"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Kamis, 07 Juli 2016

Rain of Autumn Part 5

Part 5


Shinhye kemudian membungkuk dan keluar dari ruangan presdir. Dengan perasaan senang, dia menuruni tangga menuju ruang depan rumah itu. Saat ini dia sedang membayangkan, bagaimana wajah Yonghwa kalau tahu bahwa dia adalah pembimbing Yonghwa selama berada di JeResto.
“Mampus kau!” kata Shinhye dengan senyuman nakal yang menyeringai di wajahnya.
"Micheosseo?" tanya sebuah suara yang saat itu juga menyadarkan Shinhye dari lamunan nakalnya.
Begitu Shinhye berbalik, dia melihat pemilik suara itu sudah berdiri di depannya.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya Yonghwa sinis.
"Huh!" dengus Shinhye. "Bukan urusanmu."
Shinhye berjalan tanpa memedulikan Yonghwa. Tapi pergelangan tangannya malah disambar Yonghwa dengan kasar.
"Marhaebwa–katakan! Apa yang kau lakukan di rumahku?"
"Lepaskan!" Shinhye mencoba menarik pergelangan tangannya dari genggaman Yonghwa, tapi dia tidak kuat melawan kekuatan pria ini. "Kau, benar-benar sangat kekanakan!" semburnya kesal melihat Yonghwa tak kunjung melepaskan genggamannya.
"Neo–kau, apa kau juga mau mencari perhatianku?" terang Yonghwa percaya diri.
"Jeongmal? Kalau memang seperti itu berarti aku sudah gila." Shinhye menarik tangannya lagi dan berhasil terlepas. Kemudian dia berjalan meninggalkan Yonghwa yang masih mematung di tempatnya berdiri.
"Yonghwa doryeonim–tuan muda, presdir memanggil anda," panggil sekretaris predir.
Sebelumnya Yonghwa bertanya-tanya mengapa Shinhye bisa berada di rumahnya. Tapi semua itu terjawabkan begitu sekretaris ayahnya meminta dia menemui ayahnya. Dia yakin keberadaan Shinhye di rumah ini pasti ada hubungannya dengan ayahnya yang tiba-tiba ingin berbicara dengannya.

JeResto, seminggu kemudian.
Benar saja yang terjadi sekarang adalah Yonghwa diminta ayahnya bekerja di JeResto. Semua itu hanya untuk melihat kinerja kerja Yonghwa sebelum diputuskan untuk memimpin perusahaan. Awalnya Yonghwa menolak karena menurutnya ini belum saat bagi dia untuk belajar hal-hal seperti ini, tapi karena keras kepala ayahnya, Yonghwa malah berakhir tragis berdiri dalam JeResto saat ini sebagai bos sementara di tempat ini.
Saat ini Manager Yoo sedang memperkenalkan Yonghwa pada semua karyawan yang bekerja di JeResto. Saat sesi perkenalan, karyawan dipersilahkan Yonghwa untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing, untuk bisa mengenal satu dengan yang lain. Saat beberapa karyawan yang mendapat giliran sedang sibuk memperkenalkan diri, Shinhye dan Jiwon malah asyik membicarakan Yonghwa di belakang-belakang. Melihat Shinhye dan Jiwon yang tidak serius menghadap ke depan, membuat Yonghwa dengan keras menegur mereka. Sebenarnya teguran Yonghwa hanya sebagai bentuk balas dendamnya saja.
"Apa yang kalian berdua bicarakan di belakang? Apa kalian tidak lihat, bos kalian sedang berdiri di depan?" tegur Yonghwa.
Shinhye dan Jiwon menghadap ke depan dengan muka kecut dan mulut yang komat-kamit.
"Jangan berbincang di belakang lagi, mengerti?"
"Ne, arrasseo!" Keduanya menjawab bersamaan.
Setelah sesi perkenalan melewati beberapa orang, kini tiba giliran Shinhye. Beberapa karyawan yang mengetahui kejadian yang menimpa dia dan Yonghwa terlihat tegang. Tapi dia sendiri malah memamerkan wajah santai. Dia maju ke depan dengan perasaan cuek. Begitu ingin memperkenalkan diri, Yonghwa berjalan ke arahnya dan berkata, "Apa aku memanggilmu ke depan?"
Shinhye mengangkat ke dua alisnya, bingung dengan perkataan Yonghwa. Ini kan waktunya memperkenalkan diri. Tapi kenapa Yonghwa malah bertanya, seakan belum tiba giliran Shinhye.
"Aku tidak memanggilmu ke depan. Kau boleh kembali ke tempatmu."
Shinhye mendelik kesal dan kembali ke tempatnya semula, dengan perasaan keki.
"Yang berikutnya, silahkan perkenalkan dirimu."
Jiwon maju ke depan dan memperkenalkan dirinya. Seterusnya berlanjut sampai karyawan terakhir. Setelah sampai pada karyawan terakhir, Yonghwa seakan tidak memedulikan Shinhye yang belum memperkenalkan diri. Yonghwa menutup sesi perkenalan pagi itu dengan berkata, "Terima kasih semua atas kerjasamanya. Saya harap ke depan kita bisa saling membantu. Kalian boleh kembali bekerja."
Semua karyawan kembali beraktifitas sesuai tugas mereka masing-masing.

