Part 5
Shinhye kemudian membungkuk dan keluar dari
ruangan presdir. Dengan perasaan senang, dia menuruni tangga menuju ruang depan
rumah itu. Saat ini dia sedang membayangkan, bagaimana wajah Yonghwa kalau tahu
bahwa dia adalah pembimbing Yonghwa selama berada di JeResto.
“Mampus kau!” kata Shinhye dengan senyuman nakal
yang menyeringai di wajahnya.
"Micheosseo?"
tanya sebuah suara yang saat itu juga menyadarkan Shinhye dari lamunan
nakalnya.
Begitu Shinhye berbalik, dia melihat pemilik suara
itu sudah berdiri di depannya.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya
Yonghwa sinis.
"Huh!" dengus Shinhye. "Bukan
urusanmu."
Shinhye berjalan tanpa memedulikan Yonghwa. Tapi pergelangan tangannya malah disambar Yonghwa dengan kasar.
"Marhaebwa–katakan!
Apa yang kau lakukan di rumahku?"
"Lepaskan!" Shinhye mencoba menarik
pergelangan tangannya dari genggaman Yonghwa, tapi dia tidak kuat melawan
kekuatan pria ini. "Kau, benar-benar sangat kekanakan!" semburnya
kesal melihat Yonghwa tak kunjung melepaskan genggamannya.
"Neo–kau,
apa kau juga mau mencari perhatianku?" terang Yonghwa percaya diri.
"Jeongmal?
Kalau memang seperti itu berarti aku sudah gila." Shinhye menarik tangannya
lagi dan berhasil terlepas. Kemudian dia berjalan meninggalkan Yonghwa
yang masih mematung di tempatnya berdiri.
"Yonghwa doryeonim–tuan
muda, presdir memanggil
anda," panggil sekretaris predir.
Sebelumnya Yonghwa bertanya-tanya mengapa Shinhye
bisa berada di rumahnya. Tapi semua itu terjawabkan begitu sekretaris
ayahnya meminta dia menemui ayahnya. Dia yakin keberadaan
Shinhye di rumah ini pasti
ada hubungannya dengan
ayahnya yang tiba-tiba ingin berbicara dengannya.
JeResto, seminggu
kemudian.
Benar saja yang terjadi sekarang adalah Yonghwa
diminta ayahnya bekerja di JeResto. Semua itu hanya untuk melihat kinerja kerja
Yonghwa sebelum diputuskan untuk memimpin perusahaan. Awalnya Yonghwa menolak
karena menurutnya ini belum saat bagi dia untuk belajar hal-hal seperti
ini, tapi karena keras kepala
ayahnya, Yonghwa malah
berakhir tragis berdiri dalam JeResto saat ini sebagai bos sementara di tempat
ini.
Saat ini Manager
Yoo sedang memperkenalkan Yonghwa pada semua karyawan yang bekerja di JeResto.
Saat sesi perkenalan, karyawan dipersilahkan Yonghwa untuk memperkenalkan diri
mereka masing-masing, untuk bisa mengenal satu dengan yang lain. Saat beberapa
karyawan yang mendapat giliran sedang sibuk memperkenalkan diri, Shinhye dan
Jiwon malah asyik membicarakan Yonghwa di belakang-belakang. Melihat Shinhye
dan Jiwon yang tidak serius menghadap ke depan, membuat Yonghwa dengan keras
menegur mereka. Sebenarnya teguran Yonghwa hanya sebagai bentuk
balas dendamnya saja.
"Apa yang kalian berdua bicarakan di
belakang? Apa kalian tidak lihat, bos kalian sedang berdiri di depan?"
tegur Yonghwa.
Shinhye dan Jiwon menghadap ke depan dengan muka
kecut dan mulut yang komat-kamit.
"Jangan berbincang di belakang lagi,
mengerti?"
"Ne, arrasseo!" Keduanya menjawab
bersamaan.
