"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Sabtu, 09 Juli 2016

Rain of Autumn Part 7

Part 7



***
"Shinhye-ya," panggil Jiwon begitu melihat Shinhye keluar dari gerbang kampus.
Shinhye menoleh dan mendapati Jiwon sudah berjalan di sampingnya.
"Kemarin Lee Jong Hyun-ssi mengajakku makan malam."
Shinhye mengangguk, "Dia sudah menceritakan padaku kemarin."
"Kau tidak marah kan?"
"Marah untuk apa? Itu haknya mengajak siapa pun makan siang."
"Aku bingung, kenapa dia tiba-tiba mengajakku? Kami kan baru saja kenal.” Jiwon terlihat sedang mencari jawabannya sendiri. “Tapi tidak apa-apa, Lee Jong Hyun-ssi orang yang sangat menyenangkan. Aku sangat terhibur dengan candaannya."
Jiwon-ah, apa kau tahu, aku juga mengalami hal yang sama? Aku sangat terhibur dengan candaan, senyum, tawa bahkan semua hal tentang dirinya. Semua dalam dirinya membuatku semangat menghadapi hari. Lalu kenapa sekarang kau juga mengalami hal yang sama? Jiwon-ah, aku tidak ingin suatu saat nanti kita mungkin harus berkompetisi mendapatkan dia.
"Eoh, Park Shin Hye, akhir-akhir ini kau sering melamun. Apa yang kau pikirkan? Apa ada masalah?" kata-kata Jiwon membuat Shinhye terenyak dari lamunannya.
Shinhye menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya lelah. Dan sepertinya hari ini aku tidak bisa bekerja. Kau tolong minta ijinlah untukku."

At JeResto
Yonghwa masuk ke restaurant dengan wajah gembira. Sudah beberapa minggu entah setan apa yang merasukinya hingga akhir-akhir ini dia lebih rajin masuk kerja. Tidak seperti dulu, dia sering datang sesuka hatinya.
"Selamat pagi, bos!" sapa beberapa karyawan yang melihatnya masuk.
Yonghwa menyapa balik. Sesudah itu dia celingak-celinguk mencari seseorang, tapi seseorang itu tidak dia temui.
"Di mana manajer Yoo?" tanya Yonghwa pada Hyejoon yang kebetulan lewat di depannya.
"Di ruangannya."
Yonghwa berjalan menuju ruangan manajer Yoo. Begitu masuk, tanpa berbasa-basi Yonghwa langsung mengutarakan pertanyaannya.
"Ahjussi, di mana Park Shin Hye? Apa dia belum masuk? Atau hari ini dia tidak masuk?"
"Jiwon bilang Shinhye sedang sakit. Jadi kubiarkan dia beristirahat dulu."
Tanpa mendengar penjelasan selanjutnya, Yonghwa pamit pada manajer Yoo dan pergi dari restaurant. Dia menuju tempat mobilnya diparkir, menyalakan mesin dan pergi ke suatu tempat.

***
Shinhye kaget begitu membuka pintu pagar rumahnya dan melihat Yonghwa sedang berdiri di depannya.
"Ya, apa yang kau lakukan di sini?"
"Bertemu klien di daerah sini. Kebetulan dekat rumahmu, jadi aku mampir saja. Kau sendiri, kenapa tidak masuk kerja? Sakit? Wajahmu tidak pucat. Kau terlihat baik-baik saja."
"Aku hanya sedikit lelah, jadi perlu istirahat dulu."
"Kau tidak mengundangku masuk dulu?"
Shinhye membuka pagarnya dan membiarkan Yonghwa masuk ke rumahnya.
"Kau mau minum apa?"
"Air putih cukup."
Shinhye ke dapur dan kembali dengan segelas air putih di tangannya kemudian meletakkannya di atas meja.
"Apa ini?" kata Yonghwa dan mengambil sebuah diary dengan cover hijau clover yang terletak di atas meja.
Begitu melihat Yonghwa akan membuka diary itu, Shinhye berlari dan ingin merampas balik diary itu. Tapi karena terantuk oleh kaki meja, dia malah menabrak kaki Yonghwa, terantuk dan malah menindih Yonghwa yang tadinya duduk bersila. Posisi Yonghwa sekarang ada di bawah dengan Shinhye yang menindihnya dari atas. Wajah keduanya saling menatap. Dan sangat jelas wajah kedua orang itu merah padam. Shinhye yang malu langsung bangkit berdiri. Begitu juga dengan Yonghwa.
"Sepertinya kau butuh istirahat. Aku pulang dulu," kata Yonghwa dengan tingkah yang kelihatan jelas, dia sangat gugup. Oleh karena itu, dia memilih untuk pergi dari rumah Shinhye.

