Part 3
At Kyunghee University
Pagi ini Yonghwa bersama kedua temannya sebut saja Kang
Min Hyuk dan Lee Jung Shin, mereka berencana pergi ke ruangan Profesor Song
untuk menolak kerjasama yang juga melibatkan Seo Joo Hyun di
dalamnya. Yonghwa sudah memutuskan untuk tidak menerima tawaran kerjasama itu,
meskipun bandnya yang terdiri atas
dia sendiri, Minhyuk dan Jungshin akan mendapatkan kesempatan untuk tampil di
pergelaran seni theater tahun ini.
Hanya sekarang Yonghwa tidak tertarik lagi melakukan kerjasama itu, sejak Joohyun mengatakan
cinta padanya seminggu yang lalu.
"Hyeong,
coba kau pikirkan baik-baik. Jangan gegabah, hanya gara-gara urusan pribadimu.
Ayolah kita lakukan ini," bujuk Minhyuk karena dia ingin sekali melakukan
kerjasama dengan Profesor Song. Berhubung, dengan cara ini mereka bisa tampil
di pementasan drama itu. Minhyuk ingin sekali band indie mereka
terkenal di seluruh pusat Korea. Makanya dia antusias melakukannya. Hanya
Yonghwa, si pembuat keputusan malah tidak mau melakukan kerjasama ini.
“Shireo. Kau
dan Jungshin saja yang melakukannya." Yonghwa bersikukuh.
"Kalau sekedar main gitar, aku mau. Tapi kalau harus
berakting, aku benar-benar menyerah melakukannya. Itu bukan bidangku"
Jungshin mengangkat kedua tangannya ke atas. Seperti mengisyaratkan mengalah
dari musuh.
"Ya,
kalian berdua ini apa-apaan. Dan kau Jungshin." Minhyuk menunjuk Jungshin.
"Kau bukan pemeran utama dalam drama ini. Kau dan aku hanya akan berakting
duduk menemani Yonghwa hyeong. Tapi
kau juga tidak bisa melakukannya? Apa kau sedang mempertaruhkan band kita?" Minhyuk benar-benar
kesal karena Jungshin juga ikut-ikutan Yonghwa tidak mau melakukan kerjasama
ini. Kerjasama yang
dimaksud di sini adalah lomba pementasan drama yang setiap tahun akan diadakan
di salah satu universitas terbesar di Seoul. Dan
pastisipannya hanya dikhususkan untuk universitas-universitas di Seoul. Tahun
ini pementasan drama itu akan diadakan di Universitas
Kyunghee. Dan mahasiswa jurusan theater
siap untuk mementaskan drama lagi, seperti tahun-tahun kemarin.
Kembali pada soal kerjasama dengan Yonghwa, semua itu
bisa terjadi karena Lee Dong Hae mahasiswa
jurusan theater yang sebenarnya akan
beradu akting dengan Joohyun batal
melakukannya, karena ayahnya
sakit keras dan dia harus pulang kembali ke kota asalnya Jinan untuk menjenguk
ayahnya. Karena keluarnya Donghae secara tiba-tiba, membuat sutradara yang
bertanggungjawab untuk pementasan drama ini dan profesor Song yang juga
dipercayakan untuk bertanggungjawab, menjadi kelabakan mencari peran pengganti.
