Part 7
***
"Shinhye-ya,"
panggil Jiwon begitu
melihat Shinhye keluar dari gerbang kampus.
Shinhye menoleh dan mendapati Jiwon sudah berjalan di
sampingnya.
"Kemarin Lee Jong Hyun-ssi mengajakku makan malam."
Shinhye mengangguk, "Dia sudah menceritakan padaku
kemarin."
"Kau tidak marah kan?"
"Marah untuk apa? Itu haknya mengajak siapa pun
makan siang."
"Aku bingung, kenapa dia tiba-tiba mengajakku? Kami
kan baru saja kenal.” Jiwon terlihat sedang mencari jawabannya sendiri. “Tapi
tidak apa-apa, Lee Jong Hyun-ssi
orang yang sangat menyenangkan. Aku sangat terhibur dengan candaannya."
Jiwon-ah, apa kau
tahu, aku juga mengalami hal yang sama?
Aku sangat terhibur dengan candaan,
senyum, tawa bahkan semua hal tentang dirinya.
Semua dalam dirinya membuatku semangat menghadapi hari. Lalu kenapa sekarang
kau juga mengalami hal yang sama? Jiwon-ah, aku tidak ingin suatu saat nanti kita mungkin harus berkompetisi
mendapatkan dia.
"Eoh, Park Shin Hye, akhir-akhir ini kau sering melamun. Apa
yang kau pikirkan? Apa ada masalah?" kata-kata Jiwon membuat
Shinhye terenyak dari lamunannya.
Shinhye menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya lelah. Dan sepertinya hari
ini aku tidak bisa bekerja. Kau tolong minta ijinlah untukku."
At JeResto
Yonghwa masuk ke restaurant
dengan wajah gembira. Sudah beberapa minggu entah setan apa yang merasukinya hingga
akhir-akhir ini dia lebih rajin masuk kerja. Tidak seperti dulu, dia sering
datang sesuka hatinya.
"Selamat pagi, bos!" sapa beberapa karyawan
yang melihatnya masuk.
Yonghwa menyapa balik. Sesudah
itu dia celingak-celinguk mencari seseorang, tapi seseorang itu tidak dia
temui.
"Di mana manajer Yoo?" tanya Yonghwa pada Hyejoon yang
kebetulan lewat di depannya.
"Di ruangannya."
Yonghwa berjalan menuju ruangan manajer Yoo. Begitu masuk, tanpa berbasa-basi Yonghwa langsung mengutarakan
pertanyaannya.
"Ahjussi,
di mana Park Shin Hye? Apa dia belum masuk? Atau hari ini dia tidak
masuk?"
"Jiwon bilang Shinhye sedang sakit. Jadi kubiarkan dia beristirahat dulu."
Tanpa mendengar penjelasan selanjutnya, Yonghwa pamit
pada manajer Yoo dan
pergi dari restaurant. Dia menuju tempat mobilnya diparkir, menyalakan mesin
dan pergi ke suatu tempat.
***
Shinhye kaget begitu membuka pintu pagar
rumahnya dan melihat Yonghwa sedang
berdiri di depannya.
"Ya, apa yang kau lakukan di sini?"
"Bertemu klien di daerah sini. Kebetulan dekat
rumahmu, jadi aku mampir saja. Kau sendiri, kenapa tidak masuk kerja? Sakit?
Wajahmu tidak pucat. Kau terlihat baik-baik saja."
"Aku hanya sedikit lelah, jadi perlu istirahat
dulu."
"Kau tidak mengundangku masuk dulu?"
Shinhye membuka pagarnya dan membiarkan Yonghwa masuk ke
rumahnya.
"Kau mau minum apa?"
"Air putih cukup."
Shinhye ke dapur dan kembali dengan segelas air putih di
tangannya kemudian
meletakkannya di atas meja.
"Apa ini?" kata Yonghwa dan mengambil sebuah diary dengan cover hijau clover yang terletak di atas meja.
