"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Minggu, 10 April 2016

Rain of Autumn Part 3



Part 3

At Kyunghee University

Pagi ini Yonghwa bersama kedua temannya sebut saja Kang Min Hyuk dan Lee Jung Shin, mereka berencana pergi ke ruangan Profesor Song untuk menolak kerjasama yang juga melibatkan Seo Joo Hyun di dalamnya. Yonghwa sudah memutuskan untuk tidak menerima tawaran kerjasama itu, meskipun bandnya yang terdiri atas dia sendiri, Minhyuk dan Jungshin akan mendapatkan kesempatan untuk tampil di pergelaran seni theater tahun ini. Hanya sekarang Yonghwa tidak tertarik lagi melakukan kerjasama itu, sejak Joohyun mengatakan cinta padanya seminggu yang lalu.

"Hyeong, coba kau pikirkan baik-baik. Jangan gegabah, hanya gara-gara urusan pribadimu. Ayolah kita lakukan ini," bujuk Minhyuk karena dia ingin sekali melakukan kerjasama dengan Profesor Song. Berhubung, dengan cara ini mereka bisa tampil di pementasan drama itu. Minhyuk ingin sekali band indie mereka terkenal di seluruh pusat Korea. Makanya dia antusias melakukannya. Hanya Yonghwa, si pembuat keputusan malah tidak mau melakukan kerjasama ini.
Shireo. Kau dan Jungshin saja yang melakukannya." Yonghwa bersikukuh.
"Kalau sekedar main gitar, aku mau. Tapi kalau harus berakting, aku benar-benar menyerah melakukannya. Itu bukan bidangku" Jungshin mengangkat kedua tangannya ke atas. Seperti mengisyaratkan mengalah dari musuh.
"Ya, kalian berdua ini apa-apaan. Dan kau Jungshin." Minhyuk menunjuk Jungshin. "Kau bukan pemeran utama dalam drama ini. Kau dan aku hanya akan berakting duduk menemani Yonghwa hyeong. Tapi kau juga tidak bisa melakukannya? Apa kau sedang mempertaruhkan band kita?" Minhyuk benar-benar kesal karena Jungshin juga ikut-ikutan Yonghwa tidak mau melakukan kerjasama ini. Kerjasama yang dimaksud di sini adalah lomba pementasan drama yang setiap tahun akan diadakan di salah satu universitas terbesar di Seoul. Dan pastisipannya hanya dikhususkan untuk universitas-universitas di Seoul. Tahun ini pementasan drama itu akan diadakan di Universitas Kyunghee. Dan mahasiswa jurusan theater siap untuk mementaskan drama lagi, seperti tahun-tahun kemarin.
Kembali pada soal kerjasama dengan Yonghwa, semua itu bisa terjadi karena Lee Dong Hae mahasiswa jurusan theater yang sebenarnya akan beradu akting dengan Joohyun batal melakukannya, karena ayahnya sakit keras dan dia harus pulang kembali ke kota asalnya Jinan untuk menjenguk ayahnya. Karena keluarnya Donghae secara tiba-tiba, membuat sutradara yang bertanggungjawab untuk pementasan drama ini dan profesor Song yang juga dipercayakan untuk bertanggungjawab, menjadi kelabakan mencari peran pengganti. Seminggu membuat casting, semua kontestan tidak ada yang sesuai dengan tokoh dalam cerita. Namun tiba-tiba mengingat karakter tokoh pria dalam drama ini sangat pantas untuk diperankan oleh salah satu mahasiswa yang ada di Universitas Kyunghee, yaitu karakter dingin dan tak banyak bicara ini. Maka profesor Song yang adalah penanggung jawab besar dalam acara ini, memanggil Yonghwa untuk diajak kerjasama. Yonghwa yang bingung karena merasa bahwa ini bukan bidangnya, awalnya menolak kerjasama ini. Tapi, karena Profesor Song berjanji akan membuat bandnya tampil di pementasan drama kali ini, maka dia mau melakukannya. Paling tidak, dia hanya perlu membaca dan menghafal script. Juga belajar berakting yang bagus. Tidak sulit baginya melakukan hal-hal itu, hanya agar bandnya bisa tampil. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Dia tidak tertarik lagi melakukan kerjasama itu. Meski dia harus mengorbankan bandnya untuk tidak tampil dalam pementasan itu. Tapi menurutnya akan lebih baik begitu, daripada dia harus melakukan adegan-adegan menjengkelkan dengan gadis bernama Seo Joo Hyun itu. Dia benci kalau dia harus dekat-dekatan dengan Joohyun.

At Professor Song's room
Yonghwa mengetuk pintu ruangan Profesor Song Ok Sook.
"Masuk," kata suara dari dalam ruangan.
Yonghwa masuk diikuti Minhyuk dan Jungshin.
"Oh kalian. Ada apa?"
"Kami ingin membicarakan tentang kerjasama itu," kata Yonghwa.
"Kalian tenang saja. Band kalian sudah pasti tampil dalam pementasan itu."

"Jeosonghamnida kyosunim–maaf profesor," kata Yonghwa ketika dia berhadapan wajah dengan Profesor Song. "Kami membatalkan kerjasama ini. Saya tidak bisa ikut tampil dalam drama ini. Jeosonghamnida."

"Mwo? Mworagoya? Kenapa kau tidak bisa tampil?"
"Saya hanya tidak tertarik melakukannya," jawab Yonghwa santai.
Profesor Song mendengus kesal mendengar pernyataan Yonghwa. “Apa kau pikir segampang itu memutuskan setuju dan tidak setujunya kau untuk tampil dalam pementasan drama kali ini? Kau pikir aku anak kecil yang mudah dipermainkan dengan keputusan sepihakmu itu?”
Jeosonghamnida, kyosunim. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya.”
“Apa alasanmu tidak mau melakukannya?”
“Terlalu pribadi untuk aku ceritakan.”
"Geurae, arasseo. Itu masalah pribadimu. Namun, apa kau tidak memikirkan tentang bandmu? Apa kau tidak mau bandmu tampil di pementasan ini? Ingat, bahwa pementasan ini akan dihadiri oleh sponsor-sponsor terkenal. Siapa tahu kalian mungkin akan dipilih untuk disponsori." Profesor Song terlihat membujuk. Dia takut tak ada yang bisa menggantikan Donghae selain Yonghwa. Karakter ini sudah terlalu cocok untukYonghwa. Dia tidak mau ada pengganti, selain Donghae sendiri mahasiswa jurusan theater itu lagi.
"Sekali lagi maaf kyosunim, tapi saya benar-benar tidak bisa melakukannya. Saya rasa itu saja. Kami pergi dulu." Yonghwa membungkuk bersama Minhyuk dan Jungshin yang dari tadi memilih untuk diam. Mereka berbalik dan hendak pergi, tapi tertahan karena kata-kata profesor Song.
"Aku berpikir untuk megajakmu kerjasama, karena aku cukup mengenalmu dengan baik. Dan menurutku tidak akan sulit mengajarimu mendalami karakter tokoh ini, karena karakter aslimu dengan tokoh ini tidak jauh berbeda. Kau tahu Jung Yong Hwa, bahwa pementasan ini membawa nama kampus kita. Apa kau tidak berpikiran bahwa ini akan menaikkan popularitas samchon-mu?"
Yonghwa tidak berbalik.
"Apa kau mau aku melaporkan hal ini pada samchon-mu?"
"Terserah kyosunim saja. Permisi." Mereka pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Profesor Song yang geram luar biasa.

