"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Selasa, 12 Juli 2016

Rain of Autumn Part 8

Part 8



***
Shinye masuk ke kantor Yonghwa, setelah diberitahu bahwa Yonghwa memanggilnya. Melihat Shinhye berdiri di depannya, Yonghwa jadi gugup setengah mati. Tapi sebisa mungkin, dia mencoba menetralkannya.
"Kemarin kau ke mana?" Yonghwa membuka pembicaraan.
Shinhye yang tadi menunduk akhirnya mengangkat kepalanya. "Aku demam, jadi tidak berangkat kerja."
"Kemarin aku ke rumahmu, tapi kau tidak di rumah. Kau di mana?"
"Rumah sakit," ucap Shinhye berbohong.
"Kau benar-benar pandai berbohong, Park Shin Hye."
"Apa maksudmu?"
"Keluarlah!" perintah Yonghwa. "Hari ini makan sianglah denganku, akan kukatakan apa maksudku."
Ye?”
“Apa kau tidak mengerti Bahasa Korea?” ujar Yonghwa mencoba menutupi rasa gugupnya karena mengajak Shinhye keluar untuk makan siang.
Aniyo. Maksudku..” Shinhye malah ikutan gugup karena tiba-tiba diajak makan siang oleh orang yang tidak dia sangka. “Maksudku, kita biasa juga makan siang di sini.”
“Ada yang ingin kukatakan padamu. Tapi tidak di tempat ini. Ayo kita keluar siang ini.” Ajak Yonghwa yang dari raut wajahnya jelas mengharapkan persetujuan Shinhye tanpa harus bertanya lagi. Karena kalau Shinhye bertanya lagi, sudah jelas Yonghwa tidak akan bisa berkata apa-apa lagi.
"Tapi aku harus bertemu Jonghyun-ssi, siang ini?" Shinhye mulai mencari alasan. Dia hanya tidak mau terlihat semudah itu menerima ajakan Yonghwa.
"Tidak ada alasan lain. Kau harus keluar denganku." Yonghwa bersikukuh harus keluar dengan Shinhye siang ini.
Shinhye tersentak mendengar penuturan Yonghwa. Tapi akhirnya dia memilih untuk mengiyakan. Karena dia sendiri juga penasaran apa yang ingin Yonghwa bicarakan nanti.

***
"Siapa yang kau namai meongcheongi pada contact person di ponselmu?" Yonghwa membuka pembicaraan, begitu mereka tiba dan duduk di kursi restaurant yang dituju sebelumnya.
"Apa maksudmu?" Shinhye bingung dengan tudingan Yonghwa yang tiba-tiba. Baru saja dia melesakkan pantatnya di atas kursi restaurant itu. Tapi dia langsung ditanyai hal yang aneh oleh Yonghwa.
"Park Shin Hye, kau masih terlalu muda untuk mengidap alzeimer. Katakan padaku nomor kontak siapa yang kau namai meongcheongi?”
"Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudmu?"
Ya, mengapa kau lupa semua hal yang telah kau lakukan?"
Shinhye mendengus mulai kesal dengan kelakuan Yonghwa. “Aku bilang aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan. Kalau kau mengajakku makan siang untuk membahas hal yang bahkan tidak kumengerti, lebih baik aku tidak usah menyetujui permintaan makan siangmu tadi.”
"Apa kau benar-benar tidak mengerti atau kau tidak ingat?" Yonghwa berdecak heran.

