"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Senin, 18 Juli 2016

Rain of Autumn Part 13

Part 13
  


Jiwon kemudian mulai bercerita setiap detail perbuatan Yoojin padanya kemarin siang.

Flashback
Yoojin dan Jiwon masuk ke dalam salah satu toko pakaian di daerah Gangnam. Mereka mulai melihat-lihat berbagai macam busana yang terpampang di setiap sudut toko tersebut. Beberapa kali Yoojin terlihat mencoba mematut pakaian di badannya. Selesai mencoba, dia kemudian bertanya pada Jiwon, "Kim Ji Won-ssi, apa menurutmu celana ini cocok untuk digunakan dengan sepatu ini?" Yoojin bertanya sambil menempatkan salah satu dari jeans longgar dan celana harem yang dipilihnya ke atas sebuah meja sambil menenteng sepasang sepatu ankle strap dengan hak stiletto di tangannya yang tadi mereka beli di toko sepatu sebelah. “Tim wanitaku harus terliahat stylish di peresmian butikku.”
Jiwon terdiam beberapa menit. Dia menarik dan menghembuskan nafas kemudian berkata, "Aku rasa jenis sepatu ini akan lebih baik jika dipadankan dengan mini dress, mini skirt, atau rok pensil selutut. Akan sangat pelik kalau dipadankan dengan jeans dan celana harem yang kau pilih." Jiwon berharap Yoojin mau menyetujui sarannya.
"Ternyata kau tidak mudah diremehkan. Aku tadi hanya mengujimu. Berharap bahwa kau setuju aku mengenakan celana-celana itu dengan sepatu ini. Tapi ternyata seleramu tinggi juga."
"Gomapda," kata Jiwon enteng dan refleks ingin mengurut dadanya yang lega. Tapi akhirnya urung dia lakukan.
Yoojin tersenyum sinis, kemudian berkata pada salah satu penjaga toko tanpa memedulikan ungkapan terima kasih Jiwon, “Tolong bungkuskan celana ini, baju ini, kemudian ini, ini...” Dia mulai memilih baju dan celana yang menyeragam untuk timnya baik yang wanita atau pria.
Flashback end

“Kalian tahu apa ini?” kata Jiwon sambil menunjukan sebuah tas belanja kepada Shinhye dan Hyejoon.
“Apa?” tanya Shinhye mengintip isi tas belanja itu. “Sepatu, celana.” Shinhye menyebut isi dalam tas belanjaan itu. “Belanjaanmu?”
"Belanjaanku? Ini belanjaan yang dipilihnya di butik waktu itu. Dia memberikannya padaku. Lihat sendiri isinya!" Jiwon menyerahkan tas belanja kertas yang dia pegang pada Shinhye dan Hyejoon.
Mereka menerima dan menjejalkan isi tas belanjaan itu ke atas meja. Begitu dikeluarkan isinya, ada sepasang sepatu ankle strap berwarna pink camation yang sangat manis. Beserta kemeja lengan panjang garis-garis dan celana harem bermotif bunga-bunga. Meski semua barang-barang ini adalah barang bermerk namun kalau secara bersamaan dipakai, kau akan terlihat sangat tidak wajar dalam berpakaian.
“Apa dia pikir aku ini ahjumma yang akan pergi ke sawah sehingga dia memberikanku ini.” Jiwon sibuk berkoar-koar menunjukan kekesalannya. Tapi Shinhye malah sibuk mematut baju dan celana yang dibawa Jiwon di tubuhnya.
"Sepatunya manis. Tapi baju dan celananya bisa kau gunakan kalau kau mau membajak sawahmu di Mokpo.” Shinhye mencoba bercanda dengan mengungkit kembali Seungri, mantan pacar Jiwon yang memiliki sawah di Mokpo.
Ya!” Jiwon mendelik ke arah Shinhye. "Aku akan mengembalikan semua ini padanya?"
"Ya, kau bisa mengambil sepatunya. Sepatunya cantik kok." Tunjuk Hyeejoon pada sepatu yang sedang digunakan Shinhye saat itu.
"Secantik apa pun sepatunya, tapi harga diriku sudah terlanjur terluka, eonnie." Jiwon merenggut.
"Kenapa tidak kau tolak waktu dia berikan?" timpal Hyejoon lagi. 
"Dia memaketkan ini dan mengirimkannya ke rumahku. Bahkan dia menyertakan sebuah memo katanya kau akan terlihat imut kalau menggunakan semua ini.” Jiwon memraktekan gaya bicara Yoojin. “Dasar penyihir jahat. Dia benar-benar mempermainkanku. Lihat saja suatu hari aku akan buat perhitungan dengannya." Jiwon tertsenyum sinis saat itu. Apa pun yang sedang dia pikirkan saat ini, intinya adalah dia ingin membalas semua perbuatan Yoojin padanya.
Shinhye dan Hyejoon hanya bisa menyengir lucu dengan wajah Jiwon yang berubah merah padam.


***
"Agasshi, apa pemilik butik ini sedang sibuk?" tanya Jonghyun pada Yoojin yang sedang sibuk memberi instruksi pada para pekerja di butiknya untuk persiapan peresmian butiknya malam besok.
"Ne. Pemilik butik saat ini sedang sibuk menginstruksi. Anda bisa bicara padaku?" jawab Yoojin.
"Geurayo? Tapi aku ingin makan siang dengan pemilik butiknya. Apa anda bisa sampaikan padanya?"
"Seolma–masa?" Yoojin berbalik dan menatap Jonghyun.
Kedua orang itu tertawa bersamaan.
"Jangan terlalu memaksakan tenagamu. Kau bisa capek dan nanti malah sakit saat peresmian butikmu," ujar Jonghyun khawatir dengan Yoojin yang terlalu bekerja keras untuk peresmian butiknya ini.
"Geogjeongma–jangan khawatir. Aku baik-baik saja. Aku bukan anak kecil lagi, Hyunie," kata Yoojin dengan memanggil nama kecil Jonghyun.
Jonghyun tersenyum dan berkata, "Arasseo. Ayo kita makan siang. Aku yang traktir."
"Assa! Kebetulan aku sangat lapar sekarang. JeResto?"
"Tapi jauh dari butikmu."
"Tidak apa-apa. Lagian aku harus mengundang karyawan-karyawan Yonghwa untuk hadir di peresmian butikku. Bagaimanapun aku sering mampir ke JeResto, jadi sudah seharusnya mereka kuundang juga."
"C’est une bonne idè–itu ide bagus. Kajja!" Jonghyun ikut-ikutan setuju.