Seminggu membuat casting, semua kontestan tidak ada yang sesuai dengan tokoh
dalam cerita. Namun tiba-tiba mengingat karakter tokoh pria dalam drama ini
sangat pantas untuk diperankan oleh salah satu mahasiswa yang ada di Universitas Kyunghee,
yaitu karakter
dingin dan tak banyak bicara ini. Maka profesor Song yang adalah penanggung
jawab besar dalam acara ini, memanggil Yonghwa untuk diajak kerjasama. Yonghwa
yang bingung karena merasa bahwa ini bukan bidangnya, awalnya menolak kerjasama
ini. Tapi, karena Profesor Song berjanji akan membuat bandnya tampil di
pementasan drama kali ini, maka dia mau melakukannya. Paling tidak, dia hanya
perlu membaca dan menghafal script. Juga belajar
berakting yang bagus. Tidak sulit baginya melakukan hal-hal itu, hanya agar bandnya bisa tampil. Tapi itu dulu,
sekarang tidak lagi. Dia tidak tertarik lagi melakukan kerjasama itu. Meski dia
harus mengorbankan bandnya untuk
tidak tampil dalam pementasan itu. Tapi menurutnya akan lebih baik begitu,
daripada dia harus melakukan adegan-adegan menjengkelkan dengan gadis bernama Seo Joo Hyun itu. Dia benci
kalau dia harus
dekat-dekatan dengan Joohyun.
At Professor Song's room
Yonghwa mengetuk pintu ruangan Profesor Song Ok Sook.
"Masuk," kata suara dari dalam ruangan.
Yonghwa masuk diikuti Minhyuk dan Jungshin.
"Oh kalian. Ada apa?"
"Kami ingin membicarakan tentang kerjasama
itu," kata Yonghwa.
"Kalian tenang saja. Band kalian sudah pasti tampil
dalam pementasan itu."
"Jeosonghamnida kyosunim–maaf profesor," kata
Yonghwa ketika dia berhadapan wajah dengan Profesor Song.
"Kami membatalkan kerjasama ini. Saya tidak bisa ikut tampil dalam drama
ini. Jeosonghamnida."
"Mwo? Mworagoya? Kenapa kau tidak bisa
tampil?"
"Saya hanya tidak tertarik melakukannya," jawab
Yonghwa santai.
Profesor Song mendengus kesal mendengar pernyataan
Yonghwa. “Apa kau pikir segampang itu memutuskan setuju dan tidak setujunya kau
untuk tampil dalam pementasan drama kali ini? Kau pikir aku anak kecil yang
mudah dipermainkan dengan keputusan sepihakmu itu?”
“Jeosonghamnida, kyosunim. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya.”
“Apa alasanmu tidak mau melakukannya?”
“Terlalu pribadi untuk aku ceritakan.”
"Geurae, arasseo. Itu masalah pribadimu. Namun,
apa kau tidak memikirkan tentang bandmu?
Apa kau tidak mau bandmu tampil di
pementasan ini? Ingat, bahwa pementasan ini akan dihadiri oleh sponsor-sponsor
terkenal. Siapa tahu kalian mungkin akan dipilih untuk disponsori."
Profesor Song terlihat membujuk. Dia takut tak ada yang bisa menggantikan
Donghae selain Yonghwa. Karakter ini sudah terlalu cocok untukYonghwa. Dia
tidak mau ada pengganti, selain Donghae sendiri mahasiswa jurusan theater itu lagi.
"Sekali lagi maaf kyosunim, tapi saya benar-benar tidak bisa melakukannya. Saya rasa
itu saja. Kami pergi dulu." Yonghwa membungkuk bersama Minhyuk dan
Jungshin yang dari
tadi memilih
untuk diam. Mereka berbalik dan hendak
pergi, tapi
tertahan karena kata-kata
profesor Song.
"Aku berpikir untuk megajakmu kerjasama, karena aku cukup mengenalmu
dengan baik. Dan menurutku tidak akan sulit mengajarimu mendalami karakter
tokoh ini, karena karakter aslimu dengan tokoh ini tidak jauh berbeda. Kau tahu
Jung Yong Hwa, bahwa
pementasan ini membawa nama kampus kita. Apa kau tidak berpikiran bahwa ini
akan menaikkan popularitas samchon-mu?"
Yonghwa tidak berbalik.
"Apa kau mau aku melaporkan hal ini pada samchon-mu?"
"Terserah kyosunim
saja. Permisi." Mereka pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Profesor Song
yang geram luar biasa.
