"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Minggu, 10 April 2016

Rain of Autumn Part 4

Part 4





"Kalau begitu, jika anda ingin memesan nanti, panggil saja saya. Sillyehamnida." Pelayan itu berjalan meninggalkan Jonghyun. Tapi, belum sampai tiga langkah, dia mendadak berhenti karena dipanggil Jonghyun. Dia berbalik mendapati Jonghyun.
"Chogiyo, kalau boleh tahu siapa nama anda?" Jonghyun bertanya tanpa malu-malu.
Pelayan yang dimaksud kaget dengan pertanyaan Jonghyun yang tidak biasa diucapkan oleh para pelanggan yang datang. Tapi sebagai bentuk kesopanan dia menjawab, katanya, "Kim Ji Won imnida."
"Gomapseumnida, Kim Ji Won-ssi. Lee Jong Hyun imnida,” timpal Jonghyun memperkenalkan dirinya, yang rasanya tidak perlu bagi gadis ini untuk mengetahui siapa dia. Senang berkenalan dengan anda," kata Jonghyun dengan senyuman tersungging di wajahnya.
Senang berkenalan dengan anda juga. Lee Jong Hyun-ssi, saya ke belakang dulu.” Gadis itu berjalan meninggalkan Jonghyun yang masih menyibukkan diri memberikan berbagai jenis pujian untuknya di hati Jonghyun.
Ada apa dengan gadis itu? Kenapa dia begitu hebat membuatku terus terpesona olehnya?
"Jonghyun-ssi. Lee Jong Hyun-ssi. Direktur Lee," sapa Shinhye sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jonghyun.
Jonghyun tersadar dari lamunannya, dan mendapati Shinhye sudah duduk di depannya.
"Eoh, Shinhye-ssi. Sudah lama sampai?"
"Tidak. Baru saja sampai. Apa yang sedang kau pikirkan sampai-sampai kau tidak merespon saat kutegur?"
"Eoh, itu. Aku… aku sedang memikirkan tentang pekerjaan. Hanya pekerjaan tidak ada yang lain,” jelas Jonghyun. “Shinhye-ssi, dari mana kau tahu tempat ini?"
Shinhye mengerutkan kening. "Tempat ini?"
"Ye."
"Ini tempat saya bekerja dulu."
"Kenapa kau tidak lagi bekerja di tempat ini? Maaf, saya hanya ingin tahu."
"Dipecat karena alasan yang tidak masuk akal," jujur Shinhye.
"Kau dipecat manager-mu atau pemilik restaurant ini? Sekali lagi maaf, kalau rasa ingin tahu saya mengganggumu."
"Apa anda akan memecat saya juga, setelah mengetahui alasan saya dipecat?"
"Animnida,” tegas Jonghyun dengan tatapan yang jelas menyatakan bahwa dia serius mengatakannya. “Saya hanya ingin mengenal asisten pribadi saya lebih jauh. Dengan begitu saya lebih cepat memercayaimu."
Shinhye mengangguk-angguk. Kemudian dia menceritakan awal kisah dia bekerja dan akhirnya dipecat. Sesekali, Jonghyun tersenyum lucu melihat ekspresi wajah Shinhye yang terus berubah-ubah sesuai isi ceritanya.
"Menurutmu, siapa yang benar dalam hal ini?"
"Kau makan dulu," kata Jonghyun ketika pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Tuan, Shinhye, saya permisi dulu," kata gadis pelayan y
ang melayani mereka.
"Ne, Hyejoon eonni," balas Shinhye.
"Mendengar ceritamu, aku benar-benar bingung dengan anak pemilik restaurant ini. Kenapa dia memecatmu dengan alasan yang tidak masuk akal? Kau kan hanya ingin membela wanita itu. Iya kan?"
Shinhye mengangguk pasti.
"Dengan kau mendatanginya dan menyuruhnya minta maaf pada wanita yang dikasarinya itu, dia seharusnya sadar dengan sikapnya yang kasar. Bahkan orang lain saja bisa menyadari sikapnya, kenapa dia sendiri tidak? Dia seharusnya bangga punya pelayan sepertimu, yang mau membela pengunjung yang lemah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya."
"Dia benar-benar pemilik tak punya hati." Shinhye mendengus kesal, begitu mengingat kembali perbuatan Yonghwa.
“Hati-hati kalau bicara, kau sedang berada di tempat pemilik tak punya hati itu,” ujar Jonghyun berbisik.
“Dia tidak pernah mengunjungi tempat ini. Jadi tidak usah takut kalau dia akan menangkap basah aku membicarakannya.”
Jonghyun hanya tertawa dan kemudian berkata, "Kalau kau bisa melakukan apa pun yang kau mau, apa yang ingin kau lakukan pada pemilik tak punya hati itu?"
"Oh, kalau hal seperti itu ada, aku ingin sekali menyuruh pemilik tak punya hati itu untuk berlutut bahkan sampai mencium tanah minta maaf kepada wanita yang dia kasari juga aku. Kalau dia tidak mau, aku ingin sekali mengubahnya menjadi seekor kecoak. Dengan begitu aku bisa menginjaknya sesuka hatiku. Dan yang terakhir, aku ingin sekali menendangnya keluar dari muka bumi ini. Pria tanpa hati itu tidak pantas bersosialisasi dengan manusia. Mungkin dia perlu tinggal di planet lain. Dengan begitu, dia tidak perlu susah-susah menolak cinta orang. Dia beruntung, karena masih ada wanita yang mendatanginya. Suatu hari nanti, bagaimana kalau tidak ada lagi wanita yang tertarik padanya, karena sikap kasarnya itu? Menurutmu?"
Jonghyun membelalak ngeri mendengar isi penuturan asistennya ini, yang secara tidak langsung telah menegur dia karena sering menolak wanita atau memilih-milih wanita terbaik yang bisa dijadikan pasangannya.
"Geurae. Kau benar sekali. Bagaimana kalau suatu hari nanti, tidak ada lagi wanita yang mau mendekatinya?"
"Dia akan hidup sendiri sampai mati."
Shinhye tertawa bahagia, seakan membayangkan semua yang dia ingini betul-betul terjadi pada Yonghwa.
Jonghyun ikut tertawa bersamanya. "Shinhye-ssi, kau benar-benar lucu. Aku tidak sabar lagi menunggu makan siang yang berikut dan berikutnya lagi. Sepertinya aku mulai tertarik dengan ceritamu tentang pemilik tak punya hati itu."
Pipi Shinhye memerah mendengar perkataan Jonghyun. "Jonghyun-ssi, sebenarnya apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" kata Shinhye kembali formal. Setelah sadar hari ini dia banyak berkata informal pada bosnya ini.
"Tidak ada sesuatu yang penting. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat. Dengan begitu aku bisa percaya sepenuhnya padamu," jawab Jonghyun. "Shinhye-ssi, makan siang berikutnya biar aku yang menjadi naratornya. Kali berikutnya, aku sangat butuh seseorang untuk berbagi. Dan itu kau. Kau mau kan?"
Shinhye menatap Jonghyun lekat-lekat, tidak menyangka pria yang menurutnya memiliki segala hal ini, ternyata sendiri. Dia tidak punya seseorang dekat yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita. Meski dia membutuhkan orang itu. Dan hari ini, dengan tulus dia meminta Shinhye untuk menjadi teman berbagi cerita dengannya. Shinhye benar-benar senang. Pria yang akhir-akhir ini terus melintas dalam pikirannya, memilihnya menjadi teman berbagi cerita. Meski tidak lebih dari hanya menjadi teman, tapi Shinhye benar-benar bahagia karena hanya dengan cara ini dia bisa mengenal Jonghyun lebih dekat. Tanpa banyak kata, Shinhye menjawab pertanyaan Jonghyun dengan anggukan mantap.