***
Setelah seminggu bekerja di restaurantnya menambah banyak pengalaman bagi Yonghwa. Dia jadi mengerti bagaimana rasanya berada di posisi pemimpin. Seminggu diajari manager Yoo, ternyata tidak sulit juga bagi Yonghwa untuk menyesuaikan diri. Dia bahkan bisa mengatasi semua masalah di restaurant, di luar restaurant, masalah dengan klien, semua itu dengan mudah bisa dia atasi. Belum sebulan bekerja saja, dia sudah ditugasi untuk bertemu klien yang akan bekerja sama dengan mereka sehubungan dengan restaurant mereka yang akan dikontrak untuk dipakai setiap kali perusahaan tersebut mengadakan acara makan bersama secara besar-besaran.
Hari ini Yonghwa ditugaskan bertemu langsung dengan klien dari perusahaan tersebut.
Melihat semua karyawannya yang sedang melakukan aktifitasnya masing-masing, dia memanggil Kim Hye Joon untuk menyuruh Shinhye datang ke ruangannya.
Hyejoon berjalan menemui Shinhye. "Shinhye, kau dipanggil bos di ruangannya," panggil Hyejoon yang juga adalah salah satu karyawan di restaurant itu.
"Bos?" Shinhye bertanya kejelasan bos mana yang memanggilnya.
"Maksudku bos kita yang baru, Jung Yong Hwa-ssi. Pergilah ke ruangannya, ppalli!"
"Ah, geurae. Gomapda, eonni."
Shinhye berjalan menuju ruangan Yonghwa dengan hati yang bertanya-tanya, mengapa dia memanggil? Apa dia ingin memecatku? Atau mungkin membentakku lagi?
Seminggu bekerja dengan Yonghwa, Shinhye merasa bahwa dirinya yang ingin membalas dendam malah berakhir sebaliknya. Shinhye berjalan dengan wajah kecut, sambil memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti. Begitu sampai di depan ruangan Yonghwa, Shinhye mengetuk pintu Yonghwa dan Yonghwa mempersilahkan Shinhye masuk. Shinhye masuk dan menemukan Yonghwa sedang duduk berselonjoran di kursi kerjanya sambil menutup mata. Hanya untuk sesaat, Shinhye merasa bahwa Yonghwa terlihat sangat tampan kalau sedang diam.
Melihat Shinhye yang sudah berdiri di depannya, Yonghwa kemudian membuka pembicaraan. Katanya, "Kau dan aku harus menemui presdir di kantornya. Bilang padanya kau tidak mau mendampingiku. Lagian selama seminggu ini kau juga tidak pernah membimbingku. Semua dilakukan manajer Yoo. Oleh karena itu bilang pada ayahku untuk membatalkan kerjasamanya denganmu." Beberapa menit Yonghwa membiarkan jeda kosong dalam pembicaraannya. Kemudian kembali berbicara dia mengatakan, "Aku tidak tahu apa yang kau katakan pada presdir sampai dia sebegitu percayanya padamu?"
Wajah Shinhye menekuk. Saat itu juga dia menyesal telah memuji Yonghwa tadi. “Kenapa aku harus melakukannya?”
“Karena kerjasama kalian itu menggangguku.”
“Maksudmu?”
“Kau. Apa kau tidak mengerti kalau ayahku selalu membelamu meskipun kau berbuat salah?”
Shinhye akhirnya mengerti dengan inti pembicaraan Yonghwa. “Ah.. aku mengerti sekarang. Kau ingin aku membatalkan kerjasama dengan presdir karena setelah itu kau ingin memecatku kan?”
Ya, aku sudah tak sepicik itu. Aku hanya tak ingin kau yang terus menemaniku menemui klien. Kenapa harus kau yang mendampingiku bertemu klien? Apa dia tidak percaya pada anaknya sendiri? Paling tidak dia bisa menyuruh Manager Yoo untuk membantuku. Kenapa harus kau? Benar-benar membuat bingung," kilah Yonghwa. Jelas-jelas tidak ada aturan seperti itu dari Presdir. Presdir memperbolehkan Yonghwa untuk memilih dengan siapa dia ingin bekerja. Yang Presdir inginkan hanya kehadiran Shinhye di JeResto untuk membantu mengubah sikap Yonghwa yang terlalu keras kepala dan egois. Karena Presdir yakin bahwa mungkin Shinhye mampu melakukannya. Bukan untuk menemani Yonghwa ke mana pun Yonghwa suka. Semua yang Yonghwa ucapkan hanya alasan agar dia bisa mengerjai Shinhye.   
"Kalau kau tidak mau, kau bisa menyuruh manager Yoo mendampingimu. Presdir juga tidak akan tahu. Lagian aku juga tidak ingin menemanimu, direktur,” ujar Shinhye dengan dagu terangkat dan wajah kesal.
"Aniyo, lupakan saja. Akan lebih baik kalau kau yang melakukannya."
"Waeyo?" Shinhye merenggut.
"Kalau kau yang melakukannya, aku jadi bisa memerintahmu sesuka hatiku."
"Mwoya?"
"Kalau begitu Park Shin Hye-ssi, sekarang gantilah pakaianmu dan ikut aku menemui klien."
Shinhye menganga melihat tingkah Yonghwa yang seenaknya. Untung saja presdir yang memintanya melakukannya, kalau tidak dia tidak akan mau melakukan apa pun yang Yonghwa minta.