JeResto
Begitu selesai menghabiskan makan siang mereka. Yoojin ke toilet sebentar. Setelah mengecek riasan wajahnya di kaca toilet, dia keluar. Begitu keluar, dia sempat-sempatnya tertarik untuk mampir ke pantry. Dan di sanalah dia bertemu dengan Shinhye, Jiwon dan juga Hyejoon.
“Kalian di sini? Syukurlah. Tadi rencananya aku ingin mengundang kalian. Tapi kulihat kalian sangat sibuk melayani pelanggan. Jadi kuurungkan niatku. Ah.. kita langsung saja pada intinya. Aku mengundang kalian bertiga untuk hadir dalam acara malam peresmian butikku besok,” ucap Yoojin lancar yang tentu saja maksud ketiga orang itu ditujukan pada Shinhye, Jiwon dan Hyejoon, karena hanya mereka bertiga yang sekarang sedang berhadapan dengan Yoojin.
Shinhye, Jiwon dan Hyejoon yang berdiri bersisian melempar pandangan pada beberapa karyawan yang ada di pantry. Mereka takut kalau karyawan-karyawan tersebut merasa tersinggung karena hanya mereka bertiga yang diundang oleh Yoojin.
“Jangan khawatir. Mereka semua sudah kuundang kemarin.” Yoojin sepertinya mengerti dengan maksud tatapan mereka. Oleh karena itu dia langsung memberikan penjelasannya. “Kemarin aku sempat mampir ke sini dan mengundang mereka langsung. Kalian tidak ada kemarin, jadi aku baru sempat mengundang kalian sekarang. Eoh, jangan lupa untuk datang. Kalian harus hadir.” Yoojin berbalik memunggungi mereka dan hendak pergi, tapi kemudian dia kembali berbalik dan berkata, “Oh yah, jangan lupa untuk berpakaian yang selayaknya. Karena akan ada banyak tamu terhormat di sana. Ah.. aku harus pergi sekarang karena banyak yang harus aku urus di butikku. Keureom.” Kali ini Yoojin benar-benar beranjak pergi meninggalkan pantry.
“Sudah kuduga, penyihir itu tidak pernah tulus mengundang kita,” ujar Jiwon sewot.
“Apa sebaiknya kita tidak usah memenuhi undangannya saja,” timpal Shinhye. “Aku hanya takut kalau kita mungkin tidak akan pantas bergabung dengan tamu-tamu undangannya.”
Ani. Kita harus ke sana. Kita harus menunjukkan padanya bahwa kita layak berada di pestanya,” ungkap Jiwon dengan nafas yang tertahan karena amarahnya yang hampir sampai di ubun-ubun. “Kalau kalian berdua tidak mau, aku sendiri yang akan ke sana. Tidak peduli apa pun yang terjadi, dia harus membayar semua perbuatan jahatnya padaku.” Jiwon tersenyum sinis membayangkan ide nakal yang tiba-tiba berkelabat di pikirannya.
“Apa yang akan kau lakukan padanya?” tanya Shinhye penasaran dengan senyuman sinis.
“Lihat saja apa yang akan kulakukan besok.”

***
Pagi itu di rumah kontrakan Jiwon, terlihat tiga makhluk yang sedang lelap tertidur di atas tempat tidur Jiwon. Makhluk yang pertama adalah Jiwon si penyewa kontrakan itu. Dan kedua makhluk lainnya adalah sahabat Jiwon, siapa lagi kalau bukan Shinhye dan Hyejoon. Matahari telah naik ke atas dan biasan cahayanya masuk melalui kusen jendela Jiwon yang tanpa tirai. Meskipun biasan cahaya matahari yang menyilaukan itu mengenai wajah mereka, tapi tetap tak berhasil membangunkan mereka dari tidur lelap mereka. Setelah makan ceker ayam pedas dan minum soju malam kemarin di rumah Jiwon, akhirnya Shinhye  dan Hyejoon memutuskan bermalam di kontrakan Jiwon karena mereka sendiri tak kuat membawa tubuh mereka keluar dari kontrakan Jiwon.
Setelah hampir sejam berlalu, Hyejoon akhirnya bangun juga karena tangan Jiwon yang tanpa sengaja menghantam wajahnya. Dengan kesal, gadis itu bangun, merentangkan tangannya dan menguap lebar. Diguncang-guncangnya tubuh Jiwon yang masih terlelap di sampingnya. “Ireona, Jiwon-ah! Ini sudah pagi, kau harus menyiapkan sarapan.”
Karena guncangan hebat dari Hyejoon, akhirnya Jiwon pun terbangun. Dengan berat dia membuka kedua matanya dan mengucaknya. “Sudah pagi rupanya,” katanya sambil menghembuskan nafasnya.
“Ah…” Hyejoon mengeluh karena bau nafas Jiwon. “Aku akan ke toilet.” Hyejoon turun dari tempat tidur menuju toilet di luar kamar Jiwon.
Jiwon pun ikutan turun dari tempat tidurnya dan menuju dapur hendak menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan pagi. Selesai menyikat gigi dan membuat sarapan, kedua wanita yang adalah Jiwon dan Hyejoon hendak menyantap sarapan pagi mereka, tapi kemudian urung dilakukan karena menyadari seseorang yang belum hadir di meja makan saat itu. Siapa lagi kalau bukan Shinhye. Jiwon bangkit dari duduknya dan beranjak menuju kamarnya. Di sana, dia melihat Shinhye masih dalam posisi meringkuk dengan bed cover yang masih sempurna menutupi seluruh badannya.
“Shinhye-ya, ireon! Ppalli!” Jiwon menggerak-gerakkan tubuh Shinhye, membangunkannya. Selimut yang tampak menggunduk itu tetap tak bergerak.
“Park Shin Hye, bangun!” Jiwon mengguncang-guncang tubuh Shinhye lagi, dan tetap mencoba membangungkannya. “Kita perlu berbelanja kebutuhan kita pagi ini. Apa kau ingin terlihat buruk di acara itu. Ireona!”
“Masih tidak mau bangun?” tanya Hyejoon yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
Jiwon hanya bisa mengangguk.
Shinhye yang sudah terbungkus seperti kepompong di atas tempat tidur Jiwon tidak mau bergerak apalagi bangun. Jiwon dan Hyejoon yang melihat kejadian itu hanya bisa menggeleng. Tapi secepatnya mereka berdua tahu apa yang harus mereka lakukan. Jiwon bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah jendela, berdiri mematung sambil menunggu Hyejoon yang ke belakang sebentar. Setelah kembali dari dapur, Hyejoon membawa segelas air putih. Dan dalam hitungan ketiga, Jiwon menyibak tirai jendela dan Hyejoon dengan gesit menyingkap selimut serta memercik-mercikkan air dari gelas yang dipegangnya. Shinhye bangun dan menghindar, gelagapan.
Omo, Jiwon atapnya bocor! Kita harus lari sebelum terlambat dan akhirnya menjadi banjir.”
“Berhenti berakting Park Shin Hye. Ppalli ireona!” Jiwon seakan tidak peduli dengan saran Shinhye yang tidak masuk akal itu.
Shinhye tertawa melihat aktingnya yang tidak berhasil, karena Jiwon yang benar-benar sudah mengenal tindak-tanduknya ini.
“Sikat gigimu dan sarapan bersama kami,” kata Hyejoon dan berjalan keluar dari kamar Jiwon dengan Jiwon yang merendengi langkahnya.