Universitas Kyunghee
"Ya, Park Shin Hye, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" seru Jiwon kesal karena tidak mendapat respon dari Shinhye.
"Jiwon-ah, telingaku hampir tuli mendengar teriakanmu."
"Kau benar-benar keterlaluan, kemarin datang tanpa memberitahu. Aku kan penasaran juga ingin melihat seperti apa rupa bosmu."
"Mianhae. Kemarin aku benar-benar lupa. Lagian kau di mana kemarin saat aku di restaurant?"
"Igeo, aku disuruh manager mengantar pesanan presdir."
"Mwo? Kau bertemu dengan presdir? Apa dia sudah kembali ke Seoul?"
"Ne," jawab Jiwon singkat.
"Pesanan apa itu?"
"Molla. Terbungkus rapat dalam kotak. Shinhye-ya, kenapa kau bertanya hal aneh?"
"Aku hanya ingin memastikan bahwa manager menyesal memecatku. Maksudku pesanan itu mungkin surat permintaan pada presdir untuk memperkerjakanku kembali."
Jiwon tertawa lucu dengan spekulasi Shinhye.
"Tapi Jiwon-ah, apa kau bertemu juga dengan anaknya yang tak punya hati itu?"
"Aniyo. Dia tidak ada di kantor presdir."
"Baguslah. Aku takut kalau dia melihatmu, dia juga akan memecatmu. Jadi mulai sekarang, sebaik mungkin kau harus menghindar darinya."
"Kau tidak usah khawatir soal itu. Kalau suatu hari aku dipecat juga, kan masih banyak lowongan pekerjaan di luar sana."
Shinhye hanya mengangguk setuju. Meski sebenarnya dia tidak yakin akan banyaknya lowongan pekerjaan di luar sana. Buktinya sekarang, dirinya hanya bisa menjadi seorang asisten pribadi yang hanya bekerja saat dia benar-benar dibutuhkan.

***
Semburan tawa dari Jonghyun dan sepupunya memenuhi ruang kerja Jonghyun. Mereka tertawa karena mengingat masa-masa SMA mereka.
"Aku benar-benar tidak menyangka dia ternyata menyukaimu," aku Jonghyun.
"Aku malah berpikir dia pasti menyukaimu. Itu sebabnya, aku menyuekinya."
"Aku sendiri baru tahu saat dia jujur padaku bahwa dia menyukaimu. Saat itu aku benar-benar merasa bersalah, karena telah mengatakan cinta padanya yang seharusnya hakmu," timpal Jonghyun.
Mereka tertawa lagi.
"Tidak apa-apa. Lagian saat itu, aku sungguh tidak menyukai dia lagi."
"Yonghwa-ya,” kata Jonghyun dengan tatapan tajam. “Bisakah kita berhenti menganggap wanita seperti barang yang setelah dimiliki kita akan bosan dan ingin mencari yang baru lagi?"
"Apa maksudmu?"
tanya Yonghwa mendengar penuturan Jonghyun yang tidak biasa.
"Aku hanya tidak ingin sesuatu buruk menimpa kita berdua."
"Apa kau tadi terpeleset di kamar mandi?"
"Aku serius,” jawab Jonghyun datar. “Dengan sikap kita yang sering menyueki wanita, bagaimana kalau hal itu menjadi karma untuk kita sendiri?"
Yonghwa tertawa, "Kau benar-benar berubah nelangsa. Apa yang tiba-tiba membuatmu seperti ini?"
"Seseorang telah menyadarkanku akan hal ini."
"Siapa orang itu? Aku benar-benar penasaran ingin melihat orang yang telah berjasa menyadarkanmu." Yonghwa masih tidak serius merespon ucapan Jonghyun.
"Jung Yong Hwa! Aku bicara serius," sembur Jonghyun kesal.
Yonghwa kaget setengah mati mendengar Jonghyun berbicara kasar padanya. Matanya membelalak. Sejurus kemudian dia mendengus dan bangkit dari duduknya kemudian berkata, "Jadi? Teruskanlah sikap melow-mu. Kalau kau ingin melakukan hal yang tidak bisa kulakukan, silahkan saja. Tapi, jangan mengajak-ajakku melakukan hal yang tidak ingin kulakukan. Satu hal lagi, beritahu orang yang berjasa menyadarkanmu itu untuk jangan pernah mencoba mengajariku dengan teorinya yang tak masuk di akal. Aku tidak dan tidak akan pernah percaya dengan apa yang namanya karma. Jadi Lee Jong Hyun, sebaiknya pertemuan kita berakhir di sini."


