Part 6
***
Shinhye dan Jonghyun
duduk menghadap jalan. Mereka ada dalam Cafè
besar yang ada di tepi sungai Han.
"Apa anda
sangat suka dengan sungai Han? Kenapa pertemuan kita selalu di sungai
Han?" tanya Shinhye
sedikit penasaran.
Jonghyun terdiam
sejenak, kemudian menjawab, "Karena di tempat ini aku bisa merasakan angin
kencang yang mampu membawa pergi semua kesedihanku."
Shinhye terenggut
mendengar perkataan Jonghyun.
Angin kencang yang
mampu membawa pergi semua kesedihanku? Terdengar
seperti dirinya yang selalu
menunggu hujan musim gugur yang mampu membawa pergi semua kesedihannya.
Shinhye tersenyum
mendengar kalimat Jonghyun.
"Shinhye-ssi, aku sudah capek melakukan hal ini.
Aku ingin berhenti. Aku ingin memulai semua yang baru. Aku ingin meneruskan
main gitar."
"Jonghyun-ssi, apa anda serius mengatakan ini? Apa
anda tidak memikirkan keadaan ayah anda?"
"Ottokharago?"
"Ottokharago?"
"Jonghyun-ssi, apa anda mau mengorbankan ayah anda
bahkan semua keluarga anda hanya demi kebahagiaan sendiri? Pikirkanlah
baik-baik sebelum bertindak. Saya tahu bagaimana perasaan anda, tapi anda hanya
harus menunggu sampai keadaan kembali membaik. Setelah itu anda boleh memilih
jalan anda. Itu pendapat saya, tapi semua keputusan ada di tangan anda."
Jonhyun terlihat
berpikir. Beberapa menit tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka
berdua. Shinhye juga terlihat nyaman dengan keadaan ini.
"Gomapda, Shinhye-ssi. Sepertinya kau memang benar," ujar Jonghyun tiba-tiba
yang membuat kegiatan menatap Jonghyun oleh Shinhye mendadak berhenti.
Pesanan makanan
datang dan Jonghyun memilih minum anggur karena
cuaca yang dingin.
"Shinhye-ssi, kenapa ponselmu kau matikan siang tadi? Aku kan ingin makan siang denganmu, tapi tidak jadi karena ponselmu mati,” katanya sambil meneguk anggurnya. “Karena aku benar-benar ingin bertemu denganmu, oleh karena itu malam juga tidak jadi masalah." Kali ini dia meneguk segelas anggur lagi.
"Shinhye-ssi, kenapa ponselmu kau matikan siang tadi? Aku kan ingin makan siang denganmu, tapi tidak jadi karena ponselmu mati,” katanya sambil meneguk anggurnya. “Karena aku benar-benar ingin bertemu denganmu, oleh karena itu malam juga tidak jadi masalah." Kali ini dia meneguk segelas anggur lagi.
Sedang Shinhye malah
tersenyum senang melihat Jonghyun begitu menginginkan pertemuan ini.
"Apa yang kau lakukan siang tadi? Kenapa begitu sibuk sampai mematikan ponselmu?"
"Apa yang kau lakukan siang tadi? Kenapa begitu sibuk sampai mematikan ponselmu?"
"Mianhaeyo. Aku pergi mendampingi pemilik
restaurant tak punya hati itu bertemu
kliennya."
"Eoh, kau bekerja di restaurant itu
lagi?"
"Maaf, aku lupa mengatakannya pada
anda. Sudah semingguan aku
bekerja lagi di sana."
"Shinhye-ssi, bisakah kau tidak memanggilku anda
lagi?"
Shinhye menatap
Jonghyun yang tiba-tiba meminta sesuatu yang menurutnya sangat aneh. Sedang
Jonghyun sendiri malah menatap balik Shinhye seakan menuntut jawaban Shinye
atas permintaannya.
"Mianhamnida. Sebenarnya ini terlihat
aneh, tapi saya akan mencobanya."
"Gwaenchanha. Aku hanya
ingin kita lebih akrab. Jadi Shinhye-ssi,
mulai hari ini bicara banmal-lah
denganku.”
Shinhye mengangguk
pasti.
“Ah, Shinhye-ssi apa hari ini ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku? Aku
ingin mendengarnya."
Jonghyun menuang lagi dan lagi anggur ke dalam cangkirnya dan cangkir Shinhye.
