Part 13
Jiwon kemudian mulai bercerita
setiap detail perbuatan Yoojin padanya kemarin siang.
Flashback
Yoojin dan Jiwon masuk ke dalam
salah satu toko pakaian di daerah Gangnam. Mereka mulai melihat-lihat berbagai
macam busana yang terpampang di setiap sudut toko tersebut. Beberapa kali
Yoojin terlihat mencoba mematut pakaian di badannya. Selesai mencoba, dia
kemudian bertanya pada Jiwon, "Kim Ji Won-ssi, apa menurutmu celana ini cocok untuk digunakan dengan sepatu
ini?" Yoojin bertanya sambil menempatkan salah satu dari jeans longgar dan
celana harem yang dipilihnya ke atas sebuah meja sambil menenteng sepasang
sepatu ankle strap dengan hak stiletto di tangannya yang tadi mereka
beli di toko sepatu sebelah. “Tim wanitaku harus terliahat stylish di peresmian butikku.”
Jiwon terdiam beberapa menit.
Dia menarik dan menghembuskan nafas kemudian berkata, "Aku rasa jenis
sepatu ini akan lebih baik jika dipadankan dengan mini dress, mini skirt, atau rok pensil selutut.
Akan sangat pelik kalau dipadankan dengan jeans dan celana harem yang kau
pilih." Jiwon berharap Yoojin mau menyetujui sarannya.
"Ternyata kau tidak mudah
diremehkan. Aku tadi hanya mengujimu. Berharap bahwa kau setuju aku mengenakan
celana-celana itu dengan sepatu ini. Tapi ternyata seleramu tinggi juga."
"Gomapda," kata Jiwon
enteng dan refleks ingin mengurut dadanya yang lega. Tapi akhirnya urung dia
lakukan.
Yoojin tersenyum sinis, kemudian
berkata pada salah satu penjaga toko tanpa memedulikan ungkapan terima kasih
Jiwon, “Tolong bungkuskan celana ini, baju ini, kemudian ini, ini...” Dia mulai
memilih baju dan celana yang menyeragam untuk timnya baik yang wanita atau
pria.
Flashback end
“Kalian tahu apa ini?” kata
Jiwon sambil menunjukan sebuah tas belanja kepada Shinhye dan Hyejoon.
“Apa?” tanya Shinhye mengintip
isi tas belanja itu. “Sepatu, celana.” Shinhye menyebut isi dalam tas belanjaan
itu. “Belanjaanmu?”
"Belanjaanku? Ini belanjaan
yang dipilihnya di butik waktu itu. Dia memberikannya padaku. Lihat sendiri
isinya!" Jiwon menyerahkan tas belanja kertas yang dia pegang pada Shinhye
dan Hyejoon.
Mereka menerima dan menjejalkan
isi tas belanjaan itu ke atas meja. Begitu dikeluarkan isinya, ada sepasang
sepatu ankle strap berwarna pink camation yang sangat manis. Beserta
kemeja lengan panjang garis-garis dan celana harem bermotif bunga-bunga. Meski
semua barang-barang ini adalah barang bermerk namun kalau secara bersamaan
dipakai, kau akan terlihat sangat tidak wajar dalam berpakaian.
“Apa dia pikir aku ini ahjumma yang akan pergi ke sawah sehingga
dia memberikanku ini.” Jiwon sibuk berkoar-koar menunjukan kekesalannya. Tapi
Shinhye malah sibuk mematut baju dan celana yang dibawa Jiwon di tubuhnya.
"Sepatunya manis. Tapi baju
dan celananya bisa kau gunakan kalau kau mau membajak sawahmu di Mokpo.”
Shinhye mencoba bercanda dengan mengungkit kembali Seungri, mantan pacar Jiwon
yang memiliki sawah di Mokpo.
“Ya!” Jiwon mendelik ke arah Shinhye. "Aku akan mengembalikan
semua ini padanya?"
"Ya, kau bisa mengambil sepatunya. Sepatunya cantik kok." Tunjuk
Hyeejoon pada sepatu yang sedang digunakan Shinhye saat itu.
"Secantik apa pun
sepatunya, tapi harga diriku sudah terlanjur terluka, eonnie." Jiwon merenggut.
"Kenapa tidak kau tolak
waktu dia berikan?" timpal Hyejoon lagi.