***
Shinhye berlari cepat menuju bawah jembatan sungai Han. Di sana dia melihat Jonghyun sedang berdiri termangu memandangi sungai Han. Hari ini Jonghyun yang memilih tempat pertemuannya. Dan di sungai inilah pilihan Jonghyun jatuh atasnya. Shinhye berlari menghampiri Jonghyun.
"Apa kau sudah lama menunggu, Jonghyun-ssi?"
Jonghyun tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan meminta Shinhye berdiri di sampingnya.
"Shinhye-ssi, apa hari ini kau siap menjadi pendengar yang baik?" tanya Jonghyun sember.
Begitu Shinhye menjawab, Jonghyun langsung memulai ceritanya. Dari dia yang awalnya juga berkuliah di Universitas Kyunghee dan ingin
sekali mengambil jurusan musik modern karena keinginannya menekuni gitar. Dia sangat tergila-gila pada benda yang bernama gitar itu. Tapi kemudian ditentang dan dipaksa mengambil jurusan bisnis. Karena dia harus menggantikkan posisi ayahnya sebagai seorang presdir di perusahaan mereka. Tapi kemudian dia yang tiba-tiba dipaksa menjadi direktur sementara untuk mengawasi keadaan perusaahaan selama ayahnya harus dirawat di Amerika. Bagaimana awalnya dia menolak pemaksaan ini, karena telah membuatnya mengorbankan hobinya. Tapi dia seakan tidak punya kuasa untuk menentang ayahnya. Dan berakhir dengan melakukan semua keinginan ayahnya.
"Determinisme yang menyakitkan." Jonghyun mendesis. "Bagaimana menurutmu? Apa aku terlihat bodoh karena mengorbankan hal yang kusukai demi melakukan hal yang tidak kusukai?"
Shinhye tidak langsung menjawab. Dia masih kaget dengan kehidupan Jonghyun yang tidak dia sangka, jauh dari kesempurnaan. Dia ibah melihat Jonghyun. Andaikan Jonghyun mau, Shinhye ingin sekali meminjamkan bahunya untuk dipakai Jonghyun bersandar.
"Tidak, Jonghyun-ssi. Kau sudah melakukan hal yang baik. Kau bukan orang bodoh. Kau malah tidak egois. Kau orang yang lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada dirimu sendiri. Kalau ayahmu tahu, dia pasti sangat bangga padamu."
"Gomapda, Shinhye-ssi. Aku sangat terhibur. Besok-besok, kau lagi yang bercerita tentang keluargamu, kuliahmu atau bahkan kekasihmu. Aku siap mendengarkan."
"Tidak perlu. Kau saja yang bercerita," tolak Shinhye halus. Dia hanya tidak ingin orang lain tahu tentang kehidupan pribadinya.
"Aniyo. Aku juga kan perlu mengenalmu lebih jauh."
Shinhye menarik dan membuang nafasnya. "Aku hidup sendiri. Appa dan eomma-ku sudah meninggal. Jadi, tidak ada yang perlu diceritakan."
"Maaf atas ketidaktahuanku," kata Jonghyun menyesal. "Kalau begitu, sekarang kau mau makan apa? Aku yang traktir," ucap Jonghyun mencoba menghibur.
"Untung saja kau menawariku. Dari tadi perutku terus bernyanyi karena lapar," balas Shinhye, karena akan lebih baik kalau tidak membicarakan ibu atau ayahnya. "Baiklah, aku ingin makan hobakjeon."
"Mwoya? Hobakjeon? Apa ada jenis makanan seperti itu?"
"Aigoo, dasar orang kaya. Makanan seperti ini sampai kalian abaikan. Hobakjeon itu sejenis pancake berisi labu. Itu jajanan yang sering dijual di pinggiran jalan."
"Kelihatannya enak. Aku ingin makan pancake labu itu."
"Aigoo, bagaimana bisa kau menyebut dirimu orang Korea, tapi tidak mengenal makanan ini? Kajja, kita cari makanan ini. Menjadi orang Korea yang paling penting adalah mengetahui jenis-jenis makanannya."
Jonghyun mengangguk dan berjalan mengikuti Shinhye.


***
Saat Shinhye dan Jonghyun sedang asik menikmati hobakjeon, tiba-tiba ponsel Shinhye berdering. Di layar ponselnya tertera nama Jiwon. Dia mengangkatnya, "Jiwon-ah, yeoboseyo?"
"Shinhye, kau di mana sekarang?"
"Aku di…" Kata-kata Shinhye dipotong Jiwon.
"Ah, sudahlah tidak penting di mana kau sekarang. Yang terpenting adalah, sekarang juga kau ke restaurant. Karena ada hal penting yang ingin dibicarakan manager padamu."
"Manager? Hal penting? Apa itu?"
"Mollaseo–tidak tahu. Jangan banyak tanya. Cepatlah kemari!" Jiwon menutup sambungan teleponnya.
Shinhye yang penasaran akhirnya harus pamit dan pergi meninggalkan Jonghyun.

JeResto
Shinhye keluar dari ruangan manager-nya dengan perasaan dilema. Apa yang akan dibicarakan presdir? Dia kan sudah tidak bekerja lagi di restaurant ini. Kenapa tiba-tiba presdir memanggilnya?
"Shinhye-ya, apa yang manager katakan padamu?"
"Presdir memintaku menemuinya."
Jiwon melotot kaget, "Jadi presdir mendengar kata-kataku? Ah, jeongmal haengbokhae–benar-benar bahagianya," katanya senang.
"Presdir mendengar kata-katamu? Jiwon-ah, katakan padaku apa yang kau katakan pada presdir?"
"Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya. Aku bilang semua pada presdir. Aku bilang padanya tentang anaknya yang datang dan asal memecat karyawan terbaik yang restaurant ini miliki. Saat kukatakan hal itu, presdir sepertinya ibah mendengarnya. Dan semoga saja dia memanggilmu karena ingin memperkerjakanmu kembali."
"Ireon–dasar! Pantas saja presdir memanggilku sekarang."
Jiwon mengangguk-angguk lucu memperlihatkan wajah tanpa dosanya. "Kau tenang saja. Aku yakin presdir pasti akan memanggilmu kembali bekerja. Aku jamin itu."
"Awas kau, kalau sampai kebalikannya."