La Vie Café
Yonghwa dan Shinhye masuk menemui klien. Sesuai perjanjian, mereka akan duduk di meja nomor tiga. Mereka ke tempat yang dimaksud dan duduk di situ. Sementara menunggu, Shinhye bosan jadi secara spontan dia melakukan hal yang sering dia lakukan kalau sedang bosan yaitu mengembungkan pipinya.
Seketika Yonghwa tersenyum melihat tingkah lucu Shinhye. Entah kenapa selama beberapa minggu bekerja di restaurant, dia rasa Shinhye dan rekan-rekannya di Jeesto telah banyak mengubah dirinya. Dia mengakui bahwa kejengkelannya pada Shinhye selama ini pelan-pelan sudah mulai memudar. Yang ada malah rasa terimakasih karena bantuan Shinhye selama berada di restaurant. Meski dia tahu, kadang-kadang Shinhye merasa jengkel melihatnya terus memerintah, tapi bagaimana pun Shinhye tetap mau mendengarnya tanpa banyak protes. Bahkan gadis ini banyak memberikan masukan penting padanya. Tapi pengakuannya tidak bisa dia ungkapkan pada Shinhye. Yang ada dia malah berpura-pura masih sering marah pada Shinhye.
Di pihak Shinhye sendiri, dia bingung dengan dirinya yang tidak bisa mengerjai Yonghwa seperti rencananya sebelum memutuskan bekerja kembali di JeResto. Dia malah banyak membantu Yonghwa, meski Yonghwa kadang bersikap menjengkelkan. Tapi, entah kenapa dia masih betah membantu Yonghwa.
"Apa ada pertunjukan sebentar?"
Shinhye menatap Yonghwa sinis karena bingung dengan pertanyaannya.
Yonghwa mendengus lucu. "Dari tadi pipimu terus mengembung seperti badut dalam pertunjukan."
"Mworago?" ucap Shinhye keki.
Yonghwa malah tidak merespon dan tetap duduk diam menunggu klien yang akan datang.
“Aku ke toilet dulu,” kata Shinhye dan berjalan meninggalkan Yonghwa.
Beberapa menit di toilet, Shinhye tidak kunjung datang. Sedikit kekhawatiran muncul dalam benak Yonghwa. Selang beberapa menit, nomor ponsel Shinhye muncul di layar ponselnya. Dijawabnya panggilan Shinhye untuk mengurangi kekhawatirannya, “Yeoboseyo, kau di mana sekarang?”
“Aku di toilet café sekarang, tapi ada yang mengunciku dari luar. Aku tidak tahu bagaimana keluar, aku terkunci dari dalam toilet. Jung Yong Hwa-ssi, kemarilah dan selamatkan aku. Jebal! Ppalli!” Dari suara Shinhye terdengar sekali bahwa dia sedang kalang kabut.
Gwaenchanha? Kau tunggu sebentar aku akan ke sana sekarang.” Yonghwa memutuskan hubungan teleponnya dan segera berlari ke toilet café saat itu juga.

La Vie Café, toilet wanita (Lima menit yang lalu)
“Apa kau tidak lihat bocah tampan di meja nomor 3 tadi?” kata seorang ahjumma pada temannya yang sedang berhadapan dengan cermin sambil memperbaiki riasan wajahnya yang mulai pudar.
“Iya, aku melihatnya. Seandainya salah satu bocah-bocah yang sering menemani kita itu memiliki bentuk rupa sepertinya, mungkin sudah kupersunting dia,” timpal ahjumma yang lainnya lagi sambil mempertebal warna lipstick-nya.
Tiba-tiba geraian tawa dari wanita-wanita berkisar empat puluhan tahun itu memenuhi toilet wanita di café La Vie.
Dari dalam bilik toilet, Shinhye mendengar percakapan mereka dan sepertinya timbul ide cemerlang dalam benaknya. Karena hari ini, Yonghwa banyak menindasnya, dari yang memerintah seenaknya saat di restaurant tadi, sampai mengejeknya dengan sebutan badut. Akhirnya membuat Shinhye yang awalnya tidak lagi tertarik mengerjai Yonghwa, kini malah sebaliknya. Sebuah ide licik muncul di benaknya. Bagaimana membayangkan ide jahilnya ini akan sukses, membuat dia tersenyum evil sendirian dalam bilik toiletny. Dia kemudian mengangkat ponsel di saku jeansnya dan mulai menekan nomor ponsel Yonghwa menghubunginya.