Shinhye mengangguk kemudian dia mulai bercerita semua yang dia alami sampai akhirnya dia tersadar bahwa Jonghyun sudah mabuk berat. Shinhye hendak menelepon Hyunwoo karena Jonghyun yang banyak minum, tapi Jonghyun malah menahannya. Jonghyun tetap memaksa ingin berjalan ke luar. Dia ingin sesekali ditemani seseorang, berdiri di tempat pejalan kaki sambil menatap sungai besar di Seoul itu.
Shinhye mengangguk kemudian dia mulai bercerita semua yang dia alami sampai akhirnya dia tersadar bahwa Jonghyun sudah mabuk berat. Shinhye hendak menelepon Hyunwoo karena Jonghyun yang banyak minum, tapi Jonghyun malah menahannya. Jonghyun tetap memaksa ingin berjalan ke luar. Dia ingin sesekali ditemani seseorang, berdiri di tempat pejalan kaki sambil menatap sungai besar di Seoul itu.
Setelah sampai di
tempat yang Jonghyun inginkan, dia berdiri dengan tangan merentang dan
tiba-tiba berteriak.
"Kau. Angin.
Cepat kemari dan bawa semuuu-a kesedihan ini. Ppalli!" Sesekali dia berbalik dan tersenyum pada Shinhye
meskipun dia sendiri sedang sulit menahan tubuhnya yang oleng.
Seketika itu juga Shinhye tertarik untuk melakukan hal yang sama. Dia tiba-tiba merentangkan tangan dan berteriak. "Kau. Hujan musim gugur. Cepatlah turun dan bawa semua kesedihan ini. Ppalli!"
Seketika itu juga Shinhye tertarik untuk melakukan hal yang sama. Dia tiba-tiba merentangkan tangan dan berteriak. "Kau. Hujan musim gugur. Cepatlah turun dan bawa semua kesedihan ini. Ppalli!"
Jonghyun yang
setengah sadar tersenyum melihat tingkah Shinhye. Tapi saat itu juga dia
langsung ambruk di tubuh Shinhye.
Saat Jonghyun ambruk
di atas tubuhnya, Shinhye oleng seketika tapi segera dia mendudukan Jonghyun di
trotoar dan menyandarkannya di bahunya.
"Aigoo, jjinja kyeopta," ucapnya
dengan senyuman bahagia karena Jonghyun yang bersandar manis di bahunya. Setelah itu dia
mengambil ponselnya dan menelepon Hyunwoo
memberitahukan keberadaan mereka.
At Yonghwa's House
"Hyeong, jebal. Temanku itu dan Jonghyun hyeong sendiri di tepi jalan. Aku tidak
mungkin membiarkan mereka kedinginan di sana. Dan lagi aku hanya seorang anak sekretaris baginya. Jadi
tidak mungkin aku membawa mobilku, hyeong."
Hyunwoo terus memelas meminta
bantuan kakak sepupunya itu.
"Geurae. Aku akan mengantarmu. Tapi
beritahu dulu siapa nama temanmu itu?" tanya Yonghwa sedikit penasaran.
Dia curiga teman yang selama ini diceritakan Hyunwoo adalah Park Shin Hye.
Berhubung tadi Shinhye sempat memanggil nama Jonghyun lewat telepon.
"Kenapa
tiba-tiba kau bertanya?"
"Mau kuantar
atau tidak?"
"Park Shin
Hye," jawab Hyunwoo cepat
takut Yonghwa akan berubah pikiran. "Namanya Park Shin Hye. Kau sudah
tahu namanya kan? Sekarang antar aku ke sana."
Ternyata benar apa
yang dicurigai Yonghwa. Benar-benar tidak disangka wanita itu tidak hanya
bekerja untuknya tapi juga untuk sepupunya.
Yonghwa mengambil
kunci mobilnya, keluar bersama Hyunwoo menuju tempat tujuan itu.
"Pantas saja, kau sering mengunjungi JeResto. Ternyata karena Park Shin Hye itu temanmu," kata Yonghwa ketika mereka dalam perjalanan ke tempat Shinhye dan Jonghyun.
"Pantas saja, kau sering mengunjungi JeResto. Ternyata karena Park Shin Hye itu temanmu," kata Yonghwa ketika mereka dalam perjalanan ke tempat Shinhye dan Jonghyun.
