dan sekarang kau kembali membawa gadis cantik ini. Apa dia yang akan
kau perkenalkan
pada Yoomi?”
“Ah, hyeongnim. Jangan berkata seperti itu.”
“Arasseo. Kau masuklah ke dalam. Ada
Yoomi di dalam. Aku ada urusan di
luar sebentar.”
“Hati-hati,
hyeongnim!” kata Yonghwa.
“Keureom!” pamit kakak ipar Yonghwa pada Yonghwa dan Shinhye.
“Annyeonghi kaseyo–selamat jalan!” tegur Shinhye pada kakak ipar
Yonghwa yang baru saja melenggang pergi meninggalkan mereka.
“Ya,
apa benar yang
kulihat tadi
adalah
Bae Soo Bin
oppa?”
Shinhye menunjuk
kakak ipar Yonghwa yang kini telah menghilang dari pandangan mereka. “Apa noona-mu adalah wanita
yang dinikahi Soobin oppa?”
“Oppa? Jeongsin charyeo–sadarlah!” Yonghwa kemudian berdecak dan berkata, “Orang yang
hanya bisa kau
lihat lewat televisi,
kau memanggilnya oppa? Sedangkan aku, tidak pernah sedikit pun
terbersit di pikiranmu untuk memanggilku oppa.”
Shinhye
hanya bisa mendelik melihat
tingkah cemburu Yonghwa.
“Keurae–baiklah, kau sudah lihat sendiri kan siapa pemilik rumah
ini? Apa sekarang kau masih curiga padaku?”
Shinhye menggeleng. “Tapi..” Shinhye
kemudian menyentuh pipinya dengan kedua telapak tangannya. “Kenapa wajahku
terasa panas mengingat kembali tatapan lembutnya tadi?” Shinhye lalu
menampar-nampar pipinya
masih tidak percaya
bahwa dia bertatapan langsung dengan aktor favoritnya.
“Cheoltae–benar-benar.” Yonghwa hanya bisa menggeleng melihat
tingkah Shinhye yang berlebihan.
“Ah.., kenapa
tadi aku tidak minta tanda tangannya
saja?”
“Neomu eoba hajima–jangan terlalu berlebihan.” Yonghwa kemudian berjalan
masuk ke dalam
rumah kakaknya tanpa
memedulikan Shinhye yang masih terpesona dengan wajah kakak iparnya. Beberapa
detik kemudian, Shinhye
baru mengekorinya dari
belakang.
“Annyeonghaseyo!” Yonghwa menyapa seorang wanita yang sedang
duduk memunggunginya dan Shinhye.
Wanita yang disapa berbalik melihat tamunya. Begitu
dilihatnya sosok Yonghwa yang berdiri di depannya, dia malah berbalik dan
kembali melakukan
aktifitasnya memberi makan seorang
bayi kecil yang sedang duduk
manis di
atas kursi kayu bayinya.
“Annyeong, jokha-adel–keponakan laki-laki!
Apa kau baik-baik saja seperti eommamu?” Yonghwa berjalan mendekati ibu
dan anak yang disapanya itu. “Ah..
kau bertambah tampan seperti pamanmu ini,” katanya lagi ketika berhadapan
langsung dengan anak kecil itu.
Wanita yang
disapa
malah berkata, “Kau sebaiknya pulang. Tidak usah ke sini lagi.”
“Mianhae, noona. Aku benar-benar ingin mengunjungi kalian setiap
hari, hanya
saja banyak kesibukan yang harus kukerjakan.
Kau tahu sendiri kan, ayah menempatkanku di restaurant.”
Wanita itu
masih menatap sinis
ke arah Yonghwa. Lalu tatapannya berubah lembut ketika melihat wajah Shinhye. “Gadis
cantik siapa yang kau bawa?”
“Eoh,
annyeonghaseyo! Joneun Park Shin Hye imnida.” Shinhye membungkuk dan memperkenalkan dirinya secara
formal.
Yoomi bangkit dari duduknya ikut
membungkuk dan menyapa Shinhye. “Annyeonghaseyo! Aku Jung Yoo Mi, kakak
Yonghwa.” Saat
sedang memperkenalkan dirinya, angin dari luar yang terbawa masuk karena
jendela rumahnya yang terbuka lebar mengibas setiap helai rambutnya dan
menyebabkan rambut sebahunya itu memenuhi dahi, pipi, dan pelipisnya. Meskipun
saat ini wajahnya dipenuhi rambut yang berantakan, tapi sedikitpun tak
mengurangi kecantikannya.
“Anjeuseyo–silahkan duduk,” kata Yoomi dengan
wajah tersenyum mempersilahkan
Shinhye untuk duduk di kursi.
Shinhye tidak meresponnya karena
sedang sibuk memuji wanita bernama Yoomi itu di dalam hatinya.
“Park Shin Hye-ssi,” panggil Yoomi pada Shinhye yang
terlihat sedang melamun.
Lamunan Shinhye terbuyar
mendengar seseorang sedang memanggil namanya. “Eoh.. mianhaeyo, eonnie,” kata Shinhye sambil
membungkuk.
“Anjeuseyo!” Yoomi mengulangi kalimatnya
masih dengan senyuman yang terus melengkung di wajahnya.
Shinhye mengikuti saran Yoomi.
Begitu melihat Shinhye telah
duduk dengan nyaman. Yoomi kemudian mulai berbicara lagi pada Shinhye. Katanya,
“Apa dia pernah bercerita tentangku?”
Tunjuknya pada Yonghwa yang sedang berdiri di sampingnya itu.
Shinhye menggeleng sambil tersenyum
lebar.
“Sudah
kuduga, dia tidak pernah menceritakanku.”
Yoomi meletakkan kedua tangannya di pinggul dan mendelik ke arah Yonghwa yang memperlihatkan
wajah tanpa dosanya.
“Noona, justru aku baru ingin memperkenalkannya padamu. Sesuai janjiku.”
Tampang Shinhye
bingung mendengar
percakapan kakak beradik di depannya ini.
Yonghwa kemudian berjalan ke arah
Shinhye dan duduk di sampingnya. Mereka berdua kini duduk berhadapan dengan Yoomi.
“Seberapa
jauh Shinhye-ssi sudah mengenal
adikku?” Yoomi bertanya seolah-olah
Shinhye dan Yonghwa sedang menjalin suatu hubungan. “Apa dia tampan untuk
dijadikan pacar?”
Kalimat terakhir yang diucapkan Yoomi saat ini bagaikan aliran arus listrik
yang menyetrum Shinhye sampai ke dalam tulang-tulangnya.
To be continued.