Begitu melihat Yonghwa akan membuka diary itu, Shinhye berlari dan ingin merampas balik diary itu. Tapi karena terantuk oleh
kaki meja, dia malah menabrak kaki Yonghwa, terantuk dan malah menindih Yonghwa yang tadinya duduk
bersila. Posisi
Yonghwa sekarang ada di bawah dengan Shinhye yang menindihnya dari atas. Wajah keduanya saling menatap. Dan
sangat jelas wajah kedua orang itu merah padam. Shinhye yang malu langsung
bangkit berdiri. Begitu juga dengan Yonghwa.
"Sepertinya kau butuh istirahat. Aku pulang
dulu," kata Yonghwa dengan tingkah yang kelihatan jelas, dia sangat gugup.
Oleh karena itu, dia memilih untuk pergi dari rumah Shinhye.
***
"Ppalli!"
perintah Yonghwa.
"Ya,
bagaimana bisa kau menyuruhku cepat kalau barang-barang yang kubawa banyak
sekali?" omel Shinhye sambil berusaha menjinjing beberapa kantung plastik
belanjaan di tangannya.
"Karena tiba-tiba dosenku memanggilku, oleh karena itu aku tadi tidak sempat mengantar belanjaan itu langsung ke restaurant dan membawa semua itu ke kampus. Kau jangan curiga aku sembarang memerintahmu. Itu semua keperluan restaurant kita. Di restaurant stoknya sudah abis. Aku sendiri yang membelinya. Jadi sekarang giliranmu membawanya."
"Karena tiba-tiba dosenku memanggilku, oleh karena itu aku tadi tidak sempat mengantar belanjaan itu langsung ke restaurant dan membawa semua itu ke kampus. Kau jangan curiga aku sembarang memerintahmu. Itu semua keperluan restaurant kita. Di restaurant stoknya sudah abis. Aku sendiri yang membelinya. Jadi sekarang giliranmu membawanya."
Yonghwa berjalan di depan dengan tangan kosong tanpa
menjinjing satu kantung pun.
"Cepatlah!" timpal Yonghwa.
Shinhye hanya bisa menatap Yonghwa dengan
tatapan kesal. Dia benar-benar ingin menutup mulut pria di depannya ini dengan
selotip. Agar Yongwa tidak
lagi memerintah bak seorang bos, tanpa
memedulikan dia yang
lelah selama perjalanan karena terus menjinjing beberapa kantung belanjaan ini.
“Ya, kau harus mengurangi berat badanmu
agar kau berjalan lebih cepat.” Tanpa membantu Yonghwa malah terus mengomeli
Shinhye.
"Aniyo.
Jangan terus memerintahku. Aku
capek." Shinhye tiba-tiba membanting belanjaan di depan Yonghwa. Dia
berjongkok di depan belanjaan-belanjaan itu dan menatap Yonghwa dengan tatapan
kesal.
"Ya, apa
kau tidak lihat banyak orang sedang lalu lalang? Jangan bertingkah memalukan.
Bangun dan angkat belanjaan itu,"
kata Yonghwa dengan mulut yang
sedikit terkatup.
"Aku seperti ini karena lelah, kau tahu?"
"Nado. Aku
juga lelah waktu di supermarket
karena harus menjinjing benda-benda itu sendiri."
"Kenapa hanya aku yang kau panggil untuk menjinjing benda-benda ini?"
"Kalau begitu siapa lagi?" Yonghwa tidak menjawab tapi
malah balik bertanya.
“Masih ada karyawan lain di JeResto
selain aku. Lalu kenapa harus aku
seorang?"
"Huh!” Yonghwa mendengus. "Karena lebih baik kau yang melakukannya," jelas Yonghwa.
"Huh!” Yonghwa mendengus. "Karena lebih baik kau yang melakukannya," jelas Yonghwa.
"Apa kau sedang mengerjaiku?"
"Museun
soriya?"
"Aku berpikir kau benar-benar sedang mengerjaiku.
Kenapa mobilmu tiba-tiba macet?" Shinhye mengeluh karena mobil Yonghwa
yang macet tiba-tiba dan macetnya lagi tidak jauh dari restaurant
mereka. "Apa kau yang mengaturnya agar kau bisa puas menyiksaku? Kau benar-benar menjengkelkan." Shinhye kemudian berdiri dengan tampang
cemberut. "Ada banyak taksi yang lewat tadi, kenapa tidak kau tahan dan kau bawa
barang-barang ini?"