La Vie Café, toilet wanita (Lima menit kemudian)
Yonghwa berdiri di depan pintu toilet tersebut, kemudian dengan gerakan cepat dia membuka kenop pintu tersebut.
“Park Shin Hye, kau baik-baik saja?” tanya Yonghwa dengan tatapan menulusuri seluruh isi ruang toilet. Tatapannya berhenti ketika melihat sekumpulan bibi-bibi sedang menatapnya dengan tatapan kaget. Salah satu bibi dengan tas tangan yang sedang digenggam berlari mendekati Yonghwa, kemudian memukul pelan bahu Yonghwa dan berkata, “Kau kan bocah yang di meja nomor tiga tadi. Apa kau mau mengintip ahjumma-ahjumma seperti kami ini?” Dengan genit bibi yang bicara mencoba menggodanya. Tidak lama kemudian, bibi-bibi yang lain datang mendekati Yonghwa. Ada yang mencubit pipinya, hidung bangirnya, mengelus rambutnya dan yang paling parah adalah salah satu dari bibi-bibi tersebut ada yang berkata, “Berapa pun yang kau minta akan kami bayar, asal kau mau menemani kami karaoke semalam saja.”
Yonghwa hanya bergidik mendengar penuturan dan melihat tingkah laku para bibi genit ini. Dia kemudian mencoba keluar dari kerumunan bibi-bibi tersebut. Saat berhasil keluar, tanpa pamit dia langsung berlari keluar dan sebisa mungkin menjauh dari mereka.         
Shinhye yang hanya bisa mengintip dari balik bilik tertawa terbahak-bahak. Puas tertawa, dia kembali ke meja, di mana dia dan Yonghwa semula tempati. Begitu melihat wajah Yonghwa, dia tidak mampu menahan tawanya karena membayangkan wajah ketakutan Yonghwa di toilet tadi.
“Wajahmu benar-benar lucu tadi. Kau terlihat seperti badut dalam pertunjukan.” Shinhye terus tertawa puas sambil sesekali menengok ke arah Yonghwa. Dia puas karena berhasil membalaskan kekesalannya pada Yonghwa.
“Apa kau sudah puas menertawaiku?” tanya Yonghwa dengan tampang serius. Yang saat itu juga membuat Shinhye seperti tersetrum untuk berhenti dari tawanya.
“Apa kau marah?” Shinhye bertanya dengan takut-takut.
Yonghwa tidak menjawab.
“Jung Yong Hwa-ssi, apa kau benar-benar marah?”
"Dwaesseo–lupakan saja! Jangan bicara lagi, klien kita sudah datang."
Seorang pria berbadan gemuk dan wanita yang tinggi semampai datang menjumpai Yonghwa dan Shinhye.
"Maaf kami terlambat." Dengan setengah membungkuk mereka menyalami Yonghwa dan Shinhye.
Yonghwa kemudian ikut membungkuk bersama Shinhye.
"Shin Dong Hee-imnida, aku ketua tim XXX perusahaan X," kata pria berbadan gemuk itu.
"Sekretaris Choi Soo Young," kata wanita yang tingginya semampai. Dandanannya
khas dan pakaiannya jelas menunjukan profesinya.
"Jung Yong hwa imnida."
Shinhye tidak memperkenalkan diri, dia masih takjub dengan wanita cantik di depannya ini.
Pria bernama Shin Dong Hee dan sekretarisnya Choi Soo Young masih menunggu Shinhye memperkenalkan diri. Tapi orang yang bersangkutan malah diam tanpa kata. Sebenarnya dia bingung juga
mau memperkenalkan diri sebagai apa.
"Dia sekretarisku. Park Shin Hye," kata Yonghwa yang membuat Shinhye terselamatkan dari tatapan ingin tahu dari klien Yonghwa.
Perkataan Yonghwa ini membuat Shinhye seakan menyesal telah mempermainkan Yonghwa tadi. Shinhye memutar kepalanya ke samping melihat Yonghwa yang tidak seperti dirinya yang biasa selau menjengkelkan. Dia yang selalu mengejek Shinhye, kali ini tidak. Dia bahkan membela Shinhye ketika sekretaris Choi menyinggung tentang gaya berbusana Shinhye yang tidak seperti sekretaris pada umumnya. Memang iya, saat ini dia hanya menggunakan kemeja lengan pendek dan celana jeans panjang. Mana bisa dia disebut sekretaris dengan gayanya yang seperti ini.
Beberapa jam setelah pertemuan usai dan kontrak ditandatangani, mereka berpisah dan berjalan ke tempat tujuannya masing-masing. Yonghwa dan Shinhye masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Shinhye masih belum bisa berkata apa-apa. Dia masih terganggu oleh kata-kata Yonghwa tadi.
"Aku yang menyuruhnya menggunakan busana santai. Hanya terlihat membosankan kalau terus melihat dia dengan pakaian resminya. Lagipula sekretarisku ini akan tetap terlihat cantik dengan busana apa pun," kata Yonghwa yang langsung membungkam mulut sekretaris Choi.
"Kenapa kau membelaku tadi? Aku pikir kau akan ikut-ikutan mengejekku," kata Shinhye dengan kepala bersandar di kursi mobil.
"Jadi hal itu yang dari tadi terus mengganggumu?"
Shinhye tidak menjawab.
"Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin terlihat bodoh karena salah memilih sekretaris."
"Aku tidak ingin bertengkar sekarang."
Entah kenapa Shinhye tetap menganggap perkataan Yonghwa tadi itu serius. Lebih tepatnya dia berharap perkataan Yonghwa tadi itu benar-benar serius. Shinhye dilema besar. Sebenarnya apa yang dia pikirkan saat ini? Apa hanya gara-gara pujian kecil itu, dia bisa menghapus rasa kesalnya pada Yonghwa? Shinhye tidak tahu harus menjawab apa, akan lebih baik diam. Dengan begitu, mungkin dia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan dari hatinya.
Ting ting ting.
Bunyi nada dering dari ponsel Shinhye menyadarkannya dari lamunannya.
"Yeoboseyo, Jonghyun-ssi!"
Yonghwa terkejut ketika mendengar Shinhye memanggil nama yang tidak asing di telinganya.
"Ne, aku akan ke sana." Shinhye mengakhiri panggilan dan meminta Yonghwa menurunkannya di halte depan.

Shinhye turun dari mobil, keluar dan cepat-cepat menaiki taksi.