***
"Ppalli!" perintah Yonghwa.
"Ya, bagaimana bisa kau menyuruhku cepat kalau barang-barang yang kubawa banyak sekali?" omel Shinhye sambil berusaha menjinjing beberapa kantung plastik belanjaan di tangannya.
"Karena tiba-tiba
dosenku memanggilku, oleh karena itu aku tadi tidak sempat mengantar belanjaan itu langsung ke restaurant dan membawa semua itu ke kampus. Kau jangan curiga aku sembarang memerintahmu. Itu semua keperluan restaurant kita. Di restaurant stoknya sudah abis. Aku sendiri yang membelinya. Jadi sekarang giliranmu membawanya."
Yonghwa berjalan di depan dengan tangan kosong tanpa menjinjing satu kantung pun.
"Cepatlah!" timpal Yonghwa.
Shinhye hanya bisa menatap Yonghwa dengan tatapan kesal. Dia benar-benar ingin menutup mulut pria di depannya ini dengan selotip. Agar Yongwa tidak lagi memerintah bak seorang bos, tanpa memedulikan dia yang lelah selama perjalanan karena terus menjinjing beberapa kantung belanjaan ini.
Ya, kau harus mengurangi berat badanmu agar kau berjalan lebih cepat.” Tanpa membantu Yonghwa malah terus mengomeli Shinhye.
"Aniyo. Jangan terus memerintahku. Aku capek." Shinhye tiba-tiba membanting belanjaan di depan Yonghwa. Dia berjongkok di depan belanjaan-belanjaan itu dan menatap Yonghwa dengan tatapan kesal.
"Ya, apa kau tidak lihat banyak orang sedang lalu lalang? Jangan bertingkah memalukan. Bangun dan angkat belanjaan itu," kata Yonghwa dengan mulut yang sedikit terkatup.
"Aku seperti ini karena lelah, kau tahu?"
"Nado. Aku juga lelah waktu di supermarket karena harus menjinjing benda-benda itu sendiri."
"Kenapa hanya aku yang kau panggil untuk menjinjing benda-benda ini?"
"Kalau begitu siapa lagi?" Yonghwa tidak menjawab tapi malah balik bertanya.
“Masih ada karyawan lain di JeResto selain aku. Lalu kenapa harus aku seorang?"
"Huh!” Yonghwa mendengus. "Karena lebih baik kau yang melakukannya," jelas Yonghwa.
"Apa kau sedang mengerjaiku?"
"Museun soriya?"
"Aku berpikir kau benar-benar sedang mengerjaiku. Kenapa mobilmu tiba-tiba macet?" Shinhye mengeluh karena mobil Yonghwa yang macet tiba-tiba dan macetnya lagi tidak jauh dari restaurant mereka. "Apa kau yang mengaturnya agar kau bisa puas menyiksaku? Kau benar-benar menjengkelkan." Shinhye kemudian berdiri dengan tampang cemberut. "Ada banyak taksi yang lewat tadi, kenapa tidak kau tahan dan kau bawa barang-barang ini?"
"Kau benar-benar orang yang tidak tahu bersyukur. Sudah untung kau ke sini tadi dengan mobilku. Tapi masih saja mengeluh."
"Jarak mobilmu macet sampai ke restaurant itu cukup jauh. Tapi kenapa hanya aku yang menjinjing semua benda-benda ini? Kau? Apa yang kau lakukan? Berjalan dengan tangan kosong dan terus berkoar-koar di depan bagai seorang bos besar, huh? Benar-benar egois."
Ya, apa yang kau katakan tadi?” Yonghwa mendengus kesal. "Ah, michigetda. Ya," teriak Yonghwa.
Shinhye tersentak kaget.
"Kalau kau tidak mau membawanya, biar aku saja yang melakukannya. Tapi bisakah kau berhenti menuduhku sedang mengerjaimu?" bentak Yonghwa. Kemudian dia mengangkat kantung-kantung belanjaan tadi dan berjalan meninggalkan Shinhye yang masih melongo karena sentakan Yonghwa barusan.
"Meongcheongi–bodoh." Yonghwa memaki hatinya karena kemauan hatinya yang tiba-tiba ingin bertemu Shinhye membuat dia melakukan hal yang dia sendiri bingung kenapa dia harus melakukannya.
Di sepanjang perjalanan Shinhye hanya mengekori Yonghwa dari belakang sampai mereka tiba di JeResto.
"Eoh, bos? Apa yang kau bawa?" tanya Donghyun salah satu pelayan pria di restaurant. Dia mengangkat semua belanjaan dari tangan Yonghwa. "Ahh, berat sekali bos." Donghyun lalu mengintip isi belanjaannya. "Apa ini? Daging sapi, mie kering." Donghyun mulai menyebutkan semua isi belanjaan satu persatu. "Semua ini masih penuh di kulkas bos."
Shinhye membelalak mendengar pernyataan Donghyun.Semua belanjaan tadi masih penuh di kulkas? Dia bilang stoknya habis? Apa dia baru saja mengerjaiku?
"Jeongmal? Aku pikir stoknya sudah habis. Baguslah, kalau masih penuh. Aku ke ruanganku dulu." Yonghwa kabur dari tatapan marah Shinhye.
Beberapa menit baru berada di ruangannya tanpa permisi seseorang masuk ke ruangannya. Dan seperti yang dikiranya, Shinhye pasti datang membuat perhitungan dengannya.
"Jung Yong Hwa-ssi, apa kau puas mengerjaiku?" tanya Shinhye retoris.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Yonghwa pura-pura bodoh.
"Kau benar-benar pandai berakting, Jung Yong Hwa-ssi. Aku benar-benar tidak percaya kau masih membenciku. Kalau bukan karena presdir yang memintaku bertahan di sini, aku mungkin sudah pergi menjauh darimu, eoh. Lain kali jangan pernah memanfaatkanku lagi. Karena aku tidak akan pernah menuruti maumu. Ara?" Shinhye pergi tanpa memberikan celah untuk Yonghwa membela diri. Meski begitu tapi entah kenapa Yonghwa malah menikmati wajah Shinhye yang sedang marah. Saat itu juga Yonghwa menyunggingkan senyuman yang jelas terpancar di wajahnya. Dia merasakan sesuatu..
***
2 weeks later
Seperti biasa, sudah menjadi rutinitas bagi Jonghyun untuk ke restaurant milik pamannya ini. Jonghyun ke tempat ini sudah pasti karena ingin menghabiskan makan siangnya dengan Shinhye, meski ada sedikit motif terselebung yaitu ingin bertemu Jiwon juga. Makan malam waktu itu meninggalkan kesan yang dalam baginya. Dia harus terus bertemu Jiwon agar memungkinkan dia untuk lebih mengenal Jiwon lebih dalam.
Begitu tiba di halaman luar restaurant, Yonghwa sedang berdiri dengan wajah muram dan merenungi sesuatu, entah apa. Jonghyun mendekat dan menyapanya. Yonghwa tersentak, begitu melihat siapa yang menyapanya, wajahnya kembali muram dan hatinya berdetak tak karuan. Sepertinya dia mengkhawatirkan sesuatu. Sesuatu yang berhubungan dengan Jonghyun. Sesuatu yang mungkin sulit baginya untuk diraih, tapi tidak bagi Jonghyun.
"Shinhye ada di dalam?"
Benar. Dia mencari si bodoh itu lagi.
Yonghwa hanya bisa menjawabnya dengan anggukan. Jonghyun menepuk bahu Yonghwa dan melenggang masuk ke dalam restaurant meninggalkan Yonghwa yang masih berdiri tegap memandang ke arah jalan raya.
Begitu Jonghyun masuk ke dalam restaurant, Shinhye langsung menyapanya, tidak kalah Jiwon juga datang menyapanya. Jonghyun tersenyum malu melihat Jiwon menyapa dirinya. Setelah menyapa Jonghyun, Jiwon kembali ke belakang.
"Shinhye-ssi, kau tidak lupa menu makan siangku, kan?"
"Seperti biasa?"
"Ne."
"Kau duduk dulu
. Akan kuambilkan makan siangmu." Shinhye beranjak ke belakang mengambil makan siang Jonghyun.
Begitu Shinhye akan keluar dari pantry dengan membawa baki makanan, Jiwon menahan langkahnya dan bertanya hal yang membuat Shinhye sedikit jengkel.
"Shinhye-ya, apa Jonghyun-ssi menanyakanku? Maksudku mungkin dia lupa memanggilku untuk menemaninya makan siang juga?" tanya Jiwon polos, tidak peka dengan perasaan Shinhye.
"Ani. Tapi kalau kau mau makan siang dengannya, silahkan." Shinhye menyerahkan baki makan siang Jonghyun ke tangan Jiwon. Tapi ditolak Jiwon.
"Dwaesseo," ujar Jiwon cemberut dan berjalan meninggalkan Shinhye.
Dari raut wajah Jiwon, Shinhye bisa melihat Jiwon sedang kecewa karena khusus hari ini Jonghyun tidak memanggilnya untuk makan siang bersama.
Apa ini yang kau maksud bersaing?” Shinhye berbicara dalam hatinya. “Kau bahkan tidak rela melihat sahabatmu seperti ini.” Shinhye kemudian mengejar Jiwon karena merasa bersalah telah membuat Jiwon bersedih.
"Jiwon-ah,” panggilnya sambil berusaha merendengi langkah Jiwon. “Mungkin Jonghyun-ssi hanya lupa. Kau jangan cemberut begitu. Aku akan mengingatkannya lagi, jadi tersenyumlah. Arasseo?"
"Hajjimajangan lakukan itu! Naneun gwaenchanha." Jiwon menepuk dadanya. "Aku ini wanita yang tegar. Jadi kau tenang saja, aku tidak akan bersedih hanya karena hal kecil ini," kilahnya. “Kau pergilah menemui Jonghyun-ssi.” Jiwon kemudian mendorong pelan tubuh Shinhye untuk pergi meninggalkannya.
Jiwon-ah, kau tidak bisa membohongiku. Kau menyukai Jonghyun-ssi, kan?
Shinhye kembali ke tempat duduk Jonghyun.
"Di mana Jiwon? Dia tidak ke sini juga?" tanya Jonghyun yang langsung membuat Shinhye cemberut.
"Akan aku panggil dia?"
"Piryeopseo. Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu empat mata tanpanya."
Shinhye mengangkat alis terlihat dia sedang serius berpikir.
Apa yang mau dia bicarakan denganku secara empat mata? Jangan bilang, dia ingin mengatakan sesuatu yang belum bisa kusiapkan jawabannya sekarang. Oh, Tuhan tolong aku.
"Shinhye, apa kau pernah ditolak atau menolak cinta seseorang?" tanya Jonghyun. Mulutnya terus mengunyah menghabiskan makan siangnya.
Shinhye gugup luar biasa. Kedua bola matanya terbuka lebar. Benar seperti apa yang dipikirkannya. Jangan-jangan Jonghyun mau mengungkapkan perasaan padanya.
"Shinhye-ssi?"
"Eoh, belum pernah." Shinhye menjawab sontak.
"Ditolak atau menolak?"
"Kedua-duanya."
"Jeongmalyo? Apa pria-pria di luar itu bodoh? Kau kan cantik. Tapi tidak ada yang mengerti itu?"
"Gomawo."
Shinhye tersenyum bahagia karena pujian Jonghyun.
"Kau tahu, waktu SMA dulu aku pernah mengungkapkan perasaan pada seorang gadis yang adalah sahabatku. Dan kau tahu apa jawabannya, aku ditolak olehnya. Itu pertama kali aku merasakan perasaan ditolak. Kau tahu, selama ini aku hanya merasakan bagaimana menolak seseorang. Tapi yeoja itu adalah yang pertama membuatku merasakan ditolak itu seperti apa. Dan itu sangat membuatku terpukul, aku bahkan tidak pernah lagi mengungkapkan perasaan pada seorang gadis."
"Takut ditolak lagi?" Shinhye mencoba menebak.
"Ya, seperti itulah."
"Kau seperti pengecut saja."
"Ini semua karena bosmu." Jonghyun tertawa kecil.
“Bosku? Apa maksudmu Jung Yong Hwa-ssi?"
"Ya. Apa kau mau tahu kenapa?"
Shinhye mengangguk sepertinya benar-benar tertarik mendengarkan cerita Jonghyun.
Jonghyun mulai bercerita tentang masa-masa SMA-nya bersama Yonghwa. Saat di mana dia ketika SMA mengatakan cinta pada seorang gadis yang adalah sahabat masa kecilnya bersama Yonghwa, dan gadis itu ternyata lebih menyukai Yonghwa. Yang akhirnya mematahkan hati dan semangatnya. Akhirnya karena hal itu, dia tidak lagi berani mengatakan cintanya pada gadis lain karena tidak ingin merasakan persaan ditolak lagi.
"Dari dulu sampai sekarang Jung Yong Hwa-ssi tetap saja dikagumi," tambah Shinhye.
"Nado," timpal Jonghyun tidak mau kalah.
Ne. Aku pun mengagumimu,” ungkap Shinhye dalam hati.
Jonghyun kemudian menceritakan masa-masa di mana dia dan Yonghwa begitu dikagumi gadis-gadis. Saat di mana dia dan Yonghwa harus bersembunyi karena dibuntuti oleh gadis-gadis yang mengagumi mereka.
“Kalian seperti selebriti saja.”
“Ya, memang. Karena kami tampan maka para gadis itu sering membuntuti kami. Kau tahu, waktu itu aku dan Yonghwa pernah bersembunyi dalam tempat sampah karena terus dibuntuti. Dan saat pulang ke rumah, aku dijauhi keluargaku karena bau tidak sedap yang kubawa. Aku bahkan harus mencuci seragamku sendiri. Dan ternyata Yonghwa juga mengalami hal yang sama."
Shinhye tertawa mendengar cerita Jonghyun. Melihat tawa Shinhye dari kejauhan, hati Yonghwa tiba-tiba berdetak tak karuan. Saat itu Shinhye terlihat sangat manis, dan hati Yonghwa tidak mau berhenti berdetak.
"Apa yang terjadi? Aku tidak mungkin menyukainya. Maldo andwae." Yonghwa menggeleng, tidak mau mengakui perasaan yang timbul dari dalam hatinya. Hari ini hatinya menjawab semua pertanyaan yang selama ini tersimpan di benaknya tentang dia yang selalu merasa marah ketika melihat Shinhye dengan pria lain. Dia yang tiba-tiba mulai rajin ke restaurant hanya untuk bertemu Shinhye. Dia yang selalu merasa khawatir kalau Shinhye tidak masuk kerja. Dan dia yang selalu bahagia menikmati wajah marah Shinhye kalau sedang diisengi. Namun meski hatinya telah menjawab semua pertanyaan itu, tapi Yonghwa tetap keras kepala tidak mau mengakuinya. Dia beranjak dari tempatnya berdiri menuju ruangan kerjanya. Isi kepalanya masih dipenuhi oleh Shinhye, meski dia sudah berusaha menampisnya. Dia menyadari, dia telah jatuh cinta pada Shinhye. Meski pikirannya bersikeras menolak kenyataan ini, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya membuncah hangat. Dia tidak bisa melawan hatinya. Otaknya memerintah dia untuk menampilkan wajah tersenyum mengingat setiap detik kebersamaannya bersama Shinhye. Namun perasaan yang Yonghwa rasakan saat ini berbanding terbalik dengan apa yang Shinhye rasakan. Shinhye yang masih duduk di tempat duduknya menampilkan semburat wajah kekecewaan. Jonghyun sudah pulang, tapi Shinhye masih merenung mengingat kata-kata Jonghyun tadi.