***
Di ruang latihan band mereka, Minhyuk protes luar biasa karena Yonghwa yang membatalkan perjanjian dan membuat band mereka tidak bisa tampil. Ditambah lagi, Yonghwa yang tidak melakukan aksi protes atas perbuatan Profesor Song yang mengancam mereka. Bukan sifat Yonghwa yang biasa, yang tidak mau diperintah, diancam atau sejenisnya. Bagaimanapun caranya, dia harus membalasnya. Tapi ini tidak. Yonghwa malah hanya diam saja melihat dirinya diancam.
"Hyeong, kenapa kau hanya diam saja waktu diancam? Kalau Kyosunim tidak mengijinkan kita tampil, kenapa tidak kau laporkan saja pada samchon-mu biar kita bisa tetap tampil."

"Shireo. Aku bukan tukang pelapor. Dan lagi ancaman professor tidak mungkin akan berhasil. Samchon sedang sakit sekarang, jadi dia tidak akan mungkin mendengar berita laporan dari Song kyosunim. "y

"Bukan seperti dirimu yang biasa. Kemarin-kemarin kau bilang dibentak seorang gadis pelayan yang bekerja di restaurant-mu, dan kau langsung melapor untuk memecatnya," timpal Jungshin.
"Itu karena gadis itu kelewatan. Dia pantas mendapatkannya. Siapa suruh tidak mengenal pemilik tempatnya bekerja. Gadis itu bawahanku, sedangkan kyosunim bawahan samchon-ku. Yang ada, saat samchon sehat kembali malah aku yang bakal diceramahi.”
"Jadi hyeong, apa yang akan kau lakukan kalau perintah dari samchon-mu menyuruhmu melakukan pementasan drama ini?" tanya Jungshin.
"Tetap saja aku tidak mau. Samchon pasti akan mengerti. Dia bukan pemaksa seperti Song kyosunim."

At Economy Faculty
Shinhye dan Jiwon berjalan malas keluar dari fakultas mereka hendak menuju tempat yang hampir dipenuhi oleh mereka yang bercita-cita meneruskan perjalan hidupnya menjadi pemusik atau musisi. Apalagi kalau bukan jurusan musik. Shinhye dan Jiwon ditugasi oleh Profesor Choi untuk mengambil agenda acara tentang pementasan drama di ruangan Profesor Song, yang di mana kedua profesor itu adalah penanggung jawab acara.
"Aigoo, kenapa hari ini kita harus terlambat? Akhirnya malah dihukum mengambil agenda acara. Malah tempatnya jurusan musik modern lagi. Tempatnya kan luas. Bagaimana coba mencari ruangan Song kyosunim?"
"Sudahlah Shinhye, jangan banyak mengeluh. Kita laksanakan saja perintah Choi kyosunim," sambung Jiwon berjalan agak lebih cepat agar sesegera mungkin bisa meninggalkan gedung fakultas mereka.

At Modern Music Department
Shinhye dan Jiwon panik setengah mati karena mereka berputar di tempat yang sama tanpa arah yang jelas. Mereka berkeliling mencari ruangan Profesor Song, tapi belum mendapatinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya daripada tersesat terus. Setelah bertanya, baru mereka dapati lokasi ruangan Profesor Song. Mengikuti arah yang diberikan, Shinhye dan Jiwon berjalan terus menuju ruangan Profesor Song.
Hampir tiba di ruangan Profesor Song, Shinhye berlonjak kaget karena bertemu dengan orang yang sangat tidak ingin dia temui.
"Eomeona, otteokhae? Jiwon-ah, apa tidak ada jalan lain lagi? Lorong atau apa pun itu yang penting bisa menghindar," kata Shinhye sambil berjalan menundukan kepalanya.
Jiwon yang sedang sibuk memerhatikan ruangan-ruangan menoleh ke depan.
"Eoh, Shinhye-ya, terus menunduk. Mereka berada lima meter di depan kita," kata Jiwon member instruksi sesudah meyadari perkataan yang dimaksud Shinhye tadi.
"Aigoo, bagaimana bisa dia ada di mana-mana?"
"Ini kan jurusan musik modern. Tempat kuliah kedua anggota bandnya. Mungkin saja dia sedang mengunjungi mereka," jelas Jiwon pada tiga pria yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. "Terus menunduk. Sedikit lagi kita akan berhasil melewati mereka."
Shinhye mengikuti perintah Jiwon.
"Berhasil," kata Jiwon senang ketika melewati tiga pria itu.
"Chogiyo." Suara seorang dari ketiga pria itu memanggil.
"Ani, jalan terus." Shinhye menarik lengan Jiwon agar berjalan terus.
"Kalian berdua, berhenti." Masih suara yang sama.
Shinhye dan Jiwon terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.

At Professor Song's room.
Setelah mengambil agenda acara, Shinhye dan Jiwon berjalan keluar dari ruangan profesor.

"Ya kau, Kim Ji Won. Kau tahu, aku hampir mati tadi kalau sampai pria bodoh itu tahu aku juga kuliah di universitas yang sama dengannya," omel Shinhye. "Kalau kau tahu kedua anggota bandnya mengambil jurusan ini, kenapa tidak kau beritahu, biar aku bisa menghindar?"