"Iya. Dia itu
temanku. Dan dia juga yang bekerja di restaurant-mu, hyeong."
"Aku
benar-benar tidak menyangka, dia bekerja juga untuk Jonghyun."
"Ayah dan
ibunya sudah meninggal. Dia seorang diri membiayai hidupnya. Bahkan melakukan
dua pekerjaan sekaligus dia mau, hanya untuk bertahan hidup."
Mendengar itu
Yonghwa jadi tidak tertarik untuk melanjutkan perbincangan. Sedikit menyesal
juga karena dia pernah memecat Shinhye hanya karena masalah kecil.
Sepanjang perjalanan
diisi mereka dengan kebisuan, sampai akhirnya tiba di tempat Shinhye dan
Jonghyun berada.
Yonghwa dan Hyunwoo
turun dari mobil untuk menjumpai Jonghyun dan Shinhye. Begitu Yonghwa turun,
Shinhye kaget setengah mati. Dia tidak menyangka bahwa Yonghwa juga mengenal
Hyunwoo.
"Kau? Apa yang
kau lakukan di sini?" tanya Shinhye bingung.
"Yonghwa hyeong itu sepupu sajangnim." Dengan
cepat Hyunwoo menjawab
pertanyaan Shinhye. "Aku memintanya kemari karena ini sudah larut
malam. Aku kesulitan mencari kendaraan umum," kilahnya.
Shinhye hanya menganga karena belum bisa
menerima kenyataan bahwa bosnya
di JeResto dan Direktur Lee adalah saudara
sepupu. Setelah selama
ini dia mengenal Jonghyun dan bekerja padanya. Jonghyun tidak pernah
menceritakan hal ini padanya.
Shinhye menggigit bibir bawahnya. Dia
sedikit syok mengetahui kenyataan ini. Orang yang sering mendengar dia
bercerita tentang kekesalannya pada Yonghwa ternyata adalah sepupu Yonghwa
sendiri. Kalau dia tahu bahwa mereka adalah sepupu, dia tidak mungkin
membicarakan nama Yonghwa. Ingin sekali dia mengguncang tubuh Jonghyun,
membangunkannya dan menanyakan tentang hal ini padanya. Sayangnya orang yang
bersangkutan untuk ditanyai sedang mabuk
berat. Shinhye kemudian mengurungkan niatnya
untuk melakukan tindakan protesnya.
"Apa sajangnim ke sini membawa mobil?"
"Molla. Kami ke sini tidak bersama-sama. Jadi aku tidak tahu apa sajangnim
membawa mobil atau tidak."
"Kalau begitu
bawa dia ke mobil," kata Yonghwa
memotong pembicaraan.
Yonghwa dan Hyunwoo
membopong Jonghyun menuju
mobil Yonghwa. Sedang Shinhye sendiri
terus memikirkan kenyataan yang baru saja dia dengar. Bagaimana mungkin
selama ini Jonghyun telah menipunya. Sampai-sampai dirinya terlarut mengejek Yonghwa
di belakang-belakang. Tanpa mengetahui kebenaran bahwa pria yang menjadi lawan
bicaranya saat mengejek Yonghwa adalah sepupu kandung Yonghwa.
“Apa
Jonghyun sajangnim telah mengatakan semuanya pada Yonghwa-ssi? Tapi Jonghyun sajangnim bukan
orang seperti itu. Aku tahu dia pasti belum mengatakannya.” Dalam hati dia
terus meyakinkan dirinya bahwa Yonghwa tidak mengetahui kalau dia sering
mengumpat di belakang Yonghwa.
Setelah Jonghyun didudukkan di kursi
belakang mobil bersama dengan Shinhye, Yonghwa masuk ke mobilnya, duduk di bangku
kemudi dan ditemani Hyunwoo di sebelahnya. Yonghwa kemudian
memasukan gigi persneling mobilnya dan mobilnya melaju di tengah jalanan Seoul
yang masih ramai dengan kendaraan lalu lalang. Karena guncangan mobil, Jonghyun
yang masih belum sadar malah ambruk di pangkuan Shinhye. Ketika tanpa sadar Yonghwa
mencuri pandang ke belakang, dia melihat wajah Shinhye yang tegang karena malu
kepala Jonghyun yang berada di atas pahanya. Yonghwa merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya.
Intinya dia tidak tenang mengendarai mobil. Tiba-tiba dia menghentikan mobil.