TO BE CONTINUED

Minggu, 10 April 2016

Rain of Autumn Part 4

Part 4





"Kalau begitu, jika anda ingin memesan nanti, panggil saja saya. Sillyehamnida." Pelayan itu berjalan meninggalkan Jonghyun. Tapi, belum sampai tiga langkah, dia mendadak berhenti karena dipanggil Jonghyun. Dia berbalik mendapati Jonghyun.
"Chogiyo, kalau boleh tahu siapa nama anda?" Jonghyun bertanya tanpa malu-malu.
Pelayan yang dimaksud kaget dengan pertanyaan Jonghyun yang tidak biasa diucapkan oleh para pelanggan yang datang. Tapi sebagai bentuk kesopanan dia menjawab, katanya, "Kim Ji Won imnida."
"Gomapseumnida, Kim Ji Won-ssi. Lee Jong Hyun imnida,” timpal Jonghyun memperkenalkan dirinya, yang rasanya tidak perlu bagi gadis ini untuk mengetahui siapa dia. Senang berkenalan dengan anda," kata Jonghyun dengan senyuman tersungging di wajahnya.
Senang berkenalan dengan anda juga. Lee Jong Hyun-ssi, saya ke belakang dulu.” Gadis itu berjalan meninggalkan Jonghyun yang masih menyibukkan diri memberikan berbagai jenis pujian untuknya di hati Jonghyun.
Ada apa dengan gadis itu? Kenapa dia begitu hebat membuatku terus terpesona olehnya?
"Jonghyun-ssi. Lee Jong Hyun-ssi. Direktur Lee," sapa Shinhye sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jonghyun.
Jonghyun tersadar dari lamunannya, dan mendapati Shinhye sudah duduk di depannya.
"Eoh, Shinhye-ssi. Sudah lama sampai?"
"Tidak. Baru saja sampai. Apa yang sedang kau pikirkan sampai-sampai kau tidak merespon saat kutegur?"
"Eoh, itu. Aku… aku sedang memikirkan tentang pekerjaan. Hanya pekerjaan tidak ada yang lain,” jelas Jonghyun. “Shinhye-ssi, dari mana kau tahu tempat ini?"
Shinhye mengerutkan kening. "Tempat ini?"
"Ye."
"Ini tempat saya bekerja dulu."
"Kenapa kau tidak lagi bekerja di tempat ini? Maaf, saya hanya ingin tahu."
"Dipecat karena alasan yang tidak masuk akal," jujur Shinhye.
"Kau dipecat manager-mu atau pemilik restaurant ini? Sekali lagi maaf, kalau rasa ingin tahu saya mengganggumu."
"Apa anda akan memecat saya juga, setelah mengetahui alasan saya dipecat?"
"Animnida,” tegas Jonghyun dengan tatapan yang jelas menyatakan bahwa dia serius mengatakannya. “Saya hanya ingin mengenal asisten pribadi saya lebih jauh. Dengan begitu saya lebih cepat memercayaimu."
Shinhye mengangguk-angguk. Kemudian dia menceritakan awal kisah dia bekerja dan akhirnya dipecat. Sesekali, Jonghyun tersenyum lucu melihat ekspresi wajah Shinhye yang terus berubah-ubah sesuai isi ceritanya.
"Menurutmu, siapa yang benar dalam hal ini?"
"Kau makan dulu," kata Jonghyun ketika pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Tuan, Shinhye, saya permisi dulu," kata gadis pelayan y
ang melayani mereka.
"Ne, Hyejoon eonni," balas Shinhye.
"Mendengar ceritamu, aku benar-benar bingung dengan anak pemilik restaurant ini. Kenapa dia memecatmu dengan alasan yang tidak masuk akal? Kau kan hanya ingin membela wanita itu. Iya kan?"
Shinhye mengangguk pasti.
"Dengan kau mendatanginya dan menyuruhnya minta maaf pada wanita yang dikasarinya itu, dia seharusnya sadar dengan sikapnya yang kasar. Bahkan orang lain saja bisa menyadari sikapnya, kenapa dia sendiri tidak? Dia seharusnya bangga punya pelayan sepertimu, yang mau membela pengunjung yang lemah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya."
"Dia benar-benar pemilik tak punya hati." Shinhye mendengus kesal, begitu mengingat kembali perbuatan Yonghwa.
“Hati-hati kalau bicara, kau sedang berada di tempat pemilik tak punya hati itu,” ujar Jonghyun berbisik.
“Dia tidak pernah mengunjungi tempat ini. Jadi tidak usah takut kalau dia akan menangkap basah aku membicarakannya.”
Jonghyun hanya tertawa dan kemudian berkata, "Kalau kau bisa melakukan apa pun yang kau mau, apa yang ingin kau lakukan pada pemilik tak punya hati itu?"
"Oh, kalau hal seperti itu ada, aku ingin sekali menyuruh pemilik tak punya hati itu untuk berlutut bahkan sampai mencium tanah minta maaf kepada wanita yang dia kasari juga aku. Kalau dia tidak mau, aku ingin sekali mengubahnya menjadi seekor kecoak. Dengan begitu aku bisa menginjaknya sesuka hatiku. Dan yang terakhir, aku ingin sekali menendangnya keluar dari muka bumi ini. Pria tanpa hati itu tidak pantas bersosialisasi dengan manusia. Mungkin dia perlu tinggal di planet lain. Dengan begitu, dia tidak perlu susah-susah menolak cinta orang. Dia beruntung, karena masih ada wanita yang mendatanginya. Suatu hari nanti, bagaimana kalau tidak ada lagi wanita yang tertarik padanya, karena sikap kasarnya itu? Menurutmu?"
Jonghyun membelalak ngeri mendengar isi penuturan asistennya ini, yang secara tidak langsung telah menegur dia karena sering menolak wanita atau memilih-milih wanita terbaik yang bisa dijadikan pasangannya.
"Geurae. Kau benar sekali. Bagaimana kalau suatu hari nanti, tidak ada lagi wanita yang mau mendekatinya?"
"Dia akan hidup sendiri sampai mati."
Shinhye tertawa bahagia, seakan membayangkan semua yang dia ingini betul-betul terjadi pada Yonghwa.
Jonghyun ikut tertawa bersamanya. "Shinhye-ssi, kau benar-benar lucu. Aku tidak sabar lagi menunggu makan siang yang berikut dan berikutnya lagi. Sepertinya aku mulai tertarik dengan ceritamu tentang pemilik tak punya hati itu."
Pipi Shinhye memerah mendengar perkataan Jonghyun. "Jonghyun-ssi, sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" kata Shinhye kembali formal. Setelah sadar hari ini dia banyak berkata informal pada bosnya ini.
"Tidak ada sesuatu yang penting. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Dengan begitu aku bisa percaya sepenuhnya padamu," jawab Jonghyun. "Shinhye-ssi, makan siang berikutnya biar aku yang menjadi naratornya. Kali berikutnya, aku sangat butuh seseorang untuk berbagi. Dan itu kau. Kau mau kan?"
Shinhye menatap Jonghyun lekat-lekat, tidak menyangka pria yang menurutnya memiliki segala hal ini, ternyata sendiri. Dia tidak punya seseorang dekat yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita. Meski dia membutuhkan orang itu. Dan hari ini, dengan tulus dia meminta Shinhye untuk menjadi teman berbagi cerita dengannya. Shinhye benar-benar senang. Pria yang akhir-akhir ini terus melintas dalam pikirannya, memilihnya menjadi teman berbagi cerita. Meski tidak lebih dari hanya menjadi teman, tapi Shinhye benar-benar bahagia karena hanya dengan cara ini dia bisa mengenal Jonghyun lebih dekat. Tanpa banyak kata, Shinhye menjawab pertanyaan Jonghyun dengan anggukan mantap.