"Mianhaeyo. Aku sendiri lupa."
Shinhye masih cemberut.
"Apa kau masih marah?"
"Dwaesseo. Yang terpenting adalah Yonghwa si bodoh itu tidak mengetahui aku juga kuliah di sini."
"Siapa yang kau bilang pria bodoh?" Sebuah suara dari belakang mengagetkan mereka.

Serentak Shinhye dan Jiwon berbalik mencari asal suara.

"Eoh." Shinhye hilang akal.
"Katakan padaku, siapa yang kau bilang pria bodoh?"
"Ya, siapa kau sehingga aku harus menuruti perintahmu?" tantang Shinhye meski dalam hati dia sendiri memaki mulutnya yang lancang.
"Shinhye-ya, jangan keterlaluan. Apa kau mau diusir dari kampus ini?" bisik Jiwon memperingatkan. Dia takut kejadian yang sama di restaurant saat Shinhye dipecat terjadi lagi di sini.
"Kau tidak tahu siapa aku?" tunjuk pria itu pada dirinya sendiri. "Aku, Jung Yong Hwa, anak salah satu penyumbang saham terbesar di kampus ini. Jadi sekarang, siapa kau berani menyebutku bodoh?"
"Neo, sekalipun kau adalah anak pemilik kampus ini atau bahkan anak salah satu penyumbang saham di kampus ini, kau tetap tidak bisa seenaknya menuduh atau memerintah orang apalagi mengusik kehidupan pribadinya."
"Mulronimnida–tentu saja, namun kalau kau duluan yang mengusik kehidupan pribadi orang lain apa orang lain itu akan berdiam diri?"
"Jung Yong Hwa-ssi, apa kau punya bukti kalau aku mengusik kehidupan pribadimu?" tantang Shinhye.
"Gotjimal–jangan bohong! Kau membicarakan aku tadi. Mengaku saja maka aku tidak akan mengusik kehidupan pribadimu, nona mantan pelayan Park Shin Hye," ucap Yonghwa setelah sebelumnya berusaha mengingat kembali nama gadis yang pernah menjadi pelayan di restaurant-nya ini.
"Namun, kau tidak punya bukti untuk hal itu. Jadi, Jung Yong Hwa-ssi kalau kau sudah punya bukti, kau boleh menuntutku. Annyeonghi gyeseyo–selamat tinggal!" ucapnya dan berlalu meninggalkan Yonghwa yang malu setengah mati ditantang gadis biasa seperti Park Shin Hye ini.
Shinhye dan Jiwon pergi meninggalkan Yonghwa yang geram, sedang Minhyuk juga Jungshin malah melongo melihat tingkah berani gadis tadi.
"Hyeong-ah, geu yeojaneun daebak." Minhyuk bertepuk tangan sendiri.
"Aku harus membuat perhitungan dengannya," ujar Yonghwa kesal sekaligus malu karena baru saja ditantang oleh seorang gadis biasa.
"Yang adil. Kau harus adil membuat perhitungan dengannya," timpal Jungshin tiba-tiba membela Shinhye.
"Sebenarnya siapa yang kalian bela, hah?"
"Kami tidak membela kedua-duanya. Namun hyeong, aku hanya ingin kau bersikap jantan kali ini. Jangan pernah mencampur-adukkan masalah pribadimu dengan pendidikan gadis itu. Aku rasa kau mengerti maksudku," ucap Jungshin sekenanya dan berlalu meninggalkan Yonghwa dan Minhyuk yang masih diam di tempat.

***
Sudah seminggu Shinhye menjalani tugasnya sebagai asisten pribadi Lee Jong Hyun. Seperti dirinya yang biasa, yang selalu melakukan jadwalnya dengan telaten. Sampai-sampai dia tidak pernah mangkir melakukan tugasnya. Dan selalu membuat Jonghyun tidak menyesal memilihnya sebagai asisten pribadi.
Hari ini Jonghyun akan bertemu klien kerjanya, tapi dia membutuhkan Shinhye untuk memesan tempat bertemu. Bukan lagi tugas sekretaris kantornya untuk memesan tempat bertemu, sekarang dia lebih percaya tugas ini Shinhye yang mengerjakan. Karena Shinhye ahli memilih tempat untuk bertemu. Sudah dua kali, klien Jonghyun memuji tempat pertemuan mereka, yang adalah pilihan Shinhye. Dan saat itu juga mereka langsung menandatangani kontrak tanpa muluk-muluk dulu. Kata mereka, pelayanan yang café (tempat mereka bertemu) dan Jonghyun berikan sangat memuaskan. Jadi tanpa banyak menimbang, mereka langsung menerima permintaan kerjasama dengan Jonghyun.
Jonghyun menekan keypad smartphone-nya, mengetik pesan untuk dikirim pada Shinhye.

Pesannya berbunyi; nona Shinhye, bisakah anda ke kantor saya sebentar?

Beberapa menit kemudian Shinhye membalas iya pada pesannya.

At Jonghyun's office room
Shinhye masuk ke ruangan Jonghyun setelah mendapat ijin dari Jonghyun sendiri.
"Annyeonghaseyo, sajangnim, ah maksud saya Jonghyun-ssi. Ada yang bisa saya bantu?"
"Duduk," pinta Jonghyun. "Aku bermaksud bertemu seorang klien penting hari ini, aku mau kau yang memesan tempatnya."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau yang terbaik melakukan hal ini."
"Tapi," kata Shinhye tidak yakin dengan keputusan Jonghyun.
"Park Shin Hye-ssi, aku minta maaf karena pekerjaan ini telah menambah jadwal kerjamu. Tapi aku berjanji akan memenuhi kewajiban membayarmu."
"Aniyo, maksudku bukan seperti itu."
"Kalau begitu kau mau melakukannya kan? Aku hanya percaya padamu Shinhye-ssi," ucap Jonghyun lembut.
"Kalau memang seperti itu, baiklah."
"Dan juga, Shinhye-ssi, apa kau ada waktu hari ini?"
Shinhye hanya mengerutkan kening mendengar pertanyaan Jonghyun.
"Seusai pertemuan, aku ingin makan siang denganmu. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Shinhye hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Jam satu siang. Tempatnya kau yang tentukan."
"Baiklah, nanti saya beritahu tempatnya. Silyehamnida–permisi!" Shinhye pamit dan pergi dari tempat itu.
Dalam perjalanan keluar dari kantor Jonghyun, Shinhye hanya tersenyum simpul karena membayangkan wajah Jonghyun yang meminta tolong padanya dengan sangat tulus. Entah kenapa wajah dan senyuman Jonghyun dalam beberapa hari ini terus mampir dalam isi kepalanya. Dia bahkan tidak bisa menahan urat-uratnya untuk tidak tersenyum, setiap kali melihat atau mengingat pria yang bernama Lee Jong Hyun itu.
"Andwae, maldo andwae. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Dia bosku dan aku hanya asistennya. Andwae, andwae." Shinhye menampar pipinya pelan mencoba menyadarkan diri.

