"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction: Rain of Autumn Part 3

Minggu, 10 April 2016

Rain of Autumn Part 3



Part 3

At Kyunghee University

Pagi ini Yonghwa bersama kedua temannya sebut saja Kang Min Hyuk dan Lee Jung Shin, mereka berencana pergi ke ruangan Profesor Song untuk menolak kerjasama yang juga melibatkan Seo Joo Hyun di dalamnya. Yonghwa sudah memutuskan untuk tidak menerima tawaran kerjasama itu, meskipun bandnya yang terdiri atas dia sendiri, Minhyuk dan Jungshin akan mendapatkan kesempatan untuk tampil di pergelaran seni theater tahun ini. Hanya sekarang Yonghwa tidak tertarik lagi melakukan kerjasama itu, sejak Joohyun mengatakan cinta padanya seminggu yang lalu.

"Hyeong, coba kau pikirkan baik-baik. Jangan gegabah, hanya gara-gara urusan pribadimu. Ayolah kita lakukan ini," bujuk Minhyuk karena dia ingin sekali melakukan kerjasama dengan Profesor Song. Berhubung, dengan cara ini mereka bisa tampil di pementasan drama itu. Minhyuk ingin sekali band indie mereka terkenal di seluruh pusat Korea. Makanya dia antusias melakukannya. Hanya Yonghwa, si pembuat keputusan malah tidak mau melakukan kerjasama ini.
Shireo. Kau dan Jungshin saja yang melakukannya." Yonghwa bersikukuh.
"Kalau sekedar main gitar, aku mau. Tapi kalau harus berakting, aku benar-benar menyerah melakukannya. Itu bukan bidangku" Jungshin mengangkat kedua tangannya ke atas. Seperti mengisyaratkan mengalah dari musuh.
"Ya, kalian berdua ini apa-apaan. Dan kau Jungshin." Minhyuk menunjuk Jungshin. "Kau bukan pemeran utama dalam drama ini. Kau dan aku hanya akan berakting duduk menemani Yonghwa hyeong. Tapi kau juga tidak bisa melakukannya? Apa kau sedang mempertaruhkan band kita?" Minhyuk benar-benar kesal karena Jungshin juga ikut-ikutan Yonghwa tidak mau melakukan kerjasama ini. Kerjasama yang dimaksud di sini adalah lomba pementasan drama yang setiap tahun akan diadakan di salah satu universitas terbesar di Seoul. Dan pastisipannya hanya dikhususkan untuk universitas-universitas di Seoul. Tahun ini pementasan drama itu akan diadakan di Universitas Kyunghee. Dan mahasiswa jurusan theater siap untuk mementaskan drama lagi, seperti tahun-tahun kemarin.
Kembali pada soal kerjasama dengan Yonghwa, semua itu bisa terjadi karena Lee Dong Hae mahasiswa jurusan theater yang sebenarnya akan beradu akting dengan Joohyun batal melakukannya, karena ayahnya sakit keras dan dia harus pulang kembali ke kota asalnya Jinan untuk menjenguk ayahnya. Karena keluarnya Donghae secara tiba-tiba, membuat sutradara yang bertanggungjawab untuk pementasan drama ini dan profesor Song yang juga dipercayakan untuk bertanggungjawab, menjadi kelabakan mencari peran pengganti. Seminggu membuat casting, semua kontestan tidak ada yang sesuai dengan tokoh dalam cerita. Namun tiba-tiba mengingat karakter tokoh pria dalam drama ini sangat pantas untuk diperankan oleh salah satu mahasiswa yang ada di Universitas Kyunghee, yaitu karakter dingin dan tak banyak bicara ini. Maka profesor Song yang adalah penanggung jawab besar dalam acara ini, memanggil Yonghwa untuk diajak kerjasama. Yonghwa yang bingung karena merasa bahwa ini bukan bidangnya, awalnya menolak kerjasama ini. Tapi, karena Profesor Song berjanji akan membuat bandnya tampil di pementasan drama kali ini, maka dia mau melakukannya. Paling tidak, dia hanya perlu membaca dan menghafal script. Juga belajar berakting yang bagus. Tidak sulit baginya melakukan hal-hal itu, hanya agar bandnya bisa tampil. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Dia tidak tertarik lagi melakukan kerjasama itu. Meski dia harus mengorbankan bandnya untuk tidak tampil dalam pementasan itu. Tapi menurutnya akan lebih baik begitu, daripada dia harus melakukan adegan-adegan menjengkelkan dengan gadis bernama Seo Joo Hyun itu. Dia benci kalau dia harus dekat-dekatan dengan Joohyun.

