"width=1100"' name='viewport'/> Rain of Autumn Fanfiction

Minggu, 27 Maret 2016

Rain of Autumn Part 2

Part 2


Mobil itu kembali melaju tapi dengan lambat dan saat melewati mereka berdua. Pria yg duduk di sebelah kemudi dengan mata tetap tertuju ke depan berkata, "Gwi eobta."
Dengan jelas, Shinhye mendengar pria itu menyebut mereka tidak punya telinga.
Ya, kau yang tidak punya telinga!” teriak Shinhye, meski dia yakin pria itu tidak mendengarnya karena mobil itu sudah berada jauh di depan mereka. “Dasar orang kaya sombong.”
“Jaga bicaramu, dia itu keponakan pemilik kampus ini. Kalau tadi dia dengar, maka kau sudah dikeluarkan dari kampus ini,” tegur Jiwon.
Jeongmal? Aku tidak takut. Keluarkan saja, itu lebih baik.”
Ya, kau ini. Apa kau tidak memikirkanku sehingga mau meninggalkan kampus ini?”
Mianhae. Aku hanya terbawa emosi. Lagian, dia hanya keponakan, kenapa malah bertingkah seperti anak pemilik kampus ini?” Shinhye merenggut kesal dengan tingkah pria tadi.
“Entahlah. Jung Yong Hwa memang seperti itu.”
“Wow! Apa dia begitu hebat, sampai-sampai kau saja mengenal siapa dia dan namanya?”
“Kau saja yang tidak mengenalnya. Seluruh isi kampus ini tahu siapa dia. Dia itu pria dengan seribu satu pesona. Banyak yeoja yang menyatakan cinta padanya, tapi selalu ditolak. Dia terkenal dengan sifatnya yang kasar. Tak pernah memikirkan perasaan orang lain.
Omo, bertingkah seperti pangeran. Lihat saja suatu saat akan kubuat perhitungan dengannya.”
“Shinhye-ya, jangan lakukan hal-hal bodoh di luar pengetahuanku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu.”
Benar yang Jiwon katakan. Mencoba membuat perhitungan dengan Yonghwa, seperti menyerahkan diri ke sarang musuh. Karena siapa pun yang mencoba menentangnya pasti akan menyerah sendiri. Dan bahkan akan berbalik meminta maaf padanya. Banyak rumor yang bilang begitu. Tapi entah kenapa, Shinhye ingin sekali memberi pelajaran pada pangeran sombong itu. Biar dia berhenti menganggap remeh atau menghina orang sembarangan. Ya, suatu waktu kalau Shinhye diberi kesempatan untuk membalas, maka tidak segan-segan dia membalas perbuatan sombong pria yang bernama Jung Yong Hwa itu.