Flashback
"Park Shin Hye-ssi, aku sedang menyukai seseorang. Belum tahu pasti apa aku akan ditolak atau tidak? Tapi aku akan berjuang untuk mendapatkannya. Dan aku yakin kau bisa membantuku. Karena kau mungkin tahu jawabannya."
"Maksudmu? Apa kau…." Shinhye mulai menebak bahwa jawaban dari perjumpaan ini adalah karena mungkin Jonghyun ingin mengatakan persaannya pada Shinhye.
"Kim Ji Won. Aku menyukainya."
Dada Shinhye berdetak tak tentu. Hatinya terasa sakit mendengar pengakuan Jonghyun. Perkiraannya jauh dari kenyataannya. Bukan dirinya yang disukai Jonghyun. Tapi Jiwon. Sahabatnya.
"Kau dan dia sudah berteman lama, kan? Aku tahu bahwa kau yang paling mengenal seperti apa Jiwon-ssi itu. Jadi aku butuh jawabanmu. Menurutmu, apa dia mau menerimaku atau sebaliknya?" Jonghyun kemudian meringis. "Ah, ini bisa membuatku gila." Jonghyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak yakin kalau Jiwon-ssi juga menyukaiku."
Ada jeda sebelum Shinhye memberikan jawaban. Sulit baginya menerima kenyataan ini. Tapi apa yang bisa dia lakukan lagi selain mendukung hubungan mereka. Dia tidak mungkin mengkhianati Jiwon. Meski sebelumnya, sebelum dia mengetahui perasaan Jonghyun yang sebenarnya pada Jiwon, dia sendiri tidak rela Jonghyun bersama Jiwon. Tapi setelah mengetahui pilihan Jonghyun sekarang adalah Jiwon, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mendukung.
"Kau orang yang baik, tidak ada alasan bagi Jiwon untuk menolakmu. Kau jangan takut sebelum memulai. Aku yakin jawaban Jiwon tidak akan mengecewakanmu."
Karena aku tahu dia juga menyukaimu, Jonghyun-ssi.” Shinhye berbisik dalam hati.
"Gomawo, Shinhye. Aku jadi merasa dikuatkan. Oh yah, kau jangan bilang padanya. Biar ini sementara menjadi rahasia kita berdua."
Shinhye mengangguk meski hatinya sedang menangis saat itu juga.
"Hwaiting, Jonghyun-ssi! Kau pasti bisa."
"Aigoo, aku benar-benar tidak menyesal telah menerimamu sebagai asistenku."
"Itu semua berkat Lee Hyun Woo. Jadi lain kali kau harus mentraktir kami berdua makan siang."
"Tentu saja."
Flashback End