***
Flashback
Warung tenda di pinggir jalan ini adalah tempat minum soju terbaik versi Shinhye.
Setelah duduk, dan menerima pesanan soju beserta daging panggangnya, dia mulai menghabiskannya. Sebotol soju habis diminum, Shinhye langsung mabuk. Kadang-kadang dia bersendawa, setelah itu menertawai dirinya kembali. Dan akhirnya, kepalanya jatuh terkulai di atas meja. Pemilik warung tenda jadi bingung apa yang harus dia lakukan pada Shinhye. Berulang-ulang kali dia mencoba membangunkan Shinhye, tapi tidak ada respon dari Shinhye.
"Agassi–nona. Agassi." Wanita pemilik warung tenda itu menggoyang-goyangkan tubuh Shinhye. Karena Shinhye tidak merespon, dia memutuskan untuk menelepon salah satu nama kerabat yang ada di ponsel Shinhye.
"Siapa yang harus kuhubungi?" tanyanya bingung melihat begitu banyak nomor kontak dalam ponsel Shinhye. Wanita pemilik warung itu menyentuh layar keypad ponsel Shinhye mencari nama kerabat dekat Shinhye, entah itu appa, eomma atau keluarga yang bisa dihubungi. Tapi tidak satu pun dia temui. Akhirnya dia memutuskan membuka isi pesan Shinhye, mungkin dari situ dia bisa menemukan seseorang yang paling dekat yang bisa dihubungi. Yang dia dapati di pesan masuk pertama adalah isi pesan dari orang yang bernama meongcheongi. Dengan isi pesan, kau di mana sekarang?
Sejenak si pemilik warung tersenyum geli membaca nama itu. Secepatnya dia langsung menghubungi pemilik nomor tersebut. Dua puluh menit berlalu, kemudian si pemilik nama meongcheongi itu tiba di warung tenda yang Shinhye kunjungi.
"Eoh, apa kau kenal nona ini?” kata bibi pemilik warung menunjuk Shinhye yang duduk dengan kepala terkulai di atas meja.
“Ya, aku mengenalnya. Aku yang anda hubungi tadi.”
“Untung kau datang. Kau benar-benar kekasih yang baik hati.”
"Apa maksud anda? Kekasih?"
"Kau bukan kekasihnya?" Wanita pemilik warung itu terlihat berpikir sejenak.
Pria itu mengangguk.
"Tapi dia menamaimu meongcheongi. Aku pikir itu panggilan sayang untuk kekasihnya. Seperti juga anakku yang menamai kekasihnya meongcheongi di ponselnya." Bibi pemilik warung tersenyum saat mengatakan kata meongcheongi.
Pria itu hanya menahan nafas, dongkol dengan istilah 'bodoh' yang diberikan untuknya.
"Saat mabuk dia terus memanggil nama Jong, Jong, entah siapa itu. Dan setelah sebotol soju habis diminumnya, dia tertidur pulas seperti itu."
"Maaf telah merepotkan anda, ahjumoni. Terima kasih telah membantu."
"Chamkamanyo!" Bibi pemilik warung tenda menahan pria yang baru saja akan menggendong Shinhye. "Kalau boleh tahu siapa anda? Maaf, hanya untuk memastikan nona ini kembali dengan selamat."
"Tenang saja, aku bos-nya dan dia karyawanku.” Yonghwa berusaha meyakinkan wanita tua yang khawatir dengan pelanggannya itu.
“Bos?”
Yonghwa menyerahkan kartu namanya pada si wanita pemilik warung. Restaurant kami tidak jauh dari sini. Kalau anda tidak percaya, anda boleh datang besok dan mengeceknya sendiri."
"Jung Yong Hwa." Bibi itu membaca nama pria yang menyerahkan kartu namanya padanya.
"Baiklah, kali ini aku percaya padamu, conggak–anak muda."
"Gomapseunimda, ahjumoni. Kami pergi dulu." Yonghwa menggendong Shinhye di pundaknya dan berjalan meninggalkan warung tenda itu.
"Josimhae–hati-hati!" ucap bibi pemilik warung tenda.
Flashback ends