JeResto
Chogiyo–permisi, agassi–nona.”
Jiwon berhenti berjalan ketika mendengar ada orang yang memanggil. Ketika berbalik, dia melihat seorang pria sedang berdiri di depan pintu samping restaurant tempatnya bekerja.
“Apa kau memanggilku?” tunjuk Jiwon pada dirinya sendiri.
Pria itu hanya mengangguk sembari berkata, “Apa Park Shin Hye-ssi ada?
Jiwon mengangguk mengiyakan.
Ada urusan penting yang harus aku katakan padanya. Apa kau bisa memanggilnya? Sebelumnya, maaf kalau sudah merepotkan,” katanya sembari membungkukkan badannya.
“Sebaiknya lewat pintu depan saja, karena tidak baik seorang tamu ada di pintu samping. Sebelumnya kalau boleh tahu siapa namamu, agar aku bisa beritahu pada Shinhye?”
Joneun Lee Hyun Woo imnida.”
“Kalau begitu masuklah lewat pintu depan, Lee Hyun Woo-ssi. Akan kupanggilkan Park Shin Hye,” kata Jiwon sambil melangkah pergi meninggalkan Hyunwoo.
Hyunwoo yang mengerti, meninggalkan pintu samping dan menuju pintu depan. Begitu masuk lewat pintu depan, mata Hyunwoo mencari-cari keberadaan Shinhye. Namun, dia tidak bisa menemukan sosok Shinhye di seluruh pelosok ruangan yang bisa dijangkau dengan mata. Jadi dia memutuskan untuk duduk dan menunggu sampai Shinhye datang, seperti kata Jiwon tadi. Setelah duduk di dalam restaurant, seorang pelayan datang dan membawa kartu menu padanya. Hyunwoo berdalih sedang menunggu teman, jadi belum bisa memesan.
Beberapa menit menunggu, akhirnya wanita yang ditunggu itu datang juga.
Noona, kau lama sekali. Kau hampir membuatku mati karena malu. Bayangkan saja dari tadi pelayan datang berulang-ulang untuk menanyakan apa pesananku. Kau pikir aku punya uang untuk makan di tempat seperti ini?” cerocos Hyunwoo panjang lebar. “Aku ingin bicara denganmu sebentar. Tapi tidak di sini, sebaiknya kita di luar saja. Aku tidak punya uang untuk mentraktirmu, noona, tambah Hyunwoo sambil berbisik.
Mereka berjalan beriringan ke luar. Di teras luar restaurant, langit sore yang beberapa jam lagi akan berubah menjadi gelap menjadi latar perbincangan mereka.
“Bagaimana noona, sudah kau putuskan?”
Ne.”
“Jadi?”
“Aku akan melakukannya.” Ketika Shinhye menjawab kalimat ini, dia melihat raut wajah Hyunwoo yang tulus bahagia. “Tapi, aku tetap akan menjadi pelayan di restaurant ini. Aku akan melakukan dua pekerjaan ini sekaligus. Aku akan membagi jadwalku. Dan akan aku pastikan, tidak akan membolos kuliah untuk lembur pada salah satu pekerjaanku. Jadi, kau tenang saja.”
“Tapi noona, kau akan capek kalau harus melakukan dua pekerjaan ini sekaligus. Kau seharusnya…”
Perkataan Hyunwoo disambar Shinhye. “Kalau kau suruh aku untuk memilih salah satu di antara ke dua ini, maka yang akan aku pilih adalah tetap menjadi pelayan di restaurant ini. Toh, sama juga kan, asisten pribadi seperti juga budak pribadi. Hanya lebih sopan saja.” Shinhye tertawa sesekali membekap mulutnya karena takut kalau dia membuka mulut terlalu lebar. “Kalau kau tidak mau aku melakukan pekerjaan ini, maka kau boleh pergi. Dan perlu kau ingat Lee Hyun Woo, jangan pernah memaksaku lagi. Karena aku tidak akan melakukan apa pun maumu. Harus kau ingat juga bahwa aku bukan siapa-siapamu. Jadi sekarang, pulanglah!” Perkataan Shinhye semuanya lebih tepat kalau disebut perintah.
Geurae, aku bukan siapa-siapamu. Jadi tidak bisa seenaknya memaksamu. Bekerja di mana pun itu asalkan kau bahagia, aku juga turut bahagia. Tapi noona, jangan pernah lembur atau membolos kuliah lagi,” kata Hyunwoo lesuh karena masih syok dengan perkataan Shinhye tadi. “Baiklah, kalau begitu aku masuk dulu,” kata Shinhye pergi meninggalkan Hyunwoo yang masih mematung karena hatinya terasa sakit. Dia baru menyadari bahwa dia menyukai noona itu. Dan awalnya dia ingin sekali menjadi tiang penyandar bagi noona itu, kalau saja noona itu membutuhkannya. Tapi ternyata, dia tidak bisa melakukan hal itu.
“Lee Hyun Woo, apa yang kau lakukan di sini?”
Sebuah suara mengagetkan Hyunwoo dari rasa terpuruknya.
“Apa kau mau makan gratis lagi?” tanya suara itu lagi.
“Yonghwa hyeong,” respon Hyunwoo pada suara itu.
“Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Yonghwa khawatir dengan Hyunwoo. “Kau terlihat aneh.”
“Akan kuceritakan semuanya di rumah. Kalau kau tidak sibuk, cepatlah pulang.”
“Baiklah. Kau pulang duluan.” Yonghwa membuka pintu restaurant. Tapi kemudian dia berhenti sebentar dan berkata, “Masih ada urusan yang harus aku selesaikan di sini. Kau pulanglah duluan. Hari ini akan aku pastikan menjadi pendengar setia curhatanmu. Karena sepertinya menarik. Hyeong kalkae!” ujar Yonghwa masih sempat bercanda.
Hyunwoo menurut dan berjalan meninggalkan Yonghwa.
Yonghwa masuk dalam restaurant dan mencari tempat yang telah dipesan sebelumnya. Tempat itu ada paling pojok kanan bersampingan tepat dengan jalan raya, hanya dipisahkan oleh sebuah etalase. Yonghwa langsung duduk dan melihat yeoja yang mengajak bertemu dengannya. Ya, yeoja teman sekampusnya.
Eoh, Yonghwa-ya, aku pikir kau tidak akan datang,” ucap yeoja itu sedikit gugup.
“Apa yang ingin kau bicarakan? Apa benar ada hubungannya dengan kerjasama yang Song kyosunim tawarkan?” tanyanya sedikit mengatupkan bibirnya.
Yeoja ini tidak menjawab. Kekakuan yang luar biasa seakan menyerang syaraf-syarafnya tiba-tiba.
Ya, jawab pertanyaanku!” bentak Yonghwa yang mulai muak dengan yeoja di depannya ini.
“Permisi nona, anda ingin memesan apa?” tanya Shinhye mengganggu pembicaraan mereka. Sebelumnya dia diberitahu Jiwon bahwa salah satu pengunjung restaurant adalah Jung Yong Hwa, yang sepertinya sedang bertemu dengan yeojachingu-nya. Oleh karena itu, Shinhye mengambil kesempatan untuk membalas dendam pada Yonghwa di tempat ini. Karena yeoja yang ditanya tidak menjawab pertanyaannya, maka ini kesempatan bagus bagi Shinhye untuk bertanya pada pangeran sombong ini.
“Permisi gwi eobta, apa yang ingin anda pesan?” tanya Shinhye dengan wajah yang dibuat semanis mungkin.
“Mwo? Mwoya?” Yonghwa balik bertanya karena sepertinya dia mendengar sesuatu aneh yang diucapkan gadis pelayan ini.
Eoh, aku bilang anda ingin pesan apa?” kilah Shinhye.
“Kami belum ingin memesan, kau boleh pergi.” Karena Yonghwa tidak ingin membahas masalah tidak penting dengan gadis pelayan ini. Jadi dia berpindah bertanya pada gadis yang mengajaknya bertemu. “Ya, Seo Joo Hyun,” teriaknya masih dengan suara terkontrol. “Apa yang ingin kau bicarakan? Jangan menjadi bisu, karena aku tidak punya waktu melayani gadis bisu.”
Shinhye yang mendengarnya merasa tersinggung. Namun yeoja yang diteriaki hanya diam menerimanya. Shinhye tiba-tiba tertarik ingin mendengar apa yang akan pangeran sombong ini bicarakan dengan teman atau mungkin kekasihnya itu. Sampai, dia tidak ingin beranjak ke belakang sekalipun. Dia pura-pura berdiri agak jauh dari pandangan mereka.
“Yonghwa-ya, naneun johae–aku menyukaimu. Nae namjaching-guga doe-eojullaeyo–maukah kau jadi pacarku?”
Tiba-tiba Yonghwa tertawa sinis mendengar pengakuan ini. Dia kemudian mendengus kesal dan berkata, “Jadi hal bodoh ini yang ingin kau bicarakan? Apa kau bodoh? Aku paling benci gadis bodoh yang mengajakku bertemu untuk membicarakan hal bodoh seperti ini. Aku benci gadis bodoh sepertimu. Beritahu Song kyosunim bahwa aku menolak tawaran kerjasama itu.” Yonghwa bangun dan beranjak pergi. Namun dia masih sempat berbalik dan berkata, “Anggap saja pertemuan ini tidak pernah ada. Dan jangan pernah memanggilku Yonghwa-ya, karena kau tidak pantas melakukan itu. Satu lagi, jangan pernah membohongiku.” Sejurus kemudian Yonghwa berbalik dan berjalan keluar dari restaurant tempat mereka bertemu.
Yeoja yang dihina itu kelihatan syok. Dia duduk dengan kepala tertunduk, wajahnya menghadap lantai restaurant. Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dan sekarang ada tetes-tetes air jatuh di atas lantai restaurant itu. Dia menangis.
Shinhye yang melihat dan mendengar pembicaraan itu secara langsung merasa terhina harga dirinya sebagai seorang perempuan. Dia mengejar Yonghwa untuk memaksanya minta maaf pada yeoja yang dihina dan sekarang sedang menangis itu.
Ya!” teriak Shinhye saat dia berada di luar restaurant dan melihat Yonghwa hampir masuk ke dalam mobilnya.
Yonghwa berbalik dan melihat gadis pelayan itu sedang mengejarnya. “Aku tidak memesan apa-apa,” jelas Yonghwa.
“Apa kau manusia?” 
Yonghwa bingung dengan pertanyaan gadis pelayan ini. Apa dia pikir bahwa Yonghwa bukan manusia, sehingga menanyakan kejelasannya?
“Apa kau manusia?” ulangnya, “Apa kau masih punya hati? Ya, jawab aku!” teriak Shinhye marah.
“Apa kau bodoh? Kenapa bertanya hal-hal bodoh seperti itu?” Yonghwa balik bertanya. “Aku paling benci orang bo…”
Geumanharago!” potong Shinhye sebelum Yonghwa berhasil menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa hanya kata bodoh yang kau ucapkan dari tadi? Apa kau merasa pintar? Hebat? Sehingga menganggap semua orang bodoh. Sekarang, masuklah dan minta maaf pada yeoja yang kau buat menangis itu!” Kali ini Shinhye meraup tangan Yonghwa dan mencoba menariknya masuk ke dalam restaurant.
Yonghwa menarik tangannya terlepas dari Shinhye. “Apa kau juga mau mencari perhatian padaku? Maaf, aku tidak tertarik pada gadis jelek sepertimu.”
Ya, jjinja babo?” Kali ini Shinhye tidak peduli pada pandangan orang yang sedang lalu lalang padanya. Yang pasti dia harus puas memaki pria tanpa hati yang berdiri di depannya ini.
Yonghwa menatap sinis pada Shinhye. “Park Shin Hye, sebaiknya kau segera mencari pekerjaan yang baru,” kata Yonghwa berlalu masuk ke dalam mobilnya, menginjak pedal gas dan menjauh dari hadapan Shinhye.
Shinhye yang melihat Yonghwa menjauh dari pandangan masih menganga, dia bingung dari mana Yonghwa mengetahui namanya? Dia kemudian menepuk dahinya begitu menyadari bahwa dia sedang menggunakan name tag di dadanya.
Aiishi, siapa kau beraninya menyuruhku mencari pekerjaan baru, hah?”
Shinhye masuk kembali ke dalam restaurant. Begitu tiba di dalam restaurant, dia menoleh sebentar ke tempat Yonghwa dan yeoja tadi bertemu. Tapi dia tidak mendapati yeoja itu lagi. Sepertinya yeoja itu sudah pulang.
Shinhye berjalan ke pantry menemui Jiwon yang sedang menaruh makanan pada baki dan akan membawanya ke pengunjung.
“Apa yang kau lakukan tadi?” Jiwon bertanya dengan senyuman karena lucu dengan tingkah sahabatnya yang masih belum jera ingin membalas dendam pada Yonghwa. “Sudahlah, lupakan. Untuk apa kau membalas dendam pada orang seperti Jung Yong Hwa itu? Membuang-buang waktumu saja.”
“Cih, orang itu benar-benar membuatku seperti kebakaran rambut. Kau tahu, dia bilang apa padaku? Park Shin Hye, sebaiknya kau segera mencari pekerjaan yang baru.” Shinhye mengulangi apa yang Yonghwa katakan padanya tadi. “Siapa dia, berani berkata seperti itu? Manager saja tidak,” ucap Shinhye berapi-api.
“Kan aku sudah bilang, lupakan saja. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa. Berurusan dengan dia itu, hanya membuat sakit kepala.”
“Mudah berkata seperti itu, karena bukan kau yang berada di posisiku.”
“Terserah padamu. Aku ke depan dulu.” Jiwon pergi dengan membawa baki di tangannya.