***
Shinhye masuk ke rumah presdir Jung dengan perasaan hati-hati, dia takut tiba-tiba bertemu dengan orang yang selama ini dia hindari. Siapa lagi kalau bukan Jung Yong Hwa. Tapi akhirnya semua pikiran itu dia tampis karena inti kedatangannya ke rumah ini adalah untuk bertemu dengan presdir. Ya, Presdir. Pemilik rumah ini. Jadi dia tidak perlu takut kalau berhadapan dengan manusia menyebalkan bernama Jung Yong Hwa itu.
Shinhye berjalan ke ruang kerja presdir yang ditunjukan salah satu pekerja di rumah Yonghwa. Begitu Shinhye masuk ke dalam ruang kerja itu. Presdir langsung memintanya duduk dan membicarakan hal yang ingin dibicarakan.
"Park Shin Hye-ssi, ada hal penting yang ingin saya bicarakan denganmu. Tapi sebelumnya atas nama anak saya, saya minta maaf karena perbuatannya yang tidak dewasa dan mungkin merugikanmu," ujar pria berumur setengah abad itu.
Shinhye menyeringai. "Tidak apa-apa presdir, anda tidak perlu minta maaf."
Presdir tersenyum, "Park Shin Hye-ssi, sebelumnya anda pasti sudah mendengar dari manajer Yoo bahwa saya memanggil anda ke sini karena ada yang ingin saya bicarakan dengan anda.”
Ye, Presdir,” jawab Shinhye.
“Sebenarnya alasan saya memanggil anda ke sini adalah saya ingin bekerja sama dengan anda," terang pria dengan beberapa kerutan di keningnya ini.
Shinhye mengerutkan keningnya.
"Saya tidak tahu apa anda ingin melakukan kerjasama ini atau tidak. Tapi saya benar-benar berharap, anda mau melakukannya."
"Presdir, saya merasa terhormat atas permintaan ini. Namun, kalau saya boleh tahu kerjasama seperti apa yang anda maksudkan?"
Presdir Jung tertawa simple dan berkata, "Anda tahu bahwa anak saya, Jung Yong Hwa adalah seseorang yang tidak memiliki pikiran seorang dewasa meskipun umurnya sudah dua puluh empat tahun. Akan tetapi sedikit lagi dia sudah harus meneruskan membantu saya memimpin perusahaan. Jadi saya benar-benar khawatir kalau sikapnya yang seperti ini, akankah dia bisa membantu saya memimpin perusahaan? Saya belum yakin dengan kinerja kerjanya. Oleh karena itu saya ingin menugaskan dia untuk terlebih dahulu bekerja memantau di JeResto. Apabila kinerja kerjanya bagus, saya baru boleh percaya dia memimpin perusahaan saya. Anda tahu Shinhye-ssi, bahwa pelanggan yang akan dia layani di restaurant itu adalah seperti halnya juga melayani seorang klien." Presdir menarik nafas sebelum melanjutkan pembicaraannya, "Shinhye-ssi, saya ingin Yonghwa bekerja di restaurant."
Shinhye melengkungkan senyum pengertian meski dalam hati dia bertanya-tanya maksud perkataan presdir Jung. Dan apa hubungan Yonghwa yang akan bekerja di JeResto dengan dirinya yang dipanggil ke sini?
"Presdir, saya mengerti maksud anda memperkerjakan anak anda. Namun, kerjasama apa yang anda maksudkan di sini?" katanya memastikan bahwa kedatangannya ke sini tidak membuang-buang waktu dan tenaga.
Presdir tertawa lebar mendengar pertanyaan Shinhye. Saking banyak bicara, dia sendiri lupa menyampaikan maksud tujuannya memanggil Shinhye.
"Mianhamnida, Park Shin Hye-ssi. Saya sampai lupa mengatakan maksud saya memanggil anda."
"Tidak apa-apa, presdir.”
"Saya tidak tahu apa anda mau melakukannya atau tidak. Tapi saya benar-benar berharap anda mau membimbing Yonghwa bekerja di JeResto. Saya ingin anda kembali bekerja di restaurant dan mengajari Yonghwa cara melayani yang baik."
"Presdir, saya merasa terhormat atas penawaran ini. Tapi, saya minta maaf karena saya sudah…" Perkataan Shinhye terpotong oleh presdir Jung.
"Saya mohon Shinhye-ssi. Bantu saya kali ini. Saya tahu bahwa hanya anda yang bisa membantu saya melakukan hal ini. Saya yakin bahwa anda mungkin bisa mengubah sifat Yonghwa."
Shinhye merasa terharu mendengar permohonan presdir Jung. Pria berumur setengah abad ini tidak peduli dengan statusnya sebagai seorang pemimpin tertinggi, tapi hanya demi anaknya yang sombong itu dia berani mempertaruhkan harga dirinya memohon pada mantan seorang pegawai restaurant biasa seperti Shinhye.
"Apa maksud anda? Saya tidak mengerti kenapa anda harus memilih saya untuk membimbing anak anda?"
"Karena hanya anda yang melihat Yonghwa tidak sebagai anak saya. Banyak karyawan saya yang merasa Yonghwa sebagai anak saya jadi mereka tidak berani menentang atau memprotes kalau dia melakukan kesalahan. Tapi anda, seperti yang saya sudah dengar dari nona Kim, bahwa anda berani menentang Yonghwa kalau dia salah. Oleh karena itu, saya rasa anda orang yang tepat yang bisa merubah anak saya. Saya hanya berharap anda mau membantu saya."
"Tapi…."
Sekali lagi kata-kata Shinhye dipotong presdir. Presdir melakukan hal ini, karena dia tidak mau mendengar penolakan dari Shinhye.
" Kau bisa melakukan apa pun padanya tanpa harus memandang bahwa dia anakku. Kalau dia bersalah, kau bisa melaporkannya padaku. Kau tenang saja, kalau aku yang bicara, Yonghwa akan mendengarkannya."
Begitu mendengar kalimat-kalimat yang presdir ucapkan, Shinhye seperti tersuntik multivitamin. Dia merasa bahwa ini saatnya dia balas dendam pada Yonghwa. Berdasarkan apa yang dikatakan presdir, bahwa dia bisa melakukan apa pun pada Yonghwa kalau Yonghwa bersalah. Seperti yang dikatakan presdir, dia akan melakukan apa pun sesuka hatinya yang penting bisa membalas perbuatan Yonghwa.
“Jung Yong hwa, tunggu saja kau!” ujar Shinhye dalam hati.
"Baiklah predir. Saya akan melakukannya demi kenyamanan anda."
"Park Shin Hye-ssi, terima kasih. Terima kasih sekali. Sebagai hadiahnya apa pun yang kau butuhkan kau boleh bilang padaku."
"Piryeopseo–tidak perlu! Saya akan melakukannya tanpa pamrih."
Melakukan apa pun pada Jung Yong Hwa sesuka hatiku sudah termasuk hadiahnya, presdir. Jadi anda tidak perlu repot-repot menawariku hadiah lain, bisiknya dalam hati.
"Kamsahamnida, nona Park."
"Ne. Sillyehamnida–permisi."
"Haseyo–silahkan!" balas presdir.
Shinhye kemudian membungkuk dan keluar dari ruangan presdir. Dengan perasaan senang, dia menuruni tangga menuju ruang depan rumah itu, sambil membayangkan bagaimana wajah Yonghwa kalau tahu bahwa dia adalah pembimbing Yonghwa selama berada di JeResto.
“Mampus kau!” kata Shinhye dengan senyuman nakal yang menyeringai di wajahnya.
"Micheosseo?" tanya sebuah suara yang saat itu juga menyadarkan Shinhye dari lamunan nakalnya.

