"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Jumat, 08 Juli 2016

Rain of Autumn Part 6

Part 6


***
Shinhye dan Jonghyun duduk menghadap jalan. Mereka ada dalam Cafè besar yang ada di tepi sungai Han.
"Apa anda sangat suka dengan sungai Han? Kenapa pertemuan kita selalu di sungai Han?" tanya Shinhye sedikit penasaran.
Jonghyun terdiam sejenak, kemudian menjawab, "Karena di tempat ini aku bisa merasakan angin kencang yang mampu membawa pergi semua kesedihanku."
Shinhye terenggut mendengar perkataan Jonghyun.
Angin kencang yang mampu membawa pergi semua kesedihanku? Terdengar seperti dirinya yang selalu menunggu hujan musim gugur yang mampu membawa pergi semua kesedihannya.
Shinhye tersenyum mendengar kalimat Jonghyun.
"Shinhye-ssi, aku sudah capek melakukan hal ini. Aku ingin berhenti. Aku ingin memulai semua yang baru. Aku ingin meneruskan main gitar."
"Jonghyun-ssi, apa anda serius mengatakan ini? Apa anda tidak memikirkan keadaan ayah anda?"
"Ottokharago?"
"Jonghyun-ssi, apa anda mau mengorbankan ayah anda bahkan semua keluarga anda hanya demi kebahagiaan sendiri? Pikirkanlah baik-baik sebelum bertindak. Saya tahu bagaimana perasaan anda, tapi anda hanya harus menunggu sampai keadaan kembali membaik. Setelah itu anda boleh memilih jalan anda. Itu pendapat saya, tapi semua keputusan ada di tangan anda."
Jonhyun terlihat berpikir. Beberapa menit tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua. Shinhye juga terlihat nyaman dengan keadaan ini.
"Gomapda, Shinhye-ssi. Sepertinya kau memang benar," ujar Jonghyun tiba-tiba yang membuat kegiatan menatap Jonghyun oleh Shinhye mendadak berhenti.
Pesanan makanan datang dan Jonghyun memilih minum anggur karena cuaca yang dingin.
"Shinhye-ssi, kenapa ponselmu kau matikan siang tadi? Aku kan ingin makan siang denganmu, tapi tidak jadi karena ponselmu mati
,” katanya sambil meneguk anggurnya. “Karena aku benar-benar ingin bertemu denganmu, oleh karena itu malam juga tidak jadi masalah." Kali ini dia meneguk segelas anggur lagi.
Sedang Shinhye malah tersenyum senang melihat Jonghyun begitu menginginkan pertemuan ini.
"Apa yang kau lakukan siang tadi? Kenapa begitu sibuk sampai mematikan ponselmu?"
"Mianhaeyo. Aku pergi mendampingi pemilik restaurant tak punya hati itu bertemu kliennya."
"Eoh, kau bekerja di restaurant itu lagi?"
"Maaf, aku lupa mengatakannya pada anda. Sudah semingguan aku bekerja lagi di sana."
"Shinhye-ssi, bisakah kau tidak memanggilku anda lagi?"
Shinhye menatap Jonghyun yang tiba-tiba meminta sesuatu yang menurutnya sangat aneh. Sedang Jonghyun sendiri malah menatap balik Shinhye seakan menuntut jawaban Shinye atas permintaannya.
"Mianhamnida. Sebenarnya ini terlihat aneh, tapi saya akan mencobanya."
"Gwaenchanha. Aku hanya ingin kita lebih akrab. Jadi Shinhye-ssi, mulai hari ini bicara banmal-lah denganku.”
Shinhye mengangguk pasti.
Ah, Shinhye-ssi apa hari ini ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku? Aku ingin mendengarnya." Jonghyun menuang lagi dan lagi anggur ke dalam cangkirnya dan cangkir Shinhye.
Shinhye mengangguk kemudian dia mulai bercerita semua yang dia alami sampai akhirnya dia
tersadar bahwa Jonghyun sudah mabuk berat. Shinhye hendak menelepon Hyunwoo karena Jonghyun yang banyak minum, tapi Jonghyun malah menahannya. Jonghyun tetap memaksa ingin berjalan ke luar. Dia ingin sesekali ditemani seseorang, berdiri di tempat pejalan kaki sambil menatap sungai besar di Seoul itu.
Setelah sampai di tempat yang Jonghyun inginkan, dia berdiri dengan tangan merentang dan tiba-tiba berteriak.
"Kau. Angin. Cepat kemari dan bawa semuuu-a kesedihan ini. Ppalli!" Sesekali dia berbalik dan tersenyum pada Shinhye meskipun dia sendiri sedang sulit menahan tubuhnya yang oleng.
Seketika itu juga Shinhye tertarik untuk melakukan hal yang sama. Dia tiba-tiba merentangkan tangan dan berteriak. "Kau. Hujan musim gugur. Cepatlah turun dan bawa semua kesedihan ini. Ppalli!"
Jonghyun yang setengah sadar tersenyum melihat tingkah Shinhye. Tapi saat itu juga dia langsung ambruk di tubuh Shinhye.
Saat Jonghyun ambruk di atas tubuhnya, Shinhye oleng seketika tapi segera dia mendudukan Jonghyun di trotoar dan menyandarkannya di bahunya.
"Aigoo, jjinja kyeopta," ucapnya dengan senyuman bahagia karena Jonghyun yang bersandar manis di bahunya. Setelah itu dia mengambil ponselnya dan menelepon Hyunwoo memberitahukan keberadaan mereka.