***
Benar apa kata Yonghwa, sehari setelah kejadian itu, Shinhye dipecat dari restaurant tempatnya bekerja. Dia benar-benar mengutuki Yonghwa karena membuatnya kehilangan pekerjaan yang paling dia butuhkan. Sekarang dia benar-benar menjadi seorang pengangguran. Bagaimana dia bisa membiayai hidup dan kuliahnya, kalau menganggur seperti ini?
Aisshi, bagaimana bisa hanya dalam dua puluh empat jam lebih aku telah dipecat? Kenapa juga aku bodoh mau berurusan dengan orang itu? Arghhh,” teriak Shinhye sambil mengacak-acak rambutnya kesal. “Kenapa juga aku tidak mengikuti nasehatmu?”
“Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Lagi pula nasehatku juga datang belakangan,” tambah Jiwon yang sedang duduk bersila di atas ranjang Shinhye.
“Sampai sekarang aku benar-benar tidak percaya bahwa dia adalah anak pemilik restaurant itu. Kenapa juga tidak ada yang memberitahu? Kenapa juga dia tidak pernah datang ke restaurant dan memperkenalkan diri sebagai anak ketua? Dengan begitu kan, aku bisa jaga-jaga bicara dengannya.”
“Hyejoon eonnie, Donghyun oppa, Minho, dan kita berdua, semua adalah pekerja baru. Jadi wajar kita semua belum mengenal dia. Itu sebabnya saat dia datang kemarin-kemarin, tidak ada pelayanan istimewa. Shinhye-ya, sekarang jangan pikirkan itu dulu! Pikirkan, bagaimana mendapatkan pekerjaan yang baru. Kau tidak boleh berhenti kuliah, apa pun yang terjadi. Shinhye hanya duduk merenung nasib sialnya, sedang Jiwon bingung sendiri apa yang harus dilakukannya untuk membantu Shinhye keluar dari masalah ini. Tiba-tiba, Jiwon teringat akan sesuatu yang pernah Shinhye ceritakan padanya.
Eoh, Shinhye. Kau pernah bilang waktu itu kalau kau ditawarkan bekerja sebagai asisten pribadi. Kenapa tidak kau terima saja pekerjaan itu?”
Mata Shinhye membulat, dia baru ingat akan pekerjaan itu. Ah, meskipun dia dibilang mengambil kesempatan, karena saat membutuhkan baru dia mau melakukan pekerjaan itu. Tapi hanya ini jalan keluarnya.
“Benar juga.” Shinhye mengambil ponselnya dan mencari-cari salah satu nama kontak yang perlu dihubungi. “Ini. Nomor ini yang perlu aku hubungi.”