Yonghwa menutup ceritanya dan menatap tajam ke arah Shinhye. "Apa kau tidak khawatir, kau yang sebelumnya berada di warung tenda tapi tiba-tiba bisa berada di kamarmu sendiri?"
Sepertinya Shinhye mulai mengerti ke mana arah pembicaraan  Yonghwa. "Sebelumnya aku sendiri bertanya-tanya, tapi saat bangun pagi tubuhku terasa baik-baik saja seperti biasanya. Aku yakin yang mengantarku pasti orang baik. Karena itu kau yang mengantarku, gomapda," ucap Shinhye polos.
Yonghwa menggeleng-geleng dan berkata, "Bagaimana dengan istilah meongcheongi yang kau namai untukku? Apa aku terlihat dungu sampai kau menamaiku begitu?" ujar Yonghwa ketus.
Shinhye salah tingkah, tidak tahu harus menjelaskan apa. Dia menggaruk-garuk kepala
nya kemudian berpindah ke telinganya.
Yonghwa sendiri malah memasang wajah menuntut.
"Mianhae." Hanya kata maaf yang bisa Shinhye ucapkan karena dalam hal ini dia benar-benar merasa bersalah. Kali ini dia tidak bisa membela diri seperti yang biasa sering dia lakukan terhadap Yonghwa.
"Mianhae?" Wajah Yonghwa berubah kesal. “Apa hanya mianhae yang bisa kau ucapkan?”
"Arasseo, arasseo. Aku akan mengganti namamu dengan bos Jung." Shinhye mengambil ponselnya dari dalam saku celana jeans-nya.
"Dwaesseo. Biarlah seperti itu. Karena aku juga akan mengganti namamu dengan babbo–bodoh," kata Yonghwa sambil mengangkat ponselnya.
"Ya, Yonghwa-ssi, kau tidak bisa seenaknya menamaiku seperti itu."
"Kau sendiri?"
"Aku kan berniat menggantinya."
"Itu karena ketahuan olehku."
Shinhye hanya bisa menatap Yonghwa kesal begitu Yonghwa memperlihatkan nomor ponsel Shinhye yang telah berganti nama menjadi babbo di ponsel Yonghwa.
"Neomu, neomu, neomu bulkoaehae–sangat, sangat, sangat menjengkelkan?" ejek Yonghwa.
Sekali lagi, Shinhye memasang wajah kesal. Tapi Yonghwa malah tertawa melihat wajah Shinhye yang seperti kepiting rebus kalau sedang marah.
Melihat Yonghwa yang begitu manis saat dia tertawa, jantung Shinhye yang malah jadi berdetak tak karuan. Dia terpana dengan senyuman dan tawa Yonghwa yang begitu manis. Sampai-sampai dia pun ikut tertawa bersama Yonghwa.
"Waeyo?" tanya Yonghwa karena Shinhye bukannya marah tapi malah ikut-ikutan tertawa.
"Ani." Shinhye menggeleng-geleng. "Habiskan saja makan siangmu."

***
Pagi ini Jonghyun bersiap-siap ke JeResto. Kali ini dia yakin apa pun yang menjadi tujuannya datang ke restaurant ini pasti berhasil. Apalagi tujuannya kalau bukan tentang Jiwon. Hampir seminggu dia belajar cara mengungkapkan cinta lewat Shinhye. Karena dengan Shinhye, dia lebih mudah melakukannya. Oleh karena itu, dia meminta Shinhye kali ini untuk membantu. Berkat Shinhye, Jonghyun akhirnya mudah belajar mengungkapkan perasaannya untuk Jiwon. Dan kali ini, dia sudah bersiap-siap melakukannya. Pertama-tama dia berniat ke restaurant dan kemudian akan mengajak Jiwon keluar untuk jalan-jalan. Pastinya, dia sudah meminta ijin Yonghwa sebelumnya untuk membawa karyawan Yonghwa keluar saat jadwalnya bekerja. Dan niatnya disambut Yonghwa positif pastinya, karena dengan cara ini Yonghwa yakin Jonghyun tidak akan mengganggu Shinhye apalagi sampai menyukai Shinhye. Meski sebenarnya dia tidak tahu kalau Shinhye selama ini yang menyukai Jonghyun bukan sebaliknya.