At Professor Song's room
Yonghwa mengetuk pintu ruangan Profesor Song Ok Sook.
"Masuk," kata suara dari dalam ruangan.
Yonghwa masuk diikuti Minhyuk dan Jungshin.
"Oh kalian. Ada apa?"
"Kami ingin membicarakan tentang kerjasama itu," kata Yonghwa.
"Kalian tenang saja. Band kalian sudah pasti tampil dalam pementasan itu."

"Jeosonghamnida kyosunim–maaf profesor," kata Yonghwa ketika dia berhadapan wajah dengan Profesor Song. "Kami membatalkan kerjasama ini. Saya tidak bisa ikut tampil dalam drama ini. Jeosonghamnida."

"Mwo? Mworagoya? Kenapa kau tidak bisa tampil?"
"Saya hanya tidak tertarik melakukannya," jawab Yonghwa santai.
Profesor Song mendengus kesal mendengar pernyataan Yonghwa. “Apa kau pikir segampang itu memutuskan setuju dan tidak setujunya kau untuk tampil dalam pementasan drama kali ini? Kau pikir aku anak kecil yang mudah dipermainkan dengan keputusan sepihakmu itu?”
Jeosonghamnida, kyosunim. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya.”
“Apa alasanmu tidak mau melakukannya?”
“Terlalu pribadi untuk aku ceritakan.”
"Geurae, arasseo. Itu masalah pribadimu. Namun, apa kau tidak memikirkan tentang bandmu? Apa kau tidak mau bandmu tampil di pementasan ini? Ingat, bahwa pementasan ini akan dihadiri oleh sponsor-sponsor terkenal. Siapa tahu kalian mungkin akan dipilih untuk disponsori." Profesor Song terlihat membujuk. Dia takut tak ada yang bisa menggantikan Donghae selain Yonghwa. Karakter ini sudah terlalu cocok untukYonghwa. Dia tidak mau ada pengganti, selain Donghae sendiri mahasiswa jurusan theater itu lagi.
"Sekali lagi maaf kyosunim, tapi saya benar-benar tidak bisa melakukannya. Saya rasa itu saja. Kami pergi dulu." Yonghwa membungkuk bersama Minhyuk dan Jungshin yang dari tadi memilih untuk diam. Mereka berbalik dan hendak pergi, tapi tertahan karena kata-kata profesor Song.
"Aku berpikir untuk megajakmu kerjasama, karena aku cukup mengenalmu dengan baik. Dan menurutku tidak akan sulit mengajarimu mendalami karakter tokoh ini, karena karakter aslimu dengan tokoh ini tidak jauh berbeda. Kau tahu Jung Yong Hwa, bahwa pementasan ini membawa nama kampus kita. Apa kau tidak berpikiran bahwa ini akan menaikkan popularitas samchon-mu?"
Yonghwa tidak berbalik.
"Apa kau mau aku melaporkan hal ini pada samchon-mu?"
"Terserah kyosunim saja. Permisi." Mereka pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Profesor Song yang geram luar biasa.

***
Di ruang latihan band mereka, Minhyuk protes luar biasa karena Yonghwa yang membatalkan perjanjian dan membuat band mereka tidak bisa tampil. Ditambah lagi, Yonghwa yang tidak melakukan aksi protes atas perbuatan Profesor Song yang mengancam mereka. Bukan sifat Yonghwa yang biasa, yang tidak mau diperintah, diancam atau sejenisnya. Bagaimanapun caranya, dia harus membalasnya. Tapi ini tidak. Yonghwa malah hanya diam saja melihat dirinya diancam.
"Hyeong, kenapa kau hanya diam saja waktu diancam? Kalau Kyosunim tidak mengijinkan kita tampil, kenapa tidak kau laporkan saja pada samchon-mu biar kita bisa tetap tampil."

"Shireo. Aku bukan tukang pelapor. Dan lagi ancaman professor tidak mungkin akan berhasil. Samchon sedang sakit sekarang, jadi dia tidak akan mungkin mendengar berita laporan dari Song kyosunim. "y

"Bukan seperti dirimu yang biasa. Kemarin-kemarin kau bilang dibentak seorang gadis pelayan yang bekerja di restaurant-mu, dan kau langsung melapor untuk memecatnya," timpal Jungshin.
"Itu karena gadis itu kelewatan. Dia pantas mendapatkannya. Siapa suruh tidak mengenal pemilik tempatnya bekerja. Gadis itu bawahanku, sedangkan kyosunim bawahan samchon-ku. Yang ada, saat samchon sehat kembali malah aku yang bakal diceramahi.”
"Jadi hyeong, apa yang akan kau lakukan kalau perintah dari samchon-mu menyuruhmu melakukan pementasan drama ini?" tanya Jungshin.
"Tetap saja aku tidak mau. Samchon pasti akan mengerti. Dia bukan pemaksa seperti Song kyosunim."