Butik EUGENE, malam peresmian.
Ramainya malam peresmian butik EUGENE membuat wajah sang pemiliknya tampak sangat bahagia, sehingga senyumnya terus terpancar menggambarkan suasana hatinya saat itu. Sang pemilik butik yang adalah Kim Yoo Jin itu dengan sibuk berjalan mondar-mandir menyapa para tamunya yang beberapa adalah desainer-desainer terkenal dari berbagai negara. Namun senyuman itu tidak bertahan lama ketika melihat tiga orang wanita yang sebenarnya sangat tidak diharapkan kedatangan mereka melenggang masuk dengan tampilan hampir sempurna menurutnya. Sedikit terbesit di benaknya bahwa ternyata mereka tidak mudah diremehkan.
Annyeonghaseyo, Kim Yoo Jin-ssi,” sapa ketiga wanita ini serempak seperti barisan choir yang siap pentas.
“Huh!” Yoojin mendengus. “Terima kasih karena mau mampir.” Tapi masih mau membalas menyapa mereka meski dengan senyuman hambar. Saat ini mini dress Yoojin serba silver, serasi dengan sepatu dan kuku-kukunya. Riasan wajahnya seperti selebriti papan atas.
“Tentu saja. Kami sangat menghargai undanganmu,” jawab Hyejoon.
“Kami juga penasaran ingin melihat koleksi busana terbarumu. Kami yakin pasti semuanya bagus,” timpal Jiwon dengan sengiran lebar.
“Tentu saja. Kalian cukup menunggu dan melihat fashion show-ku yang luar biasa karena menunjukan karya tanganku yang berharga itu.”
“Benarkah?” Jiwon masih menyengir ber-khas sindiran. Membayangkan jadi apa wajah Yoojin nanti kalau mengetahui kesuksesan show-nya tidak selancar yang dia impikan. “Kami akan sangat menantikan kesuksesan itu.”


***
Di pojokan halaman terdapat meja besar tempat berbagai aneka penganan dan minuman yang dihidangkan dan ditata seapik mungkin di atas nampan-nampan perak. Di sanalah Shinhye bercokol, mencoba beberapa penganan dan segelas jus jeruk untuk menutupi bunyi perutnya yang keroncongan. Sekaligus menghindar dari pemandangan kemesraan Jonghyun dan Jiwon yang menurutnya sedikit memuakkan. Karena jemari Jonghyun yang tidak mau lepas dari tangan Jiwon. Kali ini Shinhye hanya sendiri melancarkan aksi mencomot penganan yang ada, karena Hyejoon yang harus buru-buru pulang dengan alasan kekasihnya yang tiba-tiba masuk rumah sakit.
“Ehm.. ehm..” Seseorang di belakang Shinhye mendehem seakan menegurnya dari perbuatan mencomot penganan yang ada di atas meja tanpa henti.
Shinhye menoleh dan mendapati Yonghwa sedang berdiri di sampingnya. “Eoh, kau,” sahutnya susah payah karena mulutnya yang masih penuh dengan kue. “Karena tidak ada yang bisa kuajak bicara di sini, maka kurasa mereka teman terbaikku.” Kali ini dia berkata sambil menunjuk berbagai jenis penganan yang ada di atas nampan.
Yonghwa menatap Shinhye dari kepala sampai kakinya, sambil menyakukan tangannya dalam saku celananya dia berkata, “Hari ini kau terlihat berbeda.”
“Maksudmu?” Shinhye berkata sambil mencoba mengosongkan isi mulutnya.
Yeppoyo.
Shinhye gelagapan dan malu setengah mati karena pujian yang dilontarkan Yonghwa barusan. Tapi mau tidak mau dia harus tersenyum sebagai ungkapan terima kasih yang tidak bisa dia ungkapkan secara langsung. “Apa kau sudah menyapa Yoojin-ssi?” ujar Shinhye basa-basi mencoba mengalihkan perhatian Yonghwa darinya.
Yonghwa mengangguk. “Dia sangat sibuk menyapa tamunya.”
Shinhye menggulum senyum dan berkata, “Dia benar-benar seorang wanita sukses. Lihat saja tamu-tamunya sebagian adalah orang terkenal. Wanita sukses seperti dia pasti hanya bergaul dengan kalangan atas, seperti Jung Yong Hwa-ssi dan juga Lee Jong Hyun-ssi.”
Yonghwa kemudian mendengus. “Apa maksud perkataanmu itu adalah manusia zaman sekarang masih menganut persepsi zaman feodal? Yang sukses berteman dengan yang sukses, yang kaya berteman  dengan yang kaya, dan jodoh anak bangsawan pasti datangnya dari bangsawan juga?” ujar Yonghwa dengan nada tak senang.
Geureohke–benar begitu. Buktinya kalau jalan berdua kalian terlihat sangat serasi. Kalian lebih cocok jadi pasangan kekasih dari pada hanya menjadi sahabat.”
Geurae? Tapi dia malah cemburu padamu. Katanya kau itu kekasihku,” tandas Yonghwa.
Shinhye tersentak mendengar kalimat Yonghwa. Buru-buru dia telan penganan yang baru saja dimakannya.
“Hahaha..” Shinhye tertawa sember, sebenarnya dia sedang berusaha menutupi kegugupannya. “Dia pasti mencoba bercanda padamu. Bodoh sekali kalau kau tidak memilih Yoojin dengan segala kelebihannya.” Shinhye berujar sambil mengamati Yonghwa yang sedang menatap Yoojin yang tampak sibuk berbicara dengan tamu-tamunya. Dan kini malah menulari Shinhye untuk ikut-ikutan menatap obyek yang sama.
“Bagaimana kalau aku memang bodoh?” gumam Yonghwa tiba-tiba yang membuat Shinhye tidak berkutik.
Shinhye masih diam. Tidak tahu harus merespon apa. Dalam hal ini dia benar-benar bingung dengan perkataan Yonghwa barusan. Apa pria yang berdiri di sampingnya ini benar-benar serius mengatakan kalau dirinya tidak tertarik dengan Yoojin?
“Ah.. aku haus.” Yonghwa menyentuh lekumnya. “Di sini anggurnya habis. Sepertinya ada persediaan di meja lain.” Yonghwa beranjak pergi meninggalkan Shinhye yang masih diam tak bersuara.