Begitu Shinhye berbalik, dia melihat pemilik suara itu sudah berdiri di depannya.

To Be Continued


Rain of Autumn Part 3



Part 3

At Kyunghee University

Pagi ini Yonghwa bersama kedua temannya sebut saja Kang Min Hyuk dan Lee Jung Shin, mereka berencana pergi ke ruangan Profesor Song untuk menolak kerjasama yang juga melibatkan Seo Joo Hyun di dalamnya. Yonghwa sudah memutuskan untuk tidak menerima tawaran kerjasama itu, meskipun bandnya yang terdiri atas dia sendiri, Minhyuk dan Jungshin akan mendapatkan kesempatan untuk tampil di pergelaran seni theater tahun ini. Hanya sekarang Yonghwa tidak tertarik lagi melakukan kerjasama itu, sejak Joohyun mengatakan cinta padanya seminggu yang lalu.

"Hyeong, coba kau pikirkan baik-baik. Jangan gegabah, hanya gara-gara urusan pribadimu. Ayolah kita lakukan ini," bujuk Minhyuk karena dia ingin sekali melakukan kerjasama dengan Profesor Song. Berhubung, dengan cara ini mereka bisa tampil di pementasan drama itu. Minhyuk ingin sekali band indie mereka terkenal di seluruh pusat Korea. Makanya dia antusias melakukannya. Hanya Yonghwa, si pembuat keputusan malah tidak mau melakukan kerjasama ini.
Shireo. Kau dan Jungshin saja yang melakukannya." Yonghwa bersikukuh.
"Kalau sekedar main gitar, aku mau. Tapi kalau harus berakting, aku benar-benar menyerah melakukannya. Itu bukan bidangku" Jungshin mengangkat kedua tangannya ke atas. Seperti mengisyaratkan mengalah dari musuh.
"Ya, kalian berdua ini apa-apaan. Dan kau Jungshin." Minhyuk menunjuk Jungshin. "Kau bukan pemeran utama dalam drama ini. Kau dan aku hanya akan berakting duduk menemani Yonghwa hyeong. Tapi kau juga tidak bisa melakukannya? Apa kau sedang mempertaruhkan band kita?" Minhyuk benar-benar kesal karena Jungshin juga ikut-ikutan Yonghwa tidak mau melakukan kerjasama ini. Kerjasama yang dimaksud di sini adalah lomba pementasan drama yang setiap tahun akan diadakan di salah satu universitas terbesar di Seoul. Dan pastisipannya hanya dikhususkan untuk universitas-universitas di Seoul. Tahun ini pementasan drama itu akan diadakan di Universitas Kyunghee. Dan mahasiswa jurusan theater siap untuk mementaskan drama lagi, seperti tahun-tahun kemarin.
Kembali pada soal kerjasama dengan Yonghwa, semua itu bisa terjadi karena Lee Dong Hae mahasiswa jurusan theater yang sebenarnya akan beradu akting dengan Joohyun batal melakukannya, karena ayahnya sakit keras dan dia harus pulang kembali ke kota asalnya Jinan untuk menjenguk ayahnya. Karena keluarnya Donghae secara tiba-tiba, membuat sutradara yang bertanggungjawab untuk pementasan drama ini dan profesor Song yang juga dipercayakan untuk bertanggungjawab, menjadi kelabakan mencari peran pengganti. Seminggu membuat casting, semua kontestan tidak ada yang sesuai dengan tokoh dalam cerita. Namun tiba-tiba mengingat karakter tokoh pria dalam drama ini sangat pantas untuk diperankan oleh salah satu mahasiswa yang ada di Universitas Kyunghee, yaitu karakter dingin dan tak banyak bicara ini. Maka profesor Song yang adalah penanggung jawab besar dalam acara ini, memanggil Yonghwa untuk diajak kerjasama. Yonghwa yang bingung karena merasa bahwa ini bukan bidangnya, awalnya menolak kerjasama ini. Tapi, karena Profesor Song berjanji akan membuat bandnya tampil di pementasan drama kali ini, maka dia mau melakukannya. Paling tidak, dia hanya perlu membaca dan menghafal script. Juga belajar berakting yang bagus. Tidak sulit baginya melakukan hal-hal itu, hanya agar bandnya bisa tampil. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Dia tidak tertarik lagi melakukan kerjasama itu. Meski dia harus mengorbankan bandnya untuk tidak tampil dalam pementasan itu. Tapi menurutnya akan lebih baik begitu, daripada dia harus melakukan adegan-adegan menjengkelkan dengan gadis bernama Seo Joo Hyun itu. Dia benci kalau dia harus dekat-dekatan dengan Joohyun.