Setelah sesi perkenalan melewati beberapa orang,
kini tiba giliran Shinhye. Beberapa karyawan yang mengetahui kejadian yang
menimpa dia dan Yonghwa terlihat tegang. Tapi dia sendiri malah memamerkan
wajah santai. Dia maju ke depan dengan perasaan cuek. Begitu ingin
memperkenalkan diri, Yonghwa berjalan ke arahnya dan berkata, "Apa aku memanggilmu ke
depan?"
Shinhye mengangkat ke dua alisnya, bingung dengan
perkataan Yonghwa. Ini kan waktunya memperkenalkan diri. Tapi kenapa Yonghwa
malah bertanya, seakan belum tiba giliran Shinhye.
"Aku tidak memanggilmu ke depan. Kau boleh kembali ke tempatmu."
"Aku tidak memanggilmu ke depan. Kau boleh kembali ke tempatmu."
Shinhye mendelik kesal dan kembali ke tempatnya
semula, dengan perasaan keki.
"Yang berikutnya, silahkan perkenalkan
dirimu."
Jiwon maju ke depan dan memperkenalkan dirinya.
Seterusnya berlanjut sampai karyawan terakhir. Setelah sampai pada karyawan
terakhir, Yonghwa seakan tidak memedulikan Shinhye yang belum memperkenalkan
diri. Yonghwa menutup sesi perkenalan pagi itu dengan berkata, "Terima
kasih semua atas kerjasamanya. Saya harap ke depan kita bisa saling membantu.
Kalian boleh kembali bekerja."
Semua karyawan kembali beraktifitas sesuai tugas
mereka masing-masing.
***
Setelah seminggu bekerja di restaurantnya
menambah banyak pengalaman bagi Yonghwa. Dia jadi mengerti
bagaimana rasanya berada di posisi pemimpin. Seminggu diajari manager Yoo, ternyata tidak sulit juga
bagi Yonghwa untuk menyesuaikan diri. Dia bahkan bisa mengatasi semua masalah
di restaurant, di luar restaurant, masalah dengan klien, semua
itu dengan mudah bisa dia atasi. Belum sebulan bekerja saja, dia sudah ditugasi untuk bertemu klien yang akan bekerja sama dengan mereka sehubungan dengan restaurant mereka yang akan dikontrak
untuk dipakai setiap kali perusahaan tersebut mengadakan acara makan bersama
secara besar-besaran.
Hari ini Yonghwa ditugaskan bertemu langsung
dengan klien dari perusahaan tersebut.
Melihat semua karyawannya yang sedang melakukan
aktifitasnya masing-masing, dia memanggil Kim Hye Joon untuk menyuruh Shinhye
datang ke ruangannya.
Hyejoon berjalan menemui Shinhye. "Shinhye,
kau dipanggil bos di ruangannya," panggil Hyejoon yang juga adalah salah
satu karyawan di restaurant itu.
"Bos?" Shinhye bertanya kejelasan bos
mana yang memanggilnya.
"Maksudku bos kita yang baru, Jung Yong Hwa-ssi. Pergilah ke ruangannya, ppalli!"
"Ah, geurae.
Gomapda, eonni."
Shinhye berjalan menuju ruangan Yonghwa dengan
hati yang bertanya-tanya, mengapa dia memanggil? Apa dia ingin memecatku? Atau mungkin membentakku lagi?
Seminggu bekerja
dengan Yonghwa, Shinhye merasa bahwa dirinya yang ingin membalas dendam malah
berakhir sebaliknya. Shinhye berjalan dengan wajah kecut, sambil memikirkan apa
yang akan terjadi padanya nanti. Begitu
sampai di depan ruangan Yonghwa, Shinhye mengetuk pintu Yonghwa dan Yonghwa mempersilahkan Shinhye masuk. Shinhye
masuk dan menemukan Yonghwa sedang duduk berselonjoran di kursi kerjanya sambil menutup mata. Hanya untuk sesaat, Shinhye merasa bahwa Yonghwa terlihat sangat
tampan kalau sedang diam.