"Kau benar-benar orang yang tidak tahu bersyukur.
Sudah untung kau ke sini tadi dengan mobilku. Tapi masih saja mengeluh."
"Jarak mobilmu macet sampai ke restaurant itu cukup jauh. Tapi kenapa hanya aku yang menjinjing
semua benda-benda ini? Kau? Apa yang kau lakukan? Berjalan dengan tangan kosong
dan terus berkoar-koar di depan bagai seorang bos besar, huh? Benar-benar
egois."
“Ya, apa yang kau katakan tadi?” Yonghwa mendengus kesal. "Ah, michigetda. Ya," teriak Yonghwa.
Shinhye tersentak kaget.
"Kalau kau tidak mau membawanya, biar aku saja
yang melakukannya. Tapi bisakah kau
berhenti menuduhku sedang mengerjaimu?" bentak Yonghwa. Kemudian dia
mengangkat kantung-kantung belanjaan tadi dan berjalan meninggalkan Shinhye
yang masih melongo karena sentakan Yonghwa barusan.
"Meongcheongi–bodoh."
Yonghwa memaki hatinya karena kemauan hatinya yang tiba-tiba ingin bertemu
Shinhye membuat dia melakukan hal yang dia sendiri bingung kenapa dia harus
melakukannya.
Di
sepanjang perjalanan Shinhye hanya
mengekori Yonghwa dari belakang
sampai mereka tiba di JeResto.
"Eoh, bos?
Apa yang kau bawa?" tanya Donghyun salah satu pelayan pria di restaurant. Dia mengangkat semua
belanjaan dari tangan Yonghwa. "Ahh, berat sekali bos." Donghyun lalu
mengintip isi belanjaannya. "Apa ini? Daging sapi, mie kering." Donghyun mulai menyebutkan semua isi belanjaan
satu persatu. "Semua ini masih
penuh di kulkas bos."
Shinhye membelalak mendengar pernyataan Donghyun. “Semua
belanjaan tadi masih penuh di kulkas? Dia
bilang stoknya habis? Apa dia baru saja mengerjaiku?”
"Jeongmal?
Aku pikir stoknya sudah habis. Baguslah, kalau masih penuh. Aku ke ruanganku
dulu." Yonghwa kabur dari tatapan marah Shinhye.
Beberapa menit baru berada di ruangannya tanpa permisi
seseorang masuk ke ruangannya. Dan seperti yang dikiranya, Shinhye pasti datang
membuat perhitungan dengannya.
"Jung Yong Hwa-ssi, apa kau puas mengerjaiku?" tanya Shinhye retoris.
"Jung Yong Hwa-ssi, apa kau puas mengerjaiku?" tanya Shinhye retoris.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Yonghwa
pura-pura bodoh.
"Kau benar-benar pandai berakting, Jung Yong Hwa-ssi. Aku benar-benar tidak percaya kau
masih membenciku. Kalau bukan karena presdir yang memintaku bertahan di sini,
aku mungkin sudah pergi menjauh darimu, eoh. Lain kali jangan
pernah memanfaatkanku lagi. Karena aku tidak akan pernah menuruti maumu. Ara?" Shinhye pergi tanpa
memberikan celah untuk Yonghwa membela diri. Meski begitu tapi entah kenapa
Yonghwa malah menikmati wajah Shinhye yang sedang marah. Saat itu juga Yonghwa menyunggingkan senyuman yang jelas
terpancar di wajahnya. Dia merasakan sesuatu..
***
2 weeks later
Seperti biasa, sudah menjadi rutinitas bagi Jonghyun
untuk ke restaurant milik pamannya
ini. Jonghyun ke tempat ini sudah pasti karena ingin menghabiskan makan
siangnya dengan Shinhye, meski ada sedikit motif terselebung yaitu ingin
bertemu Jiwon juga. Makan malam waktu itu meninggalkan kesan
yang dalam baginya. Dia harus terus bertemu Jiwon agar memungkinkan dia untuk
lebih mengenal Jiwon lebih dalam.