***
Sehari setelah kejadian itu, Shinhye memilih untuk mangkir kerja, baik di restaurant atau sebagai asisten pribadi Jonghyun, khusus untuk hari ini. Kebetulan hari ini jadwal kuliahnya kosong, jadi dia memilih untuk jalan-jalan ke tempat yang mampu menghilangkan kepenatannya. Taman hiburan adalah pilihan pertamanya. Beberapa jam naik bus, dia sudah tiba di tempat yang dia tuju. Shinhye turun dari bus dan masuk ke taman hiburan. Setelah membeli karcis, Shinhye langsung menuju kursi roller coaster. Wahana pertama yang dipilihnya. Shinhye duduk di kursi tersebut, di sampingnya ada seorang wanita gendut berambut poni. Setelah memasang sabuk pengaman, mesin raksasa itu mulai berputar. Begitu tiba di puncak, angin kencang menerpa wajah Shinhye. Saat itu juga, dia ingat semua tentang Jonghyun. Tentang Jonghyun dan angin kencangnya. Air mata Shinhye jatuh membasahi pipinya. Dan saat itu juga dia sontak berteriak, "Angin, aku mohon bawa semua kepedihan ini karena aku lelah menanggungnya sendiri. Ara? Ppalli!"
Setelah roller coaster-nya berhenti berputar, wanita gendut berponi itu bertanya pada Shinhye, katanya, “Apa kau takut, sehingga kau menangis? Kenapa kau memaksa untuk naik.” Sepertinya dia menyangka kalau Shinhye tadi takut karena dia melihat ada bekas air mata di bawah kelopak mata Shinhye.
Shinhye hanya tersenyum. Dan sebagai bentuk kesopanan, dia membungkuk pada wanita itu dan berjalan meninggalkannya.
Beberapa jam setelah puas bermain dengan beberapa wahana di taman hiburan. Shinhye bergegas pergi ke tempat tujuannya yang ke dua. Apalagi kalau bukan Sungai Han, tempat menyendiri terbaik. Begitu tiba di tepi sungai Han, ritual pertama yang dilakukan Shinhye adalah berdiri memandang sungai tersebut. Kemudian beberapa kali dia menarik dan menghembuskan nafasnya. Setelah itu, dia memilih duduk dan memandang luas sungai tersebut.
"Jonghyun-ssi, kau tahu, aku benar-benar bodoh karena telah menyukaimu. Tapi kau lebih bodoh lagi karena telah menyia-nyiakanku. Kau sendiri yang bilang, kan?"
Jeongmalyo? Apa pria-pria di luar itu bodoh? Kau kan cantik. Tapi tidak ada yang mengerti itu?"
Shinhye kembali mengingat kalimat-kalimat yang Jonghyun ucapkan kemarin. Shinhye kemudian memukul dadanya yang terasa sakit dari dalam. "Namun, karena Jiwon juga menyukaimu. Maka mulai sekarang aku akan belajar melupakanmu. Tidak sulit, kan?" Air matanya mengalir deras.
Tiga jam dia habiskan di tepi sungai Han. Karena sudah sore, Shinhye memilih untuk mengunjungi tempat terakhirnya hari ini. Warung tenda di pinggir jalan, tempat kunjungan terakhirnya sebelum kembali ke rumah. Warung ini adalah tempat minum soju terbaik versinya. Setelah duduk, dan kemudian pesanan soju beserta daging babi panggangnya diantar, dia mulai menghabiskannya. Sebotol soju selesai diminum, Shinhye langsung mabuk. Kadang-kadang dia bersendawa, setelah itu menertawai dirinya kembali. Dan akhirnya, kepalanya jatuh terkulai di atas meja.