Melihat Shinhye yang sudah berdiri di depannya, Yonghwa kemudian membuka pembicaraan. Katanya, "Kau dan aku harus menemui presdir di kantornya. Bilang
padanya kau tidak mau mendampingiku. Lagian selama seminggu ini kau juga
tidak pernah membimbingku. Semua dilakukan manajer Yoo. Oleh karena itu bilang
pada ayahku untuk membatalkan kerjasamanya denganmu." Beberapa menit Yonghwa membiarkan jeda
kosong dalam pembicaraannya. Kemudian kembali berbicara dia mengatakan, "Aku tidak tahu apa yang kau katakan
pada presdir sampai dia sebegitu percayanya padamu?"
Wajah Shinhye menekuk. Saat itu juga dia menyesal
telah memuji Yonghwa tadi. “Kenapa aku harus melakukannya?”
“Karena kerjasama
kalian itu menggangguku.”
“Maksudmu?”
“Kau. Apa kau tidak
mengerti kalau ayahku selalu membelamu meskipun kau berbuat salah?”
Shinhye akhirnya
mengerti dengan inti pembicaraan Yonghwa. “Ah.. aku mengerti sekarang. Kau
ingin aku membatalkan kerjasama dengan presdir karena setelah itu kau ingin
memecatku kan?”
“Ya,
aku sudah tak sepicik itu. Aku hanya tak ingin kau yang terus menemaniku
menemui klien. Kenapa harus kau yang
mendampingiku bertemu klien? Apa dia tidak percaya pada anaknya sendiri? Paling
tidak dia bisa menyuruh Manager Yoo
untuk membantuku. Kenapa harus kau? Benar-benar membuat bingung," kilah Yonghwa. Jelas-jelas
tidak ada aturan seperti itu dari Presdir. Presdir memperbolehkan Yonghwa untuk
memilih dengan siapa dia ingin bekerja. Yang Presdir inginkan hanya kehadiran
Shinhye di JeResto untuk membantu mengubah sikap Yonghwa yang terlalu keras
kepala dan egois. Karena Presdir yakin bahwa mungkin Shinhye mampu
melakukannya. Bukan untuk menemani Yonghwa ke mana pun Yonghwa suka. Semua yang
Yonghwa ucapkan hanya alasan agar dia bisa mengerjai Shinhye.
"Kalau kau tidak mau, kau bisa menyuruh manager Yoo mendampingimu. Presdir juga
tidak akan tahu. Lagian aku juga tidak ingin menemanimu, direktur,” ujar
Shinhye dengan dagu terangkat dan wajah kesal.
"Aniyo,
lupakan saja. Akan lebih baik kalau kau yang melakukannya."
"Waeyo?"
Shinhye merenggut.
"Kalau kau yang melakukannya, aku jadi bisa
memerintahmu sesuka hatiku."
"Mwoya?"
"Kalau begitu Park Shin Hye-ssi, sekarang gantilah pakaianmu dan ikut aku menemui klien."
Shinhye menganga
melihat tingkah Yonghwa yang seenaknya. Untung saja presdir yang memintanya melakukannya, kalau tidak dia tidak akan mau melakukan apa pun
yang Yonghwa minta.
La Vie Café
Yonghwa dan Shinhye masuk menemui klien. Sesuai
perjanjian, mereka akan duduk di meja nomor tiga. Mereka ke tempat yang dimaksud dan duduk di situ. Sementara menunggu, Shinhye bosan
jadi secara spontan dia melakukan hal yang sering dia lakukan kalau sedang
bosan yaitu mengembungkan pipinya.
Seketika Yonghwa tersenyum melihat tingkah
lucu Shinhye. Entah kenapa selama beberapa
minggu bekerja di restaurant, dia rasa Shinhye dan
rekan-rekannya di Jeesto telah banyak
mengubah dirinya. Dia
mengakui bahwa kejengkelannya pada Shinhye selama ini pelan-pelan sudah mulai
memudar. Yang ada malah rasa terimakasih karena bantuan
Shinhye selama berada di restaurant.