Begitu tiba di halaman luar restaurant, Yonghwa sedang berdiri dengan wajah muram dan merenungi sesuatu,
entah apa. Jonghyun mendekat dan menyapanya. Yonghwa tersentak, begitu melihat
siapa yang menyapanya, wajahnya kembali muram dan hatinya berdetak tak karuan.
Sepertinya dia mengkhawatirkan sesuatu. Sesuatu yang
berhubungan dengan Jonghyun. Sesuatu yang mungkin sulit baginya untuk diraih,
tapi tidak bagi Jonghyun.
"Shinhye ada di dalam?"
Benar. Dia mencari si bodoh itu
lagi.
Yonghwa hanya bisa menjawabnya dengan anggukan. Jonghyun
menepuk bahu Yonghwa dan melenggang masuk ke dalam restaurant meninggalkan Yonghwa yang masih berdiri tegap memandang
ke arah jalan raya.
Begitu Jonghyun masuk ke dalam restaurant, Shinhye langsung menyapanya, tidak kalah Jiwon juga datang menyapanya.
Jonghyun tersenyum malu melihat Jiwon menyapa
dirinya. Setelah menyapa Jonghyun, Jiwon
kembali ke belakang.
"Shinhye-ssi,
kau tidak lupa menu makan siangku, kan?"
"Seperti biasa?"
"Ne."
"Kau duduk dulu. Akan kuambilkan makan siangmu." Shinhye beranjak ke belakang mengambil makan siang Jonghyun.
"Kau duduk dulu. Akan kuambilkan makan siangmu." Shinhye beranjak ke belakang mengambil makan siang Jonghyun.
Begitu Shinhye akan keluar dari pantry dengan membawa baki makanan, Jiwon menahan langkahnya dan
bertanya hal yang membuat Shinhye sedikit jengkel.
"Shinhye-ya,
apa Jonghyun-ssi menanyakanku?
Maksudku mungkin dia lupa memanggilku untuk menemaninya makan siang juga?"
tanya Jiwon polos, tidak peka dengan perasaan Shinhye.
"Ani. Tapi kalau kau mau makan siang dengannya, silahkan." Shinhye menyerahkan baki makan siang Jonghyun ke tangan Jiwon. Tapi ditolak Jiwon.
"Ani. Tapi kalau kau mau makan siang dengannya, silahkan." Shinhye menyerahkan baki makan siang Jonghyun ke tangan Jiwon. Tapi ditolak Jiwon.
"Dwaesseo,"
ujar Jiwon cemberut dan berjalan meninggalkan Shinhye.
Dari raut wajah Jiwon, Shinhye bisa melihat Jiwon sedang kecewa karena khusus hari ini Jonghyun tidak
memanggilnya untuk makan siang bersama.
“Apa ini yang kau maksud bersaing?”
Shinhye berbicara dalam hatinya. “Kau
bahkan tidak rela melihat sahabatmu seperti ini.” Shinhye kemudian mengejar Jiwon karena merasa bersalah telah membuat Jiwon
bersedih.
"Jiwon-ah,”
panggilnya sambil berusaha merendengi langkah Jiwon. “Mungkin Jonghyun-ssi hanya lupa. Kau jangan cemberut
begitu. Aku akan mengingatkannya lagi, jadi tersenyumlah. Arasseo?"
"Hajjima–jangan lakukan itu! Naneun
gwaenchanha." Jiwon menepuk dadanya. "Aku ini wanita yang tegar. Jadi kau
tenang saja, aku tidak akan bersedih hanya karena hal kecil ini,"
kilahnya. “Kau pergilah menemui Jonghyun-ssi.” Jiwon kemudian
mendorong pelan tubuh
Shinhye untuk pergi meninggalkannya.
Jiwon-ah, kau tidak bisa membohongiku. Kau menyukai Jonghyun-ssi,
kan?
Shinhye kembali ke tempat duduk Jonghyun.
"Di mana Jiwon? Dia tidak ke sini juga?" tanya Jonghyun yang langsung
membuat Shinhye cemberut.
"Akan aku panggil dia?"
"Piryeopseo.
Sebenarnya
ada yang ingin kubicarakan denganmu
empat mata tanpanya."