At Economy Faculty
Shinhye dan Jiwon berjalan malas keluar dari fakultas mereka hendak menuju tempat yang hampir dipenuhi oleh mereka yang bercita-cita meneruskan perjalan hidupnya menjadi pemusik atau musisi. Apalagi kalau bukan jurusan musik. Shinhye dan Jiwon ditugasi oleh Profesor Choi untuk mengambil agenda acara tentang pementasan drama di ruangan Profesor Song, yang di mana kedua profesor itu adalah penanggung jawab acara.
"Aigoo, kenapa hari ini kita harus terlambat? Akhirnya malah dihukum mengambil agenda acara. Malah tempatnya jurusan musik modern lagi. Tempatnya kan luas. Bagaimana coba mencari ruangan Song kyosunim?"
"Sudahlah Shinhye, jangan banyak mengeluh. Kita laksanakan saja perintah Choi kyosunim," sambung Jiwon berjalan agak lebih cepat agar sesegera mungkin bisa meninggalkan gedung fakultas mereka.

At Modern Music Department
Shinhye dan Jiwon panik setengah mati karena mereka berputar di tempat yang sama tanpa arah yang jelas. Mereka berkeliling mencari ruangan Profesor Song, tapi belum mendapatinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya daripada tersesat terus. Setelah bertanya, baru mereka dapati lokasi ruangan Profesor Song. Mengikuti arah yang diberikan, Shinhye dan Jiwon berjalan terus menuju ruangan Profesor Song.
Hampir tiba di ruangan Profesor Song, Shinhye berlonjak kaget karena bertemu dengan orang yang sangat tidak ingin dia temui.
"Eomeona, otteokhae? Jiwon-ah, apa tidak ada jalan lain lagi? Lorong atau apa pun itu yang penting bisa menghindar," kata Shinhye sambil berjalan menundukan kepalanya.
Jiwon yang sedang sibuk memerhatikan ruangan-ruangan menoleh ke depan.
"Eoh, Shinhye-ya, terus menunduk. Mereka berada lima meter di depan kita," kata Jiwon member instruksi sesudah meyadari perkataan yang dimaksud Shinhye tadi.
"Aigoo, bagaimana bisa dia ada di mana-mana?"
"Ini kan jurusan musik modern. Tempat kuliah kedua anggota bandnya. Mungkin saja dia sedang mengunjungi mereka," jelas Jiwon pada tiga pria yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. "Terus menunduk. Sedikit lagi kita akan berhasil melewati mereka."
Shinhye mengikuti perintah Jiwon.
"Berhasil," kata Jiwon senang ketika melewati tiga pria itu.
"Chogiyo." Suara seorang dari ketiga pria itu memanggil.
"Ani, jalan terus." Shinhye menarik lengan Jiwon agar berjalan terus.
"Kalian berdua, berhenti." Masih suara yang sama.
Shinhye dan Jiwon terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

At Professor Song's room.
Setelah mengambil agenda acara, Shinhye dan Jiwon berjalan keluar dari ruangan profesor.

"Ya kau, Kim Ji Won. Kau tahu, aku hampir mati tadi kalau sampai pria bodoh itu tahu aku juga kuliah di universitas yang sama dengannya," omel Shinhye. "Kalau kau tahu kedua anggota bandnya mengambil jurusan ini, kenapa tidak kau beritahu, biar aku bisa menghindar?"

"Mianhaeyo. Aku sendiri lupa."
Shinhye masih cemberut.
"Apa kau masih marah?"
"Dwaesseo. Yang terpenting adalah Yonghwa si bodoh itu tidak mengetahui aku juga kuliah di sini."
"Siapa yang kau bilang pria bodoh?" Sebuah suara dari belakang mengagetkan mereka.

Serentak Shinhye dan Jiwon berbalik mencari asal suara.