TO BE CONTINUED

Jumat, 08 Juli 2016

Rain of Autumn Part 6

Part 6


***
Shinhye dan Jonghyun duduk menghadap jalan. Mereka ada dalam Cafè besar yang ada di tepi sungai Han.
"Apa anda sangat suka dengan sungai Han? Kenapa pertemuan kita selalu di sungai Han?" tanya Shinhye sedikit penasaran.
Jonghyun terdiam sejenak, kemudian menjawab, "Karena di tempat ini aku bisa merasakan angin kencang yang mampu membawa pergi semua kesedihanku."
Shinhye terenggut mendengar perkataan Jonghyun.
Angin kencang yang mampu membawa pergi semua kesedihanku? Terdengar seperti dirinya yang selalu menunggu hujan musim gugur yang mampu membawa pergi semua kesedihannya.
Shinhye tersenyum mendengar kalimat Jonghyun.
"Shinhye-ssi, aku sudah capek melakukan hal ini. Aku ingin berhenti. Aku ingin memulai semua yang baru. Aku ingin meneruskan main gitar."
"Jonghyun-ssi, apa anda serius mengatakan ini? Apa anda tidak memikirkan keadaan ayah anda?"
"Ottokharago?"
"Jonghyun-ssi, apa anda mau mengorbankan ayah anda bahkan semua keluarga anda hanya demi kebahagiaan sendiri? Pikirkanlah baik-baik sebelum bertindak. Saya tahu bagaimana perasaan anda, tapi anda hanya harus menunggu sampai keadaan kembali membaik. Setelah itu anda boleh memilih jalan anda. Itu pendapat saya, tapi semua keputusan ada di tangan anda."
Jonhyun terlihat berpikir. Beberapa menit tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua. Shinhye juga terlihat nyaman dengan keadaan ini.
"Gomapda, Shinhye-ssi. Sepertinya kau memang benar," ujar Jonghyun tiba-tiba yang membuat kegiatan menatap Jonghyun oleh Shinhye mendadak berhenti.
Pesanan makanan datang dan Jonghyun memilih minum anggur karena cuaca yang dingin.
"Shinhye-ssi, kenapa ponselmu kau matikan siang tadi? Aku kan ingin makan siang denganmu, tapi tidak jadi karena ponselmu mati
,” katanya sambil meneguk anggurnya. “Karena aku benar-benar ingin bertemu denganmu, oleh karena itu malam juga tidak jadi masalah." Kali ini dia meneguk segelas anggur lagi.
Sedang Shinhye malah tersenyum senang melihat Jonghyun begitu menginginkan pertemuan ini.
"Apa yang kau lakukan siang tadi? Kenapa begitu sibuk sampai mematikan ponselmu?"
"Mianhaeyo. Aku pergi mendampingi pemilik restaurant tak punya hati itu bertemu kliennya."
"Eoh, kau bekerja di restaurant itu lagi?"
"Maaf, aku lupa mengatakannya pada anda. Sudah semingguan aku bekerja lagi di sana."
"Shinhye-ssi, bisakah kau tidak memanggilku anda lagi?"
Shinhye menatap Jonghyun yang tiba-tiba meminta sesuatu yang menurutnya sangat aneh. Sedang Jonghyun sendiri malah menatap balik Shinhye seakan menuntut jawaban Shinye atas permintaannya.
"Mianhamnida. Sebenarnya ini terlihat aneh, tapi saya akan mencobanya."
"Gwaenchanha. Aku hanya ingin kita lebih akrab. Jadi Shinhye-ssi, mulai hari ini bicara banmal-lah denganku.”
Shinhye mengangguk pasti.
Ah, Shinhye-ssi apa hari ini ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku? Aku ingin mendengarnya." Jonghyun menuang lagi dan lagi anggur ke dalam cangkirnya dan cangkir Shinhye.
Shinhye mengangguk kemudian dia mulai bercerita semua yang dia alami sampai akhirnya dia
tersadar bahwa Jonghyun sudah mabuk berat. Shinhye hendak menelepon Hyunwoo karena Jonghyun yang banyak minum, tapi Jonghyun malah menahannya. Jonghyun tetap memaksa ingin berjalan ke luar. Dia ingin sesekali ditemani seseorang, berdiri di tempat pejalan kaki sambil menatap sungai besar di Seoul itu.
Setelah sampai di tempat yang Jonghyun inginkan, dia berdiri dengan tangan merentang dan tiba-tiba berteriak.
"Kau. Angin. Cepat kemari dan bawa semuuu-a kesedihan ini. Ppalli!" Sesekali dia berbalik dan tersenyum pada Shinhye meskipun dia sendiri sedang sulit menahan tubuhnya yang oleng.
Seketika itu juga Shinhye tertarik untuk melakukan hal yang sama. Dia tiba-tiba merentangkan tangan dan berteriak. "Kau. Hujan musim gugur. Cepatlah turun dan bawa semua kesedihan ini. Ppalli!"
Jonghyun yang setengah sadar tersenyum melihat tingkah Shinhye. Tapi saat itu juga dia langsung ambruk di tubuh Shinhye.
Saat Jonghyun ambruk di atas tubuhnya, Shinhye oleng seketika tapi segera dia mendudukan Jonghyun di trotoar dan menyandarkannya di bahunya.
"Aigoo, jjinja kyeopta," ucapnya dengan senyuman bahagia karena Jonghyun yang bersandar manis di bahunya. Setelah itu dia mengambil ponselnya dan menelepon Hyunwoo memberitahukan keberadaan mereka.