Universitas Kyunghee
"Ya, Park Shin Hye, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" seru Jiwon kesal karena tidak mendapat respon dari Shinhye.
"Jiwon-ah, telingaku hampir tuli mendengar teriakanmu."
"Kau benar-benar keterlaluan, kemarin datang tanpa memberitahu. Aku kan penasaran juga ingin melihat seperti apa rupa bosmu."
"Mianhae. Kemarin aku benar-benar lupa. Lagian kau di mana kemarin saat aku di restaurant?"
"Igeo, aku disuruh manager mengantar pesanan presdir."
"Mwo? Kau bertemu dengan presdir? Apa dia sudah kembali ke Seoul?"
"Ne," jawab Jiwon singkat.
"Pesanan apa itu?"
"Molla. Terbungkus rapat dalam kotak. Shinhye-ya, kenapa kau bertanya hal aneh?"
"Aku hanya ingin memastikan bahwa manager menyesal memecatku. Maksudku pesanan itu mungkin surat permintaan pada presdir untuk memperkerjakanku kembali."
Jiwon tertawa lucu dengan spekulasi Shinhye.
"Tapi Jiwon-ah, apa kau bertemu juga dengan anaknya yang tak punya hati itu?"
"Aniyo. Dia tidak ada di kantor presdir."
"Baguslah. Aku takut kalau dia melihatmu, dia juga akan memecatmu. Jadi mulai sekarang, sebaik mungkin kau harus menghindar darinya."
"Kau tidak usah khawatir soal itu. Kalau suatu hari aku dipecat juga, kan masih banyak lowongan pekerjaan di luar sana."
Shinhye hanya mengangguk setuju. Meski sebenarnya dia tidak yakin akan banyaknya lowongan pekerjaan di luar sana. Buktinya sekarang, dirinya hanya bisa menjadi seorang asisten pribadi yang hanya bekerja saat dia benar-benar dibutuhkan.

***
Semburan tawa dari Jonghyun dan sepupunya memenuhi ruang kerja Jonghyun. Mereka tertawa karena mengingat masa-masa SMA mereka.
"Aku benar-benar tidak menyangka dia ternyata menyukaimu," aku Jonghyun.
"Aku malah berpikir dia pasti menyukaimu. Itu sebabnya, aku menyuekinya."
"Aku sendiri baru tahu saat dia jujur padaku bahwa dia menyukaimu. Saat itu aku benar-benar merasa bersalah, karena telah mengatakan cinta padanya yang seharusnya hakmu," timpal Jonghyun.
Mereka tertawa lagi.
"Tidak apa-apa. Lagian saat itu, aku sungguh tidak menyukai dia lagi."
"Yonghwa-ya,” kata Jonghyun dengan tatapan tajam. “Bisakah kita berhenti menganggap wanita seperti barang yang setelah dimiliki kita akan bosan dan ingin mencari yang baru lagi?"
"Apa maksudmu?"
tanya Yonghwa mendengar penuturan Jonghyun yang tidak biasa.
"Aku hanya tidak ingin sesuatu buruk menimpa kita berdua."
"Apa kau tadi terpeleset di kamar mandi?"
"Aku serius,” jawab Jonghyun datar. “Dengan sikap kita yang sering menyueki wanita, bagaimana kalau hal itu menjadi karma untuk kita sendiri?"
Yonghwa tertawa, "Kau benar-benar berubah nelangsa. Apa yang tiba-tiba membuatmu seperti ini?"
"Seseorang telah menyadarkanku akan hal ini."
"Siapa orang itu? Aku benar-benar penasaran ingin melihat orang yang telah berjasa menyadarkanmu." Yonghwa masih tidak serius merespon ucapan Jonghyun.
"Jung Yong Hwa! Aku bicara serius," sembur Jonghyun kesal.
Yonghwa kaget setengah mati mendengar Jonghyun berbicara kasar padanya. Matanya membelalak. Sejurus kemudian dia mendengus dan bangkit dari duduknya kemudian berkata, "Jadi? Teruskanlah sikap melow-mu. Kalau kau ingin melakukan hal yang tidak bisa kulakukan, silahkan saja. Tapi, jangan mengajak-ajakku melakukan hal yang tidak ingin kulakukan. Satu hal lagi, beritahu orang yang berjasa menyadarkanmu itu untuk jangan pernah mencoba mengajariku dengan teorinya yang tak masuk di akal. Aku tidak dan tidak akan pernah percaya dengan apa yang namanya karma. Jadi Lee Jong Hyun, sebaiknya pertemuan kita berakhir di sini."


***
Shinhye berlari cepat menuju bawah jembatan sungai Han. Di sana dia melihat Jonghyun sedang berdiri termangu memandangi sungai Han. Hari ini Jonghyun yang memilih tempat pertemuannya. Dan di sungai inilah pilihan Jonghyun jatuh atasnya. Shinhye berlari menghampiri Jonghyun.
"Apa kau sudah lama menunggu, Jonghyun-ssi?"
Jonghyun tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan meminta Shinhye berdiri di sampingnya.
"Shinhye-ssi, apa hari ini kau siap menjadi pendengar yang baik?" tanya Jonghyun sember.
Begitu Shinhye menjawab, Jonghyun langsung memulai ceritanya. Dari dia yang awalnya juga berkuliah di Universitas Kyunghee dan ingin
sekali mengambil jurusan musik modern karena keinginannya menekuni gitar. Dia sangat tergila-gila pada benda yang bernama gitar itu. Tapi kemudian ditentang dan dipaksa mengambil jurusan bisnis. Karena dia harus menggantikkan posisi ayahnya sebagai seorang presdir di perusahaan mereka. Tapi kemudian dia yang tiba-tiba dipaksa menjadi direktur sementara untuk mengawasi keadaan perusaahaan selama ayahnya harus dirawat di Amerika. Bagaimana awalnya dia menolak pemaksaan ini, karena telah membuatnya mengorbankan hobinya. Tapi dia seakan tidak punya kuasa untuk menentang ayahnya. Dan berakhir dengan melakukan semua keinginan ayahnya.
"Determinisme yang menyakitkan." Jonghyun mendesis. "Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat bodoh karena mengorbankan hal yang kusukai demi melakukan hal yang tidak kusukai?"
Shinhye tidak langsung menjawab. Dia masih kaget dengan kehidupan Jonghyun yang tidak dia sangka, jauh dari kesempurnaan. Dia ibah melihat Jonghyun. Andaikan Jonghyun mau, Shinhye ingin sekali meminjamkan bahunya untuk dipakai Jonghyun bersandar.
"Tidak, Jonghyun-ssi. Kau sudah melakukan hal yang baik. Kau bukan orang bodoh. Kau malah tidak egois. Kau orang yang lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada dirimu sendiri. Kalau ayahmu tahu, dia pasti sangat bangga padamu."
"Gomapda, Shinhye-ssi. Aku sangat terhibur. Besok-besok, kau lagi yang bercerita tentang keluargamu, kuliahmu atau bahkan kekasihmu. Aku siap mendengarkan."
"Tidak perlu. Kau saja yang bercerita," tolak Shinhye halus. Dia hanya tidak ingin orang lain tahu tentang kehidupan pribadinya.
"Aniyo. Aku juga kan perlu mengenalmu lebih jauh."
Shinhye menarik dan membuang nafasnya. "Aku hidup sendiri. Appa dan eomma-ku sudah meninggal. Jadi, tidak ada yang perlu diceritakan."
"Maaf atas ketidaktahuanku," kata Jonghyun menyesal. "Kalau begitu, sekarang kau mau makan apa? Aku yang traktir," ucap Jonghyun mencoba menghibur.
"Untung saja kau menawariku. Dari tadi perutku terus bernyanyi karena lapar," balas Shinhye, karena akan lebih baik kalau tidak membicarakan ibu atau ayahnya. "Baiklah, aku ingin makan hobakjeon."
"Mwoya? Hobakjeon? Apa ada jenis makanan seperti itu?"
"Aigoo, dasar orang kaya. Makanan seperti ini sampai kalian abaikan. Hobakjeon itu sejenis pancake berisi labu. Itu jajanan yang sering dijual di pinggiran jalan."
"Kelihatannya enak. Aku ingin makan pancake labu itu."
"Aigoo, bagaimana bisa kau menyebut dirimu orang Korea, tapi tidak mengenal makanan ini? Kajja, kita cari makanan ini. Menjadi orang Korea yang paling penting adalah mengetahui jenis-jenis makanannya."
Jonghyun mengangguk dan berjalan mengikuti Shinhye.