Meski dia tahu, kadang-kadang Shinhye merasa jengkel melihatnya terus
memerintah, tapi bagaimana pun Shinhye tetap mau mendengarnya tanpa
banyak protes. Bahkan gadis
ini banyak memberikan masukan penting padanya. Tapi pengakuannya tidak bisa dia ungkapkan pada Shinhye. Yang ada dia
malah berpura-pura masih sering marah pada Shinhye.
Di pihak Shinhye sendiri, dia bingung dengan
dirinya yang tidak bisa mengerjai Yonghwa seperti rencananya sebelum memutuskan
bekerja kembali di JeResto. Dia malah banyak membantu Yonghwa, meski Yonghwa
kadang bersikap menjengkelkan. Tapi, entah kenapa dia masih betah membantu
Yonghwa.
"Apa ada pertunjukan sebentar?"
Shinhye menatap Yonghwa sinis karena bingung
dengan pertanyaannya.
Yonghwa mendengus lucu. "Dari tadi pipimu
terus mengembung seperti badut dalam pertunjukan."
"Mworago?" ucap Shinhye keki.
"Mworago?" ucap Shinhye keki.
Yonghwa malah tidak merespon dan tetap duduk diam
menunggu klien yang akan datang.
“Aku ke toilet dulu,” kata Shinhye dan berjalan
meninggalkan Yonghwa.
Beberapa menit di toilet, Shinhye tidak kunjung datang. Sedikit
kekhawatiran muncul dalam
benak Yonghwa. Selang beberapa menit, nomor ponsel Shinhye
muncul di layar ponselnya. Dijawabnya panggilan Shinhye untuk mengurangi
kekhawatirannya, “Yeoboseyo, kau di
mana sekarang?”
“Aku di toilet café
sekarang, tapi ada yang mengunciku dari luar. Aku tidak tahu bagaimana keluar,
aku terkunci dari dalam toilet. Jung Yong Hwa-ssi, kemarilah dan selamatkan aku. Jebal! Ppalli!”
Dari suara Shinhye terdengar sekali bahwa dia sedang kalang kabut.
“Gwaenchanha?
Kau tunggu sebentar aku akan ke sana sekarang.” Yonghwa memutuskan hubungan teleponnya dan segera berlari ke
toilet café saat itu juga.
La Vie Café, toilet wanita (Lima menit yang lalu)
“Apa kau tidak lihat bocah tampan di meja nomor 3
tadi?” kata seorang ahjumma pada temannya yang sedang berhadapan
dengan cermin sambil memperbaiki riasan wajahnya yang mulai pudar.
“Iya, aku melihatnya. Seandainya salah satu
bocah-bocah yang sering menemani kita itu memiliki bentuk rupa sepertinya,
mungkin sudah kupersunting dia,” timpal ahjumma yang lainnya
lagi sambil mempertebal warna lipstick-nya.
Tiba-tiba geraian tawa dari wanita-wanita berkisar
empat puluhan tahun itu
memenuhi toilet wanita di café La Vie.
Dari dalam bilik toilet, Shinhye mendengar
percakapan mereka dan sepertinya timbul ide cemerlang dalam benaknya. Karena hari ini, Yonghwa banyak
menindasnya, dari yang memerintah seenaknya saat di restaurant tadi, sampai mengejeknya dengan sebutan badut. Akhirnya
membuat Shinhye yang awalnya tidak lagi tertarik mengerjai Yonghwa, kini malah
sebaliknya. Sebuah ide licik muncul di benaknya. Bagaimana membayangkan ide
jahilnya ini akan sukses, membuat dia tersenyum evil sendirian dalam bilik toiletny. Dia kemudian mengangkat ponsel di saku jeansnya dan mulai menekan nomor ponsel Yonghwa
menghubunginya.