"Dia memaketkan ini dan
mengirimkannya ke rumahku. Bahkan dia menyertakan sebuah memo katanya kau akan
terlihat imut kalau menggunakan semua ini.” Jiwon memraktekan gaya bicara
Yoojin. “Dasar penyihir jahat. Dia benar-benar mempermainkanku. Lihat saja suatu
hari aku akan buat perhitungan dengannya." Jiwon tertsenyum sinis saat
itu. Apa pun yang sedang dia pikirkan saat ini, intinya adalah dia ingin
membalas semua perbuatan Yoojin padanya.
Shinhye dan Hyejoon hanya bisa menyengir
lucu dengan wajah Jiwon yang berubah merah padam.
***
"Agasshi, apa pemilik butik ini sedang sibuk?" tanya Jonghyun
pada Yoojin yang sedang sibuk memberi instruksi pada para pekerja di butiknya
untuk persiapan peresmian butiknya malam besok.
"Ne. Pemilik butik saat ini sedang sibuk menginstruksi. Anda bisa
bicara padaku?" jawab Yoojin.
"Geurayo? Tapi aku ingin makan siang dengan pemilik butiknya. Apa
anda bisa sampaikan padanya?"
"Seolma–masa?" Yoojin berbalik dan menatap Jonghyun.
Kedua orang itu tertawa
bersamaan.
"Jangan terlalu memaksakan
tenagamu. Kau bisa capek dan nanti malah sakit saat peresmian butikmu,"
ujar Jonghyun khawatir dengan Yoojin yang terlalu bekerja keras untuk peresmian
butiknya ini.
"Geogjeongma–jangan khawatir.
Aku baik-baik saja. Aku bukan anak kecil lagi, Hyunie," kata Yoojin dengan
memanggil nama kecil Jonghyun.
Jonghyun tersenyum dan berkata,
"Arasseo. Ayo kita makan siang.
Aku yang traktir."
"Assa! Kebetulan aku sangat lapar sekarang. JeResto?"
"Tapi jauh dari
butikmu."
"Tidak apa-apa. Lagian aku
harus mengundang karyawan-karyawan Yonghwa untuk hadir di peresmian butikku.
Bagaimanapun aku sering mampir ke JeResto, jadi sudah seharusnya mereka
kuundang juga."
"C’est une bonne idè–itu ide bagus. Kajja!" Jonghyun ikut-ikutan setuju.
JeResto
Begitu selesai menghabiskan
makan siang mereka. Yoojin ke toilet sebentar. Setelah mengecek riasan wajahnya
di kaca toilet, dia keluar. Begitu keluar, dia sempat-sempatnya tertarik untuk mampir
ke pantry. Dan di sanalah dia bertemu
dengan Shinhye, Jiwon dan juga Hyejoon.
“Kalian di sini? Syukurlah. Tadi
rencananya aku ingin mengundang kalian. Tapi kulihat kalian sangat sibuk
melayani pelanggan. Jadi kuurungkan niatku. Ah.. kita langsung saja pada
intinya. Aku mengundang kalian bertiga untuk hadir dalam acara malam peresmian
butikku besok,” ucap Yoojin lancar yang tentu saja maksud ketiga orang itu
ditujukan pada Shinhye, Jiwon dan Hyejoon, karena hanya mereka bertiga yang
sekarang sedang berhadapan dengan Yoojin.
Shinhye, Jiwon dan Hyejoon yang
berdiri bersisian melempar pandangan pada beberapa karyawan yang ada di pantry. Mereka takut kalau
karyawan-karyawan tersebut merasa tersinggung karena hanya mereka bertiga yang
diundang oleh Yoojin.
“Jangan khawatir. Mereka semua
sudah kuundang kemarin.” Yoojin sepertinya mengerti dengan maksud tatapan
mereka. Oleh karena itu dia langsung memberikan penjelasannya. “Kemarin aku
sempat mampir ke sini dan mengundang mereka langsung. Kalian tidak ada kemarin,
jadi aku baru sempat mengundang kalian sekarang. Eoh, jangan lupa untuk datang. Kalian harus hadir.” Yoojin berbalik
memunggungi mereka dan hendak pergi, tapi kemudian dia kembali berbalik dan
berkata, “Oh yah, jangan lupa untuk berpakaian yang selayaknya. Karena akan ada
banyak tamu terhormat di sana. Ah.. aku harus pergi sekarang karena banyak yang
harus aku urus di butikku. Keureom.”