***
Di tempat lain, Yoojin terlihat sibuk menyapa para tamu-tamunya. Terutama beberapa  teman desainer kenalannya yang diundangnya. Sekarang dia terlihat sedang sibuk berbincang dengan seorang pria asing yang baru saja datang.
You’ve got a nice space, Yoojin.”
“Thank you, Jun. I feel honored to your presence,” kata Yoojin bangga karena salah satu desainer ternama menghadiri undangannya.
“You know, I feel very curious to see every single part of your masterpiece.”
Yoojin tertawa senang mendengar kalimat ini keluar dari desainer ternama yang bernama Jun itu. “Just wait and see. I hope everything will run well. Now, let me take you to your seat.” Yoojin mengajak Jun ke deretan paling depan.

***
Shinhye menatap dirinya di kaca jendela di sudut ruangan, mencoba mengamati dirinya dengan red dress selutut yang dipakainya saat ini. Hanya untuk menyakinkan bahwa perkataan Yonghwa tadi tidak sepenuhnya bohong. “Cantik!” gumamnya dalam hati.
“Tidak percaya ucapanku sampai kau harus memastikannya sendiri?” Yonghwa berdiri dengan dua steam glass di tangannya. Satu berisi wine dan yang satunya lagi berisi lemon squash.
Shinhye meringis malu karena kecolongan Yonghwa, sedang menatapi dirinya sendiri di kaca jendela.
Yonghwa tersenyum melihat reaksi Shinhye. “Aku mencoba untuk tidak kembali ke sini. Tapi kulihat kau benar-benar sendiri. Mungkin kau membutuhkanku sebagai teman berbincang. Untuk malam ini.” Yonghwa menegaskan pada kalimat terakhir. “Karena kau terlihat sulit sekali untuk rukun denganku.” Yonghwa kemudian menyerahkan gelas berisi lemon squash itu ke arah Shinhye.
Shinhye menerima gelasnya. “Gomawo,” balas Shinhye datar. Dalam hatinya dia ingin berteriak kalau dia juga ingin sekali rukun dengan Yonghwa.
“Kau pulang dengan siapa nanti?” tanya Yonghwa setelah meneguk sedikit wine-nya.
Shinhye gamang. “A.. aku.. mungkin..” Shinhye gagap dan mencoba mencari jawaban. “Bis.” Jawaban paling tepat daripada mengatakan aku tidak ada yang mengantar dan berharap kau mau mengantarkanku. Permulaan rukun kembali yang terlalu bergairah dan bukan levelnya. Dalam hatinya dia bergumul berat mencoba mematikan rasa gugup ini.
Kedua alis Yonghwa bertaut. “Bis? Dengan tampilan seperti ini?” Yonghwa tertawa kecil. Tawanya yang hanya berlangsung sedetik itu mampu membuat Shinhye meleleh untuk sejenak.
“Kalau sedang tidak mengesalkan, dia benar-benar terlihat tampan,” pikir Shinhye.
“Maksudku Jiwon pasti pulang dengan Jonghyun. Sedangkan Hyejoon, aku tidak melihatnya dari tadi.”
“Bilang kau mau mengantarku!” teriak Shinhye masih dalam hati. “Apa itu susah?”
“Kalau kau mau menunggu sampai acara selesai agar aku bisa memastikan bahwa acara Yoojin berjalan lancar, aku bisa mengantarmu pulang.”
“Mengantar? Joha.” Masih hati Shinhye yang berkata-kata.
“Memastikan?” Tapi hanya kata ini yang bisa Shinhye ucapkan secara langsung.
“Sebagai seorang sahabat yang baik, aku harus memastikan bahwa kerja keras Yoojin terbalas dengan acaranya yang berhasil sukses,” jawab Yonghwa terus terang. “Aku tidak akan bisa meninggalkan dirinya yang kecewa, kalau saja sesuatu terjadi dan malah membuat acaranya tidak berhasil sukses.”
“Sukses?”
Yonghwa mengangguk.
Tiba-tiba Shinhye teringat sesuatu. Sesuatu? Rencana? Ya, rencana mereka! Rencana yang mungkin akan menghancurkan kata kesuksesan itu.
Ah..” Shinhye merenggut tiba-tiba menyesal kembali dengan rencana balas dendam mereka.
“Waeyo?” tanya Yonghwa melihat gelagat aneh Shinhye.
Shinhye menggeleng, sambil mencoba berpikir mencari jalan keluar untuk membatalkan rencana mereka.