"Noona, waeyo? Kenapa kau menampar dirimu?"

Shinhye menoleh dan mendapatkan Hyunwoo sudah berada di sampingnya.
"Ya, kau ini mengagetkan saja."
"Apa kau sedang menjalani tugas?"
Anggukan jawaban dari Shinhye.
"Hari ini apa kau tidak sibuk? Aku ingin makan siang denganmu. Sudah lama kita tidak jalan berdua lagi."
"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah ada janji dengan seseorang?"
"Nugu? Apa itu Jonghyun sajangnim?"
Shinhye mengangguk lagi.
Hyunwoo terlihat kecewa, tapi dia bisa menahannya untuk tidak terlalu menunjukannya pada Shinhye.

At JeResto
Setelah bertemu dengan klien, tepat jam satu siang Jonghyun menepati janjinya. Dia pergi ke tempat pertemuannya dengan Shinhye. Begitu masuk ke dalam restaurant itu, Jonghyun disambut ramah oleh pelayannya. Dia membalasnya juga dengan senyuman yang tak kalah ramah. Sejurus kemudian, Jonghyun celingak-celinguk mencari keberadaan Shinhye, tapi dia tidak bisa menemukannya. Jadi dia memutuskan untuk duduk di meja yang sudah dipesan Shinhye sebelumnya.
Setelah melesakkan pantatnya di kursi restaurant tersebut, seorang pelayan datang ke arahnya. Pelayan yang satu ini seakan membuat Jonghyun tidak ingin berkedip. Dia membuat Jonghyun seakan merasa bodoh dengan dirinya sendiri, karena tidak lagi memposisikan diri sebagai seorang calon direktur di perusahaan besar yang ditakdirkan hanya boleh jatuh cinta pada wanita dengan kasta tinggi. Ya, Jonghyun adalah pria sejenis itu. Arogansinya sangat terlihat ketika memilih pasangan kencan. Dia hanya ingin jatuh cinta dan berkencan dengan wanita yang sekelas dengannya. Dia bahkan membentengi dirinya untuk tidak membangun hubungan yang dekat dengan wanita yang di bawah kelasnya. Tapi entah kenapa perasaannya itu tidak muncul pada gadis pelayan yang satu ini. Meski pertama melihatnya, tapi senyuman dan matanya seakan mampu membuat Jonghyun meruntuhkan tembok arogansinya.
"Anda ingin pesan apa, tuan?" tanya pelayan itu.
Jonghyun tidak menjawab, dia masih belum puas memandangi gadis ini.
"Tuan, anda ingin pesan apa?" kata pelayan ini dengan volume suara yang lebih keras dari sebelumnya.

Jonghyun kaget dan salah tingkah, tapi dia masih bisa mengendalikannya. "Saya sedang menunggu seseorang," jawabnya berwibawa.

"Kalau begitu, jika anda ingin memesan nanti, panggil saja saya. Sillyehamnida." Pelayan itu berjalan meninggalkan Jonghyun. Tapi, belum sampai tiga langkah, dia mendadak berhenti karena dipanggil Jonghyun. Dia berbalik mendapati Jonghyun.
"Chogiyo, kalau boleh tahu siapa nama anda?" Jonghyun bertanya tanpa malu-malu.

To Be Continued

Minggu, 27 Maret 2016

Rain of Autumn Part 2

Part 2


Mobil itu kembali melaju tapi dengan lambat dan saat melewati mereka berdua. Pria yg duduk di sebelah kemudi dengan mata tetap tertuju ke depan berkata, "Gwi eobta."
Dengan jelas, Shinhye mendengar pria itu menyebut mereka tidak punya telinga.
Ya, kau yang tidak punya telinga!” teriak Shinhye, meski dia yakin pria itu tidak mendengarnya karena mobil itu sudah berada jauh di depan mereka. “Dasar orang kaya sombong.”
“Jaga bicaramu, dia itu keponakan pemilik kampus ini. Kalau tadi dia dengar, maka kau sudah dikeluarkan dari kampus ini,” tegur Jiwon.
Jeongmal? Aku tidak takut. Keluarkan saja, itu lebih baik.”
Ya, kau ini. Apa kau tidak memikirkanku sehingga mau meninggalkan kampus ini?”
Mianhae. Aku hanya terbawa emosi. Lagian, dia hanya keponakan, kenapa malah bertingkah seperti anak pemilik kampus ini?” Shinhye merenggut kesal dengan tingkah pria tadi.
“Entahlah. Jung Yong Hwa memang seperti itu.”
“Wow! Apa dia begitu hebat, sampai-sampai kau saja mengenal siapa dia dan namanya?”
“Kau saja yang tidak mengenalnya. Seluruh isi kampus ini tahu siapa dia. Dia itu pria dengan seribu satu pesona. Banyak yeoja yang menyatakan cinta padanya, tapi selalu ditolak. Dia terkenal dengan sifatnya yang kasar. Tak pernah memikirkan perasaan orang lain.
Omo, bertingkah seperti pangeran. Lihat saja suatu saat akan kubuat perhitungan dengannya.”
“Shinhye-ya, jangan lakukan hal-hal bodoh di luar pengetahuanku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”
Benar yang Jiwon katakan. Mencoba membuat perhitungan dengan Yonghwa, seperti menyerahkan diri ke sarang musuh. Karena siapa pun yang mencoba menentangnya pasti akan menyerah sendiri. Dan bahkan akan berbalik meminta maaf padanya. Banyak rumor yang bilang begitu. Tapi entah kenapa, Shinhye ingin sekali memberi pelajaran pada pangeran sombong itu. Biar dia berhenti menganggap remeh atau menghina orang sembarangan. Ya, suatu waktu kalau Shinhye diberi kesempatan untuk membalas, maka tidak segan-segan dia membalas perbuatan sombong pria yang bernama Jung Yong Hwa itu.