Kali ini Yoojin benar-benar beranjak pergi meninggalkan pantry.
“Sudah kuduga, penyihir itu
tidak pernah tulus mengundang kita,” ujar Jiwon sewot.
“Apa sebaiknya kita tidak usah
memenuhi undangannya saja,” timpal Shinhye. “Aku hanya takut kalau kita mungkin
tidak akan pantas bergabung dengan tamu-tamu undangannya.”
“Ani. Kita harus ke sana.
Kita harus menunjukkan padanya bahwa kita layak berada di pestanya,” ungkap
Jiwon dengan nafas yang tertahan karena amarahnya yang hampir sampai di
ubun-ubun. “Kalau kalian berdua tidak mau, aku sendiri yang akan ke sana. Tidak
peduli apa pun yang terjadi, dia harus membayar semua perbuatan jahatnya
padaku.” Jiwon tersenyum sinis membayangkan ide nakal yang tiba-tiba berkelabat
di pikirannya.
“Apa yang akan kau lakukan
padanya?” tanya Shinhye penasaran dengan senyuman sinis.
“Lihat saja apa yang akan
kulakukan besok.”
***
Pagi itu di rumah
kontrakan Jiwon, terlihat tiga makhluk yang sedang lelap tertidur di atas
tempat tidur Jiwon. Makhluk yang pertama adalah Jiwon si penyewa kontrakan itu.
Dan kedua makhluk lainnya adalah sahabat Jiwon, siapa lagi kalau bukan Shinhye
dan Hyejoon. Matahari telah naik ke atas dan biasan cahayanya masuk melalui
kusen jendela Jiwon yang tanpa tirai. Meskipun biasan cahaya matahari yang
menyilaukan itu mengenai wajah mereka, tapi tetap tak berhasil membangunkan mereka
dari tidur lelap mereka. Setelah makan ceker ayam pedas dan minum soju malam
kemarin di rumah Jiwon, akhirnya Shinhye dan Hyejoon memutuskan bermalam di kontrakan
Jiwon karena mereka sendiri tak kuat membawa tubuh mereka keluar dari kontrakan
Jiwon.
Setelah hampir
sejam berlalu, Hyejoon akhirnya bangun juga karena tangan Jiwon yang tanpa
sengaja menghantam wajahnya. Dengan kesal, gadis itu bangun, merentangkan
tangannya dan menguap lebar. Diguncang-guncangnya tubuh Jiwon yang masih
terlelap di sampingnya. “Ireona,
Jiwon-ah! Ini sudah pagi, kau harus
menyiapkan sarapan.”
Karena guncangan
hebat dari Hyejoon, akhirnya Jiwon pun terbangun. Dengan berat dia membuka
kedua matanya dan mengucaknya. “Sudah pagi rupanya,” katanya sambil
menghembuskan nafasnya.
“Ah…” Hyejoon
mengeluh karena bau nafas Jiwon. “Aku akan ke toilet.” Hyejoon turun dari
tempat tidur menuju toilet di luar kamar Jiwon.
Jiwon pun ikutan
turun dari tempat tidurnya dan menuju dapur hendak menyiapkan bahan-bahan untuk
membuat sarapan pagi. Selesai menyikat gigi dan membuat sarapan, kedua wanita
yang adalah Jiwon dan Hyejoon hendak menyantap sarapan pagi mereka, tapi
kemudian urung dilakukan karena menyadari seseorang yang belum hadir di meja
makan saat itu. Siapa lagi kalau bukan Shinhye. Jiwon bangkit dari duduknya dan
beranjak menuju kamarnya. Di sana, dia melihat Shinhye masih dalam posisi
meringkuk dengan bed cover yang masih
sempurna menutupi seluruh badannya.
“Shinhye-ya, ireon! Ppalli!” Jiwon menggerak-gerakkan tubuh
Shinhye, membangunkannya.
Selimut yang tampak menggunduk itu tetap tak
bergerak.