To be continued

Minggu, 17 Juli 2016

Rain of Autumn Part 12

Part 12



JeResto
Shinhye datang ke restaurant dengan keterpaksaan. Begitu tiba, manager Yoo langsung menyuruhnya masuk ke ruangan Yonghwa. Seperti instruksi yang diberikan, dia mengikutinya. Dengan tampang kusut, dia membuka kenop pintu ruangan Yonghwa. Dan mendapati Yonghwa juga Jonghyun sedang duduk mengobrol di dalamnya. Shinhye masuk dan menyapa keduanya.
"Kau sudah datang?" tanya Yonghwa retoris. "Masuklah, jangan berdiri di depan pintu saja!" pintanya yang juga masih retoris, karena Shinhye sudah melaksanakannya duluan.
“Hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Shinhye yang tentu saja pertanyaan itu ditujukan untuk Yonghwa. Karena Yonghwa yang meneneleponnya tadi.
"Aku keluar sebentar." Yonghwa tidak menjawab tapi malah pamit pada Jonghyun dan Shinhye.
Eoh.” Shinhye gelagapan melihat Yonghwa yang malah berjalan meninggalkannya. Bukankah Yonghwa yang meneleponnya karena ingin membicarakan hal penting dengannya. Lantas kenapa Yonghwa malah ingin meninggalkannya bersama Jonghyun.
“Jangan menghindar dari masalahmu,” ujar Yonghwa sedikit memberi saran pada Shinhye.
Begitu Yonghwa hendak keluar, Shinhye sempat menatapnya seperti meminta diselamatkan dari pertemuan dengan Jonghyun saat ini. Tapi Yonghwa malah mengacuhkannya dan tetap pergi meninggalkannya. Shinhye tahu betul, apa maksud Jonghyun ingin bicara dengannya. Setelah Yonghwa keluar, pelan-pelan Shinhye maju dan duduk di atas sofa yang sama dengan yang diduduki Jonghyun. Kini hanya beberapa jengkal tangan yang memisahkan jarak mereka. Dilihatnya, Jonghyun hanya diam dan menatap ke luar jendela dengan ekspresi datar. Shinhye ingin sekali memecahkan keheningan ini, tapi entah kenapa mulutnya sepertinya tak mau terbuka. Tak berani memulai percakapan, Shinhye malah memilih untuk memainkan jemarinya.
Selang menit berganti, wajah dengan ekspresi datar itu akhirnya membuka pembicaraan. "Oraemanieyo," sapanya yang benar-benar menusuk di kulit lapisan terakhir Shinhye. Sapaan yang seakan menyatakan bahwa lebih dari seminggu tak bertemu Shinhye rasanya seperti bertahun-tahun. "Eottokhae Jhinaeseo–bagaimana kabarmu?"
"Jhal Jhinaeseo–baik-baik saja," jawab Shinhye singkat. Dia menunduk berusaha menghindari kontak mata  sambil memasang telinga baik-baik.
"Bab meogeosseo–sudah makan?"
Shinhye hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
Untuk saat ini, sepertinya Jonghyun belum siap untuk bertanya pada intinya. Sehingga pertanyaan-pertanyaan kecil saja yang bisa dia utarakan dari tadi. Jonghyun menghela nafas dan menghembuskannya. Sesekali dia melongok ke luar jendela. Beberapa menit dia melakukan kegiatan yang sama, sampai akhirnya dia terlihat siap untuk menanyakan pertanyaan yang dari tadi tersimpan di pikirannya.
"Apa kau sangat sibuk? Beberapa hari ini kita tak pernah bertemu lagi. Aku terus menghubungimu tapi kau tak pernah menjawab panggilanku. Apa aku membuat kesalahan besar padamu?"
Apa kau baru menyadarinya? Kesalahanmu sangat besar padaku. Kau berulang kali mengabaikanku dan tak pernah menyadarinya. Maaf. Minta maaflah padaku. Katakan bahwa kau bersalah dan tak akan mengulanginya. Setelah itu, aku dengan senang hati akan menganggap bahwa kita tidak pernah ada masalah. Kau tahu, sampai detik ini aku telah berusaha melupakanmu. Dan kurasa usahaku hampir berhasil. Setelah kau minta maaf, aku akan menganggap seakan-akan perasaanku padamu tak pernah ada sebelumnya,” ujar Shinhye dalam hati. Mengingat setiap kisah pahit yang dialaminya karena pengabaian Jonghyun membuat Shinhye merasakan sesak di dadanya. Gadis itu menelan ludah, menolak mempelihatkan dirinya yang lemah.
“Aku benar-benar tidak tahu apa kesalahanku padamu. Tapi aku tetap ingin mengatakan, sungguh aku minta maaf padamu, Park Shin Hye-ssi.” Jonghyun menatap mata Shinhye dengan tatapan yang seakan membuat Shinhye ingin meruntuhkan tembok pertahanannya.
"Maaf, aku benar-benar sibuk mengurus kuliahku jadi tak bisa melaksanakan tugasku sebagai asistenmu." Shinhye berdalih.
"Apa kau benar-benar tidak punya waktu luang untuk sehari saja menemuiku? Ada begitu banyak hal yang ingin kubagikan padamu? Kuharap kau mau menyisakan waktumu untuk beberapa jam saja bertemu denganku." Kalimat-kalimat Jonghyun lebih terdengar membujuk.
Aku tahu, semua hal yang ingin kau bagikan denganku itu adalah kisah-kisahmu dengan Jiwon, kan? Kisah bahagiamu dengannya. Aku tahu semuanya, Lee Jong Hyun-ssi. Apa kau bisa tidak melibatkanku dalam hubunganmu? Aku lelah harus menjadi orang ketiga. Oleh karena itu, aku berupaya melupakanmu. Dan aku tak mau usahaku ini sia-sia karena kau. Aku benar-benar ingin menghapusmu dari hatiku. Jadi aku mohon, tolong jangan libatkan aku dalam hubunganmu lagi.” Bibir Shinhye tak menjawab tapi malah hatinya yang menjawab.
“Kau mau kan menyisakan waktumu untukku?" Jonghyun mengulangi kalimatnya.
Pertanyaan Jonghyun akhirnya membuat Shinhye memilih untuk lebih baik bicara sebenarnya daripada hanya menyimpannya dalam hati, dan akhirnya malah membuat Jonghyun tetap berharap. "Jonghyun-ssi, aku benar-benar minta maaf. Tapi aku rasa sebaiknya kita tidak perlu lagi meneruskan kerjasama kita. Aku perlu fokus pada mata kuliahku. Oleh karena itu, aku..."
"Kau serius ingin berhenti bekerja?" potong Jonghyun berusaha mencari kebenaran di balik mata Shinhye.
Shinhye mengangguk meyakinkan.
“Tapi…” Jonghyun terlihat berat melepaskan Shinhye. Shinhye adalah satu-satunya teman yang saat ini sangat ia percaya. Dan tidak mudah baginya mendengar kalimat perpisahan gadis itu.
Jeongmal jeosonghamnida, Lee Jong Hyun-ssi. Aku hanya tidak bisa fokus pada kuliahku karena harus bekerja di dua tempat yang berbeda. Oleh karena itu akan lebih baik kalau aku melepaskan salah satu pekerjaanku,” kilah Shinhye. “Jeosonghamnida.” Sebenarnya melakukan dua pekerjaan ini tidak dirasanya terlalu sulit. Dia hanya tidak ingin terus berlarut menyukai Jonghyun dan akhirnya malah tidak bisa melupakan Jonghyun.
"Aku akan merasa sangat kehilanganmu, Park Shin Hye-ssi. Aku sungguh telah mempercayaimu. Tapi, aku rasa kau benar. Kuliahmu memang lebih penting. Namun suatu saat kalau kau ingin bekerja kembali denganku. Jangan pernah sungkan untuk melakukannya. Dengan bahagia aku akan menerimamu kembali." Jonghyun berkata dengan kesungguhan yang mampu menyita seluruh perhatian Shinhye.
Saat itu hati Shinhye terusik karena perkataan manis Jonghyun. Shinhye seakan menyesal dengan keputusannya tadi. Tapi apa boleh dikata, keputusannya sudah bulat. Dia tidak boleh terlena oleh tatapan dan kalimat-kalimat manis Jonghyun. Semua itu hanya akan merombak keputusan yang telah diambilnya.
Jonghyun kemudian membisu lama. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi selain menerima keputusan Shinhye.
"Apa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi?" Shinhye ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan ini. Karena dia takut nantinya dia malah akan berubah pikiran kalau terus melihat rautan kekecewaan dari wajah Jonghyun.
Jonghyun yang tadinya membisu, kini menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
"Kau boleh keluar." Jonghyun berusaha menampilkan wajah setengah sumringah. Tapi perubahan air mukanya jelas sekali menampakan kekecewaan.
Keureom–permisi.” Shinhye pamit dan berjalan keluar meninggalkan Jonghyun.
Jonghyun masih duduk terdiam sambil menatap ke arah Shinhye yang telah pergi meninggalkannya.
Shinhye berlalu dari ruang kerja Yonghwa. Dalam hatinya dia sungguh merasakan suatu kelegaan yang membuatnya terus tersenyum lebar. Keputusannya melupakan Jonghyun sungguh adalah keputusan terbaik yang telah diambilnya. Dan dia tidak akan pernah menyesalinya. Mulai hari ini semua urusannya dengan Jonghyun telah diselesaikan.