***
Hyeong, aku mohon ijinkan aku tinggal di sini selama dia berada di rumah,” bujuk Hyunwoo.
Ani. Aku tidak mau direpotkan.”
Hyeong, jebal,” kata Hyunwoo sambil menggosok-gosok kedua tangannya memohon. “Kau tidak mau kan, kalau aku tidur di luar? Ayolah hyeong, aku janji tidak akan pernah merepotkanmu.” Hyunwoo mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
Yakso?” kata Yonghwa tersenyum melihat tingkah sepupunya ini.
Hyunwoo hanya menjawab dengan anggukan dan seringai lebar.
“Siapa suruh kau mau memulainya dengan kebohongan. Sekarang kau sendiri yang susah.”
“Dia kan tidak setiap hari ada di rumahku, kecuali Jonghyun hyeong memanggilnya. Dan lagi, aku harus berbohong bahwa Jonghyun hyeong itu bukan kakakku. Karena kalau tidak, dia tidak mau menerima pekerjaan ini.”
“Apa kau menyukainya?”
Ya, hyeong. Kenapa kau juga mengucapkan kalimat itu? Cukup Jonghyun hyeong saja. Aku dan gadis itu tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya teman.”
Arasseo. Bagaimana dengan Jonghyun, apa dia juga sudah tahu?”
“Ya. Dia sudah tahu. Dan dia juga mau membantuku merahasiakan hal ini.”
Hyeong-mu itu benar-benar memanjakanmu. Apa pun akan dia lakukan untukmu.”
“Itulah yang harus dia lakukan selama abeoji dan eomma tidak di sini.” 


***
Seminggu setelah Shinhye menelepon Hyunwoo, Shinhye akan resmi bekerja sebagai asisten pribadi untuk hyeong-nya Hyunwoo. Perlu digarisbawahi tanpa sepengetahuan Shinhye bahwa bosnya adalah kakak laki-laki Lee Hyun Woo.
Hari ini Hyunwoo berjanji mengantarkan Shinhye ke rumah tempat Shinhye bekerja atau rumahnya sendiri. Ketika sampai di depan rumah tersebut, Shinhye masih enggan masuk ke dalamnya karena rumah itu terlihat sangat mewah di matanya.
“Apa kau yakin ini rumahnya?”
Ne. Kajja!” ajak Hyunwoo.
Mereka berdua masuk dan menjumpai pria dengan setelan jas abu-abu, lengkap dengan celana dan dasinya. Sepertinya, dia orang yang dimaksud Hyunwoo.
Sajangnim, ini dia Park Shin Hye-ssi. Orang yang saya maksud.” Hyunwoo menjelaskan.
“Dari tadi, saya menunggu kalian. Kenapa lama sekali?” tanyanya dengan sikap berwibawa. Kalau mau dinilai tampilan luar pria ini, dia pantas mendapatkan nilai 99. Lihat saja tampilannya yang up to date. Jas, baju, dasi, celana dan sepatunya adalah barang-barang branded. Belum lagi wajahnya yang bersih tanpa ada bekas mencukur, rambut yang rapi, giginya putih bercahaya, hidungnya bangir, matanya bulat indah. Dan tidak kurang wangi parfumnya yang menusuk hidung. Aduh Tuhan, pria ini benar-benar pantas dapat nilai 99 untuk tampilan luarnya. Meski belum tentu hatinya.
“Apa kau mengerti yang kumaksud?"
Shinhye yang masih sibuk memberi nilai pada pria itu, tidak merespon pertanyaannya sampai Hyunwoo yang mengagetkannya dengan menepuk pundaknya.
"Eoh, jeosonghamnida," kata Shinhye membungkuk dalam-dalam. "Bolehkah kau mengulanginya lagi?"
"Saya rasa tidak perlu. Hyunwoo pasti bisa menjelaskan semuanya secara rinci." Dia tersenyum melihat tingkah Shinhye. Seperti yang ditebaknya, pasti Park Shin Hye juga seperti wanita-wanita lain yang setiap kali melihatnya akan langsung tertegun, sampai-sampai mereka sendiri akan lupa apa yang harus mereka buat.
"Saya harus buru-buru ke kantor. Hari ini kau tidak usah bekerja dulu, mungkin saat dipanggil baru kau datang. Dan satu lagi, panggil saya Lee Jong Hyun atau Jonghyun saja, jangan sajangnim." Lee Jong Hyun berjalan meninggalkan Shinhye dan Hyunwoo.
"Hyunwoo-ya, sajangnim-mu itu umur berapa? Maksudku dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang sajangnim."
"Dua puluh empat tahun.”
“Ternyata dia dua tahun lebih tua dariku. Wah, dia masih terlalu muda tapi sudah menjadi seorang direktur.
Dia belum menjadi seorang direktur. Aku saja yang memanggilnya sajangnim, agar lebih sopan. Sajangnim sebenarnya masih kuliah. Dia hanya pergi ke perusahaan untuk sekedar membantu. Sembari belajar untuk pengangkatannya setelah dia lulus kuliah nanti. Aku rasa mungkin setahun lagi dia sudah bisa menyelesaikan kuliahnya. Presdir Lee, maksudku ayah sajangnim menderita struk. Dia sekarang sedang dirawat intensif di salah satu rumah sakit di Amerika. Oleh karena itu, hyeong maksudku sajangnim diminta Presdir untuk pergi ke perusahaan dan belajar di sana."
"Dari mana kau mengenalnya? Maaf, aku hanya penasaran saja."
"Bilang saja noona mau bilang kalau aku tidak pantas bergaul dengan pria seperti dia."
"Aniyo, bukan maksudku seperti itu." Shinhye mengelak meski memang itu kenyataannya.
"Tak apa-apa, noona. Kalau kau penasaran bagaimana aku bisa mengenal dia, itu karena ayahku adalah sekretaris Presdir sampai sekarang. Dan kami sudah saling mengenal sejak kecil, oleh karena itu kadang-kadang kami seperti kakak-adik sungguhan."
"Hmmm, jadi di mana ayahmu sekarang? Amerika juga?"
"Yah, begitulah. Ayahku itu orangnya sangat setia pada presdir. Di mana pun presdir berada, ayahku juga pasti di situ."
"Oh ya noona, sajangnim sudah membuat jadwal pekerjaan yang harus kau lakukan." Hyunwoo mengangkat kertas putih panjang yang terletak di atas meja. "Ini." Hyunwoo menyerahkan kertas itu pada Shinhye.
Shinhye menerima dan membacanya. Matanya naik turun mengamati kertas tersebut.
"Baiklah, jadi ini yang harus aku lakukan." Shinhye terlihat manggut-manggut. "Tidak berat. Hanya membawakan kopi dan roti untuk sarapan pagi di kantor, menemaninya makan siang kalau tidak sibuk, berbelanja
keperluannya, membawa dan memastikan sendiri bahwa pakaian yang dibawa ke laundry sudah bersih dan rapi, dan yang terakhir melakukan pekerjaan yang dibutuhkan di luar perkiraan."
"Tambahan dari sajangnim, kalau kau sedang sibuk kuliah, kau boleh mangkir dari pekerjaan."
"Aniyo. Aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tidak ada kata mangkir dalam kamusku. Dan lagi, pekerjaan-pekerjaan ini tidak mengganggu jadwal kuliahku."
"Kau yakin?"
"Ya. Lihat saja jadwal jam kerjaku," kata Shinhye sambil menunjukan kertas putih yang dia pegang ke arah Hyunwoo. "Seperti sudah diatur saja untuk tidak mengganggu jadwal kuliahku."
"Baguslah kalau begitu," kata Hyunwoo tersenyum. Dalam hati dia berkata, “Memang tidak mengganggu jadwal kuliahmu, noona. Kar
ena aku sendiri yang menyusun jadwal kerjamu."
"Jadi, kapan aku mulai bekerja?"
"Besok juga boleh," kata Hyunwoo dan Shinhye hanya bisa manut-manut.
"Ah, ada yang ingin kutanyakan padamu. Tapi, jangan tersinggung."
Hyunwoo hanya mengangguk sebagai jawaban atas permintaan Shinhye.
"Kenapa bukan kau saja yang jadi asisten pribadi sajangnim?"
Hyunwoo tertawa kecil mendengar pertanyaan yang menurutnya konyol. Karena masa, Jonghyun mau membiarkan dia jadi asisten pribadi. Dia kan adik kandung Jonghyun. Ingin sekali dia menjawabnya seperti itu. Tapi itu sama saja dengan membocorkan rahasia sendiri.
"Itu karena Jonghyun hyeong membutuhkan wanita sebagai asisten pribadinya," kata Hyunwoo. Sejurus kemudian dia mendekatkan wajahnya di dekat telinga Shinhye dan membisikkan, "Noona, perlu kau ketahui bahwa aku dan sajangnim masih normal."
"Bukan. Bukan maksudku seperti itu," kata Shinhye dengan tangan melambai-lambai di udara. "Jangan berpikiran buruk seperti itu. Aku hanya merasa kalau kau tahu banyak tentang sajangnim, makanya aku bertanya seperti tadi. Tapi kalau kau merasa tersinggung, aku benar-benar minta maaf."
"Gwaenchanha," kata Hyunwoo, sejurus kemudian dia mengacak-acak rambut Shinhye, membuat Shinhye melotot karena malu dia diperlakukan seperti anak kecil.
"Ya, berhenti melakukan kebiasaan burukmu itu." Shinhye menepis tangan Hyunwoo yang masih bersarang di atas kepalanya.