Dan menoleh pada Shinhye.
"Kau
turun!" perintah Yonghwa
pada Shinhye.
Shinhye tidak mengerti dengan perkataan Yonghwa.
"Turun dan
pindah ke depan!"
Shinhye memasang
tampang cemberut, tapi tetap dilaksanakannya perintah Yonghwa.
"Dan kau pindah
ke belakang temani Jonghyun."
Kali ini Hyunwoo
yang cemberut karena disuruh pindah ke belakang.
Yonghwa tersenyum
tenang ketika Shinhye sudah pindah ke depan. Kali ini entah kenapa hatinya lebih
tenang. Setelah hatinya tenang, Yonghwa kembali melanjutkan perjalanan. Di
dalam hatinya dia sendiri bertanya-tanya kenapa dia bisa bersikap begini? Tapi
toh tidak ada jawaban yang kunjung datang. Jadi dia biarkan saja hatinya
bertanya-tanya.
2 days later
At JeResto
Jonghyun datang
mencari Shinhye, dia ingin minta maaf karena telah berbohong soal hubungan
keluarganya dengan Yonghwa. Jonghyun masuk dan mendapati Shinhye sedang
melayani pengunjung. Dia duduk dan menunggu Shinhye. Tidak lama kemudian
Shinhye datang menghampiri dia.
"Annyeonghaseyo, Jonghyun-ssi. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Annyeonghaseyo," balas Jonghyun.
"Shinhye-ssi, aku ingin bicara
denganmu. Apa kau tidak sibuk sekarang?"
"Jeosonghamnida, aku benar-benar sibuk
sekarang."
"Shinhye-ssi, ayolah."
"Maaf aku tidak
bisa," tolak Shinhye
lembut.
"Mianhae, kalau kau masih marah. Aku
benar-benar tidak punya pilihan lain selain menyembunyikan status hubunganku dengan Yonghwa. Aku takut
kau akan menjauh dariku
kalau tahu Yonghwa itu sepupuku."
Shinhye memasang tampang cemberut. Sebenarnya
hanya pura-pura marah, karena dia sendiri sudah mendengar alasan yang
sebenarnya dari Hyunwoo. Kemarin, Hyunwoo sendiri datang dan meminta maaf atas
namanya dan nama sajangnim-nya. Dan
saat itu juga, Shinhye sudah memaafkan Jonghyun. Hanya saja kali ini dia ingin
mendengar sendiri permohonan maaf dari Jonghyun.
"Mianhae. Mianhae. Mianhae."
Jonghyun terus berucap kata maaf dengan lantang sampai Shinhye jadi malu
sendiri karena mata semua pengunjung mulai tertuju pada mereka.
"Jonghyun-ssi, geumanhae–hentikan!"
"Shireo. Aku tidak akan berhenti sampai
kau memaafkanku."
"Hajjima! Apa kau tidak malu semua
pengunjung melihat ke arahmu?"
"Aku juga malu,
oleh karena itu bisakah kau putuskan jawabannya sekarang? Maaf atau
tidak?" Jonghyun memelas. Tapi segera melanjutkan mengucapkan kata mianhae tiada henti.
"Arayo. Arayo. Kau kumaafkan. Sekarang,
kau bisa berhenti kan?"
Jonghyun tertawa
lebar. Tapi tiba-tiba dia meringis kesakitan, "Ah… tenggorokanku benar-benar kering
karena terus mengucapkan
maaf padamu. Park Shin
Hye, kau harus bertanggung jawab atas hal ini."
At JeResto
Baru beberapa hari
berlalu, Jonghyun datang kembali mencari Shinhye. Kali ini dia ingin makan
siang bersama. Shinhye datang menghampiri, begitu melihat Jonghyun berada di
salah satu kursi pengunjung
JeResto.
"Annyeonghaseyo, Shinhye-ssi," sapa Jonghyun.
"Annyeonghaseyo," balas Shinhye.
"Shinhye-ssi, apa kau lupa kalau hari ini kita
ada jadwal makan siang?"
Shinhye menepuk dahinya.
"Eoh, aku lupa. Mianhamnida."
"Gwaenchanha. Aku ke sini karena ponselmu
tidak aktif. Aku khawatir kau melupakan janji kita. Ternyata benar kau memang
lupa."
"Mianhamnida, baterai ponselku
habis." Shinhye setengah membungkuk sambil
meminta maaf.