JeResto
Chogiyo–permisi, agassi–nona.”
Jiwon berhenti berjalan ketika mendengar ada orang yang memanggil. Ketika berbalik, dia melihat seorang pria sedang berdiri di depan pintu samping restaurant tempatnya bekerja.
“Apa kau memanggilku?” tunjuk Jiwon pada dirinya sendiri.
Pria itu hanya mengangguk sembari berkata, “Apa Park Shin Hye-ssi ada?
Jiwon mengangguk mengiyakan.
Ada urusan penting yang harus aku katakan padanya. Apa kau bisa memanggilnya? Sebelumnya, maaf kalau sudah merepotkan,” katanya sembari membungkukkan badannya.
“Sebaiknya lewat pintu depan saja, karena tidak baik seorang tamu ada di pintu samping. Sebelumnya kalau boleh tahu siapa namamu, agar aku bisa beritahu pada Shinhye?”
Joneun Lee Hyun Woo imnida.”
“Kalau begitu masuklah lewat pintu depan, Lee Hyun Woo-ssi. Akan kupanggilkan Park Shin Hye,” kata Jiwon sambil melangkah pergi meninggalkan Hyunwoo.
Hyunwoo yang mengerti, meninggalkan pintu samping dan menuju pintu depan. Begitu masuk lewat pintu depan, mata Hyunwoo mencari-cari keberadaan Shinhye. Namun, dia tidak bisa menemukan sosok Shinhye di seluruh pelosok ruangan yang bisa dijangkau dengan mata. Jadi dia memutuskan untuk duduk dan menunggu sampai Shinhye datang, seperti kata Jiwon tadi. Setelah duduk di dalam restaurant, seorang pelayan datang dan membawa kartu menu padanya. Hyunwoo berdalih sedang menunggu teman, jadi belum bisa memesan.
Beberapa menit menunggu, akhirnya wanita yang ditunggu itu datang juga.
Noona, kau lama sekali. Kau hampir membuatku mati karena malu. Bayangkan saja dari tadi pelayan datang berulang-ulang untuk menanyakan apa pesananku. Kau pikir aku punya uang untuk makan di tempat seperti ini?” cerocos Hyunwoo panjang lebar. “Aku ingin bicara denganmu sebentar. Tapi tidak di sini, sebaiknya kita di luar saja. Aku tidak punya uang untuk mentraktirmu, noona, tambah Hyunwoo sambil berbisik.
Mereka berjalan beriringan ke luar. Di teras luar restaurant, langit sore yang beberapa jam lagi akan berubah menjadi gelap menjadi latar perbincangan mereka.
“Bagaimana noona, sudah kau putuskan?”
Ne.”
“Jadi?”
“Aku akan melakukannya.” Ketika Shinhye menjawab kalimat ini, dia melihat raut wajah Hyunwoo yang tulus bahagia. “Tapi, aku tetap akan menjadi pelayan di restaurant ini. Aku akan melakukan dua pekerjaan ini sekaligus. Aku akan membagi jadwalku. Dan akan aku pastikan, tidak akan membolos kuliah untuk lembur pada salah satu pekerjaanku. Jadi, kau tenang saja.”
“Tapi noona, kau akan capek kalau harus melakukan dua pekerjaan ini sekaligus. Kau seharusnya…”
Perkataan Hyunwoo disambar Shinhye. “Kalau kau suruh aku untuk memilih salah satu di antara ke dua ini, maka yang akan aku pilih adalah tetap menjadi pelayan di restaurant ini. Toh, sama juga kan, asisten pribadi seperti juga budak pribadi. Hanya lebih sopan saja.” Shinhye tertawa sesekali membekap mulutnya karena takut kalau dia membuka mulut terlalu lebar. “Kalau kau tidak mau aku melakukan pekerjaan ini, maka kau boleh pergi. Dan perlu kau ingat Lee Hyun Woo, jangan pernah memaksaku lagi. Karena aku tidak akan melakukan apa pun maumu. Harus kau ingat juga bahwa aku bukan siapa-siapamu. Jadi sekarang, pulanglah!” Perkataan Shinhye semuanya lebih tepat kalau disebut perintah.
Geurae, aku bukan siapa-siapamu. Jadi tidak bisa seenaknya memaksamu. Bekerja di mana pun itu asalkan kau bahagia, aku juga turut bahagia. Tapi noona, jangan pernah lembur atau membolos kuliah lagi,” kata Hyunwoo lesuh karena masih syok dengan perkataan Shinhye tadi. “Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu,” kata Shinhye pergi meninggalkan Hyunwoo yang masih mematung karena hatinya terasa sakit. Dia baru menyadari bahwa dia menyukai noona itu. Dan awalnya dia ingin sekali menjadi tiang penyandar bagi noona itu, kalau saja noona itu membutuhkannya. Tapi ternyata, dia tidak bisa melakukan hal itu.
“Lee Hyun Woo, apa yang kau lakukan di sini?”
Sebuah suara mengagetkan Hyunwoo dari rasa terpuruknya.
“Apa kau mau makan gratis lagi?” tanya suara itu lagi.
“Yonghwa hyeong,” respon Hyunwoo pada suara itu.
“Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Yonghwa khawatir dengan Hyunwoo. “Kau terlihat aneh.”
“Akan kuceritakan semuanya di rumah. Kalau kau tidak sibuk, cepatlah pulang.”
“Baiklah. Kau pulang duluan.” Yonghwa membuka pintu restaurant. Tapi kemudian dia berhenti sebentar dan berkata, “Masih ada urusan yang harus aku selesaikan di sini. Kau pulanglah duluan. Hari ini akan aku pastikan menjadi pendengar setia curhatanmu. Karena sepertinya menarik. Hyeong kalkae!” ujar Yonghwa masih sempat bercanda.
Hyunwoo menurut dan berjalan meninggalkan Yonghwa.
Yonghwa masuk dalam restaurant dan mencari tempat yang telah dipesan sebelumnya. Tempat itu ada paling pojok kanan bersampingan tepat dengan jalan raya, hanya dipisahkan oleh sebuah etalase. Yonghwa langsung duduk dan melihat yeoja yang mengajak bertemu dengannya. Ya, yeoja teman sekampusnya.
Eoh, Yonghwa-ya, aku pikir kau tidak akan datang,” ucap yeoja itu sedikit gugup.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Apa benar ada hubungannya dengan kerjasama yang Song kyosunim tawarkan?” tanyanya sedikit mengatupkan bibirnya.
Yeoja ini tidak menjawab. Kekakuan yang luar biasa seakan menyerang syaraf-syarafnya tiba-tiba.
Ya, jawab pertanyaanku!” bentak Yonghwa yang mulai muak dengan yeoja di depannya ini.
“Permisi nona, anda ingin memesan apa?” tanya Shinhye mengganggu pembicaraan mereka. Sebelumnya dia diberitahu Jiwon bahwa salah satu pengunjung restaurant adalah Jung Yong Hwa, yang sepertinya sedang bertemu dengan yeojachingu-nya. Oleh karena itu, Shinhye mengambil kesempatan untuk membalas dendam pada Yonghwa di tempat ini. Karena yeoja yang ditanya tidak menjawab pertanyaannya, maka ini kesempatan bagus bagi Shinhye untuk bertanya pada pangeran sombong ini.
“Permisi gwi eobta, apa yang ingin anda pesan?” tanya Shinhye dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
“Mwo? Mwoya?” Yonghwa balik bertanya karena sepertinya dia mendengar sesuatu aneh yang diucapkan gadis pelayan ini.
Eoh, aku bilang anda ingin pesan apa?” kilah Shinhye.
“Kami belum ingin memesan, kau boleh pergi.” Karena Yonghwa tidak ingin membahas masalah tidak penting dengan gadis pelayan ini. Jadi dia berpindah bertanya pada gadis yang mengajaknya bertemu. “Ya, Seo Joo Hyun,” teriaknya masih dengan suara terkontrol. “Apa yang ingin kau bicarakan? Jangan menjadi bisu, karena aku tidak punya waktu melayani gadis bisu.”
Shinhye yang mendengarnya merasa tersinggung. Namun yeoja yang diteriaki hanya diam menerimanya. Shinhye tiba-tiba tertarik ingin mendengar apa yang akan pangeran sombong ini bicarakan dengan teman atau mungkin kekasihnya itu. Sampai, dia tidak ingin beranjak ke belakang sekalipun. Dia pura-pura berdiri agak jauh dari pandangan mereka.
“Yonghwa-ya, naneun johae–aku menyukaimu. Nae namjaching-guga doe-eojullaeyo–maukah kau jadi pacarku?”
Tiba-tiba Yonghwa tertawa sinis mendengar pengakuan ini. Dia kemudian mendengus kesal dan berkata, “Jadi hal bodoh ini yang ingin kau bicarakan? Apa kau bodoh? Aku paling benci gadis bodoh yang mengajakku bertemu untuk membicarakan hal bodoh seperti ini. Aku benci gadis bodoh sepertimu. Beritahu Song kyosunim bahwa aku menolak tawaran kerjasama itu.” Yonghwa bangun dan beranjak pergi. Namun dia masih sempat berbalik dan berkata, “Anggap saja pertemuan ini tidak pernah ada. Dan jangan pernah memanggilku Yonghwa-ya, karena kau tidak pantas melakukan itu. Satu lagi, jangan pernah membohongiku.” Sejurus kemudian Yonghwa berbalik dan berjalan keluar dari restaurant tempat mereka bertemu.
Yeoja yang dihina itu kelihatan syok. Dia duduk dengan kepala tertunduk, wajahnya menghadap lantai restaurant. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dan sekarang ada tetes-tetes air jatuh di atas lantai restaurant itu. Dia menangis.
Shinhye yang melihat dan mendengar pembicaraan itu secara langsung merasa terhina harga dirinya sebagai seorang perempuan. Dia mengejar Yonghwa untuk memaksanya minta maaf pada yeoja yang dihina dan sekarang sedang menangis itu.
Ya!” teriak Shinhye saat dia berada di luar restaurant dan melihat Yonghwa hampir masuk ke dalam mobilnya.
Yonghwa berbalik dan melihat gadis pelayan itu sedang mengejarnya. “Aku tidak memesan apa-apa,” jelas Yonghwa.
“Apa kau manusia?” 
Yonghwa bingung dengan pertanyaan gadis pelayan ini. Apa dia pikir bahwa Yonghwa bukan manusia, sehingga menanyakan kejelasannya?
“Apa kau manusia?” ulangnya, “Apa kau masih punya hati? Ya, jawab aku!” teriak Shinhye marah.
“Apa kau bodoh? Kenapa bertanya hal-hal bodoh seperti itu?” Yonghwa balik bertanya. “Aku paling benci orang bo…”
Geumanharago!” potong Shinhye sebelum Yonghwa berhasil menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa hanya kata bodoh yang kau ucapkan dari tadi? Apa kau merasa pintar? Hebat? Sehingga menganggap semua orang bodoh. Sekarang, masuklah dan minta maaf pada yeoja yang kau buat menangis itu!” Kali ini Shinhye meraup tangan Yonghwa dan mencoba menariknya masuk ke dalam restaurant.
Yonghwa menarik tangannya terlepas dari Shinhye. “Apa kau juga mau mencari perhatian padaku? Maaf, aku tidak tertarik pada gadis jelek sepertimu.”
Ya, jjinja babo?” Kali ini Shinhye tidak peduli pada pandangan orang yang sedang lalu lalang padanya. Yang pasti dia harus puas memaki pria tanpa hati yang berdiri di depannya ini.
Yonghwa menatap sinis pada Shinhye. “Park Shin Hye, sebaiknya kau segera mencari pekerjaan yang baru,” kata Yonghwa berlalu masuk ke dalam mobilnya, menginjak pedal gas dan menjauh dari hadapan Shinhye.
Shinhye yang melihat Yonghwa menjauh dari pandangan masih menganga, dia bingung dari mana Yonghwa mengetahui namanya? Dia kemudian menepuk dahinya begitu menyadari bahwa dia sedang menggunakan name tag di dadanya.
Aiishi, siapa kau beraninya menyuruhku mencari pekerjaan baru, hah?”
Shinhye masuk kembali ke dalam restaurant. Begitu tiba di dalam restaurant, dia menoleh sebentar ke tempat Yonghwa dan yeoja tadi bertemu. Tapi dia tidak mendapati yeoja itu lagi. Sepertinya yeoja itu sudah pulang.
Shinhye berjalan ke pantry menemui Jiwon yang sedang menaruh makanan pada baki dan akan membawanya ke pengunjung.
“Apa yang kau lakukan tadi?” Jiwon bertanya dengan senyuman karena lucu dengan tingkah sahabatnya yang masih belum jera ingin membalas dendam pada Yonghwa. “Sudahlah, lupakan. Untuk apa kau membalas dendam pada orang seperti Jung Yong Hwa itu? Membuang-buang waktumu saja.”
“Cih, orang itu benar-benar membuatku seperti kebakaran rambut. Kau tahu, dia bilang apa padaku? Park Shin Hye, sebaiknya kau segera mencari pekerjaan yang baru.” Shinhye mengulangi apa yang Yonghwa katakan padanya tadi. “Siapa dia, berani berkata seperti itu? Manager saja tidak,” ucap Shinhye berapi-api.
“Kan aku sudah bilang, lupakan saja. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Berurusan dengan dia itu, hanya membuat sakit kepala.”
“Mudah berkata seperti itu, karena bukan kau yang berada di posisiku.”
“Terserah padamu. Aku ke depan dulu.” Jiwon pergi dengan membawa baki di tangannya.