At Yonghwa's House
"Hyeong, jebal. Temanku itu dan Jonghyun hyeong sendiri di tepi jalan. Aku tidak mungkin membiarkan mereka kedinginan di sana. Dan lagi aku hanya seorang anak sekretaris baginya. Jadi tidak mungkin aku membawa mobilku, hyeong." Hyunwoo terus memelas meminta bantuan kakak sepupunya itu.
"Geurae. Aku akan mengantarmu. Tapi beritahu dulu siapa nama temanmu itu?" tanya Yonghwa sedikit penasaran. Dia curiga teman yang selama ini diceritakan Hyunwoo adalah Park Shin Hye. Berhubung tadi Shinhye sempat memanggil nama Jonghyun lewat telepon.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya?"
"Mau kuantar atau tidak?"
"Park Shin Hye," jawab Hyunwoo cepat takut Yonghwa akan berubah pikiran. "Namanya Park Shin Hye. Kau sudah tahu namanya kan? Sekarang antar aku ke sana."
Ternyata benar apa yang dicurigai Yonghwa. Benar-benar tidak disangka wanita itu tidak hanya bekerja untuknya tapi juga untuk sepupunya.
Yonghwa mengambil kunci mobilnya, keluar bersama Hyunwoo menuju tempat tujuan itu.
"Pantas saja, kau sering mengunjungi JeResto. Ternyata karena Park Shin Hye itu temanmu," kata Yonghwa ketika mereka dalam perjalanan ke tempat Shinhye dan Jonghyun.
"Iya. Dia itu temanku. Dan dia juga yang bekerja di restaurant-mu, hyeong."
"Aku benar-benar tidak menyangka, dia bekerja juga untuk Jonghyun."
"Ayah dan ibunya sudah meninggal. Dia seorang diri membiayai hidupnya. Bahkan melakukan dua pekerjaan sekaligus dia mau, hanya untuk bertahan hidup."
Mendengar itu Yonghwa jadi tidak tertarik untuk melanjutkan perbincangan. Sedikit menyesal juga karena dia pernah memecat Shinhye hanya karena masalah kecil.
Sepanjang perjalanan diisi mereka dengan kebisuan, sampai akhirnya tiba di tempat Shinhye dan Jonghyun berada.
Yonghwa dan Hyunwoo turun dari mobil untuk menjumpai Jonghyun dan Shinhye. Begitu Yonghwa turun, Shinhye kaget setengah mati. Dia tidak menyangka bahwa Yonghwa juga mengenal Hyunwoo.
"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Shinhye bingung.
"Yonghwa hyeong itu sepupu sajangnim." Dengan cepat Hyunwoo menjawab pertanyaan Shinhye. "Aku memintanya kemari karena ini sudah larut malam. Aku kesulitan mencari kendaraan umum," kilahnya.
Shinhye hanya menganga karena belum bisa menerima kenyataan bahwa bosnya di JeResto dan Direktur Lee adalah saudara sepupu. Setelah selama ini dia mengenal Jonghyun dan bekerja padanya. Jonghyun tidak pernah menceritakan hal ini padanya.
Shinhye menggigit bibir bawahnya. Dia sedikit syok mengetahui kenyataan ini. Orang yang sering mendengar dia bercerita tentang kekesalannya pada Yonghwa ternyata adalah sepupu Yonghwa sendiri. Kalau dia tahu bahwa mereka adalah sepupu, dia tidak mungkin membicarakan nama Yonghwa. Ingin sekali dia mengguncang tubuh Jonghyun, membangunkannya dan menanyakan tentang hal ini padanya. Sayangnya orang yang bersangkutan untuk ditanyai sedang mabuk berat. Shinhye kemudian mengurungkan niatnya untuk melakukan tindakan protesnya.
"Apa sajangnim ke sini membawa mobil?"
"Molla. Kami ke sini tidak bersama-sama. Jadi aku tidak tahu apa sajangnim membawa mobil atau tidak."
"Kalau begitu bawa dia ke mobil," kata Yonghwa memotong pembicaraan.
Yonghwa dan Hyunwoo membopong Jonghyun menuju mobil Yonghwa. Sedang Shinhye sendiri terus memikirkan kenyataan yang baru saja dia dengar. Bagaimana mungkin selama ini Jonghyun telah menipunya. Sampai-sampai dirinya terlarut mengejek Yonghwa di belakang-belakang. Tanpa mengetahui kebenaran bahwa pria yang menjadi lawan bicaranya saat mengejek Yonghwa adalah sepupu kandung Yonghwa.
Apa Jonghyun sajangnim telah mengatakan semuanya pada Yonghwa-ssi? Tapi Jonghyun sajangnim bukan orang seperti itu. Aku tahu dia pasti belum mengatakannya.” Dalam hati dia terus meyakinkan dirinya bahwa Yonghwa tidak mengetahui kalau dia sering mengumpat di belakang Yonghwa.
Setelah Jonghyun didudukkan di kursi belakang mobil  bersama dengan Shinhye, Yonghwa masuk ke mobilnya, duduk di bangku kemudi dan ditemani Hyunwoo di sebelahnya. Yonghwa kemudian memasukan gigi persneling mobilnya dan mobilnya melaju di tengah jalanan Seoul yang masih ramai dengan kendaraan lalu lalang. Karena guncangan mobil, Jonghyun yang masih belum sadar malah ambruk di pangkuan Shinhye. Ketika tanpa sadar Yonghwa mencuri pandang ke belakang, dia melihat wajah Shinhye yang tegang karena malu kepala Jonghyun yang berada di atas pahanya. Yonghwa merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Intinya dia tidak tenang mengendarai mobil. Tiba-tiba dia menghentikan mobil. Dan menoleh pada Shinhye.
"Kau turun!" perintah Yonghwa pada Shinhye.
Shinhye tidak mengerti dengan perkataan Yonghwa.
"Turun dan pindah ke depan!"
Shinhye memasang tampang cemberut, tapi tetap dilaksanakannya perintah Yonghwa.
"Dan kau pindah ke belakang temani Jonghyun."
Kali ini Hyunwoo yang cemberut karena disuruh pindah ke belakang.
Yonghwa tersenyum tenang ketika Shinhye sudah pindah ke depan. Kali ini entah kenapa hatinya lebih tenang. Setelah hatinya tenang, Yonghwa kembali melanjutkan perjalanan. Di dalam hatinya dia sendiri bertanya-tanya kenapa dia bisa bersikap begini? Tapi toh tidak ada jawaban yang kunjung datang. Jadi dia biarkan saja hatinya bertanya-tanya.