TO BE CONTINUED

Rabu, 14 Januari 2015

Rain of Autumn Part 1



Rain of Autumn
Author: Tiny Ndapa Lawa
Main Casts:
Park Shin Hye (Actress)
Jung Yong Hwa (CN BLUE)
Casts:
Kim Ji Won (Actress)
Lee Jong Hyun (CN BLUE)
Lee Hyun Woo (Actor)
Kim Yoo Jin (a.k.a UEE After School)
Kim Hye Joon (OC)
Yoo Jae Seok (Comedian/Presenter)
Bae Soo Ji (Miss A)
Kang Min Hyuk (CN BLUE)
Lee Jung Shin (CN BLUE)
Lee Mi Seok as Yonghwa’s mom (Actress)
Jung Dong Hwan as Yonghwa’s dad (Actor)
Additional Casts:
Jung Yoo Mi (Actress)
Bae Soo Bin (Actor)
Jin Goo (Actor)
Min Ho (Shinee)
Jin Joon Goo
Ji Suk Jin (Comedian/Presenter)
Seo Joo Hyun (SNSD)
Shin Dong Hee (Super Junior)
Choi Soo Young (SNSD)
Go Ha Ra (KARA)
Dong Hyun (Boyfriend)
Song Ok Sook (Actress)


Part 1

Musim gugur adalah masa di mana pohon-pohon siap mengugurkan daun-daunnya sebelum menghadapi musim dingin. Dan semua tumbuhan hijau yang hidup berubah warna daunnya menjadi kuning, jingga dan ada juga merah. Bicara soal daun yang rontok, hal yang sama terjadi pada seorang gadis yang sedang duduk tersendu di bawah atap halte bus. Musim gugur tahun ini mewakili perasaannya hari ini. Hatinya rontok tepatnya hancur. Dia telah kehilangan ibu tercintanya sebulan yang lalu, karena leukimia yang ibunya derita akhirnya dia ditinggal sendiri. Kini dia hanya hidup sendiri. Bahkan untuk membiayai hidupnya pun, ia lakukan sendiri.

Flashback 13 tahun yang lalu.
"Eomma, lihat daun yang berwarna kuning ini," kata seorang gadis kecil dengan wajah ceria sambil mengambil sehelai daun yang jatuh dari ranting pohon di atas bahunya. "Eomma, kata orang kalau daun yang tiba-tiba jatuh di atas bahu kita, itu karna seseorang dari surga sedang mengirimi surat pada kita. Apa itu appa?"
Wanita yang diajak bicara hanya tersenyum kecil.
"Apa appa yang mengirim surat pada kita?" tanyanya menyelidiki seakan memaksa ibunya untuk menjawab.
"Shinhye-ya, kalau appa yang mengirim surat lewat daun itu, lantas kenapa tidak kau bacakan surat itu untuk eomma?" katanya sambil mempererat genggamannya.
"Eomma-aa," renggut Shinhye kesal mendengar jawaban yang tidak diharapkan.
"Shinhye-ya, hari ini apa yang kaupelajari? Coba ceritakan semua pada eomma."
"Hari ini kami belajar mengenal empat musim di Seoul. Eomma, ternyata saat musim gugur daun tidak hanya berubah menjadi kuning. Tetapi ada juga yang berwarna jingga dan merah," katanya penuh semangat.
"Jeongmal?" ucap Ibunya pura-pura penasaran. Meski dia sudah tahu akan hal itu.
"Ne," jawabnya, "Dan seonsangnim juga bilang saat hujan musim gugur datang itu berarti musim gugur akan segera digantikan dengan musim dingin."
"Hari ini banyak yang kau pelajari ya?"
"Eomma, kata temanku, kakaknya sering bilang kalau hujan musim gugur itu adalah saat di mana dia akan melepaskan kesedihannya berlalu bersama hujan musim gugur. Jadi saat musim dingin, dia akan memulainya dengan bahagia. Apa kita juga seharusnya seperti itu? Apa pun kesedihan kita tahun ini biar berlalu pergi bersama dengan hujan musim gugur. Benarkan, eomma?"
Wanita yang ditanya, sekali lagi hanya membalas dengan senyuman dan anggukan.
Flashback End