At Yonghwa's House
"Hyeong, jebal. Temanku itu dan Jonghyun hyeong sendiri di tepi jalan. Aku tidak mungkin membiarkan mereka kedinginan di sana. Dan lagi aku hanya seorang anak sekretaris baginya. Jadi tidak mungkin aku membawa mobilku, hyeong." Hyunwoo terus memelas meminta bantuan kakak sepupunya itu.
"Geurae. Aku akan mengantarmu. Tapi beritahu dulu siapa nama temanmu itu?" tanya Yonghwa sedikit penasaran. Dia curiga teman yang selama ini diceritakan Hyunwoo adalah Park Shin Hye. Berhubung tadi Shinhye sempat memanggil nama Jonghyun lewat telepon.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya?"
"Mau kuantar atau tidak?"
"Park Shin Hye," jawab Hyunwoo cepat takut Yonghwa akan berubah pikiran. "Namanya Park Shin Hye. Kau sudah tahu namanya kan? Sekarang antar aku ke sana."
Ternyata benar apa yang dicurigai Yonghwa. Benar-benar tidak disangka wanita itu tidak hanya bekerja untuknya tapi juga untuk sepupunya.
Yonghwa mengambil kunci mobilnya, keluar bersama Hyunwoo menuju tempat tujuan itu.
"Pantas saja, kau sering mengunjungi JeResto. Ternyata karena Park Shin Hye itu temanmu," kata Yonghwa ketika mereka dalam perjalanan ke tempat Shinhye dan Jonghyun.
"Iya. Dia itu temanku. Dan dia juga yang bekerja di restaurant-mu, hyeong."
"Aku benar-benar tidak menyangka, dia bekerja juga untuk Jonghyun."
"Ayah dan ibunya sudah meninggal. Dia seorang diri membiayai hidupnya. Bahkan melakukan dua pekerjaan sekaligus dia mau, hanya untuk bertahan hidup."
Mendengar itu Yonghwa jadi tidak tertarik untuk melanjutkan perbincangan. Sedikit menyesal juga karena dia pernah memecat Shinhye hanya karena masalah kecil.
Sepanjang perjalanan diisi mereka dengan kebisuan, sampai akhirnya tiba di tempat Shinhye dan Jonghyun berada.
Yonghwa dan Hyunwoo turun dari mobil untuk menjumpai Jonghyun dan Shinhye. Begitu Yonghwa turun, Shinhye kaget setengah mati. Dia tidak menyangka bahwa Yonghwa juga mengenal Hyunwoo.
"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shinhye bingung.
"Yonghwa hyeong itu sepupu sajangnim." Dengan cepat Hyunwoo menjawab pertanyaan Shinhye. "Aku memintanya kemari karena ini sudah larut malam. Aku kesulitan mencari kendaraan umum," kilahnya.
Shinhye hanya menganga karena belum bisa menerima kenyataan bahwa bosnya di JeResto dan Direktur Lee adalah saudara sepupu. Setelah selama ini dia mengenal Jonghyun dan bekerja padanya. Jonghyun tidak pernah menceritakan hal ini padanya.
Shinhye menggigit bibir bawahnya. Dia sedikit syok mengetahui kenyataan ini. Orang yang sering mendengar dia bercerita tentang kekesalannya pada Yonghwa ternyata adalah sepupu Yonghwa sendiri. Kalau dia tahu bahwa mereka adalah sepupu, dia tidak mungkin membicarakan nama Yonghwa. Ingin sekali dia mengguncang tubuh Jonghyun, membangunkannya dan menanyakan tentang hal ini padanya. Sayangnya orang yang bersangkutan untuk ditanyai sedang mabuk berat. Shinhye kemudian mengurungkan niatnya untuk melakukan tindakan protesnya.
"Apa sajangnim ke sini membawa mobil?"
"Molla. Kami ke sini tidak bersama-sama. Jadi aku tidak tahu apa sajangnim membawa mobil atau tidak."
"Kalau begitu bawa dia ke mobil," kata Yonghwa memotong pembicaraan.
Yonghwa dan Hyunwoo membopong Jonghyun menuju mobil Yonghwa. Sedang Shinhye sendiri terus memikirkan kenyataan yang baru saja dia dengar. Bagaimana mungkin selama ini Jonghyun telah menipunya. Sampai-sampai dirinya terlarut mengejek Yonghwa di belakang-belakang. Tanpa mengetahui kebenaran bahwa pria yang menjadi lawan bicaranya saat mengejek Yonghwa adalah sepupu kandung Yonghwa.
Apa Jonghyun sajangnim telah mengatakan semuanya pada Yonghwa-ssi? Tapi Jonghyun sajangnim bukan orang seperti itu. Aku tahu dia pasti belum mengatakannya.” Dalam hati dia terus meyakinkan dirinya bahwa Yonghwa tidak mengetahui kalau dia sering mengumpat di belakang Yonghwa.
Setelah Jonghyun didudukkan di kursi belakang mobil  bersama dengan Shinhye, Yonghwa masuk ke mobilnya, duduk di bangku kemudi dan ditemani Hyunwoo di sebelahnya. Yonghwa kemudian memasukan gigi persneling mobilnya dan mobilnya melaju di tengah jalanan Seoul yang masih ramai dengan kendaraan lalu lalang. Karena guncangan mobil, Jonghyun yang masih belum sadar malah ambruk di pangkuan Shinhye. Ketika tanpa sadar Yonghwa mencuri pandang ke belakang, dia melihat wajah Shinhye yang tegang karena malu kepala Jonghyun yang berada di atas pahanya. Yonghwa merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Intinya dia tidak tenang mengendarai mobil. Tiba-tiba dia menghentikan mobil. Dan menoleh pada Shinhye.
"Kau turun!" perintah Yonghwa pada Shinhye.
Shinhye tidak mengerti dengan perkataan Yonghwa.
"Turun dan pindah ke depan!"
Shinhye memasang tampang cemberut, tapi tetap dilaksanakannya perintah Yonghwa.
"Dan kau pindah ke belakang temani Jonghyun."
Kali ini Hyunwoo yang cemberut karena disuruh pindah ke belakang.
Yonghwa tersenyum tenang ketika Shinhye sudah pindah ke depan. Kali ini entah kenapa hatinya lebih tenang. Setelah hatinya tenang, Yonghwa kembali melanjutkan perjalanan. Di dalam hatinya dia sendiri bertanya-tanya kenapa dia bisa bersikap begini? Tapi toh tidak ada jawaban yang kunjung datang. Jadi dia biarkan saja hatinya bertanya-tanya.