2 days later
At JeResto
Jonghyun datang mencari Shinhye, dia ingin minta maaf karena telah berbohong soal hubungan keluarganya dengan Yonghwa. Jonghyun masuk dan mendapati Shinhye sedang melayani pengunjung. Dia duduk dan menunggu Shinhye. Tidak lama kemudian Shinhye datang menghampiri dia.
"Annyeonghaseyo, Jonghyun-ssi. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Annyeonghaseyo," balas Jonghyun. "Shinhye-ssi, aku ingin bicara denganmu. Apa kau tidak sibuk sekarang?"
"Jeosonghamnida, aku benar-benar sibuk sekarang."
"Shinhye-ssi, ayolah."
"Maaf aku tidak bisa," tolak Shinhye lembut.
"Mianhae, kalau kau masih marah. Aku benar-benar tidak punya pilihan lain selain menyembunyikan status hubunganku dengan Yonghwa. Aku takut kau akan menjauh dariku kalau tahu Yonghwa itu sepupuku."
Shinhye memasang tampang cemberut. Sebenarnya hanya pura-pura marah, karena dia sendiri sudah mendengar alasan yang sebenarnya dari Hyunwoo. Kemarin, Hyunwoo sendiri datang dan meminta maaf atas namanya dan nama sajangnim-nya. Dan saat itu juga, Shinhye sudah memaafkan Jonghyun. Hanya saja kali ini dia ingin mendengar sendiri permohonan maaf dari Jonghyun.
"Mianhae. Mianhae. Mianhae." Jonghyun terus berucap kata maaf dengan lantang sampai Shinhye jadi malu sendiri karena mata semua pengunjung mulai tertuju pada mereka.
"Jonghyun-ssi, geumanhae–hentikan!"
"Shireo. Aku tidak akan berhenti sampai kau memaafkanku."
"Hajjima! Apa kau tidak malu semua pengunjung melihat ke arahmu?"
"Aku juga malu, oleh karena itu bisakah kau putuskan jawabannya sekarang? Maaf atau tidak?" Jonghyun memelas. Tapi segera melanjutkan mengucapkan kata mianhae tiada henti.
"Arayo. Arayo. Kau kumaafkan. Sekarang, kau bisa berhenti kan?"
Jonghyun tertawa lebar. Tapi tiba-tiba dia meringis kesakitan, "Ah tenggorokanku benar-benar kering karena terus mengucapkan maaf padamu. Park Shin Hye, kau harus bertanggung jawab atas hal ini."