At JeResto
Jonghyun masuk dengan kaos dan setelan jas pinknya. Gaya santainya memperlihatkan dirinya yang sangat tampan.
"Eosseo Osseyoselamat datang," sapa Minho, karyawan pria yang berdiri di depan pintu masuk.
Jonghyun balik menyapanya dan langsung masuk mencari Jiwon.
Orang yang dicari langsung keluar menemui Jonghyun begitu diberitahu salah satu teman pelayannya. Begitu keluar dan menemui Jonghyun, Jiwon sendiri kaget untuk apa Jonghyun datang menemuinya pagi ini. Pertanyaan itu langsung saja dia tanyakan pada Jonghyun. "Annyeonghaseyo, Jonghyun-ssi. Mereka bilang anda datang menemuiku? Apa benar?"
Jonghyun mengangguk.
"Ada apa?"

***
Pagi ini Shinhye datang lebih awal karena siangnya dia ada jadwal kuliah, oleh karena itu dia memilih datang bekerja terlebih dahulu. Begitu menuju ruang ganti, dia melihat Jiwon sedang berdiri melamun di depan lokernya. Sepertinya ada sesuatu serius yang sedang dipikirkan Jiwon.
"Jiwon-ah, apa yang sedang kau pikirkan?"
tegur Shinhye.
Jiwon kaget dari lamunannya dan melihat Shinhye sudah berdiri di sampingnya.
"Eoh, kau. Kapan sampai?"
"Baru saja. Ada apa denganmu? Kau terlihat murung tadi."
"Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja. Cepatlah ganti pakaianmu dan ke depan. Aku duluan." Jiwon berjalan meninggalkan Shinhye.

***
Setelah menyelesaikan shift di JeResto, Park Shin Hye dan Kim Ji Won langsung berangkat menuju kampus mereka karena siang ini mereka punya jadwal kuliah.
Di kelas, Shinhye dan Jiwon memilih untuk keluar belakangan begitu mata kuliah profesor Han berakhir.
"Shinhye-ya, ada yang ingin kubicarakan denganmu," kata Jiwon pada Shinhye yang duduk di sampingnya.
Shinhye mengangguk mempersilahkan Jiwon untuk menyampaikan apa yang ingin Jiwon sampaikan.
"Orang itu, maksudku Jonghyun-ssi. Apa kau menyukainya?"
Mata Shinhye terbelalak mendengar pertanyaan Jiwon.
"Museun soriya?" tanya Shinhye pelan berusaha menetralkan kekagetannya.
"Jonghyun-ssi, apa kau menyukainya?" ulang Jiwon.
Shinhye bingung harus menjawab apa. Dia masih diam memikirkan jawaban terbaik untuk diberikan.
Jiwon menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali.
"Kalau kau menyukainya..."
Perkataan Jiwon langsung dipotong Shinhye. "Aniyo. Ani. Aku tidak pernah menyukai dia.” Tangan Shinhye melambai-lambai di udara. Hubunganku dengan Lee Jong Hyun-ssi, hanya sebatas bos dan asistennya. Tidak ada yang spesial." Shinhye berusaha meyakinkan Jiwon. "Gotjimall–bohong. Aku tahu kau menyukainya. Kelihatan jelas dari matamu."
"Jiwon-ah, kenapa kau berpikiran seperti itu? Aku serius tidak menyukai Jonghyun. Karena ada orang lain yang kusukai." Shinhye mulai berkilah untuk lebih meyakinkan Jiwon.
"Jinsimiya–serius? Ada orang lain yang kau sukai? Siapa dia?"
Shinhye bingung tidak tahu harus menjawab apa.
"Ah, Shinhye-ya, jangan-jangan kau menyukai bos kita yang baru? Jung Yong Hwa? Kau sering keluar bersama dia, aku yakin kau pasti menyukainya.” tebak Jiwon.
"Eyy. Aku tidak mungkin menyukainya. Sifatnya terlalu buruk untuk kusukai. Shireo." Shinhye menggeleng-geleng.
"Kalau begitu siapa yang kau sukai?" Jiwon terlihat memaksa.
"Aku, aku….
Nugu?” Jiwon semakin memaksa.
“Aku menyukai Hyunwoo," kilah Shinhye. Dia terpaksa berbohong seperti itu karena takut ketahuan Jiwon kalau dia juga menyukai Jonghyun.
"Lee Hyun Woo? Jeongmal? Dia kan hoobae-mu–juniormu. Bagaimana mungkin?" Jiwon menggeleng-geleng tidak percaya.
"Aku serius mengatakannya. Aku menyukai hoobae itu. Apa salah?"
"Ah, benar-benar tidak bisa dipercaya. Tapi, Shinhye-ya, kalau kau memang menyukainya, kenapa tidak kau katakan saja padanya?"
"Shireo. Aku masih memegang teguh pendirianku untuk tidak mengungkapkan perasaanku pada seorang pria terlebih dulu."
"Tapi apa kau tidak capek menyembunyikan perasaanmu? Lee Hyun Woo juga perlu tahu perasaanmu padanya, dengan begitu kau tidak perlu susah-payah menyimpan perasaanmu sendiri."
"Piryeopseo. Dia tidak perlu tahu perasaanku. Cukup aku saja yang tahu. Dan kau, Jiwon-ah, jangan coba-coba kau katakan pada Hyunwoo tentang perasaanku. Kalau tidak kau akan mati. Arasseo?"
"Ne. Arasseo. Aku tahu suatu saat, kau pasti bisa mengungkapkan perasaanmu pada Lee Hyun Woo."
Shinhye mengangguk-angguk pura-pura mengerti.
"Tapi, Jiwon-ah ada maksud apa tiba-tiba kau bertanya tentang aku yang menyukai Jonghyun?" tanya Shinhye pura-pura tidak mengerti dengan tingkah aneh Jiwon yang tiba-tiba menanyakan kenapa dia menyukai Jonghyun. Meski dia yakin bahwa Jonghyun pasti sudah mengungkapkan perasaannya pada Jiwon, oleh karena itu Jiwon tiba-tiba bertanya hal itu padanya. Shinhye yakin bahwa Jiwon pasti takut kalau saja dia memberikan jawabannya pada Jonghyun, tapi malah akan membuat dia jauh dari Shinhye. Karena Jiwon sangat khawatir kalau kemungkinan besar Shinhye juga menyukai Jonghyun.
Beberapa jeda yang Jiwon buat dengan menghirup dan menghembuskan udara dari hidung dan mulutnya. Setelah itu dia mulai bercerita semua hal yang Jonghyun katakan padanya. Jiwon mulai bercerita semuanya dengan rinci pada Shinhye, sahabatnya sejak kecil.