2 days later
At JeResto
Jonghyun datang mencari Shinhye, dia ingin minta maaf karena telah berbohong soal hubungan keluarganya dengan Yonghwa. Jonghyun masuk dan mendapati Shinhye sedang melayani pengunjung. Dia duduk dan menunggu Shinhye. Tidak lama kemudian Shinhye datang menghampiri dia.
"Annyeonghaseyo, Jonghyun-ssi. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Annyeonghaseyo," balas Jonghyun. "Shinhye-ssi, aku ingin bicara denganmu. Apa kau tidak sibuk sekarang?"
"Jeosonghamnida, aku benar-benar sibuk sekarang."
"Shinhye-ssi, ayolah."
"Maaf aku tidak bisa," tolak Shinhye lembut.
"Mianhae, kalau kau masih marah. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain menyembunyikan status hubunganku dengan Yonghwa. Aku takut kau akan menjauh dariku kalau tahu Yonghwa itu sepupuku."
Shinhye memasang tampang cemberut. Sebenarnya hanya pura-pura marah, karena dia sendiri sudah mendengar alasan yang sebenarnya dari Hyunwoo. Kemarin, Hyunwoo sendiri datang dan meminta maaf atas namanya dan nama sajangnim-nya. Dan saat itu juga, Shinhye sudah memaafkan Jonghyun. Hanya saja kali ini dia ingin mendengar sendiri permohonan maaf dari Jonghyun.
"Mianhae. Mianhae. Mianhae." Jonghyun terus berucap kata maaf dengan lantang sampai Shinhye jadi malu sendiri karena mata semua pengunjung mulai tertuju pada mereka.
"Jonghyun-ssi, geumanhae–hentikan!"
"Shireo. Aku tidak akan berhenti sampai kau memaafkanku."
"Hajjima! Apa kau tidak malu semua pengunjung melihat ke arahmu?"
"Aku juga malu, oleh karena itu bisakah kau putuskan jawabannya sekarang? Maaf atau tidak?" Jonghyun memelas. Tapi segera melanjutkan mengucapkan kata mianhae tiada henti.
"Arayo. Arayo. Kau kumaafkan. Sekarang, kau bisa berhenti kan?"
Jonghyun tertawa lebar. Tapi tiba-tiba dia meringis kesakitan, "Ah tenggorokanku benar-benar kering karena terus mengucapkan maaf padamu. Park Shin Hye, kau harus bertanggung jawab atas hal ini."