At JeResto
Baru beberapa hari berlalu, Jonghyun datang kembali mencari Shinhye. Kali ini dia ingin makan siang bersama. Shinhye datang menghampiri, begitu melihat Jonghyun berada di salah satu kursi pengunjung JeResto.
"Annyeonghaseyo, Shinhye-ssi," sapa Jonghyun.
"Annyeonghaseyo," balas Shinhye.
"Shinhye-ssi, apa kau lupa kalau hari ini kita ada jadwal makan siang?"
Shinhye menepuk dahinya. "Eoh, aku lupa. Mianhamnida."
"Gwaenchanha. Aku ke sini karena ponselmu tidak aktif. Aku khawatir kau melupakan janji kita. Ternyata benar kau memang lupa."
"Mianhamnida, baterai ponselku habis." Shinhye setengah membungkuk sambil meminta maaf.
Jonghyun tertawa, "Lain kali, jangan biarkan ponselmu mati lagi. Nanti aku yang khawatir. Ara?" Jonghyun mengusap kepala Shinhye.
Khawatir? Dia bilang dia khawatir? Lee Jong Hyun menghawatirkanku? Apa dia menyukaiku? Andwae, andwaeyo! ujar Shinhye dalam hati.
"Ah, micheoseo," ucap Shinhye menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Micheoseo? Wae?"
"Aniyo," jawab Shinhye lantang karena kedapatan berbicara yang aneh oleh Jonghyun. "Jonghyun-ssi, tunggu di sini. Aku ke belakang mengambil makan siang untukmu." Shinhye berdalih karena gugup.
Beberapa menit kemudian, Shinhye kembali membawa baki dengan makanan dan minuman di atasnya.
"Kau duduk dan temani aku makan siang, yah."
"Andwaeyo. Aku tidak bisa melakukan itu."
"Waeyo?"
"Sepupumu itu orangnya galak. Dia bisa mencakarku kalau melihatku makan siang
denganmu sedangkan yang lain sibuk bekerja."
"Kalau begitu, aku akan menghadap sepupuku dan meminta langsung padanya." Jonghyun bangkit dari duduknya dan berjalan ke ruangan Yonghwa.
"Andwae, Jonghyun-ssi!" seru Shinhye.
"Kau tenang saja di situ. Sepupuku tidak akan galak padaku. Kalau dia galak dan ingin mencakarku, kukunya akan kupotong. Kau tenang-tenang saja, oke?" Jonghyun kembali menapaki tangga menuju lantai atas ruangan Yonghwa.
Begitu Jonghyun kembali dari ruangan Yonghwa, Shinhye sudah tidak ada lagi di mejanya.
Jonghyun mencari ke setiap sudut ruangan, tapi sosok Shinhye juga tidak ada di mana-mana. Akhirnya dia memberanikan diri pergi dan mencari Shinhye ke pantry.
"Annyeonghaseyo! Siapa yang anda cari?" sapa seorang pelayan karena melihat Jonghyun yang sedang berdiri di depan pantry.
Melihat gadis ini, tiba-tiba Jantung Jonghyun seakan berhenti berdetak. "Kim Ji Won-ssi, annyeonghaseyo!" Nama ini begitu melekat di hatinya. Dia mengingat dengan pasti nama ini.
Jiwon mengerutkan kening, "Mianhamnida, apa saya mengenal anda?"
Jonghyun sedikit menyesal karena ternyata pesonanya tidak mempan untuk gadis di depannya ini. Buktinya mereka sudah pernah saling berkenalan saat pertama kali Jonghyun datang mencari Shinhye di tempat ini, tapi ternyata gadis ini tidak ingat akan nama Jonghyun.
"Ya. Aku pernah sekali ke sini dan kau yang melayani saat itu. Waktu itu ada seorang teman yang ingin kutemui. Dia bahkan bekerja juga di sini?"
"Chingu? Nuguya?"
"Park Shin Hye namanya."
"Shinhye? Eoh, anda mengenalnya? Ah, jangan-jangan anda itu bosnya?"
Jonghyun mengerutkan kening tapi langsung mengangguk mantap.
"Mianhamnida, karena tidak mengenal anda sebelumnya, Jonghyun-ssi."
"Kau ingat namaku?" tanya Jonghyun berharap.
"Siapa yang tidak ingat, kalau setiap hari hanya anda yang diceritakan Shinhye."
“Kenapa kau tidak mengenalku dari awal kita berkenalan?” Jonghyun sedikit kecewa karena Jiwon tidak mengenalnya lewat perkenalan waktu itu melainkan lewat Shinhye, asisten pribadinya.
“Saya hanya merasa nama Jonghyun itu banyak, jadi tidak mungkin menerka-nerka anda itu bos Shinhye.”
"Dia banyak cerita tentang saya? Oh, semoga bukan hal buruk yang dia ceritakan."
Saya benar-benar penasaran seperti apa wujud anda. Dan ternyata setelah melihat anda, anda benar-benar mirip seperti yang Shinhye gambarkan."
"Semoga gambarannya tentangku tidak buruk."
Jiwon tertawa simpul.
Melihat Jiwon yang sangat manis saat tertawa, menimbulkan rasa keberanian secara tiba-tiba dalam diri Jonghyun untuk mengajaknya jalan. Tanpa mengulur kata dan waktu, Jonghyun spontan berkata, "Eoh, Kim Ji Won-ssi, apa kau sibuk malam ini?"
Jiwon menggeleng.
"Apa kau mau makan malam denganku? Aku hanya malas kalau menikmati makan malam tanpa teman. Jadi kalau kau tidak sibuk, aku ingin makan malam denganmu," tutur Jonghyun tanpa berpikir.
Jiwon tidak langsung menjawab dan malah berpikir harus menjawab apa.
Eyy, jangan bilang kau menolakku. Aku tidak biasa ditolak.”
"Aku tidak bermaksud menolakmu, Lee Jong Hyun-ssi. Aku hanya perlu bertanya pada Shinhye terlebih dahulu?
Jonghyun tertawa dan berkata, "Tenang saja aku akan bilang padanya kalau aku sudah menemukan teman makan malam yang lain. Dia pasti mengerti. Dan lagi, Shinhye itu bukan siapa-siapaku. Jadi kau tak perlu minta ijin padanya. Malam ini aku yang akan menjemputmu," ujarnya retoris.
“Aku harus bekerja di restaurant malam ini. Jadi…”
“Aku akan menjemputmu di sini.” Jonghyun terlihat memaksa.
Jiwon diam tak bersuara.
“Kuanggap ya sebagai jawabannya.”
Jiwon tetap tak bersuara. Dia hanya tidak mengerti dengan jalan pikiran pria di depannya ini. Belum lama saling mengenal tapi pria ini sudah berani mengajaknya makan malam.
“Aku harus kembali ke perusahaan sekarang. Keureom.” Jonghyun pergi bahkan tanpa pamit sebelumnya pada Shinhye.

***
Jonghyun berdiri di depan pintu JeResto menunggu Jiwon. Satu persatu pegawai mulai keluar dari pintu JeResto. Jiwon pun ikut keluar dan mendapati Jonghyun sudah berdiri menunggunya di sana.
Jiwon menghampiri Jonghyun dan berkata, “Kau benar-benar ke sini?”
“Kau pikir aku bercanda padamu,” tawa Jonghyun. “Itu bukan gayaku.”
“Tapi? Shinhye?”
“Tidak usah dipikirkan. Shinhye hanya asisten biasa. Dia bukan siapa-siapa saya. Ayo kita pergi.” Jonghyun menarik tangan Jiwon pergi dari restaurant itu.
Shinhye yang baru keluar dari restaurant melihat Jonghyun sedang berjalan ke arah mobil Jonghyun yang dipakir tidak jauh dari restaurant. Shinhye ingin menegurnya, tapi tiba-tiba dia urung melakukannya begitu melihat Jonghyun menggenggam tangan seorang gadis, yang ternyata adalah Jiwon sahabatnya. Wajah Jonghyun terlihat begitu bahagia, seperti seorang anak kecil yang dibelikan ice cream oleh orangtuanya. Melihat pemandangan itu, dada Shinhye terasa sakit sekali, seperti sedang dipukul oleh palu yang sangat besar. Dia kemudian memukul-mukul pelan dadanya yang terasa sakit dari dalam. Yang ada di pikirannya saat ini adalah pertanyaan-pertanyaan tentang; Bagaimana Jonghyun bisa mengenal Jiwon? Bagaimana bisa Jonghyun menggenggam tangan orang yang baru pertama kali dikenalnya? Ini semua berbanding terbalik dengan dirinya yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mengakrabkan diri dengan Jonghyun. Shinhye benar-benar bingung. Niatnya memanggil Jonghyun dan bertanya langsung padanya. Tapi dia sadar bahwa dia tidak punya hak untuk bertanya hal itu pada Jonghyun. Jadi dia memilih untuk mengurungkan niatnya, mungkin itu lebih baik.