***
Saat Shinhye dan Jonghyun sedang asik menikmati hobakjeon, tiba-tiba ponsel Shinhye berdering. Di layar ponselnya tertera nama Jiwon. Dia mengangkatnya, "Jiwon-ah, yeoboseyo?"
"Shinhye, kau di mana sekarang?"
"Aku di…" Kata-kata Shinhye dipotong Jiwon.
"Ah, sudahlah tidak penting di mana kau sekarang. Yang terpenting adalah, sekarang juga kau ke restaurant. Karena ada hal penting yang ingin dibicarakan manager padamu."
"Manager? Hal penting? Apa itu?"
"Mollaseo–tidak tahu. Jangan banyak tanya. Cepatlah kemari!" Jiwon menutup sambungan teleponnya.
Shinhye yang penasaran akhirnya harus pamit dan pergi meninggalkan Jonghyun.

JeResto
Shinhye keluar dari ruangan manager-nya dengan perasaan dilema. Apa yang akan dibicarakan presdir? Dia kan sudah tidak bekerja lagi di restaurant ini. Kenapa tiba-tiba presdir memanggilnya?
"Shinhye-ya, apa yang manager katakan padamu?"
"Presdir memintaku menemuinya."
Jiwon melotot kaget, "Jadi presdir mendengar kata-kataku? Ah, jeongmal haengbokhae–benar-benar bahagianya," katanya senang.
"Presdir mendengar kata-katamu? Jiwon-ah, katakan padaku apa yang kau katakan pada presdir?"
"Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya. Aku bilang semua pada presdir. Aku bilang padanya tentang anaknya yang datang dan asal memecat karyawan terbaik yang restaurant ini miliki. Saat kukatakan hal itu, presdir sepertinya ibah mendengarnya. Dan semoga saja dia memanggilmu karena ingin memperkerjakanmu kembali."
"Ireon–dasar! Pantas saja presdir memanggilku sekarang."
Jiwon mengangguk-angguk lucu memperlihatkan wajah tanpa dosanya. "Kau tenang saja. Aku yakin presdir pasti akan memanggilmu kembali bekerja. Aku jamin itu."
"Awas kau, kalau sampai kebalikannya."