At JeResto
Baru beberapa hari berlalu, Jonghyun datang kembali mencari Shinhye. Kali ini dia ingin makan siang bersama. Shinhye datang menghampiri, begitu melihat Jonghyun berada di salah satu kursi pengunjung JeResto.
"Annyeonghaseyo, Shinhye-ssi," sapa Jonghyun.
"Annyeonghaseyo," balas Shinhye.
"Shinhye-ssi, apa kau lupa kalau hari ini kita ada jadwal makan siang?"
Shinhye menepuk dahinya. "Eoh, aku lupa. Mianhamnida."
"Gwaenchanha. Aku ke sini karena ponselmu tidak aktif. Aku khawatir kau melupakan janji kita. Ternyata benar kau memang lupa."
"Mianhamnida, baterai ponselku habis." Shinhye setengah membungkuk sambil meminta maaf.
Jonghyun tertawa, "Lain kali, jangan biarkan ponselmu mati lagi. Nanti aku yang khawatir. Ara?" Jonghyun mengusap kepala Shinhye.
Khawatir? Dia bilang dia khawatir? Lee Jong Hyun menghawatirkanku? Apa dia menyukaiku? Andwae, andwaeyo! ujar Shinhye dalam hati.
"Ah, micheoseo," ucap Shinhye menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Micheoseo? Wae?"
"Aniyo," jawab Shinhye lantang karena kedapatan berbicara yang aneh oleh Jonghyun. "Jonghyun-ssi, tunggu di sini. Aku ke belakang mengambil makan siang untukmu." Shinhye berdalih karena gugup.
Beberapa menit kemudian, Shinhye kembali membawa baki dengan makanan dan minuman di atasnya.
"Kau duduk dan temani aku makan siang, yah."
"Andwaeyo. Aku tidak bisa melakukan itu."
"Waeyo?"
"Sepupumu itu orangnya galak. Dia bisa mencakarku kalau melihatku makan siang
denganmu sedangkan yang lain sibuk bekerja."
"Kalau begitu, aku akan menghadap sepupuku dan meminta langsung padanya." Jonghyun bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruangan Yonghwa.
"Andwae, Jonghyun-ssi!" seru Shinhye.
"Kau tenang saja di situ. Sepupuku tidak akan galak padaku. Kalau dia galak dan ingin mencakarku, kukunya akan kupotong. Kau tenang-tenang saja, oke?" Jonghyun kembali menapaki tangga menuju lantai atas ruangan Yonghwa.
Begitu Jonghyun kembali dari ruangan Yonghwa, Shinhye sudah tidak ada lagi di mejanya.
Jonghyun mencari ke setiap sudut ruangan, tapi sosok Shinhye juga tidak ada di mana-mana. Akhirnya dia memberanikan diri pergi dan mencari Shinhye ke pantry.
"Annyeonghaseyo! Siapa yang anda cari?" sapa seorang pelayan karena melihat Jonghyun yang sedang berdiri di depan pantry.
Melihat gadis ini, tiba-tiba Jantung Jonghyun seakan berhenti berdetak. "Kim Ji Won-ssi, annyeonghaseyo!" Nama ini begitu melekat di hatinya. Dia mengingat dengan pasti nama ini.
Jiwon mengerutkan kening, "Mianhamnida, apa saya mengenal anda?"
Jonghyun sedikit menyesal karena ternyata pesonanya tidak mempan untuk gadis di depannya ini. Buktinya mereka sudah pernah saling berkenalan saat pertama kali Jonghyun datang mencari Shinhye di tempat ini, tapi ternyata gadis ini tidak ingat akan nama Jonghyun.
"Ya. Aku pernah sekali ke sini dan kau yang melayani saat itu. Waktu itu ada seorang teman yang ingin kutemui. Dia bahkan bekerja juga di sini?"
"Chingu? Nuguya?"
"Park Shin Hye namanya."
"Shinhye? Eoh, anda mengenalnya? Ah, jangan-jangan anda itu bosnya?"
Jonghyun mengerutkan kening tapi langsung mengangguk mantap.
"Mianhamnida, karena tidak mengenal anda sebelumnya, Jonghyun-ssi."
"Kau ingat namaku?" tanya Jonghyun berharap.
"Siapa yang tidak ingat, kalau setiap hari hanya anda yang diceritakan Shinhye."
“Kenapa kau tidak mengenalku dari awal kita berkenalan?” Jonghyun sedikit kecewa karena Jiwon tidak mengenalnya lewat perkenalan waktu itu melainkan lewat Shinhye, asisten pribadinya.
“Saya hanya merasa nama Jonghyun itu banyak, jadi tidak mungkin menerka-nerka anda itu bos Shinhye.”
"Dia banyak cerita tentang saya? Oh, semoga bukan hal buruk yang dia ceritakan."
Saya benar-benar penasaran seperti apa wujud anda. Dan ternyata setelah melihat anda, anda benar-benar mirip seperti yang Shinhye gambarkan."
"Semoga gambarannya tentangku tidak buruk."
Jiwon tertawa simpul.
Melihat Jiwon yang sangat manis saat tertawa, menimbulkan rasa keberanian secara tiba-tiba dalam diri Jonghyun untuk mengajaknya jalan. Tanpa mengulur kata dan waktu, Jonghyun spontan berkata, "Eoh, Kim Ji Won-ssi, apa kau sibuk malam ini?"
Jiwon menggeleng.
"Apa kau mau makan malam denganku? Aku hanya malas kalau menikmati makan malam tanpa teman. Jadi kalau kau tidak sibuk, aku ingin makan malam denganmu," tutur Jonghyun tanpa berpikir.
Jiwon tidak langsung menjawab dan malah berpikir harus menjawab apa.
Eyy, jangan bilang kau menolakku. Aku tidak biasa ditolak.”
"Aku tidak bermaksud menolakmu, Lee Jong Hyun-ssi. Aku hanya perlu bertanya pada Shinhye terlebih dahulu?
Jonghyun tertawa dan berkata, "Tenang saja aku akan bilang padanya kalau aku sudah menemukan teman makan malam yang lain. Dia pasti mengerti. Dan lagi, Shinhye itu bukan siapa-siapaku. Jadi kau tak perlu minta ijin padanya. Malam ini aku yang akan menjemputmu," ujarnya retoris.
“Aku harus bekerja di restaurant malam ini. Jadi…”
“Aku akan menjemputmu di sini.” Jonghyun terlihat memaksa.
Jiwon diam tak bersuara.
“Kuanggap ya sebagai jawabannya.”
Jiwon tetap tak bersuara. Dia hanya tidak mengerti dengan jalan pikiran pria di depannya ini. Belum lama saling mengenal tapi pria ini sudah berani mengajaknya makan malam.
“Aku harus kembali ke perusahaan sekarang. Keureom.” Jonghyun pergi bahkan tanpa pamit sebelumnya pada Shinhye.

***
Jonghyun berdiri di depan pintu JeResto menunggu Jiwon. Satu persatu pegawai mulai keluar dari pintu JeResto. Jiwon pun ikut keluar dan mendapati Jonghyun sudah berdiri menunggunya di sana.
Jiwon menghampiri Jonghyun dan berkata, “Kau benar-benar ke sini?”
“Kau pikir aku bercanda padamu,” tawa Jonghyun. “Itu bukan gayaku.”
“Tapi? Shinhye?”
“Tidak usah dipikirkan. Shinhye hanya asisten biasa. Dia bukan siapa-siapa saya. Ayo kita pergi.” Jonghyun menarik tangan Jiwon pergi dari restaurant itu.
Shinhye yang baru keluar dari restaurant melihat Jonghyun sedang berjalan ke arah mobil Jonghyun yang dipakir tidak jauh dari restaurant. Shinhye ingin menegurnya, tapi tiba-tiba dia urung melakukannya begitu melihat Jonghyun menggenggam tangan seorang gadis, yang ternyata adalah Jiwon sahabatnya. Wajah Jonghyun terlihat begitu bahagia, seperti seorang anak kecil yang dibelikan ice cream oleh orangtuanya. Melihat pemandangan itu, dada Shinhye terasa sakit sekali, seperti sedang dipukul oleh palu yang sangat besar. Dia kemudian memukul-mukul pelan dadanya yang terasa sakit dari dalam. Yang ada di pikirannya saat ini adalah pertanyaan-pertanyaan tentang; Bagaimana Jonghyun bisa mengenal Jiwon? Bagaimana bisa Jonghyun menggenggam tangan orang yang baru pertama kali dikenalnya? Ini semua berbanding terbalik dengan dirinya yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mengakrabkan diri dengan Jonghyun. Shinhye benar-benar bingung. Niatnya memanggil Jonghyun dan bertanya langsung padanya. Tapi dia sadar bahwa dia tidak punya hak untuk bertanya hal itu pada Jonghyun. Jadi dia memilih untuk mengurungkan niatnya, mungkin itu lebih baik.


To Be Continued