To Be Continued

Kamis, 07 Juli 2016

Rain of Autumn Part 5

Part 5


Shinhye kemudian membungkuk dan keluar dari ruangan presdir. Dengan perasaan senang, dia menuruni tangga menuju ruang depan rumah itu. Saat ini dia sedang membayangkan, bagaimana wajah Yonghwa kalau tahu bahwa dia adalah pembimbing Yonghwa selama berada di JeResto.
“Mampus kau!” kata Shinhye dengan senyuman nakal yang menyeringai di wajahnya.
"Micheosseo?" tanya sebuah suara yang saat itu juga menyadarkan Shinhye dari lamunan nakalnya.
Begitu Shinhye berbalik, dia melihat pemilik suara itu sudah berdiri di depannya.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya Yonghwa sinis.
"Huh!" dengus Shinhye. "Bukan urusanmu."
Shinhye berjalan tanpa memedulikan Yonghwa. Tapi pergelangan tangannya malah disambar Yonghwa dengan kasar.
"Marhaebwa–katakan! Apa yang kau lakukan di rumahku?"
"Lepaskan!" Shinhye mencoba menarik pergelangan tangannya dari genggaman Yonghwa, tapi dia tidak kuat melawan kekuatan pria ini. "Kau, benar-benar sangat kekanakan!" semburnya kesal melihat Yonghwa tak kunjung melepaskan genggamannya.
"Neo–kau, apa kau juga mau mencari perhatianku?" terang Yonghwa percaya diri.
"Jeongmal? Kalau memang seperti itu berarti aku sudah gila." Shinhye menarik tangannya lagi dan berhasil terlepas. Kemudian dia berjalan meninggalkan Yonghwa yang masih mematung di tempatnya berdiri.
"Yonghwa doryeonim–tuan muda, presdir memanggil anda," panggil sekretaris predir.
Sebelumnya Yonghwa bertanya-tanya mengapa Shinhye bisa berada di rumahnya. Tapi semua itu terjawabkan begitu sekretaris ayahnya meminta dia menemui ayahnya. Dia yakin keberadaan Shinhye di rumah ini pasti ada hubungannya dengan ayahnya yang tiba-tiba ingin berbicara dengannya.

JeResto, seminggu kemudian.
Benar saja yang terjadi sekarang adalah Yonghwa diminta ayahnya bekerja di JeResto. Semua itu hanya untuk melihat kinerja kerja Yonghwa sebelum diputuskan untuk memimpin perusahaan. Awalnya Yonghwa menolak karena menurutnya ini belum saat bagi dia untuk belajar hal-hal seperti ini, tapi karena keras kepala ayahnya, Yonghwa malah berakhir tragis berdiri dalam JeResto saat ini sebagai bos sementara di tempat ini.
Saat ini Manager Yoo sedang memperkenalkan Yonghwa pada semua karyawan yang bekerja di JeResto. Saat sesi perkenalan, karyawan dipersilahkan Yonghwa untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing, untuk bisa mengenal satu dengan yang lain. Saat beberapa karyawan yang mendapat giliran sedang sibuk memperkenalkan diri, Shinhye dan Jiwon malah asyik membicarakan Yonghwa di belakang-belakang. Melihat Shinhye dan Jiwon yang tidak serius menghadap ke depan, membuat Yonghwa dengan keras menegur mereka. Sebenarnya teguran Yonghwa hanya sebagai bentuk balas dendamnya saja.
"Apa yang kalian berdua bicarakan di belakang? Apa kalian tidak lihat, bos kalian sedang berdiri di depan?" tegur Yonghwa.
Shinhye dan Jiwon menghadap ke depan dengan muka kecut dan mulut yang komat-kamit.
"Jangan berbincang di belakang lagi, mengerti?"
"Ne, arrasseo!" Keduanya menjawab bersamaan.
Setelah sesi perkenalan melewati beberapa orang, kini tiba giliran Shinhye. Beberapa karyawan yang mengetahui kejadian yang menimpa dia dan Yonghwa terlihat tegang. Tapi dia sendiri malah memamerkan wajah santai. Dia maju ke depan dengan perasaan cuek. Begitu ingin memperkenalkan diri, Yonghwa berjalan ke arahnya dan berkata, "Apa aku memanggilmu ke depan?"
Shinhye mengangkat ke dua alisnya, bingung dengan perkataan Yonghwa. Ini kan waktunya memperkenalkan diri. Tapi kenapa Yonghwa malah bertanya, seakan belum tiba giliran Shinhye.
"Aku tidak memanggilmu ke depan. Kau boleh kembali ke tempatmu."
Shinhye mendelik kesal dan kembali ke tempatnya semula, dengan perasaan keki.
"Yang berikutnya, silahkan perkenalkan dirimu."
Jiwon maju ke depan dan memperkenalkan dirinya. Seterusnya berlanjut sampai karyawan terakhir. Setelah sampai pada karyawan terakhir, Yonghwa seakan tidak memedulikan Shinhye yang belum memperkenalkan diri. Yonghwa menutup sesi perkenalan pagi itu dengan berkata, "Terima kasih semua atas kerjasamanya. Saya harap ke depan kita bisa saling membantu. Kalian boleh kembali bekerja."
Semua karyawan kembali beraktifitas sesuai tugas mereka masing-masing.