“Park Shin Hye,
bangun!” Jiwon mengguncang-guncang tubuh Shinhye lagi, dan tetap mencoba
membangungkannya. “Kita perlu berbelanja kebutuhan kita pagi ini. Apa kau ingin
terlihat buruk di acara itu. Ireona!”
“Masih tidak mau
bangun?” tanya Hyejoon yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Jiwon hanya bisa
mengangguk.
Shinhye yang sudah
terbungkus seperti kepompong di atas tempat tidur Jiwon tidak mau bergerak
apalagi bangun. Jiwon dan Hyejoon yang melihat kejadian itu hanya bisa
menggeleng. Tapi secepatnya mereka berdua tahu apa yang harus mereka lakukan. Jiwon
bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah jendela, berdiri mematung sambil
menunggu Hyejoon yang ke belakang sebentar. Setelah kembali dari dapur, Hyejoon
membawa segelas air putih. Dan dalam hitungan ketiga, Jiwon menyibak tirai
jendela dan Hyejoon dengan gesit menyingkap selimut serta memercik-mercikkan
air dari gelas yang dipegangnya. Shinhye bangun
dan menghindar, gelagapan.
“Omo, Jiwon atapnya bocor! Kita harus lari
sebelum terlambat dan akhirnya menjadi banjir.”
“Berhenti
berakting Park Shin Hye. Ppalli ireona!”
Jiwon seakan tidak peduli dengan saran Shinhye yang tidak masuk akal itu.
Shinhye tertawa
melihat aktingnya yang tidak berhasil, karena Jiwon yang benar-benar sudah
mengenal tindak-tanduknya ini.
“Sikat gigimu dan
sarapan bersama kami,” kata Hyejoon dan berjalan keluar dari kamar Jiwon dengan
Jiwon yang merendengi langkahnya.
Butik EUGENE, malam peresmian.
Ramainya malam
peresmian butik EUGENE membuat wajah sang pemiliknya tampak sangat bahagia,
sehingga senyumnya terus terpancar menggambarkan suasana hatinya saat itu. Sang
pemilik butik yang adalah Kim Yoo Jin itu dengan sibuk berjalan mondar-mandir
menyapa para tamunya yang beberapa adalah desainer-desainer terkenal dari
berbagai negara. Namun senyuman itu tidak bertahan lama ketika melihat tiga
orang wanita yang sebenarnya sangat tidak diharapkan kedatangan mereka
melenggang masuk dengan tampilan hampir sempurna menurutnya. Sedikit terbesit
di benaknya bahwa ternyata mereka tidak mudah diremehkan.
“Annyeonghaseyo, Kim Yoo Jin-ssi,” sapa ketiga
wanita ini serempak seperti barisan choir yang siap pentas.
“Huh!” Yoojin
mendengus. “Terima kasih karena mau mampir.” Tapi masih mau membalas menyapa
mereka meski dengan senyuman hambar. Saat ini mini dress Yoojin
serba silver, serasi dengan sepatu dan
kuku-kukunya. Riasan wajahnya seperti selebriti papan atas.
“Tentu saja. Kami
sangat menghargai undanganmu,” jawab Hyejoon.
“Kami juga
penasaran ingin melihat koleksi busana terbarumu. Kami yakin pasti semuanya
bagus,” timpal Jiwon dengan sengiran lebar.
“Tentu saja.
Kalian cukup menunggu dan melihat fashion show-ku yang luar biasa karena
menunjukan karya tanganku yang berharga itu.”
“Benarkah?” Jiwon
masih menyengir ber-khas sindiran. Membayangkan jadi apa wajah Yoojin nanti
kalau mengetahui kesuksesan show-nya
tidak selancar yang dia impikan. “Kami akan sangat menantikan kesuksesan itu.”
***
Di pojokan halaman
terdapat meja besar tempat berbagai aneka penganan dan minuman yang dihidangkan
dan ditata seapik mungkin di atas nampan-nampan perak. Di sanalah Shinhye
bercokol, mencoba beberapa penganan dan segelas jus jeruk untuk menutupi bunyi
perutnya yang keroncongan. Sekaligus menghindar dari pemandangan kemesraan
Jonghyun dan Jiwon yang menurutnya sedikit memuakkan. Karena jemari Jonghyun
yang tidak mau lepas dari tangan Jiwon. Kali ini Shinhye hanya sendiri
melancarkan aksi mencomot penganan yang ada, karena Hyejoon yang harus
buru-buru pulang dengan alasan kekasihnya yang tiba-tiba masuk rumah sakit.