***
Shinhye masuk ke rumah presdir Jung dengan perasaan hati-hati, dia takut tiba-tiba bertemu dengan orang yang selama ini dia hindari. Siapa lagi kalau bukan Jung Yong Hwa. Tapi akhirnya semua pikiran itu dia tampis karena inti kedatangannya ke rumah ini adalah untuk bertemu dengan presdir. Ya, Presdir. Pemilik rumah ini. Jadi dia tidak perlu takut kalau berhadapan dengan manusia menyebalkan bernama Jung Yong Hwa itu.
Shinhye berjalan ke ruang kerja presdir yang ditunjukan salah satu pekerja di rumah Yonghwa. Begitu Shinhye masuk ke dalam ruang kerja itu. Presdir langsung memintanya duduk dan membicarakan hal yang ingin dibicarakan.
"Park Shin Hye-ssi, ada hal penting yang ingin saya bicarakan denganmu. Tapi sebelumnya atas nama anak saya, saya minta maaf karena perbuatannya yang tidak dewasa dan mungkin merugikanmu," ujar pria berumur setengah abad itu.
Shinhye menyeringai. "Tidak apa-apa presdir, anda tidak perlu minta maaf."
Presdir tersenyum, "Park Shin Hye-ssi, sebelumnya anda pasti sudah mendengar dari manajer Yoo bahwa saya memanggil anda ke sini karena ada yang ingin saya bicarakan dengan anda.”
Ye, Presdir,” jawab Shinhye.
“Sebenarnya alasan saya memanggil anda ke sini adalah saya ingin bekerja sama dengan anda," terang pria dengan beberapa kerutan di keningnya ini.
Shinhye mengerutkan keningnya.
"Saya tidak tahu apa anda ingin melakukan kerjasama ini atau tidak. Tapi saya benar-benar berharap, anda mau melakukannya."
"Presdir, saya merasa terhormat atas permintaan ini. Namun, kalau saya boleh tahu kerjasama seperti apa yang anda maksudkan?"
Presdir Jung tertawa simple dan berkata, "Anda tahu bahwa anak saya, Jung Yong Hwa adalah seseorang yang tidak memiliki pikiran seorang dewasa meskipun umurnya sudah dua puluh empat tahun. Akan tetapi sedikit lagi dia sudah harus meneruskan membantu saya memimpin perusahaan. Jadi saya benar-benar khawatir kalau sikapnya yang seperti ini, akankah dia bisa membantu saya memimpin perusahaan? Saya belum yakin dengan kinerja kerjanya. Oleh karena itu saya ingin menugaskan dia untuk terlebih dahulu bekerja memantau di JeResto. Apabila kinerja kerjanya bagus, saya baru boleh percaya dia memimpin perusahaan saya. Anda tahu Shinhye-ssi, bahwa pelanggan yang akan dia layani di restaurant itu adalah seperti halnya juga melayani seorang klien." Presdir menarik nafas sebelum melanjutkan pembicaraannya, "Shinhye-ssi, saya ingin Yonghwa bekerja di restaurant."
Shinhye melengkungkan senyum pengertian meski dalam hati dia bertanya-tanya maksud perkataan presdir Jung. Dan apa hubungan Yonghwa yang akan bekerja di JeResto dengan dirinya yang dipanggil ke sini?
"Presdir, saya mengerti maksud anda memperkerjakan anak anda. Namun, kerjasama apa yang anda maksudkan di sini?" katanya memastikan bahwa kedatangannya ke sini tidak membuang-buang waktu dan tenaga.
Presdir tertawa lebar mendengar pertanyaan Shinhye. Saking banyak bicara, dia sendiri lupa menyampaikan maksud tujuannya memanggil Shinhye.
"Mianhamnida, Park Shin Hye-ssi. Saya sampai lupa mengatakan maksud saya memanggil anda."
"Tidak apa-apa, presdir.”
"Saya tidak tahu apa anda mau melakukannya atau tidak. Tapi saya benar-benar berharap anda mau membimbing Yonghwa bekerja di JeResto. Saya ingin anda kembali bekerja di restaurant dan mengajari Yonghwa cara melayani yang baik."
"Presdir, saya merasa terhormat atas penawaran ini. Tapi, saya minta maaf karena saya sudah…" Perkataan Shinhye terpotong oleh presdir Jung.
"Saya mohon Shinhye-ssi. Bantu saya kali ini. Saya tahu bahwa hanya anda yang bisa membantu saya melakukan hal ini. Saya yakin bahwa anda mungkin bisa mengubah sifat Yonghwa."
Shinhye merasa terharu mendengar permohonan presdir Jung. Pria berumur setengah abad ini tidak peduli dengan statusnya sebagai seorang pemimpin tertinggi, tapi hanya demi anaknya yang sombong itu dia berani mempertaruhkan harga dirinya memohon pada mantan seorang pegawai restaurant biasa seperti Shinhye.
"Apa maksud anda? Saya tidak mengerti kenapa anda harus memilih saya untuk membimbing anak anda?"
"Karena hanya anda yang melihat Yonghwa tidak sebagai anak saya. Banyak karyawan saya yang merasa Yonghwa sebagai anak saya jadi mereka tidak berani menentang atau memprotes kalau dia melakukan kesalahan. Tapi anda, seperti yang saya sudah dengar dari nona Kim, bahwa anda berani menentang Yonghwa kalau dia salah. Oleh karena itu, saya rasa anda orang yang tepat yang bisa merubah anak saya. Saya hanya berharap anda mau membantu saya."
"Tapi…."
Sekali lagi kata-kata Shinhye dipotong presdir. Presdir melakukan hal ini, karena dia tidak mau mendengar penolakan dari Shinhye.
" Kau bisa melakukan apa pun padanya tanpa harus memandang bahwa dia anakku. Kalau dia bersalah, kau bisa melaporkannya padaku. Kau tenang saja, kalau aku yang bicara, Yonghwa akan mendengarkannya."
Begitu mendengar kalimat-kalimat yang presdir ucapkan, Shinhye seperti tersuntik multivitamin. Dia merasa bahwa ini saatnya dia balas dendam pada Yonghwa. Berdasarkan apa yang dikatakan presdir, bahwa dia bisa melakukan apa pun pada Yonghwa kalau Yonghwa bersalah. Seperti yang dikatakan presdir, dia akan melakukan apa pun sesuka hatinya yang penting bisa membalas perbuatan Yonghwa.
“Jung Yong hwa, tunggu saja kau!” ujar Shinhye dalam hati.
"Baiklah predir. Saya akan melakukannya demi kenyamanan anda."
"Park Shin Hye-ssi, terima kasih. Terima kasih sekali. Sebagai hadiahnya apa pun yang kau butuhkan kau boleh bilang padaku."
"Piryeopseo–tidak perlu! Saya akan melakukannya tanpa pamrih."
Melakukan apa pun pada Jung Yong Hwa sesuka hatiku sudah termasuk hadiahnya, presdir. Jadi anda tidak perlu repot-repot menawariku hadiah lain, bisiknya dalam hati.
"Kamsahamnida, nona Park."
"Ne. Sillyehamnida–permisi."
"Haseyo–silahkan!" balas presdir.
Shinhye kemudian membungkuk dan keluar dari ruangan presdir. Dengan perasaan senang, dia menuruni tangga menuju ruang depan rumah itu, sambil membayangkan bagaimana wajah Yonghwa kalau tahu bahwa dia adalah pembimbing Yonghwa selama berada di JeResto.
“Mampus kau!” kata Shinhye dengan senyuman nakal yang menyeringai di wajahnya.
"Micheosseo?" tanya sebuah suara yang saat itu juga menyadarkan Shinhye dari lamunan nakalnya.

Begitu Shinhye berbalik, dia melihat pemilik suara itu sudah berdiri di depannya.

To Be Continued