***
Setelah seminggu bekerja di restaurantnya menambah banyak pengalaman bagi Yonghwa. Dia jadi mengerti bagaimana rasanya berada di posisi pemimpin. Seminggu diajari manager Yoo, ternyata tidak sulit juga bagi Yonghwa untuk menyesuaikan diri. Dia bahkan bisa mengatasi semua masalah di restaurant, di luar restaurant, masalah dengan klien, semua itu dengan mudah bisa dia atasi. Belum sebulan bekerja saja, dia sudah ditugasi untuk bertemu klien yang akan bekerja sama dengan mereka sehubungan dengan restaurant mereka yang akan dikontrak untuk dipakai setiap kali perusahaan tersebut mengadakan acara makan bersama secara besar-besaran.
Hari ini Yonghwa ditugaskan bertemu langsung dengan klien dari perusahaan tersebut.
Melihat semua karyawannya yang sedang melakukan aktifitasnya masing-masing, dia memanggil Kim Hye Joon untuk menyuruh Shinhye datang ke ruangannya.
Hyejoon berjalan menemui Shinhye. "Shinhye, kau dipanggil bos di ruangannya," panggil Hyejoon yang juga adalah salah satu karyawan di restaurant itu.
"Bos?" Shinhye bertanya kejelasan bos mana yang memanggilnya.
"Maksudku bos kita yang baru, Jung Yong Hwa-ssi. Pergilah ke ruangannya, ppalli!"
"Ah, geurae. Gomapda, eonni."
Shinhye berjalan menuju ruangan Yonghwa dengan hati yang bertanya-tanya, mengapa dia memanggil? Apa dia ingin memecatku? Atau mungkin membentakku lagi?
Seminggu bekerja dengan Yonghwa, Shinhye merasa bahwa dirinya yang ingin membalas dendam malah berakhir sebaliknya. Shinhye berjalan dengan wajah kecut, sambil memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti. Begitu sampai di depan ruangan Yonghwa, Shinhye mengetuk pintu Yonghwa dan Yonghwa mempersilahkan Shinhye masuk. Shinhye masuk dan menemukan Yonghwa sedang duduk berselonjoran di kursi kerjanya sambil menutup mata. Hanya untuk sesaat, Shinhye merasa bahwa Yonghwa terlihat sangat tampan kalau sedang diam.
Melihat Shinhye yang sudah berdiri di depannya, Yonghwa kemudian membuka pembicaraan. Katanya, "Kau dan aku harus menemui presdir di kantornya. Bilang padanya kau tidak mau mendampingiku. Lagian selama seminggu ini kau juga tidak pernah membimbingku. Semua dilakukan manajer Yoo. Oleh karena itu bilang pada ayahku untuk membatalkan kerjasamanya denganmu." Beberapa menit Yonghwa membiarkan jeda kosong dalam pembicaraannya. Kemudian kembali berbicara dia mengatakan, "Aku tidak tahu apa yang kau katakan pada presdir sampai dia sebegitu percayanya padamu?"
Wajah Shinhye menekuk. Saat itu juga dia menyesal telah memuji Yonghwa tadi. “Kenapa aku harus melakukannya?”
“Karena kerjasama kalian itu menggangguku.”
“Maksudmu?”
“Kau. Apa kau tidak mengerti kalau ayahku selalu membelamu meskipun kau berbuat salah?”
Shinhye akhirnya mengerti dengan inti pembicaraan Yonghwa. “Ah.. aku mengerti sekarang. Kau ingin aku membatalkan kerjasama dengan presdir karena setelah itu kau ingin memecatku kan?”
Ya, aku sudah tak sepicik itu. Aku hanya tak ingin kau yang terus menemaniku menemui klien. Kenapa harus kau yang mendampingiku bertemu klien? Apa dia tidak percaya pada anaknya sendiri? Paling tidak dia bisa menyuruh Manager Yoo untuk membantuku. Kenapa harus kau? Benar-benar membuat bingung," kilah Yonghwa. Jelas-jelas tidak ada aturan seperti itu dari Presdir. Presdir memperbolehkan Yonghwa untuk memilih dengan siapa dia ingin bekerja. Yang Presdir inginkan hanya kehadiran Shinhye di JeResto untuk membantu mengubah sikap Yonghwa yang terlalu keras kepala dan egois. Karena Presdir yakin bahwa mungkin Shinhye mampu melakukannya. Bukan untuk menemani Yonghwa ke mana pun Yonghwa suka. Semua yang Yonghwa ucapkan hanya alasan agar dia bisa mengerjai Shinhye.   
"Kalau kau tidak mau, kau bisa menyuruh manager Yoo mendampingimu. Presdir juga tidak akan tahu. Lagian aku juga tidak ingin menemanimu, direktur,” ujar Shinhye dengan dagu terangkat dan wajah kesal.
"Aniyo, lupakan saja. Akan lebih baik kalau kau yang melakukannya."
"Waeyo?" Shinhye merenggut.
"Kalau kau yang melakukannya, aku jadi bisa memerintahmu sesuka hatiku."
"Mwoya?"
"Kalau begitu Park Shin Hye-ssi, sekarang gantilah pakaianmu dan ikut aku menemui klien."
Shinhye menganga melihat tingkah Yonghwa yang seenaknya. Untung saja presdir yang memintanya melakukannya, kalau tidak dia tidak akan mau melakukan apa pun yang Yonghwa minta.