Shinhye mengangkat alis terlihat dia sedang serius
berpikir.
“Apa
yang mau dia bicarakan denganku secara empat mata? Jangan bilang, dia ingin
mengatakan sesuatu yang belum bisa kusiapkan jawabannya sekarang. Oh, Tuhan
tolong aku.”
"Shinhye, apa kau pernah ditolak atau menolak cinta
seseorang?" tanya Jonghyun. Mulutnya terus mengunyah menghabiskan makan siangnya.
Shinhye gugup luar biasa. Kedua bola matanya terbuka
lebar. Benar seperti apa yang dipikirkannya. Jangan-jangan Jonghyun mau
mengungkapkan perasaan padanya.
"Shinhye-ssi?"
"Eoh, belum pernah." Shinhye menjawab sontak.
"Eoh, belum pernah." Shinhye menjawab sontak.
"Ditolak atau menolak?"
"Kedua-duanya."
"Jeongmalyo? Apa pria-pria di luar itu bodoh? Kau kan cantik. Tapi tidak ada yang mengerti itu?"
"Gomawo." Shinhye tersenyum bahagia karena pujian Jonghyun.
"Jeongmalyo? Apa pria-pria di luar itu bodoh? Kau kan cantik. Tapi tidak ada yang mengerti itu?"
"Gomawo." Shinhye tersenyum bahagia karena pujian Jonghyun.
"Kau tahu, waktu SMA dulu aku pernah mengungkapkan perasaan pada seorang gadis
yang adalah sahabatku. Dan kau tahu apa jawabannya, aku ditolak olehnya. Itu
pertama kali aku merasakan perasaan ditolak. Kau tahu, selama ini aku hanya
merasakan bagaimana menolak seseorang. Tapi yeoja
itu adalah yang pertama membuatku merasakan ditolak itu seperti apa. Dan itu
sangat membuatku terpukul, aku bahkan tidak pernah lagi mengungkapkan perasaan
pada seorang gadis."
"Takut ditolak lagi?"
Shinhye mencoba menebak.
"Ya, seperti itulah."
"Kau seperti pengecut saja."
"Ini semua karena bosmu." Jonghyun tertawa
kecil.
“Bosku?
Apa maksudmu Jung Yong Hwa-ssi?"
"Ya. Apa kau mau tahu kenapa?"
Shinhye mengangguk sepertinya benar-benar tertarik
mendengarkan cerita Jonghyun.
Jonghyun mulai bercerita tentang masa-masa SMA-nya
bersama Yonghwa. Saat di mana dia ketika SMA mengatakan cinta pada seorang
gadis yang adalah sahabat masa kecilnya bersama Yonghwa, dan gadis itu ternyata
lebih menyukai Yonghwa. Yang akhirnya mematahkan hati dan semangatnya.
Akhirnya karena hal itu, dia tidak lagi berani mengatakan cintanya pada gadis
lain karena tidak ingin merasakan persaan ditolak lagi.
"Dari dulu sampai sekarang
Jung Yong Hwa-ssi tetap saja dikagumi," tambah Shinhye.
"Nado,"
timpal Jonghyun tidak mau kalah.
“Ne. Aku pun mengagumimu,” ungkap Shinhye dalam hati.
Jonghyun kemudian menceritakan masa-masa di mana dia dan Yonghwa
begitu dikagumi gadis-gadis. Saat di mana dia dan Yonghwa harus bersembunyi
karena dibuntuti oleh gadis-gadis yang mengagumi mereka.
“Kalian
seperti selebriti saja.”
“Ya,
memang. Karena kami tampan maka para gadis itu sering membuntuti kami. Kau
tahu, waktu itu aku dan Yonghwa
pernah bersembunyi dalam tempat sampah karena terus dibuntuti. Dan saat pulang
ke rumah, aku dijauhi keluargaku karena bau tidak sedap yang kubawa. Aku bahkan
harus mencuci seragamku sendiri. Dan ternyata Yonghwa juga mengalami hal yang
sama."
Shinhye tertawa mendengar cerita Jonghyun. Melihat tawa
Shinhye dari kejauhan, hati Yonghwa tiba-tiba berdetak tak karuan. Saat itu
Shinhye terlihat sangat manis, dan hati Yonghwa tidak mau berhenti berdetak.