“Ehm.. ehm..”
Seseorang di belakang Shinhye mendehem seakan menegurnya dari perbuatan
mencomot penganan yang ada di atas meja tanpa henti.
Shinhye menoleh
dan mendapati Yonghwa sedang berdiri di sampingnya. “Eoh, kau,” sahutnya susah payah
karena mulutnya yang masih penuh dengan kue. “Karena tidak ada yang bisa kuajak
bicara di sini, maka kurasa mereka teman terbaikku.” Kali ini dia berkata
sambil menunjuk berbagai jenis penganan yang ada di atas nampan.
Yonghwa menatap
Shinhye dari kepala sampai kakinya, sambil menyakukan tangannya dalam saku
celananya dia berkata, “Hari ini kau terlihat berbeda.”
“Maksudmu?”
Shinhye berkata sambil mencoba mengosongkan isi mulutnya.
“Yeppoyo.”
Shinhye gelagapan
dan malu setengah mati karena pujian yang dilontarkan Yonghwa barusan. Tapi mau
tidak mau dia harus tersenyum sebagai ungkapan terima kasih yang tidak bisa dia
ungkapkan secara langsung. “Apa kau sudah menyapa Yoojin-ssi?” ujar Shinhye basa-basi mencoba mengalihkan perhatian Yonghwa darinya.
Yonghwa
mengangguk. “Dia sangat sibuk menyapa tamunya.”
Shinhye menggulum
senyum dan berkata, “Dia benar-benar seorang wanita sukses. Lihat saja
tamu-tamunya sebagian adalah orang terkenal. Wanita sukses seperti dia pasti
hanya bergaul dengan kalangan atas, seperti Jung Yong Hwa-ssi dan juga Lee Jong Hyun-ssi.”
Yonghwa kemudian
mendengus. “Apa maksud perkataanmu itu adalah manusia zaman sekarang masih
menganut persepsi zaman feodal? Yang sukses berteman dengan yang sukses, yang kaya
berteman dengan yang kaya, dan jodoh anak bangsawan pasti datangnya dari
bangsawan juga?” ujar Yonghwa dengan nada tak senang.
“Geureohke–benar begitu. Buktinya kalau
jalan berdua kalian terlihat sangat serasi. Kalian lebih cocok jadi pasangan
kekasih dari pada hanya menjadi sahabat.”
“Geurae? Tapi dia malah cemburu padamu.
Katanya kau itu kekasihku,” tandas Yonghwa.
Shinhye tersentak
mendengar kalimat Yonghwa. Buru-buru dia telan penganan yang baru saja dimakannya.
“Hahaha..” Shinhye
tertawa sember, sebenarnya dia sedang berusaha menutupi kegugupannya. “Dia
pasti mencoba bercanda padamu. Bodoh sekali kalau kau tidak memilih Yoojin
dengan segala kelebihannya.” Shinhye berujar sambil mengamati Yonghwa yang
sedang menatap Yoojin yang tampak sibuk berbicara dengan tamu-tamunya. Dan kini
malah menulari Shinhye untuk ikut-ikutan menatap obyek yang sama.
“Bagaimana kalau
aku memang bodoh?” gumam Yonghwa tiba-tiba yang membuat Shinhye tidak berkutik.
Shinhye masih
diam. Tidak tahu harus merespon apa. Dalam hal ini dia benar-benar bingung
dengan perkataan Yonghwa barusan. Apa pria yang berdiri di sampingnya ini
benar-benar serius mengatakan kalau dirinya tidak tertarik dengan Yoojin?
“Ah.. aku haus.”
Yonghwa menyentuh lekumnya. “Di sini anggurnya habis. Sepertinya ada persediaan
di meja lain.” Yonghwa beranjak pergi meninggalkan Shinhye yang masih diam tak
bersuara.
***
Di tempat lain, Yoojin
terlihat sibuk menyapa para tamu-tamunya. Terutama beberapa teman desainer kenalannya yang diundangnya. Sekarang
dia terlihat sedang sibuk berbincang dengan seorang pria asing yang baru saja
datang.
“You’ve got a nice space, Yoojin.”