"Eomma, apa kau bahagia di sana?"
Gadis kecil itu kini telah bermetamorfosis menjadi seorang gadis dewasa yang cantik.
"Eomma, bisakah kau minta agar hujan musim gugur turun saat ini? Aku mau agar kesedihan ini berlalu bersama hujan musim gugur itu," katanya dalam hati.
Ting..
Bunyi bel pintu bus yang terbuka mengagetkannya dari lamunan panjang tentang hari-hari lalu saat bersama ibunya. Shinhye bangkit dari duduknya dan berlari masuk dalam bus. Karena terburu-buru, dia menabrak seorang pria yang hendak naik juga ke dalam bus.
"Eoh, jeosonghamnida," ucapnya sambil membungkukkan badan tepat persis di depan pria tersebut. Dia dan pria tersebut bersama-sama naik ke dalam bus.
"Gwaenchanayo?" tanya pria tersebut.
Shinhye yang tidak mendengar jelas malah memasang tampang bingung.
"Maksudku, apa kau baik-baik saja?" ulang pria itu.
Shinhye hanya mengangguk-angguk.
"Sepertinya aku pernah melihatmu. Wajahmu tidak asing lagi," kata pria itu sambil mengamati wajah Shinhye lebih dalam. Shinhye yang merasa terganggu hanya menampilkan senyum kecut.
"Eoh, Shinhye noona. Apa ini kau? Benar ini kau. Ya, noona! Oraenmanieyo–lama tidak berjumpa!" sapanya setelah sadar dari kebodohannya yang tidak bisa mengenal gadis yang sudah 3 tahun ini ia rindukan. "Ya, rambut cepakmu sudah berubah," katanya sambil mengacak rambut Shinhye.
Shinhye kaget bukan main, dia mendelik karena orang asing ini mengenal dirinya waktu SMA dulu.
"Kau pasti sudah lupa siapa aku? Hyunwoo imnida. Lee-Hyun-Woo," katanya dengan menekan pada tiga kata dari namanya. “Aku hoobae-mu waktu di SMA. Anak yang sering kau teriaki karena mengacak rambutmu. Aigoo noona, dari dulu pipimu tidak kempis-kempis. Tidak ada yang berubah dari dirimu. Apa sampai sekarang kau juga belum punya kekasih?" godanya bersemangat sampai menampilkan jajaran giginya yg putih.
"Apa benar kau Lee Hyun Woo?" tanya Shinhye belum bisa percaya dengan perkataan pria berpenampilan rambut merah kecoklatan ini. Sepengetahuannya, Lee Hyun Woo yang dia kenal berbadan gemuk, bertampang jahil dan sama sekali tidak mirip dengani pria di depannya ini yang terlihat lebih dewasa dan tampan akunya.
Hyunwoo mengangguk.
"Benarkah?” tanya Shinhye sambil mengamati wajah Hyunwoo lebih dekat. “Eoh, benar ini kau. kau sudah dewasa rupanya. Badanmu lebih kurusan. Aku bahkan tidak mengenalmu. Aiisshi, aku benar-benar tidak percaya, bocah nakal itu sudah berubah menjadi dewasa. Kau tahu, hampir setahun baru aku bisa melupakan tingkah jailmu yang sering kau lakukan. Hampir setahun juga aku menjaga-jaga agar tidak ada yang tiba-tiba datang merebut makan siangku. Bahkan rambutku tidak pernah tergerai selama setahun karena takut kau acaki."
Hyunwoo tertawa senang karena ternyata Shinhye masih mengenalnya. Dan karena Shinhye juga tidak cepat melupakannya. Buktinya membutuhkan setahun bagi Shinhye untuk melupakan segala hal yang sering dia lakukan pada noona itu.
"Noona, kapan kau berpikir untuk mengempiskan pipimu? Aku saja berhasil mengempiskan badanku."
"Ya, jangan menggodaku di sini," marah Shinhye karena malu digoda oleh hoobae-nya di atas transportasi umum.
"Hahaha," tawa Hyunwoo. "Entah kenapa aku senang melihatmu salah tingkah, noona."
Shinhye mendelik marah pada Hyunwoo. Sedang Hyunwoo sendiri malah terlihat menikmati kelakarnya.
Hampir sejam mereka terlibat percakapan yg membuat Shinhye tidak sadar bahwa dia hampir tiba di daerah tempat tinggalnya.
"Eoh, Hyunwoo. Aku duluan," kata Shinhye setelah mengucapkan selamat tinggal sebelumnya.
Saat dia sudah turun dari bus ternyata Hyunwoo juga mengekorinya dari belakang. Ketika dia berbalik dan melihat Hyunwoo mengikutinya, dia berhenti dan bertanya maksud Hyunwoo mengikutinya ini.
Hyunwoo tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan tetap mengikuti Shinhye berjalan pulang sampai rumahnya.
"Ternyata di sini rumahmu. Tidak jauh juga dari kampusku. Kapan-kapan aku boleh main-main ke sini ya?" kata Hyunwoo ketika mereka tiba di depan pagar rumah Shinhye.
"Ya, sebaiknya kau pulang. Karena tidak baik seorang pria masuk ke rumah wanita yang tinggal sendiri," ujar Shinhye.
"Di mana ahjumma? Aku ingin menegurnya sebelum pulang."
"Pulanglah, ppalli!" Shinhye menolak Hyunwoo keluar dari pagar rumahnya. Dia menutup pagar tersebut.
"Noona, noona," teriak Hyunwoo memanggilnya dari luar.
Seketika itu air mata Shinhye jatuh membasahi pipinya. Dia tidak suka ada yang menanyakan tentang keberadaan ibunya. Dia paling benci kalau orang lain melihatnya rapuh. Dia tidak mau. Beberapa menit Shinhye menangis sambil membekap mulutnya di depan pagar rumahnya. Dia teringat lagi akan ibunya.
Mengapa Hyunwoo bertanya tentang ibunya? Tidak tahukah dia, bahwa tiap malam Shinhye menangis saat mengingat ibunya?
Tapi setelah mengingat kata-kata terakhir ibunya, ia memutuskan untuk menghapus air matanya. Dia harus kuat. Ya, dia harus kuat.
"Shinhye-ya, uljimma! Eomma gwaenchanha. Kau tidak boleh sedih, kalau kau sedih, Eomma juga akan sedih. Apa pun yang terjadi, kau harus bahagia biar eomma juga bahagia. Arasseo?" ucapan ibunya terngiang lagi di kepalanya.
Shinhye harus terlihat bahagia agar ibunya yg di atas jangan sedih melihatnya.