La Vie Café
Yonghwa dan Shinhye masuk menemui klien. Sesuai perjanjian, mereka akan duduk di meja nomor tiga. Mereka ke tempat yang dimaksud dan duduk di situ. Sementara menunggu, Shinhye bosan jadi secara spontan dia melakukan hal yang sering dia lakukan kalau sedang bosan yaitu mengembungkan pipinya.
Seketika Yonghwa tersenyum melihat tingkah lucu Shinhye. Entah kenapa selama beberapa minggu bekerja di restaurant, dia rasa Shinhye dan rekan-rekannya di Jeesto telah banyak mengubah dirinya. Dia mengakui bahwa kejengkelannya pada Shinhye selama ini pelan-pelan sudah mulai memudar. Yang ada malah rasa terimakasih karena bantuan Shinhye selama berada di restaurant. Meski dia tahu, kadang-kadang Shinhye merasa jengkel melihatnya terus memerintah, tapi bagaimana pun Shinhye tetap mau mendengarnya tanpa banyak protes. Bahkan gadis ini banyak memberikan masukan penting padanya. Tapi pengakuannya tidak bisa dia ungkapkan pada Shinhye. Yang ada dia malah berpura-pura masih sering marah pada Shinhye.
Di pihak Shinhye sendiri, dia bingung dengan dirinya yang tidak bisa mengerjai Yonghwa seperti rencananya sebelum memutuskan bekerja kembali di JeResto. Dia malah banyak membantu Yonghwa, meski Yonghwa kadang bersikap menjengkelkan. Tapi, entah kenapa dia masih betah membantu Yonghwa.
"Apa ada pertunjukan sebentar?"
Shinhye menatap Yonghwa sinis karena bingung dengan pertanyaannya.
Yonghwa mendengus lucu. "Dari tadi pipimu terus mengembung seperti badut dalam pertunjukan."
"Mworago?" ucap Shinhye keki.
Yonghwa malah tidak merespon dan tetap duduk diam menunggu klien yang akan datang.
“Aku ke toilet dulu,” kata Shinhye dan berjalan meninggalkan Yonghwa.
Beberapa menit di toilet, Shinhye tidak kunjung datang. Sedikit kekhawatiran muncul dalam benak Yonghwa. Selang beberapa menit, nomor ponsel Shinhye muncul di layar ponselnya. Dijawabnya panggilan Shinhye untuk mengurangi kekhawatirannya, “Yeoboseyo, kau di mana sekarang?”
“Aku di toilet café sekarang, tapi ada yang mengunciku dari luar. Aku tidak tahu bagaimana keluar, aku terkunci dari dalam toilet. Jung Yong Hwa-ssi, kemarilah dan selamatkan aku. Jebal! Ppalli!” Dari suara Shinhye terdengar sekali bahwa dia sedang kalang kabut.
Gwaenchanha? Kau tunggu sebentar aku akan ke sana sekarang.” Yonghwa memutuskan hubungan teleponnya dan segera berlari ke toilet café saat itu juga.

La Vie Café, toilet wanita (Lima menit yang lalu)
“Apa kau tidak lihat bocah tampan di meja nomor 3 tadi?” kata seorang ahjumma pada temannya yang sedang berhadapan dengan cermin sambil memperbaiki riasan wajahnya yang mulai pudar.
“Iya, aku melihatnya. Seandainya salah satu bocah-bocah yang sering menemani kita itu memiliki bentuk rupa sepertinya, mungkin sudah kupersunting dia,” timpal ahjumma yang lainnya lagi sambil mempertebal warna lipstick-nya.
Tiba-tiba geraian tawa dari wanita-wanita berkisar empat puluhan tahun itu memenuhi toilet wanita di café La Vie.
Dari dalam bilik toilet, Shinhye mendengar percakapan mereka dan sepertinya timbul ide cemerlang dalam benaknya. Karena hari ini, Yonghwa banyak menindasnya, dari yang memerintah seenaknya saat di restaurant tadi, sampai mengejeknya dengan sebutan badut. Akhirnya membuat Shinhye yang awalnya tidak lagi tertarik mengerjai Yonghwa, kini malah sebaliknya. Sebuah ide licik muncul di benaknya. Bagaimana membayangkan ide jahilnya ini akan sukses, membuat dia tersenyum evil sendirian dalam bilik toiletny. Dia kemudian mengangkat ponsel di saku jeansnya dan mulai menekan nomor ponsel Yonghwa menghubunginya.