“Thank you, Jun. I
feel honored to your presence,” kata Yoojin bangga karena salah satu desainer
ternama menghadiri undangannya.
“You know, I
feel very curious to see every single part of your masterpiece.”
Yoojin tertawa
senang mendengar kalimat ini keluar dari desainer ternama yang bernama Jun itu.
“Just wait and see. I hope everything will run well. Now, let me take you to
your seat.” Yoojin mengajak Jun
ke deretan paling depan.
***
Shinhye menatap dirinya
di kaca jendela di sudut ruangan, mencoba mengamati dirinya dengan red
dress selutut
yang dipakainya saat ini. Hanya untuk menyakinkan bahwa perkataan Yonghwa tadi tidak
sepenuhnya bohong. “Cantik!”
gumamnya dalam hati.
“Tidak percaya
ucapanku sampai kau harus memastikannya sendiri?” Yonghwa berdiri dengan dua steam glass di tangannya. Satu berisi wine dan yang satunya lagi berisi lemon squash.
Shinhye meringis
malu karena kecolongan Yonghwa, sedang menatapi dirinya sendiri di kaca jendela.
Yonghwa tersenyum
melihat reaksi Shinhye. “Aku mencoba untuk tidak kembali ke sini. Tapi kulihat
kau benar-benar sendiri. Mungkin kau membutuhkanku sebagai teman berbincang.
Untuk malam ini.” Yonghwa menegaskan pada kalimat terakhir. “Karena kau
terlihat sulit sekali untuk rukun denganku.” Yonghwa kemudian menyerahkan gelas
berisi lemon squash itu ke arah Shinhye.
Shinhye menerima
gelasnya. “Gomawo,” balas Shinhye datar. Dalam
hatinya dia ingin berteriak kalau dia juga ingin sekali rukun dengan Yonghwa.
“Kau pulang dengan
siapa nanti?” tanya Yonghwa setelah meneguk sedikit wine-nya.
Shinhye gamang.
“A.. aku.. mungkin..” Shinhye gagap dan mencoba mencari jawaban. “Bis.” Jawaban
paling tepat daripada mengatakan aku tidak ada yang mengantar dan
berharap kau mau mengantarkanku. Permulaan rukun kembali yang
terlalu bergairah dan bukan levelnya. Dalam hatinya dia bergumul berat mencoba
mematikan rasa gugup ini.
Kedua alis Yonghwa
bertaut. “Bis? Dengan tampilan seperti ini?” Yonghwa tertawa kecil. Tawanya
yang hanya berlangsung sedetik itu mampu membuat Shinhye meleleh untuk sejenak.
“Kalau sedang
tidak mengesalkan, dia benar-benar terlihat tampan,” pikir Shinhye.
“Maksudku Jiwon
pasti pulang dengan Jonghyun. Sedangkan Hyejoon, aku tidak melihatnya dari
tadi.”
“Bilang kau mau
mengantarku!” teriak Shinhye
masih dalam hati. “Apa itu susah?”
“Kalau kau mau
menunggu sampai acara selesai agar aku bisa memastikan bahwa acara Yoojin berjalan
lancar, aku bisa mengantarmu pulang.”
“Mengantar? Joha.” Masih hati Shinhye yang berkata-kata.
“Memastikan?” Tapi
hanya kata ini yang bisa Shinhye ucapkan secara langsung.
“Sebagai seorang
sahabat yang baik, aku harus memastikan bahwa kerja keras Yoojin terbalas
dengan acaranya yang berhasil sukses,” jawab Yonghwa terus terang. “Aku tidak
akan bisa meninggalkan dirinya yang kecewa, kalau saja sesuatu terjadi dan
malah membuat acaranya tidak berhasil sukses.”
“Sukses?”
Yonghwa
mengangguk.
Tiba-tiba Shinhye
teringat sesuatu. Sesuatu? Rencana? Ya, rencana mereka! Rencana yang mungkin
akan menghancurkan kata kesuksesan itu.
“Ah..” Shinhye merenggut tiba-tiba
menyesal kembali dengan rencana balas dendam mereka.
“Waeyo?” tanya Yonghwa melihat gelagat aneh Shinhye.
Shinhye menggeleng,
sambil mencoba berpikir mencari jalan keluar untuk membatalkan rencana mereka.
To be continued