***
Di ruang latihan band
mereka, Minhyuk protes luar biasa karena Yonghwa yang membatalkan perjanjian
dan membuat band mereka tidak bisa
tampil. Ditambah lagi, Yonghwa yang tidak melakukan aksi protes atas perbuatan Profesor Song
yang mengancam mereka. Bukan sifat Yonghwa yang biasa, yang tidak mau
diperintah, diancam atau sejenisnya. Bagaimanapun caranya, dia harus
membalasnya. Tapi ini tidak. Yonghwa malah hanya diam saja melihat dirinya
diancam.
"Hyeong,
kenapa kau hanya diam saja waktu diancam? Kalau Kyosunim tidak mengijinkan kita tampil, kenapa tidak kau laporkan
saja pada samchon-mu biar kita bisa
tetap tampil."
"Shireo. Aku bukan tukang
pelapor. Dan lagi ancaman professor tidak mungkin akan berhasil. Samchon sedang sakit sekarang, jadi dia
tidak akan mungkin mendengar berita laporan dari Song kyosunim. "y
"Bukan seperti dirimu yang biasa. Kemarin-kemarin
kau bilang dibentak seorang gadis pelayan yang bekerja di restaurant-mu, dan kau langsung melapor untuk memecatnya,"
timpal Jungshin.
"Itu karena gadis itu kelewatan. Dia pantas
mendapatkannya. Siapa suruh tidak mengenal pemilik tempatnya bekerja. Gadis itu
bawahanku, sedangkan kyosunim bawahan samchon-ku.
Yang ada, saat samchon sehat kembali
malah aku yang bakal diceramahi.”
"Jadi hyeong,
apa yang akan kau lakukan kalau perintah dari samchon-mu menyuruhmu melakukan pementasan drama ini?" tanya
Jungshin.
"Tetap saja aku tidak mau. Samchon pasti akan mengerti. Dia bukan pemaksa seperti Song kyosunim."
At Economy
Faculty
Shinhye dan Jiwon berjalan malas keluar dari fakultas
mereka hendak menuju tempat
yang hampir dipenuhi oleh mereka yang bercita-cita meneruskan perjalan hidupnya
menjadi pemusik atau musisi. Apalagi kalau bukan jurusan musik. Shinhye dan
Jiwon ditugasi oleh Profesor Choi
untuk mengambil agenda acara tentang pementasan drama di ruangan Profesor Song,
yang di mana kedua profesor itu adalah penanggung jawab acara.
"Aigoo,
kenapa hari ini kita harus terlambat? Akhirnya malah dihukum mengambil agenda
acara. Malah tempatnya jurusan musik modern lagi. Tempatnya kan luas. Bagaimana
coba mencari ruangan Song kyosunim?"
"Sudahlah Shinhye, jangan banyak mengeluh. Kita
laksanakan saja perintah Choi kyosunim,"
sambung Jiwon berjalan agak lebih cepat agar sesegera mungkin bisa meninggalkan gedung fakultas mereka.
At Modern Music
Department
Shinhye dan Jiwon panik setengah mati karena mereka
berputar di tempat yang sama tanpa arah yang jelas. Mereka berkeliling mencari
ruangan Profesor Song,
tapi belum mendapatinya. Akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya daripada
tersesat terus. Setelah bertanya, baru mereka dapati lokasi ruangan Profesor Song.
Mengikuti arah yang diberikan, Shinhye dan Jiwon berjalan terus menuju ruangan Profesor Song.
Hampir tiba di ruangan Profesor Song, Shinhye berlonjak kaget karena bertemu
dengan orang yang sangat tidak ingin dia temui.
"Eomeona,
otteokhae? Jiwon-ah, apa tidak
ada jalan lain lagi? Lorong atau apa pun itu yang penting bisa
menghindar," kata Shinhye sambil berjalan menundukan kepalanya.
Jiwon yang sedang sibuk memerhatikan ruangan-ruangan
menoleh ke depan.
"Eoh,
Shinhye-ya, terus menunduk. Mereka
berada lima meter di depan kita," kata Jiwon member instruksi sesudah
meyadari perkataan yang dimaksud Shinhye tadi.