"Eoh." Shinhye hilang akal.
"Katakan padaku, siapa yang kau bilang pria bodoh?"
"Ya, siapa kau sehingga aku harus menuruti perintahmu?" tantang Shinhye meski dalam hati dia sendiri memaki mulutnya yang lancang.
"Shinhye-ya, jangan keterlaluan. Apa kau mau diusir dari kampus ini?" bisik Jiwon memperingatkan. Dia takut kejadian yang sama di restaurant saat Shinhye dipecat terjadi lagi di sini.
"Kau tidak tahu siapa aku?" tunjuk pria itu pada dirinya sendiri. "Aku, Jung Yong Hwa, anak salah satu penyumbang saham terbesar di kampus ini. Jadi sekarang, siapa kau berani menyebutku bodoh?"
"Neo, sekalipun kau adalah anak pemilik kampus ini atau bahkan anak salah satu penyumbang saham di kampus ini, kau tetap tidak bisa seenaknya menuduh atau memerintah orang apalagi mengusik kehidupan pribadinya."
"Mulronimnida–tentu saja, namun kalau kau duluan yang mengusik kehidupan pribadi orang lain apa orang lain itu akan berdiam diri?"
"Jung Yong Hwa-ssi, apa kau punya bukti kalau aku mengusik kehidupan pribadimu?" tantang Shinhye.
"Gotjimal–jangan bohong! Kau membicarakan aku tadi. Mengaku saja maka aku tidak akan mengusik kehidupan pribadimu, nona mantan pelayan Park Shin Hye," ucap Yonghwa setelah sebelumnya berusaha mengingat kembali nama gadis yang pernah menjadi pelayan di restaurant-nya ini.
"Namun, kau tidak punya bukti untuk hal itu. Jadi, Jung Yong Hwa-ssi kalau kau sudah punya bukti, kau boleh menuntutku. Annyeonghi gyeseyo–selamat tinggal!" ucapnya dan berlalu meninggalkan Yonghwa yang malu setengah mati ditantang gadis biasa seperti Park Shin Hye ini.
Shinhye dan Jiwon pergi meninggalkan Yonghwa yang geram, sedang Minhyuk juga Jungshin malah melongo melihat tingkah berani gadis tadi.
"Hyeong-ah, geu yeojaneun daebak." Minhyuk bertepuk tangan sendiri.
"Aku harus membuat perhitungan dengannya," ujar Yonghwa kesal sekaligus malu karena baru saja ditantang oleh seorang gadis biasa.
"Yang adil. Kau harus adil membuat perhitungan dengannya," timpal Jungshin tiba-tiba membela Shinhye.
"Sebenarnya siapa yang kalian bela, hah?"
"Kami tidak membela kedua-duanya. Namun hyeong, aku hanya ingin kau bersikap jantan kali ini. Jangan pernah mencampur-adukkan masalah pribadimu dengan pendidikan gadis itu. Aku rasa kau mengerti maksudku," ucap Jungshin sekenanya dan berlalu meninggalkan Yonghwa dan Minhyuk yang masih diam di tempat.

***
Sudah seminggu Shinhye menjalani tugasnya sebagai asisten pribadi Lee Jong Hyun. Seperti dirinya yang biasa, yang selalu melakukan jadwalnya dengan telaten. Sampai-sampai dia tidak pernah mangkir melakukan tugasnya. Dan selalu membuat Jonghyun tidak menyesal memilihnya sebagai asisten pribadi.
Hari ini Jonghyun akan bertemu klien kerjanya, tapi dia membutuhkan Shinhye untuk memesan tempat bertemu. Bukan lagi tugas sekretaris kantornya untuk memesan tempat bertemu, sekarang dia lebih percaya tugas ini Shinhye yang mengerjakan. Karena Shinhye ahli memilih tempat untuk bertemu. Sudah dua kali, klien Jonghyun memuji tempat pertemuan mereka, yang adalah pilihan Shinhye. Dan saat itu juga mereka langsung menandatangani kontrak tanpa muluk-muluk dulu. Kata mereka, pelayanan yang café (tempat mereka bertemu) dan Jonghyun berikan sangat memuaskan. Jadi tanpa banyak menimbang, mereka langsung menerima permintaan kerjasama dengan Jonghyun.
Jonghyun menekan keypad smartphone-nya, mengetik pesan untuk dikirim pada Shinhye.

Pesannya berbunyi; nona Shinhye, bisakah anda ke kantor saya sebentar?

Beberapa menit kemudian Shinhye membalas iya pada pesannya.