"Apa yang terjadi? Aku tidak mungkin menyukainya. Maldo andwae." Yonghwa menggeleng, tidak mau mengakui perasaan yang timbul dari dalam
hatinya. Hari ini hatinya menjawab semua pertanyaan yang selama ini tersimpan
di benaknya tentang dia yang selalu merasa marah ketika melihat Shinhye dengan pria lain. Dia yang
tiba-tiba
mulai rajin ke restaurant hanya untuk bertemu Shinhye. Dia yang selalu merasa khawatir kalau Shinhye tidak masuk kerja.
Dan dia yang selalu bahagia menikmati wajah marah Shinhye kalau sedang
diisengi.
Namun meski hatinya telah menjawab semua pertanyaan itu,
tapi Yonghwa tetap keras kepala tidak mau mengakuinya. Dia beranjak dari tempatnya berdiri menuju ruangan
kerjanya. Isi kepalanya masih dipenuhi oleh Shinhye, meski dia sudah berusaha
menampisnya. Dia menyadari, dia telah jatuh cinta pada Shinhye. Meski
pikirannya bersikeras menolak kenyataan ini, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya
membuncah hangat. Dia tidak bisa melawan hatinya. Otaknya
memerintah dia untuk menampilkan wajah tersenyum mengingat setiap detik
kebersamaannya bersama Shinhye. Namun
perasaan yang Yonghwa rasakan saat ini berbanding terbalik dengan apa yang
Shinhye rasakan. Shinhye yang masih duduk di tempat duduknya
menampilkan semburat wajah kekecewaan. Jonghyun sudah pulang, tapi Shinhye masih merenung mengingat kata-kata
Jonghyun tadi.
Flashback
"Park Shin Hye-ssi,
aku sedang menyukai seseorang. Belum tahu pasti apa aku akan ditolak atau tidak? Tapi aku
akan berjuang untuk mendapatkannya. Dan aku yakin kau bisa membantuku. Karena kau mungkin tahu
jawabannya."
"Maksudmu? Apa kau…." Shinhye mulai menebak bahwa jawaban
dari perjumpaan ini adalah karena mungkin Jonghyun ingin mengatakan persaannya
pada Shinhye.
"Kim Ji Won. Aku menyukainya."
Dada Shinhye berdetak tak tentu. Hatinya terasa sakit mendengar pengakuan Jonghyun.
Perkiraannya jauh dari kenyataannya. Bukan dirinya yang disukai Jonghyun. Tapi
Jiwon. Sahabatnya.
"Kau dan dia sudah berteman lama, kan? Aku tahu
bahwa kau yang paling mengenal seperti apa Jiwon-ssi itu. Jadi aku butuh
jawabanmu. Menurutmu, apa dia mau menerimaku atau sebaliknya?" Jonghyun
kemudian meringis. "Ah, ini bisa membuatku gila." Jonghyun menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak yakin kalau Jiwon-ssi juga menyukaiku."
Ada jeda sebelum Shinhye memberikan jawaban. Sulit
baginya menerima kenyataan ini. Tapi apa yang bisa dia lakukan lagi selain
mendukung hubungan mereka. Dia
tidak mungkin mengkhianati Jiwon. Meski sebelumnya, sebelum dia mengetahui
perasaan Jonghyun yang sebenarnya pada Jiwon, dia sendiri tidak rela Jonghyun bersama Jiwon. Tapi
setelah mengetahui pilihan Jonghyun sekarang adalah Jiwon, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mendukung.
"Kau orang yang baik, tidak ada alasan bagi Jiwon
untuk menolakmu. Kau jangan takut sebelum memulai. Aku yakin jawaban Jiwon
tidak akan mengecewakanmu."
Karena aku tahu dia juga menyukaimu, Jonghyun-ssi.”
Shinhye berbisik dalam hati.
"Gomawo,
Shinhye. Aku jadi merasa dikuatkan. Oh yah, kau jangan bilang padanya. Biar ini
sementara menjadi rahasia kita berdua."
Shinhye mengangguk meski hatinya sedang menangis saat itu
juga.