La Vie Café, toilet wanita (Lima menit kemudian)
Yonghwa berdiri di depan pintu toilet tersebut, kemudian dengan gerakan cepat dia membuka kenop pintu tersebut.
“Park Shin Hye, kau baik-baik saja?” tanya Yonghwa dengan tatapan menulusuri seluruh isi ruang toilet. Tatapannya berhenti ketika melihat sekumpulan bibi-bibi sedang menatapnya dengan tatapan kaget. Salah satu bibi dengan tas tangan yang sedang digenggam berlari mendekati Yonghwa, kemudian memukul pelan bahu Yonghwa dan berkata, “Kau kan bocah yang di meja nomor tiga tadi. Apa kau mau mengintip ahjumma-ahjumma seperti kami ini?” Dengan genit bibi yang bicara mencoba menggodanya. Tidak lama kemudian, bibi-bibi yang lain datang mendekati Yonghwa. Ada yang mencubit pipinya, hidung bangirnya, mengelus rambutnya dan yang paling parah adalah salah satu dari bibi-bibi tersebut ada yang berkata, “Berapa pun yang kau minta akan kami bayar, asal kau mau menemani kami karaoke semalam saja.”
Yonghwa hanya bergidik mendengar penuturan dan melihat tingkah laku para bibi genit ini. Dia kemudian mencoba keluar dari kerumunan bibi-bibi tersebut. Saat berhasil keluar, tanpa pamit dia langsung berlari keluar dan sebisa mungkin menjauh dari mereka.         
Shinhye yang hanya bisa mengintip dari balik bilik tertawa terbahak-bahak. Puas tertawa, dia kembali ke meja, di mana dia dan Yonghwa semula tempati. Begitu melihat wajah Yonghwa, dia tidak mampu menahan tawanya karena membayangkan wajah ketakutan Yonghwa di toilet tadi.
“Wajahmu benar-benar lucu tadi. Kau terlihat seperti badut dalam pertunjukan.” Shinhye terus tertawa puas sambil sesekali menengok ke arah Yonghwa. Dia puas karena berhasil membalaskan kekesalannya pada Yonghwa.
“Apa kau sudah puas menertawaiku?” tanya Yonghwa dengan tampang serius. Yang saat itu juga membuat Shinhye seperti tersetrum untuk berhenti dari tawanya.
“Apa kau marah?” Shinhye bertanya dengan takut-takut.
Yonghwa tidak menjawab.
“Jung Yong Hwa-ssi, apa kau benar-benar marah?”
"Dwaesseo–lupakan saja! Jangan bicara lagi, klien kita sudah datang."
Seorang pria berbadan gemuk dan wanita yang tinggi semampai datang menjumpai Yonghwa dan Shinhye.
"Maaf kami terlambat." Dengan setengah membungkuk mereka menyalami Yonghwa dan Shinhye.
Yonghwa kemudian ikut membungkuk bersama Shinhye.
"Shin Dong Hee-imnida, aku ketua tim XXX perusahaan X," kata pria berbadan gemuk itu.
"Sekretaris Choi Soo Young," kata wanita yang tingginya semampai. Dandanannya
khas dan pakaiannya jelas menunjukan profesinya.
"Jung Yong hwa imnida."
Shinhye tidak memperkenalkan diri, dia masih takjub dengan wanita cantik di depannya ini.
Pria bernama Shin Dong Hee dan sekretarisnya Choi Soo Young masih menunggu Shinhye memperkenalkan diri. Tapi orang yang bersangkutan malah diam tanpa kata. Sebenarnya dia bingung juga
mau memperkenalkan diri sebagai apa.
"Dia sekretarisku. Park Shin Hye," kata Yonghwa yang membuat Shinhye terselamatkan dari tatapan ingin tahu dari klien Yonghwa.
Perkataan Yonghwa ini membuat Shinhye seakan menyesal telah mempermainkan Yonghwa tadi. Shinhye memutar kepalanya ke samping melihat Yonghwa yang tidak seperti dirinya yang biasa selau menjengkelkan. Dia yang selalu mengejek Shinhye, kali ini tidak. Dia bahkan membela Shinhye ketika sekretaris Choi menyinggung tentang gaya berbusana Shinhye yang tidak seperti sekretaris pada umumnya. Memang iya, saat ini dia hanya menggunakan kemeja lengan pendek dan celana jeans panjang. Mana bisa dia disebut sekretaris dengan gayanya yang seperti ini.
Beberapa jam setelah pertemuan usai dan kontrak ditandatangani, mereka berpisah dan berjalan ke tempat tujuannya masing-masing. Yonghwa dan Shinhye masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Shinhye masih belum bisa berkata apa-apa. Dia masih terganggu oleh kata-kata Yonghwa tadi.
"Aku yang menyuruhnya menggunakan busana santai. Hanya terlihat membosankan kalau terus melihat dia dengan pakaian resminya. Lagipula sekretarisku ini akan tetap terlihat cantik dengan busana apa pun," kata Yonghwa yang langsung membungkam mulut sekretaris Choi.
"Kenapa kau membelaku tadi? Aku pikir kau akan ikut-ikutan mengejekku," kata Shinhye dengan kepala bersandar di kursi mobil.
"Jadi hal itu yang dari tadi terus mengganggumu?"
Shinhye tidak menjawab.
"Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin terlihat bodoh karena salah memilih sekretaris."
"Aku tidak ingin bertengkar sekarang."
Entah kenapa Shinhye tetap menganggap perkataan Yonghwa tadi itu serius. Lebih tepatnya dia berharap perkataan Yonghwa tadi itu benar-benar serius. Shinhye dilema besar. Sebenarnya apa yang dia pikirkan saat ini? Apa hanya gara-gara pujian kecil itu, dia bisa menghapus rasa kesalnya pada Yonghwa? Shinhye tidak tahu harus menjawab apa, akan lebih baik diam. Dengan begitu, mungkin dia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan dari hatinya.
Ting ting ting.
Bunyi nada dering dari ponsel Shinhye menyadarkannya dari lamunannya.
"Yeoboseyo, Jonghyun-ssi!"
Yonghwa terkejut ketika mendengar Shinhye memanggil nama yang tidak asing di telinganya.
"Ne, aku akan ke sana." Shinhye mengakhiri panggilan dan meminta Yonghwa menurunkannya di halte depan.

Shinhye turun dari mobil, keluar dan cepat-cepat menaiki taksi.


TO BE CONTINUED