***
Semenjak Shinhye memutuskan untuk berhenti bekerja pada Jonghyun, setiap kali dia dan Jonghyun berpapasan wajah, tidak ada kalimat yang mereka ucapkan selain membungkuk dan tersenyum. Di pihak Shinhye, dia merasa malu untuk mengajak Jonghyun bicara sejak dia merasa bahwa Jonghyun benar-benar merasa kecewa dan belum menemukan penggantinya semenjak ia memutuskan berhenti bekerja. Sedang Jonghyun sendiri, setiap kali ingin mengajak Shinhye bicara, Shinhye malah terlihat menghindarinya. Jadi dia sendiri bingung harus bicara atau tidak?
"Kudengar kau tidak lagi bekerja pada Jonghyun oppa?" sambut Jiwon ketika tiba di kamar ganti karyawan wanita pada Shinhye yang terlihat sibuk merapikan seragam restaurant-nya.
"Jonghyun yang memberitahumu?" tanya Shinhye retoris.
"Wae?" Jiwon balik bertanya untuk mendapat jawaban dari pertanyaan pertamanya.
Shinhye akhirnya memilih mengalah dan menjawab pertanyaan Jiwon. "Kau lihat sendiri kan jadwal kuliah kita semakin padat. Dan aku rasa untuk sementara, aku harus resign dulu dari salah satu pekerjaanku," ucap gadis yang hebat berdalih ini.
"Kau tidak berpikiran bahwa aku yang keberatan kalau kau bekerja pada Jonghyun, kan?"
Shinhye hanya menjawab dengan gelengan kepalanya.
"Shinhye, aku berani bersumpah kalau aku tidak keberatan kau bekerja dengan..."
"Dwaesseo–sudahlah. Bukan itu alasannya. Jinsimiya–sungguh," sambar Shinhye. "Aku benar-benar hanya ingin fokus pada kuliah dan satu pekerjaan. Itu saja."
Jiwon tidak merespon dan masih terdiam.
"Aku serius, Kim-ssi." Shinhye mencoba meyakinkan Jiwon.
"Benarkah, bukan karena aku penyebabnya?" Tanya Jiwon dengan raut wajah menyelidik.
"BENAR," teriak Shinhye di telinga Jiwon yang membuat gadis manis itu terlihat mengeluh karena telinganya yang mendengung. "Sekarang berhentilah berpikiran masokis dan kembalilah bekerja. Ka!"
Shinhye dan Jiwon kembali bekerja. Dan ketika semua karyawan sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Yoojin masuk ke restaurant. Saat itu, dengan sikap cueknya dia mengacuhkan semua karyawan yang menyapanya dan malah dengan lenggangnya menapaki tangga menuju ruangan Yonghwa. Di sela-sela tapak kakinya, Shinhye dengan cermat memerhatikan gaya berpakaian wanita itu. Bajunya adalah sejenis capes yaitu baju yang memperlihatkan seluruh bahunya. Sedangkan roknya adalah rok mini ketat untuk memperlihatkan tubuhnya yang ramping. Sangat jelas terlihat bahwa gadis itu ingin menimbulkan kesan seksi pada dirinya. Kadang-kadang Shinhye merasa iri dengan tubuh gadis ini. Berharap suatu saat dia juga bisa memiliki tubuh seperti itu. Mengingat perkataan Hyunwoo dulu, bahwa pria cenderung menyukai wanita dengan tampilan seksi.
"Ah.. micheosseo, micheosseo." Shinhye menampis khayalan bodohnya. “Kau sangat jauh dari kesan seksi, Park Shin Hye,” katanya yang kemudian memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.   