La Vie Café, toilet wanita (Lima menit kemudian)
Yonghwa berdiri di depan pintu toilet tersebut,
kemudian dengan gerakan cepat dia membuka kenop pintu tersebut.
“Park Shin Hye, kau baik-baik saja?” tanya Yonghwa
dengan tatapan menulusuri seluruh isi ruang toilet. Tatapannya berhenti ketika
melihat sekumpulan bibi-bibi sedang menatapnya dengan tatapan kaget. Salah satu
bibi dengan tas tangan yang sedang digenggam berlari mendekati Yonghwa,
kemudian memukul pelan bahu Yonghwa dan berkata, “Kau kan bocah yang di meja
nomor tiga tadi. Apa kau mau
mengintip ahjumma-ahjumma seperti kami ini?” Dengan genit bibi yang bicara
mencoba menggodanya. Tidak lama kemudian, bibi-bibi yang lain datang mendekati
Yonghwa. Ada yang mencubit pipinya, hidung bangirnya, mengelus rambutnya dan
yang paling parah adalah
salah satu dari bibi-bibi tersebut ada yang berkata, “Berapa pun yang kau minta
akan kami bayar, asal kau mau menemani kami karaoke semalam saja.”
Yonghwa hanya bergidik mendengar penuturan dan
melihat tingkah laku para bibi genit ini. Dia kemudian mencoba keluar dari
kerumunan bibi-bibi tersebut.
Saat berhasil keluar, tanpa
pamit dia langsung berlari keluar dan sebisa mungkin menjauh dari mereka.
Shinhye yang hanya bisa mengintip dari balik bilik
tertawa terbahak-bahak. Puas tertawa, dia kembali ke meja, di mana dia
dan Yonghwa semula tempati. Begitu melihat wajah Yonghwa, dia tidak
mampu menahan tawanya karena membayangkan wajah ketakutan Yonghwa di toilet
tadi.
“Wajahmu benar-benar lucu tadi. Kau terlihat
seperti badut dalam pertunjukan.” Shinhye terus tertawa puas sambil
sesekali menengok ke arah Yonghwa. Dia puas karena berhasil membalaskan
kekesalannya pada Yonghwa.
“Apa kau sudah puas
menertawaiku?” tanya Yonghwa dengan tampang serius. Yang saat itu juga membuat
Shinhye seperti tersetrum untuk berhenti dari tawanya.
“Apa kau marah?”
Shinhye bertanya dengan takut-takut.
Yonghwa tidak
menjawab.
“Jung Yong Hwa-ssi, apa kau benar-benar marah?”
"Dwaesseo–lupakan
saja! Jangan bicara lagi, klien kita sudah datang."
Seorang pria berbadan gemuk dan wanita yang tinggi
semampai datang menjumpai Yonghwa dan Shinhye.
"Maaf kami terlambat." Dengan setengah
membungkuk mereka menyalami Yonghwa dan Shinhye.
Yonghwa kemudian ikut membungkuk bersama Shinhye.
"Shin Dong Hee-imnida, aku ketua tim XXX perusahaan X," kata
pria berbadan gemuk itu.
"Sekretaris Choi Soo Young," kata wanita yang tingginya semampai. Dandanannya khas dan pakaiannya jelas menunjukan profesinya.
"Sekretaris Choi Soo Young," kata wanita yang tingginya semampai. Dandanannya khas dan pakaiannya jelas menunjukan profesinya.
"Jung Yong hwa imnida."
Shinhye tidak memperkenalkan diri, dia masih
takjub dengan wanita cantik di depannya ini.
Pria bernama Shin Dong Hee dan sekretarisnya Choi Soo Young masih menunggu Shinhye memperkenalkan diri. Tapi orang yang bersangkutan malah diam tanpa kata. Sebenarnya dia bingung juga mau memperkenalkan diri sebagai apa.