Jonghyun tertawa,
"Lain kali, jangan biarkan ponselmu mati lagi. Nanti aku yang khawatir. Ara?" Jonghyun mengusap kepala Shinhye.
“Khawatir? Dia bilang dia khawatir? Lee Jong Hyun
menghawatirkanku? Apa dia menyukaiku? Andwae, andwaeyo!” ujar Shinhye dalam hati.
"Ah, micheoseo,"
ucap Shinhye menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Micheoseo? Wae?"
"Aniyo," jawab Shinhye lantang
karena kedapatan berbicara yang aneh oleh Jonghyun. "Jonghyun-ssi, tunggu di sini. Aku ke belakang
mengambil makan siang untukmu." Shinhye berdalih karena gugup.
Beberapa menit
kemudian, Shinhye kembali membawa baki dengan makanan dan minuman di atasnya.
"Kau duduk dan
temani aku makan siang, yah."
"Andwaeyo. Aku tidak bisa melakukan
itu."
"Waeyo?"
"Sepupumu itu orangnya galak. Dia bisa mencakarku kalau melihatku makan siang denganmu sedangkan yang lain sibuk bekerja."
"Sepupumu itu orangnya galak. Dia bisa mencakarku kalau melihatku makan siang denganmu sedangkan yang lain sibuk bekerja."
"Kalau begitu,
aku akan menghadap sepupuku dan meminta langsung padanya." Jonghyun
bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruangan Yonghwa.
"Andwae, Jonghyun-ssi!"
seru Shinhye.
"Kau tenang
saja di situ. Sepupuku tidak akan galak padaku. Kalau dia galak dan ingin
mencakarku, kukunya akan kupotong. Kau tenang-tenang saja, oke?" Jonghyun kembali menapaki
tangga menuju lantai atas ruangan Yonghwa.
Begitu Jonghyun
kembali dari ruangan Yonghwa, Shinhye sudah tidak ada lagi di mejanya.
Jonghyun mencari ke
setiap sudut ruangan, tapi sosok Shinhye juga tidak ada di mana-mana. Akhirnya
dia memberanikan diri pergi dan mencari Shinhye ke pantry.
"Annyeonghaseyo! Siapa yang anda
cari?" sapa seorang pelayan karena melihat Jonghyun yang sedang berdiri di depan pantry.
Melihat gadis ini,
tiba-tiba Jantung Jonghyun seakan berhenti berdetak. "Kim Ji Won-ssi, annyeonghaseyo!" Nama ini begitu melekat di hatinya. Dia
mengingat dengan pasti nama ini.
Jiwon mengerutkan kening, "Mianhamnida, apa saya mengenal anda?"
Jiwon mengerutkan kening, "Mianhamnida, apa saya mengenal anda?"
Jonghyun sedikit
menyesal karena ternyata pesonanya tidak mempan untuk gadis di depannya ini.
Buktinya mereka sudah pernah saling berkenalan saat pertama kali Jonghyun
datang mencari Shinhye di tempat ini, tapi ternyata gadis ini tidak ingat akan
nama Jonghyun.
"Ya. Aku pernah
sekali ke sini dan kau yang melayani saat itu. Waktu itu ada seorang teman yang
ingin kutemui. Dia bahkan bekerja juga di sini?"
"Chingu? Nuguya?"
"Park Shin Hye
namanya."
"Shinhye? Eoh, anda mengenalnya? Ah, jangan-jangan
anda itu bosnya?"
Jonghyun mengerutkan
kening tapi langsung mengangguk mantap.
"Mianhamnida, karena tidak mengenal anda
sebelumnya, Jonghyun-ssi."
"Kau ingat
namaku?" tanya Jonghyun berharap.
"Siapa yang tidak
ingat, kalau setiap hari hanya anda yang
diceritakan Shinhye."
“Kenapa kau tidak
mengenalku dari awal kita berkenalan?” Jonghyun sedikit kecewa karena Jiwon tidak mengenalnya lewat perkenalan
waktu itu melainkan lewat Shinhye, asisten pribadinya.
“Saya hanya merasa
nama Jonghyun itu banyak, jadi tidak mungkin menerka-nerka anda itu bos
Shinhye.”
"Dia banyak
cerita tentang saya? Oh, semoga bukan hal buruk yang dia ceritakan."