Ruang kerja Yonghwa.
Annyeong!” sapa Yoojin yang kemudian masuk ke ruang kerja Yonghwa dan duduk di atas sofa mini yang letaknya di samping meja kerja Yonghwa.
"Kau sibuk?" tanyanya membuka pembicaraan.
"Seperti yang kau lihat. Aku harus menyelesaikan tesisku dalam beberapa bulan terakhir ini. Kenapa kau bertanya hal itu?" ujar Yonghwa yang masih fokus pada laptopnya.
"Aku hanya ingin jalan-jalan denganmu, dan memilih kostum untuk timku di malam peresmian butik baruku."
“Kapan peresmian butikmu?” tanya Yonghwa tanpa mengalihkan pandangan dari laptop-nya.
“Seminggu lagi. Ayolah temani aku berbelanja sebentar.” Yoojin menggelendot manja pada Yonghwa.
"Saat ini aku benar-benar tidak bisa menemanimu. Kau pergilah sendiri, Yoojin-ah. Aku yakin kau bisa memilihnya sendiri."
"Yonghwa-ya, apa kau setega itu membiarkanku berbelanja di kota yang sudah banyak perubahan ini?” Yoojin terus memaksa dengan kata-kata rayuannya.
“Yoojin-ah, aku benar-benar harus menyelesaikan pekerjaan ini secepat mungkin.” Yonghwa tetap bersikukuh untuk menyelesaikan pekerjaannya dan tidak berniat menemani Yoojin. Bukan karena dia ingin mengacuhkan Yoojin, hanya dia benar-benar tidak ingin konsentrasinya terganggu.
“Apa kau tidak takut aku akan tersesat nanti?"
Yonghwa diam dan terlihat memikirkan sesuatu. Beberapa menit kemudian dia keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Yoojin yang bingung karena tiba-tiba diacuhkan.
Begitu tiba di lantai satu restaurant, Yonghwa terlihat celingak-celinguk mencari seseorang. Begitu didapatinya orang tersebut, Yonghwa berjalan mendekatinya dan berkata, "Kau ikut aku ke atas," ujarnya skeptis.
Orang yang diperintah, tanpa banyak protes kemudian mengikuti langkah Yonghwa ke ruang kerja Yonghwa. Begitu Yonghwa dan dia masuk, dengan jelas dia dan Yoojin langsung saling menatap. Yoojin mulai menatapnya dari atas ke bawah, merasa bahwa kedatangannya di tempat ini sangat mengganggu.
"Apa jadwalmu padat hari ini?" Yonghwa bertanya pada sosok yang dipangilnya tadi.
Orang yang ditanya hanya menggeleng.
"Yoojin-ah, kau tidak akan tersesat dengannya," kata Yonghwa dengan tangannya menyentuh pundak orang yang dipanggilnya itu.
"Mworagoya?" kata Yoojin dan orang itu bersamaan dengan mata yang membelalak.
"Jung Yong Hwa, apa kau sudah gila? Aku tidak mau pergi kalau harus dengannya," bantah Yoojin.
"Kudengar kau hobi berbelanja." Yonghwa tidak peduli dengan bantahan Yoojin. "Aku rasa kau dan Yoojin bisa bekerja sama dalam hal ini. Iya kan, Kim Ji Won-ssi?"
Jiwon tidak menjawab. Lebih tepatnya dia bingung apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Yoojin-ah, aku rasa kau bisa pergi bersama dengannya," tawar Yonghwa yang lebih berupa suruhan.
"Micheosseo?" sela Yoojin. "Kenapa aku harus pergi dengan seseorang seperti dia?"
Seseorang seperti dia? Apa maksudnya?” gerutu Jiwon dalam hati.
“Kau bisa pergi dengannya. Aku yakin dia tahu betul tempat berbelanja di Seoul,” ujar Yonghwa sedikit membela Jiwon.
“Tapi, tempat berbelanjanya pasti berbeda denganku,” kata Yoojin dengan nada tak senang.
Jiwon mendengus dalam hati karena mendengar kalimat Yoojin yang sadis. Mulut Jiwon terkatup. Di dalamnya gigi-giginya sedang beradu, sehingga menimbulkan bunyi yang berdecit. Itu berarti dia benar-benar dalam puncak kemarahannya, karena untuk pertama kalinya dia diremehkan oleh orang yang tidak begitu mengenalnya.
“Terserah anda mau pergi denganku atau tidak. Aku yakin meski tanpa kehadiranku pun, anda bisa,” balas Jiwon enteng. Setelah hanya bisa menggertakan gerahamnya tadi, akhirnya Jiwon mampu berbicara membalas perkataan Yoojin. "Anda bukan anak kecil lagi yang harus bergantung pada orang yang lebih tua kan, Kim Yoo Jin-ssi?" Jiwon terlihat puas saat mengatakan hal ini.
"Mwo? Mworagoya?" Yoojin mendengus kesal mendengar kelancangan pelayan Yonghwa terhadap dirinya. Dia terlihat mengambil napas sebelum melancarkan aksi serangan balik. "Jangan pernah membawaku ke pasar loakkan,” kata Yoojin melontarkan kalimat remehan. “Karena itu bukan levelku."
“Kalau kalian setuju untuk pergi bersama, kalian boleh pergi meninggalkan ruangan ini.” Yonghwa memotong pembicaraan mereka sebelum meledak menjadi pertengkaran yang tak berujung pangkal.
"Tentu saja. Kajja!" seruduk Jiwon belum mau mengalah. "Aku tertarik ingin melihat level berbelanjamu, desainer Kim Yoo Jin-ssi."