***
Jonghyun masuk dengan kaos dan setelan jas pinknya. Gaya santainya memperlihatkan dirinya yang sangat tampan.
"Eosseo Osseyo," sapa Minho salah satu pelayan pria yang berdiri di dekat pintu masuk.
Jonghyun balik menyapanya dan langsung masuk mencari Jiwon.
Orang yang dicari langsung keluar menemui Jonghyun begitu diberitahu salah satu teman pelayannya bahwa ada yang datang menemuinnya.
Begitu keluar dan menemui Jonghyun, Jiwon sendiri kaget untuk apa Jonghyun datang menemuinya. Pertanyaan itu langsung saja dia tanyakan pada Jonghyun.
"Annyeonghaseyo, Jonghyun-ssi. Mereka bilang anda datang menemuiku? Apa benar?"
Jonghyun mengangguk.
"Ada apa?"
"Apa kau punya waktu untuk makan siang denganku?" ucap Jonghyun tanpa basa-basi.
Jiwon mengangkat alisnya tandanya dia sedang bertanya melalui gerakan tubuhnya.
Jonghyun meresponnya dengan berkata, "Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Apa kau punya waktu?"
"Tapi aku harus minta ijin dulu pada…."
Jonghyun memotong pembicaraan Jiwon, "Tenang saja, aku sudah minta ijin pada Yonghwa. Dan dia mengijinkanmu untuk keluar denganku. Sekarang kau punya waktu kan untuk keluar bersamaku?"
Jiwon belum mengiyakan, tapi Jonghyun sudah menggenggam pergelangan tangannya dan membawanya keluar dari restaurant.