***
Di tempat lain Hyunwoo berjalan linglung. Ia baru tahu dari ahjusshi tetangga Shinhye yang dia temui tadi, bahwa eomma Shinhye sudah meninggal dunia sebulan yang lalu. Dan sekarang Shinhye hidup sendiri. Bahkan kata ahjusshi tetangga itu, Park Shin Hye sering pulang malam karna lembur bekerja sebagai pelayan di restaurant. Itu semua dilakukan untuk membiayai hidupnya dan kuliahnya. Entah mengapa hati Hyunwoo hancur mendengar semua itu. Bagaimanapun, dia harus mencari cara untuk membantu Shinhye keluar dari masalah ini. Ya, dia harus mampu membuat wanita yang selama ini dia cari-cari itu bahagia. Dia juga harus membuat Shinhye untuk tidak bekerja lembur lagi. Itu tekad bulatnya.
Lee Hyun Woo membuka pintu rumahnya, dia mendapati Hyeong-nya sedang duduk di ruang tamu.
"Dari mana saja kau?" tanya pria itu.
"Eoh, hyeong. Ada urusan kampus yang harus aku selesaikan," kilahnya
Hyeong-nya hanya bergeming.
Melihat wajah hyeong-nya, Hyunwoo seakan mendapat ide."Hyeong, bisakkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Hyunwoo hati-hati.
"Apa lagi?" Pria ini paling tidak bisa menolak permintaan adiknya.
"Katamu kau membutuhkan asisten pribadi. Apa tawaranmu masih berlaku? Aku punya kandidatnya."
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini? Siapa itu? Chingu?"
"Ne," jawab Hyunwoo jujur. "Apa kau bisa membantuku?"
"Bawa dulu temanmu, biar aku nilai."
"Hyeong, dia bukan barang yang bisa kau nilai harganya. Namanya adalah Park Shin Hye. Dia masih kuliah, jadi kuharap kau mau membiarkannya bekerja part time."
"Siapa dia? Yeojachingu-mu?" goda pria itu yang membuat Hyunwoo salah tingkah.
"Ani. Dia setahun lebih tua dariku. Dia seniorku waktu di SMA."
"Tapi kau terlihat sangat khawatir padanya."
"Hyeong, jangan banyak tanya. Hanya turuti permintaanku," ucap Hyunwoo mencoba mengalihkan pembicaraan.
Hyeong-nya hanya tertawa melihat adiknya yang salah tingkah.
"Baiklah akan aku pertimbangkan. Kalau dia lulus ujian, maka dia boleh jadi asisten pribadiku."
"Kapan aku
boleh panggil dia ke sini?"
"Kapan pun boleh. Bilang padanya kalau dia lulus ujian maka dia tidak usah khawatir soal jadwal kuliahnya yang mungkin akan terganggu. Karena aku akan memanggilnya hanya saat membutuhkannya saja. Selain itu dia bisa bebas melakukan apa pun." Pria itu menekankan pada kalimat 'kalau dia lulus'. Dia hanya tidak ingin terang-teragan terlihat subjektif pada adiknya.
"Gomawo, hyeong!" ucap Hyunwoo bahagia. Dia tulus berterimakasih karena hyeong-nya yang sangat selektif dalam memilih seseorang untuk dipekerjakan ini dengan mudahnya menerima tawarannya untuk memperkerjakan temannya dengan segala keringanan yang telah ditentukan. Urusan mencari pekerjaan sudah beres. Sisanya adalah bagaimana membuat Shinhye mau menerima pekerjaan ini. Alasan apa yang harus dia buat untuk membuat Shinhye percaya bahwa tidak ada campur tangannya dalam hal ini.