***
Benar apa kata Yonghwa, sehari setelah kejadian itu, Shinhye dipecat dari restaurant tempatnya bekerja. Dia benar-benar mengutuki Yonghwa karena membuatnya kehilangan pekerjaan yang paling dia butuhkan. Sekarang dia benar-benar menjadi seorang pengangguran. Bagaimana dia bisa membiayai hidup dan kuliahnya, kalau menganggur seperti ini?
Aisshi, bagaimana bisa hanya dalam dua puluh empat jam lebih aku telah dipecat? Kenapa juga aku bodoh mau berurusan dengan orang itu? Arghhh,” teriak Shinhye sambil mengacak-acak rambutnya kesal. “Kenapa juga aku tidak mengikuti nasehatmu?”
“Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Lagi pula nasehatku juga datang belakangan,” tambah Jiwon yang sedang duduk bersila di atas ranjang Shinhye.
“Sampai sekarang aku benar-benar tidak percaya bahwa dia adalah anak pemilik restaurant itu. Kenapa juga tidak ada yang memberitahu? Kenapa juga dia tidak pernah datang ke restaurant dan memperkenalkan diri sebagai anak ketua? Dengan begitu kan, aku bisa jaga-jaga bicara dengannya.”
“Hyejoon eonnie, Donghyun oppa, Minho, dan kita berdua, semua adalah pekerja baru. Jadi wajar kita semua belum mengenal dia. Itu sebabnya saat dia datang kemarin-kemarin, tidak ada pelayanan istimewa. Shinhye-ya, sekarang jangan pikirkan itu dulu! Pikirkan, bagaimana mendapatkan pekerjaan yang baru. Kau tidak boleh berhenti kuliah, apa pun yang terjadi. Shinhye hanya duduk merenung nasib sialnya, sedang Jiwon bingung sendiri apa yang harus dilakukannya untuk membantu Shinhye keluar dari masalah ini. Tiba-tiba, Jiwon teringat akan sesuatu yang pernah Shinhye ceritakan padanya.
Eoh, Shinhye. Kau pernah bilang waktu itu kalau kau ditawarkan bekerja sebagai asisten pribadi. Kenapa tidak kau terima saja pekerjaan itu?”
Mata Shinhye membulat, dia baru ingat akan pekerjaan itu. Ah, meskipun dia dibilang mengambil kesempatan, karena saat membutuhkan baru dia mau melakukan pekerjaan itu. Tapi hanya ini jalan keluarnya.
“Benar juga.” Shinhye mengambil ponselnya dan mencari-cari salah satu nama kontak yang perlu dihubungi. “Ini. Nomor ini yang perlu aku hubungi.”