 ***
"Kita akan ke mana?" tanya Jiwon membuka pembicaraan yang dari tadi diisi oleh kekosongan.
"Kau akan tahu saat kita tiba di sana," jawab Jonghyun dengan senyuman yang dari tadi terus terpancar di wajah tampannya itu.
Beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat yang Jonghyun tuju. Namsan Tower. Tempat romantis ini yang dipilih Jonghyun. Tanpa basa-basi, Jonghyun mengajak Jiwon mengunjungi museum Teddy Bear. Untuk mencapai museum tersebut, mereka harus naik cable car yang ada di situ. Sedang menunggu cable car, jantung Jiwon hampir tidak berhenti berdegup karena di sekitarnya hanya berisikan pasangan yang sedang kencan. Pipi Jiwon bersemu merah setiap kali menoleh pada Jonghyun yang sedang berdiri tegap di sampingnya.
"Lee Jong Hyun-ssi, terimakasih untuk semua ini. Tapi menurutku sebaiknya kita tidak usah ke sini?"
"Hmm? Waeyo?"
"Apa kau tidak lihat di sekitar kita hanya berisikan pasangan yang sedang kencan?" bisik Jiwon.
"Kalau begitu anggap saja kita berdua adalah pasangan yang sedang kencan."
Mata Jiwon membulat besar mendengar penuturan Jonghyun.
Begitu kereta gantung tiba di depan mereka, tanpa meminta persetujuan Jiwon, Jonghyun menarik tangan Jiwon dan masuk ke dalam kereta gantung.
"Kim Ji Won-ssi," bisik Jonghyun pada Jiwon. "Apa salah kalau aku naik kereta gantung dengan calon kekasihku?"
Jiwon terkejut dengan pertanyaan sekaligus pernyataan Jonghyun. Dia berbalik dan menatap Jonghyun seakan bertanya tentang pertanyaan dan pernyataan Jonghyun yang mengejutkan itu. Jonghyun tidak merespon dengan serius. Dia malah memasang tampang manis dengan mengerutkan kening dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Hal itu membuat Jiwon ingin sekali mencubit pipi pria ini. Setelah turun dari kereta gantung, mereka menuju langsung menuju museum Teddy Bear.
"Kenapa kau membawaku ke tempat ini?" tanya Jiwon dengan kening berkerut meskipun dia bahagia karena Jonghyun membawanya ke tempat favoritnya.
"Aku dengar kau sangat menyukai beruang Teddy. Oleh karena itu, aku membawamu ke sini." Jonghyun menunjuk berbagai jenis beruang Teddy yang terpajang di museum Teddy Bear tempat dia dan Jiwon berkunjung.
"Eoh.” Jiwon berjalan selangkah meninggalkan Jonghyun. Dia mulai menyentuh setiap beruang Teddy yang terpajang di museum itu. “Wah.. daebak. Ada banyak koleksi baru yang terpajang.” Jiwon menggeleng-geleng kagum dengan koleksi terbaru museum Teddy Bear di Namsan Tower yang baru dilihatnya.
"Apa kau senang?" ujar Jonghyun tersenyum melihat reaksi bahagia Jiwon.
Jiwon tersentak. Dia baru menyadari bahwa saat ini dia tidak datang sendiri. “Eoh, jeosonghamnida.” Jiwon membungkuk meminta maaf pada Jonghyun. “Karena aku sangat bahagia, aku bahkan lupa kalau kau ada bersamaku. Maafkan aku. Aku hanya terbawa suasana. Maafkan aku.”  Sekali lagi dia membungkuk. “Aku hanya tidak punya kesempatan untuk mengunjungi tempat ini. Karena itu aku banyak ketinggalan. Dan akhirnya malah terbawa suasana ketika melihat koleksi terbarunya. Mianhaeyo.”
"Apa kau senang?" Jonghyun bertanya pertanyaan yang sama sekali lagi.
Gomawoyo, Jonghyun-ssi. Aku sangat bahagia."
“Aku bahagia kalau kau menyukainya.”
Jiwon tertawa simpul tanpa banyak berkata lagi.
Jonghyun ikut tertawa. “Apa setelah ini kau ingin ikut aku ke suatu tempat?” tanya Jonghyun ragu-ragu.
Jiwon mengangguk dan tersenyum. Lee Jong Hyun ikut tersenyum bersama Jiwon.
Setelah puas mengunjungi museum Teddy Bear di Namsan Tower. Jonghyun mengajak Jiwon makan di restaurant. Mereka mengunjungi balkon ke empat di mana terdapat restaurant berputar. Di restaurant itulah Jonghyun mengungkapkan perasaannya pada Jiwon. Tapi sedikit kekecewaan yang dia terima, karena Jiwon belum bisa membalas perasaannya sekarang. Dengan alasan dia membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan jawabannya. Meski sebenarnya, pertimbangan Jiwon adalah dia takut kalau kecurigaannya tentang Shinhye yang juga menyukai Jonghyun adalah benar. Dan kalau sampai tindakannya yang gegabah ingin menjadi kekasih Jonghyun membuat Shinhye sakit hati, dia akan sangat menyesalinya. Jiwon tidak ingin pilihannya untuk menerima pernyataan cinta dari Jonghyun, tanpa konfirmasi sebelumnya pada Shinhye malah akan merusak persahabatannya dengan Shinhye yang telah dibangun selama tiga belas tahun itu. Oleh karena itu, dengan berat hati dia menggantung pernyataan cinta Jonghyun saat itu.