Pria bernama Shin Dong Hee dan sekretarisnya Choi Soo Young masih menunggu Shinhye memperkenalkan diri. Tapi orang yang bersangkutan malah diam tanpa kata. Sebenarnya dia bingung juga mau memperkenalkan diri sebagai apa.
"Dia sekretarisku. Park Shin Hye," kata
Yonghwa yang membuat Shinhye terselamatkan dari tatapan ingin tahu dari klien Yonghwa.
Perkataan Yonghwa
ini membuat Shinhye seakan menyesal telah mempermainkan Yonghwa tadi. Shinhye memutar kepalanya ke samping
melihat Yonghwa yang tidak seperti dirinya yang biasa selau menjengkelkan. Dia
yang selalu mengejek Shinhye, kali ini tidak. Dia bahkan membela Shinhye ketika
sekretaris Choi menyinggung tentang gaya berbusana Shinhye yang tidak seperti
sekretaris pada umumnya. Memang iya, saat ini dia hanya menggunakan kemeja lengan
pendek dan celana jeans
panjang. Mana bisa dia disebut
sekretaris dengan gayanya yang seperti ini.
Beberapa jam setelah pertemuan usai dan kontrak
ditandatangani, mereka berpisah dan berjalan ke tempat tujuannya masing-masing.
Yonghwa dan Shinhye masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil Shinhye masih belum bisa berkata apa-apa. Dia masih
terganggu oleh kata-kata Yonghwa tadi.
"Aku
yang menyuruhnya menggunakan busana santai. Hanya terlihat membosankan kalau terus
melihat dia dengan pakaian resminya. Lagipula sekretarisku ini
akan tetap terlihat cantik dengan busana apa pun," kata
Yonghwa yang langsung membungkam mulut sekretaris Choi.
"Kenapa kau membelaku tadi? Aku pikir kau
akan ikut-ikutan mengejekku,"
kata Shinhye dengan kepala bersandar di kursi mobil.
"Jadi hal itu yang dari tadi terus
mengganggumu?"
Shinhye tidak menjawab.
"Jangan salah paham. Aku hanya tidak ingin
terlihat bodoh karena salah memilih sekretaris."
"Aku tidak ingin bertengkar sekarang." Entah kenapa Shinhye tetap menganggap perkataan Yonghwa tadi itu serius. Lebih tepatnya dia berharap perkataan Yonghwa tadi itu benar-benar serius. Shinhye dilema besar. Sebenarnya apa yang dia pikirkan saat ini? Apa hanya gara-gara pujian kecil itu, dia bisa menghapus rasa kesalnya pada Yonghwa? Shinhye tidak tahu harus menjawab apa, akan lebih baik diam. Dengan begitu, mungkin dia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan dari hatinya.
"Aku tidak ingin bertengkar sekarang." Entah kenapa Shinhye tetap menganggap perkataan Yonghwa tadi itu serius. Lebih tepatnya dia berharap perkataan Yonghwa tadi itu benar-benar serius. Shinhye dilema besar. Sebenarnya apa yang dia pikirkan saat ini? Apa hanya gara-gara pujian kecil itu, dia bisa menghapus rasa kesalnya pada Yonghwa? Shinhye tidak tahu harus menjawab apa, akan lebih baik diam. Dengan begitu, mungkin dia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan dari hatinya.
Ting ting ting.
Bunyi nada dering dari ponsel Shinhye menyadarkannya dari lamunannya.
"Yeoboseyo, Jonghyun-ssi!"
"Yeoboseyo, Jonghyun-ssi!"
Yonghwa terkejut ketika mendengar Shinhye
memanggil nama yang tidak asing di telinganya.
"Ne,
aku akan ke sana." Shinhye mengakhiri panggilan dan meminta Yonghwa
menurunkannya di halte depan.
Shinhye turun dari mobil, keluar dan cepat-cepat
menaiki taksi.
TO BE CONTINUED