“Saya benar-benar penasaran seperti apa
wujud anda. Dan ternyata setelah melihat anda, anda benar-benar mirip seperti
yang Shinhye gambarkan."
"Semoga
gambarannya tentangku tidak buruk."
Jiwon tertawa
simpul.
Melihat Jiwon yang
sangat manis saat tertawa, menimbulkan rasa keberanian secara tiba-tiba dalam
diri Jonghyun untuk mengajaknya jalan. Tanpa mengulur kata dan waktu, Jonghyun
spontan berkata, "Eoh, Kim Ji
Won-ssi, apa kau sibuk malam ini?"
Jiwon menggeleng.
"Apa kau mau makan malam denganku? Aku hanya malas kalau menikmati makan malam tanpa teman. Jadi kalau kau
tidak sibuk, aku ingin makan malam
denganmu," tutur Jonghyun
tanpa berpikir.
Jiwon tidak langsung menjawab dan malah berpikir
harus menjawab apa.
“Eyy,
jangan bilang kau menolakku. Aku tidak biasa ditolak.”
"Aku tidak bermaksud menolakmu, Lee Jong
Hyun-ssi. Aku hanya perlu bertanya
pada Shinhye terlebih dahulu?”
Jonghyun tertawa dan
berkata, "Tenang saja aku akan bilang padanya kalau aku sudah menemukan
teman makan malam yang lain.
Dia pasti mengerti. Dan lagi,
Shinhye itu bukan siapa-siapaku. Jadi kau
tak perlu minta ijin padanya. Malam
ini aku yang akan menjemputmu," ujarnya retoris.
“Aku harus bekerja di restaurant malam ini. Jadi…”
“Aku akan menjemputmu di sini.” Jonghyun
terlihat memaksa.
Jiwon diam tak bersuara.
“Kuanggap ya sebagai jawabannya.”
Jiwon tetap tak bersuara. Dia hanya tidak
mengerti dengan jalan pikiran pria di depannya ini. Belum lama saling mengenal
tapi pria ini sudah berani mengajaknya makan malam.
“Aku harus kembali ke perusahaan
sekarang. Keureom.” Jonghyun pergi
bahkan tanpa pamit sebelumnya pada Shinhye.
***
Jonghyun berdiri di depan pintu JeResto
menunggu Jiwon. Satu persatu pegawai mulai keluar dari pintu JeResto. Jiwon pun
ikut keluar dan mendapati Jonghyun sudah berdiri menunggunya di sana.
Jiwon menghampiri Jonghyun dan berkata,
“Kau benar-benar ke sini?”
“Kau pikir aku bercanda padamu,” tawa
Jonghyun. “Itu bukan gayaku.”
“Tapi? Shinhye?”
“Tidak usah dipikirkan. Shinhye hanya
asisten biasa. Dia bukan siapa-siapa saya. Ayo kita pergi.” Jonghyun
menarik tangan Jiwon pergi dari restaurant itu.
Shinhye yang baru keluar dari restaurant melihat
Jonghyun sedang berjalan ke arah mobil Jonghyun yang
dipakir tidak jauh dari restaurant. Shinhye ingin menegurnya, tapi tiba-tiba dia urung melakukannya
begitu melihat Jonghyun menggenggam tangan seorang gadis, yang ternyata adalah
Jiwon sahabatnya. Wajah Jonghyun terlihat begitu bahagia, seperti seorang anak
kecil yang dibelikan ice cream oleh
orangtuanya. Melihat pemandangan itu, dada Shinhye terasa sakit sekali, seperti
sedang dipukul oleh palu yang sangat besar. Dia kemudian memukul-mukul pelan
dadanya yang terasa sakit dari dalam. Yang ada di pikirannya saat ini adalah
pertanyaan-pertanyaan tentang; Bagaimana Jonghyun bisa mengenal Jiwon? Bagaimana bisa Jonghyun menggenggam tangan orang yang baru pertama kali dikenalnya? Ini semua
berbanding terbalik dengan dirinya yang membutuhkan waktu berminggu-minggu
untuk mengakrabkan diri dengan Jonghyun. Shinhye benar-benar bingung. Niatnya memanggil
Jonghyun dan bertanya langsung padanya.
Tapi dia sadar bahwa dia tidak punya hak untuk bertanya hal itu pada Jonghyun. Jadi dia
memilih untuk mengurungkan
niatnya, mungkin itu lebih baik.
To Be Continued