At Professor Song's room
Yonghwa mengetuk pintu ruangan Profesor Song Ok Sook.
"Masuk," kata suara dari dalam ruangan.
Yonghwa masuk diikuti Minhyuk dan Jungshin.
"Oh kalian. Ada apa?"
"Kami ingin membicarakan tentang kerjasama itu," kata Yonghwa.
"Kalian tenang saja. Band kalian sudah pasti tampil dalam pementasan itu."

"Jeosonghamnida kyosunim–maaf profesor," kata Yonghwa ketika dia berhadapan wajah dengan Profesor Song. "Kami membatalkan kerjasama ini. Saya tidak bisa ikut tampil dalam drama ini. Jeosonghamnida."

"Mwo? Mworagoya? Kenapa kau tidak bisa tampil?"
"Saya hanya tidak tertarik melakukannya," jawab Yonghwa santai.
Profesor Song mendengus kesal mendengar pernyataan Yonghwa. “Apa kau pikir segampang itu memutuskan setuju dan tidak setujunya kau untuk tampil dalam pementasan drama kali ini? Kau pikir aku anak kecil yang mudah dipermainkan dengan keputusan sepihakmu itu?”
Jeosonghamnida, kyosunim. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya.”
“Apa alasanmu tidak mau melakukannya?”
“Terlalu pribadi untuk aku ceritakan.”
"Geurae, arasseo. Itu masalah pribadimu. Namun, apa kau tidak memikirkan tentang bandmu? Apa kau tidak mau bandmu tampil di pementasan ini? Ingat, bahwa pementasan ini akan dihadiri oleh sponsor-sponsor terkenal. Siapa tahu kalian mungkin akan dipilih untuk disponsori." Profesor Song terlihat membujuk. Dia takut tak ada yang bisa menggantikan Donghae selain Yonghwa. Karakter ini sudah terlalu cocok untukYonghwa. Dia tidak mau ada pengganti, selain Donghae sendiri mahasiswa jurusan theater itu lagi.
"Sekali lagi maaf kyosunim, tapi saya benar-benar tidak bisa melakukannya. Saya rasa itu saja. Kami pergi dulu." Yonghwa membungkuk bersama Minhyuk dan Jungshin yang dari tadi memilih untuk diam. Mereka berbalik dan hendak pergi, tapi tertahan karena kata-kata profesor Song.
"Aku berpikir untuk megajakmu kerjasama, karena aku cukup mengenalmu dengan baik. Dan menurutku tidak akan sulit mengajarimu mendalami karakter tokoh ini, karena karakter aslimu dengan tokoh ini tidak jauh berbeda. Kau tahu Jung Yong Hwa, bahwa pementasan ini membawa nama kampus kita. Apa kau tidak berpikiran bahwa ini akan menaikkan popularitas samchon-mu?"
Yonghwa tidak berbalik.
"Apa kau mau aku melaporkan hal ini pada samchon-mu?"
"Terserah kyosunim saja. Permisi." Mereka pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Profesor Song yang geram luar biasa.

***
Di ruang latihan band mereka, Minhyuk protes luar biasa karena Yonghwa yang membatalkan perjanjian dan membuat band mereka tidak bisa tampil. Ditambah lagi, Yonghwa yang tidak melakukan aksi protes atas perbuatan Profesor Song yang mengancam mereka. Bukan sifat Yonghwa yang biasa, yang tidak mau diperintah, diancam atau sejenisnya. Bagaimanapun caranya, dia harus membalasnya. Tapi ini tidak. Yonghwa malah hanya diam saja melihat dirinya diancam.
"Hyeong, kenapa kau hanya diam saja waktu diancam? Kalau Kyosunim tidak mengijinkan kita tampil, kenapa tidak kau laporkan saja pada samchon-mu biar kita bisa tetap tampil."

"Shireo. Aku bukan tukang pelapor. Dan lagi ancaman professor tidak mungkin akan berhasil. Samchon sedang sakit sekarang, jadi dia tidak akan mungkin mendengar berita laporan dari Song kyosunim. "y

"Bukan seperti dirimu yang biasa. Kemarin-kemarin kau bilang dibentak seorang gadis pelayan yang bekerja di restaurant-mu, dan kau langsung melapor untuk memecatnya," timpal Jungshin.
"Itu karena gadis itu kelewatan. Dia pantas mendapatkannya. Siapa suruh tidak mengenal pemilik tempatnya bekerja. Gadis itu bawahanku, sedangkan kyosunim bawahan samchon-ku. Yang ada, saat samchon sehat kembali malah aku yang bakal diceramahi.”
"Jadi hyeong, apa yang akan kau lakukan kalau perintah dari samchon-mu menyuruhmu melakukan pementasan drama ini?" tanya Jungshin.
"Tetap saja aku tidak mau. Samchon pasti akan mengerti. Dia bukan pemaksa seperti Song kyosunim."

At Economy Faculty
Shinhye dan Jiwon berjalan malas keluar dari fakultas mereka hendak menuju tempat yang hampir dipenuhi oleh mereka yang bercita-cita meneruskan perjalan hidupnya menjadi pemusik atau musisi. Apalagi kalau bukan jurusan musik. Shinhye dan Jiwon ditugasi oleh Profesor Choi untuk mengambil agenda acara tentang pementasan drama di ruangan Profesor Song, yang di mana kedua profesor itu adalah penanggung jawab acara.
"Aigoo, kenapa hari ini kita harus terlambat? Akhirnya malah dihukum mengambil agenda acara. Malah tempatnya jurusan musik modern lagi. Tempatnya kan luas. Bagaimana coba mencari ruangan Song kyosunim?"
"Sudahlah Shinhye, jangan banyak mengeluh. Kita laksanakan saja perintah Choi kyosunim," sambung Jiwon berjalan agak lebih cepat agar sesegera mungkin bisa meninggalkan gedung fakultas mereka.