"Aigoo,
bagaimana bisa dia ada di mana-mana?"
"Ini kan jurusan musik modern. Tempat kuliah kedua anggota bandnya. Mungkin saja dia sedang mengunjungi mereka," jelas
Jiwon pada tiga pria yang berjalan berlawanan arah dengan mereka. "Terus
menunduk. Sedikit lagi kita akan berhasil melewati mereka."
Shinhye mengikuti perintah Jiwon.
"Berhasil," kata Jiwon senang ketika melewati
tiga pria itu.
"Chogiyo."
Suara seorang dari ketiga pria itu memanggil.
"Ani,
jalan terus." Shinhye menarik lengan Jiwon agar berjalan terus.
"Kalian berdua, berhenti." Masih suara yang
sama.
Shinhye dan Jiwon terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
At Professor Song's room.
Setelah mengambil agenda acara, Shinhye dan Jiwon
berjalan keluar dari ruangan profesor.
"Ya kau, Kim Ji Won. Kau tahu,
aku hampir mati tadi kalau sampai pria bodoh itu tahu aku juga kuliah di
universitas yang sama dengannya," omel Shinhye. "Kalau kau tahu kedua anggota bandnya mengambil jurusan ini, kenapa tidak kau beritahu, biar
aku bisa menghindar?"
"Mianhaeyo.
Aku sendiri lupa."
Shinhye masih cemberut.
"Apa kau masih marah?"
"Dwaesseo.
Yang terpenting adalah Yonghwa si bodoh itu tidak mengetahui aku
juga kuliah di sini."
"Siapa yang kau bilang pria bodoh?" Sebuah
suara dari belakang mengagetkan mereka.
Serentak Shinhye dan Jiwon berbalik mencari asal suara.
"Eoh."
Shinhye hilang akal.
"Katakan padaku, siapa yang kau bilang pria
bodoh?"
"Ya, siapa
kau sehingga aku harus menuruti perintahmu?" tantang Shinhye meski dalam
hati dia sendiri memaki mulutnya yang lancang.
"Shinhye-ya,
jangan keterlaluan. Apa kau mau diusir dari kampus ini?" bisik Jiwon
memperingatkan. Dia takut kejadian yang sama di restaurant saat Shinhye dipecat terjadi lagi di sini.
"Kau tidak tahu siapa aku?" tunjuk pria itu
pada dirinya sendiri. "Aku, Jung Yong Hwa, anak salah satu penyumbang
saham terbesar di kampus ini. Jadi sekarang, siapa kau berani menyebutku
bodoh?"
"Neo,
sekalipun kau adalah anak pemilik kampus ini atau bahkan anak salah satu
penyumbang saham di kampus ini, kau tetap tidak bisa seenaknya menuduh atau
memerintah orang apalagi mengusik kehidupan pribadinya."
"Mulronimnida–tentu
saja, namun kalau kau duluan yang mengusik kehidupan pribadi orang lain apa
orang lain itu akan berdiam diri?"
"Jung Yong Hwa-ssi,
apa kau punya bukti kalau
aku mengusik
kehidupan pribadimu?"
tantang Shinhye.
"Gotjimal–jangan
bohong! Kau membicarakan aku tadi. Mengaku saja maka aku tidak akan mengusik
kehidupan pribadimu, nona mantan pelayan Park Shin Hye," ucap Yonghwa
setelah sebelumnya berusaha mengingat kembali nama gadis yang pernah menjadi
pelayan di restaurant-nya ini.
"Namun, kau tidak punya bukti untuk hal itu. Jadi,
Jung Yong Hwa-ssi kalau kau sudah
punya bukti, kau boleh menuntutku. Annyeonghi
gyeseyo–selamat tinggal!" ucapnya dan berlalu meninggalkan Yonghwa
yang malu setengah mati ditantang gadis biasa seperti Park Shin Hye ini.
Shinhye dan Jiwon pergi meninggalkan Yonghwa yang geram,
sedang Minhyuk juga Jungshin malah melongo
melihat tingkah berani gadis tadi.