***
Mendengar cerita Jiwon, Shinhye yang jadi geregetan ingin menjewer telinga sahabatnya ini.
"
Micheosseo? Pria setampan dan sebaik Lee Jong Hyun itu, kau gantungkan? Dan alasannya karena aku? Ya, KIM JI WON, A-KU sama sekali tidak menyukai Jonghyun-ssi." Shinhye menekan nada bicaranya pada kata aku, agar terlihat dia serius mengatakannya. "Sekarang juga kau harus bilang pada Jonghyun semua tentang perasaanmu?" Shinhye mengambil ponsel Jiwon dalam tas Jiwon dan hendak menelepon Jonghyun. Tapi Jiwon menahannya. "Hajjima. Aku akan mengurus semua itu. Kau tenang saja. Ara?" Jiwon mengatakannya dengan senyuman lega. Hari ini dia telah mengetahui seperti apa perasaan Shinhye yang sebenarnya. Dia sangat bersyukur sahabatnya ini tidak menyukai orang yang sama dengan yang disukainya.
Shinhye tersenyum meski di dalam hati, hujan musim gugur sudah menetes duluan di hatinya sebelum akhirnya turun dan membasahi bumi. Dia benar-benar sakit hati mendengar perlakuan istimewa yang Jonghyun berikan pada Jiwon. Dia cemburu. Tapi semua itu hanya bisa dia tahan dalam hati. Dia tidak ingin Jiwon tahu dan akhirnya malah membuat Jiwon menderita.

***
Malam itu juga Jiwon mengajak Jonghyun keluar. Setelah mereka bertemu di cafè di daerah Gangnam, dekat tempat tinggal Jonghyun. Jiwon mulai mengatakan semua yang ada dalam hatinya. Dan sekaligus menjawab perasaan Jonghyun.
"Lee Jong Hyun-ssi, bisakah aku memanggilmu Jonghyun saja?"
Jonghyun mengangguk mantap, tandanya dia setuju.
"Jonghyun, nado."
"Nado wae?" tanya Jonghyun pura-pura tidak tahu.
"Nado saranghae," jawab Jiwon malu-malu.
Mereka berdua tertawa bahagia malam itu seakan tidak ada yang mampu menandingi kebahagian mereka.
Setelah mendengar jawaban Jiwon, Jonghyun merasa sangat bahagia. Dengan spontan, dia menggenggam erat tangan Jiwon yang ada di atas meja café.
“Kau dengar nona Kim, sekarang kau adalah kekasihku. Jadi mulai saat ini cobalah untuk saling membahagiakan. Ne?”
Jiwon mengangguk mantap sebagai jawaban.


TO BE CONTINUED