***
Hyeong, aku mohon ijinkan aku tinggal di sini selama dia berada di rumah,” bujuk Hyunwoo.
Ani. Aku tidak mau direpotkan.”
Hyeong, jebal,” kata Hyunwoo sambil menggosok-gosok kedua tangannya memohon. “Kau tidak mau kan, kalau aku tidur di luar? Ayolah hyeong, aku janji tidak akan pernah merepotkanmu.” Hyunwoo mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Yakso?” kata Yonghwa tersenyum melihat tingkah sepupunya ini.
Hyunwoo hanya menjawab dengan anggukan dan seringai lebar.
“Siapa suruh kau mau memulainya dengan kebohongan. Sekarang kau sendiri yang susah.”
“Dia kan tidak setiap hari ada di rumahku, kecuali Jonghyun hyeong memanggilnya. Dan lagi, aku harus berbohong bahwa Jonghyun hyeong itu bukan kakakku. Karena kalau tidak, dia tidak mau menerima pekerjaan ini.”
“Apa kau menyukainya?”
Ya, hyeong. Kenapa kau juga mengucapkan kalimat itu? Cukup Jonghyun hyeong saja. Aku dan gadis itu tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya teman.”
Arasseo. Bagaimana dengan Jonghyun, apa dia juga sudah tahu?”
“Ya. Dia sudah tahu. Dan dia juga mau membantuku merahasiakan hal ini.”
Hyeong-mu itu benar-benar memanjakanmu. Apa pun akan dia lakukan untukmu.”
“Itulah yang harus dia lakukan selama abeoji dan eomma tidak di sini.” 