"Hyeong-ah,
geu yeojaneun daebak." Minhyuk bertepuk tangan sendiri.
"Aku harus membuat perhitungan dengannya," ujar Yonghwa kesal sekaligus malu
karena baru saja ditantang oleh seorang gadis biasa.
"Yang adil. Kau harus adil membuat perhitungan
dengannya," timpal Jungshin tiba-tiba membela Shinhye.
"Sebenarnya siapa yang kalian bela, hah?"
"Kami tidak membela kedua-duanya. Namun hyeong, aku hanya ingin kau bersikap
jantan kali ini. Jangan pernah mencampur-adukkan masalah pribadimu dengan
pendidikan gadis itu. Aku rasa kau mengerti maksudku," ucap Jungshin
sekenanya dan berlalu
meninggalkan Yonghwa dan Minhyuk yang masih diam di tempat.
***
Sudah seminggu Shinhye menjalani tugasnya sebagai asisten
pribadi Lee Jong Hyun. Seperti dirinya yang biasa, yang selalu melakukan
jadwalnya dengan telaten. Sampai-sampai dia tidak pernah mangkir melakukan
tugasnya. Dan selalu membuat Jonghyun tidak menyesal memilihnya sebagai asisten
pribadi.
Hari ini Jonghyun akan bertemu klien kerjanya, tapi dia
membutuhkan Shinhye untuk memesan tempat bertemu. Bukan lagi tugas sekretaris kantornya untuk
memesan tempat bertemu, sekarang dia lebih percaya tugas ini Shinhye yang mengerjakan.
Karena Shinhye ahli memilih tempat untuk bertemu. Sudah dua kali, klien
Jonghyun memuji tempat pertemuan mereka, yang adalah pilihan Shinhye. Dan saat
itu juga mereka langsung menandatangani kontrak tanpa muluk-muluk dulu. Kata
mereka, pelayanan yang café (tempat mereka bertemu) dan Jonghyun berikan sangat
memuaskan. Jadi tanpa banyak menimbang, mereka langsung menerima permintaan
kerjasama dengan Jonghyun.
Jonghyun menekan keypad
smartphone-nya, mengetik pesan untuk dikirim pada Shinhye.
Pesannya berbunyi; nona Shinhye, bisakah
anda ke kantor saya sebentar?
Beberapa menit kemudian Shinhye membalas iya pada pesannya.
At Jonghyun's office room
Shinhye masuk ke ruangan Jonghyun setelah mendapat ijin
dari Jonghyun sendiri.
"Annyeonghaseyo,
sajangnim, ah maksud saya Jonghyun-ssi.
Ada yang bisa saya bantu?"
"Duduk," pinta Jonghyun. "Aku bermaksud
bertemu seorang klien penting hari ini, aku mau kau yang memesan
tempatnya."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau yang terbaik melakukan hal ini."
"Tapi," kata Shinhye tidak yakin dengan
keputusan Jonghyun.
"Park Shin Hye-ssi,
aku minta maaf karena pekerjaan ini telah menambah jadwal kerjamu. Tapi aku
berjanji akan memenuhi kewajiban membayarmu."
"Aniyo,
maksudku bukan seperti itu."
"Kalau begitu kau mau melakukannya kan? Aku hanya
percaya padamu Shinhye-ssi,"
ucap Jonghyun lembut.
"Kalau memang seperti itu, baiklah."
"Dan juga, Shinhye-ssi, apa kau ada waktu hari ini?"
Shinhye hanya mengerutkan kening mendengar pertanyaan
Jonghyun.
"Seusai pertemuan, aku ingin makan siang denganmu.
Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
Shinhye hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Jam satu siang.
Tempatnya kau yang tentukan."
"Baiklah, nanti saya beritahu tempatnya. Silyehamnida–permisi!"
Shinhye pamit dan pergi dari tempat itu.
Dalam perjalanan keluar dari kantor Jonghyun, Shinhye
hanya tersenyum simpul karena membayangkan wajah Jonghyun yang meminta tolong
padanya dengan sangat tulus. Entah kenapa wajah dan senyuman Jonghyun dalam
beberapa hari ini terus mampir dalam isi kepalanya. Dia bahkan tidak bisa
menahan urat-uratnya untuk tidak tersenyum, setiap kali melihat atau mengingat
pria yang bernama Lee Jong Hyun itu.
"Andwae, maldo
andwae. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Dia bosku dan aku hanya
asistennya. Andwae, andwae."
Shinhye menampar pipinya pelan mencoba menyadarkan diri.
"Noona, waeyo? Kenapa kau
menampar dirimu?"
Shinhye menoleh dan mendapatkan Hyunwoo sudah berada di
sampingnya.
"Ya, kau
ini mengagetkan saja."
"Apa kau sedang menjalani tugas?"
Anggukan jawaban dari Shinhye.
"Hari ini apa kau tidak sibuk? Aku ingin makan siang
denganmu. Sudah lama kita tidak jalan berdua lagi."
"Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah ada janji dengan
seseorang?"
"Nugu? Apa
itu Jonghyun sajangnim?"
Shinhye mengangguk lagi.
Hyunwoo terlihat kecewa, tapi dia bisa menahannya untuk
tidak terlalu menunjukannya pada Shinhye.
At JeResto
Setelah bertemu dengan klien, tepat jam satu siang Jonghyun
menepati janjinya. Dia pergi ke tempat pertemuannya dengan Shinhye. Begitu
masuk ke dalam restaurant itu, Jonghyun
disambut ramah oleh pelayannya. Dia membalasnya juga dengan senyuman yang tak
kalah ramah. Sejurus kemudian, Jonghyun celingak-celinguk mencari keberadaan
Shinhye, tapi dia tidak bisa menemukannya. Jadi dia memutuskan untuk duduk di
meja yang sudah dipesan Shinhye sebelumnya.
Setelah melesakkan pantatnya di kursi restaurant tersebut, seorang pelayan
datang ke arahnya. Pelayan yang satu ini seakan membuat Jonghyun tidak ingin
berkedip. Dia membuat Jonghyun seakan merasa bodoh dengan dirinya sendiri, karena
tidak lagi memposisikan diri sebagai seorang calon direktur di perusahaan besar yang ditakdirkan hanya boleh
jatuh cinta pada wanita dengan kasta tinggi. Ya, Jonghyun adalah pria sejenis
itu. Arogansinya sangat terlihat ketika memilih pasangan kencan. Dia hanya
ingin jatuh cinta dan berkencan dengan wanita yang sekelas dengannya. Dia
bahkan membentengi dirinya untuk tidak membangun hubungan yang dekat dengan
wanita yang di bawah kelasnya. Tapi entah kenapa perasaannya itu tidak muncul
pada gadis pelayan yang satu ini. Meski pertama melihatnya, tapi senyuman dan
matanya seakan mampu membuat Jonghyun meruntuhkan tembok arogansinya.
"Anda ingin pesan apa, tuan?" tanya pelayan
itu.
Jonghyun tidak menjawab, dia masih belum puas memandangi
gadis ini.
"Tuan, anda ingin pesan apa?" kata pelayan ini
dengan volume suara yang lebih keras
dari sebelumnya.
Jonghyun kaget dan salah tingkah, tapi dia masih bisa mengendalikannya. "Saya
sedang menunggu seseorang," jawabnya berwibawa.
"Kalau begitu, jika anda ingin memesan nanti,
panggil saja saya. Sillyehamnida."
Pelayan itu berjalan meninggalkan Jonghyun. Tapi, belum sampai tiga langkah, dia
mendadak berhenti karena
dipanggil
Jonghyun. Dia berbalik mendapati Jonghyun.
"Chogiyo,
kalau boleh tahu siapa nama anda?" Jonghyun bertanya tanpa malu-malu.
To Be Continued