***

1 week later
At JeResto
"Ya, kau pulanglah! Aku sedang bekerja. Jangan menggangguku!" omel Shinhye karena hampir seharian Hyunwoo terus mengganggunya yang sedang bekerja melayani para tamu di restaurant tempatnya bekerja.
"Aniyo. Aku akan tetap di sini sampai noona mau mendengarkanku." Hyunwoo bersikeras. Dia mengekori Shinhye ke mana pun Shinhye pergi.
"Shinhye-ssi, kau dipanggil manager," panggil Minho salah satu teman pelayannya.
Shinhye berjalan meninggalkan Hyunwoo pergi ke ruangan manager-nya.
Ketika dia membuka pintu, dia masih sempat menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Hyunwoo tidak sedang mengekorinya.
"Permisi, manager. Apa kau memanggilku?"
"Silahkan masuk!" perintah manager-nya.
Shinhye masuk dan duduk di depan pria berkepala empat itu.
"Apa kau tahu aturan dalam restaurant ini?" tanya manager Yoo retoris.
Shinhye tahu ini pasti ada hubungannya dengan Hyunwoo.
"Jangan membawa urusan pribadi dengan pekerjaan. Siapa dia? Namjachingu-mu? Aku tidak bermaksud kasar, tapi sebaiknya kau suruh dia pulang dulu."
Shinhye mengangguk dan segera keluar dari ruangan tersebut. Setelah keluar, dia langsung menuju ke arah Hyunwoo.
"Ya, Hyunwoo-ssi," teriak Shinhye saat berhadapan dengan Hyunwoo.
Hyunwoo melotot kaget melihat sikap Shinhye yang berubah kasar tiba-tiba.
"Apa yang ingin kaukatakan, cepat katakan dan pulanglah." Shinhye menarik tangan Hyunwoo keluar lewat pintu samping. Sejurus kemudian pipi Hyunwoo memerah. Jantungnya berdetak tidak karuan. Dia salah tingkah, karena tangannya digenggam Shinhye.
"Apa yang ingin kaukatakan?" Shinhye mengulang pertanyaannya sekali lagi.
"Eoh, noona," kata Hyunwoo yang baru sadar dari kesalahtingkahannya.
"Ppalli!"
"Igeo." Hyunwoo terlihat gugup. "Apa kau bisa berhenti dari pekerjaan ini?" tanyanya hati-hati.
"Mwo? Mworagoya?" teriak Shinhye membelalakkan matanya.
"Aku punya pekerjaan yang lebih baik untukmu." Hyunwoo menggenggam tangan Shinhye.
"Sejauh ini, pekerjaan inilah yang paling baik untukku." Shinhye melepaskan tangannya dari genggaman Hyunwoo.
"Noona, jebal. Kau harus menerima pekerjaan ini. Aku tak mau melihatmu lelah. Aku jamin bahwa kau tidak perlu lembur seperti ini. Atau membolos kuliah karena alasan pekerjaan," imbuhnya.
Shinhye merasa terharu tapi dia tidak mau langsung menerima sebuah pekerjaan sebelum mengetahui pekerjaan seperti apa itu. "Geokjeongma–jangan khawatir. Naneun gwaenchanha–aku baik-baik saja," ujar Shinhye pasti.
"Andwaeyo, noona. Kau tidak baik-baik saja. Lihat saja setiap hari kau lembur seperti ini. Bahkan makan siang saja jarang kau lakukan. Kau pun mulai sering bolos kuliah. Aku tahu semuanya." Kali ini kebalikan Hyunwoo yang marah-marah. Lebih tepatnya karena khawatir. "Jadi, jebal noona, terimalah pekerjaan ini. Kau hanya perlu datang jikalau bos-mu memanggil. Selain itu kau boleh bebas. Aku sudah bilang padanya, bahwa kau masih kuliah. Dan dia sepertinya setuju untuk menyesuaikan jadwalnya dengan jadwal kuliahmu," jelas Hyunwoo panjang lebar.
"Pekerjaan macam apa itu? Terlihat mudah sekali untuk dilakukan."
"Asisten pribadi. Tidak sulit kan?"
"Mwo? Asisten pribadi? Shireo. Aku tidak mau melakukan pekerjaan itu."
"Jebal, noona. Tolong kali ini saja pertimbangkan baik-baik usulanku. Kumohon lakukan saja, kalau kau cocok kau boleh teruskan. Tapi kalau tidak, kau boleh berhenti."
"Aigoo. Kau benar-benar pemaksa."
"Noona, jebal. Pikirkanlah baik-baik, demi kehidupan dan pendidikanmu," kata Hyunwoo memelas.
"Baiklah. Akan kupikirkan."
Hyunwoo terlihat senang mendengar jawaban Shinhye.
"Ingat, aku belum tentu menerima. Masih kupikirkan. Jadi, jangan terlalu berharap."
"Arasseo, noona," teriak Hyunwoo dengan gerakan memberi hormat.
"Ya, kau ini benar-benar. Sekarang pulanglah, jangan menggangguku lagi."
"Ne, noona. Aku pergi dulu." Hyunwoo pamit pulang dengan senyuman mengembang di bibirnya. Hari ini dia benar-benar bahagia, karena Shinhye mau menimbang sarannya.

At Kyunghee University
Pagi ini Shinhye berjalan di lingkungan kampusnya sempoyongan. Matanya sesekali menutup, karena rasa kantuk yang masih menyerangnya.
"Aiisshi, bagaimana aku bisa ikut ujian kalau mata ini tidak bisa diajak kompromi." Shinhye mengerjap-ngerjap menghilangkan rasa kantuknya.
"Shinhye-ya!" teriak seorang yeoja di belakangnya. Shinhye berbalik dan mendapati sahabatnya sedang berlari menuju ke arahnya.
"Eoh, Jiwon-ah. Annyeong!"
"Annyeong!" sapa balik Jiwon dengan nafas memburu. "Aigoo, aku pikir sudah telat." Jiwon mencoba mengatur normal nafasnya sebelum berbicara dengan Shinhye. "Ya, Park Shin Hye! Ke mana saja kau dua hari ini? Choi Kyosunim mencarimu ke mana-mana. Katanya kau sudah tiga kali bolos mata kuliahnya. Bagaimana bisa, hanya selama seminggu kau kutinggal maka kau mulai membandel? Membolos sebanyak tiga kali? Aiishi, kali ini aku tidak akan pergi lama-lama lagi. Karena bisa-bisa saat aku kembali, kau sudah di-drop-out."
Shinhye tertawa melihat tingkah Jiwon yang seperti terbakar api. "Aku lembur lagi. Lagian, kau sendiri kenapa pergi ke Mokpo tanpa minta persetujuanku? Kau pikir aku mampu melakukan semua pekerjaan di restaurant sendirian?"
"Selalu saja kau cari cara untuk membela diri. Arasseo, Park Shin Hye. Mi-an-hae! Lain kali aku tidak akan membiarkanmu lembur lagi. Tapi ingat, kau tidak boleh membolos lagi."
"Ne, seongsangnim," jawab Shinhye membungkuk. "Tapi, Jiwon-ah, apa yang kau lakukan di Mokpo? Apa kau pergi menangkap ikan?" goda Shinhye.
"Aiishi, jjinja. Dasar anak nakal," kata Jiwon sambil mengacak-acak rambut Shinhye.
"Apa kau sudah berbaikan dengan Seungri sunbae?" tanya Shinhye menanyakan kabar sunbae mereka sewaktu di SMA. Yang juga adalah kekasihnya Jiwon, dan sekarang sudah kembali ke kampung halamannya Mokpo.
"Ani," jawab Jiwon enteng.
"Lantas untuk apa kau capek-capek ke Mokpo?"
"Aku dan Seungri memutuskan untuk berpisah selamanya. Susah untuk menjalani hubungan jarak jauh. Dan sepertinya berpisah lebih baik bagi kami."
Sedang asyik bercengkerama. Mereka tidak sadar kalau ada mobil yang berhenti tepat di belakang mereka.
Pip..pip..
Bunyi klakson yang terdengar tajam dan suara teriakan seorang pria dari dalam mobil tersebut mengagetkan Shinhye dan Jiwon bahwa mereka sudah menghalangi lajunya mobil tersebut.
"Ya, apa kalian tuli?" teriak pria y
ang mengemudi.
Keduanya segera berbalik dan membungkuk minta maaf. Mobil itu kembali melaju, tapi dengan lambat dan saat melewati mereka berdua, pria yg duduk di sebelah kemudi dengan mata tetap tertuju ke depan berkata, "Gwi eobta."

Dengan jelas, Shinhye mendengar pria itu menyebut mereka tidak punya telinga.

TO BE CONTINUED