At Modern Music Department
Shinhye dan Jiwon panik setengah mati karena mereka berputar di tempat yang sama tanpa arah yang jelas. Mereka berkeliling mencari ruangan Profesor Song, tapi belum mendapatinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya daripada tersesat terus. Setelah bertanya, baru mereka dapati lokasi ruangan Profesor Song. Mengikuti arah yang diberikan, Shinhye dan Jiwon berjalan terus menuju ruangan Profesor Song.
Hampir tiba di ruangan Profesor Song, Shinhye berlonjak kaget karena bertemu dengan orang yang sangat tidak ingin dia temui.
"Eomeona, otteokhae? Jiwon-ah, apa tidak ada jalan lain lagi? Lorong atau apa pun itu yang penting bisa menghindar," kata Shinhye sambil berjalan menundukan kepalanya.
Jiwon yang sedang sibuk memerhatikan ruangan-ruangan menoleh ke depan.
"Eoh, Shinhye-ya, terus menunduk. Mereka berada lima meter di depan kita," kata Jiwon member instruksi sesudah meyadari perkataan yang dimaksud Shinhye tadi.
"Aigoo, bagaimana bisa dia ada di mana-mana?"
"Ini kan jurusan musik modern. Tempat kuliah kedua anggota bandnya. Mungkin saja dia sedang mengunjungi mereka," jelas Jiwon pada tiga pria yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. "Terus menunduk. Sedikit lagi kita akan berhasil melewati mereka."
Shinhye mengikuti perintah Jiwon.
"Berhasil," kata Jiwon senang ketika melewati tiga pria itu.
"Chogiyo." Suara seorang dari ketiga pria itu memanggil.
"Ani, jalan terus." Shinhye menarik lengan Jiwon agar berjalan terus.
"Kalian berdua, berhenti." Masih suara yang sama.
Shinhye dan Jiwon terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

At Professor Song's room.
Setelah mengambil agenda acara, Shinhye dan Jiwon berjalan keluar dari ruangan profesor.

"Ya kau, Kim Ji Won. Kau tahu, aku hampir mati tadi kalau sampai pria bodoh itu tahu aku juga kuliah di universitas yang sama dengannya," omel Shinhye. "Kalau kau tahu kedua anggota bandnya mengambil jurusan ini, kenapa tidak kau beritahu, biar aku bisa menghindar?"

"Mianhaeyo. Aku sendiri lupa."
Shinhye masih cemberut.
"Apa kau masih marah?"
"Dwaesseo. Yang terpenting adalah Yonghwa si bodoh itu tidak mengetahui aku juga kuliah di sini."
"Siapa yang kau bilang pria bodoh?" Sebuah suara dari belakang mengagetkan mereka.

Serentak Shinhye dan Jiwon berbalik mencari asal suara.

"Eoh." Shinhye hilang akal.
"Katakan padaku, siapa yang kau bilang pria bodoh?"
"Ya, siapa kau sehingga aku harus menuruti perintahmu?" tantang Shinhye meski dalam hati dia sendiri memaki mulutnya yang lancang.
"Shinhye-ya, jangan keterlaluan. Apa kau mau diusir dari kampus ini?" bisik Jiwon memperingatkan. Dia takut kejadian yang sama di restaurant saat Shinhye dipecat terjadi lagi di sini.
"Kau tidak tahu siapa aku?" tunjuk pria itu pada dirinya sendiri. "Aku, Jung Yong Hwa, anak salah satu penyumbang saham terbesar di kampus ini. Jadi sekarang, siapa kau berani menyebutku bodoh?"
"Neo, sekalipun kau adalah anak pemilik kampus ini atau bahkan anak salah satu penyumbang saham di kampus ini, kau tetap tidak bisa seenaknya menuduh atau memerintah orang apalagi mengusik kehidupan pribadinya."
"Mulronimnida–tentu saja, namun kalau kau duluan yang mengusik kehidupan pribadi orang lain apa orang lain itu akan berdiam diri?"
"Jung Yong Hwa-ssi, apa kau punya bukti kalau aku mengusik kehidupan pribadimu?" tantang Shinhye.
"Gotjimal–jangan bohong! Kau membicarakan aku tadi. Mengaku saja maka aku tidak akan mengusik kehidupan pribadimu, nona mantan pelayan Park Shin Hye," ucap Yonghwa setelah sebelumnya berusaha mengingat kembali nama gadis yang pernah menjadi pelayan di restaurant-nya ini.
"Namun, kau tidak punya bukti untuk hal itu. Jadi, Jung Yong Hwa-ssi kalau kau sudah punya bukti, kau boleh menuntutku. Annyeonghi gyeseyo–selamat tinggal!" ucapnya dan berlalu meninggalkan Yonghwa yang malu setengah mati ditantang gadis biasa seperti Park Shin Hye ini.
Shinhye dan Jiwon pergi meninggalkan Yonghwa yang geram, sedang Minhyuk juga Jungshin malah melongo melihat tingkah berani gadis tadi.
"Hyeong-ah, geu yeojaneun daebak." Minhyuk bertepuk tangan sendiri.
"Aku harus membuat perhitungan dengannya," ujar Yonghwa kesal sekaligus malu karena baru saja ditantang oleh seorang gadis biasa.
"Yang adil. Kau harus adil membuat perhitungan dengannya," timpal Jungshin tiba-tiba membela Shinhye.
"Sebenarnya siapa yang kalian bela, hah?"
"Kami tidak membela kedua-duanya. Namun hyeong, aku hanya ingin kau bersikap jantan kali ini. Jangan pernah mencampur-adukkan masalah pribadimu dengan pendidikan gadis itu. Aku rasa kau mengerti maksudku," ucap Jungshin sekenanya dan berlalu meninggalkan Yonghwa dan Minhyuk yang masih diam di tempat.