***
Seminggu setelah Shinhye menelepon Hyunwoo, Shinhye akan resmi bekerja sebagai asisten pribadi untuk hyeong-nya Hyunwoo. Perlu digarisbawahi tanpa sepengetahuan Shinhye bahwa bosnya adalah kakak laki-laki Lee Hyun Woo.
Hari ini Hyunwoo berjanji mengantarkan Shinhye ke rumah tempat Shinhye bekerja atau rumahnya sendiri. Ketika sampai di depan rumah tersebut, Shinhye masih enggan masuk ke dalamnya karena rumah itu terlihat sangat mewah di matanya.
“Apa kau yakin ini rumahnya?”
Ne. Kajja!” ajak Hyunwoo.
Mereka berdua masuk dan menjumpai pria dengan setelan jas abu-abu, lengkap dengan celana dan dasinya. Sepertinya, dia orang yang dimaksud Hyunwoo.
Sajangnim, ini dia Park Shin Hye-ssi. Orang yang saya maksud.” Hyunwoo menjelaskan.
“Dari tadi, saya menunggu kalian. Kenapa lama sekali?” tanyanya dengan sikap berwibawa. Kalau mau dinilai tampilan luar pria ini, dia pantas mendapatkan nilai 99. Lihat saja tampilannya yang up to date. Jas, baju, dasi, celana dan sepatunya adalah barang-barang branded. Belum lagi wajahnya yang bersih tanpa ada bekas mencukur, rambut yang rapi, giginya putih bercahaya, hidungnya bangir, matanya bulat indah. Dan tidak kurang wangi parfumnya yang menusuk hidung. Aduh Tuhan, pria ini benar-benar pantas dapat nilai 99 untuk tampilan luarnya. Meski belum tentu hatinya.
“Apa kau mengerti yang kumaksud?"
Shinhye yang masih sibuk memberi nilai pada pria itu, tidak merespon pertanyaannya sampai Hyunwoo yang mengagetkannya dengan menepuk pundaknya.
"Eoh, jeosonghamnida," kata Shinhye membungkuk dalam-dalam. "Bolehkah kau mengulanginya lagi?"
"Saya rasa tidak perlu. Hyunwoo pasti bisa menjelaskan semuanya secara rinci." Dia tersenyum melihat tingkah Shinhye. Seperti yang ditebaknya, pasti Park Shin Hye juga seperti wanita-wanita lain yang setiap kali melihatnya akan langsung tertegun, sampai-sampai mereka sendiri akan lupa apa yang harus mereka buat.
"Saya harus buru-buru ke kantor. Hari ini kau tidak usah bekerja dulu, mungkin saat dipanggil baru kau datang. Dan satu lagi, panggil saya Lee Jong Hyun atau Jonghyun saja, jangan sajangnim." Lee Jong Hyun berjalan meninggalkan Shinhye dan Hyunwoo.
"Hyunwoo-ya, sajangnim-mu itu umur berapa? Maksudku dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang sajangnim."
"Dua puluh empat tahun.”
“Ternyata dia dua tahun lebih tua dariku. Wah, dia masih terlalu muda tapi sudah menjadi seorang direktur.
Dia belum menjadi seorang direktur. Aku saja yang memanggilnya sajangnim, agar lebih sopan. Sajangnim sebenarnya masih kuliah. Dia hanya pergi ke perusahaan untuk sekedar membantu. Sembari belajar untuk pengangkatannya setelah dia lulus kuliah nanti. Aku rasa mungkin setahun lagi dia sudah bisa menyelesaikan kuliahnya. Presdir Lee, maksudku ayah sajangnim menderita struk. Dia sekarang sedang dirawat intensif di salah satu rumah sakit di Amerika. Oleh karena itu, hyeong maksudku sajangnim diminta Presdir untuk pergi ke perusahaan dan belajar di sana."
"Dari mana kau mengenalnya? Maaf, aku hanya penasaran saja."
"Bilang saja noona mau bilang kalau aku tidak pantas bergaul dengan pria seperti dia."
"Aniyo, bukan maksudku seperti itu." Shinhye mengelak meski memang itu kenyataannya.
"Tak apa-apa, noona. Kalau kau penasaran bagaimana aku bisa mengenal dia, itu karena ayahku adalah sekretaris Presdir sampai sekarang. Dan kami sudah saling mengenal sejak kecil, oleh karena itu kadang-kadang kami seperti kakak-adik sungguhan."
"Hmmm, jadi di mana ayahmu sekarang? Amerika juga?"
"Yah, begitulah. Ayahku itu orangnya sangat setia pada presdir. Di mana pun presdir berada, ayahku juga pasti di situ."
"Oh ya noona, sajangnim sudah membuat jadwal pekerjaan yang harus kau lakukan." Hyunwoo mengangkat kertas putih panjang yang terletak di atas meja. "Ini." Hyunwoo menyerahkan kertas itu pada Shinhye.
Shinhye menerima dan membacanya. Matanya naik turun mengamati kertas tersebut.
"Baiklah, jadi ini yang harus aku lakukan." Shinhye terlihat manggut-manggut. "Tidak berat. Hanya membawakan kopi dan roti untuk sarapan pagi di kantor, menemaninya makan siang kalau tidak sibuk, berbelanja
keperluannya, membawa dan memastikan sendiri bahwa pakaian yang dibawa ke laundry sudah bersih dan rapi, dan yang terakhir melakukan pekerjaan yang dibutuhkan di luar perkiraan."
"Tambahan dari sajangnim, kalau kau sedang sibuk kuliah, kau boleh mangkir dari pekerjaan."
"Aniyo. Aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak ada kata mangkir dalam kamusku. Dan lagi, pekerjaan-pekerjaan ini tidak mengganggu jadwal kuliahku."
"Kau yakin?"
"Ya. Lihat saja jadwal jam kerjaku," kata Shinhye sambil menunjukan kertas putih yang dia pegang ke arah Hyunwoo. "Seperti sudah diatur saja untuk tidak mengganggu jadwal kuliahku."
"Baguslah kalau begitu," kata Hyunwoo tersenyum. Dalam hati dia berkata, “Memang tidak mengganggu jadwal kuliahmu, noona. Kar
ena aku sendiri yang menyusun jadwal kerjamu."
"Jadi, kapan aku mulai bekerja?"
"Besok juga boleh," kata Hyunwoo dan Shinhye hanya bisa manut-manut.
"Ah, ada yang ingin kutanyakan padamu. Tapi, jangan tersinggung."
Hyunwoo hanya mengangguk sebagai jawaban atas permintaan Shinhye.
"Kenapa bukan kau saja yang jadi asisten pribadi sajangnim?"
Hyunwoo tertawa kecil mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol. Karena masa, Jonghyun mau membiarkan dia jadi asisten pribadi. Dia kan adik kandung Jonghyun. Ingin sekali dia menjawabnya seperti itu. Tapi itu sama saja dengan membocorkan rahasia sendiri.
"Itu karena Jonghyun hyeong membutuhkan wanita sebagai asisten pribadinya," kata Hyunwoo. Sejurus kemudian dia mendekatkan wajahnya di dekat telinga Shinhye dan membisikkan, "Noona, perlu kau ketahui bahwa aku dan sajangnim masih normal."
"Bukan. Bukan maksudku seperti itu," kata Shinhye dengan tangan melambai-lambai di udara. "Jangan berpikiran buruk seperti itu. Aku hanya merasa kalau kau tahu banyak tentang sajangnim, makanya aku bertanya seperti tadi. Tapi kalau kau merasa tersinggung, aku benar-benar minta maaf."
"Gwaenchanha," kata Hyunwoo, sejurus kemudian dia mengacak-acak rambut Shinhye, membuat Shinhye melotot karena malu dia diperlakukan seperti anak kecil.
"Ya, berhenti melakukan kebiasaan burukmu itu." Shinhye menepis tangan Hyunwoo yang masih bersarang di atas kepalanya.

TO BE CONTINUED