At Jonghyun's office room
Shinhye masuk ke ruangan Jonghyun setelah mendapat ijin dari Jonghyun sendiri.
"Annyeonghaseyo, sajangnim, ah maksud saya Jonghyun-ssi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Duduk," pinta Jonghyun. "Aku bermaksud bertemu seorang klien penting hari ini, aku mau kau yang memesan tempatnya."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau yang terbaik melakukan hal ini."
"Tapi," kata Shinhye tidak yakin dengan keputusan Jonghyun.
"Park Shin Hye-ssi, aku minta maaf karena pekerjaan ini telah menambah jadwal kerjamu. Tapi aku berjanji akan memenuhi kewajiban membayarmu."
"Aniyo, maksudku bukan seperti itu."
"Kalau begitu kau mau melakukannya kan? Aku hanya percaya padamu Shinhye-ssi," ucap Jonghyun lembut.
"Kalau memang seperti itu, baiklah."
"Dan juga, Shinhye-ssi, apa kau ada waktu hari ini?"
Shinhye hanya mengerutkan kening mendengar pertanyaan Jonghyun.
"Seusai pertemuan, aku ingin makan siang denganmu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Shinhye hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Jam satu siang. Tempatnya kau yang tentukan."
"Baiklah, nanti saya beritahu tempatnya. Silyehamnida–permisi!" Shinhye pamit dan pergi dari tempat itu.
Dalam perjalanan keluar dari kantor Jonghyun, Shinhye hanya tersenyum simpul karena membayangkan wajah Jonghyun yang meminta tolong padanya dengan sangat tulus. Entah kenapa wajah dan senyuman Jonghyun dalam beberapa hari ini terus mampir dalam isi kepalanya. Dia bahkan tidak bisa menahan urat-uratnya untuk tidak tersenyum, setiap kali melihat atau mengingat pria yang bernama Lee Jong Hyun itu.
"Andwae, maldo andwae. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Dia bosku dan aku hanya asistennya. Andwae, andwae." Shinhye menampar pipinya pelan mencoba menyadarkan diri.

"Noona, waeyo? Kenapa kau menampar dirimu?"

Shinhye menoleh dan mendapatkan Hyunwoo sudah berada di sampingnya.
"Ya, kau ini mengagetkan saja."
"Apa kau sedang menjalani tugas?"
Anggukan jawaban dari Shinhye.
"Hari ini apa kau tidak sibuk? Aku ingin makan siang denganmu. Sudah lama kita tidak jalan berdua lagi."
"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah ada janji dengan seseorang?"
"Nugu? Apa itu Jonghyun sajangnim?"
Shinhye mengangguk lagi.
Hyunwoo terlihat kecewa, tapi dia bisa menahannya untuk tidak terlalu menunjukannya pada Shinhye.

At JeResto
Setelah bertemu dengan klien, tepat jam satu siang Jonghyun menepati janjinya. Dia pergi ke tempat pertemuannya dengan Shinhye. Begitu masuk ke dalam restaurant itu, Jonghyun disambut ramah oleh pelayannya. Dia membalasnya juga dengan senyuman yang tak kalah ramah. Sejurus kemudian, Jonghyun celingak-celinguk mencari keberadaan Shinhye, tapi dia tidak bisa menemukannya. Jadi dia memutuskan untuk duduk di meja yang sudah dipesan Shinhye sebelumnya.
Setelah melesakkan pantatnya di kursi restaurant tersebut, seorang pelayan datang ke arahnya. Pelayan yang satu ini seakan membuat Jonghyun tidak ingin berkedip. Dia membuat Jonghyun seakan merasa bodoh dengan dirinya sendiri, karena tidak lagi memposisikan diri sebagai seorang calon direktur di perusahaan besar yang ditakdirkan hanya boleh jatuh cinta pada wanita dengan kasta tinggi. Ya, Jonghyun adalah pria sejenis itu. Arogansinya sangat terlihat ketika memilih pasangan kencan. Dia hanya ingin jatuh cinta dan berkencan dengan wanita yang sekelas dengannya. Dia bahkan membentengi dirinya untuk tidak membangun hubungan yang dekat dengan wanita yang di bawah kelasnya. Tapi entah kenapa perasaannya itu tidak muncul pada gadis pelayan yang satu ini. Meski pertama melihatnya, tapi senyuman dan matanya seakan mampu membuat Jonghyun meruntuhkan tembok arogansinya.
"Anda ingin pesan apa, tuan?" tanya pelayan itu.
Jonghyun tidak menjawab, dia masih belum puas memandangi gadis ini.
"Tuan, anda ingin pesan apa?" kata pelayan ini dengan volume suara yang lebih keras dari sebelumnya.

Jonghyun kaget dan salah tingkah, tapi dia masih bisa mengendalikannya. "Saya sedang menunggu seseorang," jawabnya berwibawa.

"Kalau begitu, jika anda ingin memesan nanti, panggil saja saya. Sillyehamnida." Pelayan itu berjalan meninggalkan Jonghyun. Tapi, belum sampai tiga langkah, dia mendadak berhenti karena dipanggil Jonghyun. Dia berbalik mendapati Jonghyun.
"Chogiyo, kalau boleh tahu siapa nama anda?" Jonghyun bertanya tanpa malu-malu.

To Be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar