Part 2
Mobil itu kembali melaju tapi dengan lambat dan
saat melewati mereka berdua. Pria yg duduk di sebelah kemudi dengan mata tetap
tertuju ke depan berkata, "Gwi eobta."
Dengan jelas, Shinhye mendengar pria itu menyebut
mereka tidak punya telinga.
“Ya, kau
yang tidak punya telinga!” teriak Shinhye, meski dia yakin pria itu tidak
mendengarnya karena mobil itu sudah berada jauh di depan mereka. “Dasar orang
kaya sombong.”
“Jaga bicaramu, dia itu keponakan pemilik kampus
ini. Kalau tadi dia dengar, maka kau sudah dikeluarkan dari kampus ini,” tegur
Jiwon.
“Jeongmal? Aku tidak takut.
Keluarkan saja, itu lebih baik.”
“Ya, kau ini. Apa kau tidak
memikirkanku sehingga mau meninggalkan kampus ini?”
“Mianhae. Aku
hanya terbawa emosi. Lagian, dia hanya keponakan, kenapa malah bertingkah
seperti anak pemilik kampus ini?” Shinhye merenggut kesal dengan tingkah pria
tadi.
“Entahlah. Jung Yong Hwa memang seperti itu.”
“Wow! Apa dia begitu hebat, sampai-sampai kau saja mengenal siapa dia dan
namanya?”
“Kau saja yang tidak mengenalnya. Seluruh isi
kampus ini tahu siapa dia. Dia itu pria dengan seribu satu pesona. Banyak yeoja yang menyatakan cinta padanya,
tapi selalu ditolak. Dia terkenal dengan sifatnya yang kasar. Tak pernah
memikirkan perasaan orang lain.”
“Omo,
bertingkah seperti pangeran. Lihat saja suatu saat akan kubuat perhitungan
dengannya.”
“Shinhye-ya,
jangan lakukan hal-hal bodoh di luar pengetahuanku. Aku tidak ingin sesuatu
terjadi padamu.”
Benar yang Jiwon katakan. Mencoba membuat
perhitungan dengan Yonghwa, seperti menyerahkan diri ke sarang musuh. Karena
siapa pun yang mencoba menentangnya pasti akan menyerah sendiri. Dan bahkan
akan berbalik meminta maaf padanya. Banyak rumor yang bilang begitu. Tapi entah
kenapa, Shinhye ingin sekali memberi pelajaran pada pangeran sombong itu. Biar
dia berhenti menganggap remeh atau menghina orang sembarangan. Ya, suatu waktu
kalau Shinhye diberi kesempatan untuk membalas, maka tidak segan-segan dia
membalas perbuatan sombong pria yang bernama Jung Yong Hwa itu.
JeResto
“Chogiyo–permisi, agassi–nona.”
“Chogiyo–permisi, agassi–nona.”
Jiwon berhenti berjalan ketika mendengar ada orang
yang memanggil. Ketika berbalik, dia melihat seorang pria sedang berdiri di
depan pintu samping restaurant tempatnya
bekerja.
“Apa kau memanggilku?” tunjuk Jiwon pada dirinya sendiri.
“Apa kau memanggilku?” tunjuk Jiwon pada dirinya sendiri.
Pria itu hanya mengangguk sembari berkata, “Apa
Park Shin Hye-ssi ada?”
Jiwon mengangguk
mengiyakan.
“Ada urusan penting yang harus aku katakan padanya.
Apa kau bisa memanggilnya? Sebelumnya, maaf kalau sudah merepotkan,”
katanya sembari membungkukkan badannya.
“Sebaiknya lewat pintu depan saja, karena tidak baik seorang tamu ada di pintu samping.
Sebelumnya kalau boleh tahu siapa namamu, agar aku bisa beritahu pada Shinhye?”
“Joneun Lee
Hyun Woo imnida.”
“Kalau begitu masuklah lewat pintu depan, Lee
Hyun Woo-ssi.
Akan kupanggilkan Park Shin Hye,” kata Jiwon sambil melangkah pergi
meninggalkan Hyunwoo.
Hyunwoo yang mengerti, meninggalkan pintu samping
dan menuju pintu depan. Begitu masuk lewat pintu depan, mata Hyunwoo
mencari-cari keberadaan Shinhye. Namun, dia tidak bisa menemukan sosok Shinhye
di seluruh pelosok ruangan yang bisa dijangkau dengan mata. Jadi dia memutuskan
untuk duduk dan menunggu sampai Shinhye datang, seperti kata Jiwon tadi.
Setelah duduk di dalam restaurant,
seorang pelayan datang dan membawa kartu menu padanya. Hyunwoo berdalih sedang menunggu teman, jadi belum bisa memesan.
Beberapa menit menunggu, akhirnya wanita yang
ditunggu itu datang juga.
“Noona, kau
lama sekali. Kau hampir membuatku mati karena malu. Bayangkan saja dari tadi
pelayan datang berulang-ulang untuk menanyakan apa pesananku. Kau pikir aku
punya uang untuk makan di tempat seperti ini?” cerocos Hyunwoo panjang lebar.
“Aku ingin bicara denganmu
sebentar. Tapi tidak di sini, sebaiknya kita di luar saja. Aku tidak
punya uang untuk mentraktirmu, noona,” tambah Hyunwoo sambil berbisik.
Mereka berjalan beriringan ke luar. Di teras luar restaurant, langit sore yang beberapa
jam lagi akan berubah menjadi gelap menjadi latar perbincangan mereka.
“Bagaimana noona,
sudah kau putuskan?”
“Ne.”
“Jadi?”
“Aku akan melakukannya.” Ketika Shinhye menjawab
kalimat ini, dia melihat raut wajah Hyunwoo yang tulus bahagia. “Tapi, aku tetap akan menjadi pelayan di restaurant ini. Aku akan melakukan dua
pekerjaan ini sekaligus. Aku akan membagi jadwalku. Dan akan aku pastikan,
tidak akan membolos kuliah untuk lembur pada salah satu pekerjaanku. Jadi, kau
tenang saja.”
“Tapi noona,
kau akan capek kalau harus melakukan dua pekerjaan ini sekaligus. Kau
seharusnya…”
Perkataan Hyunwoo disambar Shinhye. “Kalau kau
suruh aku untuk memilih salah satu di antara ke dua ini, maka yang akan aku
pilih adalah tetap menjadi pelayan di restaurant
ini. Toh, sama juga kan, asisten pribadi seperti juga budak pribadi. Hanya
lebih sopan saja.” Shinhye tertawa sesekali membekap mulutnya karena takut
kalau dia membuka mulut terlalu lebar. “Kalau kau tidak mau aku melakukan
pekerjaan ini, maka kau boleh pergi. Dan perlu kau ingat Lee Hyun Woo, jangan
pernah memaksaku lagi. Karena aku tidak akan melakukan apa pun maumu. Harus kau
ingat juga bahwa aku bukan siapa-siapamu. Jadi sekarang, pulanglah!” Perkataan
Shinhye semuanya lebih tepat kalau disebut perintah.
“Geurae,
aku bukan siapa-siapamu. Jadi tidak bisa seenaknya memaksamu. Bekerja di mana
pun itu asalkan kau bahagia, aku juga turut bahagia. Tapi noona, jangan pernah lembur atau membolos kuliah lagi,” kata
Hyunwoo lesuh karena masih syok dengan perkataan Shinhye tadi. “Baiklah, kalau
begitu aku masuk dulu,” kata Shinhye pergi meninggalkan Hyunwoo yang masih
mematung karena hatinya terasa sakit. Dia baru menyadari bahwa dia menyukai noona itu. Dan awalnya dia ingin
sekali menjadi tiang penyandar bagi noona
itu, kalau saja noona itu
membutuhkannya. Tapi ternyata, dia tidak bisa melakukan hal itu.
“Lee Hyun Woo, apa yang kau lakukan di sini?”
Sebuah suara mengagetkan Hyunwoo dari rasa
terpuruknya.
“Apa kau mau makan gratis lagi?” tanya suara itu
lagi.
“Yonghwa hyeong,”
respon Hyunwoo pada suara itu.
“Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Yonghwa
khawatir dengan Hyunwoo. “Kau terlihat aneh.”
“Akan kuceritakan semuanya di rumah. Kalau kau
tidak sibuk, cepatlah pulang.”
“Baiklah. Kau pulang duluan.” Yonghwa membuka
pintu restaurant. Tapi kemudian dia
berhenti sebentar dan berkata, “Masih ada urusan yang harus aku selesaikan di
sini. Kau pulanglah duluan. Hari ini akan aku pastikan menjadi pendengar setia
curhatanmu. Karena sepertinya menarik. Hyeong
kalkae!” ujar Yonghwa
masih sempat bercanda.
Hyunwoo menurut dan berjalan meninggalkan Yonghwa.
Yonghwa masuk dalam restaurant dan mencari tempat yang telah dipesan sebelumnya. Tempat
itu ada paling pojok kanan
bersampingan tepat dengan jalan raya, hanya dipisahkan oleh sebuah etalase.
Yonghwa langsung duduk dan melihat yeoja
yang mengajak bertemu dengannya. Ya, yeoja
teman sekampusnya.
“Eoh,
Yonghwa-ya, aku pikir kau tidak akan
datang,” ucap yeoja itu sedikit
gugup.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Apa benar ada
hubungannya dengan kerjasama yang Song kyosunim
tawarkan?” tanyanya sedikit mengatupkan bibirnya.
Yeoja ini tidak menjawab. Kekakuan yang luar
biasa seakan menyerang syaraf-syarafnya tiba-tiba.
“Ya, jawab
pertanyaanku!” bentak Yonghwa yang mulai muak dengan yeoja di depannya ini.
“Permisi nona, anda ingin memesan apa?” tanya
Shinhye mengganggu pembicaraan mereka. Sebelumnya dia diberitahu Jiwon bahwa
salah satu pengunjung restaurant adalah
Jung Yong Hwa, yang sepertinya sedang bertemu dengan yeojachingu-nya. Oleh karena itu, Shinhye mengambil kesempatan
untuk membalas dendam pada Yonghwa di tempat ini. Karena yeoja yang ditanya tidak menjawab pertanyaannya, maka ini
kesempatan bagus bagi Shinhye untuk bertanya pada pangeran sombong ini.
“Permisi gwi
eobta, apa yang ingin anda pesan?” tanya Shinhye dengan wajah yang dibuat
semanis mungkin.
“Mwo? Mwoya?” Yonghwa balik bertanya karena
sepertinya dia mendengar sesuatu aneh yang diucapkan gadis pelayan ini.
“Eoh, aku
bilang anda ingin pesan apa?” kilah Shinhye.
“Kami belum ingin memesan, kau boleh pergi.”
Karena Yonghwa tidak ingin membahas masalah tidak penting dengan gadis pelayan
ini. Jadi dia berpindah bertanya pada gadis yang mengajaknya bertemu. “Ya, Seo Joo Hyun,” teriaknya masih dengan suara terkontrol.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Jangan menjadi bisu, karena aku tidak punya
waktu melayani gadis bisu.”
Shinhye yang mendengarnya merasa tersinggung.
Namun yeoja yang diteriaki hanya diam menerimanya. Shinhye tiba-tiba
tertarik ingin mendengar apa yang akan pangeran sombong ini bicarakan dengan
teman atau mungkin kekasihnya itu. Sampai, dia tidak ingin beranjak
ke belakang sekalipun. Dia
pura-pura berdiri agak jauh dari pandangan mereka.
“Yonghwa-ya,
naneun johae–aku menyukaimu. Nae namjaching-guga doe-eojullaeyo–maukah
kau jadi pacarku?”
Tiba-tiba Yonghwa
tertawa sinis mendengar pengakuan ini. Dia kemudian mendengus kesal dan berkata, “Jadi hal bodoh ini
yang ingin kau bicarakan? Apa kau bodoh? Aku paling benci gadis bodoh yang
mengajakku bertemu untuk membicarakan hal bodoh seperti ini. Aku benci gadis
bodoh sepertimu. Beritahu Song kyosunim bahwa
aku menolak tawaran kerjasama itu.” Yonghwa bangun dan beranjak pergi. Namun
dia masih sempat berbalik dan berkata, “Anggap saja pertemuan ini tidak pernah
ada. Dan jangan pernah memanggilku Yonghwa-ya,
karena kau tidak pantas melakukan itu. Satu lagi, jangan pernah
membohongiku.” Sejurus kemudian Yonghwa berbalik dan berjalan keluar dari restaurant tempat mereka bertemu.
Yeoja yang dihina itu kelihatan syok. Dia duduk
dengan kepala tertunduk, wajahnya menghadap lantai restaurant. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dan sekarang ada
tetes-tetes air jatuh di atas lantai restaurant
itu. Dia menangis.
Shinhye yang melihat dan mendengar pembicaraan itu
secara langsung merasa terhina harga dirinya sebagai seorang perempuan. Dia
mengejar Yonghwa untuk memaksanya minta maaf pada yeoja yang dihina dan sekarang sedang menangis itu.
“Ya!”
teriak Shinhye saat dia berada di luar restaurant
dan melihat Yonghwa hampir masuk ke dalam mobilnya.
Yonghwa berbalik dan melihat gadis pelayan itu
sedang mengejarnya. “Aku tidak memesan apa-apa,” jelas Yonghwa.
“Apa kau manusia?”
Yonghwa bingung dengan pertanyaan gadis pelayan
ini. Apa dia pikir bahwa Yonghwa bukan manusia, sehingga menanyakan
kejelasannya?
“Apa kau manusia?” ulangnya, “Apa kau masih punya
hati? Ya, jawab aku!” teriak Shinhye
marah.
“Apa kau bodoh? Kenapa bertanya hal-hal bodoh
seperti itu?” Yonghwa balik bertanya. “Aku paling benci orang bo…”
“Geumanharago!” potong Shinhye sebelum
Yonghwa berhasil menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa hanya kata bodoh yang kau ucapkan dari tadi? Apa kau merasa pintar? Hebat? Sehingga menganggap semua orang bodoh. Sekarang, masuklah dan minta maaf pada yeoja yang kau buat menangis itu!” Kali
ini Shinhye meraup tangan Yonghwa dan mencoba menariknya masuk ke dalam restaurant.
Yonghwa menarik tangannya terlepas dari Shinhye.
“Apa kau juga mau mencari perhatian padaku? Maaf, aku tidak tertarik pada gadis
jelek sepertimu.”
“Ya, jjinja babo?” Kali ini Shinhye tidak
peduli pada pandangan orang yang sedang lalu lalang padanya. Yang pasti dia harus puas memaki pria tanpa hati yang berdiri di depannya
ini.
Yonghwa menatap sinis pada Shinhye. “Park Shin
Hye, sebaiknya kau segera mencari pekerjaan yang baru,” kata Yonghwa berlalu
masuk ke dalam mobilnya, menginjak pedal gas dan menjauh dari hadapan Shinhye.
Shinhye yang melihat Yonghwa menjauh dari
pandangan masih menganga, dia bingung dari mana Yonghwa mengetahui namanya? Dia
kemudian menepuk dahinya begitu menyadari bahwa dia sedang menggunakan name tag di dadanya.
“Aiishi,
siapa kau beraninya menyuruhku mencari pekerjaan baru, hah?”
Shinhye masuk kembali ke dalam restaurant. Begitu tiba di dalam restaurant, dia menoleh sebentar ke tempat Yonghwa dan yeoja tadi bertemu. Tapi dia tidak
mendapati yeoja itu lagi. Sepertinya yeoja itu sudah pulang.
Shinhye berjalan ke pantry menemui Jiwon yang sedang menaruh makanan pada baki dan akan
membawanya ke pengunjung.
“Apa yang kau lakukan tadi?” Jiwon bertanya dengan
senyuman karena lucu dengan tingkah sahabatnya yang masih belum jera ingin
membalas dendam pada Yonghwa. “Sudahlah, lupakan. Untuk apa kau membalas dendam
pada orang seperti Jung Yong Hwa itu? Membuang-buang waktumu saja.”
“Cih, orang itu benar-benar membuatku seperti
kebakaran rambut. Kau tahu, dia bilang apa padaku? Park Shin Hye, sebaiknya kau
segera mencari pekerjaan yang baru.” Shinhye mengulangi apa yang Yonghwa
katakan padanya tadi. “Siapa dia, berani berkata seperti itu? Manager saja tidak,” ucap Shinhye
berapi-api.
“Kan aku sudah bilang, lupakan saja. Anggap saja
tidak pernah terjadi apa-apa. Berurusan dengan dia itu, hanya membuat sakit
kepala.”
“Mudah berkata seperti itu, karena bukan kau yang
berada di posisiku.”
“Terserah padamu. Aku ke depan dulu.” Jiwon pergi
dengan membawa baki di tangannya.
***
Benar apa kata Yonghwa, sehari setelah kejadian
itu, Shinhye dipecat dari restaurant tempatnya
bekerja. Dia benar-benar mengutuki Yonghwa karena membuatnya kehilangan
pekerjaan yang paling dia butuhkan. Sekarang dia benar-benar menjadi
seorang pengangguran. Bagaimana dia
bisa membiayai hidup dan kuliahnya, kalau menganggur seperti ini?
“Aisshi, bagaimana
bisa hanya dalam dua puluh empat jam lebih aku telah dipecat?
Kenapa juga aku bodoh mau berurusan dengan orang itu? Arghhh,” teriak Shinhye sambil mengacak-acak
rambutnya kesal. “Kenapa juga aku tidak mengikuti nasehatmu?”
“Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Lagi pula nasehatku juga
datang belakangan,” tambah Jiwon yang sedang duduk bersila di atas ranjang
Shinhye.
“Sampai sekarang aku benar-benar tidak percaya
bahwa dia adalah anak pemilik restaurant itu.
Kenapa juga tidak ada yang memberitahu? Kenapa juga dia tidak pernah datang ke restaurant dan memperkenalkan diri
sebagai anak ketua? Dengan
begitu kan, aku bisa jaga-jaga bicara dengannya.”
“Hyejoon eonnie,
Donghyun oppa, Minho, dan kita berdua, semua
adalah pekerja baru. Jadi wajar kita semua belum mengenal dia. Itu sebabnya saat
dia datang kemarin-kemarin, tidak ada pelayanan istimewa. Shinhye-ya, sekarang jangan pikirkan itu dulu!
Pikirkan, bagaimana mendapatkan pekerjaan yang baru. Kau tidak boleh berhenti
kuliah, apa pun yang terjadi. Shinhye hanya duduk merenung nasib sialnya,
sedang Jiwon bingung sendiri apa yang harus dilakukannya untuk membantu Shinhye
keluar dari masalah ini. Tiba-tiba, Jiwon teringat akan sesuatu yang pernah
Shinhye ceritakan padanya.
“Eoh, Shinhye.
Kau pernah bilang waktu itu kalau kau ditawarkan bekerja sebagai asisten
pribadi. Kenapa tidak kau terima saja pekerjaan itu?”
Mata Shinhye membulat, dia baru ingat akan
pekerjaan itu. Ah, meskipun dia dibilang mengambil kesempatan, karena saat
membutuhkan baru dia mau melakukan pekerjaan itu. Tapi hanya ini jalan
keluarnya.
“Benar juga.” Shinhye mengambil ponselnya dan
mencari-cari salah satu nama kontak yang perlu dihubungi. “Ini. Nomor ini yang
perlu aku hubungi.”
***
“Hyeong,
aku mohon ijinkan aku tinggal di sini selama dia berada di rumah,” bujuk Hyunwoo.
“Ani. Aku
tidak mau direpotkan.”
“Hyeong,
jebal,” kata Hyunwoo sambil menggosok-gosok kedua tangannya memohon. “Kau
tidak mau kan, kalau aku tidur di luar? Ayolah hyeong, aku janji tidak akan pernah merepotkanmu.” Hyunwoo
mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“Yakso?”
kata Yonghwa tersenyum melihat tingkah sepupunya ini.
Hyunwoo hanya menjawab dengan anggukan dan
seringai lebar.
“Siapa suruh kau mau memulainya dengan kebohongan.
Sekarang kau sendiri yang susah.”
“Dia kan tidak setiap hari ada di rumahku, kecuali Jonghyun hyeong memanggilnya. Dan lagi, aku harus berbohong bahwa Jonghyun hyeong itu bukan kakakku. Karena kalau tidak, dia tidak mau menerima pekerjaan ini.”
“Dia kan tidak setiap hari ada di rumahku, kecuali Jonghyun hyeong memanggilnya. Dan lagi, aku harus berbohong bahwa Jonghyun hyeong itu bukan kakakku. Karena kalau tidak, dia tidak mau menerima pekerjaan ini.”
“Apa kau menyukainya?”
“Ya, hyeong.
Kenapa kau juga mengucapkan kalimat itu? Cukup Jonghyun hyeong saja. Aku dan gadis itu tidak ada
hubungan apa-apa, kami hanya teman.”
“Arasseo.
Bagaimana dengan Jonghyun, apa dia juga sudah tahu?”
“Ya. Dia sudah tahu. Dan dia juga mau membantuku
merahasiakan hal ini.”
“Hyeong-mu
itu benar-benar memanjakanmu. Apa pun
akan dia lakukan untukmu.”
“Itulah yang harus dia lakukan selama abeoji dan eomma tidak di sini.”
***
Seminggu setelah Shinhye menelepon Hyunwoo,
Shinhye akan resmi bekerja sebagai asisten pribadi untuk hyeong-nya Hyunwoo. Perlu digarisbawahi tanpa sepengetahuan Shinhye
bahwa bosnya adalah kakak laki-laki Lee Hyun Woo.
Hari ini Hyunwoo berjanji mengantarkan Shinhye ke
rumah tempat Shinhye bekerja atau rumahnya sendiri. Ketika sampai di depan
rumah tersebut, Shinhye masih enggan masuk ke dalamnya karena rumah itu
terlihat sangat mewah di matanya.
“Apa kau yakin ini rumahnya?”
“Ne. Kajja!”
ajak Hyunwoo.
Mereka berdua masuk dan menjumpai pria dengan
setelan jas abu-abu, lengkap dengan celana dan dasinya. Sepertinya, dia orang
yang dimaksud Hyunwoo.
“Sajangnim,
ini dia Park Shin Hye-ssi. Orang yang
saya maksud.” Hyunwoo menjelaskan.
“Dari tadi, saya menunggu kalian. Kenapa lama
sekali?” tanyanya dengan sikap berwibawa. Kalau mau dinilai tampilan luar pria ini,
dia pantas mendapatkan nilai 99. Lihat saja tampilannya yang up to date. Jas, baju, dasi, celana dan
sepatunya adalah barang-barang branded.
Belum lagi wajahnya yang bersih tanpa ada bekas mencukur, rambut yang rapi,
giginya putih bercahaya, hidungnya bangir, matanya bulat indah. Dan tidak
kurang wangi parfumnya yang menusuk hidung. Aduh Tuhan, pria ini benar-benar
pantas dapat nilai 99 untuk tampilan luarnya. Meski belum tentu hatinya.
“Apa kau mengerti yang kumaksud?"
Shinhye yang masih sibuk memberi nilai pada pria
itu, tidak merespon pertanyaannya sampai Hyunwoo yang mengagetkannya dengan
menepuk pundaknya.
"Eoh,
jeosonghamnida," kata Shinhye membungkuk dalam-dalam. "Bolehkah
kau mengulanginya lagi?"
"Saya rasa tidak perlu. Hyunwoo pasti bisa
menjelaskan semuanya secara rinci." Dia tersenyum melihat tingkah Shinhye.
Seperti yang ditebaknya, pasti Park Shin Hye juga seperti wanita-wanita lain
yang setiap kali melihatnya akan langsung tertegun, sampai-sampai mereka
sendiri akan lupa apa yang harus mereka buat.
"Saya harus buru-buru ke kantor. Hari ini kau
tidak usah bekerja dulu, mungkin saat dipanggil baru kau datang. Dan satu lagi,
panggil saya Lee Jong Hyun atau Jonghyun saja, jangan sajangnim." Lee Jong Hyun berjalan meninggalkan Shinhye dan Hyunwoo.
"Hyunwoo-ya,
sajangnim-mu itu umur berapa?
Maksudku dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang sajangnim."
"Dua puluh empat tahun.”
“Ternyata dia dua tahun lebih tua dariku.
Wah, dia masih terlalu muda tapi sudah menjadi seorang direktur.”
“Dia belum menjadi seorang direktur. Aku
saja yang memanggilnya sajangnim,
agar lebih sopan. Sajangnim sebenarnya masih kuliah. Dia hanya pergi ke
perusahaan untuk sekedar membantu. Sembari belajar untuk pengangkatannya
setelah dia lulus kuliah nanti. Aku rasa mungkin setahun lagi dia sudah bisa
menyelesaikan kuliahnya. Presdir Lee, maksudku ayah sajangnim menderita
struk. Dia sekarang sedang
dirawat intensif di salah satu rumah sakit di Amerika. Oleh karena itu, hyeong maksudku sajangnim
diminta Presdir untuk pergi
ke perusahaan dan belajar di sana."
"Dari mana kau mengenalnya? Maaf, aku hanya
penasaran saja."
"Bilang saja noona mau bilang kalau aku tidak pantas bergaul dengan pria seperti
dia."
"Aniyo,
bukan maksudku seperti itu." Shinhye mengelak meski memang itu
kenyataannya.
"Tak apa-apa, noona. Kalau kau penasaran bagaimana aku bisa mengenal dia, itu
karena ayahku adalah sekretaris Presdir sampai sekarang. Dan kami sudah saling mengenal sejak kecil, oleh
karena itu kadang-kadang kami seperti kakak-adik sungguhan."
"Hmmm, jadi di mana ayahmu sekarang? Amerika
juga?"
"Yah, begitulah. Ayahku itu orangnya sangat
setia pada presdir. Di mana pun presdir berada, ayahku juga pasti di
situ."
"Oh ya noona,
sajangnim sudah membuat jadwal
pekerjaan yang harus kau lakukan." Hyunwoo mengangkat kertas putih panjang
yang terletak di atas meja. "Ini." Hyunwoo menyerahkan kertas itu
pada Shinhye.
Shinhye menerima dan membacanya. Matanya naik
turun mengamati kertas tersebut.
"Baiklah, jadi ini yang harus aku lakukan." Shinhye terlihat manggut-manggut. "Tidak berat. Hanya membawakan kopi dan roti untuk sarapan pagi di kantor, menemaninya makan siang kalau tidak sibuk, berbelanja keperluannya, membawa dan memastikan sendiri bahwa pakaian yang dibawa ke laundry sudah bersih dan rapi, dan yang terakhir melakukan pekerjaan yang dibutuhkan di luar perkiraan."
"Baiklah, jadi ini yang harus aku lakukan." Shinhye terlihat manggut-manggut. "Tidak berat. Hanya membawakan kopi dan roti untuk sarapan pagi di kantor, menemaninya makan siang kalau tidak sibuk, berbelanja keperluannya, membawa dan memastikan sendiri bahwa pakaian yang dibawa ke laundry sudah bersih dan rapi, dan yang terakhir melakukan pekerjaan yang dibutuhkan di luar perkiraan."
"Tambahan dari sajangnim, kalau kau sedang sibuk kuliah, kau boleh mangkir dari
pekerjaan."
"Aniyo. Aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak ada kata mangkir dalam kamusku. Dan lagi, pekerjaan-pekerjaan ini tidak mengganggu jadwal kuliahku."
"Aniyo. Aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak ada kata mangkir dalam kamusku. Dan lagi, pekerjaan-pekerjaan ini tidak mengganggu jadwal kuliahku."
"Kau yakin?"
"Ya. Lihat saja jadwal jam kerjaku,"
kata Shinhye sambil menunjukan kertas putih yang dia pegang ke arah Hyunwoo.
"Seperti sudah diatur saja untuk tidak mengganggu jadwal kuliahku."
"Baguslah kalau begitu," kata Hyunwoo tersenyum. Dalam hati dia berkata, “Memang tidak mengganggu jadwal kuliahmu, noona. Karena aku sendiri yang menyusun jadwal kerjamu."
"Jadi, kapan aku mulai bekerja?"
"Baguslah kalau begitu," kata Hyunwoo tersenyum. Dalam hati dia berkata, “Memang tidak mengganggu jadwal kuliahmu, noona. Karena aku sendiri yang menyusun jadwal kerjamu."
"Jadi, kapan aku mulai bekerja?"
"Besok juga boleh," kata Hyunwoo dan
Shinhye hanya bisa manut-manut.
"Ah,
ada yang ingin kutanyakan padamu. Tapi, jangan tersinggung."
Hyunwoo hanya mengangguk sebagai jawaban atas
permintaan Shinhye.
"Kenapa bukan kau saja yang jadi asisten pribadi
sajangnim?"
Hyunwoo tertawa kecil mendengar pertanyaan yang
menurutnya konyol. Karena masa, Jonghyun mau membiarkan dia jadi asisten
pribadi. Dia kan adik kandung Jonghyun. Ingin sekali dia menjawabnya seperti
itu. Tapi itu sama saja dengan membocorkan rahasia sendiri.
"Itu karena Jonghyun hyeong membutuhkan wanita sebagai asisten pribadinya," kata
Hyunwoo. Sejurus kemudian dia mendekatkan wajahnya di dekat telinga Shinhye dan
membisikkan, "Noona, perlu kau
ketahui bahwa aku dan sajangnim masih
normal."
"Bukan. Bukan maksudku seperti itu,"
kata Shinhye dengan tangan melambai-lambai di udara. "Jangan berpikiran
buruk seperti itu. Aku hanya merasa kalau kau tahu banyak tentang sajangnim, makanya aku bertanya seperti
tadi. Tapi kalau kau merasa tersinggung, aku benar-benar minta maaf."
"Gwaenchanha," kata Hyunwoo, sejurus
kemudian dia mengacak-acak rambut Shinhye, membuat Shinhye melotot karena malu
dia diperlakukan seperti anak kecil."Ya, berhenti melakukan kebiasaan burukmu itu." Shinhye menepis tangan Hyunwoo yang masih bersarang di atas kepalanya.