***
Sudah seminggu Shinhye menjalani tugasnya sebagai asisten pribadi Lee Jong Hyun. Seperti dirinya yang biasa, yang selalu melakukan jadwalnya dengan telaten. Sampai-sampai dia tidak pernah mangkir melakukan tugasnya. Dan selalu membuat Jonghyun tidak menyesal memilihnya sebagai asisten pribadi.
Hari ini Jonghyun akan bertemu klien kerjanya, tapi dia membutuhkan Shinhye untuk memesan tempat bertemu. Bukan lagi tugas sekretaris kantornya untuk memesan tempat bertemu, sekarang dia lebih percaya tugas ini Shinhye yang mengerjakan. Karena Shinhye ahli memilih tempat untuk bertemu. Sudah dua kali, klien Jonghyun memuji tempat pertemuan mereka, yang adalah pilihan Shinhye. Dan saat itu juga mereka langsung menandatangani kontrak tanpa muluk-muluk dulu. Kata mereka, pelayanan yang café (tempat mereka bertemu) dan Jonghyun berikan sangat memuaskan. Jadi tanpa banyak menimbang, mereka langsung menerima permintaan kerjasama dengan Jonghyun.
Jonghyun menekan keypad smartphone-nya, mengetik pesan untuk dikirim pada Shinhye.

Pesannya berbunyi; nona Shinhye, bisakah anda ke kantor saya sebentar?

Beberapa menit kemudian Shinhye membalas iya pada pesannya.

At Jonghyun's office room
Shinhye masuk ke ruangan Jonghyun setelah mendapat ijin dari Jonghyun sendiri.
"Annyeonghaseyo, sajangnim, ah maksud saya Jonghyun-ssi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Duduk," pinta Jonghyun. "Aku bermaksud bertemu seorang klien penting hari ini, aku mau kau yang memesan tempatnya."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau yang terbaik melakukan hal ini."
"Tapi," kata Shinhye tidak yakin dengan keputusan Jonghyun.
"Park Shin Hye-ssi, aku minta maaf karena pekerjaan ini telah menambah jadwal kerjamu. Tapi aku berjanji akan memenuhi kewajiban membayarmu."
"Aniyo, maksudku bukan seperti itu."
"Kalau begitu kau mau melakukannya kan? Aku hanya percaya padamu Shinhye-ssi," ucap Jonghyun lembut.
"Kalau memang seperti itu, baiklah."
"Dan juga, Shinhye-ssi, apa kau ada waktu hari ini?"
Shinhye hanya mengerutkan kening mendengar pertanyaan Jonghyun.
"Seusai pertemuan, aku ingin makan siang denganmu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Shinhye hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Jam satu siang. Tempatnya kau yang tentukan."
"Baiklah, nanti saya beritahu tempatnya. Silyehamnida–permisi!" Shinhye pamit dan pergi dari tempat itu.
Dalam perjalanan keluar dari kantor Jonghyun, Shinhye hanya tersenyum simpul karena membayangkan wajah Jonghyun yang meminta tolong padanya dengan sangat tulus. Entah kenapa wajah dan senyuman Jonghyun dalam beberapa hari ini terus mampir dalam isi kepalanya. Dia bahkan tidak bisa menahan urat-uratnya untuk tidak tersenyum, setiap kali melihat atau mengingat pria yang bernama Lee Jong Hyun itu.
"Andwae, maldo andwae. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Dia bosku dan aku hanya asistennya. Andwae, andwae." Shinhye menampar pipinya pelan mencoba menyadarkan diri.

"Noona, waeyo? Kenapa kau menampar dirimu?"

Shinhye menoleh dan mendapatkan Hyunwoo sudah berada di sampingnya.
"Ya, kau ini mengagetkan saja."
"Apa kau sedang menjalani tugas?"
Anggukan jawaban dari Shinhye.
"Hari ini apa kau tidak sibuk? Aku ingin makan siang denganmu. Sudah lama kita tidak jalan berdua lagi."
"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah ada janji dengan seseorang?"
"Nugu? Apa itu Jonghyun sajangnim?"
Shinhye mengangguk lagi.
Hyunwoo terlihat kecewa, tapi dia bisa menahannya untuk tidak terlalu menunjukannya pada Shinhye.

At JeResto
Setelah bertemu dengan klien, tepat jam satu siang Jonghyun menepati janjinya. Dia pergi ke tempat pertemuannya dengan Shinhye. Begitu masuk ke dalam restaurant itu, Jonghyun disambut ramah oleh pelayannya. Dia membalasnya juga dengan senyuman yang tak kalah ramah. Sejurus kemudian, Jonghyun celingak-celinguk mencari keberadaan Shinhye, tapi dia tidak bisa menemukannya. Jadi dia memutuskan untuk duduk di meja yang sudah dipesan Shinhye sebelumnya.
Setelah melesakkan pantatnya di kursi restaurant tersebut, seorang pelayan datang ke arahnya. Pelayan yang satu ini seakan membuat Jonghyun tidak ingin berkedip. Dia membuat Jonghyun seakan merasa bodoh dengan dirinya sendiri, karena tidak lagi memposisikan diri sebagai seorang calon direktur di perusahaan besar yang ditakdirkan hanya boleh jatuh cinta pada wanita dengan kasta tinggi. Ya, Jonghyun adalah pria sejenis itu. Arogansinya sangat terlihat ketika memilih pasangan kencan. Dia hanya ingin jatuh cinta dan berkencan dengan wanita yang sekelas dengannya. Dia bahkan membentengi dirinya untuk tidak membangun hubungan yang dekat dengan wanita yang di bawah kelasnya. Tapi entah kenapa perasaannya itu tidak muncul pada gadis pelayan yang satu ini. Meski pertama melihatnya, tapi senyuman dan matanya seakan mampu membuat Jonghyun meruntuhkan tembok arogansinya.
"Anda ingin pesan apa, tuan?" tanya pelayan itu.
Jonghyun tidak menjawab, dia masih belum puas memandangi gadis ini.
"Tuan, anda ingin pesan apa?" kata pelayan ini dengan volume suara yang lebih keras dari sebelumnya.

Jonghyun kaget dan salah tingkah, tapi dia masih bisa mengendalikannya. "Saya sedang menunggu seseorang," jawabnya berwibawa.

"Kalau begitu, jika anda ingin memesan nanti, panggil saja saya. Sillyehamnida." Pelayan itu berjalan meninggalkan Jonghyun. Tapi, belum sampai tiga langkah, dia mendadak berhenti karena dipanggil Jonghyun. Dia berbalik mendapati Jonghyun.
"Chogiyo, kalau boleh tahu siapa nama anda?" Jonghyun bertanya tanpa malu-malu.

To Be Continued