"Hwaiting,
Jonghyun-ssi! Kau pasti bisa."
"Aigoo,
aku benar-benar tidak menyesal telah menerimamu sebagai asistenku."
"Itu semua berkat Lee Hyun Woo. Jadi lain kali kau
harus mentraktir kami berdua makan siang."
"Tentu saja."
"Tentu saja."
Flashback End
***
Sehari setelah kejadian itu, Shinhye memilih untuk
mangkir kerja, baik di restaurant
atau sebagai asisten pribadi Jonghyun, khusus untuk hari ini. Kebetulan hari
ini jadwal kuliahnya kosong, jadi dia memilih untuk jalan-jalan ke tempat yang
mampu menghilangkan kepenatannya. Taman hiburan adalah pilihan pertamanya. Beberapa jam
naik bus, dia sudah tiba di tempat yang dia tuju. Shinhye turun dari bus dan masuk ke taman hiburan.
Setelah membeli karcis, Shinhye langsung menuju kursi roller coaster. Wahana pertama yang dipilihnya. Shinhye duduk di kursi tersebut, di sampingnya ada
seorang wanita gendut berambut poni. Setelah memasang sabuk pengaman, mesin raksasa itu mulai
berputar. Begitu tiba di puncak, angin kencang menerpa wajah Shinhye. Saat itu
juga, dia ingat semua tentang Jonghyun. Tentang Jonghyun dan angin kencangnya.
Air mata Shinhye jatuh membasahi pipinya. Dan saat itu juga dia sontak
berteriak, "Angin, aku
mohon bawa semua kepedihan ini karena aku lelah menanggungnya sendiri. Ara?
Ppalli!"
Setelah roller
coaster-nya berhenti berputar, wanita gendut berponi itu bertanya pada Shinhye,
katanya, “Apa kau takut, sehingga kau menangis? Kenapa kau memaksa untuk naik.” Sepertinya dia menyangka kalau Shinhye tadi takut
karena dia melihat ada bekas air mata di bawah kelopak mata Shinhye.
Shinhye hanya tersenyum. Dan sebagai bentuk kesopanan,
dia membungkuk pada wanita itu dan berjalan meninggalkannya.
Beberapa jam setelah puas bermain dengan beberapa
wahana di taman hiburan. Shinhye bergegas pergi ke tempat tujuannya yang ke
dua. Apalagi kalau bukan Sungai Han, tempat menyendiri terbaik.
Begitu tiba di tepi sungai Han, ritual pertama yang
dilakukan Shinhye adalah berdiri memandang sungai tersebut. Kemudian beberapa
kali dia menarik dan menghembuskan nafasnya. Setelah itu, dia memilih duduk dan
memandang luas sungai tersebut.
"Jonghyun-ssi,
kau tahu, aku benar-benar bodoh karena telah menyukaimu. Tapi kau lebih bodoh
lagi karena telah menyia-nyiakanku. Kau sendiri yang bilang, kan?"
“Jeongmalyo? Apa pria-pria di luar itu bodoh? Kau kan cantik. Tapi tidak ada yang
mengerti itu?"
Shinhye kembali mengingat kalimat-kalimat yang Jonghyun
ucapkan kemarin. Shinhye kemudian memukul dadanya yang terasa sakit dari dalam.
"Namun, karena Jiwon juga menyukaimu. Maka
mulai sekarang aku akan belajar melupakanmu. Tidak sulit, kan?" Air
matanya mengalir deras.
Tiga jam dia habiskan di tepi sungai Han. Karena sudah sore,
Shinhye memilih untuk mengunjungi tempat terakhirnya hari ini.
Warung tenda di pinggir jalan, tempat kunjungan
terakhirnya sebelum kembali ke rumah. Warung ini adalah tempat minum soju terbaik
versinya. Setelah duduk, dan kemudian pesanan soju beserta daging babi
panggangnya diantar, dia mulai menghabiskannya. Sebotol
soju selesai diminum, Shinhye langsung mabuk. Kadang-kadang dia bersendawa,
setelah itu menertawai dirinya kembali. Dan akhirnya, kepalanya jatuh terkulai
di atas meja.
TO BE CONTINUED