***
"Aku akan menginap di sini," seruduk Jiwon begitu Shinhye membuka pintu pagarnya.
"Eolgeuri wae keurae–ada apa dengan wajahmu?" Shinhye bertanya karena melihat wajah Jiwon yang tertekuk. “Apa ada sesuatu yang salah?”
Jiwon tidak menjawab malah berjalan masuk ke rumah Shinhye, menuju kulkas dan mengambil air di dalamnya untuk dituangkan ke dalam gelas putih yang dipegangnya. "Omo, penyihir itu benar-benar jahat." Jiwon mengipas-ngipas wajahnya dengan kedua tangannya.
Shinhye mengangguk-angguk seakan mengerti, kemudian berkata, "Dongeng apa yang kau tonton? Putri Tidur? Rapunzel? Ah.. pasti Putri Salju."
"Geumanhae–hentikan!” sergah Jiwon “Yang kubicarakan sekarang adalah penyihir dalam kehidupan nyata."
"Omo, benarkah ada penyihir di kehidupan nyata? Seperti apa rupanya? Apa dia menggunakan tongkat? Wajahnya keriput? Giginya ompong? Atau? Ah.. aku benar-benar penasaran?" tanya Shinhye pura-pura polos. Meski sebenarnya dia hanya ingin menggoda sahabatnya ini.
"Utjima–jangan tertawa!” keluh Jiwon melihat sahabatnya yang malah menertawakannya.  “Penyihir jaman sekarang rupanya benar-benar mirip seperti peri. Wajahnya saja yang terlihat seperti peri. Tapi hatinya. Cis! KIM YOO JIN, napeun gijibeya!" seru Jiwon kesal.
“Kim Yoo Jin? Apa maksudmu Kim Yoo Jin teman bos kita ini?” ujar seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
Jiwon berbalik mencari asal suara itu. “Hyejoon eonnie? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku hanya ingin mengunjungi Shinhye. Sudah lama tidak ke rumah ini,” balas Hyejoon sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. “Apa kau baru saja mengatakan kalau kau tidak menyukai Kim Yoo Jin? Ah.. kita punya satu orang lagi yang membenci dia.”
Eonnie, apa kau juga tidak menyukai Kim Yoo Jin?” ujar Jiwon penasaran.
“Bukan hanya aku. Shinhye bahkan kau pun tidak menyukainya.”
“Shinhye?” tanya Jiwon kaget dengan kenyataan bahwa Shinhye juga tidak menyukai Yoojin. “Kau juga tidak menyukainya?” Jiwon berbalik menatap Shinhye.
Shinhye mengangguk. “Aku tidak suka kalau dia mulai meremehkan orang.”
“Meremehkan? Bukan hanya aku saja yang diremehkan? Kalian juga?” Jiwon tertawa lega mendengar kenyataan pahit yang ternyata bukan hanya dia saja yang mengalaminya. Tapi sahabat dan eonnie kenalannya ini pun mengalami hal yang sama-sama dengannya.


JeResto.
Pagi ini, Shinhye, Jiwon dan Hyejoon duduk menikmati sarapan pagi mereka di ruang karyawan wanita. Seperti kebiasaan wanita pada umumnya, kalau sedang duduk makan pasti ada saja nama seseorang yang dijadikan bahan gosipan.
Eoh, kalian ingat pertama kali dia datang ke JeResto?” tanya Hyejoon dengan sandwich yang memenuhi isi mulutnya.
Jiwon mengangguk.
“Saat itu dia benar-benar seperti seorang peri. Aku bahkan sempat mengagumi kecantikan dan perangainya.” Masih Hyejoon yang bicara.
Nado,” timpal Jiwon. “Dia melenggak-lenggok ke sana kemari menyapa semua karyawan dengan senyuman manisnya. Tapi ternyata semua itu palsu.”
“Aku baru menyadari bahwa perangainya tidak sebaik yang dia tunjukkan di depan Bos. Ketika, kalian ingat saat pertama kali dia datang dan saat itu bos meninggalkanmu di Incheon?” Tunjuk Hyejoon pada Shinhye.
Bayangan dirinya yang ditinggalkan Yonghwa di halte bis kota Incheon kembali berkelabat di pikiran Shinhye. “Aku akan mengingat kejadian itu sampai mati. Bahkan saat aku direinkarnasi kembali pun aku akan tetap mengingatnya.” Shinhye terlihat keki saat mengingat kembali kejadian itu.
“Saat bos meninggalkan restaurant, penyihir itu mendatangiku dan berkata, ke mana Yonghwa?” Hyejoon mulai mempraktikkan cara bicara Yoojin yang terkesan manja itu. “Aku bilang kalau bos sedang ke Incheon menjemput Shinhye karena dompet dan ponsel Shinhye tertinggal di sini. Dia kemudian berkata, ah.. membuat repot saja. Saat itu juga aku ingin mencakarnya, karena dia tidak bisa peka dengan penderitaan orang.” Hyejoon terlihat mengehembuskan nafas saking berapi-apinya dia dalam bercerita. “Apalagi dia selalu sibuk mengomentari gaya berpakaianku. Kata-katanya itu seperti belati menikam jantungku. Katanya aku terlihat seperti ahjumma kalau menggunakan busana itu. Atau aku tidak tahu cara berpenampilan.” Hyejoon sesekali mendengus kesal kemudian berkata, “Dapdapae.”
“Dia sangat membanggakan dirinya yang kuliah fashion itu, sehingga selalu meremehkan orang lain.” Jiwon ikut setuju karena nasib yang sama dialami dia dan Hyejoon. “Kalian tahu apa yang dia lakukan padaku kemarin siang?”
Hyejoon dan Shinhye menggeleng. Jiwon kemudian mulai bercerita setiap detail perbuatan Yoojin padanya kemarin siang.

  

To be continued